• October 2026
    M T W T F S S
    « Sep    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

POLITIK ITU NEGOSIASI

POLITIK ITU NEGOSIASI

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Komunitas Ngaji Bahagia, bisa juga disingkat dengan KNB, memang sekelompok orang atau jamaah Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency yang memiliki kesadaran untuk saling berbagi dalam apa saja, tidak hanya persoalan agama tetapi juga aspek social, ekonomi hingga politik. Berbagi dan Bahagia. KNB ini saya kira sudah cukup eksis sebab telah berjalan selama 1,5  tahun semenjak Covid-19 telah reda. Mulai  awal tahun 2022. Pengajian dilaksanakan setiap selesai shalat Subuh pada hari Selasa, sehingga juga bisa disebut “Pengajian Selasanan”.

Pada Selasa, 05/09/2023, pengajiannya terkait dengan perkembangan politik akhir-akhir ini yang memang menarik untuk dibicarakan oleh siapa saja. Termasuk KNB.  Yang  menjadi pemantik diskusi adalah Pak Mulyanta, Ketua RW 08 Kelurahan Gayungan  Surabaya. Pak Mulyanta termasuk orang yang sering terlibat di dalam kegiatan-kegiatan politik, karena menjadi salah satu tim relawan Calon Presiden. Sengaja tidak saya sebutkan tim relawan siapa.

Pak Mul, begitu biasa anggota KNB memanggilnya, menyatakan bahwa politik itu seharusnya tetap menjaga etika. Meskipun tujuannya untuk mencari kemenangan, akan tetapi tetap harus mengedepankan etika. Ada etika berpolitik. Di dalam politik itu harus tetap ada nilai-nilai yang dijadikan sebagai pedoman untuk berpolitik. Di dalamnya harus ada penghargaan atas komitmen yang sudah dibangun secara bersama. Beberapa hari yang lalu, Pak Anis telah melakukan deklarasi di dalam pencalonan presiden dan wakil presiden. Pak Anis telah memilih Cak Imin sebagai calon wakil presiden.

Hal ini yang kemudian menimbulkan tanda tanya, bahwa telah terjadi masalah etika politik. Berdasarkan berita-berita yang kita dengar dan baca bahwa pengusung koalisi perubahan, yang terdiri dari Partai Nasdem, PKS dan Partai Demokrat telah mengikat kesepakatan akan mengusung Pak Anis Baswedan sebagai Presiden dan salah satu usulan Partai pengusung koalisi untuk menjadi wakil presiden. Dari PKS misalnya Aher dan dari PD misalnya AHY. Ternyata Pak Surya Paloh ketua Partai Nasdem secara sepihak memilih Cak Imin, Ketua PKB, sebagai calon wakil presiden.

Di sinilah terjadi kisruh di dalam koalisi. Makanya Pak SBY lalu menyebutkan telah terjadi pengkhianatan atas komitmen di dalam koalisi. PD dengan Pak SBY dan AHY sangat menyesalkan atas Tindakan melakukan pengambilan keputusan secara sepihak yang dilakukan oleh Pak Anis, Pak Surya Paloh dan Partai Nasdem. Dari sini kemudian memunculkan istilah berpolitik harus tetap menjadikan nilai atau norma yang menghargai komitmen kebersamaan. Jadi harus tetap mengedepankan etika politik.

Seperti biasanya, maka saya memberikan tambahan komentar atas apa yang dinyatakan oleh Pak Mul tersebut. Ada tiga hal yang saya sampaikan, yaitu: pertama, sekarang ini ada kecenderungan yang kuat untuk mengekspresikan agamanya. Di mana-mana kita jumpai perilaku beragama yang semakin menguat. Ada dorongan yang kuat dari berbagai factor yang menyebabkan semakin menguatnya pemahaman dan pengamalan beragama. Karena factor media social, maka terdapat kecenderungan di kalangan masyarakat untuk beragama dalam coraknya yang tekstual atau kontekstual. Yang tekstual dipengaruhi oleh para pendakwah semacam kaum Salafi dan yang kontekstual dipengaruhi oleh para pendakwah di kalangan Islam ahli Sunnah wal jamaah. Kalangan Salafi lebih suka menyebut dirinya sebagai Ahlu Sunnah saja tanpa jamaah. Makanya, kala agama mereka di buli, maka sontak terjadi ledakan informasi untuk membuli balik. Pertanyaannya, apakah pemahaman dan pengamalan beragama itu berkorelasi dengan pilihan politik. Hal  ini yang masih kabur. Dalam pandangan kaum Islamis, maka ada figure yang disebut sebagai individu yang memusuhi agama.

