Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

KEKUATAN DAKWAH KAUM SALAFI: MEMAHAMI PENGETAHUAN ALAM BAWAH SADAR

KEKUATAN DAKWAH KAUM SALAFI: MEMAHAMI PENGETAHUAN ALAM BAWAH SADAR

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Sebagaimana biasa pada hari Selasa di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency dilakukan pengajian ba’da Shubuh. Ngaji ini diselenggarakan oleh Komunitas Ngaji Bahagia. Pada Selasa, 5 Juni 2023, saya memberikan ceramah tentang aliran di dalam Islam yang semakin semarak di Indonesia. Makanya, pertarungan otoritas keagamaannya juga menjadi semarak. Ceramah agama di Masjid Al Ihsan memang didesain dengan two way traffic communication. Ceramahnya menggunakan pola dialog.

Jika diamati, lagi-lagi yang meramaikan dakwah dengan berbagai tafsirnya adalah media social. Di Indonesia media sosial menjadi sumber informasi utama, sehingga media social sungguh digandrungi oleh masyarakat Indonesia yang sedang berada di dalam transisi menuju masyarakat informatif. Masyarakat transisi biasanya belum memiliki literasi media social yang memadai, sehingga semua yang ada di dalam suguhan media social dianggapnya kebenaran.

Saya sampaikan bahwa dakwah yang dilakukan oleh Kaum Salafi Wahabi itu sungguh hebat. Berdasarkan pengamatan lapangan  bahwa ada banyak orang yang tiba-tiba menjadi jamaah hijrah. Kala sudah melakukan hijrah, maka perilaku keberagamaannya tiba-tiba menjadi berbeda dengan perilaku beragama sebelumnya. Tiba-tiba menjadi Islam yang rajin ke masjid, dengan performance kopyah tempel kepala warna putih atau warna-warni, celana ditarik ke atas atau sarung juga beberapa senti meter di atas tumit. Tiba-tiba shalat shubuhnya rutin dan shalat wajib lainnya juga dilakukan secara berjamaah jika di rumah.

Ada di antaranya yang begitu selesai salam langsung berdoa sendiri tanpa bersalaman dengan jamaah lainnya dan ada yang masih mau untuk melakukan wiridan bersama dan juga bersalaman dengan jamaah lain. Sungguh sebuah fenomena yang sangat menarik.

Pertanyaannya adalah bagaimana kaum Salafi Wahabi  bisa mengubah perilaku beragama dengan sedemikian cepat dan dengan sedemikian sempurna?. Artinya bahwa apa yang dilakukan itu tiba-tiba berubah drastis dan terstruktur atau sistematis. Jawaban atas pertanyaan ini kemudian disampaikan oleh Pak Sahid yang memiliki pengalaman berhadapan dengan kelompok-kelompok semacam ini. Dinyatakan bahwa para da’i dari kaum Salafi Wahabi  itu benar-benar menguasai alam bawah sadar para jamaah. Misalnya da’i tersebut tiba-tiba bertanya kepada para jamaah secara spontan, tentang apa yang menjadi masalah di dalam kehidupan. Para da’i itu memanfaatkan suatu kenyataan bahwa tidak ada seorangpun yang tidak memiliki masalah di dalam kehidupan. Jika sudah ada yang memberikan pernyataan, maka diajaklah orang dan jamaah lainnya untuk memahaminya dari dalam alam bawah sadar. Dari sini kemudian diajaklah para jamaah untuk berselancar dalam dunia Islam dengan kenyataan historis  pada zaman Nabi Muhammad SAW dan juga apa yang seharusnya dilakukan. Diajaklah mereka untuk menilai shalatnya, doanya, amalan kesehariannya. Lalu masuklah ajaran shalat sebagaimana yang ditafsirkan oleh ulamanya. Diajaknya para jamaah untuk menilai apakah shalatnya sudah sesuai dengan ajaran Islam sesuai dengan tafsir golongannya atau belum. Diajaklah para jamaah untuk menilai tauhidnya, apakah sudah sesuai dengan ajaran Tauhid yang sesuai dengan ajaran tafsir ulama agamanya. Jika ada di antara para jamaah yang masih melakukan ajaran Islam yang tidak sesuai dengan Islam pada zaman Nabi Muhammad SAW, maka inilah salah satu penyebabnya. Digiringnya para jamaah untuk mendalami dengan alam bawah sadarnya dan kemudian dimasuki dengan tafsir atau paham keagamaannya. Mereka diyakinkan benar tentang manfaat shalat jamaah, diajarkan agar tidak lagi melakukan amalan yang bidh’ah, agar mensucikan taugidnya  sesuai dengan ajaran agamanya. Artinya tidak melakukan lagi hal-hal yang Tahayul,  bidh’ah dan churafat (TBC).

