Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

JAGA AMALAN TERBAIK: SHALAT, BAKTI ORANG TUA DAN JIHAD

JAGA AMALAN TERBAIK: SHALAT, BAKTI ORANG TUA DAN JIHAD

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Hidup itu bukan hanya di dunia ini. Berdasarkan teks agama Islam, bahwa manusia akan mengalami proses hidup berkali-kali. Artinya tidak hanya kehidupan di dunia tetapi ada alam lain yang manusia akan mengalami kehidupan. Menurut ahli tasawuf, bahwa manusia akan mengalami sekurang-kurangnya empat kehidupan, yaitu kehidupan di alam roh, kehidupan di alam dunia, kehidupan di alam barzakh dan kehidupan di alam akherat.

Kehidupan di alam roh tentu diberitakan di dalam Islam telah terjadi dalam 50.000 tahun sebelum diciptakannya alam semesta. Saat itulah roh manusia sudah hidup bahkan terjadi dialog antara Tuhan dan manusia sebagaimana tercantum di dalam Alqur’an,  Allah berfirman: “adakah aku ini Tuhanmu, maka serentak roh menyatakan, ya aku menyaksikannya” (Alqur’an Surat Al A’raf, 172). Artinya bahwa roh itu sesuatu yang hidup. Sesuatu yang bisa menyaksikan keberadaan Allah. Kita tidak bisa membicarakan apakah roh itu benda atau bukan, roh itu melihat atau tidak terhadap Allah, dan pertanyaan teologis lain, namun kita tidak perlu masuk ke dalam area tersebut. Biarlah para ahli filsafat atau ahli ilmu kalam yang membicarakannya.

Roh tersebut kemudian lahir ke dunia atau alam dunia melalui perantaraan orang tua. Allah menciptakan manusia melalui perantaraan manusia lelaki dan perempuan. Dua orang inilah yang diberikan kekuatan untuk melahirkan, mengelola kehidupan dari anak-anak hingga dewasa.  Kemudian di  dalam perjalanan usianya di dunia, manusia dapat melakukan banyak aktivitas kehidupan. Jika di alam roh, maka roh yang hidup. Di dalam alam dunia, roh membutuhkan fisik untuk hidup. Jasad bisa hidup karena roh dan roh juga bisa hidup di dunia karena jasad. Ada kenyataan saling membutuhkan di antara keduanya.

Jika antara roh dan tubuh berpisah, maka terjadilah kematian dan kemudian roh melanjutkan kehidupannya yang ketiga, yaitu hidup di dalam barzakh. Roh itu hidup dalam waktu dan ruang yang sudah ditentukan. Menurut para ahli tasawuf, bahwa roh itu sudah ditunjukkan bagaimana kelak kehidupannya. Ada yang sudah merasakan aura kebahagiaan dan ada juga yang merasakan aura kesusahan. Itulah sebabnya Nabi Muhammad SAW menganjurkan kepada umatnya agar berdoa kepada Tuhan agar keluarganya yang sudah meninggal dan rohnya berada di dalam barzakh dapat merasakan kesenangan. Semua amalan terputus kecuali shadaqah jariyah dan doa anak shaleh saja yang masih bisa diterima pahalanya.

Menurut ahli tasawuf, bahwa kehidupan di dunia merupakan kehidupan untuk melaksanakan perjanjian dengan Allah. Manusia diberikan kewajiban untuk beribadah kepadanya dan melakukan amalan-amalan shaleh lainnya. Alam dunia disebut sebagai alam ngelakoni janji. Alam barzakh disebut sebagai alam ngaweruhi  janji dan alam akherat sebagai  alam nerimo hasile janji. Itulah sebabnya, bahwa kala roh di alam barzakh, maka roh sudah tahu tentang bagaimana akhir kehidupannya.

Sebagai alam ngelakoni janji atau melaksanakan perjanjian, maka Allah menurunkan Nabi dan rasul pada semua masyarakat di dunia. Ada sebanyak 25 rasul dan 124 ribu nabi yang diturunkan Allah untuk membimbing manusia. Tentu ada yang memperoleh petunjuk dan ada yang tidak memperoleh petunjuk. Petunjuknya sama, akan tetapi resepsi atau penerimaannya bisa saja berbeda. Oleh karena itu, mari kita jaga petunjuk atau hidayah Allah  agar kita dapat memperoleh kebahagiaan fid dini wad dunya wal akhirah.

Ketiga,  Islam sangat menekankan betapa penting peribadatan kepada Allah SWT. Manusia memang diciptakan oleh Allah agar mengabdi kepada Allah SWT. Salah satu di antara bentuk ibadah yang sangat penting di dalam Islam adalah shalat. Memang shalat merupakan rukun Islam yang kedua setelah syahadat. Shalat adalah medium manusia untuk “bertemu” dengan Allah SWT. Dan begitu pentingnya shalat, maka Nabi Muhammad SAW dipanggil langsung untuk menghadap Allah sewaktu peristiwa Mi’raj Nabi Muhammad SAW.