Kedua, politik itu adalah negosiasi. Jadi yang penting adalah negosiasi yang melalui proses panjang atau pendek dan menghasilkan keuntungan secara bersama. Oleh karena itu yang terjadi adalah negosiasi yang smooth atau yang hard. Di dalam konteks misalnya koalisi perubahan yang digagas oleh Nasdem, PKS dan PD yang berakhir dengan kekecewaan PD atas pemilihan Cak Imin, maka ini bisa dikategorikan sebagai negosiasi yang keras. Bisa saja terjadi adanya ketidaksepakatan, sehingga ada yang mengambil jalan ketiga. Dan ketepatan yang mengambil jalan ketiga adalah pemilik suara terbesar dari pemilu sebelumnya, yaitu Nasdem dengan Surya Paloh sebagai pimpinannya. Jadi, fatsun politik itu tidak perasaan tetapi kepentingan. Ketemunya kepentingan itulah yang menjadikan partai yang berbeda bisa bertemu.  Jadi memang harus dikalkulasi betul tentang berbagai scenario yang bisa menggagalkan kebersamaan di dalam koalisi. Dan pada akhirnya, PD harus gigit jari dan terpaksa harus hengkang dari koalisi perubahan yang sudah digagas bersama.

Ketiga, ada yang menarik dari masuknya Cak Imin sebagai pendatang di dalam koalisi perubahan, sebab begitu masuk di dalamnya melalui negosiasi ternyata  langsung mendapatkan posisi sebagai calon wakil presiden, yang sesungguhnya juga sangat diminati oleh PD dan PKS. Meskipun PKS tidak hadir di dalam deklarasi di Hotel Majapahit Surabaya, tetapi belum tentu PKS akan hengkang dari koalisi perubahan. Tentu akan menghitung secara cermat apa yang didapatkannya jika terlibat di dalam  koalisi lain atau membuat poros baru. Sekali lagi bahwa negosiasi akan menjadi jalan utamanya. Sebagai contoh, wakil presiden itu ekivalen dengan berapa jabatan Menteri. Hal ini tentu ada hitungannya.

Tetapi yang lebih penting adalah koalisi antara Nasdem, PKS dan PKB. Koalisi di tingkat provinsi dan kabupaten sudah biasa terjadi, namun di dalam koalisasi nasional dalam system pemerintahan demokratis merupakan hal baru. Selama ini terdapat simbolisasi bahwa PKB adalah partai yang basis konstituennya adalah kalangan ahli sunnah wal jamaah yang memiliki paham dan pengamalan beragama yang bersearah dengan tradisi-tradisi local, sehingga dianggap tidak lagi mengamalkan ajaran agama yang murni. Sementara itu PKS adalah partai dengan basis konstituen yang terdiri dari kalangan Salafi Wahabi yang pada akar rumput sering benturan, sebab kalangan Sunnah sering menyatakan amalan kaum ahli sunnah wal jamaah sebagai amalan yang mengandung Tahayyul, Bidh’ah dan Churafat (TBC). Benturan ini relative keras terutama diperparah dengan media social.

Jika koalisi ini benar-benar terjadi, maka hal ini akan menjadi isu yang menarik di kalangan ahli ilmu social-politik, sebab akan dapat menghasilkan konsep yang tidak lagi bertumpu pada demarkasi hitam putih, ahli sunnah versus ahli sunnah wal jamaah atau antara PKS versus PKB atau antara FPI, HTI versus NU. Peristiwa akhir-akhir ini mengingatkan tulisan saya tahun 1990-an tentang “Jarak Ideologi Partai Politik di Indonesia”. Di dalam tulisan itu saya nyatakan bahwa jarak ideologi partai politik di Indonesia itu tidak tegas, tidak sebagaimana di Pakistan, Irak dan sebagainya. Di Indonesia itu meskipun ideologinya bisa berbeda-beda akan tetapi basis keindonesiaannya masih lebih dominan.

Wallahu a’lam bi al shawab.

