• May 2026
    M T W T F S S
    « Apr    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

PERSAUDARAAN KEBANGSAAN: RENUNGAN TENTANG INDONESIA

PERSAUDARAAN KEBANGSAAN: RENUNGAN TENTANG INDONESIA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Di antara materi khutbah idul Fitri yang saya sampaikan pada Masjid Nur Iman, Desa Sembungrejo, Merakurak,  Tuban pada  Sabtu 1 Syawwal 1444 H atau 22 April 2023 adalah tentang bagaimana memperkuat persaudaraan kebangsaaan atau ukhuwah wathaniyah.  Artikel ini membahas lebih mendalam tentang materi khutbah dimaksud dengan harapan agar dapat dipahami lebih mendasar. Tentu saja pembahasan ini dikaitkan dengan puasa yang baru saja kita selesaikan.

Adakah relasi antara puasa dengan semangat kebangsaan? Adakah relasi antara puasa dengan wawasan kebangsaan? Artikel ini mencoba untuk membahas tentang puasa di dalam kaitannya dengan mempertahankan kebangsaan dan negara di tengah semakin menguatnya upaya sebagian kecil masyarakat Indonesia yang berkeinginan mendirikan khilafah Islamiyah. Keinginan seperti ini masih sangat kuat di kalangan kelompok Islamis yang masih bermimpi menjadikan khilafah sebagai satu-satunya solusi bangsa.

Basis untuk menentukan Pancasila, NKRI dan UUD 1945 serta Kebinekaan bukanlah berangkat dari ranah kosong. Akumulasi pemikiran ini tentu berbasis pada realitas social bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang plural dan multicultural, sehingga diperlukan common platform yang bisa menyatukan yang terserak dan mengikat keragaman. Pancasila sebagai dasar negara sungguh merupakan pilihan cerdas dari para pendiri bangsa agar Indonesia yang berneka ragam dalam ras, suku bangsa, bahasa dan agama tersebut bisa merasakan dan memainkan perannya pada bangsa dan negara.

Pengalaman di dalam Sidang Konstituante pada tahun 1955 sampai 1959 pada saat akan menentukan dasar negara tentu bisa menjadi gambaran betapa rumitnya kala masing-masing partai politik hasil Pemilu 1955 ingin memaksakan kehendaknya. Masyumi dan sebagian NU berkeinginan menjadikan Islam sebagai dasar negara, sementara itu PKI menginginkan komunisme sebagai dasar negara dan PNI menginginkan dasar negara Pancasila. Selama 3,5 tahun masa sidang Konstituante ternyata tidak menghasilkan kemajuan yang berarti. Mereka hanya berdebat tentang dasar negara dan tidak membicarakan bagaimana Indonesia ke depan dalam pembangunan. Akhirnya Presiden Soekarno melakukan Dekrit Presiden pada 5 Juli 1959 untuk kembali ke UUD 1945. Akhirnya Indonesia kembali kepada UUD 1945 dengan menjadikan Pancasila sebagai dasar negara. Selesai.

Salah satu di antara yang menarik di dalam ajaran Islam adalah konsep ukhuwah kebangsaan. Melalui ukhuwah kebangsaan ini, maka Islam sesungguhnya memberikan perekat agar sebagai umat Islam tidak boleh egois agar semua masyarakat didasarkan atas Islam. Islam memberikan peluang bagi pemeluk agama lain untuk ikut terlibat di dalam Bina Bangsa. Tidak boleh menjadikan pemeluk agama lain menjadi warga negara kelas dua. Prinsip Islam adalah prinsip kesamaan dan keadilan. Dengan prinsip sebagai warga negara yang memiliki kedudukan yang sama, maka hal ini merupakan prinsip Islam yang paling esensial. Islam tidak menentukan secara mendasar tentang bentuk negara. Itulah sebabnya di negara-negara Islam di Timur Tengah juga memiliki varian bentuk negaranya. Di Arab Saudi bentuk negaranya adalah mamlakah, di Mesir adalah jumhuriyyah, di Uni Emirat Arab adalah dinastiyah parlementariyah , dan di Malaysia adalah  mamlakah parlementariyah. Indonesia adalah jumhuriyah demokratiyah. Pilihan ini merupakan pilihan yang tepat dalam kerangka untuk memberi peluang secara lebih besar pada semua anak bangsa untuk berpartisipasi di dalam bernegara dan berbangsa.

