• May 2026
    M T W T F S S
    « Apr    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

MENJAGA KELUARGA DARI API NERAKA

MENJAGA KELUARGA DARI API NERAKA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Tidak ada seorangpun yang tidak menginginkan keluarganya bahagia. Bahkan tidak hanya bahagia di dunia tetapi juga bahagia di akherat kelak. Jika di dalam dua kehidupan itu bahagia, maka inilah yang disebut sebagai endless bliss. Kebahagiaan sempurna. Dan hanya orang-orang yang beramal shaleh saja yang kiranya bisa memeroleh dua kebahagiaan sekaligus. Sa’idun fid daraini.

Kebahagiaan menurut Badan Pusat Statistik (BPS) bisa diangkakan dengan menyusun indikator-indikator kebahagaiaan. Ada beberapa variable yang kemudian bisa diukur untuk menjelaskan posisi kebahagiaan dimaksud. Di antara variable indicator kebahagiaan tersebut adalah: tingkat pendidikan, pendapatan, pengeluaran, pekerjaan, jumlah keluarga, Kesehatan keluarga, kondisi keamanaan lingkungan, relasi social dalam lingkungan social, kenyamanan di dalam keluarga dan kenyamanan dalam jaringan social. Di dalam variable-variabel ini tidak didapatkan dimensi religiositas yang sebenarnya juga menjadi indicator penting dalam menentukan kebahagiaan. Bisa jadi, bahwa aspek religiositas tersebut tidak bisa diangkakan.

Kita meyakini bahwa orang hidup tidak hanya di dunia. Kita bukan kaum materialistis, yang beranggapan bahwa manusia hanya terdiri dari jasad atau badan, dan kematian adalah karena kerusakan salah satu organ manusia sehingga karena kerusakan tersebut maka tidak dapat berfungsi. Misalnya gagal ginjal, kerusakan jantung, kerusakan organ tubuh lainnya, maka karena kerusakan tersebut sehingga menyebabkan terjadinya kematian.

Kita meyakini bahwa di dalam tubuh yang fisikal terdapat roh dan jiwa. Roh itulah yang menyebabkan manusia bisa hidup. Maka kematian adalah pada aspek jasadnya sedangkan rohnya tetap hidup. Dan roh itu akan berpindah ke dalam alam barzakh atau alam kubur. Sebuah alam yang mengantarai antara alam dunia dengan alam akherat. Manusia dengan rohnya akan hidup di alam barzakh sampai Malaikat Peniup Sangkakala meniupkan terompet kematian bagi manusia dan kehancuran dunia atau yang disebut qiyamat. Dari sini akan dimulai fase baru kehidupan untuk menuju ke dalam alam akherat.

Oleh karena itu, manusia harus menyelaraskan kehidupan di dunia dan akherat, tidak hanya bahagia di dunia tetapi juga bahagia di akherat. Doa kita kepada Allah SWT adalah Ya Tuhan kami bahagiakan kami di dalam kehidupan di dunia dan kehidupan akherat. Doa yang rasanya paling banyak dilantunkan oleh umat Islam pasca melakukan shalat wajib karena betapa pentingnya memohon kepada Allah SWT atas hal ini.

Islam mengajarkan agar di dalam setiap keluarga dapat menjaga keluarganya dari api neraka. Artinya agar setiap keluarga menjaga keluarganya agar tidak melakukan perbuatan yang dapat mengantarkannya kepada neraka, yaitu perbuatan jelek, atau jahat. Setiap keluarga hendaknya tetap menjaga iman di dalam keluarganya. Hanya iman kepada Allah SWT. Tidak tergelincir imannya kepada selain Allah. Iman yang tidak ada sedikitpun keraguan. Iman yang terus meningkat dan bukan menurun apalagi sampai titik nol.

Sebagai konsekuensi atas imannya itu adalah menjalankan ajaran Islam dengan sekuat tenaga. Tidak mendurhakai Allah dan menjalankan sunnahnya Rasulullah. Di dalam kehidupannya selalu melakukan kebaikan yang berbasis pada ajaran agama Allah. Untuk bisa melakukan hal ini, maka pendidikan di dalam keluarga menjadi penting adanya. Anak-anak harus diajari untuk menjalankan perintah Tuhan dan menjaga untuk tidak melakukan larangan Tuhan.