Dari pemaparan ini, maka ada catatan mendasar bagi para da’i dari Islam wasathiyah atau Islam ahli sunnah wal jamaah. Pertama,  para da’i sudah seharusnya memahami tentang pengetahuan  alam bawah sadar. Dengan memahami alam bawah sadar dari para jamaahnya, maka diharapkan bahwa dakwah akan lebih mengena untuk sasarannya. Jadi bukan hanya sekedar memberikan pengetahuan beragama, sebagaimana yang biasa saya lakukan, akan tetapi membawa para jamaah untuk memahami apa yang dilakukannya dengan melakukan penilaian atas perilaku keagamaannya selama ini, dan kemudian memberikan solusi atas masalah-masalah yang dihadapinya.

Kedua,  para da’i harus benar-benar menggunakan diksi dan kalimat yang terukur pengaruhnya terutama untuk alam bawah sadarnya. Kalimat yang memberikan pemahaman plus, bukan hanya menyentuh terhadap alam pikirannya saja tetapi lebih memahami dengan alam bawah sadarnya. Hendaknya mereka diajak untuk berselancar dalam alam bawah sadarnya dengan kalimat-kalimat yang mengena dan membawa perubahan yang nyata.

Ketiga, Kementerian Agama dan organisasi social keagamaan yang selama ini berlabel Islam wasathiyah tentu dapat bergandengan tangan untuk mendalami dan memberikan pengetahuan yang mendalam tentang hal ini. Rasanya sudah saatnya dilakukan semacam training untuk para da’i yang sudah  malang melintang dalam blantika  dakwah untuk mendalami tema baru dakwah dalam konteks alam bawah sadar. Saya kira para da’i atau calon da’i dapat mengikuti program training khusus untuk kepentingan ini.

Ketiga, para da’i memang boleh memilih tentang pola dakwah yang akan disampaikannya. Apakah akan menggunakan pola dakwah riang gembira, atau dakwah solutif dengan tekanan alam bawah sadar, atau dakwah serius untuk penjelasan, atau dakwah  gaya campuran. Bagi saya memang dakwah dapat dilakukan dengan variasi gaya dan pola, yang penting bahwa dakwah tersebut dapat mengubah pemahaman dan perilaku yang sesuai dengan ajaran agama.

Saya melihat bahwa pola dakwah terhadap generasi muda yang sedang dalam proses pencarian identitas keberagamaan sering kali masuk dalam alam hijrah sebagaimana disajikan oleh kaum Salafi Wahabi. Hal ini tentu tidak terlepas dengan variasi dakwahnya yang memberikan solusi atas kehidupan yang ingin dijalaninya. Dan kala kaum Salafi Wahabi bisa meyakinkan dalam konsep hijrah dengan melakukan perubahan paham dan perilaku beragamanya, maka jadilah mereka sebagai pengikut Salafi Wahabi.

Saya kira sudah saatnya, para da’i  yang selaras dengan Islam wasathiyah untuk melakukan dakwah dengan cara pandang seperti ini agar dakwah lebih berdaya guna. Jangan sampai generasi muda  semakin banyak yang tertarik dengan paham Salafi Wahabi karena pola dakwah yang dilakukannya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

FENOMENA WISUDA: SEHARUSNYA UNTUK SARJANA

FENOMENA WISUDA: SEHARUSNYA UNTUK SARJANA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Beberapa hari yang lalu, saya diwawancarai oleh Radio Suara Surabaya, 19/06/2023,  tentang fenomena wisuda yang diselenggarakan oleh sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (SMA). Fenomena ini menarik untuk dicermati terkait dengan status wisuda tersebut dari sisi pendidikan dan juga  dimensi ekonomis. Sebagaimana dipahami bahwa kegiatan-kegiatan semacam wisuda tersebut tentu dibebankan kepada orang tua atau wali siswa meskipun dengan pembayaran tidak ke  sekolah tetapi lewat kesepahaman antar orang tua atau wali siswa.