Di dalam system pemerintahan, Indonesia memilih relasi antara negara dan agama atau politik dan agama adalah dalam corak symbiosis mutualisme. Jadi agama membutuhkan negara sebagai tempat untuk mengembangkan kehidupan bersama dalam beragama, dan negara membutuhkan agama sebagai basis moralitas dalam berbangsa dan bernegara. Melalui relasi agama dan negara seperti ini, maka Indonesia menganut corak agama public dan bukan agama privat. Sebagai agama public, maka negara terlibat di dalam mengatur relasi antar dan interen umat beragama. Negara tidak mencampuri urusan ajaran agama.

Sebagai konsekuensi agama public, maka akan menghasilkan keterlibatan masyarakat di dalam memberikan partisipasinya untuk mempertahankan negara, baik dari tantangan eksternal dan internal. Jika ada serangan dari dalam atau dari luar, maka masyarakat pastilah terlibat di dalamnya. Sebagai contoh bagaimana Kyai Hasyim Asy’ari membangun kesadaran warga masyarakat untuk melakukan Resolusi Jihad. Melalui Resolusi Jihad  ini, maka bangsa Indonesia ikut serta terlibat di dalam mempertahankan negara Indonesia atas serangan Belanda dan sekutunya. Dan terbukti seruan jihad ini berhasil menggerakkan masyarakat untuk berjuang, dan hasilnya adalah Perang Surabaya, 10 November 1945.

Dengan alasan ini, bahwa setiap umat Islam selayaknya terlibat di dalam mempertahankan negara dan menyejahterakan masyarakat secara bersama-sama, maka puasa bisa menjadi momentum untuk menata hati agar tetap mencintai negeri ini. Negeri ini adalah hasil kerja bersama para founding fathers negeri dalam berbagai latar belakangnya masing-masing. Di sinilah arti pentingnya ungkapan hubbul wathon minal iman, mencintai negara adalah sebagian iman. Ungkapan atau maqalah ini begitu pentingnya untuk membangun kesadaran berbangsa dan bernegara dengan menegaskan Pancasila dan NKRI sebagai dasar dan bentuk negara di tengah keinginan  untuk bereksperimen tentang bentuk negara.

Jadi,  pada waktu bulan puasa  sudah seharusnya warga negara Indonesia yang beragama Islam memperjuangkan Pancasila di dalam berbangsa dan bernegara. Dengan mengamalkan Pancasila yang baik dan benar, maka hakikatnya sudah mengamalkan ajaran agama yang baik dan dengan mengamalkan ajaran agama yang baik dan benar, maka hakikatnya sudah mengamalkan Pancasila.

Mengamalkan ajaran agama yang wasthiyah atau moderat artinya sudah memastikan bahwa corak beragamanya adalah mencintai negaranya, tidak anti pemerintah yang sah, memberikan toleransi terhadap orang dan kelompok lain dan tidak anti atas budaya bangsanya yang beraneka ragam.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

UKHUWAH BASYARIYAH: RENUNGAN TENTANG INDONESIA

UKHUWAH BASYARIYAH: RENUNGAN TENTANG INDONESIA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Saya ingin memperdalam tentang ukhuwah basyariyah, satu aspek dalam khutbah saya pada Masjid Nur Iman, pada waktu Hari Raya Idul Fitri 1444 H,  Sabtu 1 Syawwal 1444 H atau 22 April 2023. Pada artikel ini sengaja saya pilih topik tersebut sebab di sinilah problem besar yang mengakibatkan pertentangan, dan bahkan konflik social di Indonesia, misalnya kasus Ambon, kasus Poso, kasus Kalimantan Barat dan beberapa tempat lain.

Indonesia merupakan negara yang sangat kompleks dilihat dari variasi etnis, ras dan agama serta golongan social. Bisa dibayangkan jika yang satu atas yang lain merasa lebih besar jumlahnya, lebih kuat dan luas wilayahnya, lebih superior dibanding yang lain, maka yang terjadi adalah persaingan, kontestasi, pertentangan dan bahkan konflik social. Jika semuanya tidak bisa dimenej dengan benar, maka akan menjadi hambatan dan tantangan yang luar bisa bagi kemajuan bangsa.

Untunglah bahwa masyarakat Indonesia memiliki pemahaman yang cair tentang identitas politik, identitas kesukuan, dan  identitas agama. Yang beragama Islam meskipun jumlahnya banyak juga tidak selalu berpikir representasi. Yang suku Jawa  jumlahnya banyak dan tidak berpikir representasi. Di Ambon yang seimbang agamanya juga tidak berpikir representasi. Di Manado, Bali, dan Papua  juga tidak selalu berpikir represantasi. Ada perasaan kesamaan bangsa Indonesia di tengah kompleksitas kesukuan, agama dan ekonomi. Inilah kekuatan bangsa Indonesia dalam menghadapi tantangan berbagai identitas yang melekat padanya.