JANGAN MERASA KITA ITU HEBAT

JANGAN MERASA KITA ITU HEBAT

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Acara tahsinan yang dilaksanakan oleh Komunitas Ngaji Bahagia di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency sudah mendekati akhir dari Juz 30. Yang mengaji di masjid ini adalah para senior. Ada Pak Suryanto yang usianya sudah 68 tahun, saya yang sudah usia 65 tahun dan beberapa yang lain, yang rata-rata usianya di atas 50 tahun. Meskipun tahsinan Alqur’an tetap saja harus dibarengi dengan tersenyum dan tertawa sebagai bagian  dari upaya melaksanakan motto “Ngaji Bahagia”.

Komunitas Ngaji Bahagia ini sudah sampai pada Surat Al ‘Alaq, yang merupakan wahyu pertama yang diberikan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW di Gua Hira. Wahyu pertama ini memberikan kejelasan mengenai status kenabian Nabi Muhammad SAW dan menjadi awal mula pengangkatan Muhammad SAW sebagai Rasulullah. Sebagaimana biasanya, maka sebelum tahsinan lalu dibacakan terjemah ayatnya dan jika perlu saya memberikan tambahan pemahaman tentang ayat dimaksud.

Secara khusus, ayat yang dibaca adalah “kalla innal insana la yatgho. An raahus taghna”, yang artinya: “sekali-kali tidak. Sungguh. Manusia itu benar-benar melampaui batas. Apabila melihat dirinya serba cukup”. (Surat Al ‘Alaq,  6-7). Melalui ayat ini, Allah memberikan peringatan kepada manusia agar manusia  jangan melampaui batas. Manusia bukanlah makhluk Tuhan yang paling berkuasa. Manusia hanyalah segumpal darah dan karena kasih sayang Allah lalu ditiupkan roh sehingga kemudian bisa hidup. Dan kala roh itu dicabut oleh yang memilikinya, maka manusia yang gagah sekalipun juga akan mati.

Bukankah manusia seperti Fir’aun yang merasa berkuasa dan merasa paling kuat sehingga menyatakan bahwa dirinya adalah Tuhan  yang harus disembah akhirnya harus mati di laut karena mengejar Nabi Musa dalam menyeberangi lautan. Jasad Fir’aun kemudian ditemukan dan di dalam penelitian yang dilakukan oleh Maurice Buchaile akhirnya dinyatakan bahwa Fir’aun tersebut memang mati di lautan karena terbukti di dalam mulutnya terdapat kandungan garam yang melebihi manusia lainnya. Akhirnya, Buchaille masuk Islam karena temuannya tersebut.

Di dalam Alqur’an Allah memberikan peringatan agar manusia jangan melampaui batas. Manusia harus mengingat siapa dirinya dan siapa yang menciptakannya. Meskipun kita sudah serba kecukupan, janganlah kita jumawa di hadapan Allah yang Maha Kuasa. Di dalam berhadapan dengan alam saja, misalnya kita pergi ke Kawah Gunung Bromo, di Probolinggo Jawa Timur.  Kita  dapat naik ke puncaknya dan pandanglah ke bawah dengan kedalamannya yang curam, maka kita akan berpikir dan renungkan betapa kecilnya manusia itu di hadapan alam tersebut. Kita pergi ke Grand Canyon, yang terletak di antara Las Vegas dan Washington DC di Amerika Serikat lalu kita naik di atas jembatan kaca di atas tebing yang sedemikian curam dan dalam yang  berwarna merah, betapa terasa kecilnya manusia itu berhadapan dengan alam. Bagi orang yang ketakutan ketinggian, maka terasa sangat menakutkan berjalan di atas kaca yang konon katanya memiliki kekuatan yang sangat besar.

Jika kita merenungkan hal ini, maka tidaklah pantas manusia itu menyombongkan diri dengan segala kekuatannya. Manusia hanyalah sebutir debu dalam hamparan alam yang luas dan penuh dengan aneka tantangan dan masalah. Oleh karena itu selayaknya jika manusia terus menerungkan akan penciptaan Tuhan yang sedemikian hebat. Dan lalu berpikir dan merenungkannya bahwa yang menciptakannya pastilah Dzat yang Maha Hebat, yang tidak sama dengan makhluknya. Allahu Akbar, Allah Maha Agung.