Masyarakat Indonesia itu masyarakat yang latah. Artinya, kala satu lembaga pendidikan melakukannya, maka yang lain mengikutinya. Begitulah secara berantai kemudian nyaris semua sekolah melakukannya. Tidak hanya melakukannya di sekolah,  akan tetapi di rumah makan, bahkan hotel. Macam-macam modusnya. Ada yang menggunakan tema kesenian, perpisahan dan sebagainya. Ramai-ramai.

Di dalam upacara itu didesain sebagaimana wisuda sarjana. Lengkap dengan toga dan ada yang menggunakan jas lengkap. Tidak hanya sekolah di perkotaan tetapi juga sekolah di pedesaan. Kalau tidak melakukan wisuda seperti sayur kurang garam. Bahkan ada di antaranya yang menganggap pagelaran wisuda itu sebagai prestasi. Makanya, sekolah pada berlomba-lomba menyelenggarakan wisuda dengan keunikannya.

Secara kronologis, upacara wisuda semula justru dilakukan oleh Taman Pendidikan Al Qur’an atau TPQ. Jika seorang siswa TPQ sudah dinyatakan lulus kitab standart baca Al qur’an sampai jilid terakhir dan sudah lancar membaca Al Qur’an sesuai dengan standart kelulusan, maka dilakukanlah wisuda. Tidak jarang orang tua memasang foto putra-putrinya di rumah. Di ruang tamu. Biasanya lengkap dengan toga dan pakaian wisuda ala wisuda mahasiswa lulusan strata 1, 2 atau 3.

Kemudian ada beberapa lembaga pendidikan setara  SD yang melakukannya dan kemudian terus setingkat SMP danSMA. Akhirnya wisuda menjadi salah satu mata acara yang dilakukan oleh lembaga pendidikan Dasar dan Menengah serta Pendidikan Anak Usia Dini dan Taman Kanak-Kanak. Merebaknya kasus wisuda pada sekolah-sekolah tersebut, akhirnya memantik pelarangan yang dilakukan oleh pemerintah, misalnya Wali Kota Surabaya.

Wisuda itu identic dengan pencapaian akademis pada jenjang pendidikan tinggi, baik untuk program sarjana atau Strata 1, Pendidikan magister atau Strata 2 dan Pendidikan doctor atau Strata 3. Jadi yang memiliki kewenangan untuk menyelenggarakan wisuda dengan pakaian khas adalah lembaga pendidikan tinggi. Memang yang menjadi dasar adalah dimensi historis. Tetapi yang jelas bahwa wisuda tersebut terkait dengan pengakuan atas ketercapaian atau achievement atas prestasi seorang mahasiswa. Orang yang diwisuda merupakan orang yang sudah mencapai derajad pendidikan tinggi, bisa dalam level Pendidikan strata sarjana, magister atau doctor.

Yang sungguh agak memprihatinkan adalah aspek pembiayaan wisuda. Banyak lembaga pendidikan yang melakukan wisuda di hotel atau rumah makan. Padahal pembiayaannya murni ditanggung oleh orang tua atau wali siswa. Jika seperti ini maka tentu akan memberatkan pada ekonomi orang tua atau wali siswa. Jika selama ini, untuk kepentingan pelepasan siswa dilakukan secara sederhana yang dilakukan di sekolah, maka dengan menyelenggarakannya di hotel atau rumah makan tentu akan menjadi beban tersendiri.

Di tengah kehidupan ekonomi yang tidak baik-baik saja, maka seharusnya semua pihak bisa melakukan “penghematan” dalam konteks tidak memberikan beban lebih kepada orang tua atau wali siswa. Dalam kata lain, orang tua bisa membiayai pendidikan anak-anaknya saja sudah merupakan keuntungan. Meskipun sudah terdapat Bantuan Operasional Sekolah (BOS) atau Kartu Indonesia Pintar (KIP), akan tetapi tetap saja orang tua memberikan sumbangan pembiayaan bagi anak-anaknya.

Belum lagi kemudian akan menimbulkan social prejudice, sebab ada sekolah yang siswa-siswanya berasal dari klas menengah ke atas, sehingga bisa memberikan sumbangan yang signifikan untuk pembiayaan pendidikan, dan ada anak yang datang dari keluarga yang berekonomi kelas menengah ke bawah. Bagi mereka ini yang terpenting adalah bisa menyekolahkan anaknya. Makanya jika kemudian diperlukan biaya yang lebih, maka tentu akan membebani ekonomi keluarga kelas bawah.