Kita memiliki tantangan politik dalam jangka dekat. Kita akan menghadapi gawe politik 2024 yang akan datang. Kurang dari setahun. Dan biasanya akan terjadi rivalitas dalam memenangkan pertarungan politik. Disebut oleh para ahli ilmu politik sebagai tahun politik. Tahun di mana terjadi pertarungan politik yang “mengeras” karena artikulasi kepentingan politik yang semakin menguat. Di Indonesia,  ada yang disebut sebagai “politik aliran”. Artinya, bahwa ada beberapa aliran yang berkontestasi di dalam arena politik kebangsaan. Semuanya berebut satu tujuan: “mememangkan kontestasi politik dalam Pilpres dan pilihan legislative yang akan berlangsung”.

Menurut saya, bangsa Indonesia sudah memiliki pengalaman  panjang dalam berkutat dengan masalah-masalah politik kebangsaan. Semenjak pra-kemerdekaan, post kemerdekaan hingga Indonesia modern. Dengan demikian, sudah kenyang makan garam politik praktis untuk menentukan apa yang terbaik bagi bangsa dan negara. Yang paling rawan adalah seputar pemberontakan G30S/PKI pada tahun 1965, dan hal ini bisa diselesaikan berkat kesigapan dan kebersamaan seluruh elemen bangsa Indonesia. Organisasi social keagamaan dan tentara serta masyarakat luas memberikan dukungan sepenuhnya untuk memberantas dan menghancurkan kekuatan komunisme dan akhirnya berhasil.

Tantangan kehidupan keagamaan. Yang tidak kalah adalah konflik social bernuansa agama. Kasus Ambon, kasus Poso, kasus Mataram, Kasus Aceh dan sebagainya akhirnya bisa diredam karena kemampuan untuk melokalisir kasus dimaksud dalam ruang terbatas. Kasus yang relative besar tersebut tidak menyulut konflik yang lebih luas. Meskipun di era media social yang digdaya, akhirnya kasus-kasus tersebut bisa diredam dengan kebersamaan alih-alih membuat kegaduhan. Termasuk juga tindakan bom bunuh diri yang meresahkan dan menyedihkan. Meskipun kecil jumlah yang ekstrim tetapi tetap perlu kewaspadaan.

Di dalam konteks ini, maka Islam mengajarkan tentang ukhuwah basyariyah atau persaudaraan berbasis kemanusiaan. Di dalam salah satu hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori terdapat potongan hadits yang menyatakan: “kunu ibadallahi  ikhwana”. Yang artinya: “jadilah hamba Tuhanmu yang bersaudara”. Islam mengajarkan agar kita dapat  menjadi sesama umat manusia yang bersaudara. Jadi bukan hanya bersaudara sesama agama tetapi persaudaraan sesama manusia. Manusia di dunia sesungguhnya adalah bersaudara. Semua merupakan keturunan Nabiyullah Adam, dan kala banjir besar melanda seluruh dunia, maka putra Nabi Nuh AS, yaitu Syam, Yafeth dan Ham kemudian menurunkan tiga etnis besar di dunia, yaitu Ras Negroid, Ras Mongoloid, dan Ras Kaukasoid. Masing-masing  menghuni Eropa, Afrika dan Asia. Jadi, meskipun sekarang terjadi ras-ras yang berkembang sedemikian banyak,  hakikatnya terdiri dari tiga ras besar.

Oleh karena itu, apapun tantangan di dalam kehidupan, seperti tantangan politik, keberagamaan, social  dan ekonomi, akan tetapi harus kembali kepada ikatan primordial bahwa sesama manusia harus saling mengasihi dan menyayangi. Hanya sayangnya bahwa yang banyak terjadi adalah kasus konflik social atau peperangan dibandingkan dengan kedamaian. Masa konflik di dalam sejarah manusia jauh lebih panjang dibandingkan dengan sejarah perdamaian.

Untuk menjadi manusia yang mengedepankan ukhuwah basyariyah, maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu: pertama, menyadari bahwa manusia tidak hidup sendiri. Tidak ada manusia yang mampu hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Jauhi keinginan untuk menang sendiri dan menguasai sendiri.  Yang penting adanya  kemauan untuk berbagi tidak hanya bagi kelompoknya tetapi juga merangkul yang berbeda. Umat menjadi kuat jika antara yang sama dan berbeda dapat menjadi satu kesatuan.

Kedua, menahan nafsu amarah atau nafsu angkara murka. Sumber masalah kemanusiaan adalah keangkaramurkaan. Keinginan untuk menguasai dan memiliki semua hal adalah awal dari malapetaka. Makanya, benar yang dinyatakan Nabi Muhammad SAW bahwa jihad yang besar adalah jihad melawan hawa nafsu. Kendalikan hawa nafsu agar ukhuwah basyariyah akan bisa dirajut dengan baik.

