Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

HEDONISME MEDIA SOSIAL

HEDONISME MEDIA SOSIAL

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Ceramah di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency memang mengasyikkan. Bukan ceramahnya yang hebat atau materinya yang luar biasa, akan tetapi karena ceramah itu menjadi ajang tertawa bareng dan berkali-kali. Ada saja yang bisa menjadi bahan guyonan asal kena. Yang penting prinsipnya dapat tambahan pengetahuan dan juga bisa tertawa lepas. Rasanya selalu ada saja bahan tertawa yang membuat happy. Dan saya yakin, para peserta juga merasakan hal yang sama di dalam kebersamaan. 11/07/2023.

Kali ini yang menjadi tema utama adalah tentang pemikiran hedonism. Saya menyebutnya bukan filsafat hedonism tetapi pemikiran saja. Agar terkesan lebih mudah, sebab kalau filsafat tentu menjadi terasa berat. Hedonism merupakan suatu pandangan yang menyatakan bahwa yang paling penting adalah pemuasan diri dalam banyak hal. Tidak semuanya tetapi banyak. Kepuasan materi atau kaya atau banyak hartanya. Terpenuhinya kekuasaan, dan juga pemenuhan kebutuhan fisikal lainnya. Jadi kalau ada orang yang berpkir yang penting membawa kenikmatan, maka hal tersebut dari pemikiran yang disebut sebagai kelompok hedonism.

Turunan dari pemikiran hedonism adalah tindakan permisif. Secara sosiologis, tindakan permisif adalah tindakan serba boleh. Apa saja bisa dilakukan asal sesuai dengan keinginan dan kepentingannya. Permissiveness merupakan tindakan yang memberikan peluang lebih besar untuk memuaskan diri dengan menggunakan berbagai instrument termasuk yang tidak sesuai dengan moralitas kehidupan manusia. Tidak memperdulikan halal atau haram. Semua serba boleh. Tindakan permisif tidak menjadikan  nilai atau etika sebagai basis tindakannya.

Pemikiran hedonis telah memasuki berbagai kawasan kehidupan social, politik, ekonomi dan juga budaya. Dalam bidang ekonomi dikenal konsep moral hazard atau pemikiran ekonomi yang juga mengutamakan diri sendiri dan yang penting modal bisa beranak-pinak. Kapitalisme yang dianut oleh banyak negara sesungguhnya didasari oleh keinginan dengan modal sedikit-dikitnya untuk memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya.

Dalam bidang politik juga dikenal konsep Machiavelisme atau tujuan menghalalkan segala cara. Menang dalam politik dengan menggunakan politik uang. Mendapatkan kekuasaan dengan cara yang tidak wajar, atau menggunakan kekuasaan untuk korupsi dan sebagainya. Banyaknya korupsi di Indonesia dipicu oleh merebaknya politik uang yang luar biasa. Kekuasaan bila dibeli dan  jabatan juga bisa dibeli. Jika memiliki uang, maka apapun bisa dilakukan.

Dalam bidang social juga luar biasa keadaan tindakan permisif tersebut. Sekarang kita sedang berada di era  media social yang juga sangat permisif. Serba boleh. Media social telah menjadi bagian dari semakin menguatkan tindakan permisif.  Orang bisa mengunggah apa saja tanpa mempertimbangkan baik buruknya. Tanpa mempertimbangkan bagaimana pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat. Pokoknya tayang. Sungguh kita miris melihat betapa bebasnya dunia media social dimaksud. Seakan-akan kebebasan adalah segala-galanya. Jika di masa lalu masih dikenal istilah kebebasan bertanggungjawab, maka sekarang ini sudah tidak ada lagi.