Di dalam Surat Attahrim ayat 6 dinyatakan: “Ya ayyuhal ladzina amanu qu anfusakum wa ahlikum nara” yang artinya “wahai orang-orang yang beriman jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”. Untuk menciptakan keluarga yang di dalamnya terdapat lingkungan Islami yang terjaga dari api neraka, maka ada beberapa hal, yaitu: pertama,  menjaga lingkungan Islami di dalam keluarga. Lingkungan memiliki pengaruh yang besar dalam pendidikan di dalam keluarga. Bagaimana kita akan meminta anak untuk shalat jika kita sendiri tidak melakukan shalat. Jadi Bapak atau Ibu harus menjadi contoh dalam melakukan kebaikan atau misalnya menjalankan shalat, puasa, zakat dan amalan-amalan keagamaan lainnya. Jadilah panutan dalam kebaikan jika kita ingin mentransfer kebaikan kepada keluarga kita.

Kedua, enkulturasi atau transfer pengetahuan dan perilaku yang paling baik di dalam keluarga adalah pada masa kanak-kanak. Makanya mengajari kebaikan kepada anak-anak itu memiliki pengaruh yang sangat kuat. Orang tua hendaknya mengajari anak-anaknya mulai yang dasar misalnya ucapan salam, makan dengan basmalah, berdoa mau tidur, dan bacaan Alqur’an seperti ayat-ayat pendek dan sebagainya. Ajari dan ajak mereka shalat, ajak mereka shalat jamaah dan sebagainya. Pembiasaan seperti ini akan sangat besar pengaruhnya pada anak-anak.

Ketiga,  berikan pendidikan agama yang cukup. Jangan hanya diajari dengan pendidikan umum tetapi ajari mereka dengan pendidikan agama. Melalui pendidikan agama yang benar, maka akan terakumulasi sejumlah pengetahuan yang akan mengantarkannya pada pemahaman dan perilaku beragama yang benar. Anak-anak harus diajari tidak hanya pintar tetapi juga benar. Tidak hanya rational intelligent saja yang hebat, tetapi juga emotional intelligent, social intelligent dan spiritual intelligent juga hebat. Sebuah kebahagiaan jika kita dapat  melihat keluarga kita menjadi orang yang shaleh yang kelak akan dapat mendoakan kepada kita semua.

Di dalam tradisi Jawa dikenal ada konsep anak polah bapak kepradah artinya jika anak kita menjadi anak yang nakal, maka orang tuanya akan terlibat untuk disalahkan. Makanya, kita benar-benar harus menjaga agar anak kita selalu berada di dalam perilaku kebaikan, sehingga orang tua akan merasakan kebahagiaan yang sama.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

MENGEMBANGKAN POTENSI ANAK UNTUK KEBAIKAN

MENGEMBANGKAN POTENSI ANAK UNTUK KEBAIKAN

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Sesungguhnya setiap manusia memiliki potensi untuk melakukan kebaikan. Sekali lagi potensi untuk melakukan kebaikan. Dan inti dari diturunkannya agama melalui Nabi dan Rasul sesungguhnya untuk mengingatkan kembali potensi kebaikan dimaksud. Perlu dipahami bahwa manusia memiliki dimensi ketuhanan, sebab di dalam diri manusia sebenarnya terdapat potensi ketuhanan. Makanya, pantas jika manusia  memiliki potensi kebaikan.

Berdasarkan konsep psikhologi, bahwa ada tiga paradigma yang penting untuk melihat mengenai bagaimana manusia bereksistensi di dalam kehidupannya, yaitu paradigma nativisme atau serba bakat, lalu paradigma empirisme atau serba lingkungan dan paradigma konvergensi atau paduan antara bakat dan pengalaman. Bagi kita tidak terlalu penting mana yang dominan, akan tetapi yang jelas bahwa setiap manusia memiliki bakat, lalu bisa belajar dari pengalaman yang keduanya akan berpengaruh terhadap eksistensinya di dalam  kehidupannya.

Manusia yang difabel atau different ability, bukan disable atau disability, saja memiliki potensi yang beraneka ragam. Manusia yang normal juga sesungguhnya memiliki potensi yang jelas. Tuhan sudah memberikan pada setiap hambanya dalam potensi yang sesungguhnya bisa diaktualkan.  Namun kenyataannya, bahwa tidak semua potensi bisa diaktualkan. Ada variable-variabel yang terkadang bisa mengganggu untuk mengaktualkannya.

