• May 2026
    M T W T F S S
    « Apr    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

NGUMPUL BARENG ANAK DAN CUCU: ADA RASA BAHAGIA

NGUMPUL BARENG ANAK DAN CUCU: ADA RASA BAHAGIA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Hari raya kali ini terasa sungguh indah. Bukan karena uang yang melimpah akan tetapi karena kita semua dikaruniai kesehatan. Dan yang terpenting adalah ketika semua dalam kebersamaan. Anak saya Eva yang di Jakarta juga pulang ke rumah dengan segenap keluarganya. Demikian juga keluarganya Kiki  juga datang ke rumah. Juga Evi dan keluarganya. Tidak terasa cucu sudah delapan orang. Vika, Arfa, Echa, Kifa, Sahif, Atan, Rara dan Tata. Saya bersyukur karena mereka semua sehat.

Pada Hari Raya Idul Adha 1444 Hijriyah ini semua ngumpul di Rumah Lotus Regency E8 Ketintang Surabaya. Ramai sekali. Bocah-bocah kecil yang lucu, menangis, tertawa dan merengek. Komplitlah. Rumah yang biasanya tenang karena hanya beberapa penghuni akhirnya pecah dengan keramaian karena jumlah orangnya yang cukup banyak. Sehari sebelumnya, kita sekeluarga besar menikmati liburan di Batu Malang.

Pagi tadi, bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha, Kamis 29/06/2023, kita sekeluarga melakukan shalat Id di Masjid Al Ihsan di Perumahan Lotus Regency Ketintang, Surabaya. Seharian memang istirahat setelah  tiga hari berada di Kota Batu untuk menikmati keindahan wisata Kota Batu. Benar-benar senang meskipun capai. Semua bahagia karena kebersamaan. Makan bersama, menyanyi bersama, karaoke lagu-lagu terbaru dan lagu-lagu Bang Haji Rhoma Irama. Anak-anak muda menyukai lagu-lagu pop, sementara saya suka lagu dangdut. Biasalah.

Ba’da shalat Isya’ secara bersama-sama membakar daging kambing. Nyate. Benar-benar rame. Memotong daging kecil-kecil untuk dijadikan sate.  Di depan rumah ada yang menyiapkan perapian dari arang, menyiapkan tusukan daging dan membakarnya. Ada juga yang menyiapkan rujak manis. Dengan kipas apa adanya, akhirnya daging-dagingpun matang sempurna. Ada daging kambing dan juga sosis. Anak-anak lebih suka sate sosis ketimbang sate kambing. Maklumlah.

Ada juga yang pesan Go Jek untuk membelikan jagung bakar. Tidak banyak yang dibelinya. Cukup 15 jagung. Dengan Go Jek semua menjadi mudah. Tidak usah ke pasar di Jagir, tetapi cukup menunggu di rumah jagung pun datang. Rame-rame lagi membakar jagung. Lebih cepat membakar sate dibandingkan dengan membakar jagung. Senang hati ini melihat kebersamaan anak-anak dan cucu dalam moment seperti ini. Ada rona kebahagiaan kala melihat mereka rukun, damai dan senang.

Moment kebersamaan memang bisa terjadi kapan dan dimana saja. Bagi saya yang terpenting adalah substansinya, yaitu adanya perasaan senang dan kebahagiaan. Saya bisa melihat rona senang dan bahagia tersebut. Tampak di dalam wajah mereka rasa senang dan bahagia. Tidak hanya makan sate, bakaran jagung, tetapi juga minum es nutrisari dan es coklat, serta makan rujak manis.  Sayangnya saya sudah tidak lagi meminum minuman dingin. Tentu ingat usia.

Kebahagiaan tentu bisa disupport oleh keberadaan materi yang cukup. Sekali lagi yang cukup. Tidak harus melimpah. Banyaknya harta yang melimpah tidak menjamin akan kebahagiaan. Bukankah yang diperlukan di dalam hidup itu minim sekali. Satu kamar tidur, makan sehari tiga kali, dan kendaraan yang bisa mengantarkan untuk pergi tempat yang diinginkan dan sehat. Di dalam tradisi Jawa disebut cukup sandang, pangan lan papan. Yang terberat adalah kala sedang menyekolahkan anak. Tetapi harus yakin bahwa anak juga membawa rezekinya sendiri. Ada seorang famili saya, Lik Tun,  yang bercerita, “dulu ketika menyekolahkan anak dengan kebutuhan pendidikannya, ya seperti ini dan sekarang ketika sudah selesai semua ya tetap seperti ini. Artinya, bahwa anak tentu membawa rezekinya dari Allah dan itu melewati tangan orang tuanya.

