• May 2026
    M T W T F S S
    « Apr    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

MENJAGA SPIRITUALITAS KALA MEDIA SOSIAL MEREBAK KUAT

MENJAGA SPIRITUALITAS KALA MEDIA SOSIAL MEREBAK KUAT

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Kita merasakan betapa besarnya pengaruh media social terhadap kehidupan. Luar biasa. Kita sudah benar-benar memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap media social. Melalui Hand phone memang dunia berada di dalam genggaman. Kita bisa melihat belahan dunia di luar negeri dari kamar kita masing-masing. Dunia internasional dapat dilihat di HP kapan dan di manapun.

Pengaruh HP terhadap kehidupan  sungguh luar biasa. Kita sudah menjadi ketagihan. Jika kita dalam beberapa jam saja tidak melihat apa yang ada di dalam HP, maka  terasa ada yang kurang. Sungguh kita sudah sampai pada derajat  addicted. Jika kita pergi lalu HP tertinggal di rumah, maka terasa dunia mau kiamat. Gelisah dan merasa tidak nyaman. Ada yang terasa kurang, sebab jangan-jangan ada panggilan atau unggahan penting di HP yang kemudian terlewatkan. Apalagi jika kita termasuk orang yang berada di dalam jejaring media social yang berlalu lalang.

Dengan HP memang apa saja bisa dinikmati. Jika kita ketinggalan nonton bola atau nonton badminton, maka  dapat  menonton siaran ulangnya melalui kanal Youtube. Sungguh seseorang sangat  dimanjakan dengan berbagai tontonan yang menggairahkan melalui media social yang tersaji di dalam HP. Jika kita ingin mendengarkan paparan tentang apa saja, maka  tinggal mencarinya dan kemudian mendengarkannya. Bisa ceramah akademis, ceramah agama, guyonan, music dan bahkan juga tontonan seronok. Sungguh serba ada.

Jika kita bangun tidur, maka pertama yang dicari adalah HP. Tidak ingin lihat yang macam-macam tetapi hanya ingin melihat jangan-jangan ada  pesan yang penting. Bukankah HP sudah menjadi media komunikasi yang sangat efektif untuk menjalin jejaring. Bisa semalaman orang saling berkomunikasi untuk berbagai kepentingan. Apalagi jika relasi tersebut berada di dunia internasional, maka bisa dibayangkan bahwa pesan akan datang pada jam berapa saja. Di Indonesia siang hari dan di Amerika malam hari. Jika kita berjejaring dengan orang Indonesia dan Amerika, maka sungguh akan semalaman hal tersebut terjadi. Orang yang bermain valas, maka nyaris tidak ada waktu istirahat tidur.

HP memang telah menjadi bagian penting di dalam kehidupan manusia. Di dalamnya terdapat sajian yang baik dan buruk. Ada ceramah agama yang mengajak kepada pemahaman agama, dan ada tayangan pornografi yang mengajak kepada perilaku keburukan atau ke neraka. Ada hiburan yang menyegarkan dan ada unggahan yang menyakitkan. Semua tersaji dengan lengkap dan memastikan kesenangan atau sebaliknya. Sajian di kanal Youtube sungguh memberikan semuanya untuk kita.

Namun demikian, yang sungguh menjadi masalah kala kita sudah sampai pada addicted. Maka, HP akan menjadi Setan Gepeng. HP akan menjadi hal yang prioritas. Selama ada waktu, kapan dan di manapun, maka HP akan menjadi teman utama. Di arena public, kita akan bisa melihat bagaimana orang sibuk dengan HP masing-masing. Terkadang tertawa, dan terkadang bersungut. Jika kita berada di stasiun, bandara, halte, dan tempat lainnya, maka semua orang sibuk dengan HP masing-masing. Bahkan suami istri juga masing-masing sibuk dengan HP-nya sendiri-sendiri. Bapak dan anak atau Ibu dan anak juga masing-masing sibuk dengan HP-nya masing-masing.

