• May 2026
    M T W T F S S
    « Apr    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

NYEKAR

NYEKAR

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Saya tidak tahu apa makna mimpi. Di dalam mimpi itu,   saya mencari makam keluarga saya, khususnya Bapak. Di dalam mimpi itu kelihatan bahwa makam atau kuburan itu selesai dibangun dan maesan atau tenger  pada makam tersebut banyak yang terpendam separuh. Saya mencari makam Bapak dan akhirnya ketemu. Makam keluarga saya berada di dalam satu kompleks mulai dari canggah, buyut, kakek dan Bapak serta kerabat dekat atau jauh. Memang makam desa merupakan tempat pemakaman yang terdiri dari berbagai kerabat di dalam suatu desa.

Saya lalu menafsirkannya sendiri, bahwa mungkin saja Bapak mengingatkan saya agar saya nyekar atau ziarah  ke makamnya, sebab pada hari raya Idul Adha kemarin saya tidak pulang karena harus bersama keluarga ke Batu Malang. Biasanya menjelang hari raya harus saya sempatkan untuk pulang dengan tujuan menjenguk Emak dan nyekar ke kuburan Bapak dan leluhur. Tetapi kali ini saya terpaksa tidak bisa datang karena ada udzur yang tidak bisa saya tinggalkan.

Setelah mimpi itu, saya harus merancang untuk ke Tuban, ke desa saya. Saya akhirnya bisa berziarah ke makam Bapak dan leluhur. Sebelum saya berziarah ke makam Bapak dan leluhur,  terlebih dahulu saya menziarahi makam Syekh Boka Baki atau Syekh Al Baqi. Oleh masyarakat local, makam tersebut disebut sebagai leluhur desa. Meskipun bukan makam tertua di desa ini,  akan tetapi berdasarkan kajian sementara maka beliau adalah generasi ke tiga setelah Sunan Ampel. Semula,  makamnya sebagaimana makam orang biasa saja. artinya hanya terdiri dari maesan saja. Tetapi akhirnya makam Syekh Boka Baki direnovasi. Makam ini diyakini sebagai makam tua karena maesannya berbeda dengan maesan lainnya. Batu maesannya besar dan terdapat symbol yang tidak lazim. Selain itu juga ada pesan dari embah saya, Ismail,  modin Dusun Semampir untuk merawat makam tersebut. Berdasarkan metode Barzakhi, memang benar makam tersebut adalah makam auliya.

Makam Syekh Boka Baki adalah  makam tua, meskipun tidak diketahui tahun berapa  Beliau hidup.  Akan  tetapi melihat bahan artefaks pada makamnya dapat diketahui bahwa Beliau adalah keturunan Kanjeng Sunan Ampel dan ke atas sampai ke Kanjeng Syekh  Ibrahim Asmaraqandi dan Kanjeng Syekh  Jumadil Kubro. Kita tidak tahu dari jalur mana, akan tetapi makam Syekh Boka Baki atau Syekh Al Baqi ini memiliki kesamaan dengan artefaks pada makam-makan auliya tersebut, yaitu symbol segitiga terbalik.

Saya pernah melakukan pelacakan atas symbol-simbol ini di makam-makam para waliyullah, mulai dari Kanjeng Eyang Jumadil Kubro, Kanjeng Eyang Ibrahim Asmaraqandi, Kanjeng Eyang Sunan Ampel, Kanjeng Eyang Sunan Bonang dan Kanjeng Eyang Sunan Drajat, ternyata terdapat symbol-simbol yang sama. Segitiga terbalik. Di dalam buku “Melacak Jejak Waliyullah di Tuban Bumi Wali: The Spirit of Harmony” yang diterbitkan oleh Pemkab Tuban, 2021, maka saya gambarkan tentang Kanjeng Eyang Syekh Boka Baki ini. Setiap tahun juga dilakukan acara khoul yang diselenggarakan oleh umat Islam di Dusun Semampir, Sembungrejo.