Jika ditanyakan tentang bagaimana kebebasan sekarang ini, maka jawabannya  menyatakan kebebasan di Indonesia itu luar biasa. Hal ini tidak berlebihan, sebab berdasarkan pengamatan lapangan bisa diketahui, misalnya tayangan seksualitas menyimpang seperti tayangan seksualitas incest yang sengaja diunggah oleh youtuber yaitu selsualitas ibu dengan anak, dan saudara, mertua dengan menantu, ponakan dengan bibi atau paman, bos dengan bawahan, majikan dengan pekerja rumah tangga, dan sebagainya. Semuanya diungkapkan dengan bahasa yang lugas dengan diksi-diksi yang bernuansa seksualitas. Tayangan youtube tersebut bisa berpengaruh terhadap pembacanya, terutama bagi anak-anak muda yang sedang mencari jati diri, termasuk jati diri seksualitas. Unggahan tersebut sungguh merupakan tindakan hedonis dan permisif sebab seksualitas itu memiliki kesakralannya sendiri dan bukan hanya untuk kesenangan fisik atau biologis semata. Ada norma-norma yang menjadi pedoman di dalam melakukan tindakan seksualitas.

Kita sungguh merasakan bahwa tayangan ini akan bisa menjadi semacam guide bagi anak-anak muda yang jika tidak kuat sekali imannya akan bisa terjatuh ke dalam pemikiran hedonis dan teraplikasikan di dalam prilaku permissiveness. Tayangan di Youtube bukan sekedar hiburan atau perolehan viewers atau followers akan tetapi juga harus memiliki relevansi dengan nilai-nilai moral yang mendasar. Ada yang boleh dan ada yang tidak boleh.

Lalu bagaimana kita harus melakukan respon atas kenyataan ini? Kanal Youtube memang sebuah kanal yang sudah mendunia. Artinya bahwa nyaris tidak ada negara yang mampu memblokirnya, kecuali China. Dengan demikian, yang sesungguhnya memiliki kewenangan untuk melakukan upaya meredam hal ini adalah negara atau pemerintah. Melakukan sensor atas tayangan Youtube bukan kewenangan masyarakat. Masyarakat hanya menjadi sasaran atas tayangan  Youtube. Namun demikian, pemerintah juga tidak mampu untuk melakukan blokir atas akun-akun yang menayangkan conten negative, seperti pornografi, pornoaksi, seksualitas, hoaks, hatespeach, radikalisme, terorisme dan lain-lain. Pemerintah kalah bersaing dengan akun-akun di youtube. Ditutup 1000 hari ini, besuk muncul akun baru 1000. Begitulah adanya.

Oleh karena itu ada sebuah hadits Nabi Muhammad SAW yang mengajarkan: “barangsiapa mengetahui ada kemungkaran hendaknya mengubahnya dengan kekuasan, jika tidak bisa maka ubahlah dengan lesan, dan jika tidak bisa maka hendaknya ubahlah dengan doa”. Jadi, untuk mengubah melalui kekuasaan, maka pemerintah yang memiliki kekuasaan. Di sisi lain, masyarakat juga tidak mampu untuk mengubahnya dengan cara lesan, maka yang sangat mungkin adalah melalui doa. Dan inilah yang paling mungkin. Meskipun yang hanya bisa berdoa disebut sebagai lemah imannya.

Youtube itu terlalu kuat bahkan powerfull. Dan pengaruhnya sudah meraksasa atau gigantic. Oleh karena itu, sebagai sasaran konten youtube maka masyarakat harus melek media social atau harus memiliki literasi media social. Harus tahu mana yang dipilih dan mana yang dianggap penting.  Masyarakat harus cerdas untuk memilah dan memilih agar tidak menjadi korban youtube yang dewasa ini sudah terlanjur permisif. Dengan satu kata: “hati-hati dalam menggunakan youtube sebagai kanal media social”.

Wallahu a’lam bi al shawab.

JAGA KONSISTENSI MEMBACA DOA UNTUK LELUHUR

JAGA KONSISTENSI MEMBACA DOA UNTUK LELUHUR

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Kepulangan saya ke rumah Tuban untuk mengunjungi Emak dan berziarah kubur ke makam Bapak dan leluhur  berasal  dari keyakinan saya bahwa ada dimensi spiritual yang saya rasakan urgensinya. Tetapi selain itu juga bisa memberikan sekedar ceramah agama kepada Jamaah Mushalla Raudhatul Jannah di Dusun Semampir, Desa Sembungrejo, Merakurak Tuban. Saya memang diminta oleh Ketua Yayasan Qarya Jadida untuk memberikan sekedar ceramah agama untuk jamaah mushalla tersebut. Ahad, 09/07/2023.