Tetapi yang lebih penting adalah kebahagiaan batin. Ketika melihat anak-anak sudah dewasa, sudah berumah tangga, sudah bekerja dan mencukupi kebutuhan di dalam keluarganya, maka inilah hakikat dari kebahagiaan. Bagi keluarga yang belum seperti ini, semoga Allah memberikan kemudian untuk juga bisa menikmati kebahagiaan. Semoga Allah melapangkan rezekinya dari usaha halal yang dilakukannya.

Saya merasa senang dan bahagia karena ketiga anak saya sudah bisa mendapatkan uang sendiri. Meskipun perempuan saya dorong agar bekerja. Dr. Dhuhrotul Rizkiah bekerja sebagai dokter di UINSA, yang lulus melalui Computer Assisted Test (CAT) sehingga bisa menjadi PNS di Kemenag. Lalu Shiefta Dyah El Yusi, SH,   bekerja di sector swasta berjualan melalui perdagangan online dengan menggunakan toko online “Shanas Shop”. Semula menjual produk Kosmetik K2, dan  sekarang sudah ribuan produk yang dijualnya di toko online. Kemudian Shiefti Dyah El Yusi, SIP,  bekerja di Universitaas Airlangga. Semenjak lulus dari UA lalu mengabdi di sini dan karena prestasinya baik, maka diangkat sebagai pegawai di UA. Semua anak-anak saya adalah pekerja keras. Alhamdulillah.

Yang membuat saya bahagia adalah karena mereka rukun. Bisa bercengkerama, berdiskusi, bisa berbicara dari hati ke hati dan hal-hal lain yang berkaitan dengan perasaan dan hati. Sungguh kebahagiaan orang tua adalah kala anaknya sudah dewasa dan menjadi anak yang baik, yang shalih atau sholihah.

Dan tidak ada doa terbaik dari orang tua kecuali kala melaksanakan shalat pada sepertiga malam kemudian berdoa untuk kebaikan dan kebahagiaan anak-anak  dan cucu-cucunya. Rabbana taqabbal minna du’aana innaka antas sami’un ‘alim wa tub ‘alaina innaka anta tawwabur Rahim.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

 

 

INDAHNYA ISLAM DI INDONESIA: SHALAT HARI RAYA 2023

INDAHNYA ISLAM DI INDONESIA: SHALAT HARI RAYA 2023

Prof.Dr.Nur Syam,MSi

Pagi ini, saya dan keluarga menghadiri acara ritual shalat Idul Adha yang diselenggarakan di Masjid Al Ihsan. Ketepatan shalat Idul Adha yang dilakukan pada hari Kamis, 29 Juni 2023 adalah mengikuti penetapan hari raya yang dimaklumatkan oleh Pemerintah Republik Indonesia, sesuai dengan sistem penetapan Hari Raya Idul Adha yang jatuh hari ini. Ada sebagian masyarakat Indonesia yang menyelenggarakan shalat Hari Raya Idul Adha, hari Rabo 28 Juni 2023. Kemarin.

Penetapan hari raya yang berbeda bukan hal baru bagi masyarakat Indonesia yang disebabkan oleh perbedaan dalam menentukan tanggal 1 Dzulhijjah 1444 Hijriyah. NU dan pemerintah menetapkan berdasarkan rukyat bahwa bulan Dzulqa’dah ditetapkan dengan istikmal karena memang hilal belum bisa dilihat dengan teknologi canggih sekalipun, sehingga hari Kamis, barulah menjadi tanggal 10 Dzulhijjah 1445 Hijriyah. Sementara itu dengan metode hisab, maka hilal sudah berada di atas ufuq sehingga hilal sudah berwujud dan bulan Dzulhijjah sudah mulai.

Perbedaan dalam metodologi pembiayaan kapan hilal itulah yang menjadi penyebab lahirnya perbedaan di dalam menentukan kapan hari raya. Baik untuk Hari Raya Idul Adha maupun Idul Fitri. Bagi masyarakat Indonesia, perbedaan semacam ini bukan masalah. Masyarakat Indonesia sudah sedemikian dewasa dalam menghadapi perbedaan hari raya. Dan yang hebat tidak saling menyalahkan satu dengan lainnya. Masing-masing memiliki dasar fiqih yang kuat. Masyarakat Indonesia menikmati saja tentang perbedaan hari raya. toleran.