Sesungguhnya kita berharap bahwa lembaga pendidikan kita semakin arif dalam menyikapi atas kekuatan ekonomi masyarakat Indonesia, yang di dalam realitasnya masih banyak yang berstatus ekonomi klas bawah, sehingga di dalam menyelenggarakan acara apapun tentu juga harus mempertimbangkan keberadaan mereka ini.

Janganlah kita melakukan hal-hal yang di dalam konsepsi  pendidikan tidak memberikan sumbangan signifikan bagi peningkatan kualitas pendidikan, dan apalagi hanya untuk memperkuat penampilan luar saja, bahwa lembaga pendidikan bisa melakukan wisuda di tempat yang mewah.

Sungguh diperlukan kearifan bagi kita semua di tengah masih lemahnya perekonomian masyarakat sebagai akibat Covid-19 yang di dalam banyak hal menyebabkan semakin banyaknya masyarakat Indonesia yang berada di dalam kemiskinan.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

MENJAGA SPIRITUALITAS KALA MEDIA SOSIAL MEREBAK KUAT

MENJAGA SPIRITUALITAS KALA MEDIA SOSIAL MEREBAK KUAT

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Kita merasakan betapa besarnya pengaruh media social terhadap kehidupan. Luar biasa. Kita sudah benar-benar memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap media social. Melalui Hand phone memang dunia berada di dalam genggaman. Kita bisa melihat belahan dunia di luar negeri dari kamar kita masing-masing. Dunia internasional dapat dilihat di HP kapan dan di manapun.

Pengaruh HP terhadap kehidupan  sungguh luar biasa. Kita sudah menjadi ketagihan. Jika kita dalam beberapa jam saja tidak melihat apa yang ada di dalam HP, maka  terasa ada yang kurang. Sungguh kita sudah sampai pada derajat  addicted. Jika kita pergi lalu HP tertinggal di rumah, maka terasa dunia mau kiamat. Gelisah dan merasa tidak nyaman. Ada yang terasa kurang, sebab jangan-jangan ada panggilan atau unggahan penting di HP yang kemudian terlewatkan. Apalagi jika kita termasuk orang yang berada di dalam jejaring media social yang berlalu lalang.

Dengan HP memang apa saja bisa dinikmati. Jika kita ketinggalan nonton bola atau nonton badminton, maka  dapat  menonton siaran ulangnya melalui kanal Youtube. Sungguh seseorang sangat  dimanjakan dengan berbagai tontonan yang menggairahkan melalui media social yang tersaji di dalam HP. Jika kita ingin mendengarkan paparan tentang apa saja, maka  tinggal mencarinya dan kemudian mendengarkannya. Bisa ceramah akademis, ceramah agama, guyonan, music dan bahkan juga tontonan seronok. Sungguh serba ada.

Jika kita bangun tidur, maka pertama yang dicari adalah HP. Tidak ingin lihat yang macam-macam tetapi hanya ingin melihat jangan-jangan ada  pesan yang penting. Bukankah HP sudah menjadi media komunikasi yang sangat efektif untuk menjalin jejaring. Bisa semalaman orang saling berkomunikasi untuk berbagai kepentingan. Apalagi jika relasi tersebut berada di dunia internasional, maka bisa dibayangkan bahwa pesan akan datang pada jam berapa saja. Di Indonesia siang hari dan di Amerika malam hari. Jika kita berjejaring dengan orang Indonesia dan Amerika, maka sungguh akan semalaman hal tersebut terjadi. Orang yang bermain valas, maka nyaris tidak ada waktu istirahat tidur.

HP memang telah menjadi bagian penting di dalam kehidupan manusia. Di dalamnya terdapat sajian yang baik dan buruk. Ada ceramah agama yang mengajak kepada pemahaman agama, dan ada tayangan pornografi yang mengajak kepada perilaku keburukan atau ke neraka. Ada hiburan yang menyegarkan dan ada unggahan yang menyakitkan. Semua tersaji dengan lengkap dan memastikan kesenangan atau sebaliknya. Sajian di kanal Youtube sungguh memberikan semuanya untuk kita.

