• May 2026
    M T W T F S S
    « Apr    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

MEMOHON AMPUNAN KALA HISAB

MEMOHON AMPUNAN KALA HISAB

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Di dalam ajaran Islam, Allah SWT atau Tuhan Yang Maha Kuasa itu sangat menyayangi hambanya. Hal tersebut sesuai dengan sifat Rahman dan Rahim Tuhan yang diperuntukkan bagi manusia dan alam seluruhnya. Oleh Allah SWT, manusia diciptakan sebagai sebaik-baik dan seutama-utama ciptaannya. Tidak ada makhluk lain yang diciptakan oleh Allah SWT sebagai sebaik-baik ciptaan selain manusia.

Memang ada malaikat, sebagai makhluk Allah SWT yang sangat taat dan patuh pada Allah SWT. Tidak pernah membangkang kepada perintah Allah SWT, akan  tetapi malaikat tidak diberi kekuatan akal dengan seperangkat pilihannya. Ada empat inteligensi yang diberikan oleh Allah kepada manusia, yaitu ada rational intelligent,  emotional intelligent,  social intelligent dan spiritual intelligent. Malaikat diberi kekuatan akal spiritual, tetapi tidak diberikan emotional dan social intelligent bahkan tidak rational intelligent. Tetapi manusia diberi keempatnya sekaligus. Syetan hanya diberikan rational intelligent untuk menjerumuskan manusia ke jurang neraka, sedangkan jin diberikannya kemampuan rational, dan spiritual. Jin dan manusia diciptakan oleh Allah untuk mengabdi kepada-Nya.

Akan tetapi manusia memiliki beban yang berat, sebab harus melakukan pilihan di dalam kehidupannya. Melalui kelengkapan akal sebagaimana di atas maka manusia diberi peluang untuk memilih mana yang terbaik dan mana yang terburuk. Untuk melakukan pilihan tersebut, manusia diberikan pedoman kehidupan melalui rasul-rasulnya atau nabi-nabinya. Setiap bangsa diberikan nabi sebagai pemuka dan pendakwah dengan pedoman yang diberikan oleh Allah SWT berupa agama.

Allah SWT telah memberikan pedoman kepada Nabi Muhammad SAW berupa Kitab Suci Alqur’an yang akan terus terjaga autentisitasnya. Tidak akan mengalami perubahan di dalam teks-teks sucinya. Allah menurunkan teks yang kemudian dapat dikodifikasi pada zaman Khalifah Utsman bin Affan dan juga Allah menjaganya lewat para hafidz dan hafidzah yang bisa menghafal Alqur’an 30 juz. Tentu tidak mudah untuk menghafalnya tetapi karena kekuasaan Allah untuk menjaga kitab Sucinya, maka menghafal Alqur’an dapat dilakukan.

Manusia dengan berbagai kecerdasan yang dimilikinya memiliki konsekuensi dapat memilih jalan yang benar dan jalan yang salah. Bagi yang melakukan kebaikan akan diberikan pahala dan bagi yang tidak melakukannya maka mendapatkan siksa. Bagi yang berpahala akan bisa memasuki surganya Allah dan bagi yang melakukan perbuatan yang salah maka akan mendapatkan nerakanya Allah. Dengan demikian, surga dan neraka adalah ujung akhir dari kehidupan manusia, khususnya roh.

Sesungguhnya utusan Allah sudah diturunkan kepada manusia. Kitab yang dijadikan pedoman untuk melakukan kebaikan juga sudah diberikan Allah kepada manusia. Jadi ujung akhirnya adalah pilihan rasional manusia yang menentukan, apakah dia akan menjadi mukmin atau  kafir. Menjadi muslim atau musyrik. Semuanya tergantung kepada manusia yang telah melakukan pilihan.

Tidak ada satupun manusia yang berharap kehidupannya sengsara, semuanya berkeinginan bahagia. Kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akherat. Kebahagiaan sekarang dan kebahagiaan yang akan datang. Tidak bisa dipisahkan satu dengan lainnya. Hanya kebahagiaan di dunia saja atau kebahagiaan di akherat saja. Keduanya harus berbahagia.