Pagi ini saya mengikuti ritual shalat Hari Raya Idul Adha di Masjid Al Ihsan, Perumahan Lotus Regency. Masjid yang tidak besar dan jumlah jamaahnya juga tidak berluber. Maklum masjid ini hanya untuk kepentingan satu gang pada Perumahan Lotus Regency. Jumlah penduduknya juga tidak banyak. Rumahnya hanya sebanyak 30 buah. Tetapi ada kegiatan shalat jum’at dengan jamaah tidak pernah kurang dari 40 orang. Ada tahsinan Alqur’an, mengaji Surat al Waqi’ah ba’da shubuh, membaca Surat Al Kahfi sepekan sekali setiap hari Jum’at pagi ba’da shubuh dan ceramah rutin selasa ba’da shubuh. Saya yang biasanya mengisi acara pengajian dengan aneka tema atau ust. Sahid dan ust. Suyuti Rasyad.

Tema yang dibawakan oleh Khatib Shalat Id, Rohmat Maghfiroh, Al Hafidz,  adalah tentang tradisi berqurban, yang sudah terjadi lintas zaman. Dimulai dengan korban yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS sampai Nabi Muhammad SAW hingga sekarang. Secara historis, kurban pertama dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS sewaktu diuji oleh Allah untuk menyembelih anaknya. Ujian ini diberikan untuk menandai atas kecintaannya kepada Allah. Nabi Ibrahim itu lebih mencintai Allah atau lainnya, termasuk putranya. Penguatan yang dilakukan oleh putranya, Nabi Ismail AS, maka pengorbanan tersebut dilakukan dan oleh Allah kemudian digantikan dengan seekor domba dari Surga.

Tradisi ini kemudian ditradisikan kembali oleh Rasulullah SWT dan kemudian dikaitkan dengan Hari Raya Haji atau Hari Raya Idul Adha atau Hari Raya Kurban. Tradisi berkurban dilakukan dengan menyembelih hewan, bisa unta, sapi atau kambing. Seekor kurban unta untuk tujuh orang, seekor sapi untuk tujuh orang sementara kambing untuk satu orang. Di dalam sebuah cerita yang pernah saya dengar dalam acara Khaul KH. Wahid Hasyim di Jombang, tentang kearifan Kyai Wahid Hasyim. Suatu ketika ada orang Islam yang baru saja melakukan ajaran Islam, khususnya shalat. Lalu pada waktu Hari Raya Idul Adha, dan dia ingin berkorban. Jumlah keluarganya ada delapan orang dan hanya ingin berkorban dengan seekor  sapi.  Maka oleh Kyai Wahid Hasyim disarankan untuk ditambah satu kambing. Alasan Kyai wahid sederhana saja. Anak sampeyan itu masih kecil, sehingga tidak bisa naik sendiri ke punggung sapi. Agar bisa naik sapi bersama, maka agar menjadikan kambing sebagai tangganya. Melalui penjelasan seperti itu, maka akhirnya yang bersangkutan berkorban satu ekor sapi dan satu ekor kambing.

Oleh khatib dijelaskan bahwa bagi orang yang berkorban agar bisa hadir pada waktu penyembelihan korbannya. Dengan tetesan darah hewan korban tersebut, maka Allah akan mengampuni dosanya. Alangkah bahagianya jika manusia bisa diampuni dosanya. Tidak banyak orang yang bisa diampuni dosanya, akan tetapi dengan menyembelih hewan korban, maka dosanya akan diampuni oleh Allah SWT.

Pada hari ini di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency  dilakukan penyembelihan hewan korban. Memang tidak banyak. Ada seekor sapi, dan 11 kambing. Di antara yang berkorban tersebut adalah: Pak Rusmin, Pak Hardi, Pak Nur, Pak Budi, Pak Rahmat, Pak Amri, dan Bu Ningsih. Yang korban hewan kambing adalah Pak Tomi, Pak Suyuti, Pak Rizki dua  ekor kambing,  Pak Indra (Klinik Adi Hayati), Pak Reza, Pak Indra (F19), Bu Darminah, Pak Raisuli, dan PT Birawidha dua ekor kambing.

Sebagai umat Islam tentu kita bersyukur bahwa ekspresi keberagamaan masyarakat Indonesia semakin meningkat. Hal ini ditandai dengan semakin ramainya masjid, semakin banyak orang pergi haji dan juga semakin banyak orang yang menyembelih hewan korban.