Namun demikian, yang sungguh menjadi masalah kala kita sudah sampai pada addicted. Maka, HP akan menjadi Setan Gepeng. HP akan menjadi hal yang prioritas. Selama ada waktu, kapan dan di manapun, maka HP akan menjadi teman utama. Di arena public, kita akan bisa melihat bagaimana orang sibuk dengan HP masing-masing. Terkadang tertawa, dan terkadang bersungut. Jika kita berada di stasiun, bandara, halte, dan tempat lainnya, maka semua orang sibuk dengan HP masing-masing. Bahkan suami istri juga masing-masing sibuk dengan HP-nya sendiri-sendiri. Bapak dan anak atau Ibu dan anak juga masing-masing sibuk dengan HP-nya masing-masing.

Yang membuat harus dipikir ulang adalah bagaimana kita tetap meluangkan waktu untuk berkomunikasi dengan Tuhan atau berkomunikasi dengan Rasulullah selain berrelasi dengan sesama manusia atau justru meluangkan waktu kita yang banyak justru untuk HP. Inilah problem kita yang sesungguhnya. Pada era media social ini, maka waktu kita justru yang banyak selain bekerja adalah untuk mencermati pesan dan tayangan di HP. Bahkan di dalam perjalanan yang panjang apakah dengan mobil atau dengan kereta api, maka yang lebih banyak menemani kita adalah HP. Jadi bukan untuk membaca istighfar, tahlil, tahmid atau membaca shalawat tetapi justru untuk bercengkerama dengan HP.

Oleh karena itu ada beberapa tips, yang diperlukan: pertama, kita memang harus berada di dalam dunia media social. Tidak mungkin kita tidak masuk dalam arena ini. Kita butuh jejaring dalam banyak urusan. Bisa urusan kantor, pekerjaan dan bahkan juga urusan pribadi. Artinya kita tidak bisa menjadi manusia sekarang yang hidup di masa lalu.

Kedua, kitalah yang harus memenej kapan harus bermedia social dan kapan kita harus melakukan relasi dengan jejaring secara offline. Dengan suami, istri, anak, cucu dan kolega perlu juga ada waktu untuk bertemu secara luring. Memang relasi bisa dibangun dengan online, akan tetapi tetap saja  ada  masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan daring. Relasi suami istri, atau anak dan orang tua tetap saja yang utama adalah melalui luring. Makanya, relasi itu harus kita yang memenej dengan baik agar semuanya berjalan dengan benar.

Ketiga, kita memerlukan hiburan. Itu pasti. Kita perlu memenej kapan waktu kita harus mendengarkan music, menikmati guyonan dan menikmati dunia serius, misalnya ceramah ilmiah melalui media social. Kita harus proporsional untuk melakukannya. Dan kitalah yang akan memenej kapan waktu yang tepat untuk menyeimbangkan kepentingan-kepentingan dimaksud.

Keempat, di tengah pekerjaan, di saat santai, di saat serius dan di saat kita menikmati sesajian di dalam media social, ada satu hal yang pasti tidak boleh dilupakan, yaitu mengingat Tuhan dengan mengamalkan amalan-amalan shalih yang berupa dzikir. Kita tetap harus ingat membaca shalawat. Kita tidak bisa melupakan hal ini. Kita harus menjaga keseimbangan untuk menikmati kehidupan dunia dan melaksanakan amalan ibadah untuk kepentingan ukhrawi. Jadi, hidup yang proporsional antara dunia dan akhirat itu sangat penting.

Terakhir saya ingin menyitir satu pendapat ahli, yang menyatakan bahwa jika kita bekerja cukup waktu empat jam saja yang sangat serius untuk menghasilkan keberhasilan, hanya saja dengan meninggalkan HP, internet, dan media social lainnya. Cukup empat jam untuk sukses dalam pekerjaan, lalu berapa jam untuk sukses bagi kehidupan akherat.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

MEMPERKUAT IMAN DI TENGAH PENETRASI MEDIA SOSIAL

MEMPERKUAT IMAN DI TENGAH PENETRASI MEDIA SOSIAL

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Iman tentu terkait dengan keyakinan akan keberadaan yang gaib. Di antara yang gaib itu yang terpenting adalah tentang keberadaan Tuhan atau Allah SWT. Semua umat Islam harus percaya atau yakin bahwa Allah SWT adalah Tuhan yang pasti ada meskipun keberadaannya tersebut barada di dalam kegaiban. Artinya Dzat Tuhan itu ada tetapi manusia tidak mampu untuk melihatnya, kecuali Nabi Muhammad SAW yang diyakini pernah bertemu dengan Allah SWT. Berdasarkan keyakinan di dalam agama Islam maka juga dinyatakan bahwa orang yang masuk surga akan bisa bertemu dengan Allah SWT. Tentu saja akal manusia tidak bisa membayangkan tentang bagaimana pertemuan dimaksud.