Untuk mendapatkan kebahagiaan maka seseorang bisa melalui upaya yang sungguh-sungguh. Inilah makna jihad sebagaimana penafsiran oleh kaum Ahli sunnah wal jamaah,

Jika dihitung masa ibadah kita kepada Allah dengan masa hidup kita tentu tidak seimbang. Sebegitu sedikit waktu ibadah dan sebegitu banyak waktu lainnya. Waktu bekerja, waktu perjalanan, waktu meeting atau ngopi dan ngemall jauh lebih panjang. Jika menghitung ini, maka akan sulit manusia untuk  memperoleh kebahagiaan di akhirat. Atau jika masih memiliki peluang, maka termasuk golongan sepertiga manusia yang terakhir bisa memasuki surganya Allah.

Itulah sebabnya, kita diajari untuk berdoa terutama ba’da shalat. Doa yang pendek tetapi memiliki kedalaman makna. Doa itu mengajak kepada kita semua agar memohon kepada Allah agar kita memperoleh surganya dan memperoleh ampunan pada waktu  dihisab atau dihitung amal ibadah kita. Doa tersebut berbunyi: “allahumma inna nas alukal jannata wal ‘afwa ‘indal hisab. Yang artinya kurang lebih adalah: “Ya Allah sesungguhnya kami memohon surga dan ampunan pada waktu dihisab”.

Doa yang pendek tetapi sangat penting. Doa yang dapat dibaca sewaktu selesai melakukan dua salam pada akhir shalat. Jika kita melakukan shalat wajib lima kali sehari, maka kita akan dapat membacanya lima kali. Sebenarnya boleh juga dibaca pada waktu kapan saja. Tetapi bagi yang terbiasa membaca ba’da shalat, maka akan menjadi tradisi membaca doa tersebut setiap selesai shalat.

Sesungguhnya, jika kita membandingkan antara amal ibadah kepada Allah SWT dibandingkan dengan amal perbutan lainnya tentu tidaklah seimbang. Betapa sedikitnya waktu kita beribadah kepada Allah dan sebegitu banyak perbuatan lainnya. Oleh karena itu, ada satu lagi yang rasanya penting untuk direnungkan bahwa selain kita beribadah kepada Allah SWT, maka yang juga penting adalah berbuat baik kepada manusia.

Semoga saja dengan kita berbuat baik kepada manusia, akan dapat menjadi pemberat bagi amal kita yang masih sedikit di hadapan Allah SWT. Oleh karena itu, semoga dengan sudah melakukan  ibadah kepada Allah, dan ditopang dengan perbutan baik kepada manusia, maka ujung akhirnya kita akan mendapatkan rahmat Allah SWT.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

MEMBELA KEMANUSIAAN HAKIKATNYA MEMBELA ISLAM

MEMBELA KEMANUSIAAN HAKIKATNYA MEMBELA ISLAM

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Istilah membela Islam menjadi bagian tidak terpisahkan dari slogan-slogan yang diunggah di media social, di dalam ceramah-ceramah agama dan perbincangan tentang Islam oleh sejumlah individu yang tergabung misalnya di dalam Front Pembela Islam (FPI) dan Jamaah Ansharud Daulah (JAD), dan Jamaah Ansharut Tauhid (JAT). Tentu saya tidak bermaksud menyamakan FPI dengan JAD dan JAT, tetapi dari sisi diksi  memang ada kesamaan meskipun di dalam praktik ada perbedaan.

JAD berjihad dengan bom bunuh diri atau suicide bombing, demikian pula JAT. Tetapi konteks FPI lebih ke amar ma’ruf nahy mungkar dengan misalnya melalui sweeping meskipun dengan  kekerasan. Tidak jarang kita dengan melakukan amar ma’ruf nahyi mungkar dengan menggunakan Allah akbar, tetapi merusak fasilitas di tempat yang disweeping. Akhirnya menimbulkan stigma  atau semacam bahasa olok-olokan bahwa kata Allahu Akbar dijadikan sebagai sarana untuk merusak fasilitas seseorang.   Allahu Akbar itu selama ini dijadikan sebagai teks di dalam shalat atau hal-hal lain yang berupa ketakjuban atas terjadinya peristiwa tertentu.

Semua yang dilakukan  dianggap sebagai tafsir ajaran agama, khususnya jihad. Jihad  dimaknai perang, baik di daerah perang maupun non perang, sehingga sah-sah saja melakukan tindakan bunuh diri sebagai konsekuensi “harakah ijtihadiyah”. Konsep harakah ijtihadiyah tidak mengenal wilayah  damai atau perang. Inilah penafsiran kaum jihadis yang berbeda dengan tafsiran Islam ahlu sunnah wal jamaah. Bagi kalangan ahli tafsir Islam ahlu sunnah wal jamaah, jihad  adalah berbuat sesuatu yang sungguh-sungguh.