Yang diharapkan adalah agar korban hewan tersebut dapat menjadi alat bagi manusia untuk memperoleh ridhanya Allah SWT. Korban kita sudah yang terbaik, sebagaimana korbannya Habil bin Adam AS, yang dapat menjadi alat yang diterimanya kurban tersebut di hadapan Allah SWT.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

 

KALA SALAFI WAHABI “MELARANG” DZIKIR PANJANG

KALA SALAFI WAHABI “MELARANG” DZIKIR PANJANG

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Komunitas Ngaji Bahagia memang bisa menjadi salah satu medium untuk saling memahami bagaimana selayaknya kita mengamalkan ajaran agama. Kita bisa melakukan anatomi atas pengamalan ajaran agama tanpa harus secara rumit-rumit memahaminya, misalnya dengan pendekatan fiqih yang tidak semua orang memahaminya. Islam yang sederhana, yang berusaha untuk memahami agama dengan semangat yang sesuai dengan kapasitas ibadah yang bisa dilakukan. Hari Senin, 26/06/2023, kita bicarakan hal tersebut.

Ngaji Bahagia tersebut bertepatan dengan program tahsinan Al qur’an  dalam ayat Al Balad, pada ayat yang ke 13 sampai ayat ke 16. Setelah Ustadz Alif al hafidz menjelaskan arti dari ayat dimaksud, maka saya dimintanya untuk memberikan komentar. Secara etimologis, maka ayat tersebut berarti: “(yaitu) melepaskan perbudakan (hamba sahaya), atau memberi makan pada hari terjadi kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir. Ayat ini ada kaitannya dengan ayat sebelumnya (ayat 12) yang mempertanyakan tentang “dan tahukan kamu apakah jalan yang mendaki dan sukar itu? Jawabannya pada ayat 13-16 tersebut.

Saya memberikan penjelasan tentang jalan rumit dan mendaki dengan solusi memerdekakan budak, memberikan makan pada anak yatim dan orang miskin itu susah dilakukan karena keegoan kita. Sebagai manusia yang mencintai harta, maka kita menjadi sulit untuk berbagai. Meskipun Islam sudah menjelaskan bahwa sebagian kecil harta  itu ada hak bagi  orang fakir dan miskin serta anak-anak yatim, akan tetapi tangan kita tetap dengan kuatnya mencengkeram atas harta yang kita miliki. Seakan bahwa harta itu sungguh milik kita. Semua lupa bahwa harta tersebut hanya titipan Allah yang sekali waktu bisa melayang. Bahkan hilang tidak berbekas. Tentu kita masih ingat cerita Qarun, Kapitalis awal, yang kemudian terbenam di bumi karena kekikirannya, meskipun dia sangat kaya raya.

Islam mengajarkan tentang keseimbangan. Kita diminta oleh Allah untuk bekerja keras. Kita diminta untuk beribadah yang kuat. Harus ada keseimbangan di antara keduanya. Jangan hanya bekerja keras saja untuk dunia, tetapi melupakan dzikir yang panjang untuk kepentingan akhirat. Ajaran keseimbangan inilah yang diajarkan Islam. Kita melakukan shalat, zakat, puasa dan amalan yang baik. Termasuk di dalamnya adalah melakukan dzikir. Dzikir bisa dilakukan dengan panjang, tetapi juga boleh dengan pendek. Semuanya adalah pilihan sesuai dengan kapasitas dan kemampuan kita.

Saya sampaikan salah satu di antara yang bisa dilakukan adalah dengan membaca surat Al Ikhlas. Kita bisa melakukannya. Di masa lalu, saya bisa membacanya dalam jumlah yang cukup. Di kala sedang mengerjakan tugas-tugas yang besar, seringkali kita  dekat dengan Tuhan. Kita bisa bertaqarrub kepada Allah karena tugas-tugas yang kita lakukan. Tetapi di saat tugas kita kecil saja, maka hal-hal yang terkait dengan pendekatan kepada Allah itu lalu berkurang. Memang manusiawi. Sebagaimana kajian psikhologi agama, bahwa di kala orang sedang menghadapi masalah, maka yang diingatnya adalah Allah, akan tetapi di kala senang terkadang Allah itu dilupakan, meskipun tidak hilang sama sekali.

Berdasarkan tradisi yang kita terima dari para kyai di kalangan Islam ahlu sunnah wal jamaah, maka ada banyak dzikir yang kita baca dalam jumlah tertentu. Misalnya membaca Surat Al Ikhlas sebanyak puluhan  kali atau bahkan ada yang ratusan kali. Bacaan atas Surat Al Ikhlas yang sedemikian disukai Kanjeng Nabi Muhammad SAW karena merupakan amal kebaikan yang tiada taranya. Bayangkan Sayyidina Ali itu melamar Sayyidatina Fathimah binti Rasulullah  dengan bacaan surat Al Ikhlas tiga kali tersebut. Begitulah kehebatan Surat Al Ikhlas, surat yang intinya mengesakan Allah SWT. Surat di dalam Alqur’an yang menyatakan keesaan Allah atau ketauhidan yang tinggi.