Saya menekankan bahwa membaca doa untuk leluhur adalah kebaikan. Bagian dari upaya keturunan untuk membahagiakan leluhurnya. Terus terang saja, bahwa kepulangan saya untuk berziarah kepada makam Bapak dan leluhur ini bukan biasa saja tetapi karena mimpi yang membuat saya harus melakukan ziarah kubur. Saya tidak akan menceritakan bagaimana proses dan kejadiannya di dalam mimpi, biar itu menjadi bagian dari privasi saya dalam pengalaman beragama, namun demikian sungguh saya mempercayainya.

Sebagai keturunan para leluhur: bapak, embah, buyut, canggah, udek-udek, gantung siwur merupakan  orang yang secara ruhaniyah membutuhkan doa dan bacaan kalimat thayibah dari anak cucunya. Konon bacaan doa dan kalimat thayibah tersebut dapat menerangi alam kuburnya. Dan dengan penerangan di alam kubur itulah akan terdapat kebahagiaan dari leluhur kita. Jadi cara kita untuk menyayangi leluhur kita adalah dengan secara konsisten mendoakannya. Jangan melupakannya.

Jika masih hidup mungkin kita akan memenuhi keinginannya, yaitu dengan mencukupi kebutuhan fisik dan kejiwaannya sehingga orang tua kita atau kakek nenek kita tersebut merasakan kebahagiaan. Kita bisa merawat atau memberikan kasih sayang yang secara optimal yang bisa kita lakukan. Dan kebahagiaan itu bisa kita rasakan di dalam raut muka dan sikapnya. Dan hal ini merupakan kewajiban anak untuk keluarganya.

Secara psikhologis, kita tidak boleh menghentikan mengasihi leluhur kita kala leluhur kita sudah mendahului. Dan salah satu di antara cara yang benar sesuai dengan ajaran Islam ahlu sunnah wal jamaah adalah dengan mengirimkan doa dan bacaan kalimat thayyibah untuk leluhur tersebut. Harus diupayakan setiap hari. Tidak usah kita menghitung jumlahnya. Prinsipnya adalah semakin banyak semakin baik. Janganlah pelit untuk menghadiahkan fatihah kepada orang tua kita dan para leluhur. Secara personal bahkan menjadi “kewajiban” kita.

Saya merasa senang terhadap Jamaah Mushalla Raudhatul Jannah karena konsistensinya dalam menjaga amalan shalihan yang berupa bacaan fatihah sekurang-kurangnya tiga kali dalam shalat maghrib dan shubuh. Bacaan fatihah ini kita tujuan kepada junjungan Kita Nabi Muhammad SAW, istrinya, putra-putranya dan dzurriyahnya serta sahabatnya, lalu juga kepada leluhur kita, bapak, ibu, embah dan seterusnya ke atas, dan yang terakhir kita tujukan kepada kepentingan kita agar kepentingan tersebut dikabulkan oleh Allah SWT. Terus menerus membacanya dengan ikhlas adalah kebaikan. Sekali lagi konsisten.

Allah sudah memberikan tuntunan sebagaimana  tafsir para ulama bahwa ada bacaan-bacaan doa yang bisa menjadi “penyenang” kepada leluhur  melalui washilah kepada Nabi Muhammad SAW. Misalnya bacaan: “subhanallahil adzim wa bihamdihi” yang   artinya: “maha suci Allah yang Maha Agung dan segala puja dan puji bagnya”. Bacaan yang pendek seperti ini ternyata bisa menyenangkan roh leluhur. Di dalam tayangan youtube dijelaskan jika kita membaca dalam bilangan yang banyak, maka Allah akan mengampuni para leluhur. Subhanallah.

Jika kita membaca doa untuk memohon keampunan untuk diri kita dan orang tua, maka Allah akan memberikan pahalanya kepada kita semua. Tidak hanya untuk yang membaca tetapi juga untuk kedua orang tua kita. Bahkan jika doa itu dihadiahkan kepada umat Islam yang beriman dan bertaqwa kepada Allah, maka pahalanya akan disampaikan kepada siapa yang kita tuju. Tidak ada yang sia-sia atas apapun yang kita baca dengan asma Allah untuk kita semua. Masyaallah.