Diksi membela Islam tentu bukan kesalahan. Membela Islam itu sama maknanya dengan membela agama Allah. Tetapi yang perlu menjadi catatan adalah Islam itu pedoman untuk kehidupan. Islam itu jalan untuk mencapai keselamatan. Islam itu jalan untuk memperoleh keridlaan Allah. Islam itu jalan untuk mengikuti sunnah Rasul, Muhammad SAW. Sebagai jalan untuk kehidupan, tentu sudah penuh dengan kebenaran. Dan hal ini tidak diragukan. Di dalam Surat Albaqarah, Alif lam mim, dzalikal kitabu La raibafihi hudan lil muttaqin. Yang artinya: “alif lam mim, inilah kitab (Alqur’an) yang tidak ada keraguan di dalamnya untuk petunjuk bagi orang yang bertaqwa”.

Kala kita menyebut  ungkapan “membela Islam” atau  “membela Allah”, maka hakikatnya bukanlah Allah yang dibela, atau membela Islam  sebagai pedoman kehidupan, akan tetapi membela Allah itu secara hakiki adalah membela manusia yang menjadi khitab ajaran Islam atau membela masyarakat secara umum. Secara sempit membela umat Islam dan secara luas adalah membela kemanusiaan. Allah sebagai ilah dan rabb tentu tidak perlu dibela, sebab dengan ungkapan membela Allah hakikatnya justru mengerdilkan kekuasaan Allah. Makanya kala diungkapkan membela Allah,  maka hakikatnya adalah membela atas kebenaran yang diproduksi oleh Allah. Bukankah Allah itu produsen hakiki tentang kebenaran. Jadi yang dibela adalah kebenaran yang hakiki. Membela  umat Islam secara khusus dan membela kemanusiaan secara umum merupakan inti   membela Islam, dan membela  Allah. Jadi kata kuncinya adalah membela kemanusiaan.

Ada sebuah pernyataan yang menarik untuk direnungkan sebagaimana diungkapkan oleh Gus Dur, bahwa jika kamu berbuat baik kepada sesama manusia, maka orang tidak akan bertanya apa agamamu. Betapa mendalamnya pernyataan ini. Artinya bahwa berbuat baik adalah kunci dari semua relasi social baik yang berbasis kesamaan agama, kesukubangsaan atau yang berbeda agama dan berbeda kesukubangsaannya. Janganlah misalnya kita akan menolong orang yang sedang kecelakaan di jalan raya, lalu kita tanya dulu apa agamanya. Di dalam kenyataan social semacam ini, maka yang menjadi ukurannya adalah kemanusiaan. Menolong orang yang sedang dalam mengalami penderitaan merupakan kewajiban bagi kemanusiaan.

Bukankah di dalam Islam terdapat suatu konsepsi: dar ul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil mashalih, yang artinya menghindari kemafsadatan itu diutamakan dibandingkan dengan melakukan kemaslahatan. Jika menghindari kemafsadatan saja lebih diutamakan, maka menolong orang yang berbeda etnis, suku bangsa dan bahkan agama tentu dapat didahulukan di kala memang terdapat masalah yang terjadi. Dengan kata lain, dalam keadaan kesulitan, maka mendahulukan siapa saja tentu bukan halangan. Basis dasarnya adalah perasaan kemanusiaan. Mendahulukan ukhuwah basyariyah dalam keadaan mengharuskan kita melakukannya merupakan “kewajiban insaniyah”.

Demikianlah keindahan berislam.  Kita  bersyukur dapat menjadi umat Islam yang memiliki prinsip mendasar tentang hablum minan nas dan tidak hanya hablum minal muslim. Melalui prinsip membangun relasi yang baik berbasis kemanusiaan, maka Islam mengedepankan kemanusiaan di atas semuanya.

Oleh karena itu, kala kita membela kemanusiaan hakikatnya adalah membela agama Allah atau  membela Islam.  Dan hal itu  berarti kita membela terhadap kebenaran yang dimisikan oleh agama Islam. Jadi jangan diartikan bahwa kita membela Allah atau  membela Islam tetapi yang dijadikan instrument adalah kekerasan. Itu pasti bukan membela Islam, sebab membela Islam itu maknanya adalah membela ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Wallahu a’lam bi al shawab.