Yang membuat harus dipikir ulang adalah bagaimana kita tetap meluangkan waktu untuk berkomunikasi dengan Tuhan atau berkomunikasi dengan Rasulullah selain berrelasi dengan sesama manusia atau justru meluangkan waktu kita yang banyak justru untuk HP. Inilah problem kita yang sesungguhnya. Pada era media social ini, maka waktu kita justru yang banyak selain bekerja adalah untuk mencermati pesan dan tayangan di HP. Bahkan di dalam perjalanan yang panjang apakah dengan mobil atau dengan kereta api, maka yang lebih banyak menemani kita adalah HP. Jadi bukan untuk membaca istighfar, tahlil, tahmid atau membaca shalawat tetapi justru untuk bercengkerama dengan HP.

Oleh karena itu ada beberapa tips, yang diperlukan: pertama, kita memang harus berada di dalam dunia media social. Tidak mungkin kita tidak masuk dalam arena ini. Kita butuh jejaring dalam banyak urusan. Bisa urusan kantor, pekerjaan dan bahkan juga urusan pribadi. Artinya kita tidak bisa menjadi manusia sekarang yang hidup di masa lalu.

Kedua, kitalah yang harus memenej kapan harus bermedia social dan kapan kita harus melakukan relasi dengan jejaring secara offline. Dengan suami, istri, anak, cucu dan kolega perlu juga ada waktu untuk bertemu secara luring. Memang relasi bisa dibangun dengan online, akan tetapi tetap saja  ada  masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan daring. Relasi suami istri, atau anak dan orang tua tetap saja yang utama adalah melalui luring. Makanya, relasi itu harus kita yang memenej dengan baik agar semuanya berjalan dengan benar.

Ketiga, kita memerlukan hiburan. Itu pasti. Kita perlu memenej kapan waktu kita harus mendengarkan music, menikmati guyonan dan menikmati dunia serius, misalnya ceramah ilmiah melalui media social. Kita harus proporsional untuk melakukannya. Dan kitalah yang akan memenej kapan waktu yang tepat untuk menyeimbangkan kepentingan-kepentingan dimaksud.

Keempat, di tengah pekerjaan, di saat santai, di saat serius dan di saat kita menikmati sesajian di dalam media social, ada satu hal yang pasti tidak boleh dilupakan, yaitu mengingat Tuhan dengan mengamalkan amalan-amalan shalih yang berupa dzikir. Kita tetap harus ingat membaca shalawat. Kita tidak bisa melupakan hal ini. Kita harus menjaga keseimbangan untuk menikmati kehidupan dunia dan melaksanakan amalan ibadah untuk kepentingan ukhrawi. Jadi, hidup yang proporsional antara dunia dan akhirat itu sangat penting.

Terakhir saya ingin menyitir satu pendapat ahli, yang menyatakan bahwa jika kita bekerja cukup waktu empat jam saja yang sangat serius untuk menghasilkan keberhasilan, hanya saja dengan meninggalkan HP, internet, dan media social lainnya. Cukup empat jam untuk sukses dalam pekerjaan, lalu berapa jam untuk sukses bagi kehidupan akherat.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

MEMPERKUAT IMAN DI TENGAH PENETRASI MEDIA SOSIAL

MEMPERKUAT IMAN DI TENGAH PENETRASI MEDIA SOSIAL

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Iman tentu terkait dengan keyakinan akan keberadaan yang gaib. Di antara yang gaib itu yang terpenting adalah tentang keberadaan Tuhan atau Allah SWT. Semua umat Islam harus percaya atau yakin bahwa Allah SWT adalah Tuhan yang pasti ada meskipun keberadaannya tersebut barada di dalam kegaiban. Artinya Dzat Tuhan itu ada tetapi manusia tidak mampu untuk melihatnya, kecuali Nabi Muhammad SAW yang diyakini pernah bertemu dengan Allah SWT. Berdasarkan keyakinan di dalam agama Islam maka juga dinyatakan bahwa orang yang masuk surga akan bisa bertemu dengan Allah SWT. Tentu saja akal manusia tidak bisa membayangkan tentang bagaimana pertemuan dimaksud.

Allah sudah menggariskan bahwa manusia hendaknya berpikir tentang ciptaan Allah dan tidak berpikir tentang dzat Allah. Bahkan para ahli teologi atau ilmu ketuhanan juga tidak dapat menjelaskan tentang bagaimana Dzat Allah SWT. Manusia dengan kemampuan tertinggipun  tidak akan mampu untuk menjelaskan tentang eksistensi Tuhan apalagi Dzat Tuhan tersebut.