Ada seorang jamaah tetap Komunitas Ngaji Bahagia, Pak Hardi,  yang menyatakan bahwa pernah mengamalkan bacaan surat Al Ikhlas dalam jumlah yang banyak. Tetapi kemudian dilarang oleh seorang Salafi yang menyatakan bahwa bacaan surat Al Ikhlas dalam jumlah banyak tidak ada dasarnya di dalam Islam. Semenjak itu lalu saya berhenti. Demikian pula cerita Pak Suryanto, yang juga menyatakan bahwa kala membaca bacaan wirid-wirid yang panjang maka dinyatakan oleh Kaum Salafi tidak ada tuntunannya di dalam Islam. Jadi yang diamalkannya untuk membaca dzikir-dzikir dalam jumlah yang banyak lalu dihentikan.

Tetapi Pak Suryanto juga menyatakan bahwa pernah juga mendapatkan pencerahan dari orang NU yang menyatakan bahwa membaca dzikir yang panjang adalah upaya untuk melakukan kebaikan. Upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sebagai upaya, maka tidak ada salahnya kala kita membacanya. Sama halnya dengan orang yang bekerja keras, maka peluang untuk mendapatkan yang lebih juga pasti ada, sedangkan yang usahanya sedikit juga peluangnya mendapatkan sedikit.

Dari uraian tersebut, kemudian saya jelaskan dengan bahasa empiris tentang bagaimana para ulama, para waliyullah dan para cerdik pandai dalam Islam melakukan ibadah yang seakan-akan dianggap berlebihan. Kita mengikuti pandangan yang netral saja. Tidak melarang juga tidak mewajibkan. Membaca wirid itu intinya adalah perbuatan untuk memuja dan memuji Gusti Allah. Membaca wirid yang panjang adalah bagian dari iyyaka na’budu. Kepada-Mu Ya Allah kami menyembah, kami berserah diri, kami memuja-Mu. Bisa jadi ada amalan Nabi Muhammad SAW yang tidak diceritakan oleh Aisyah RA, yang merupakan ibadah yang khusus terkait dengan kenabiannya.

Lalu ada orang atau ulama, kyai atau waliyullah yang berusaha untuk menyingkap tabir atas upaya dzikir atau wirid dengan upayanya yang sangat serius. Maka kemudian ditemukan rumus misalnya dzikir tahlil atau la ilaha illallah sebanyak 165 kali. Itu adalah rumusan yang ditemukannya setelah melampaui proses panjang dalam beribadah kepada Allah. Jadi bisa terdapat sejumlah orang yang melakukannya dan ada sejumlah orang yang tidak melakukannya. Sama dengan halnya, ada yang berislam dengan berjenggot dan tanda hitam didahi. Tetapi juga ada yang tidak memilih bertanda Islam  seperti itu.

Hal ini merupakan pilihan, sebab di dalam Islam sebagaimana Imam Ghazali menyatakan bahwa ada lima hukum Islam yang selayaknya dijadikan sebagai pedoman. Ada yang wajib, ada yang sunnah, ada yang mubah, ada yang makruh dan ada yang haram. Membaca surat Al Ikhlas tentu pasti bukan haram dan juga bukan makruh. Tetapi bisa mubah, sunnah tetapi juga bukan wajib. Membaca Surat al Ikhlas merupakan membaca Kitab Suci dan mendapatkan pahala. Maka dipastikan hukumnya adalah sunnah. Sedangkan yang tidak dilarang dan tidak diwajibkan adalah mubah atau kebolehan. Jadi dipastikan boleh dilakukan membaca Surat Al Ikhlas dalam jumlah yang bisa dilakukan.

Dengan demikian, melarang membaca Surat Al Ikhlas dalam jumlah tertentu, saya kira berlebihan,  seakan-akan Islam itu hanya mengenal dua hukum saja yaitu haram dan wajib. Oleh karena itu, bagi yang menyukai bacaan-bacaan Al qur’an surat apapun silahkan, berapa jumlahnya juga terserah. Yang terpenting kita meyakini bahwa di sana ada kebenaran dan kebaikan yang hanya Allah saja yang berhak menilainya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

 

KEKUATAN DAKWAH KAUM SALAFI: MEMAHAMI PENGETAHUAN ALAM BAWAH SADAR

KEKUATAN DAKWAH KAUM SALAFI: MEMAHAMI PENGETAHUAN ALAM BAWAH SADAR

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Sebagaimana biasa pada hari Selasa di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency dilakukan pengajian ba’da Shubuh. Ngaji ini diselenggarakan oleh Komunitas Ngaji Bahagia. Pada Selasa, 5 Juni 2023, saya memberikan ceramah tentang aliran di dalam Islam yang semakin semarak di Indonesia. Makanya, pertarungan otoritas keagamaannya juga menjadi semarak. Ceramah agama di Masjid Al Ihsan memang didesain dengan two way traffic communication. Ceramahnya menggunakan pola dialog.