Bagi saya, Makam Syekh Al Baqi  sungguh istimewa. Saya marasakan ketenangan kala membaca kalimat thayibah sebagaimana yang biasa saya membacanya. Hanya memang harus disingkat agar tidak terlalu panjang. Sesuai dengan keyakinan saya, bahwa bacaan-bacaan yang saya lantunkan tersebut akan sampai kepada Beliau atas seizin Allah. Melalui washilah kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW, saya berkeyakinan bahwa bacaan dan doa tersebut akan sampai kepada yang bersangkutan.

Tidak perlu dalil yang rumit, sebab berdasarkan pengalaman yang hadir di dalam diri saya, maka bacaan kalimat thayyibah tersebut akan sampai. Saya tentu tidak bisa menguraikan secara mendalam pengalaman religious dimaksud karena pengalaman religious selalu bercorak individual dan tidak bisa direplikasi bahkan oleh yang memiliki pengalaman itu sendiri.

Setelah menyelesaikan tawasulan dan dzikir serta doa, maka saya bergegas mendatangi kubur ayah dan leluhur saya. Kembali saya bacakan kalimat thayyibah,  doa dan kemudian mengakhirinya dengan taburan bunga yang sudah disiapkan oleh keluarga saya. Saya datangi satu persatu, Bapak, Mbah Ismail, Mbah Sarijah, Mbah Wagiman, Mbah Sadirah, adik Muhammad Fulan, Mbah Muhammad Salim, Mbah Tarmi, Bapak Rais, dan seluruh kerabat dekat saya.

Setelah semuanya selesai, saya kembali ke rumah dengan perasaan lega karena hari itu saya bisa menunuaikan tugas sebagai bakti kepada orang tua, yaitu menziarahi kuburnya. Ya Allah saya selalu berdoa: “rabbighfirli wa liwalidaiyya warhamhuma kama rabbayani shagira”. Amin.

Wallahu a’lam bi al shawab.

PINTU MASUK SURGA BERAGAM (2)

PINTU MASUK SURGA BERAGAM (2)

Artikel ini melanjutkan tulisan kemarin terkait dengan ceramah ba’da shubuh di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya, 04/07/2023. Dalam artikel kemarin sudah saya jelaskan dua jalan menuju surga, yaitu Jalan Khauf dan Jalan Ridla. Takut kepada Allah dan ridla Allah. Jalan inilah yang akan mengantarkan seseorang masuk ke dalam surga Allah  bi salamin aminin. Dua jalan lainnya adalah:

Ketiga,  jalan hubb atau cinta. Yaitu jalan untuk mencapai surga melalui cinta yang  tidak terhingga kepada Allah. Tidak ada di dalam hatinya yang tertaut kecuali Allah. Yang ada hanya Allah saja dan yang lainnya tidak ada. Tidak ada yang lebih dicintainya kecuali Allah. Dunia ini bagi para perindu cinta kepada Allah adalah penjara. Dunia  membuat seseorang akan terperosok ke dalam cinta dunia. Sebuah cinta akan dunia yang tidak abadi yang hanya bersifat sementara. Cinta kepada dunia atau hubbud dunya merupakan penyakit jiwa yang akan membuat seorang individu terperosok di dalam kefanaan dan ketidakabadian.

Islam memberikan gambaran bahwa manusia berkecenderungan untuk mencitai harta dan lawan jenis. Dikiranya bahwa harta itu abadi. Tidak tahunya bahwa harta bukan sesuatu yang abadi menjadi milik kita. Betapa tidak abadinya harta. Hari ini seseorang bisa kaya raya, tetapi besuk bisa bangkrut. Hari ini mendapatkan keuntungan yang besar tetapi besuk merugi yang banyak. Begitulah sifat harta tidak abadi. Di antara orang yang mengira harta abadi adalah Qarun sebagaimana diceritakan di dalam Alqur’an. Akan tetapi ternyata harta tersebut tidak abadi dan bisa hilang karena diambil yang memilikinya.

Selain itu, manusia juga memiliki kecenderungan untuk mencintai lawan jenis. Hubbusy syahawat.  Manusia memiliki nafsu biologis atau nafsu yang terkait berkecenderungan mencintai lawan jenis. Yang lelaki mencintai perempuann dan yang perempuan juga mencintai lelaki, bahkan ada yang mencintai sesama lelaki atau sesama perempuan. Ada kaum Lesbian, Gay, Biseks dan Transgender (LGBT). Dalam sejarah kenabian, dinyatakan di dalam Alqur’an bahwa terdapat kaum yang kemudian ditimpa bencana karena melakukan tindakan seks yang menyimpang. Mereka adalah Kaum Sodom di Gomorah yang kemudian menjadi label bagi penyuka sesama jenis. Mereka tidak tertarik dengan lawan jenis tetapi sesama jenis.