Manusia itu diajarkan oleh Allah jangan melebihi batas. Manusia memang diciptakan dengan kelebihan dibandingkan dengan makhluk lainnya. Manusia diberikan kelengkapan inteligensi. Dengan akalnya atau rational intelligent, maka manusia bisa menciptakan atau membuat inovasi. Manusia bisa menciptakan yang belum ada menjadi ada. Dengan kemampuan akalnya untuk mencipta, manusia bisa menciptakan temuan baru, misalnya robot cerdas yang berasal dari kecerdasan buatan atau artificial intelligent. Ada boneka dengan kemampuan Bahasa melebihi manusia dengan bentuk fisik persis seperti manusia. Tetapi tetap saja tidak seperti manusia yang merupakan ciptaan Tuhan. Saya menjadi teringat dengan ucapan dosen saya, Drs. Tarsan Hamim Rois, dosen filsafat yang mengajar pada Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel tahun 1979, kala itu Pak Tarsan menyatakan bahwa: “suatu ketika manusia akan dapat menciptakan burung persis sama dengan burung yang ada sekarang”. Pernyataan ini terbukti bahwa dengan pemikirannya, manusia tidak hanya dapat menciptakan burung seperti burung akan tetapi bahkan mampu menciptakan boneka yang memiliki kemampuan seperti manusia.

Meskipun manusia telah hebat, sekali lagi manusia selalu memiliki kelemahan. Itulah sebabnya Allah SWT meminta kita untuk terus memikirkan ciptaan Allah sebagai bagian dari kesadaran akan adanya kebesaran Allah yang memang Maha Besar. Ayat yang saya kutip maknanya di atas memberikan gambaran agar kita jangan melebihi batas meskipun kita telah merasa cukup dalam banyak hal.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

RESEP HIDUP DENGAN PENINGKATAN IBADAH

RESEP HIDUP DENGAN PENINGKATAN IBADAH

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Komunitas Ngaji Bahagia pada Masjid Al Ihsan, 22/08/23, mendapatkan asupan materi pengajian yang sangat baik. Ngaji Bahagia tersebut seperti biasanya diselenggarakan setiap Selasa ba’da subuh yang diikuti oleh sejumlah jamaah shalat Shubuh. Kala itu, yang memberikan taushiyah adalah Ustadz Sahid, seorang ustadz yang sering memberi motivasi bagi jamaah Masjid Nasional Al Akbar, Surabaya. Selain itu  juga menjadi motivator di perusahaan swasta nasional seperti PLN, Telkom, dan juga instansi pemerintah dan organisasi social keagamaan.

Pak Sahid, begitulah biasanya saya memanggilnya menyampaikan beberapa hal terutama motivasi agar kita selalu menjaga amal ibadah sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah SWT. Nabiyullah Muhammad SAW sudah memberikan pedoman-pedoman dalam beribadah untuk  menjalankan perintah Allah dan meninggalkan larangan Allah. Manusia dan jin diciptakan oleh Allah untuk beribadah kepada-Nya. “wa ma khalaqtul jinna wal insa illa liya’budun”. Yang artinya secara umum adalah “dan tidaklah diciptakan Jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada Allah”.

Ada lima S  yang perlu diperhatikan: S  pertama adalah:  Selalu berusaha untuk menghilangkan sikap dan perilaku kejelekan. Manusia harus selalu berupaya di dalam kehidupannya untuk meninggalkan amalan-amalan yang jelek. Amalan yang jelek harus dihilangkan. Islam mengajarkan agar kita sedikit-demi sedikit tetapi pasti menghilangkan kebiasaan berbuat yang bertentangan dengan ajaran agama Islam.

S kedua adalah: Selalu menjaga sikap dan perbuatan yang diwajibkan untuk dilakukan. Menjaga sikap dan perbuatan yang baik adalah kewajiban umat manusia. Kewajiban kita semua. Kita ini diwajibkan untuk terus menerus menjaga amal perbuatan kita. Jangan sampai kita lalai untuk tidak menjaga amal kita yang baik di dalam kehidupan.