Ada beberapa hal yang menyebabkan kegagalan dalam mengaktualkan potensi positif atau potensi kebaikan, yaitu: pertama, Bisa saja factor kemiskinan yang menyebabkannya. Orang yang miskin tidak akan bisa mengaktualkan potensi di dalam dirinya.  Kemiskinan bisa menjadi penyebab akan rendahnya pengembangan SDM berkualitas. Meskipun jumlah angka kemiskinan secara year to year terus turun, akan tetapi masih relative besar jumlah angka kemiskinan dimaksud. Apalagi dengan Wabah Covid-19, maka denyut nadi ekonomi menjadi semakin rendah, maka dampak yang paling kentara adalah pada klas menengah yang bekerja pada sector informal. Angka pengangguran menjadi  meningkat, angka PHK juga meningkat sehingga jumlah angka kemiskinan selama Pandemi Covid-19 juga meningkat. Masih besarnya angka kemiskinan, maka akan menyebabkan akses pendidikan sebagai instrument untuk menyentuh atas aktualisasi potensi juga mengalami kendala yang serius.

Pemerintah sebenarnya sudah meluncurkan paket-paket program yang relevan dengan tujuan untuk memperluas akses pendidikan. Di era Pak SBY dikenal ada program Bantuan Siswa Miskin (BSM), paket Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan juga beasiswa Bidikmisi, yang memungkinkan bagi anak-anak dari keluarga miskin dapat memperoleh akses pendidikan. Misalnya ada anak dari keluarga tukang becak, yang bisa melanjutkan pendidikan hingga program doctor di Inggris.

Kemudian di era Pak Jokowi juga dilanjutkan dengan program Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan juga BOS serta dana yang terkumpul melalui Endowment fund atau dana abadi Pendidikan melalui Lembaga Pengembangan Dana Pendidikan (LPDP), yang sebenarnya sudah diinisiasi pada pemerintahan sebelumnya. Semuanya tentu dimaksudkan sebagai upaya untuk mengaktualkan potensi anak Indonesia dalam bidang pendidikan. Tetap harus diyakini bahwa pendidikan merupakan satu instrument untuk menjadikan anak Indonesia sebagai orang yang cerdas, kompetitif dan berakhlakul karimah.

Kedua, mengaktualkan kecerdasan emosional. Anak tidak hanya memerlukan kecerdasan rasional, akan tetapi juga kecerdasan emosional. Kecerdasan emosional sesungguhnya bisa diajarkan dan tidak hanya sekedar bakat. Ada anak yang memiliki bakat kesombongan, bakat berbohong dan bakat egoistis. Bakat ini masih bisa dieliminasi melalui pengarahan, bimbingan dan pendidikan. Jika anak-anak dengan bakat seperti itu dapat memperoleh pendidikan yang benar dan baik serta berada di dalam lingkungan yang baik, maka diasumsikan bahwa mereka akan menjadi manusia yang baik dan benar. Mungkin sekali waktu bakat-bakat seperti itu masih eksis, akan tetapi dengan pendidikan dan lingkungan yang baik tentu akan tereliminasi bakat-bakat dimaksud. Pendidikan agama yang baik dan benar yang berada di dalam konteks pendidikan rahmatan lil alamin akan bisa menjadi salah satu solusi untuk mengeliminasi bakat-bakat yang kurang baik.

Ketiga, mengaktualkan kecerdasan social. Manusia dikaruniai rasa kasihan atas penderitaan orang lain, jika seseorang berada di dalam posisi tidak menderita. Kecerdasan social akan tumbuh seirama dengan pergaulan atau relasi social yang dialami oleh seseorang. Jika seseorang berada di dalam lingkungan yang memang terdapat potensi rasa kasihan, maka dipastikan akan memunculkan rasa, sikap dan tindakan untuk mengekspresikan rasa kasihan dimaksud. Hanya orang-orang yang sudah mati rasa saja yang kehilangan taste untuk mengasihi terhadap yang perlu dikasihani. Pengalaman penderitaan atau keinginan berlebihan untuk menghukum seseorang yang bersalah bisa jadi disebabkan oleh rendahnya social intelligent. Memaafkan bukan berarti tidak memberikan punishment, tetapi menempatkan punishment dalam proporsi yang benar.