Lalu, manusia juga menjadi pecinta keturunan. Di dalam Alqur’an dijelaskan tentang kecenderungan manusia untuk mencintai dan membanggakan keturunannya. Harta dan keturunan memiliki posisi penting di dalam kehidupan manusia. Keduanya dan ditambah dengan syahwat terhadap lawan jenis merupakan hiasan duniawi yang bisa memalingkan cinta manusia kepada Allah. Nabi Sulaiman diuji dengan harta dan kekuasaan, Nabi Ibrahim diuji dengan keturunan, dan Nabi Nuh juga diuji dengan istri dan keturunannya. Itulah sebabnya para ahli tasawuf tidak mau untuk mencintai selain Allah dengan hidup sendiri, sebagaimana yang dilakukan oleh Rabiah Al Adawiyah. Perempuan cantik tetapi tidak tergoda dengan harta dan lawan jenis dan juga kekuasaan. Seluruh hidupnya hanya diperuntukkan untuk Allah semata.

Keempat, jalan raja’ atau jalan penuh harapan. Yaitu jalan yang ditempuh dengan penuh harapan bahwa Allah akan mengampuni dan meridlai. Jalan ini ditempuh oleh orang-orang yang memiliki keinginan memasuki surga Allah tetapi dengan segala keterbatasan. Mungkin seseorang tidak mampu untuk menggenggam jalan cinta yang sedemikian berat tantangan dan kenyataannya. Juga tidak mampu untuk memasuki surga  melalui jalan ridla karena keterbatasan kapasitas untuk menyenangkan Allah dengan total, atau bahkan juga tidak bisa memasuki jalan khauf karena juga kemampuannya yang tidak total dalam ketakutan kepada Allah. Ada moment menjalankan perintah Allah dengan kaffah tetapi di lain kesempatan juga tidak patuh sepenuhnya kepada Allah.   Namun demikian, orang yang seperti ini selalu  berdoa kepada Allah untuk memperoleh keselamatan. Bahkan keselamatan yang diminta bukan hanya untuk dirinya, akan tetapi untuk keluarganya, komunitas dan masyarakatnya.

Allah telah memberikan piranti yang sangat banyak untuk memasuki surga dengan jalan ini. Ada banyak doa dan harapan. Ada banyak permohonan kepada Allah dan juga kepada Nabi Muhammad SAW agar berada di dalam barisan orang yang selamat fid dini, wad dunya wal akhirah. Ada banyak doa yang dicantumkan di dalam Alqur’an dan juga doa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Semua itu adalah instrument untuk memperoleh keselamatan. Bahkan juga ada yang menyatakan khauf dan raja’ merupakan dua jalan  yang saling terkait. Artinya tidak bisa dipisahkan. Ada ketakutan masuk neraka maka seseorang berdoa dengan total kepada Allah untuk memperoleh keselamatan.

Dengan pengamalan beragama yang tidak sebagaimana para ahli tasawuf, misalnya Hasan Basri yang mengembangkan konsep tasawuf ridla, atau Rabiah Al Adawiyah yang mengembangkan konsep tasawuf cinta, atau tasawuf Imam Al Ghazali  yang berlabel tasawuf khauf dan tasawuf raja’  maka yang diharapkan adalah agar kita dapat   memasuki barisan  orang yang mendapatkan rahmat Allah kelak di alam akherat. Kita tetap menjadi barisan kaum ashabul yamin dan bukan ashabul syimal.

Melalui doa yang terus kita lantunkan dan juga permohonan ampunan kepada Allah dan terus mencintai Nabi Muhammad SAW semoga kita tetap berada di dalam jalan yang benar untuk meniti jalur ke surga yang dijanjikan Allah.

Wallahu a’lam bi al shawab.