Ketiga, menjaga harkat dan martabat kemanusiaan. Tidak ada yang lebih indah di dalam kehidupan sesama antar manusia kecuali kita menghargai, menghormati dan memulyakan manusia sebagai sebaik-baik ciptaan Allah SWT. Adapun kemudian kita berbeda dalam warna kulit, etnis, suku bangsa dan agama hanyalah asesori dalam kehidupan. Substansi manusia adalah pada aspek kemanusiaannya. Yang paling hebat di antara asesori itu adalah ketaqwaan seseorang. Taqwa adalah pembeda di antara sesama manusia.

Keempat, menghargai kreasi manusia dengan sikap dan tindakan yang relevan dengan prinsip umum dalam beragama dan kehidupan bersama. Jangan ada di antara kita yang merasa bahwa hanya kita satu-satunya yang memiliki kreasi dan kemampuan untuk menyatakan kebenaran yang dihasilkan oleh kemampuan logika. Mari kita pahami bahwa dalam dunia tafsir agama sekalipun,  maka kebenaran itu tidak tunggal. Ada para penafsir lain yang juga perlu untuk diapresiasi. Yang mutlak benar hanya Allah, Rasul dan kitab sucinya. Yang bukan itu adalah tafsir dan kita harus menoleransi atas perbedaan.

Kelima, menjauhi kekerasan, baik kekerasan simbolik maupun actual. Keduanya akan menjadi awal petaka bagi kemanusiaan. Manakala terjadi kekerasan maka akan menghasilkan kekerasan baru atau munculnya spiral kekerasan. Kekerasan baik simbolik apalagi fisik akan meninggalkan trauma berkepanjangan. Oleh karena itu, agar terjaga ukhuwah basyariyah  maka semua orang menyadari akan akibat yang ditimbulkan oleh kekerasan social. Perang akan menimbulkan luka psikhis dan fisik dan untuk menyembuhkannya membutuhkan waktu tidak kurang dari 30 tahun.

Manusia diberikan oleh Allah kemampuan untuk membangun silaturrahmi berbasis pada ukhuwah basyariyah. Mari kita rajut kerukunan berdasar atas rasa kemanusiaan agar hidup kita menjadi aman dan damai.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

HIKMAH RAMADLAN UNTUK MEMPERKUAT PERSAUDARAAN: KHUTBAH IDUL FITRI 1444 H

HIKMAH RAMADLAN UNTUK MEMPERKUAT PERSAUDARAAN: KHUTBAH IDUL FITRI 1444 H

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Allahu Akbar 9x. Allahu Akbar Kabiro wal hamdu lillahi katsiro wa suhanallahu bukratau wa ashila. La ilaha illallah  wallahu akbar wa lillahil hamd.

Asyhadu an la ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah, la nabiyya ba’dahu. Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ala alihi wa shahbihi  ajma’in. qalallahu fi kitabihil karim: “ittaqullaha haqqa tuqatihi wa la tamutunna illa wa antum muslimun”. Wa qala Rasulullah sallallahu alaihi wasallam: “man shoma ramadlona imanan wahtisaban ghufiro lahu ma taqaddama min dzanbihi”.

Hadlirin wal hadirat rahimakumullah.

Alhamdulillah wa syukru lillah bahwa kita bisa sampai pada penghujung ramadlan, karena pada hari ini, Sabtu, 22 April 2023 bertepatan dengan tanggal 1 Syawwal 1444 H,  yang hari ini merupakan hari raya atau idul Fitri yang sungguh merupakan hari yang sangat penting di dalam perjalanan kita sebagai manusia dan umat Islam.

Kita bersyukur kepada Allah SWT karena bisa dipertemukan dengan bulan Ramadlan dan kita dapat  melakukan puasa sebagaimana diwajibkan di dalam Islam. Kita meyakini bahwa bulan puasa merupakan bulan yang luar biasa bagi umat Islam karena dijanjikan oleh Allah bahwa siapa saja yang melaksanakan puasa dengan penuh keimanan dan penuh keikhlasan, maka Allah akan mengampuni dosa umat Islam. Barang siapa yang melakukan puasa di siang hari atau man shoma ramadlana, dan barang siapa yang bisa melakukan qiyamul lail dengan shalat tarawih, shalat witir dan berdzikir kepada Allah atau man qoma romadlona, maka Allah akan mengampuni dosa-dosa yang kita lakukan. Alangkah bahagianya jika kita dapat memperoleh ampunan Allah dimaksud karena Allah menjamin akan memasukkan kita ke dalam surganya.