Keempat, menerapkan spiritual intelligent yaitu mengajarkan kepada anak agar memahami dan merasakan bahwa ada suatu kekuatan yang Maha Dahsyat yang menguasi atas diri manusia, dan meyakini bahwa kekuatan terbesar dari Dzat yang Maha Agung adalah memberikan kasih sayang kepada manusia. Berkat kasih sayangnya tersebut maka manusia dapat hidup dengan kehidupan yang baik yang sesuai dengan hukum-hukum Tuhan Yang Maha Kuasa. Yang perlu untuk diaktualkan adalah menyadarkan Kembali spirit ketuhanan di dalam manusia sebagai ciptaan Tuhan yang paling istimewa.

Islam telah mengajarkan kepada manusia agar terus menerus berpikir tentang ada kekuatan lain sebagai penguasa atas dunia dan seluruh isinya. Dan manusia diminta untuk berpikir. Afala ta’qilun, afala yatafakkarun, atau apakah engkau tidak berpikir atau apakah mereka tidak memikirkannya. Lalu, manusia juga diminta untuk saling bertolong menolong dalam kebaikan. Ta’awanu ‘alal birri wat taqwa atau bersaling tolong menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan, dan juga ala bi dizikrillah tatmainul qulub atau hanya dengan mengingat Allah maka hati menjadi tenang atau tenteram.

Agama sebenarnya diberikan kepada manusia agar menjadi pedoman, termasuk pedoman agar kita mendidik anak kita dalam kebaikan. Dan peran orang tua begitu dominan untuk menciptakan kebaikan dimaksud.

Wallahu a’lam bi al shawab.

HIGH POLITICS YES, POLITIK PRAKTIS NO: PEMBICARAAN POLITIK DI MASJID

HIGH POLITICS YES, POLITIK PRAKTIS NO: PEMBICARAAN POLITIK DI MASJID

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Saya termasuk yang mengapresiasi atas himbauan Menag Yaqut Cholil Qoumas  tentang bagaimana menggunakan masjid di dalam menghadapi Tahun Politik 2024 yang akan datang. Saya tidak akan menjelaskan secara mendasar tentang apa  yang diimbaukan oleh Menag, tetapi saya ingin mengambil makna, etika dan etos masyarakat Indonesia dalam menghadapi tahun politik 2024.

Masjid memang bisa menjadi area dalam banyak bidang. Menggunakan konsep secara umum, maka masjid tidak hanya menjadi tempat ritual saja akan tetapi menjadi tempat untuk kegiatan yang lebih luas. Dewasa ini, masjid sudah menjadi tempat bagi pengembangan SDM melalui pendidikan, pengembangan kesehatan masyarakat melalui Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas), menjadi tempat pengembangan ekonomi melalui koperasi dan usaha-usaha syariah, dan menjadi tempat bagi pengembangan SDM melalui pelatihan kepemimpinan dan manajemen dan sebagainya.

Citra masjid sebagai tempat untuk gerakan politik tentu bukan sesuatu yang aneh. Ada masjid yang secara eksistensial melakukan gerakan politik. Sesuai dengan cerita Miftah, mantan teroris yang sadar, bahwa ada masjid yang secara khusus menjadi tempat untuk membicarakan masalah khilafah, jihad dan gerakan trans-nasional. Cerita ini bukan isapan jempol sebab memang ada masjid-masjid yang sekarang ini menjadi tempat untuk berpolitik praktis yang terkait dengan politik khilafah, jihad dan anggapan pemerintah thaghut. Gerakan anti pemerintah dengan statemen sebagai pemerintahan thaghut banyak dilakukan oleh kelompok tersebut. Saya sudah banyak menulis tentang pemahaman agama yang seperti ini. Dan saya kira banyak orang yang sudah memahami siapa mereka tersebut.

Yang masih diragukan adalah bagaimana menempatkan dimensi politik melalui masjid. Ada keraguan bagaimanakah membicarakan atau menjadikan masjid sebagai tempat untuk membicarakan masalah politik. Maka saya secara tegas menyatakan bahwa menjadikan masjid sebagai tempat untuk membicarakan politik praktis tentu tidak boleh, akan tetapi menjadikan masjid dalam etika politik tentu masih dalam koridor yang diperbolehkan. Lalu, pertanyaannya adalah bagaimana indicator etika politik  atau high politics tersebut?.