MANUSIA TAK KUASA MELAWAN WAKTU

MANUSIA TAK KUASA MELAWAN WAKTU

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Agama Islam mengajarkan betapa pentingnya waktu. Waktu ternyata menjadi bagian tidak terpisahkan dari sejarah alam semesta. Waktu yang menentukan atas perjalanan kehidupan manusia dan alam seluruhnya. Waktu itu berjalan tanpa henti. Terus menerus berjalan seirama dengan kepastian Tuhan. Kepastian bagi alam dan kepastian bagi manusia. Tak ada yang tidak berjalan dengan waktu.

Waktu itu seperti pedang. Artinya dia akan terus memotong perjalanan kehidupan. Tidak ada yang bisa menghentikannya. Waktu berjalan sesuai dengan ketentuan Tuhan. Jika dikaitkan dengan manusia, maka waktulah yang menentukan kapan seseorang harus lahir dan kapan seseorang harus wafat. Ada yang berusia panjang dan ada yang berusia pendek. Semua berjalan di atas waktu yang sudah ditetapkan.

Begitu sentralnya waktu, sampai-sampai Allah SWT sering menggunakan waktu sebagai sumpahnya. Artinya betapa pentingnya waktu itu bagi manusia, alam semesta bahkan bagi Allah SWT. Di dalam konteks sumpah, maka Allah menggunakan waktu, misalnya: wal ‘ashr atau demi waktu ashar, lalu Wal laily atau demi waktu malam, kemudian wal fajri atau demi waktu fajar, dan wasy syamsi atau demi matahari atau demi waktu siang. Semua ini menggambarkan betapa waktu itu menjadi sangat penting dalam kehidupan manusia dan alam, sehingga Allah menjadikannya sebagai sumpahnya.

Pada artikel ini saya akan membahas mengenai sumpah Allah SWT sebagaimana tertera di dalam Surat Al Ashr, ayat 1 dan seterusnya. Allah SWT berfirman di dalam Surat Al Ashr yang bunyi teksnya sebagai berikut: ‘wal ashr. Innal insana la fi khusr. Illal ladzina amanu wa ‘amiuish shalihati wa tawa saubil haqqi wa tawa shaubish shabr. Yang artinya secara general adalah: “demi waktu. Sesungguhnya manusia dalam keadaaan merugi. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih dan saling berwasiat tentang kebenaran dan berwasiat tentang kesabaran”.

Untuk mengingatkan manusia agar melakukan kebaikan tersebut Allah SWT menggunakan metapora waktu yang terus berjalan tanpa henti bahkan sedetikpun. Waktu terus berjalan dalam siang dan malam, dalam hari kerja maupun liburan, dan terus berjalan di keramaian dan ketenangan, dalam keadaan perang atau damai. Waktu seperti pisau yang mengiris kehidupan  dari suatu saat ke saat yang lain.

Terkadang jika kita berada di dalam diam maka rasanya waktu berjalan agak lambat, namun di saat kita melakukan aktivitas yang menumpuk,  tiba-tiba waktu terasa cepat sekali berjalan. Mula-mula shalat subuh, tiba-tiba shalat dhuhur, lalu ashar, magrib, isya dan shubuh lagi. Waktu berjalan dengan cepat dan bahkan terkadang ada yang merasa kurang waktu karena kita harus menyelesaikan pekerjaan yang belum tuntas. Bahkan dengan perkembangan teknologi dirgantara maka orang bisa saja sarapan pagi di Ghuangzou dan makan siang di Jakarta. Waktu perjalanan bisa dilipat tanpa terasa.

Allah bersumpah dengan waktu artinya betapa sentralnya waktu tersebut. Jika manusia lalai dengan tugasnya untuk beribadah kepada Allah SWT, maka tanpa terasa tiba-tiba sudah mendekati waktu yang dijanjikan oleh Allah. Takdir kematian yang tidak bisa ditunda atau dimajukan. Allah benar-benar berwasiat kepada kita untuk memahami perubahan waktu yang  cepat dan kita harus menunaikan janji kita kepada Allah SWT.

Dengan tegas Allah menyatakan bahwa manusia akan merugi jika tidak menjadi manusia yang melakukan kebaikan. Perbuatan kebaikan tersebut ditujukan kepada Allah melalui ibadah sesuai dengan petunjuknya, atau melakukan kebaikan kepada sesama manusia sebagai perwujudan atas sifat-sifat kemanusiaan kita yang terdapat di dalamnya kasih sayang dan bahkan juga kita menyayangi alam sebagai sesama ciptaan Allah SWT.