Di dalam Surat Ali Imron, 133-134, Allah berfirman: “wa sari’u ila maghfiratin min rabbikum wa jannatin ardhuhas samawatu wal ardhu, u’iddat lil muttaqin. Alladzina yunfiquna fis sarrai wadh dharrai wal kadziminal ghaidzo wal ‘afina ‘anin nas wallahu yuhibbul muhsinin”.   Yang artinya: “bersegeralah memohon ampunan kepada Tuhanmu dan surganya Allah yang luasnya seluas bumi dan langit yang disediakan kepada orang-orang yang bertaqwa. Yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya di dalam keadaan lapang dan sempit dan menahan amarah dan memaafkan atas kesalahan manusia lainnya dan Allah menyukai orang-orang yang berlaku baik”.

Dari ayat ini diperoleh gambaran tentang indicator atau ciri-ciri orang yang bertaqwa yang dijanjikan surga oleh Allah, yaitu: 1) orang yang segera memohon ampunan Allah kala selesai melakukan kesalahan. Jangan malu memohon ampunan Allah atas kesalahan, kekhilafan dan dosa yang kita lakukan. Kita yakin jika kita bertaubat dengan sungguh-sungguh maka Allah akan mengampuninya. 2) orang yang sedekah dalam keadaan lapang atau sempit, kaya atau tidak kaya. Jika kaya maka bersedakah dengan hartanya dan jika miskin bersedekah dengan senyuman. Idkholus surur shodaqah. Menyenangkan hati orang itu sedekah. 3) orang yang mampu menahan amarah. Puasa yang baru selesai kita lakukan adalah upaya kita dalam rangka menahan amarah. Melalui puasa maka nafsu amarah dan lawwamah dapat diarahkan kepada nafsu muthmainnah. 4) orang yang suka memberi maaf atas kesalahan orang lain. Hari raya kita hari ini adalah instrument atau media kita semua untuk meminta maaf kepada orang lain. Jangan malu meminta maaf dan jangan pelit memberi maaf. 5) orang yang berbuat baik. Kita telah berusaha berbuat baik dengan melakukan shalat, puasa dan zakat. Semoga upaya kita ini dapat menjadi sarana dalam rangka memohon ridlo Allah SWT.

Sebagai sesama manusia yang dipastikan akan bergaul dengan manusia lainnya, atau membangun relasi social, maka ada konsep yang sangat baik yang diberikan oleh Alm. KH. Ahmad Siddiq, Ketua Umum Pengurus Besar NU, yang dinyatakannya sebagai trilogi kerukunan. Atau disebut sebagai tiga pilar kerukunan bag masyarakat Indonesia. Yaitu: 1) membangun kerukunan intern umat Islam atau ukhuwah Islamiyah. Sesama umat Islam kita harus menyadari bahwa kita adalah saudara dalam agama. Kita tidak boleh saling mencela, saling mengejek, saling menyalahkan dan bahkan membunuh karakter kita sebagai umat Islam. Di media social dewasa ini banyak berseliweran konten atau tayangan Youtube, bahwa ada sebagian pendakwah yang membidh’ahkan amalan ibadah kita, bahkan mengkafirkan kita. Isi khutbah yang semacam ini akan merusak hubungan baik sesama umat Islam, akan membuat disharmoni.

Oleh karena itu kita jangan terprovokasi atau terpengaruh dengan isi ceramah seperti ini. Marilah kita yakinkan diri kita bahwa yang kita lakukan itu benar karena ada pedomannya. Makanya, jika ada yang berhari raya pada hari Jum’at silahkan, yang hari raya hari ini, sabtu, silahkan. Jangan saling mencela dan menyatakan yang lain salah. Jadi hukumnya jangan benar atau salah, tetapi hukum pilihan sesuai dengan keyakinan kita. Hadits Nabi menyatakan: “almuslimu lil muslimi kal bunyan yasyuddu ba’dhuhu ba’dhan”. “Orang muslim dan orang muslim lainnya itu seperti bangunan yang saling menguatkan sebagian atas sebagian lainnya”.

2) kita tegakkan ukhuwah basyariyah. Kita ini hidup di dunia yang terdiri dari masyarakat berbagai macam ras, suku, agama dan antar golongan. Maka marilah kita menyadari bahwa kita dapat membangun relasi yang baik dengan sesama umat manusia. Jangan ada yang menyatakan bahwa diri kita yang paling baik dan yang lain jelek. Yang membedakan seseorang dari lainnya adalah ketaqwaannya. Dan yang menentukan kebaikan taqwa kita adalah Allah SWT. Bukan kita. Jangan kapling surga untuk kelompok kita saja. Karena yang menentukan surga adalah haknya Allah SWT. Hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori menyatakan: kunu ‘ibadallahi ikhwanan”. “jadilah hamba Allah yang bersaudara”.