Ada beberapa indicator penting untuk direnungkan. Pertama,  menjelaskan dan menggambarkan tentang perilaku politik yang benar dan baik. Baik saja tidak cukup karena harus benar. Dua-duanya tidak dapat dipisahkan. Misalnya menggambarkan tentang indicator pemimpin yang shiddiq, Amanah, tabligh dan fathanah. Ciri-ciri pemimpin yang shiddiq atau jujur dapat dilihat dari  rekam jejak dan potensi kejujuran  yang ada pada calon pemimpin. Kita tidak harus menyampaikan siapa yang memenuhi kriteria dimaksud. Juga pemimpin dengan indicator amanah atau dapat dipercaya artinya bahwa berdasarkan rekam jejak dan potensi untuk berbuat amanah  tersebut tentu ada yang bisa dipilih. Harus dipilih yang terbaik di antara yang baik melalui pemetaan dan tracking yang jelas. Lalu, juga calon pimpinan yang memiliki kemampuan untuk membuat kebijakan yang pro-rakyat karena kecerdasannya dan juga transparan dalam implementasi kebijakannya.

Kedua, menjelaskan dan menggambarkan tentang bagaimana Indonesia ke depan. Carilah pimpinan yang memiliki visi Keislaman, Keindonesiaan dan kemoderenan. Melalui indicator ini maka akan dapat diketahui siapa yang paling cocok untuk kepemimpinan di Indonesia. Jangan dipilih calon pemimpin Indonesia yang justru akan menjerumuskan Indonesia ke jurang disharmoni dan bahkan konflik horizontal. Indonesia adalah negara dengan tingkat multikulturalitas dan pluralitas yang sangat tinggi. Makanya harus dirawat oleh para pemimpin agar pemimpin tersebut berkeinginan untuk memantapkan empat pilar consensus kebangsaan, tetap mempertahankan Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Kebinekaan. Pemimpin yang tidak tergoda untuk mengeksperimenkan negara Indonesia yang besar ini dengan bentuk negara baru, seperti negara khilafah, dan menghalalkan jihad hanya dalam makna perang.

Ketiga,  diupayakan agar tidak menyebut dan mengarahkan kepada nama-nama tertentu dengan arahan agar dipilih dalam PEMILU. Cukuplah agar jamaah menentukan sendiri siapa yang pantas dan layak untuk dipilih. Agar para jamaah diarahkan dengan kekuatan rational choice untuk menentukan siapa yang pantas dalam analisis jamaah masjid. Cukuplah pembicaraan tentang indikatornya dan segalanya diserahkan kepada para jamaah untuk melakukannya yang terbaik dan paling benar. Janganlah kita membicarakan tentang siapa calon pemimpin nasional sebab yang terpenting pada pilihan rasional para jamaah.

Yang diperlukan adalah mengendalikan keinginan agar bersearah dengan etika politik. Saya menjadi teringat dengan ungkapan KH. Hasyim Muzadi bahwa di Indonesia ini terdapat politik tanpa etika. Para pemimpin menyusun kebijakan tidak untuk kepentingan rakyat, DPR membuat Undang-Undang tanpa berpikir apakah regulasi tersebut menguntungkan masyarakat atau hanya menguntungkan korporasi. Melalui kebijakan-kebijakan yang tidak bersearah dengan kepentingan rakyat inilah yang menyebabkan Indonesia menjadi terpuruk.

Indonesia harus memilih pemimpin yang terbaik. Tetapi kala berbicara di masjid hendaknya  tidak membicarakan tentang siapa tokoh yang harus dipilih akan tetapi justru menentukan apa kriterianya atau apa indikatornya. Kita semua yakin bahwa para jamaah dewasa ini sudah cerdas dalam memilih pemimpin sehingga tidak perlu untuk diintervensi dengan keinginan kita apalagi dengan memaksa.

Wallahu a’lam bi al shawab.

DARI SUDUT MASJID AL IHSAN: POLITIK SEHARUSNYA UNTUK RAKYAT

DARI SUDUT MASJID AL IHSAN: POLITIK SEHARUSNYA UNTUK RAKYAT

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Ba’da Shalat Shubuh jamaah Masjid Al Ihsan tidak segera pulang. Senin, 01/04/2023. Dan seperti biasanya memang kita membincang hal-hal yang terkait dengan masalah-masalah ibadah dengan segala tetek bengeknya. Tetapi kemarin tidak secara sengaja kita berbicara tentang situasi social politik kita akhir-akhir ini. Memang bukan pembicaraan dari para pakar, akan tetapi bukan berarti pembicaraan yang remeh temeh. Tetap saja pembicaraan serius di tengah nuansa cengengesan sebagaimana biasa di dalam Grup Ngaji Bahagia (GNB).