S ketiga adalah: Selalu berusaha konsisten untuk terus melakukan amalan kebaikan atau dipertahankannya amalan kebaikan tersebut selama kehidupannya. Manusia memiliki pilihan di dalam kehidupannya. Apakah akan menjadi baik atau menjadi jelek. Jika ingin menjadi baik maka harus menjalankan perintah Allah dan jika ingin kejelekan maka dapat  meninggalkan kebaikan dan melakukan kejelekan. Baik atau buruk adalah pilihan manusia dan memiliki konsekuensi bagi manusia. Petunjuk sudah diberikan, sehingga di saat manusia memilih kejelekan maka itu menjadi tanggung jawabnya.

S keempat adalah: Selalu berusaha  untuk menjalankan  kebaikan dan  amal kebaikan harus terus ditingkatkan. Di dalam kehidupan tentu manusia harus berusaha untuk meningkatkan amal kebaikan. Agar diusahakan jangan sampai beramal dengan tingkat yang stagnan. Hanya itu-itu saja kebaikannya. Selayaknya manusia bisa terus menerus berusaha untuk meningkatkan amalan ibadahnya, shalatnya, dzikirnya, sedekahnya, infaqnya atau kebaikan-kebaikan lainnya.

S  kelima adalah:  Selalu berupaya untuk memperbaharui sikap dan perilaku keberagamaan kita atau terus dikembangkan pengamalan beragama melalui upaya-upaya inovatif secara memadai dan benar. Harus ada kebaikan baru yang dilakukannya. Misalnya, jika selama ini baru shalat dan zakat, maka harus berupaya untuk bisa pergi haji. Atau jika selama ini baru zakat saja, maka kemudian ditingkatkan menjadi sedekah atau infaq. Ada inovasi baru atau ada sesuatu yang beru yang dilakukannya.

Di dalam kesempatan ini, saya menambahkan sedikit terkait dengan kejelasan posisi  dalam kehidupan manusia dan upaya yang harus dilakukan. Sebagaimana tadi yang dibacakan oleh Imam shalat Shubuh, Ustadz Firdaus, SHI al Hafidz, di dalam surat Al Bayyinah. Di situ dijelaskan tentang balasan bagi hamba Allah yang melakukan kebaikan dan melakukan kejelekan. Bagi yang kafir maka akan dimasukkan neraka Jahannam  dan akan kekal selamanya. Mereka disebut sebagai syarrul bariyah atau sejelek-jelek manusia. Orang kafir terdiri dari ahlu kitab dan orang musyrik. (Surat Al Bayyinah, 6).

Sementara itu, orang yang beriman dan beramal shaleh, mereka akan dimasukkan ke dalam barisan orang yang disebut sebagai Khairul bariyyah. Yaitu orang yang akan diganjar oleh Allah dengan suraga Aden  yang dibawahnya terdapat air mengalir dan sungai-sungai dan mereka akan kekal abadi di dalamnya. Allah Ridla terhadap mereka sehingga Allah memberikan pahala berupa kenikmatan surga yang tiada taranya. (Surat Al Bayyinah, 7-8)

Apa yang sudah dijelaskan oleh Pak Sahid tadi merupakan upaya agar kita semua masuk ke dalam barisan orang yang Khairul bariyyah. Dan untuk menjadi seperti ini, maka kita harus mempertahankan iman dan meningkatkan iman kita, menjauhi larangannya dan amalan yang bisa merusak iman kita. Caranya adalah dengan memperhatikan lima hal tersebut. Upayakan agar kita terus menjaga iman dan amal ibadah kita, terus berupaya agar kita dapat  memperoleh ridhanya Allah SWT. Dengan melakukannya secara optimal, kita berharap bahwa kita akan dapat menjadi bagian dari ahlu Jannah dan akan kekal hidup di dalamnya.

Tentang pemahaman mengenai kekal tentu harus dibedakan antara kekekalan Allah dengan kekekalan ciptaannya. Allah itu abadi tanpa ada awal dan akhinya, sedangkan ciptaan Allah itu ada awal dan akhirnya. Kata kekal tentu merupakan bagian dari kekekalan Allah, yang kita tidak bisa memprediksinya sekarang.

Wallahu a’lam bi al shawab.