PINTU MASUK SURGA BERAGAM (1)

PINTU MASUK SURGA BERAGAM (1)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Pengajian pada Komunitas Ngaji Bahagia memang memiliki kekhasan, yaitu membahas hal-hal yang dianggap penting sesuai dengan yang diinginkan oleh jamaahnya. Jadi tidak ada pedoman baku secara sistematis. Lebih bercorak tematik sesuai dengan keperluan yang dianggap penting.

Pada pengajian Selasa pagi ba’da shubuh, 04/07/2023, di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya, terdapat pertanyaan yang menarik sebagaimana yang disampaikan oleh Pak Suryanto, peserta pengajian paling senior. Pak Sur, begitulah biasanya kami semua memanggilnya, menyatakan: “di dalam artikel yang pernah saya baca, bahwa orang bisa masuk surga  karena ketakutannya pada Allah dengan melakukan semua perbuatan yang diamanahkan dan menghindari semua perbuatan yang dilarang. Apakah benar jalan ke  surga tersebut melalui jalur ini?”.

Saya memberikan penjelasan berdasarkan pengetahuan saya yang terbatas tentang ajaran Islam dalam kaitannya dengan surga dan amalan yang sebaiknya dilakukan. Saya menyatakan bahwa ada berbagai macam ragam para ahli di dalam menafsirkan dan mengamalkan ajaran Islam sesuai dengan kapasitasnya. Saya mencoba untuk memberikan penjelasan berdasarkan paham keberagamaan yang menurut saya relevan, yaitu ada empat jalan menuju surganya Allah SWT. Artikel ini adalah tulisan pertama terkait dengan tema di atas.

Pertama, lewat jalan khauf atau takut kepada Allah SWT. Yang dimaksud dengan khauf adalah takut untuk melakukan tindakan yang salah dan takut untuk tidak melakukan tindakan yang benar sesuai dengan ajaran Islam.  Khauf memiliki cakupan yang luas tetapi substansinya adalah ketakutan kepada Allah untuk menjauhi larangannya dan menjalankan perintahnya. Allah telah mewajibkan kepada umatnya untuk patuh dan taat atas perintah Allah dan menjauhi semua larangan Allah. Manusia harus menjadi seorang yang mukmin atau percaya kepada keberadaan Allah dan semua kegaiban yang terkait dengan ajaran Islam. Gaib di dunia tetapi kenyataan di akherat. Misalnya surga,  neraka, mahsyar adalah kegaiban di dunia. Termasuk malaikat, wahyu dan juga makhluk gaib lainnya sesuai dengan berita di dalam Alqur’an. Bisa jadi hal tersebut kegaiban di dunia tetapi menjadi realitas di akherat.

Saya membagi khauf dalam dua hal, yaitu khauf negative dan khauf positif. Khauf disebut negative jika ketakutan itu membuat diri kita terbelenggu di dalam ketakutan dan berakibat menutup diri dalam pergaulan dunia. Kita melarikan diri dari kehidupan duniawi. Kita hanya terfokus mengejar akhirat dengan melupakan tugas dan kewajiban sebagai khalifah Allah fil ardhi. Makanya, kita takut kepada Allah dengan tetap berada di dalam kapasitas sebagai manusia yang memiliki hak dan kewajiban sebagai manusia di dalam keluarga, komunitas dan masyarakat. Nabi Muhammad SAW pernah menegur Sahabat Salman al Farisi, karena Salman hanya mementingkan kehidupan akhirat dan melupakan tanggungjawabnya sebagai bagian dari keluarga. Saya melihat ada banyak dalil di dalam Alqur’an maupun hadits Nabi Muhammad yang mengedepankan ajaran keseimbangan antara kehidupan duniawi dan ukhrawi. Islam mengajarkan agar takut kepada Allah tidak menghalangi kita untuk hidup dalam kehidupan sebagai individu, keluarga dan anggota masyarakat. Maka, kita harus berada di dalam sikap takut yang positif yaitu sikap untuk tidak menutup diri akan tetapi menyeimbangkan antara tugas dan kewajiban duniawi dengan menyelaraskan pada  kepentingan ukhrawi. Di masa lalu, uzlah itu dimaknai dengan menyediri di dalam gubug wirid atau zawiyah yang hanya berkonsentrasi untuk tujuan ukhrawi, tetapi dewasa ini terdapat perubahan bahwa uzlah adalah menyendiri di dalam perilaku kebaikan di tengah kehidupan social.