3) ukhuwah wathoniyah atau persaudaran sebagai satu bangsa. Kita ini adalah bangsa Indonesia yang merupakan satu kesatuan umat yang hidup dan menetap di Indonesia. Sebagai warga negara maka kita harus mencintai bangsa dan negara ini. Jangan sampai kita hidup di Indonesia, tetapi ingin menjadi warga negara lain atau ingin menjadikan ideologi bangsa lain sebagai dasar negara kita. Kita sudah memiliki dasar negara yaitu Pancasila, maka harus kita pertahankan. Ulama-ulama NU sudah menyatakan bahwa Pancasila adalah dasar Negara Kesatuan Republic Indonesia (NKRI). Jangan pernah kita menginginkan dasar negara yang bukan Pancasila.

Semoga Allah memberkahi kehidupan kita secara individual, keluarga dan bangsa Indonesia. Semoga hidup kita selalu dalam keberkahan dan kebahagiaan. Amin ya Rabbal ‘alamin.

aqulu qauli hadza fastaghfirullahal aizim. Rabbigh fir warham wa anta khairur rahimin.

Wallahu a’lam bi al shawab.

INDAHNYA ISLAM DI INDONESIA: RENUNGAN RAMADLAN (30)

INDAHNYA ISLAM DI INDONESIA: RENUNGAN RAMADLAN (30)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Setiap sepertiga malam selalu saya dengar dari masjid desa Sembungrejo Merakurak, seorang takmir Masjid itu menyuarakan ajakan untuk persiapan sahur. Diono, namanya. Dengan suaranya yang khas, melalui pengeras suara dengan lantang diucapkannya: “Asyhadu an la ilaha illallah. Astaghfirullah. Nas aluka ridhaka wal Jannah wa na’udzubika min sakhawatika wan nar. Allahumma innaka ‘affuwun karim tuhibbul ‘afwa wa’fu anna ya karim. Diulanginya tiga kali berturut-turut. Setelah itu diucapkan: “Allahumma salimna ramadlan, wasallim li ramadlan, wa tasallamuhu minna mutaqabbala”.

Lalu diucapkan:“tasahharu, tasahharu, tasahharu fa inna fis sahuri barakah”. Juga diulanginya tiga kali berturut-turut. Kemudian diucapkan dalam bahasa Jawa: “para bapak lan ibu, para sederek muslimin lan muslimat, sakmeniko sampun jam tiga kurang delapan menit, monggo sami-sami persiapan dahar sahur”. Juga ducapkan dalam tiga kali.

Menyambut Ramadlan dengan hal seperti itu yang tidak kita dapatkan di negara asal Islam, di Timur Tengah. Islam di negara asalnya itu sedemikian formal. Tidak boleh ada sedikitpun yang dinyatakannya sebagai budaya yang bisa masuk ke dalam ekspresi keislaman masyarakatnya. Di masa lalu, orang mau menghormat Nabi Muhammad SAW dengan bacaan shalawat bersama-sama saja takut. Jika diketahui oleh penguasa Islam, Salafi Wahabi, bisa menjadi masalah. Monopoli tafsir kebenaran agama sedemikian kuat diindoktrinasikan kepada seluruh masyarakat. Bahkan bukanlah hal aneh bahwa buku-buku yang tidak sesuai dengan tafsir ulama Salafi Wahabipun dihanguskan. Makam Nabi Muhammad SAW saja nyaris dihancurkan seandainya tidak ada protes dari ulama-ulama, termasuk ulama NU dari Indonesia.

Untunglah yang datang awal ke Indonesia adalah Islam dalam coraknya yang tidak menghanguskan seluruh tradisi masyarakat, bahkan kemudian mengislamkannya. Tradisi yang bisa dijadikan sebagai media dakwah, seperti wayang kulit kemudian disadur menjadi bersubstansi ajaran Islam. Tradisi slametan yang semula tradisi Hindu dan Buddha kemudian dijadikan sebagai medium untuk silaturrahmi bersubstansi Islam. Meskipun para waliyullah, penyebar Islam itu berasal dari Arab Saudi akan tetapi tetap mengajarkan agar menjadi orang Jawa Islam atau orang Nusantara Islam.

Pengajaran dan institusionalisasi Islam macam inilah yang tetap berkembang hingga saat ini. Islam menjadi lebih berwarna-warni dengan kreativitas yang memperkaya khasanah Islam Indonesia. Yang diucapkan oleh takmir Masjid Nur Iman sebagaimana yang saya tulis di depan merupakan kreativitas umat Islam Indonesia. Jika yang seperti ini juga dilarang karena Nabi Muhammad SAW tidak melakukannya, maka Islam akan menjadi kering kerontang, dan tidak ada lagi nuansa dan upaya untuk saling mengingatkan dalam hal sederhana, sahur pada bulan Ramadlan. Hal seperti ini pastilah dianggap bidh’ah yang sesat dan akan menghuni neraka.