Politik merupakan artikulasi kepentingan. Artinya bahwa melalui jalan politik maka didapatkan akses kepada kekuasaan dan kepentingan. Dua kata ini penting di dalam memaknai politik. Jadi setiap tindakan politik dipastikan merupakan upaya untuk mengakses kepada kekuasaan dan pemenuhan kepentingan. Jadi semua kegiatan politik dipastikan dua hal itu yang diharapkan sebagai  produknya.

Untuk artikulasi politik tersebut maka didirikanlah partai politik. Yaitu sekumpulan orang yang melakukan tindakan untuk melakukan upaya politik bertujuan kepada akses kepentingan, bisa terkait dengan kepentingan di dalam kontestasi pilihan presiden/wakil presiden atau pilihan legislative, baik pada level nasional maupun regional dan local. DPR dan DPRD Provinsi maupun  Kabupaten/kota.

Partai politik adalah alat negara di dalam demokrasi. Untuk melakukan demokrasi maka negara membutuhkan partai politik. Di Indonesia sebagai negara dengan pilihan demokrasi sebagai instrument untuk menentukan siapa presiden/wakil presiden serta pimpinan dan anggota legislative, maka dilakukanlah pemilihan umum (PEMILU) untuk eksekutif dan legislative. Eksekutif yang menjalankan pemerintahan dan legislative yang merumuskan regulasi bersama dengan pemerintah, dan juga melakukan penganggaran dan pengawasan atas jalannya roda pemerintahan.

Tetapi di Indonesia benarkah politik itu untuk kepentingan masyarakat atau kepentingan rakyat? Inilah inti diskusi di Masjid Al Ihsan. Ada sejumlah nama di dalam diskusi informai seperti Pak Mulyanta, Pak Suryanto, Pak Sahid, Pak Hardi, Pak Rusmin, Pak Budi, saya dan lain-lain. Di dalam pandangan Pak Mul, politik di Indonesia itu belum menggambarkan tujuan untuk memperjuangkan kepentingan rakyat. Politik di Indonesia itu masih bertujuan untuk kepentingan partai politik. Pak Sahid juga mengungkapkan bahwa kenyataannya bahwa birokrasi itu menjadi kendaraan politik penguasa. Lalu, Pak Budi juga menyatakan bahwa di Indonesia ini politik uang juga masih kuat.

Pada kesempatan ini memang diskusinya tidak memakai teori-teori politik yang rumit-rumit tetapi menggunakan logika yang sederhana-sederhana saja. Yang berada di sekeliling kita. Suatu kenyataan bahwa rakyat itu mulai sadar politik. Hal ini tentu dikaitkan dengan semakin melubernya informasi yang bisa diakses dengan mudah. Melalui transparansi dan keterbukaan informasi maka dipastikan control terhadap jalannya proses demokrasi akan lebih mudah dilakukan.

Tetapi kendala utama adalah pada kejujuran pelaksana PEMILU, di dalam hal ini adalah Komisi Pemilihan Umum (KPU). Yang diharapkan adalah kejujuran KPU di dalam  penghitungan suara. Masyarakat sungguh berharap agar KPU merupakan lembaga yang independent dan tidak bisa diintervensi oleh siapapun termasuk pimpinan parpol dan pimpinan pemerintahan. Jika KPU menerapkan prinsip shiddiq dan Amanah, jujur dan adil, maka yang dihasilkan tentu adalah orang-orang yang baik.

Bagi anggota legislative yang diharapkan adalah para anggota DPR/DPRD yang menyuarakan kepentingan rakyat. Jangan justru membohongi rakyat. Jangan melakukan pemberian harapan palsu (PHP). Janganlah janji muluk-muluk tetapi tidak ada buktinya. Buktinya untuk merumuskan Undang-Undang, misalnya perampasan aset saja juga tidak segera diselesaikan karena tekanan kepentingan politik yang datang dari para pelaku politik. Padahal ini yang sesungguhnya dibutuhkan rakyat untuk menjadi kepastian atas perilaku korupsi di negari ini yang kuantitas dan kualitasnya semakin meningkat.

Yang harus juga diperhatikan adalah  agar aparat pemerintah berada di dalam posisi netral. Jangan hanya di atas kertas saja. Tetapi yang penting justru di dalam implementasinya. Para pimpinan birokrasi juga janganlah melakukan tindakan intervensi kepada stafnya atau bawahannya. Biarkankah para ASN menggunakan rational choice untuk menentukan siapa yang dipilihnya. Yang penting harus menggunakan logika persatuan dan kesatuan bangsa. Keutuhan dan keselamatan bangsa. Para ASN sebagai aparat negara tentu harus secara cerdas memilih pimpinan negara yang tetap memperjuangkan empat pilar consensus kebangsaan: Pancasila, NKRI, UUD 1945 dan kebinekaan. Jangan sampai salah memilih orang. Pilihlah yang terbaik dan akan memperjuangkan negeri ini agar selamat sampai tujuan.