Kedua, melalui jalan Ridla Allah.  Ridla di dalam Bahasa Indonesia disebut rela atau jika dikaitkan dengan Allah maka berbunyi kerelaan Allah. Kerelaan itu terkait dengan dua entitas yang sama atau beda dan dua-duanya memiliki satu focus tentang sesuatu. Misalnya manusia dan Tuhan, maka kerelaan atau ridla tersebut terkait dengan manusia melakukan suatu Tindakan yang berupa amalan shaleh dan Allah meridlai atau mersetui atas apa yang dilakukan manusia tersebut.

Di dalam konteks ridla, maka dipastikan ada gelombang yang sama meskipun berasal dari dua entitas yang berbeda. Manusia dan Tuhan merupakan dua entitas yang berbeda tetapi bisa bertemu di dalam gelombang spiritual yang sama. Sebagai contoh yang lebih empiris, misalnya keridlaan orang tua akan terjadi jika anaknya dapat menyenangkan hati orang tuanya. Jika dipanggil orang tuanya akan segera datang. Jika disuruh akan segera dikerjakan, dan jika dilarang tidak akan dilakukannya. Peran orang tua sangat besar di dalam kehidupan sebab di dalam sebuat teks dinyatakan bahwa keridlaan orang tua adalah keridlaan Tuhan. Ridlallah fi ridhal walidain.

Ridla Allah adalah segala-galanya. Jika Allah sudah ridla maka Allah akan memberikan segalanya untuk umatnya. Jangankan memohon surganya Allah, memohon yang lebih dari surga pun akan diberikannya. Di dalam teks diyakini bahwa para ahli surga akan dapat melihat eksistensi Allah. Meskipun terdapat perbedaan pendapat dari para ahli ilmu kalam, tetapi diyakini secara substansial bahwa Allah akan menampakkan diri pada ahli surga.

Di antara umat manusia yang dapat bertemu Allah adalah Nabiyullah Muhammad SAW. Di dalam peristiwa Mi’raj hal tersebut terjadi. Mengapa bisa seperti itu, karena Nabi Muhammad SAW adalah kekasih Allah, yang bahkan diberikan otoritas untuk memberikan syafaat fi yaumil mahsyar. Begitu cintanya Allah kepada Nabi Muhammad SAW, sehingga otoritas yang sesungguhnya hanya milik Allahpun diberikannya. Contoh lain adalah Nabi Ibrahim yang karena cintanya Allah yang sedemikian besar, maka api pun tidak sanggup membakarnya. Contoh lain adalah Nabi Musa yang bisa membelah laut menjadi jalan lempang yang mengantarkannya pada keselamatan.

Dengan demikian, keridlaan Allah merupakan pintu utama di dalam menggapai kebahagiaan di alam akherat. Siapa yang bisa menyenangkan Allah, maka Allah juga akan mencintainya. Kita telah melakukan sekurang-kurangnya beribadah sesuai dengan kemampuan, semoga hal ini dapat menjadi pintu masuk ke dalam ridlanya Allah SWT. Amin.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

OPTIMISLAH SURGA DI TANGAN KITA

OPTIMISLAH SURGA DI TANGAN KITA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Ada sebuah pertanyaan yang menggelayut di dalam batin saya, mengapa Nabi Muhammad SAW menyatakan bahwa umat Nabi Muhammad SAW adalah kebanyakan yang akan memasuki surga dan bahkan diistimewakan sebelum umat-umat Nabi lainnya? Pertanyaan ini mungkin bisa disalahpahami oleh umat agama lain, tetapi pertanyaan ini termasuk dalam kekhasan di dalam ajaran agama, yang siapapun yang beragama Islam meyakininya dan umat agama lain harus menghargainya.