MUSIBAH, TAKDIR DAN TAWAKKAL

MUSIBAH, TAKDIR DAN TAWAKKAL

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Manusia sungguh makhluk yang lemah dalam kaitannya dengan pengetahuan tentang apa yang akan terjadi ke depan. Manusia tidak memiliki seperangkat pengetahuan untuk mencandra masa depan. Yang diketahui adalah masa lalu. Sesuatu yang sudah dialami atau diketahui saja yang bisa dijelaskan sementara apa yang akan terjadi besuk manusia tidak kuasa memahaminya. Di sinilah keterkaitan antara musibah, takdir dan tawakkal.

Inilah kata kunci dalam ceramah Selasanan, 22/08/2023,  yang biasa dilakukan pada Masjid Al Ihsan, Perumahan Lotus Regency. Acara ini dilakukan ba’da shalat shubuh setelah membaa Surat Al Waqi’ah dan doa. Acara ini merupakan agenda Masjid Al Ihsan yang diikuti oleh jamaah shalat Shubuh dalam durasi waktu 45 menit. Jam 05.00 sampai jam 05.45 WIB. Komunitas Ngaji Bahagia ini sudah berjalan selama tiga tahun, dan acara ini tentu diharapkan akan terus berlangsung sebagai sarana untuk “watawa shaubil haq wa tawa shaubish shabr”.

Di dalam acara ini saya menjelaskan tiga hal, dalam kaitannya dengan salah satu ayat Alqur’an yang menjelaskan tentang relasi antara musibah, takdir dan tawakkal. Ayat tersebut berbunyi: “Qul lay yushibana illa ma kataballahu lama huwa maulana wa ‘alallahi fal yatawakkalil mu’minun”. Yang artinya: “katakanlah:  tidak sekali-kali akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah pelinduang kami,  dan hanya kepada Allah orang-orang beriman harus bertawakkal”. (Alqur’an, At Taubah: 51).

Pertama, Jika kita pahami ternyata ada beberapa  aspek mendasar dari ayat ini, yaitu adanya mushibah, adanya ketentuan Allah, sesuatu yang telah tertulis atau takdir, dan tawakkal bagi orang mu’min. mushibah secara tekstual berarti kejadian. Namun demikian di dalam Bahasa Indonesia diserap artinya sebagai sesuatu yang negative atau kejadian yang tidak dikehendaki. Musibah lebih dimaknai sebagai kejadian yang tidak mengenakkan, tidak menyenangkan dan bahkan menyengsarakan. Jadi, mushibah dimaknai sebagai sebuah kejadian yang sung-sungguh tidak diharapkan. Kejadian adalah istilah generik untuk menggambarkan terjadinya sesuatu yang menimpa atau mengenai manusia.

Kedua,  segala sesuatu yang terjadi di dunia sudah terdapat catatannya. Di dalam konteks ini disebut sebagai takdir atau ketentuan Tuhan yang bersifat azali. Semua yang terjadi di dunia ini sudah terdapat catatannya semenjak 50 juta tahun sebelum diciptakan alam dan segala isinya. Percaya kepada takdir Tuhan adalah bagian dari rukun iman. Siapapun yang beragama Islam harus meyakini keberadaan takdir Tuhan yang akan berlaku bagi manusia. Kapan kita hidup, kapan kita mati, siapa jodoh kita, bagaimana rezeki kita sudah ada takarannya. Hanya saja ada takdir yang mu’allaq atau tergantung dan ada yang mubram atau pasti. Yang mu’allaq misalnya adalah yang terkait dengan usaha. Terjadinya perubahan pada kehidupan manusia di dunia termasuk takdir yang mua’allaq. Sedangkan kematian adalah takdir yang pasti. Setiap yang hidup akan menemui kematian, dan kapan kematian itu datang sangat tergantung kepada kepastian Tuhan. Tidak ada yang tahu kapan kematian tersebut akan datang kepada manusia.

Ada istilah yang menarik misalnya menjemput takdir. Maknanya bahwa takdir tentang usaha atau kerja  dan hasilnya itu dapat diupayakan. Kepastian seseorang akan memiliki rezeki merupakan takdir Tuhan, akan tetapi hasil dari rezeki dapat ditentukann oleh upaya yang dilakukan. Di dalam tradisi Jawa disebutkan ono pakon ono pakan artinya bahwa jika seseorang melakukan sesuatu baik atas inisiatif sendiri atau atas inisiatif orang lain, maka didapatkan rewardnya atau hasilnya. Besar kecilnya hasil dapat bergantung kepada usahanya.