Allah sudah menggariskan bahwa manusia hendaknya berpikir tentang ciptaan Allah dan tidak berpikir tentang dzat Allah. Bahkan para ahli teologi atau ilmu ketuhanan juga tidak dapat menjelaskan tentang bagaimana Dzat Allah SWT. Manusia dengan kemampuan tertinggipun  tidak akan mampu untuk menjelaskan tentang eksistensi Tuhan apalagi Dzat Tuhan tersebut.

Iman merupakan urusan keyakinan. Artinya bahwa manusia harus meyakini tentang dunia kegaiban yang tidak dapat diobservasi. Tuhan hanya dapat diyakini eksistensinya dan tidak pernah diketahui keberadaan dan wujudnya. Itulah sebabnya menurut para ahli sosiologi agama, bahwa Tuhan itu adalah misteri yang tidak dapat dipahami dengan akal semata. Tuhan merupakan misteri kehidupan manusia yang paling asyik dicarinya. Dan sepanjang sejarah kemanusiaan, maka manusia terus mencari untuk menemukan Tuhan. Dan berakhir pada dua sisi kehidupan: ada yang menemukan Tuhan berbasis pada ajarannya dan ada yang tidak berhasil menemukan karena ketidakmampuan untuk memahaminya.

Orang awam dalam beragama, sebagaimana kebanyakan umat Islam, tentu yang terpenting adalah meyakini bahwa Allah itu ada. Dan tidak perlu bertanya apa dan bagaimana Allah itu. Percaya saja. Lalu sebagai konsekuensi kepercayaannya itu, maka kita sedapat-dapatnya menjalankan ajaran agama dengan sebaik-baiknya. Mungkin saja juga dengan pengamalan agama yang belum optimal. Tetapi yang penting bahwa syarat dan rukun untuk melakukannya sudah terpenuhi.

Sebagaimana yang saya sampaikan di dalam ceramah di Masjid Al Ihsan, 13 Juni 2023, saya nyatakan bahwa insyaallah kita sudah menjadi bagian dari ashabul yamin. Berita gembira dari Allah SWT bahwa orang yang sudah beriman dan menjalankan ajaran agamanya, maka bisa masuk dalam kategori golongan kanan. Sedangkan perkara kita akan menjadi bagian dari sepertiga yang awal akan masuk surga atau sepertiga yang akhir masuk surga itu merupakan hak prerogatifnya Allah. Kita pasrah kepada Allah dengan tetap berharap semoga kita memperoleh rahmat Allah untuk bisa menjadi penghuni surga.

Kita sekarang hidup dalam dunia media sosial yang hiruk pikuk. Dunia media sosial itu seperti mall atau pasar raya. Apa saja ada. Mau hiburan, mau mendengarkan pengajian, mau mendengarkan orang baca Alqur’an, mau melihat pertandingan olah raga, mau mendengarkan music, mau mendengarkan lawakan, dan sebagainya. Kita mau mendengarkan ungkapan yang menyejukkan atau ungkapan yang menyakitkan juga ada. Oleh karena itu, jika kita ingin berselancar dalam dunia media sosial maka kita akan mendapatkan semuanya. Namun demikian, yang justru penting adalah memilah mana yang baik dan memilih mana yang bermanfaat. Unggahan yang berisi pembunuhan karakter, bullying, hoaks, pornografi, pornoaksi, unggahan kebencian dan sebagainya seharusnya jangan dilihat. Anehnya, unggahan yang mengandung dimensi seksualitas justru menuai banyak viewer. Di sinilah arti pentingnya melakukan pemahaman atas konten media sosial mana yang bermanfaat dan mana yang tidak. Dari sini akan bisa diketahui tingkat kedewasaan atau literasi media tersebut sudah dimiliki atau belum.