Sungguh manusia akan merugi jika tidak melakukan amalan kebaikan. Di dalam teks Alqur’an dinyatakan kecuali orang-orang yang beriman kepada Allah SWT dan berbuat baik dan orang yang berwasiat tentang kebenaran dan berwasiat tentang kesabaran. Marilah kita renungkan teks Aqur’an ini. Pertama, iman. Dunia keyakinan memang dunia abstrak. Berada di dalam hati dan pikiran yang bisa dinyatakan irrasional, tidak masuk akal. Iman yang benar memang tidak harus masuk akal dalam konteks ada wujud atau bendanya. Iman itu sesuatu yang berbeda dengan semua itu. Iman  memerlukan kesaksian batin, keyakinan batin yang berpadu dengan akal supra rasional.

Keyakinan membutuhkan atas kebenaran yang mutlak atau ultimate something atau sesuatu yang tidak terbatas. Tuhan itu lebih abstrak dibandingkan dengan jiwa. Sesuatu yang tidak kasatmata. Mengenai jiwa orang hanya melihat gejalanya tetapi tidak melihat jiwanya. Para ahli psikhologi lalu menjadikan psikhologi atau ilmu jiwa atau al ilm al nafs  adalah perilaku. Akhirnya ilmu jiwa itu adalah ilmu perilaku. Riset ilmu jiwa adalah penelitian perilaku manusia yang tampak. Iman itu keyakinan yang terpateri di dalam jiwa dan diungkapkan secara lesan. Kita  mempercayai keberadaan Tuhan dengan lisan dan hati.

Kedua, amal shalih. Seseorang harus melakukan perbuatan yang baik. Manusia harus mengabdi secara total kepada Allah dan juga harus mengabdi kepada kemanusiaan. Cintailah diri orang lain sebagaimana kamu mencintai dirimu sendiri. Manusia memang memiliki potensi untuk berbuat khilaf terhadap orang lain, akan tetapi Allah memberikan instrument untuk saling memaafkan. Di dalam Islam selalu terdapat solusi atas sesuatu yang “bermasalah” dalam relasi dengan sesama manusia.

Ketiga, wasiat tentang kebenaran dan kesabaran. Manusia memiliki potensi kesalahan, kekhilafan dan dosa, maka Allah memberikan instrument agar manusia saling berwasiat atau saling menasehati. Jika ada di antara kita yang melakukan kesalahan agar diluruskan untuk melakukan kebaikan atau kebenaran dan jika ada menghadapi apapun yang memerlukan pemikiran dan tindakan yang sulit agar bersabar. Jika sedang menerima masalah hendaknya bersabar sambil terus berupaya untuk menyelesaikannya. Islam mengajarkan bahwa bersabar adalah keindahan, fashabrun jamil.

Oleh karena itu, marilah kita manfaatkan waktu yang masih ada di dalam kehidupan kita dengan setidak-tidaknya menjadikan Surat Al Ashr ini sebagai pedoman di dalam kehidupan. Kita semua berkeyakinan bhwa kita dapat  melakukannya sesuai dengan kapasitas dan kemampuan yang kita miliki. Yang penting harus berusaha.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

MENJAGA AGAMA KITA

MENJAGA AGAMA KITA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Hari ini, Senin, 29/05/2023, saya ke Jakarta untuk menghadiri undangan Prof. Kamaruddin Amin, Dirjen Bimas Islam dan lanjut hadir pada acaranya Prof. M. Ali Ramdlani, Dirjen Pendidikan Islam. Dua acara yang sangat penting untuk masa depan Indonesia. Yang di Ditjen Bimas Islam terkait dengan menyiapkan da’iyah masa depan, dan yang di Ditjen Pendis untuk menyiapkan kelanjutan kepemimpinan PTKIN empat tahun ke depan. Dua acara yang sangat strategis bagi Kemenag RI. Saya menunggu berangkatnya pesawat dan kemudian melakukan muhasabah  tentang kehidupan ini.