Yang juga tidak kalah menarik juga agar masyarakat semakin cerdas. Menolak politik uang. Jangan justru memanfaatkan PEMILU sebagai lahan untuk mengeruk keuntungan, terutama pada makelar-makelar politik. Jangan sampai berita milyaran rupiah untuk menjadi anggota legislative, atau eksekutif dalam berbagai levelnya itu malah membudaya di kalangan masyarakat. Jika orang yang dipilih itu mengeluarkan uang atas keterpilihannya, maka tentu masuk akal jika kemudian ingin mengembalikan uangnya untuk pembiayaan politik. Jika kemudian ada yang melakukan tindakan koruptif, maka rakyat juga terlibat di dalam hal ini. Yang disampaikan oleh Ustadz Das’ad Latif di channel Youtube itu menjadi benar adanya, sebab politik uang itu sebenarnya karena umat Islam ikut di dalamnya. Tolak politik uang agar terpilih yang terbaik.

Inti dari pembicaraan kita pagi ini adalah agar masyarakat cerdas memilih siapa yang akan menjadi anggota legislative dan eksekutif dengan salah satu cara melakukan penolakan terhadap money politics, agar apparat sipil negara juga dapat menggunakan rational choice untuk memilih siapa yang terbaik, KPU juga bekerja dengan kejujuran dan keadilan, dan yang paling mendasar kita pilih pemimpin yang tetap berpegang teguh pada upaya untuk mempertahankan Pancasila, NKRI, UUD 1945 dan kebinekaan sebagai pilar kebangsaan untuk menyongsong Indonesia yang lebih baik di masa depan.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

MENDAMBAKAN ANAK YANG SALEH: DAHSYATNYA DOA ORANG TUA

MENDAMBAKAN ANAK YANG SALEH: DAHSYATNYA DOA ORANG TUA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Tidak ada orang tua yang tidak ingin anaknya menjadi anak yang baik, apapun status dan kedudukan orang tuanya. Meskipun orang tuanya tidak memiliki status social yang baik, akan tetapi tetap berkeinginan agar anaknya menjadi lebih baik status sosialnya. Orang tua selalu mendambakan agar anaknya menjadi lebih baik dari dirinya. Dan lebih jauh juga mendambakan agar anaknya menjadi orang yang baik dalam agamanya.

Ada orang tua yang status sosialnya menjadi buruh tani atau petani tetapi dia berkeinginan agara anaknya tidak menjadi seperti dirinya. Atau ada orang tua yang bekerja pada sector pekerja kasar di pabrik atau pekerja bangunan dan berharap agar anaknya tidak menjadi seperti dirinya. Makanya, hampir semua orang tua berharap agar anaknya menjadi lebih baik di dalam kehidupannya. Ada mobilitas vertical yang diinginkan, dari buruh tani menjadi petani. Dari petani menjadi pegawai negeri. Dari buruh kasar menjadi pengusaha.

Ada yang berhasil dan ada yang tidak. Ini merupakan hukum alam. Keberhasilan atau kegagalan merupakan hukum alam yang tidak bisa dihindari oleh umat manusia. Bahkan putra Nabi-Nabi atau Rasul Allah juga mengalami hal yang sama. Ada yang berhasil dan ada yang gagal. Yang berhasil adalah seperti Nabiyullah Ibrahim yang berhasil putra-putranya menjadi orang yang saleh bahkan nabi atau rasul. Akan tetapi juga ada yang gagal, misalnya Nabi Adam AS yang salah seorang putranya tidak menjadi orang yang baik. Sama halnya dengan Nabi Nuh AS yang  salah seorang putranya membangkang dari perintah orang tuanya. Qabil dan Kan’an adalah prototipe anak yang gagal menjadi orang shaleh.

Namun demikian, sebagai manusia tentu kita harus tetap bercita-cita agar keturunan kita menjadi orang yang terbaik, terutama di dalam ketaqwaannya. Tidak boleh berpikir bahwa anak Nabiyullah saja ada yang mengingkari kebenaran apalagi anak keturunan kita sebagai manusia biasa. Pemikiran seperti ini saya kira  tidak tepat, sebab kita justru harus berpikir dan berusaha untuk kebaikan anak keturunan kita.