Inilah pertanyaan pembuka di dalam pengajian Selasa pagi ba’da shubuh yang diselenggarakan di Masjid Al Ihsan, Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya, 04/07/2023. Pengajian bagi Komunitas Ngaji Bahagia ini  berprinsip ya ngaji  ya tertawa dan  Ya ngaji ya bahagia. Di antara indicator kebahagiannya adalah jika di dalam moment ngaji tersebut bisa tertawa lepas sebanyak 17 kali. Dan hal ini selalu kita penuhi di dalam ceramah-ceramah yang diselenggarakan. Sebagaimana biasanya bahwa ngaji ini dilakukan secara dialog, dan siapa saja bisa memberikan pertanyaan atau pembahasan sesuai dengan tema yang dibahas. Dan kali ini temanya terkait dengan instrument umat Islam untuk masuk surganya Allah SWT.

Bagi  kita Islam itu sungguh merupakan pedoman yang sangat lengkap. Tidak hanya mengatur hubungan dengan Tuhan, manusia dan alam akan tetapi juga memberikan instrument yang lengkap bagaimana melalui pedoman tersebut kita berhubungan dengan sesama manusia.  Islam mengatur hubungan dalam muamalah, misalnya hubungan kekerabatan, kekeluargaan, ekonomi, hukum dan relasi dengan negara. Islam juga mengatur hubungan dengan Tuhan melalui ritual yang baku atau wajib dan juga ritual yang dijadikan sebagai sarana untuk hubungan dengan Allah tetapi juga bernuansa kemanusiaan.

Kali ini saya akan menjelaskan betapa banyak instrument untuk memperoleh keselamatan di dunia dan akherat. Ada doa yang sangat lazim dibacakan oleh umat Islam dalam setiap waktu shalat, baik shalat wajib atau sunnah. Misalnya doa “Rabbana atina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina ‘adzaban nar”. Ada instrument untuk menghapus dosa individual, ada doa untuk keluarga, ada penghapus doa komunal sesama umat Islam dan ada doa untuk keselamatan manusia secara umum atas nama kemanusiaan.

Bukankah setiap shalat kita membaca ucapan selamat kepada para Nabi yang direpresentasikan oleh Nabi Muhammad SAW dan Nabi Ibrahim sebagai kakek moyang agama monotheisme, lalu juga doa keselamatan kepada Para Nabi dan dihadirkan kepada Nabi Muhammad SAW dan juga umat Islam yang shaleh dan shalihah. Assalamu ‘alaina wa ‘ala ‘ibadillahish  shalihin. Shalawat kepada Nabiyullah dan juga keselamatan bagi umat Islam. Alangkah indahnya, bahwa bacaan shalat kita itu mengajarkan sikap sosialitas yang sangat tinggi. Umat Islam tidak diajarkan untuk menjaga keselamatan diri sendiri saja akan tetapi juga keselamatan kepada umat Islam lainnya.

Islam memberikan kabar gembira bahwa yang akan masuk surga itu sebanyak 67 persen. Sepertiga di awal dan sepertiga di akhir. Jadi yang masih tanda tanya adalah nasib umat Islam yang sebesar 33 persen. Yang berkategori 33 persen itulah yang intinya juga potensial untuk memperoleh rahmatnya Allah. Di dalam Surat Al Waqi’ah dijelaskan mengenai hal ini. Jadi angka 67 persen itu adalah angka yang ditunjukkan di dalam Alqur’an.

Sebagai bagian dari husnudh dhan kepada Allah, maka siapa yang sudah menyatakan dengan lesan, pikiran dan hati bahwa “tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah”, sebagaimana penyaksian atau syahadat yang selalu kita baca di dalam shalat, maka ini merupakan indicator terbesar bahwa seseorang akan masuk surganya Allah. Apalagi dengan Sabda Nabi Muhammad SAW, “barang siapa yang di akhir kalamnya menyatakan la ilaha illallah, dakhalal Jannah”. Ajaran Islam yang semacam ini yang membuat kita optimis bahwa kita yang sudah melakukan shalat, mengamalkan puasa, melaksanakan zakat dan amalan-amalan shalihan lainnya memiliki peluang yang lebih besar untuk dapat memasuki surga.