Alangkah indahnya Islam di Indonesia. Pada sepertiga malam, kala tidur lagi nyenyak padahal harus bangun untuk sahur, maka kala bangun karena suara yang datang dari masjid adalah kalimat thayibah, doa dan upaya agar umat Islam segera menyiapkan makan sahur. Seharusnya yang seperti ini justru menjadi kekayaan Islam dan bukan untuk dinihilkan karena tafsir ulama-ulama Salafi Wahabi yang formalistic. Selama bukan sesuatu yang haram mutlak, maka tentu adalah mubah atau kebolehan karena tidak didapati hukum kepastiannya dari kanjeng Nabi Muhammad SAW. Al ashlu fil hukmi al ibahah.  Jika tidak didapatkan hukum yang melarang secara mutlak, maka hal itu merupakan kebolehan. Asal usul hukum adalah kebolehan.

Masyarakat Islam Indonesia adalah umat Islam yang paling kreatif dalam memahami ajaran agamanya. Berkat bimbingan para waliyullah, sebagai pendakwah, dan juga ulama-ulama yang mengabdikan dirinya untuk Islam di Indonesia, maka Islam menjadi agama yang ramah, agama yang merangkul dan bukan memukul. Islam disebarkan dengan kasih sayang dan bukan dengan cacian dan cercaan. Terhadap penganut agama lain saja harus dinyatakan “lakum dinukum waliyadinI”. Bagimu agamamu dan bagiku agamaku. Seharusnya sesama umat Islam bahkan bisa lebih ramah. Seharusnya dinyatakan: “bagi yang mengikuti ulama NU silahkan mengamalkannya secara tuntas. Bagi yang Muhammadiyah silahkan mengikuti ulamanya secara tuntas, dan bagi kami  yang Salafi Wahabi kami  akan melaksanakan ajaran agama sesuai dengan ulama-ulama Salafi Wahabi”.

Alangkah indahnya jika bisa melakukan hal seperti itu. Tetapi juga jangan melakukan taqiyah, pura-pura baik tetapi tetap memiliki agenda mewahabikan masyarakat Islam Indonesia, dan lebih jauh mengagendakan terjadinya system khilafah di negeri ini.

Kita sungguh tidak ingin menjadi Afghanistan yang terus konflik, dan juga tidak ingin menjadi Sudan yang  akhir-akhir ini juga terlibat di dalam konflik. Kita ingin rukun, harmoni dan slamet.

Wallahu a’lam bi al shawab.

INDAHNYA MEMAAFKAN: RENUNGAN RAMADLAN (29)

INDAHNYA MEMAAFKAN: RENUNGAN RAMADLAN (29)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Di dalam relasi social, maka dipastikan  bisa terjadi gesekan antara satu dengan yang lain, kapan dan dimanapun. Hal ini semata-semata sifat manusia yang memang sering melakukan kesalahan dan kekhilafan. Makanya di dalam kehidupan ini dipastikan ada kesalahan yang dilakukan baik yang disengaja atau tidak disengaja. Semua ini tergolong manusiawi.

Dalam sejarah kemanusiaan, maka ceritanya dimulai dengan Nabiyullah Adam AS, yang menuruti kehendak setan untuk memakan buah khuldi, kala Nabi Adam dan Hawwa berada di surga. Akibatnya Adam dan Hawwa diturunkan ke kehidupan dunia untuk melanjutkan kekhalifahan di dunia. Sesuai dengan rencana Tuhan bahwa Nabi Adam AS memang harus menjadi khalifah di dunia untuk meneruskan misi kekhalifahan Tuhan. Akibat dosa Nabi Adam, maka di dalam agama Nasrani dikenal ada “dosa warisan”.

Kesalahan berikutnya dilakukan oleh anak Nabi Adam AS, Qabil,  yang membunuh saudaranya Habil. Karena tidak tahu apa yang harus dilakukan kala terbunuhnya Habil dan akhirnya lewat burung gagak yang diturunkan Allah, maka burung gagak mengajari Qabil untuk memakamkan burung gagak lainnya yang juga terbunuh. Begitulah cara Allah mengajari manusia di dalam kehidupan.