Jika diamati, lagi-lagi yang meramaikan dakwah dengan berbagai tafsirnya adalah media social. Di Indonesia media sosial menjadi sumber informasi utama, sehingga media social sungguh digandrungi oleh masyarakat Indonesia yang sedang berada di dalam transisi menuju masyarakat informatif. Masyarakat transisi biasanya belum memiliki literasi media social yang memadai, sehingga semua yang ada di dalam suguhan media social dianggapnya kebenaran.

Saya sampaikan bahwa dakwah yang dilakukan oleh Kaum Salafi Wahabi itu sungguh hebat. Berdasarkan pengamatan lapangan  bahwa ada banyak orang yang tiba-tiba menjadi jamaah hijrah. Kala sudah melakukan hijrah, maka perilaku keberagamaannya tiba-tiba menjadi berbeda dengan perilaku beragama sebelumnya. Tiba-tiba menjadi Islam yang rajin ke masjid, dengan performance kopyah tempel kepala warna putih atau warna-warni, celana ditarik ke atas atau sarung juga beberapa senti meter di atas tumit. Tiba-tiba shalat shubuhnya rutin dan shalat wajib lainnya juga dilakukan secara berjamaah jika di rumah.

Ada di antaranya yang begitu selesai salam langsung berdoa sendiri tanpa bersalaman dengan jamaah lainnya dan ada yang masih mau untuk melakukan wiridan bersama dan juga bersalaman dengan jamaah lain. Sungguh sebuah fenomena yang sangat menarik.

Pertanyaannya adalah bagaimana kaum Salafi Wahabi  bisa mengubah perilaku beragama dengan sedemikian cepat dan dengan sedemikian sempurna?. Artinya bahwa apa yang dilakukan itu tiba-tiba berubah drastis dan terstruktur atau sistematis. Jawaban atas pertanyaan ini kemudian disampaikan oleh Pak Sahid yang memiliki pengalaman berhadapan dengan kelompok-kelompok semacam ini. Dinyatakan bahwa para da’i dari kaum Salafi Wahabi  itu benar-benar menguasai alam bawah sadar para jamaah. Misalnya da’i tersebut tiba-tiba bertanya kepada para jamaah secara spontan, tentang apa yang menjadi masalah di dalam kehidupan. Para da’i itu memanfaatkan suatu kenyataan bahwa tidak ada seorangpun yang tidak memiliki masalah di dalam kehidupan. Jika sudah ada yang memberikan pernyataan, maka diajaklah orang dan jamaah lainnya untuk memahaminya dari dalam alam bawah sadar. Dari sini kemudian diajaklah para jamaah untuk berselancar dalam dunia Islam dengan kenyataan historis  pada zaman Nabi Muhammad SAW dan juga apa yang seharusnya dilakukan. Diajaklah mereka untuk menilai shalatnya, doanya, amalan kesehariannya. Lalu masuklah ajaran shalat sebagaimana yang ditafsirkan oleh ulamanya. Diajaknya para jamaah untuk menilai apakah shalatnya sudah sesuai dengan ajaran Islam sesuai dengan tafsir golongannya atau belum. Diajaklah para jamaah untuk menilai tauhidnya, apakah sudah sesuai dengan ajaran Tauhid yang sesuai dengan ajaran tafsir ulama agamanya. Jika ada di antara para jamaah yang masih melakukan ajaran Islam yang tidak sesuai dengan Islam pada zaman Nabi Muhammad SAW, maka inilah salah satu penyebabnya. Digiringnya para jamaah untuk mendalami dengan alam bawah sadarnya dan kemudian dimasuki dengan tafsir atau paham keagamaannya. Mereka diyakinkan benar tentang manfaat shalat jamaah, diajarkan agar tidak lagi melakukan amalan yang bidh’ah, agar mensucikan taugidnya  sesuai dengan ajaran agamanya. Artinya tidak melakukan lagi hal-hal yang Tahayul,  bidh’ah dan churafat (TBC).