Iman merupakan urusan keyakinan. Artinya bahwa manusia harus meyakini tentang dunia kegaiban yang tidak dapat diobservasi. Tuhan hanya dapat diyakini eksistensinya dan tidak pernah diketahui keberadaan dan wujudnya. Itulah sebabnya menurut para ahli sosiologi agama, bahwa Tuhan itu adalah misteri yang tidak dapat dipahami dengan akal semata. Tuhan merupakan misteri kehidupan manusia yang paling asyik dicarinya. Dan sepanjang sejarah kemanusiaan, maka manusia terus mencari untuk menemukan Tuhan. Dan berakhir pada dua sisi kehidupan: ada yang menemukan Tuhan berbasis pada ajarannya dan ada yang tidak berhasil menemukan karena ketidakmampuan untuk memahaminya.

Orang awam dalam beragama, sebagaimana kebanyakan umat Islam, tentu yang terpenting adalah meyakini bahwa Allah itu ada. Dan tidak perlu bertanya apa dan bagaimana Allah itu. Percaya saja. Lalu sebagai konsekuensi kepercayaannya itu, maka kita sedapat-dapatnya menjalankan ajaran agama dengan sebaik-baiknya. Mungkin saja juga dengan pengamalan agama yang belum optimal. Tetapi yang penting bahwa syarat dan rukun untuk melakukannya sudah terpenuhi.

Sebagaimana yang saya sampaikan di dalam ceramah di Masjid Al Ihsan, 13 Juni 2023, saya nyatakan bahwa insyaallah kita sudah menjadi bagian dari ashabul yamin. Berita gembira dari Allah SWT bahwa orang yang sudah beriman dan menjalankan ajaran agamanya, maka bisa masuk dalam kategori golongan kanan. Sedangkan perkara kita akan menjadi bagian dari sepertiga yang awal akan masuk surga atau sepertiga yang akhir masuk surga itu merupakan hak prerogatifnya Allah. Kita pasrah kepada Allah dengan tetap berharap semoga kita memperoleh rahmat Allah untuk bisa menjadi penghuni surga.

Kita sekarang hidup dalam dunia media sosial yang hiruk pikuk. Dunia media sosial itu seperti mall atau pasar raya. Apa saja ada. Mau hiburan, mau mendengarkan pengajian, mau mendengarkan orang baca Alqur’an, mau melihat pertandingan olah raga, mau mendengarkan music, mau mendengarkan lawakan, dan sebagainya. Kita mau mendengarkan ungkapan yang menyejukkan atau ungkapan yang menyakitkan juga ada. Oleh karena itu, jika kita ingin berselancar dalam dunia media sosial maka kita akan mendapatkan semuanya. Namun demikian, yang justru penting adalah memilah mana yang baik dan memilih mana yang bermanfaat. Unggahan yang berisi pembunuhan karakter, bullying, hoaks, pornografi, pornoaksi, unggahan kebencian dan sebagainya seharusnya jangan dilihat. Anehnya, unggahan yang mengandung dimensi seksualitas justru menuai banyak viewer. Di sinilah arti pentingnya melakukan pemahaman atas konten media sosial mana yang bermanfaat dan mana yang tidak. Dari sini akan bisa diketahui tingkat kedewasaan atau literasi media tersebut sudah dimiliki atau belum.

Yang paling krusial di dalam menghadapi media sosial adalah bagaimana mempertahankan keimanan kita kepada Allah. Apakah semakin kuat atau goyah. Sekarang ini banyak sekali muatan media sosial yang mengacak-acak keyakinan kita tentang agama. Ada yang datang dari sesama saudara Islam yang mengharubirukan informasi tentang ketuhanan misalnya dengan ungkapan-ungkapan berbasis tafsir atas ketauhidannya. Misalnya mengenai Tuhan yang memiliki tangan, wajah, duduk di arsy dan lainnya. Tuhan memiliki jisim sebagaimana terdapat di dalam teks Alqur’an. Selama ini kita, kaum ahli sunnah wal jamaah, berkeyakinan bahwa teks tersebut dapat ditafsirkan dengan pemahaman yang lebih luas, misalnya tangan ditafsirkan dengan kekuatan atau kekuasaan, wajah diterjemahkan dengan kekuatan atau kekuasaan, Tuhan turun dalam sepertiga malam diterjemahkan dengan keberkahan dan sebagainya. Bukan hanya ini, misalnya dengan alasan ingin kembali ke Alquran dan Sunnah, maka semua amalan agama yang tidak sesuai dengan tafsirannya dianggap sebagai kesesatan atau dhalalah, bahkan dikafirkan.