Yang paling krusial di dalam menghadapi media sosial adalah bagaimana mempertahankan keimanan kita kepada Allah. Apakah semakin kuat atau goyah. Sekarang ini banyak sekali muatan media sosial yang mengacak-acak keyakinan kita tentang agama. Ada yang datang dari sesama saudara Islam yang mengharubirukan informasi tentang ketuhanan misalnya dengan ungkapan-ungkapan berbasis tafsir atas ketauhidannya. Misalnya mengenai Tuhan yang memiliki tangan, wajah, duduk di arsy dan lainnya. Tuhan memiliki jisim sebagaimana terdapat di dalam teks Alqur’an. Selama ini kita, kaum ahli sunnah wal jamaah, berkeyakinan bahwa teks tersebut dapat ditafsirkan dengan pemahaman yang lebih luas, misalnya tangan ditafsirkan dengan kekuatan atau kekuasaan, wajah diterjemahkan dengan kekuatan atau kekuasaan, Tuhan turun dalam sepertiga malam diterjemahkan dengan keberkahan dan sebagainya. Bukan hanya ini, misalnya dengan alasan ingin kembali ke Alquran dan Sunnah, maka semua amalan agama yang tidak sesuai dengan tafsirannya dianggap sebagai kesesatan atau dhalalah, bahkan dikafirkan.

Unggahan di media sosial ini tentu akan bisa berpengaruh terhadap pemahaman keagamaan. Ada yang menjadi ragu dengan pemahaman beragama selama ini, ada yang berubah dengan luar biasa perubahannya dan ada yang tetap teguh dengan paham beragamanya yang lama, tidak bergeser sedikitpun. Di sinilah paham kita tentang agama sedang dipertaruhkan.

Kita tentu berharap di tengah asupan konten media sosial yang bermacam-macam tersebut, kita akan tetap memiliki keyakinan tentang paham keagamaan sebagaimana yang diajarkan oleh para ulama ahlu sunnah wal jamaah. Apapun unggahan orang lain yang menggugat pemahaman beragama,  tetapi kita harus tetap berada di dalam keyakinan yang selama ini menjadi pegangan mendasar.

Tetaplah di dalam agama Islam dengan keyakinan dan peribadahan yang diajarkan dari generasi ke generasi berikutnya oleh para ulama Islam ala ahlu sunah wal jamaah. Genggamlah Islam yang memberikan keteduhan dan bukan pertengkaran.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

BASIS SOSIOLOGIS BACAAN KALIMAH THAYYIBAH

BASIS SOSIOLOGIS BACAAN KALIMAH THAYYIBAH

Prof.  Dr. Nur Syam, MSi

Saya harus menyiapkan diri untuk menjadi penceramah pada setiap hari Selasa ba’da shubuh. Pada saat seperti ini, maka jamaah Ngaji Bahagia di Masjid Al Ihsan sepertinya mengharap ada pencerahan rohani terkait dengan amalan ibadah dan yang lebih penting adalah bagaimana basis ilmu yang mendasarinya. Untunglah saya selalu memiliki sedikit pengetahuan untuk mengintegrasikan antara ilmu keislaman dengan ilmu sosial yang sedikit saya kuasai.

Makanya, pada shubuh, 13 Juni 2023, saya menyampaikan bahasan tentang bagaimana relasi antara bacaan kalimat thayyibah  dalam sudut pandang ilmu sosial, khususnya sosiologi agama. Secara khusus saya membahas salah satu kalimah thayyibah yang selalu kita baca terutama dalam waktu-waktu luang. Kalimah thayyibah tersebut adalah subhanallah wal hamdu lillah wa la ilaha illallah wallahu akbar. Yang artinya kurang lebih adalah “Maha suci Allah dan segala puji bagi Allah dan tidak ada Tuhan selain Allah dan Allah Maha Besar”.

Di dalam kajian sosiologi agama dikenal konsep The Holy. Konsep ini dikembangkan oleh Rudolf Otto dan Joachim Wach yang menyatakan bahwa manusia memiliki potensi untuk berhubungan dengan yang dinyatakan sebagai Yang Suci dalam konsep tentang The Experience of The Holy atau pengalaman berhubungan dengan Yang Maha Suci. Manusia memang memiliki ruh yang memang merupakan bagian dari  Tuhan. Di dalam Islam bahwa manusia memiliki ruh yang itu merupakan produk tiupan Tuhan pada manusia yang memungkinkan manusia bisa hidup.