Salah satu keindahan Islam bagi umatnya adalah bahwa pahala tidak hanya bisa dinikmati secara individual, akan tetapi bisa dinikmari secara berjamaah. Maksudnya bacaan kalimat thayyibah dan doa  tersebut pahalanya bisa  diberikan kepada orang atau leluhur yang kita tuju, akan tetapi kita juga mendapatkannya. Demikianlah ajaran Islam yang sangat zakelik. Ajaran yang memberikan porsi untuk kemaslahatan bersama. Untuk “kekitaan” dan hanya untuk “keakuan”.

Islam memberikan kepada umatnya rasa “kebersamaan” tidak hanya dalam bentuk yang tangible, misalnya zakat, infaq dan sedekah, akan tetapi juga pahala yang intangible. Meskipun tidak berwujud bendawi, akan tetapi melalui keyakinan kita memercayainya. Dan dengan keyakinan itulah maka manusia akan bisa menuai kebahagiaan di akherat.

Wallahu a’lam bi al shawab.

NYEKAR

NYEKAR

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Saya tidak tahu apa makna mimpi. Di dalam mimpi itu,   saya mencari makam keluarga saya, khususnya Bapak. Di dalam mimpi itu kelihatan bahwa makam atau kuburan itu selesai dibangun dan maesan atau tenger  pada makam tersebut banyak yang terpendam separuh. Saya mencari makam Bapak dan akhirnya ketemu. Makam keluarga saya berada di dalam satu kompleks mulai dari canggah, buyut, kakek dan Bapak serta kerabat dekat atau jauh. Memang makam desa merupakan tempat pemakaman yang terdiri dari berbagai kerabat di dalam suatu desa.

Saya lalu menafsirkannya sendiri, bahwa mungkin saja Bapak mengingatkan saya agar saya nyekar atau ziarah  ke makamnya, sebab pada hari raya Idul Adha kemarin saya tidak pulang karena harus bersama keluarga ke Batu Malang. Biasanya menjelang hari raya harus saya sempatkan untuk pulang dengan tujuan menjenguk Emak dan nyekar ke kuburan Bapak dan leluhur. Tetapi kali ini saya terpaksa tidak bisa datang karena ada udzur yang tidak bisa saya tinggalkan.

Setelah mimpi itu, saya harus merancang untuk ke Tuban, ke desa saya. Saya akhirnya bisa berziarah ke makam Bapak dan leluhur. Sebelum saya berziarah ke makam Bapak dan leluhur,  terlebih dahulu saya menziarahi makam Syekh Boka Baki atau Syekh Al Baqi. Oleh masyarakat local, makam tersebut disebut sebagai leluhur desa. Meskipun bukan makam tertua di desa ini,  akan tetapi berdasarkan kajian sementara maka beliau adalah generasi ke tiga setelah Sunan Ampel. Semula,  makamnya sebagaimana makam orang biasa saja. artinya hanya terdiri dari maesan saja. Tetapi akhirnya makam Syekh Boka Baki direnovasi. Makam ini diyakini sebagai makam tua karena maesannya berbeda dengan maesan lainnya. Batu maesannya besar dan terdapat symbol yang tidak lazim. Selain itu juga ada pesan dari embah saya, Ismail,  modin Dusun Semampir untuk merawat makam tersebut. Berdasarkan metode Barzakhi, memang benar makam tersebut adalah makam auliya.

Makam Syekh Boka Baki adalah  makam tua, meskipun tidak diketahui tahun berapa  Beliau hidup.  Akan  tetapi melihat bahan artefaks pada makamnya dapat diketahui bahwa Beliau adalah keturunan Kanjeng Sunan Ampel dan ke atas sampai ke Kanjeng Syekh  Ibrahim Asmaraqandi dan Kanjeng Syekh  Jumadil Kubro. Kita tidak tahu dari jalur mana, akan tetapi makam Syekh Boka Baki atau Syekh Al Baqi ini memiliki kesamaan dengan artefaks pada makam-makan auliya tersebut, yaitu symbol segitiga terbalik.