Dari pemaparan ini, maka ada catatan mendasar bagi para da’i dari Islam wasathiyah atau Islam ahli sunnah wal jamaah. Pertama,  para da’i sudah seharusnya memahami tentang pengetahuan  alam bawah sadar. Dengan memahami alam bawah sadar dari para jamaahnya, maka diharapkan bahwa dakwah akan lebih mengena untuk sasarannya. Jadi bukan hanya sekedar memberikan pengetahuan beragama, sebagaimana yang biasa saya lakukan, akan tetapi membawa para jamaah untuk memahami apa yang dilakukannya dengan melakukan penilaian atas perilaku keagamaannya selama ini, dan kemudian memberikan solusi atas masalah-masalah yang dihadapinya.

Kedua,  para da’i harus benar-benar menggunakan diksi dan kalimat yang terukur pengaruhnya terutama untuk alam bawah sadarnya. Kalimat yang memberikan pemahaman plus, bukan hanya menyentuh terhadap alam pikirannya saja tetapi lebih memahami dengan alam bawah sadarnya. Hendaknya mereka diajak untuk berselancar dalam alam bawah sadarnya dengan kalimat-kalimat yang mengena dan membawa perubahan yang nyata.

Ketiga, Kementerian Agama dan organisasi social keagamaan yang selama ini berlabel Islam wasathiyah tentu dapat bergandengan tangan untuk mendalami dan memberikan pengetahuan yang mendalam tentang hal ini. Rasanya sudah saatnya dilakukan semacam training untuk para da’i yang sudah  malang melintang dalam blantika  dakwah untuk mendalami tema baru dakwah dalam konteks alam bawah sadar. Saya kira para da’i atau calon da’i dapat mengikuti program training khusus untuk kepentingan ini.

Ketiga, para da’i memang boleh memilih tentang pola dakwah yang akan disampaikannya. Apakah akan menggunakan pola dakwah riang gembira, atau dakwah solutif dengan tekanan alam bawah sadar, atau dakwah serius untuk penjelasan, atau dakwah  gaya campuran. Bagi saya memang dakwah dapat dilakukan dengan variasi gaya dan pola, yang penting bahwa dakwah tersebut dapat mengubah pemahaman dan perilaku yang sesuai dengan ajaran agama.

Saya melihat bahwa pola dakwah terhadap generasi muda yang sedang dalam proses pencarian identitas keberagamaan sering kali masuk dalam alam hijrah sebagaimana disajikan oleh kaum Salafi Wahabi. Hal ini tentu tidak terlepas dengan variasi dakwahnya yang memberikan solusi atas kehidupan yang ingin dijalaninya. Dan kala kaum Salafi Wahabi bisa meyakinkan dalam konsep hijrah dengan melakukan perubahan paham dan perilaku beragamanya, maka jadilah mereka sebagai pengikut Salafi Wahabi.

Saya kira sudah saatnya, para da’i  yang selaras dengan Islam wasathiyah untuk melakukan dakwah dengan cara pandang seperti ini agar dakwah lebih berdaya guna. Jangan sampai generasi muda  semakin banyak yang tertarik dengan paham Salafi Wahabi karena pola dakwah yang dilakukannya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

FENOMENA WISUDA: SEHARUSNYA UNTUK SARJANA

FENOMENA WISUDA: SEHARUSNYA UNTUK SARJANA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Beberapa hari yang lalu, saya diwawancarai oleh Radio Suara Surabaya, 19/06/2023,  tentang fenomena wisuda yang diselenggarakan oleh sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (SMA). Fenomena ini menarik untuk dicermati terkait dengan status wisuda tersebut dari sisi pendidikan dan juga  dimensi ekonomis. Sebagaimana dipahami bahwa kegiatan-kegiatan semacam wisuda tersebut tentu dibebankan kepada orang tua atau wali siswa meskipun dengan pembayaran tidak ke  sekolah tetapi lewat kesepahaman antar orang tua atau wali siswa.

Masyarakat Indonesia itu masyarakat yang latah. Artinya, kala satu lembaga pendidikan melakukannya, maka yang lain mengikutinya. Begitulah secara berantai kemudian nyaris semua sekolah melakukannya. Tidak hanya melakukannya di sekolah,  akan tetapi di rumah makan, bahkan hotel. Macam-macam modusnya. Ada yang menggunakan tema kesenian, perpisahan dan sebagainya. Ramai-ramai.

Di dalam upacara itu didesain sebagaimana wisuda sarjana. Lengkap dengan toga dan ada yang menggunakan jas lengkap. Tidak hanya sekolah di perkotaan tetapi juga sekolah di pedesaan. Kalau tidak melakukan wisuda seperti sayur kurang garam. Bahkan ada di antaranya yang menganggap pagelaran wisuda itu sebagai prestasi. Makanya, sekolah pada berlomba-lomba menyelenggarakan wisuda dengan keunikannya.