Unggahan di media sosial ini tentu akan bisa berpengaruh terhadap pemahaman keagamaan. Ada yang menjadi ragu dengan pemahaman beragama selama ini, ada yang berubah dengan luar biasa perubahannya dan ada yang tetap teguh dengan paham beragamanya yang lama, tidak bergeser sedikitpun. Di sinilah paham kita tentang agama sedang dipertaruhkan.

Kita tentu berharap di tengah asupan konten media sosial yang bermacam-macam tersebut, kita akan tetap memiliki keyakinan tentang paham keagamaan sebagaimana yang diajarkan oleh para ulama ahlu sunnah wal jamaah. Apapun unggahan orang lain yang menggugat pemahaman beragama,  tetapi kita harus tetap berada di dalam keyakinan yang selama ini menjadi pegangan mendasar.

Tetaplah di dalam agama Islam dengan keyakinan dan peribadahan yang diajarkan dari generasi ke generasi berikutnya oleh para ulama Islam ala ahlu sunah wal jamaah. Genggamlah Islam yang memberikan keteduhan dan bukan pertengkaran.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

BASIS SOSIOLOGIS BACAAN KALIMAH THAYYIBAH

BASIS SOSIOLOGIS BACAAN KALIMAH THAYYIBAH

Prof.  Dr. Nur Syam, MSi

Saya harus menyiapkan diri untuk menjadi penceramah pada setiap hari Selasa ba’da shubuh. Pada saat seperti ini, maka jamaah Ngaji Bahagia di Masjid Al Ihsan sepertinya mengharap ada pencerahan rohani terkait dengan amalan ibadah dan yang lebih penting adalah bagaimana basis ilmu yang mendasarinya. Untunglah saya selalu memiliki sedikit pengetahuan untuk mengintegrasikan antara ilmu keislaman dengan ilmu sosial yang sedikit saya kuasai.

Makanya, pada shubuh, 13 Juni 2023, saya menyampaikan bahasan tentang bagaimana relasi antara bacaan kalimat thayyibah  dalam sudut pandang ilmu sosial, khususnya sosiologi agama. Secara khusus saya membahas salah satu kalimah thayyibah yang selalu kita baca terutama dalam waktu-waktu luang. Kalimah thayyibah tersebut adalah subhanallah wal hamdu lillah wa la ilaha illallah wallahu akbar. Yang artinya kurang lebih adalah “Maha suci Allah dan segala puji bagi Allah dan tidak ada Tuhan selain Allah dan Allah Maha Besar”.

Di dalam kajian sosiologi agama dikenal konsep The Holy. Konsep ini dikembangkan oleh Rudolf Otto dan Joachim Wach yang menyatakan bahwa manusia memiliki potensi untuk berhubungan dengan yang dinyatakan sebagai Yang Suci dalam konsep tentang The Experience of The Holy atau pengalaman berhubungan dengan Yang Maha Suci. Manusia memang memiliki ruh yang memang merupakan bagian dari  Tuhan. Di dalam Islam bahwa manusia memiliki ruh yang itu merupakan produk tiupan Tuhan pada manusia yang memungkinkan manusia bisa hidup.

Maka di kala manusia membaca Subhanallah atau Maha Suci Allah, maka merupakan bagian dari relasi antara manusia dengan Tuhan yang sesungguhnya merupakan instrument untuk menghadirkan Tuhan di dalam kehidupannya. Namun demikian tidak semua manusia dapat merasakan “kehadiran” Tuhan karena kebanyakan manusia tidak memiliki ilmunya. Manusia yang memiliki ilmunya saja yang bisa menyingkap tabir sekat antara dirinya atau ruhnya dengan kehadiran Tuhan dimaksud.