Saya pernah melakukan pelacakan atas symbol-simbol ini di makam-makam para waliyullah, mulai dari Kanjeng Eyang Jumadil Kubro, Kanjeng Eyang Ibrahim Asmaraqandi, Kanjeng Eyang Sunan Ampel, Kanjeng Eyang Sunan Bonang dan Kanjeng Eyang Sunan Drajat, ternyata terdapat symbol-simbol yang sama. Segitiga terbalik. Di dalam buku “Melacak Jejak Waliyullah di Tuban Bumi Wali: The Spirit of Harmony” yang diterbitkan oleh Pemkab Tuban, 2021, maka saya gambarkan tentang Kanjeng Eyang Syekh Boka Baki ini. Setiap tahun juga dilakukan acara khoul yang diselenggarakan oleh umat Islam di Dusun Semampir, Sembungrejo.

Bagi saya, Makam Syekh Al Baqi  sungguh istimewa. Saya marasakan ketenangan kala membaca kalimat thayibah sebagaimana yang biasa saya membacanya. Hanya memang harus disingkat agar tidak terlalu panjang. Sesuai dengan keyakinan saya, bahwa bacaan-bacaan yang saya lantunkan tersebut akan sampai kepada Beliau atas seizin Allah. Melalui washilah kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW, saya berkeyakinan bahwa bacaan dan doa tersebut akan sampai kepada yang bersangkutan.

Tidak perlu dalil yang rumit, sebab berdasarkan pengalaman yang hadir di dalam diri saya, maka bacaan kalimat thayyibah tersebut akan sampai. Saya tentu tidak bisa menguraikan secara mendalam pengalaman religious dimaksud karena pengalaman religious selalu bercorak individual dan tidak bisa direplikasi bahkan oleh yang memiliki pengalaman itu sendiri.

Setelah menyelesaikan tawasulan dan dzikir serta doa, maka saya bergegas mendatangi kubur ayah dan leluhur saya. Kembali saya bacakan kalimat thayyibah,  doa dan kemudian mengakhirinya dengan taburan bunga yang sudah disiapkan oleh keluarga saya. Saya datangi satu persatu, Bapak, Mbah Ismail, Mbah Sarijah, Mbah Wagiman, Mbah Sadirah, adik Muhammad Fulan, Mbah Muhammad Salim, Mbah Tarmi, Bapak Rais, dan seluruh kerabat dekat saya.

Setelah semuanya selesai, saya kembali ke rumah dengan perasaan lega karena hari itu saya bisa menunuaikan tugas sebagai bakti kepada orang tua, yaitu menziarahi kuburnya. Ya Allah saya selalu berdoa: “rabbighfirli wa liwalidaiyya warhamhuma kama rabbayani shagira”. Amin.

Wallahu a’lam bi al shawab.

PINTU MASUK SURGA BERAGAM (2)

PINTU MASUK SURGA BERAGAM (2)

Artikel ini melanjutkan tulisan kemarin terkait dengan ceramah ba’da shubuh di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya, 04/07/2023. Dalam artikel kemarin sudah saya jelaskan dua jalan menuju surga, yaitu Jalan Khauf dan Jalan Ridla. Takut kepada Allah dan ridla Allah. Jalan inilah yang akan mengantarkan seseorang masuk ke dalam surga Allah  bi salamin aminin. Dua jalan lainnya adalah:

Ketiga,  jalan hubb atau cinta. Yaitu jalan untuk mencapai surga melalui cinta yang  tidak terhingga kepada Allah. Tidak ada di dalam hatinya yang tertaut kecuali Allah. Yang ada hanya Allah saja dan yang lainnya tidak ada. Tidak ada yang lebih dicintainya kecuali Allah. Dunia ini bagi para perindu cinta kepada Allah adalah penjara. Dunia  membuat seseorang akan terperosok ke dalam cinta dunia. Sebuah cinta akan dunia yang tidak abadi yang hanya bersifat sementara. Cinta kepada dunia atau hubbud dunya merupakan penyakit jiwa yang akan membuat seorang individu terperosok di dalam kefanaan dan ketidakabadian.