Ada sebuah hadits yang sangat penting untuk diamalkan, yaitu: Rasulullah bersabda: “Ayyul amali ahabbu illallah? Qala ash shalatu ‘ala waqtiha. Qultu tsumma ayyun? Qala birrul walidain.  Tsumma  qultu ayyun? Qala tusmma  al jihadu fi sabilillah”. Yang artinya: “amal apakah yang palin dicintai Allah?, Beliau menjawab shalat pada waktunya. Lalu  aku (Ibnu Mas’ud)  bertanya lalu apa? Beliau menjawab berbakti kepada kedua orang tua. Lalu  aku  bertanya lalu apa lagi? Beliau menjawab berjihad di jalan Allah”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits ini memberikan gambaran bahwa ada tiga amalan yang sangat penting di dalam kehidupan, yaitu melakukan ibadah shalat, berbakti kepada kedua orang tua dan melakkan jihad di jalan Allah. Para jamaah shalat shubuh ini tentu sudah melakukan shalat, bahkan shalat berjamaah, meskipun ada yang tepat waktu ada yang terkadang harus melakukan shalat jama’, mungkin ada yang di awal waktu dan ada yang di akhir waktu, tetapi yang jelas bahwa kita sudah memenuhi standart “minimal” dalam melakukan shalat.

Lalu kita juga sudah “membahagiakan” orang tua dengan cara kita masing-masing. Termasuk sudah mendoakannya baik di kala masih hidup maupun di kala sudah wafat. Bagi yang masih hidup tentu kita menyenangkan hatinya dengan menjadi  orang yang shalih atau shalihah yang kelak akan mendoakannya dan juga berbuat baik kepada orang tua, dan jika sudah wafat maka tugas kita adalah mendoakannya, membacakan Qur’an kepadanya, membaca tahlil kepadanya, atau membaca kalimat-kalimat thayibah lainnya. Semua akan menjadi penyambung amalan ibadah di kala orang tua kita sudah wafat.

Dan yang tidak kalah penting adalah jihad atau berjuang di jalan Allah. Jihad tentu tidak hanya dimaknai sebagai perang, apalagi di negeri yang damai. Jihad bisa dimaknai sebagai upaya untuk melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh. Bekerja yang sungguh-sungguh untuk memenuhi kewajiban keluarga, bekerja sungguh-sungguh untuk mencapai prestasi yang baik yang semua itu tidak hanya untuk tujuan duniawi tetapi juga untuk mengabdi kepada Allah SWT adalah ibadah. Semua hal yang dilakukan dengan keinginan menemukan keridlaan Allah SWT  tentu  bisa menjadi lahan ibadah.

Wallahu a’lam bi al shawab

 

KAFIR: MAKNA SOSIOLOGIS

KAFIR: MAKNA SOSIOLOGIS

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Komunitas Ngaji Bahagia (NSC) menyelenggarakan ngaji luring pada hari Selasa atau disebut ngaji selasanan dengan jumlah jamaah yang relative banyak, sebab biasanya memang hanya diikuti oleh Jamaah Masjid Al Ihsan, akan tetapi pada Selasa, 05/11/2023 diikuti oleh Jamaah Masjid Raudlatul Jannah Perumahan Sakura Regency. Tidak seperti biasanya, maka wedang sereh dan soto ayam pun ikut dihadirkan. Saya yang memandu acara pengajian bada Subuh tersebut dan saya membicarakan tentang konsep Kafir di dalam Islam. Sebagaimana biasanya, maka tema ngaji saya sampaikan dalam tiga hal, yaitu:

Pertama, memahami kata kafir. Kafir berasal dari Bahasa Arab ka-fa-ra, yakfuru, kufron atau,  kafir atau kata ganti orang artinya mengingkari atau menutupi. Bisa juga berasal dari kata kaffara, yukaffiru, takfiran yang artinya mengkafirkan. Kata kafara yang pertama berarti mengingkari atau menutupi kebenaran,   atau mengingkari kebenaran Allah, sedangkan yang kedua berarti  mengkafirkan kepada orang lain. Makanya, secara sosiologis ada dua makna yaitu makna umum dan  makna khusus. Makna umum merupakan ungkapan yang menggambarkan seluruh penolakan atau pengingkaran atas apa saja, misalnya mengingkari nikmat Tuhan atau disebut juga sebagai kufrun ni’mah. Sedangkan pemahaman secara khusus adalah terkait dengan dunia keyakinan tentang keberadaan Tuhan. Orang atheis artinya orang yang tidak percaya mengenai keberadaan Tuhan. A tidak dan theis tuhan. Tidak bertuhan. Di dalam serapan Bahasa Indoesia, kata kafir memiliki dua arti itu, yaitu menolak keberadaan Tuhan dan mengingkari nikmat Tuhan. Secara istilah kafir adalah orang yang tidak mempercayai keberadaan Tuhan dan tidak meyakini bahwa Tuhan adalah Dzat yang menguasai seluruh dunia, makro kosmos dan mikro kosmos, dan segala hal yang dikaitkan dengan Tuhan. Jika tidak percaya kepada keberadaan Tuhan, maka konsekuensinya adalah tidak mempercayai seluruh syariat atau ajaran agama yang dikaitkan dengan Tuhan.