Di antara orang yang dapat melakukannya adalah kalangan ahli tasawuf yang memang memiliki kemampuan riyadhoh lebih baik dengan kebanyakan orang awam. Selaku pelaku agama yang minimalis tentu terdapat banyak hijab yang menyelimuti relasi antara kita dengan Tuhan. Kita belum bisa menata nafsu kita ke dalam nafsu mutmainnah. Kita masih berjibaku dengan nafsu amarah dan lawwamah. Para ahli tasawuf yang sudah khatam dzikir dan wiridnya tentu bisa merasakan aura ketuhanan di dalam dirinya.

Lalu, wal hamdulillah yang artinya segala puji bagi Allah. Tidak ada makhluk yang memiliki daya dan kekuatan melebihi kekuatan dan kekuasaan Allah. Makanya pantas jika kita memujinya, mensucikannya, memohon ampunannya dan memohon pertolongan kepadanya.  Di dalam hidup ini ada banyak pujian yang keluar dari mulut kita. Bertemu dengan orang cantik, secara refleks kita mengucapkan “alangkah cantiknya”. Bertemu dengan orang pintar, secara refleks kita juga menyatakan “alangkah pintarnya”. Bertemu dengan orang kuat, lalu kita menyatakan: “eh kuatnya”. Dan seterusnya. Apa lagi dengan Allah, Dzat yang Maha Kuasa, yang Maha Tahu, Yang Maha Perkasa atau di dalam ilmu sosial disebut sebagai omnipotent and omniscience. Tuhan diyakini sebagai Yang Maha Perkasa dan Maha Tahu. Oleh karena itu memuji Tuhan juga sangat pantas dilakukan atas betapa sifat-sifat Allah yang serba Maha dimaksud.

Kemudian, la ilaha illallah atau mengakui dengan hati dan lesan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Sebuah pengakuan atas eksistensi Allah secara ruhaniyah dan bukan fisikaliyah. Allah tidak berwujud fisik dan Allah bercorak batin tetapi bisa dipastikan bahwa Allah itu berbeda dengan makhluk ciptaannya. Laisa kamislihi syaiun. Allah itu dipastikan berbeda dengan sesuatu, berbeda dengan ciptaannya. Sudah sangat pantas jika menyebut Tuhan dengan Maha Suci dan segala pujian untuk-Nya. Bukankah Tuhan itu Maha Kuasa dan tidak ada ilah lain selain Allah SWT.

Dan kemudian wallahu akbar. Allah itu maha besar. Allah yang Maha Agung. Tidak ada yang lebih agung melebihi keagungan Allah. Tidak ada yang Maha Besar melebihi kebesaran Allah. Selain Allah adalah ciptaannya. Sebagai ciptaan Allah, maka tidak akan melebihi kekuasaannya. Itulah sebabnya kala Fir’aun menyatakan bahwa dirinya adalah Tuhan, maka dengan gampang dikalahkan oleh Nabi Musa melalui izin Allah. Melalui mu’jizatnya, maka laut terbelah menjadi jalan dan menyelamatkan Nabi Musa dan kaumnya tetapi mencelakakan Fir’aun dan bala tentaranya. Sungguh Allah itu Maha Segalanya. Ya Jabbar, Ya Jalal, Ya Qahhar.

Kita hidup dengan segala kekurangan. Dengan kesalahan dan kekhilafan. Maka sudah sepatutnya kita membaca kalimat thayyibah yang dapat menggugurkan kesalahan dan kekhilafan. Dosa-dosa kita akan berjatuhan sebagaimana  daun kering. Kala perjalanan Nabi dengan para sahabatnya, Rasulullah mengajarkan agar kita membaca kalimat subhanallah wal hamdulillah wa la ilaha illallah wallahu akbar. Sebuah kalimat sakti sebagaimana  sabda Nabi Muhammad SAW akan dapat menggugurkan dosa seperti daun kering yang berguguran. Ya Allah ampuni atas kekhilafan, kesalahan dan dosa kami.

Wallahu a’lam bi al shawab.