Islam memberikan gambaran bahwa manusia berkecenderungan untuk mencitai harta dan lawan jenis. Dikiranya bahwa harta itu abadi. Tidak tahunya bahwa harta bukan sesuatu yang abadi menjadi milik kita. Betapa tidak abadinya harta. Hari ini seseorang bisa kaya raya, tetapi besuk bisa bangkrut. Hari ini mendapatkan keuntungan yang besar tetapi besuk merugi yang banyak. Begitulah sifat harta tidak abadi. Di antara orang yang mengira harta abadi adalah Qarun sebagaimana diceritakan di dalam Alqur’an. Akan tetapi ternyata harta tersebut tidak abadi dan bisa hilang karena diambil yang memilikinya.

Selain itu, manusia juga memiliki kecenderungan untuk mencintai lawan jenis. Hubbusy syahawat.  Manusia memiliki nafsu biologis atau nafsu yang terkait berkecenderungan mencintai lawan jenis. Yang lelaki mencintai perempuann dan yang perempuan juga mencintai lelaki, bahkan ada yang mencintai sesama lelaki atau sesama perempuan. Ada kaum Lesbian, Gay, Biseks dan Transgender (LGBT). Dalam sejarah kenabian, dinyatakan di dalam Alqur’an bahwa terdapat kaum yang kemudian ditimpa bencana karena melakukan tindakan seks yang menyimpang. Mereka adalah Kaum Sodom di Gomorah yang kemudian menjadi label bagi penyuka sesama jenis. Mereka tidak tertarik dengan lawan jenis tetapi sesama jenis.

Lalu, manusia juga menjadi pecinta keturunan. Di dalam Alqur’an dijelaskan tentang kecenderungan manusia untuk mencintai dan membanggakan keturunannya. Harta dan keturunan memiliki posisi penting di dalam kehidupan manusia. Keduanya dan ditambah dengan syahwat terhadap lawan jenis merupakan hiasan duniawi yang bisa memalingkan cinta manusia kepada Allah. Nabi Sulaiman diuji dengan harta dan kekuasaan, Nabi Ibrahim diuji dengan keturunan, dan Nabi Nuh juga diuji dengan istri dan keturunannya. Itulah sebabnya para ahli tasawuf tidak mau untuk mencintai selain Allah dengan hidup sendiri, sebagaimana yang dilakukan oleh Rabiah Al Adawiyah. Perempuan cantik tetapi tidak tergoda dengan harta dan lawan jenis dan juga kekuasaan. Seluruh hidupnya hanya diperuntukkan untuk Allah semata.

Keempat, jalan raja’ atau jalan penuh harapan. Yaitu jalan yang ditempuh dengan penuh harapan bahwa Allah akan mengampuni dan meridlai. Jalan ini ditempuh oleh orang-orang yang memiliki keinginan memasuki surga Allah tetapi dengan segala keterbatasan. Mungkin seseorang tidak mampu untuk menggenggam jalan cinta yang sedemikian berat tantangan dan kenyataannya. Juga tidak mampu untuk memasuki surga  melalui jalan ridla karena keterbatasan kapasitas untuk menyenangkan Allah dengan total, atau bahkan juga tidak bisa memasuki jalan khauf karena juga kemampuannya yang tidak total dalam ketakutan kepada Allah. Ada moment menjalankan perintah Allah dengan kaffah tetapi di lain kesempatan juga tidak patuh sepenuhnya kepada Allah.   Namun demikian, orang yang seperti ini selalu  berdoa kepada Allah untuk memperoleh keselamatan. Bahkan keselamatan yang diminta bukan hanya untuk dirinya, akan tetapi untuk keluarganya, komunitas dan masyarakatnya.

Allah telah memberikan piranti yang sangat banyak untuk memasuki surga dengan jalan ini. Ada banyak doa dan harapan. Ada banyak permohonan kepada Allah dan juga kepada Nabi Muhammad SAW agar berada di dalam barisan orang yang selamat fid dini, wad dunya wal akhirah. Ada banyak doa yang dicantumkan di dalam Alqur’an dan juga doa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Semua itu adalah instrument untuk memperoleh keselamatan. Bahkan juga ada yang menyatakan khauf dan raja’ merupakan dua jalan  yang saling terkait. Artinya tidak bisa dipisahkan. Ada ketakutan masuk neraka maka seseorang berdoa dengan total kepada Allah untuk memperoleh keselamatan.