Melakukan ritual adalah core instrument untuk masuk surga, akan tetapi juga ada aspek lain yang sangat besar kontribusinya di dalam kehidupan yang bahagia di akherat yaitu “kebaikan” atau “kesalehan” yang dapat dilakukan di dalam kehidupan. Ada seorang sahabat saya yang menyatakan: “ada banyak dosa yang kita lakukan, maka yang harus kita andalkan adalah kebaikan kita untuk kemanusiaan”. Kita harus menyenangkan orang lain. Kita harus membuat orang lain bahagia. Kita harus membuat orang lain merasa nyaman dalam kebersamaan. Dan jika kita bersalah kita harus meminta maaf kepadanya. Hati kita lapang dalam berhubungan untuk urusan kemanusiaan. Secara hipotetik bisa dinyatakan: “semakin baik prilaku kita kepada sesama umat manusia, maka semakin besar peluang kebaikan yang dapat kita terima di sisi Allah”.

Oleh karena itu, jika Alqur’an menyatakan bahwa kebanyakan yang masuk surga adalah umat Islam, tidak lain adalah karena banyaknya instrument yang diberikan Allah melalui Nabi Muhammad untuk umatnya. Kita bisa saling mendoakan. Kita mendoakan kepada leluhur kita, Bapak dan Ibu dan terus ke atas sampai kakek, nenek, buyut, canggah, udek-udek, gantung siwur dan seterusnya, dan kita juga mendoakan keselamatan kepada umat Islam secara keseluruhan.

Alangkah bahagianya menjadi umat Islam yang selalu didoakan oleh umat Islam lainnya, dan semua ini merupakan potensi kebaikan yang kelak akan dapat diterima hasilnya di alam akherat. Allahumma amin Ya Rabbal ‘alamin.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

ALLAH MENYURUH  BERWASIAT TENTANG KESABARAN DAN KERAHMATAN

ALLAH MENYURUH  BERWASIAT TENTANG KESABARAN DAN KERAHMATAN

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Islam tidak hanya berisi tentang tabsyir atau berita kegembiraan, akan tetapi juga tandzir atau peringatan. Berita kegembiraan diberikan kepada orang yang menjalankan ajaran agama yang sesungguhnya berisi etika dan tanggung jawab kepada Tuhan dan juga terhadap sesama manusia dan alam. Saya sebut sebagai etika karena inti atau substansi ajaran Islam adalah memberikan petunjuk kepada manusia di dalam kerangka berhubungan dengan Allah sebagai rabb dan ilah, dan juga relasi kepada sesama manusia dan bahkan dengan alam.

Sementara itu juga ada peringatan kepada orang yang tidak menjalankan ajaran  Allah dan sunnah rasul Muhammad SAW. Mereka itu kaum kafir atau yang mengingkari kebenaran ajaran Islam dan tidak menjalankan syariat agama yang telah terdapat di dalam Kitab Suci dan juga hadits Nabi Muhammad SAW. Mereka itu diancam dengan neraka atau siksaan yang berat karena kesalahannya tersebut.

Di antara yang diajarkan oleh Allah SWT kepada manusia melalui Kanjeng Nabi Muhammad SAW adalah dengan cara berwasiat tentang kesabaran dan berwasiat tentang kerahmatan. Islam mengajarkan agar seseorang bisa memenej perangainya, mengendalikan emosinya dan sikap kerasnya, dengan terus menjaga diri untuk bersabar dan menyebarkan kesabaran tersebut bagi orang lain. Selain itu juga menjaga dirinya agar menjadikan Islam sebagai agama yang memberikan kerahmatan tidak hanya untuk manusia tetapi juga untuk binatang atau tumbuh-tumbuhan atau flora dan fauna. Kita jaga alam ini agar tetap lestari karena kelestarian alam menjadi syarat bagi kebaikan hidup manusia.

Saya terkadang menyesalkan orang yang merusak tumbuh-tumbuhan. Pada waktu saya ke Batu Malang maka terdapat pohon-pohon besar yang umurnya tentu sudah ratusan tahun. Pohon besar-besar di samping jalan merupakan ciri khas Kota Batu sebagai kota hujan, seperti di Puncak Bogor yang juga daerah basah karena curah hujan yang tinggi. Pohon yang besar tersebut kemudian di bagian bawahnya dibakar karena sampah  ditempatkan di situ. Pohon tersebut terbakar di bagian bawah, tetapi masih untung karena tidak semuanya terbakar. Namun juga ada yang mati akibat ulah manusia seperti itu.