Tanpa terasa usia semakin merambat tua. Rasanya baru beberapa saat yang lalu kita menikmati kekuatan, kesehatan, kekayaan dan bahkan kekuasaan, tetapi tanpa terasa semua sudah berkurang. Kekuasaan sudah harus berhenti karena pejabat tidak boleh lebih dari 60 tahun. Harta juga biasa saja. Tidak ada yang berlebih. Cukuplah. Kesehatan tentu juga berkurang. Jika di masa lalu, 10 tahun yang lalu itu begitu perkasa dan sehat, maka tentu di usia di atas 60 sudah berkurang. Kemana-mana memakai jaket atau jas,  bukan karena gagah akan tetapi karena takut masuk angin. Begitu mudahnya angin masuk ke dalam tubuh kita karena pori-pori yang selama ini menjadi benteng, ternyata semakin lebar sehingga angin mudah menerobos. Masuk angin. Di rumah selalu tersedia herbal untuk menanggulangi agar angin di dalam tubuh tidak menjadi masalah.

Sungguh kehidupan memang berjalan cepat seirama dengan cepatnya waktu yang terus berjalan. Ternyata usia juga merambat sedemikian cepat. Hanya karena semangat saja sehingga kita masih bisa bertahan hidup di tengah berbagai “kesulitan” yang kita hadapi. Terkadang terpikir, kala masih muda seakan dunia ini berada di dalam genggaman, dunia mau kita gergaji saja, tetapi seirama dengan pertambahan usia, akhirnya tidak ada lagi yang bisa dibanggakan. Mungkin kita masih merasa bahagia karena masih memiliki anak-anak dan cucu yang menyenangkan. Bisa karena kepatuhannya kepada ajaran agama atau kehidupannya yang relative mapan.

Kehdupan manusia itu seperti cokro manggilingan. Semula di bawah, lahir dan anak-anak yang semua serba memperoleh bantuan. Mandi, berpakaian, makan, sampai tidur dalam pertolongan orang tua, lalu menjadi anak-anak, lalu remaja terus merangkak ke atas sampai kita di puncak kehidupan dengan kekuasaan, kekayaan, pangkat dan jabatan, serta kewibawaan, lalu menjadi semakin senja dengan hilangnya semua itu. Hilang sama sekali, lalu kita berada di bawah lagi, seperti anak-anak. Berjalan dipandu, mandi bahkan terkadang dimandikan, dan tidurpun terkadang harus dibantu terlentangnya. Dan pada saatnya kita kemudian wurud ing kasidan jati, wafat dalam memasuki alam keabadian ruh, yang memang begitulah hukum alamnya.

Tetapi kita semua masih bisa bersyukur karena kita masih bisa mendekap agama kita dengan sungguh-sungguh. Agama yang kita jalani semenjak masih anak-anak dan terus continue kita lakukan. Agama yang menjadi pedoman bagi manusia untuk menepati janji kita kepada Allah sewaktu di alam ruh. Bukankah kita pernah berjanji akan melaksanakan keyakinan kita bahwa Allah SWT adalah Tuhan kita dan kita akan mengabdi kepadanya di alam dunia.

Tangisan bayi yang pertama adalah tanda kehidupan dan sekaligus tanda akan besarnya tanggungjawab atas kehidupan kita. Kala  di alam ruh dan alam kandungan atau disebut sebagai alam buthun kita belum terkena kewajiban atas keyakinan kita tentang Tuhan, yang berupa menjalan perintah Allah, tetapi begitu lahir maka nanti di kala sudah baligh maka kita harus memulai untuk menjalankan perintah-perintah Allah SWT. Menangisnya bayi bukan hanya sekedar tanda hidup akan tetapi juga lambang akan tanggung jawab atas kehidupan duniawi.

Pedoman  mendasar di dalam kehidupan manusia adalah Kitab Suci Alqur’an yang kita yakini diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk menjadi pedoman di dalam kehidupan. Selain  itu juga terdapat sunnah Nabi Muhammad SAW yang juga menjadi pedoman lebih rinci dari ayat-ayat Alqur’an yang mujmal  atau general. Agama kita  dilengkapi dengan seperangkat ajaran yang lengkap dengan segala berita yang menggembirakan dan berita yang menakutkan. Tabsyir wa tandzir.

Islam merupakan ajaran yang lengkap, mulai dari ibadah, muamalah dan relasi dengan manusia dan alam seluruhnya. Semua yang kita lakukan akan menjadi amal ibadah jika diniatkan untuk ibadah kepada Allah. Bekerja untuk mencukupi kebutuhan keluarga adalah ibadah. Mengaji dan memberi caramah apapun yang memiliki nilai kebaikan dan kemanusiaan adalah ibadah. Bahkan kita menyenangkan manusia,  keluarga, orang lain dan orang yang baru kita kenal adalah ibadah. Kita mengambil duri atau paku di jalan raya adalah ibadah. Betapa luasnya cakupan ibadah tersebut di mata Allah SWT.