Dengan pengamalan beragama yang tidak sebagaimana para ahli tasawuf, misalnya Hasan Basri yang mengembangkan konsep tasawuf ridla, atau Rabiah Al Adawiyah yang mengembangkan konsep tasawuf cinta, atau tasawuf Imam Al Ghazali  yang berlabel tasawuf khauf dan tasawuf raja’  maka yang diharapkan adalah agar kita dapat   memasuki barisan  orang yang mendapatkan rahmat Allah kelak di alam akherat. Kita tetap menjadi barisan kaum ashabul yamin dan bukan ashabul syimal.

Melalui doa yang terus kita lantunkan dan juga permohonan ampunan kepada Allah dan terus mencintai Nabi Muhammad SAW semoga kita tetap berada di dalam jalan yang benar untuk meniti jalur ke surga yang dijanjikan Allah.

Wallahu a’lam bi al shawab.

PINTU MASUK SURGA BERAGAM (1)

PINTU MASUK SURGA BERAGAM (1)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Pengajian pada Komunitas Ngaji Bahagia memang memiliki kekhasan, yaitu membahas hal-hal yang dianggap penting sesuai dengan yang diinginkan oleh jamaahnya. Jadi tidak ada pedoman baku secara sistematis. Lebih bercorak tematik sesuai dengan keperluan yang dianggap penting.

Pada pengajian Selasa pagi ba’da shubuh, 04/07/2023, di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya, terdapat pertanyaan yang menarik sebagaimana yang disampaikan oleh Pak Suryanto, peserta pengajian paling senior. Pak Sur, begitulah biasanya kami semua memanggilnya, menyatakan: “di dalam artikel yang pernah saya baca, bahwa orang bisa masuk surga  karena ketakutannya pada Allah dengan melakukan semua perbuatan yang diamanahkan dan menghindari semua perbuatan yang dilarang. Apakah benar jalan ke  surga tersebut melalui jalur ini?”.

Saya memberikan penjelasan berdasarkan pengetahuan saya yang terbatas tentang ajaran Islam dalam kaitannya dengan surga dan amalan yang sebaiknya dilakukan. Saya menyatakan bahwa ada berbagai macam ragam para ahli di dalam menafsirkan dan mengamalkan ajaran Islam sesuai dengan kapasitasnya. Saya mencoba untuk memberikan penjelasan berdasarkan paham keberagamaan yang menurut saya relevan, yaitu ada empat jalan menuju surganya Allah SWT. Artikel ini adalah tulisan pertama terkait dengan tema di atas.

Pertama, lewat jalan khauf atau takut kepada Allah SWT. Yang dimaksud dengan khauf adalah takut untuk melakukan tindakan yang salah dan takut untuk tidak melakukan tindakan yang benar sesuai dengan ajaran Islam.  Khauf memiliki cakupan yang luas tetapi substansinya adalah ketakutan kepada Allah untuk menjauhi larangannya dan menjalankan perintahnya. Allah telah mewajibkan kepada umatnya untuk patuh dan taat atas perintah Allah dan menjauhi semua larangan Allah. Manusia harus menjadi seorang yang mukmin atau percaya kepada keberadaan Allah dan semua kegaiban yang terkait dengan ajaran Islam. Gaib di dunia tetapi kenyataan di akherat. Misalnya surga,  neraka, mahsyar adalah kegaiban di dunia. Termasuk malaikat, wahyu dan juga makhluk gaib lainnya sesuai dengan berita di dalam Alqur’an. Bisa jadi hal tersebut kegaiban di dunia tetapi menjadi realitas di akherat.