Islam sungguh mengajarkan agar manusia menjaga keseimbangan atas alam. Jangan sampai kita merusak keseimbangan tersebut dengan melakukan perusakan alam. Allah menciptakan segala sesuatu itu tidak sia-sia atau selalu memiliki makna. Semua ciptaan Allah itu ada manfaatnya bagi kehidupan, khususnya kehidupan manusia. Islam memperingatkan bahwa kerusakan di laut dan di daratan adalah karena perilaku manusia. Jika manusia tidak merusaknya, maka alam tidak akan rusak. Tangan-tangan jail manusialah yang menyebabkan kerusakan alam tersebut.

Allah memerintahkan kepada kita untuk berwasiat tentang kesabaran. Sabar itu mudah diucapkan tetapi sangat sulit dilakukan. Bahkan betapa sedikitnya orang yang bisa berbuat sabar. Meskipun saya menulis tentang kesabaran juga belum tentu saya bisa sabar dengan sesungguhnya. Saya dinyatakan oleh sesama kolega sebagai orang yang sabar, tetapi saya merasakan bahwa saya bukanlah orang yang tepat dinyatakan sebagai orang yang sabar. Tetapi yakinlah bahwa ada pelatihan yang bisa menjadi instrument untuk berbuat kesabaran. Sabar dalam menerima ujian atau cobaan Allah. Sabar di kala susah atau sedih atau sabar juga di kala menerima nikmat Allah SWT. Jika kita dalam keadaan susah misalnya sulitnya mengakses rezeki, maka tantangannya adalah bagaimana harus sabar.

Selain itu Allah juga meminta kita untuk berbuat yang penuh dengan kerahmatan. Islam itu agama yang mengusung konsep praktik kerahmatan bagi seluruh alam. Islam itu mengajarkan agar manusia memiliki sifat kasih sayang terhadap sesama manusia dan juga alam semesta. Melalui inteligensi yang sempurna seharusnya manusia menjadi contoh untuk berbuat yang penuh kasih sayang. Jika ada pohon yang besar dan sudah berumur ratusan tahun janganlah kemudian dirusak dan lalu mati. Janganlah kita mencemari sungai, sebab biota sungai akan mati. Jangan kita mencemari laut nanti akan merusak ekosistem kelautan. Manusia benar-benar harus berpikir yang matang dalam melakukan tindakan terhadap apa saja.

Bahkan ada umat Islam yang justru melakukan bom bunuh diri. Tidak hanya mencelakai dirinya sendiri, akan tetapi juga mencederai orang lain atas nama agama tentu bukan tindakan yang benar. Atas nama jihad fi sabilillah juga bukanlah sesuatu yang benar, jika melakukan bom bunuh diri. Melakukan penyerangan terhadap siapa saja di negara yang damai bukanlah jihad di jalan Allah, bukan haraqah ijtihadiyah. Jika berada di negara perang melawan kaum kafir atau musyrik mungkin masih bisa disebut sebagai jihad. Tetapi jika di Indonesia yang negerinya aman dan damai lalu melakukan tindakan bom bunuh diri atas nama Islam tentu merupakan kesalahan tafsir ajarannya.

Tadi pagi di dalam kegiatan tahsinan, 03/07/2023, jamaah Ngaji Bahagia atau Komunitas Ngaji Bahagia menyelesaikan bacaan Surat Al Balad. Ayat yang ditahsin adalah ayat 17-20, yang berbunyi: “tsumma kana minal ladzina amanu wa tawashau bis shabri wa tawa shaubil marhamah, ulaika ashhabul maimanah, wal ladzina kadzdzabu bi ayatina hum ashhabul masy amah, ‘alaihim narum mu’shadah”.  Yang artinya: “kemudian dia termasuk orang-orang yang beriman, dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang. Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan. Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu adalah golongan kiri. Mereka berada di dalam neraka yang ditutup rapat”.

Melalui ayat ini kita sungguh dipesan oleh Allah agar mengedepankan pikiran, sikap dan tindakan yang penuh dengan kesabaran, dan juga terus mengedepankan pikiran, sikap dam tindakan kasih sayang kepada yang lain. Dan kita pasti bisa jika kita berusaha untuk mencapainya.

Wallahu a’lam bi al shawab.