Sebagaimana yang sudah saya tulis, bahwa ada trilogy kehidupan manusia, yaitu berusaha, berdoa dan bertawakkal. Maka agar anak kita menjadi anak yang saleh maka tentu harus diupayakan untuk menjadi shaleh. Jangan dibiarkan saja tanpa pengarahan. Bisa dilakukan oleh lembaga pendidikan atau bisa dilakukan sendiri. Yang jelas harus ada ikhtiar agar anak kita menjadi anak yang baik. Ingatkan jika sudah berada di luar rumah dan juga ingatkan kala di dalam rumah. Mengingatkan keluarga kita untuk melakukan kebaikan adalah kewajiban social dan religious sekaligus. Jagalah diri kita dan keluarga kita dari api neraka.

Islam juga mengajarkan betapa pentingnya doa. Jika kita memiliki pemikiran bahwa para Nabi itu tidak usah berdoa maka pemikiran ini merupakan pemikiran yang salah. Bahkan kita diajari oleh para rasul  untuk terus berdoa kepada Allah tentang segala hal, termasuk berdoa untuk anak-anak kita. Meskipun ada yang berhasil dan gagal,  tetapi kita tetap harus optimis bahwa Allah pasti mendengarkan doa-doa kita.

Nabi Zakariya AS juga melantunkan doa: “Rabbi habli min ladunka dzurriyatan thayyibatan innaka sami’ud du’a, yang artinya: “wahai Tuhanku, berikanlah dari sisimu seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha mendengar permohonan kami”. Rasulullah juga bersabda bahwa ada tiga doa yang mustajabah, yaitu: doa orang tua, doa orang bepergian dan doa orang yang terdholimi. Sebagaimana Sabda Nabi Muhammad SAW sebagai berikut: tsalatsatu da’awati  mustajabati la syakka fi hinna: da’watul walidi wa da’watul musafiri wa da’watul madhlumi”, yang artinya: “ada tiga macam doa yang mustajab dan tidak ada keraguan di dalamnya, yaitu doa orang tua, doa seorang musafir dan doa orang yang terdzolimi” (HR. Imam Bukhori).

Dengan mencermati doa-doa ini, kita dapat memahami  hal-hal sebagai berikut: pertama,  berdoa untuk kebaikan anak itu merupakan perilaku baik yang hukumnya sunnah. Bahkan bagi manusia mendekati kewajiban. Setiap manusia secara etikal harus mendoakan anak-anaknya. Orang tua tidak boleh melupakan doa kepada Allah ini. Disunnahkan waktunya pada saat-saat mustajabah. Jika do’a orang tua itu sudah menjadi doa yang mustajabah atau doa yang besar peluangnya dikabulkan oleh Allah dan jika doa tersebut dilantunkan pada saat yang mustajabah, misalnya sepertiga malam, maka peluang berhasilnya akan lebih besar.

Kedua, doa yang disampaikan kepada Allah oleh orang yang berkategori pelaku doa mustajabah tersebut benar-benar didengarkan oleh Allah. Dan Allah berjanji akan menjawabnya atau mengabulkannya. Hanya factor waktu saja yang bisa cepat atau lambat. Tetapi kita harus yakin bahwa doa tersebut akan dikabulkan oleh Allah SWT. Innallaha la yukhliful mi’ad yang artinya sesungguhnya Allah tidak akan mengingkari janjinya. Sebagaimana doa Nabi Zakariya di atas, bahwa Allah adalah maha mendengar doa-doa hambanya. Terutama  hambanya yang bertaqwa kepada-Nya.

Ketiga, jika ada anak yang berpaling dari kebenaran, maka jangan lelah mendoakannya. Kapanpun dan di manapun. Janganlah kita merasa bahwa Tuhan tidak mendengarkan doa kita. Teruslah berdoa tanpa lelah ibaratnya, dan kemudian kita bertawakkal kepada Allah. Jika Allah belum mengabulkan, maka teruslah berdoa dan berdoa. Mungkin sekarang belum dikabulkan tetapi siapa tahu akan dikabulkan  yang akan datang. Janganlah berputus asa dan janganlah berpikir negative. Teruslah berpikir positif atau husnudz dzon, bahwa suatu ketika Allah akan mengabulkannya.

Wallahu a’lam bi al shawab.