Saya membagi khauf dalam dua hal, yaitu khauf negative dan khauf positif. Khauf disebut negative jika ketakutan itu membuat diri kita terbelenggu di dalam ketakutan dan berakibat menutup diri dalam pergaulan dunia. Kita melarikan diri dari kehidupan duniawi. Kita hanya terfokus mengejar akhirat dengan melupakan tugas dan kewajiban sebagai khalifah Allah fil ardhi. Makanya, kita takut kepada Allah dengan tetap berada di dalam kapasitas sebagai manusia yang memiliki hak dan kewajiban sebagai manusia di dalam keluarga, komunitas dan masyarakat. Nabi Muhammad SAW pernah menegur Sahabat Salman al Farisi, karena Salman hanya mementingkan kehidupan akhirat dan melupakan tanggungjawabnya sebagai bagian dari keluarga. Saya melihat ada banyak dalil di dalam Alqur’an maupun hadits Nabi Muhammad yang mengedepankan ajaran keseimbangan antara kehidupan duniawi dan ukhrawi. Islam mengajarkan agar takut kepada Allah tidak menghalangi kita untuk hidup dalam kehidupan sebagai individu, keluarga dan anggota masyarakat. Maka, kita harus berada di dalam sikap takut yang positif yaitu sikap untuk tidak menutup diri akan tetapi menyeimbangkan antara tugas dan kewajiban duniawi dengan menyelaraskan pada  kepentingan ukhrawi. Di masa lalu, uzlah itu dimaknai dengan menyediri di dalam gubug wirid atau zawiyah yang hanya berkonsentrasi untuk tujuan ukhrawi, tetapi dewasa ini terdapat perubahan bahwa uzlah adalah menyendiri di dalam perilaku kebaikan di tengah kehidupan social.

Kedua, melalui jalan Ridla Allah.  Ridla di dalam Bahasa Indonesia disebut rela atau jika dikaitkan dengan Allah maka berbunyi kerelaan Allah. Kerelaan itu terkait dengan dua entitas yang sama atau beda dan dua-duanya memiliki satu focus tentang sesuatu. Misalnya manusia dan Tuhan, maka kerelaan atau ridla tersebut terkait dengan manusia melakukan suatu Tindakan yang berupa amalan shaleh dan Allah meridlai atau mersetui atas apa yang dilakukan manusia tersebut.

Di dalam konteks ridla, maka dipastikan ada gelombang yang sama meskipun berasal dari dua entitas yang berbeda. Manusia dan Tuhan merupakan dua entitas yang berbeda tetapi bisa bertemu di dalam gelombang spiritual yang sama. Sebagai contoh yang lebih empiris, misalnya keridlaan orang tua akan terjadi jika anaknya dapat menyenangkan hati orang tuanya. Jika dipanggil orang tuanya akan segera datang. Jika disuruh akan segera dikerjakan, dan jika dilarang tidak akan dilakukannya. Peran orang tua sangat besar di dalam kehidupan sebab di dalam sebuat teks dinyatakan bahwa keridlaan orang tua adalah keridlaan Tuhan. Ridlallah fi ridhal walidain.

Ridla Allah adalah segala-galanya. Jika Allah sudah ridla maka Allah akan memberikan segalanya untuk umatnya. Jangankan memohon surganya Allah, memohon yang lebih dari surga pun akan diberikannya. Di dalam teks diyakini bahwa para ahli surga akan dapat melihat eksistensi Allah. Meskipun terdapat perbedaan pendapat dari para ahli ilmu kalam, tetapi diyakini secara substansial bahwa Allah akan menampakkan diri pada ahli surga.

Di antara umat manusia yang dapat bertemu Allah adalah Nabiyullah Muhammad SAW. Di dalam peristiwa Mi’raj hal tersebut terjadi. Mengapa bisa seperti itu, karena Nabi Muhammad SAW adalah kekasih Allah, yang bahkan diberikan otoritas untuk memberikan syafaat fi yaumil mahsyar. Begitu cintanya Allah kepada Nabi Muhammad SAW, sehingga otoritas yang sesungguhnya hanya milik Allahpun diberikannya. Contoh lain adalah Nabi Ibrahim yang karena cintanya Allah yang sedemikian besar, maka api pun tidak sanggup membakarnya. Contoh lain adalah Nabi Musa yang bisa membelah laut menjadi jalan lempang yang mengantarkannya pada keselamatan.

Dengan demikian, keridlaan Allah merupakan pintu utama di dalam menggapai kebahagiaan di alam akherat. Siapa yang bisa menyenangkan Allah, maka Allah juga akan mencintainya. Kita telah melakukan sekurang-kurangnya beribadah sesuai dengan kemampuan, semoga hal ini dapat menjadi pintu masuk ke dalam ridlanya Allah SWT. Amin.

Wallahu a’lam bi al shawab.