Secara kronologis, upacara wisuda semula justru dilakukan oleh Taman Pendidikan Al Qur’an atau TPQ. Jika seorang siswa TPQ sudah dinyatakan lulus kitab standart baca Al qur’an sampai jilid terakhir dan sudah lancar membaca Al Qur’an sesuai dengan standart kelulusan, maka dilakukanlah wisuda. Tidak jarang orang tua memasang foto putra-putrinya di rumah. Di ruang tamu. Biasanya lengkap dengan toga dan pakaian wisuda ala wisuda mahasiswa lulusan strata 1, 2 atau 3.

Kemudian ada beberapa lembaga pendidikan setara  SD yang melakukannya dan kemudian terus setingkat SMP danSMA. Akhirnya wisuda menjadi salah satu mata acara yang dilakukan oleh lembaga pendidikan Dasar dan Menengah serta Pendidikan Anak Usia Dini dan Taman Kanak-Kanak. Merebaknya kasus wisuda pada sekolah-sekolah tersebut, akhirnya memantik pelarangan yang dilakukan oleh pemerintah, misalnya Wali Kota Surabaya.

Wisuda itu identic dengan pencapaian akademis pada jenjang pendidikan tinggi, baik untuk program sarjana atau Strata 1, Pendidikan magister atau Strata 2 dan Pendidikan doctor atau Strata 3. Jadi yang memiliki kewenangan untuk menyelenggarakan wisuda dengan pakaian khas adalah lembaga pendidikan tinggi. Memang yang menjadi dasar adalah dimensi historis. Tetapi yang jelas bahwa wisuda tersebut terkait dengan pengakuan atas ketercapaian atau achievement atas prestasi seorang mahasiswa. Orang yang diwisuda merupakan orang yang sudah mencapai derajad pendidikan tinggi, bisa dalam level Pendidikan strata sarjana, magister atau doctor.

Yang sungguh agak memprihatinkan adalah aspek pembiayaan wisuda. Banyak lembaga pendidikan yang melakukan wisuda di hotel atau rumah makan. Padahal pembiayaannya murni ditanggung oleh orang tua atau wali siswa. Jika seperti ini maka tentu akan memberatkan pada ekonomi orang tua atau wali siswa. Jika selama ini, untuk kepentingan pelepasan siswa dilakukan secara sederhana yang dilakukan di sekolah, maka dengan menyelenggarakannya di hotel atau rumah makan tentu akan menjadi beban tersendiri.

Di tengah kehidupan ekonomi yang tidak baik-baik saja, maka seharusnya semua pihak bisa melakukan “penghematan” dalam konteks tidak memberikan beban lebih kepada orang tua atau wali siswa. Dalam kata lain, orang tua bisa membiayai pendidikan anak-anaknya saja sudah merupakan keuntungan. Meskipun sudah terdapat Bantuan Operasional Sekolah (BOS) atau Kartu Indonesia Pintar (KIP), akan tetapi tetap saja orang tua memberikan sumbangan pembiayaan bagi anak-anaknya.

Belum lagi kemudian akan menimbulkan social prejudice, sebab ada sekolah yang siswa-siswanya berasal dari klas menengah ke atas, sehingga bisa memberikan sumbangan yang signifikan untuk pembiayaan pendidikan, dan ada anak yang datang dari keluarga yang berekonomi kelas menengah ke bawah. Bagi mereka ini yang terpenting adalah bisa menyekolahkan anaknya. Makanya jika kemudian diperlukan biaya yang lebih, maka tentu akan membebani ekonomi keluarga kelas bawah.

Sesungguhnya kita berharap bahwa lembaga pendidikan kita semakin arif dalam menyikapi atas kekuatan ekonomi masyarakat Indonesia, yang di dalam realitasnya masih banyak yang berstatus ekonomi klas bawah, sehingga di dalam menyelenggarakan acara apapun tentu juga harus mempertimbangkan keberadaan mereka ini.

Janganlah kita melakukan hal-hal yang di dalam konsepsi  pendidikan tidak memberikan sumbangan signifikan bagi peningkatan kualitas pendidikan, dan apalagi hanya untuk memperkuat penampilan luar saja, bahwa lembaga pendidikan bisa melakukan wisuda di tempat yang mewah.

Sungguh diperlukan kearifan bagi kita semua di tengah masih lemahnya perekonomian masyarakat sebagai akibat Covid-19 yang di dalam banyak hal menyebabkan semakin banyaknya masyarakat Indonesia yang berada di dalam kemiskinan.

Wallahu a’lam bi al shawab.