Dengan demikian hidup kita bisa diisi ibadah. Dakwah tidak hanya diisi dengan ceramah agama, tetapi kala kita memberikan petunjuk kepada orang lain dengan perkataan singkat tetapi penuh makna juga ibadah, menulis yang baik-baik di blog, WA, Tiktok, Instagram, Facebook dan sebagainya yang bertujuan untuk kemanusiaan dan keagamaan, maka semua itu adalah ibadah. Alangkah indahnya beragama di dalam Islam.

Kita sudah semakin berumur, maka kita sudah selayaknya semakin arif dalam beragama. Tidak beragama yang menakutkan dan menyusahkan, akan tetapi beragama yang menggembirakan dan menyejukkan. Kita masih diberi waktu oleh Allah SWT untuk berbuat baik dan beramal yang baik. Maka kita harus menjaga agama. Islam mengajarkan tentang addinun nasihah agama adalah nasehat untuk manusia tentang Allah, tentang kenabian, tentang manusia manusia seluruhnya.

Kita tidak menasehati Allah dan rasulnya, akan tetapi kita menasehati manusia dengan Allah dan rasulnya yang memiliki ajaran agama, dan nasehat tersebut juga diperuntukkan bagi manusia seluruhnya. Mari jaga agama dengan cara menjalankan apa yang sudah diajarkan oleh agama dimaksud. Ajaran agama yang damai yang rahmatan lil ‘alamin.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

INGIN RIDLO ALLAH UNTUK  SURGA YANG SANGAT PENTING

INGIN RIDLO ALLAH UNTUK  SURGA YANG SANGAT PENTING

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bagi kalangan ahli tasawuf, maka yang diutamakan adalah memperoleh ridlo Allah SWT, baik di dalam kehidupan di dunia terlebih kehidupan di akhirat. Oleh karena itu, para ahli tasawuf mengedepankan ridla Allah di atas semua yang berupa kenikmatan di akhirat. Banyak orang yang berpikir, bahwa akhir segalanya di dalam kehidupan adalah di kala kita dapat memasuki surganya Allah, akan tetapi bagi ahli tasawuf,  ridla Allahlah yang menentukan akhir dari segala kehidupan roh manusia.

Manusia dengan rohnya memang akan mengalami perjalanan untuk berpindah-pindah dari satu fase kehidupan kepada satu fase kehidupan lainnya. Dimulai dengan alam roh yang kita sudah lupa kapan saatnya, tetapi yang jelas bahwa di sana ada perjanjian yang kita lakukan dengan kewajiban untuk mengabdi kepada Allah dan tidak kepada yang lain. Instrument  untuk mengingat perjanjian itu adalah agama yang diturunkan oleh Allah kepada manusia. Di masa lalu diturunkan kitab Zabur kepada umat Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman dan nabi-nabi lain sesudahnya, sampai kemudian diturunkan kepada Nabi Musa kitab suci Taurat dan nabi-nabi lain sesudahnya, lalu diturunkan Kitab Injil kepada Nabi Isa dan nabi-nabi lain, dan kemudian diturunkan Alqur’an kepada Nabi Muhammad SAW dan kepada umatnya. Kitab-kitab suci ini selalu diturunkan kepada Nabi-Nabi tertentu yang sesungguhnya untuk membenahi atas tafsir pada kitab suci yang sudah melenceng dari teks kitab suci dimaksud. Itulah makna kenapa kitab Suci Alqur’an dianggap sebagai  kitab terakhir yang terjaga dari kesalahan teksnya, meskipun terdapat penafsiran yang berbeda tetapi pada prinsip-prinsip utamanya terdapat kesamaan-kesamaan.

Roh manusia mengalami perpidahan dari alam roh ke alam dunia, ke alam kubur dan ke alam akhirat. Makanya, roh itu abadi dalam konteks tidak mengalami kerusakan, karena memang diciptakan oleh Allah untuk merasakan alam keabadian. Tetapi tentu tidak abadi sebagaimana keabadian Allah, yang tidak ada awalnya dan tidak ada akhirnya. Sebagaimana keabadian surga dan neraka yang tidak sama dengan keabadian Allah, karena surga dan neraka adalah ciptaan Allah SWT.