BERSUJUDLAH SEBAGAI TANDA BAKTI KEPADA ALLAH

BERSUJUDLAH SEBAGAI TANDA BAKTI KEPADA ALLAH

Prof. Dr. Nur Syam, Msi

Manusia tentu merupakan makhluk Tuhan yang paling baik tetapi juga memiliki tanggtungjawab yang berat. Manusia diciptakan oleh Allah sebagai sebaik-baik ciptaan. Artinya melebihi ciptaan Allah SWT lainnya. Manusia sebagai ciptaan Allah terbaik tersebut karena dilengkapi dengan inteligensi yang sempurna. Rational intelligent, social intelilligent, emotional intelligent dan yang terpenting adalah spiritual intelligent. Makhluk lainnya tidak memiliki empat intelligensi sekaligus.

Namun demikian, tugas dan tanggungjawab manusia juga berat. Di antara tanggung jawab tersebut adalah tanggung jwab sebagai khalifah Allah SWT atau dalam bahasa lain tugas dan tanggung jawab sebagai wakil Tuhan di bumi. Sebagai  khalifah Allah maka tentu merupakan tugas yang sangat berat. Hewan, tumbuh-tumbuhan dan bahkan malaikat tidak diberikan tugas sedemikian berat. Manusia diberi tugas untuk memakmurkan bumi, menghiasi bumi dengan kebaikan, melestarikan alam semesta dan juga beribadah kepada Allah SWT.

Dalam kerangka memakmurkan bumi, maka manusia tidak boleh semena-mena dalam memperlakukan alam. Tidak boleh merusak bumi, dan seluruh isinya. Tidak boleh merusak hutan, merusak habitat laut, tidak boleh merusak ekosistem alam dan tidak boleh berbuat untuk merusak habitat binatang. Manusia bertugas untuk   memakmurkan alam. Manusia diberikan kekuatan penalaran dengan sangat baik, sehingga bisa memilih mana yang baik dan mana yang buruk.

Manusia harus menyadari bahwa dunia adalah sebuah ekosistem. Satu kesatuan sistem. Jika salah satu sistemnya rusak, maka akan merusakkan lainnya. Ketika hutan dirusak, maka akan berpengaruh terhadap ketersediaan udara bersih, karen hutan adalah paru-paru dunia. Jika paru-parunya rusak maka akan berpengaruh terhadap sistem lainya. Kala ekosisten habitat laut rusak, maka akan berpengaruh terhadap kehidupan di dalamnya. Kala manusia menciptakan senjata virus, maka akan merusak manusia dan kemanusiaan dan akan menghancurkan semuanya. Allah sendiri yang menyatakan hahwa kerusakan di bumi dan lautan  disebabkan oleh ulah manusia.

Allah SWT berbuat sangat adil. Manusia diwajibkan untuk mengabdi kepadanya, dan diberikannya petunjuk untuk melakukannya. Allah menurunkan Nabi dan Rasul untuk kepentingan tersebut. Setiap umat diberinya Nabi dan Rasul, sehingga tiada pun suatu makhluk manusia yang tidak mendapatkan petunjuknya. Itulah sebabnya Allah memang hanya menurunkan 25 rasul tetapi menurunkan Nabi sebanyak 124.000 orang. Makanya, setiap kaum dipastikan memiliki nabinya sendiri yang semuanya mengajak kepada jalan ketuhanan.

Di antara pesan ketuhanan yang sangat penting adalah melakukan amalan shalihan, baik terkait  relasi dengan Tuhan atau relasi vertikal dan dengan relasi antar manusia dan alam atau relasi horizontal. Di antara bentuk relasi dengan Tuhan adalah melakukan relasi yang baik dengan Tuhan yang disimbolkan dengan sujud. Kata dasarnya adalah sajada atau bersujud kepada Allah SWT. Sujud itu dilambangkan dengan merendahkan kepala dengan menempelkan wajah di sajadah atau tempat ibadah dengan menyatakan  maha suci Allah yang maha tinggi dan segala puji baginya. Yang di dalam Bahasa Arab dinyatakan  Subhana rabbiyal a’la wa bihamdihi.

Sujud secara maknawi bisa diartikan sebagai bentuk kepasrahan total kepada Allah dengan melakukan tindakan menyerahkan diri yang dilambangkan dengan tertunduknya kepala di atas sajadah atau tempat ibadah. Semua menggambarkan atas kepasrahan manusia di dalam kekuasaan Allah SWT. Kala akan bersujud dimulai dengan ungkapan Allahu akbar atau Allah yang maha agung. Artinya tiada kekuatan apapun yang melebihi kekuatan Allah dan tiada satu kebesaran apapun yang melebihi kebesaran Allah.