Ketiga, tawakkal atau pasrah atas hasil yang didapatkan. Tidak setiap usaha dipastikan ada hasilnya. Terkadang sudah usaha semaksimal mungkin ternyata hasilnya tidak optimal. Sudah bekerja keras dengan mempertimbangkan semua variable yang menyebabkan keberhasilan, akan tetapi hasilnya tidak optimal. Inilah yang sering disebut sebagai factor X. sebuah factor yang ternyata di luar nalar dan perhitungan manusia. Semua strategi telah diupayakan realisasinya, akan tetapi ternyata ada hal yang tidak diperhitungkan dan menggagalkan rencana yang sangat terukur.

Di sinilah Islam mengajarkan agar berdoa. Selain orang sudah berusaha, maka selayaknya juga berdoa. Bahkan doa dapat memegang atau menjadi kata kunci penting. Saya menyatakan bahwa doa memiliki kapasitas 60 persen, sedangkan usaha itu kapasitasnya 40 persen. Manusia tidak boleh merasa bahwa usahanya dipastikan berhasil, akan tetapi harus tetap berdoa untuk kesuksesannya, dan jika semua sudah dilakukan, maka akan menerima apa yang didapatkannya, dan di sinilah kita harus pasrah kepada-Nya. Allahlah yang akhirnya menjadi penentu akan kegagalan atau keberhasilan usaha yang dilakukan.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

BERSYUKURLAH KITA MASIH BISA MEMBACA SHALAWAT

BERSYUKURLAH KITA MASIH BISA MEMBACA SHALAWAT

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Sebagai umat Islam, tentu kita berharap agar di kelak kemudian hari dapat masuk surga. Saya kira hal yang sangat wajar. Sebagai manusia yang bertaqwa kepada Tuhan dan sesungguhnya juga sudah menjalankan perintah Tuhan, tentu juga merupakan kewajaran jika kita terus berdoa kepada Tuhan agar bisa masuk surga. Saya kira tidak ada orang yang tidak berkeinginan untuk menjadi yang terbaik pada akhirnya.

Salah satu di antara keyakinan umat Islam, tentu termasuk umat Islam Indonesia adalah meyakini bahwa Nabi Muhammad SAW itu memiliki dan diberi otoritas oleh Allah SWT untuk memberikan syafaat khususnya pada hari mahsyar atau yaumuml hisab. Pada waktu yang akan datang di luar kehidupan di dunia tersebut, maka ada satu fase di mana manusia akan ditimbang amalnya. Ada yang amalnya bagus dan timbangannya bagus dan ada yang amalnya jelek dan timbangan tentu buruk. Inilah yang kemudian di dalam Alqur’an disebut sebagai ashhabul yamin wa  ashhabusy syimal. Golongan kanan dan golongan kiri. Tentu orang yang berkelakuan baik akan berharap bisa masuk dalam golongan kanan. Bahkan orang yang berkelakuan buruk pun berharap bisa masuk ke dalam golongan kanan.

Allah SWT memiliki kasih sayang yang luar biasa. Kasih sayang yang tiada taranya. Kasih sayang tersebut berupa rahmat yang tidak ada hentinya. Contoh, agar manusia bisa hidup maka diciptakan udara yang dengan udara tersebut manusia bisa menghirupnya dengan leluasa tanpa membayar sedikitpun. Allah hanya mengingatkan agar menjaga keseimbangan ekosistem alam agar semuanya bisa berjalan baik. Melalui keberadaan udara yang segar tersebut, maka manusia bisa menghirup udara untuk diproses di dalam paru-paru dan kemudian oksigen tersebut bisa menjadi salah satu yang menggerakkan kehidupan manusia. Selain itu juga kasih sayang dalam bentuk ketercukupan untuk memenuhi kebutuhan biologis, kebutuhan social dan kebutuhan integrative.