Di  masa lalu kesalahan manusia tidak sekompleks sekarang. Dewasa ini kesalahan dan kekhilafan tersebut dilakukan melalui cara-cara yang sangat canggih dan massif. Seirama dengan semakin menguatnya teknologi informasi dengan anak turunannya, misalnya media social, maka orang bisa melakukan kesalahan dengan sasaran berjamaah. Ada yang dilakukan dengan kesengajaan dan ditujukan kepada banyak orang.

Cobalah kita simak media social. Betapa banyak kesalahan dan kekhilafan yang dilakukan dengan mengunggah konten Youtube yang berakibat munculnya sakit hati, rasa dendam, rasa terdzalimi, rasa dipermalukan dan sebagainya. Kebanyakan juga dilakukan atas nama agama. Agama yang seharusnya dan memang begitulah ajarannya itu untuk kemaslahatan dan kebaikan dalam paket Islam rahmatan lil ‘alamin justru dijadikan sebagai sarana untuk menjustifikasi “kebenaran” dalam tafsirnya sendiri.

Sesama umat Islam akhirnya saling memperebutkan klaim kebenaran, yang sesungguhnya adalah kebenaran tafsir agama. Terlalu sering saya menuliskan hal seperti ini. Akan tetapi begitulah kenyataannya. Sesama umat Islam tetapi diklaim telah melakukan amalan-amalan yang tidak sesuai dengan Islam hasil penafsiran ulamanya. Dianggap kafirlah, dianggap tersesatlah, dianggaplah sebagai kaum yang mengamalkan agama dalam kebidh’ahan dan sebagainya.

Ungkapan seperti ini dipastikan akan memunculkan reaksi dan respon balik yang juga tidak kalah seksinya. Jika kemudian terdapat respon yang keras tentu juga hal yang wajar, sebab kala seseorang dinyatakan sebagai kafir, maka konsekuensinya bisa diperangi atau dibunuh. Jadi pantaslah jika orang marah karena unggahan seperti itu. Saya juga sangat menyesalkan atas ungkapan-ungkapan yang menyudutkan dan menyakitkan ini.

Bulan Ramadlan adalah bulan yang dapat dijadikan sebagai instrument untuk saling mawas diri atau introspeksi atas perilaku kita. Makanya, kita harus mawas diri atas apa yang kita lakukan selama setahun sebelumnya. Jika ada kesalahan maka hendaknya kita berpikir untuk melakukan pertobatan. Tobat dalam konteks tidak mengulangi lagi kesalahan serupa. Bagi yang sering menyalahkan amalan sesama umat Islam, hendaknya mawas diri agar tidak melakukannya lagi. Jika hal tersebut terus dilakukannya, maka kita bisa bertanya apakah makna puasanya. Kita tentu bukan yang terbaik, sebab tetap saja ada dimensi kemanusiaan yang melekat di dalam diri kita. Tetapi dengan kita sadar bahwa kita telah melakukan kesalahan,  maka itu berarti merupakan awal yang baik. Tinggal melihat bagaimana tindakan berikutnya.

Islam mengajarkan: “innamal mu’minuna ikhwatun, fa ashlihu baina akhawaikum”, artinya kurang lebih: “sesungguhnya sesama orang mukmin itu bersaudara, maka lakukan ishlah di antara sesama saudara itu”. Ishlah itu memiliki dimensi yang lebih luas. Ishlah dalam konteks general berarti ada kesalahan yang dilakukan sehingga memerlukan permohonan maaf satu atas lainnya. Namun ada dimensi yang lebih mendalam yaitu kala terjadi pertentangan, rivalitas dan konflik, sehingga atas hal ini maka diperlukan cara dan metode yang lebih mendasar, misalnya bisa melalui mediasi.

Kala saya kecil diajari oleh Bapak saya pada waktu hari Raya dengan menyatakan seperti ini kala bertemu dengan orang yang lebih tua: “ngaturaken sedoyo kalepatan, ingkang mboten angsal idzine syara’ mugi lebur dinten niki”,  yang artinya: “menghaturkan semua kesalahan,  jika ada tindakan yang  tidak sesuai dengan syariat semoga luruh hari ini”. Ucapan ini menggambarkan betapa mulianya orang yang menyatakan atas kesalahannya kepada orang lain. Ada banyak orang yang menyembunyikan kesalahan atas yang lain tetapi kita diajari agar meminta maaf atas kesalahan kita.

Islam memang mengajarkan agar kita meminta maaf atas kesalahan yang kita lakukan kepada orang lain. Dan jika hal ini disadari oleh umat Islam, maka kinilah saatnya Islam akan bisa menjadi kekuatan yang dahsyat karena umatnya bisa bersatu tanpa ada syakwasangka atau suudz dzon, dan kemudian juga bersedia meminta maaf atas kesalahan yang dilakukannya.

Wallahu a’lam bi al shawab.