Di dalam kehidupan keseharian, bersujud juga dapat dilakukan atas orang yang dianggap terhormat, misalnya orang tua atau penguasa. Hanya bedanya sujud yang dilakukan oleh manusia biasanya karena faktor kesalahan atau kekhilafan. Kepada orang tua, seseorang bisa saja memohon maaf dengan bersujud di atas kaki, atau kepada penguasa, khususnya raja di masa lalu, maka seseorang bisa saja bersujud pada kaki penguasa.  Di dalam kerangka bersujud kepada Allah SWT, maka suujudnya adalah membenamkan dahi dan menundukkan kepala di atas sajadah baik sewaktu melakukan shalat atau ada waktu-waktu yang diperlukan.

Di dalam sujud itulah seseorang akan menyatakan kemahasucian Allah, kemahabesaran  Allah, menuangkan syukur, dan pengakuan akan keberadaan Allah dan tiada  kekuasaan lain yang melebihi kekuasaan Allah. Jika di dalam shalat kita membaca subhana rabbiyal a’la wa bihamdihi, maka di dalam sujud lain selain  sujud sahwi  atau sujud karena terlupa gerakan shalat, maka orang biasanya membaca subhanallah walhamdu lillah wa ala ilaha illallah wallahu akbar. Maha suci Allah dan segala puji bagiinya dan tiada Tuhan selain Allah dan Allah Maha Besar.

Sebagaimana diyakini di dalam Islam, bahwa bacaan ini merupakan bacaan yang sangat hebat sebab melalui bacaan ini akan dapat menggugurkan dosa-dosa sebagaimana jatuhnya daun kering pada pohon. Lazimkan bersujud kepada Allah sembari membaca kalimat hebat seperti itu.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

BERSABAR ATAS TAKDIR ALLAH

BERSABAR ATAS TAKDIR ALLAH

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Siapa yang bisa melawan takdir Allah. Tentu tidak ada. Semua ada di dalam kepastian yang sudah ditentukan oleh Allah SWT. Semua ada masanya, semua ada waktunya. Takdir Allah adalah ketentuan azali yang sudah didesain sedemikian rupa dan dipastikan akan terjadi kepada semua makhluk Allah. Takdir memang kejam, begitulah nyanyiannya Dessy Ratnasari dalam lagu Tenda Biru, yang akhirnya syairnya harus diubah.

Takdir di dalam ajaran Islam termasuk rukun iman, yang ke enam. Sebagai rukun iman tentu keberadaannya sangat sentral dan penting. Sebagai umat Islam tentu harus percaya tentang keberadaan takdir dimaksud. Jika sebagai umat islam maka harus percaya kepada adanya kepastian Tuhan yang tidak bisa ditawar. Lahir, mati, jodoh dan rezeki itu sudah ada kepastiannya. Ada yang lahir dan ada yang mati. Ada yang menikah dan langgeng dan ada yang bercerai. Ada yang kaya dan ada yang miskin. Semua sudah ada ketentuannya, akan tetapi dalam beberapa hal manusia harus berupaya agar memperoleh yang terbaik.

Ada orang yang hidup dalam waktu panjang, bahkan bisa mencapai usia di atas 100 tahun, tetapi juga ada yang hanya beberapa hari atau beberapa bulan atau beberapa tahun. Semua diakhiri dengan ungkapan sudah takdirnya. Jika ada orang yang meninggal dalam usia berapapun maka pernyataan yang keluar adalah sudah waktunya, wis wayahe. Ada orang yang kaya tiba-tiba merugi dan hartanya nyaris habis, atau ada juga orang yang miskin kemudian mendapatkan rezeki yang besar, maka jadi kaya, ada yang muda lalu sakit dan tidak memperoleh pengobatan yang baik, maka kemudian meninggal, maka ungkapan yang muncul tentu sama sudah waktunya.