Bahkan nikmat yang paling besar adalah nikmat dapat menjadi umat Islam. Sedemikian sayangnya Allah SWT kepada manusia maka diturunkanlah pedoman agar manusia selamat. Pedoman tersebut berupa ajaran agama yang diturunkan kepada Nabi dan Rasul yang dipilih oleh Allah sebagai utusannya. Silih berganti Nabi dan Rasul tersebut diturunkan kepada umat manusia. Nabi Ibrahim diturunkan kepada umatnya di kala umat manusia menyembah berhala. Diajarkan kepada mereka Agama Hanif, agama yang lurus yang mengesakan Allah SWT. Itulah sebabnya Nabi Ibrahim disebut Bapak Monotheisme, karena Nabi Ibrahim mengajarkan hanya ada satu Tuhan yang wajib disembah dan dilakukan perintahnya. Secara berturut-turut kepada kemudian datang Nabi  Dawud, Nabi Sulaiman, Nabi Musa, Nabi Isa dan Nabi Muhammad SAW. Semua mengajarkan agama sesuai dengan Millah Ibrahim, yang manusia harus meyakini bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Millah Ibrahim ini yang kemudian disebut sebagai Agama Semitis atau agama yang diturunkan kepada orang-orang Semit dan kemudian menyebar ke berbagai penjuru dunia. Agama Yahudi, Kristen, Katolik dan Islam disebut sebagai Agama Semitis.

Semua agama memiliki jalan keselamatan. Islam tentu jalan keselamatannya adalah dengan ketauhidan yang benar dan amalan ibadah yang benar. Orang harus meyakini tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad Rasulullah, serta beramal yang shaleh sesuai dengan ajaran Islam. Islam mengajarkan agar seseorang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. La ilaha illallah. Dan dilanjutkan dengan Muhammadur Rasulullah. Lalu setelah itu harus mengamalkan ajaran Islam secara utuh atau kaffah. Bagi yang bisa melakukannya, maka dialah yang sesungguhnya bisa menjadi bagian dari golongan kanan.

Kita diajarkan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah kekasih Allah. Nabi akhiriz zaman. Satu-satunya Nabi yang diberikan kekuatan untuk bertemu dan “bermuwajahah” dengan Allah di alam arasy. Tidak ada satu pun Nabi dan Rasul selain Nabi Muhammad yang bisa melakukannya. Hanya Nabi terpilih saja yang bisa melakukannya. Sebagai Nabi pilihan yang memiliki keistimewaan maka Nabi Muhammad diberikan otoritas untuk memberikan syafaat fi yaumil hisab.

Tentu saja untuk memperoleh syafaatnya harus ada instrument yang bisa digunakan. Tidak mungkin syafaat tersebut diberikan dengan tanpa melakukan sesuatu yang disukai oleh yang memiliki syafaat. Reward akan selalu diberikan kepada orang yang patuh, taat dan melakukan sesuatu yang disukai oleh yang memberi syafaat. Seorang guru atau dosen dapat  memberikan reward bagi siswa atau mahasiswanya, jika siswa atau mahasiswanya tersebut patuh dan memiliki kapasitas yang sangat baik dalam program pembelajarannya. Indeks prestasinya sangat baik dan diperolehnya melalui jalan yang benar. Jadi tidak ada reward yang diberikan tanpa ada penyebab atas pemberian reward dimaksud.

Di antara keistimewaan Nabi Muhammad SAW adalah mengenai shalawat, yang menjadi salah satu penyebab kecintaan Allah dan juga kecintaan Nabi Muhammad SAW. Shalawat kepada Nabi Muhammad SAW itu hanya dibaca oleh manusia akan tetapi juga Malaikat Allah. Kalimat shalawat yang pasti dibaca umat Islam adalah Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala ahlihi waashhabihi ajma’in  atau  Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala ali Sayyidina Muhammad”.

Bacaan sependek ini ternyata memiliki kekuasaan dahsyat. Shalawat ini ternyata memiliki kekuatan untuk menjadi penyebab kecintaan Rasulullah kepada para pembacanya. Siapa yang sering membaca shalawat maka dia yang insyaallah selamat. Ada orang yang secara rutin dan istiqamah bisa membaca shalawat 100 kali, ada yang 1000 kali dan bahkan ada yang 10.000 kali dalam sehari. Jika orang sudah membaca shalawat sebanyak 10.000 kali maka dipastikan akan memperoleh keutamaan, yang kita semua tidak tahu kecuali para pelakunya.

Yang penting bagi kita adalah istiqamah untuk membaca shalawat berapapun jumlahnya. Dan kita tentu bersyukur karena bisa mengamalkan ajaran untuk keselamatan ini. Jika dengan shalawat kita selamat kenapa tidak kita lakukan.

Wallahu a’lam bi al shawab.