Maka di kala manusia membaca Subhanallah atau Maha Suci Allah, maka merupakan bagian dari relasi antara manusia dengan Tuhan yang sesungguhnya merupakan instrument untuk menghadirkan Tuhan di dalam kehidupannya. Namun demikian tidak semua manusia dapat merasakan “kehadiran” Tuhan karena kebanyakan manusia tidak memiliki ilmunya. Manusia yang memiliki ilmunya saja yang bisa menyingkap tabir sekat antara dirinya atau ruhnya dengan kehadiran Tuhan dimaksud.

Di antara orang yang dapat melakukannya adalah kalangan ahli tasawuf yang memang memiliki kemampuan riyadhoh lebih baik dengan kebanyakan orang awam. Selaku pelaku agama yang minimalis tentu terdapat banyak hijab yang menyelimuti relasi antara kita dengan Tuhan. Kita belum bisa menata nafsu kita ke dalam nafsu mutmainnah. Kita masih berjibaku dengan nafsu amarah dan lawwamah. Para ahli tasawuf yang sudah khatam dzikir dan wiridnya tentu bisa merasakan aura ketuhanan di dalam dirinya.

Lalu, wal hamdulillah yang artinya segala puji bagi Allah. Tidak ada makhluk yang memiliki daya dan kekuatan melebihi kekuatan dan kekuasaan Allah. Makanya pantas jika kita memujinya, mensucikannya, memohon ampunannya dan memohon pertolongan kepadanya.  Di dalam hidup ini ada banyak pujian yang keluar dari mulut kita. Bertemu dengan orang cantik, secara refleks kita mengucapkan “alangkah cantiknya”. Bertemu dengan orang pintar, secara refleks kita juga menyatakan “alangkah pintarnya”. Bertemu dengan orang kuat, lalu kita menyatakan: “eh kuatnya”. Dan seterusnya. Apa lagi dengan Allah, Dzat yang Maha Kuasa, yang Maha Tahu, Yang Maha Perkasa atau di dalam ilmu sosial disebut sebagai omnipotent and omniscience. Tuhan diyakini sebagai Yang Maha Perkasa dan Maha Tahu. Oleh karena itu memuji Tuhan juga sangat pantas dilakukan atas betapa sifat-sifat Allah yang serba Maha dimaksud.

Kemudian, la ilaha illallah atau mengakui dengan hati dan lesan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Sebuah pengakuan atas eksistensi Allah secara ruhaniyah dan bukan fisikaliyah. Allah tidak berwujud fisik dan Allah bercorak batin tetapi bisa dipastikan bahwa Allah itu berbeda dengan makhluk ciptaannya. Laisa kamislihi syaiun. Allah itu dipastikan berbeda dengan sesuatu, berbeda dengan ciptaannya. Sudah sangat pantas jika menyebut Tuhan dengan Maha Suci dan segala pujian untuk-Nya. Bukankah Tuhan itu Maha Kuasa dan tidak ada ilah lain selain Allah SWT.

Dan kemudian wallahu akbar. Allah itu maha besar. Allah yang Maha Agung. Tidak ada yang lebih agung melebihi keagungan Allah. Tidak ada yang Maha Besar melebihi kebesaran Allah. Selain Allah adalah ciptaannya. Sebagai ciptaan Allah, maka tidak akan melebihi kekuasaannya. Itulah sebabnya kala Fir’aun menyatakan bahwa dirinya adalah Tuhan, maka dengan gampang dikalahkan oleh Nabi Musa melalui izin Allah. Melalui mu’jizatnya, maka laut terbelah menjadi jalan dan menyelamatkan Nabi Musa dan kaumnya tetapi mencelakakan Fir’aun dan bala tentaranya. Sungguh Allah itu Maha Segalanya. Ya Jabbar, Ya Jalal, Ya Qahhar.

Kita hidup dengan segala kekurangan. Dengan kesalahan dan kekhilafan. Maka sudah sepatutnya kita membaca kalimat thayyibah yang dapat menggugurkan kesalahan dan kekhilafan. Dosa-dosa kita akan berjatuhan sebagaimana  daun kering. Kala perjalanan Nabi dengan para sahabatnya, Rasulullah mengajarkan agar kita membaca kalimat subhanallah wal hamdulillah wa la ilaha illallah wallahu akbar. Sebuah kalimat sakti sebagaimana  sabda Nabi Muhammad SAW akan dapat menggugurkan dosa seperti daun kering yang berguguran. Ya Allah ampuni atas kekhilafan, kesalahan dan dosa kami.

Wallahu a’lam bi al shawab.