Takdir sungguh merupakan milik manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan. Semua akan  terkena takdir akan kematian. Betapa kuatnya Jalut, si manusia raksasa, harus mati karena ketapel Nabi Dawud. Raja Fir’aun harus tenggelam dalam laut karena mu’jizat Nabi Musa, Qarun orang kaya harus mati terkubur di bumi karena bencana, Hitler juga harus mati. Demikian pula Lenin, Karl Marx, bahkan Ronald Reagan dan Michael Jackson, atau Mariah Cherry juga harus mati. Berbagai cara mereka meninggal, akan tetapi yang jelas bahwa takdir telah menentukan kapan kematiannya. Hewan dan tumbuhan pun mengalami hal yang sama. Kematian.

Di dalam pemahaman umat Islam bahwa Allah SWT terkadang melakukan ujian kepada hambanya. Baik manusia biasa atau para Nabi dan Rasul. Nabi Yusuf diuji dengan perempuan cantik jelita, Zulaikhah. Nabi Ibrahim diuji dengan pengorbanan putranya, Nabi Ismail. Nabi Yunus diuji dengan diceburkan di laut dan ditelan ikan. Nabi Dawud diuji dengan perang melawan Jalut. Nabi Nuh diuji dengan banjir besar. Nabi Muhammad diuji dengan yatim piatu dan sebagainya. Kita juga terkadang diuji oleh Allah dengan sakit, dengan ketiadaan finansial, dengan kenakalan keluarga dan kerugian materi, dengan kerugian nama besar dan lain-lain. Bahkan semua yang ada di dunia ini adalah ujian Allah. Misalnya kekayaan, kesehatan yang prima atau jabatan yang tinggi dan sebagainya. Semua adalah cobaan dan ujian. Bahkan kehidupan itu sendiri adalah ujian. Di dalam konteks ini, maka pesan yang disampaikan kepada kita adalah agar bersabar.

Di dalam Islam dan juga realitas empiris bahwa untuk mengatasi takdir yang “kurang bersahabat” atau takdir Allah yang “kurang baik” bagi  manusia adalah dengan ungkapan sabar. Sabar merupakan kata kunci untuk menjadi penghibur atas berbagai duka yang menjadi takdir manusia. Kata sabar merupakan kosa kata yang paling banyak diucapkan oleh manusia. Kosa kata yang mudah diucapkan tetapi sulit dilakukan. Orang boleh saja mengungkap kata sabar, sabar dan sabar, akan tetapi kala mendapatkan cubitan Allah dipastikan akan mengalami hal yang sama. Gundah gulana, sedih dan merintih atau mengeluh.

Manusia diberikan sifat berkeluh kesah. Terutama jika mendapatkan keadaan yang tidak sesuai dengan harapannya. Dan seperti biasa, manusia selalu menginginkan keberhasilan. Segala sesuatu yang dilakukan sudah sesuai dengan desain perencanaan yang matang, strategi yang jitu dan operasional yang tepat, akan tetapi terkadang tidak berhasil. Gagal total. Di dalam kenyataan empiris seperti ini, maka manusia akan mengeluh. Bahkan terkadang menyalahkan takdirnya. Menganggap takdir baik tidak berpihak kepadanya. Selalu dalam kesialan dan sebagainya.

Di sinilah agama mengajarkan agar kita melakukan kesabaran. Yaitu sikap kepasrahan kepada Allah atas takdir yang menimpanya. Makanya di dalam Islam diajarkan usaha atau ikhtiyar, berdoa dan tawakkal. Manusia harus melakukan ketiganya untuk kehidupannya. Desain sebuah usaha sudah dilakukan dengan berbagai perspektif agar berhasil, doa juga sudah dilantunkan akan tetapi masih ada satu lagi yaitu tawakkal atau pasrah atas ketentuan yang dibuat Tuhan atas dirinya.

Melalui kesabaran, maka manusia akan tahan banting. Manusia akan menerima takdir sebagai kekuatan di luar dirinya, bahkan bukan yang direncanakannya akan tetapi pasti berlaku untuk dirinya. Itulah sebabnya Allah menyatakan bahwa sabar adalah keindahan. Sabar adalah hiasan duniawi. Siapa yang bisa bersabar maka dialah yang menjadi pemenang.

Di dalam hidup ini kita berada di dalam to be the winner atau to be the losser. Tentu semua ingin menjadi to be the winner, tetapi jika kemudian jatuh kepada to be the losser, maka obatnya hanya satu bersabar.

Wallahu a’lam bi al shawab.