Manusia tergolong dalam tiga bagian. Pertama, ahli tasawuf, yakni orang yang memiliki usaha taqarrub kepada Allah SWT, dan karena kedekatannya tersebut lalu Allah membukakan hijab yang menyelubungi antara Allah dan hambanya. Saya tidak bisa menggambarkan bagaimana relasi vertical Allah dan manusia tersebut, akan tetapi kenyataan empirisnya pasti ada. Semua agama mengajarkan tentang keberadaan makhluk Allah yang bernama manusia dengan kapasitas bisa melakukan hal semacam ini. Di dalam Islam disebut sebagai waliyullah, orang yang memiliki kedekatan spiritual yang memasuki alam keilahian. Di dalam ajaran Nasrani, sebagaimana Alqur’an menjelaskan adalah para hawariyun, atau sahabat Nabi Isa yang menjadi pengikut setianya.

Kedua, ahli ilmu pengetahuan yaitu mereka yang mendalami ilmu keislaman dan kemudian mengajarkannya kepada umat lain. Fungsinya adalah menjadi pengingat kepada manusia lain agar bertaqwa dan mengabdi kepada Allah. Di dalam kehidupannya disibukkan untuk mengembangkan kebaikan dan kebenaran. Kebaikan umum atau kebaikan khusus. Kebaikan umum terkait dengan kemanusiaan, misalnya menyebarkan tentang keadilan, persamaan dan toleransi, sedangkan yang khusus adalah kebaikan dan kebenaran yang berbasis pada ajaran Islam untuk umat Islam. Ajaran keadilan, persamaan dan toleransi sesungguhnya juga ajaran Islam dan secara umum bisa diberlakukan untuk semua penganut agama.

Ketiga, orang awam atau orang yang tidak memiliki seperangkat pengetahuan agama yang sangat baik, akan tetapi ada yang amal kebaikannya luar biasa dan ada yang tidak memiliki amalan kebaikan. Orang dengan penggolongan ketiga tersebut “rawan” di dalam kehidupannya tergantung kepada factor internal dan eksternal yang ada pada yang bersangkutan. Factor lingkungan menjadi penyebab dominan di dalam kebaikan atau keburukan. Dia akan menjadi baik, jika berada di dalam lingkungan baik dan akan menjadi jelek kalau berada di dalam lingkungan yang jelek. Makanya, Islam mengajarkan agar kita berada di dalam perkawanan yang baik dan benar. Di dalam konsepsi Islam Jawa disebut sebagai wongkang sholeh kumpulono. Kita harus berkawan dengan orang yang baik. Jika kita berkawan dan berada di dalam lingkungan yang baik tentu Allah akan senang pada perilaku kita.

Namun demikian, tentu ada hamba Allah yang diberi otoritas untuk mengubah lingkungan  jelek menjadi baik atau lingkungan  rusak menjadi lingkungan yang baik. Ingat bahwa kebanyakan pesantren besar  didirikan di lokasi yang rusak, misalnya kampung maling, kampung judi, dan sebagainya. Pesantren Tebuireng didirikan oleh Hadratusy Syekih Hasyim Asy’ari pada kampung yang rusak, tetapi dengan usaha yang sungguh-sungguh  akhirnya justru dari tempat tersebut menjadi pesantren yang sangat terkenal hingga hari ini. Semua itu tentu karena keridlaan Allah SWT.

Kita memahami bahwa keridlaan Allah merupakan penentu atas semua akhir dari kehidupan manusia. Dan kita ingin mendapatkan keridlaan tersebut. Kita  ingin diri kita, keluarga kita dan bahkan umat Islam semuanya bisa mendapatkan keridlaan Allah SWT dan berakhir dengan penempatan kita di dalam surganya Allah SWT. Atas keridlaan Allah, maka api yang panas menjadi dingin, sebagaimana Nabi Ibrahim. Laut yang bergelora dengan air, dapat berubah menjadi jalan terbentang pada waktu Nabi Musa  dan manusia raksana Thalut bisa dikalahkan oleh ketapel Nabi Dawud.

Makanya, keridlaan Allah adalah segalanya. Itulah sebabnya menjadi bermanfaat  jika kala selesai shalat kita berdoa: “Allahumma inna nas alukal jannata wal afwa ‘indal hisab. Yang artinya: “Ya Allah kami memohon kepadaMU surga dan ampunan kala masa hisab”. Kita memang harus berdo’a seperti ini, karena kita yakin bahwa dengan amalan shalat yang baik, kita akan memperoleh ridla Allah yang berujung kepada keanggotaan kita di dalam surga. Allahumma amin.

Wallahu a’lam bi al shawab.