Kedua, secara semantic, kata kafir dikaitkan dengan kata-kata di dalam Alqur’an yang intinya adalah ketidaknyamanan, kesulitan, kesengsaraan dan hukuman. Suatu contoh di dalam Surat Al Waqi’ah, ayat 42-44, dinyatakan: “fi samumiw wa hamim, wa dzillim miyyahmun, la baridi wa la karim”, artinya: “(mereka)  dalam siksaan angin yang sangat panas.dan air yang mendidih, dan naungan asap yang hitam,  tidak sejuk dan tidak menyenangkan”.  Kata kafir  diasosiasikan dengan Ashab al syimal. Kelompok kiri yang dilawankan dengan kata ashab al yamin atau golongan kanan. Selain itu juga dikaitkan dengan kata Naru Jahanam atau neraka jahanam, syarrul bariyyah atau kehidupan yang jelek, atau juga dikaitkan dengan kata dosa dan masih banyak lagi.

Seseorang dapat dilabel kafir karena mengingkari atas persaksiannya kepada Allah SWT. Ketika di alam roh, maka semua manusia ditanya oleh  Allah SWT: alastu birabbukum, qalu bala syahidna”. Allah berfirman: “adakah aku ini Tuhanmu, maka serentak roh menyatakan, ya aku menyaksikannya” (Alqur’an Surat Al A’raf, 172). Jadi kala manusia dilahirkan ke dunia melalui perantaraan orang tua atau Bapak dan Ibu, maka Allah menagih janji manusia akan keyakinan dan kepatuhan kepada Allah SWT. Karena manusia memiliki sifat lupa, maka Allah menurunkan Nabi dan Rasul untuk mengingatkan kembali akan janjinya tersebut. Di antara manusia, ada yang sadar dan mengikuti anjuran Rasulullah dan ada yang mengingkarinya. Yang mengikuti anjuran Rasul disebut sebagai mukmin dan yang mengingkarinya disebut sebagai kafir. Ingkar dalam arti khusus yaitu mengingkari akan keberadaan atau eksistensi Allah sebagai Tuhan. Tentu berbeda artinya dengan mengingkari nikmat Allah atau tidak bersyukur. Orang yang beriman bisa saja tidak mensyukuri nikmat Allah SWT.

Ketiga, macam-macam kafir. Ada empat jenis kafir yang dikenal dalam literatur ilmu keislaman, yaitu kafir harbi ialah kafir yang bisa diperangi karena mereka memerangi terhadap umat Islam. Misalnya kaum Israel adalah contoh kafir harbi. Untuk mereka itu maka berlaku prinsip harakah ijtihadiyah atau prinsip gerakan memerangi terhadapnya. Mereka melakukan penyerangan terhadap umat Islam, maka umat Islampun harus melawan. Pada zaman Belanda, setelah Kemerdekaan 19/8/1945, maka KH. Hasyim Asy’ari mengumunkan perlunya jihad melawan Belanda dan sekutunya, yang disebut sebagai Resolusi Jihad. Artinya harus melakukan jihad terhadap Belanda dan sekutunya. Nabi Muhammad SAW juga melakukan peperangan terhadap kaum kafir karena mereka menyerang terhadap umat Islam. Dalam konteks ini, maka jihad berarti perang.

Kemudian, kafir dzimmi atau kafir yang memperoleh perlindungan. Mereka memang orang yang beragama lain, akan tetapi mereka mematuhi terhadap pemerintah yang sah. Misalnya membayar zakat. Di masa Nabi Muhammad SAW mereka dikenai untuk membayar jizyah dengan ketentuan yang disepakati. Di Indonesia sekarang ini bisa dikategorikan sebagai orang kafir yang disebut sebagai kafir dzimmi. Orang yang tidak mengakui Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah, tetapi berada di dalam negara yang damai.   Orang  kafir tersebut mematuhi regulasi, maka mereka harus memperoleh perlindungan.

Kafir musta’man  adalah orang kafir yang mendapatkan suaka di dalam wilayah negara. Mereka meminta suaka pada negara lain dan diberikannya. Dan yang terakhir adalah kafir mu’ahad atau terikat perjanjian dengan pemerintah atau pemimpin negara. Nabi Muhammad SAW pernah melakukan perjanjian dengan berbagai suku di Arab Saudi, untuk hidup berdampingan. Mereka akan saling berada di dalam kedamaian dan saling mempercayai dan tidak akan melakukan pencederaan atas perjanjian tersebut.

Kita tentu harus bersyukur sebab bisa hidup di Negara Republik Indonesia, meskipun bukan negara agama, akan tetapi menjadikan agama sebagai pattern for behaviour negara dan juga masyarakatnya. Kita hidup dalam kedamaian meskipun berbeda suku bangsa, etnis, golongan social dan agama. Sungguh kita merasakan betapa Indonesia merupakan negara idaman bagi manusia di dunia, sebab negeri ini aman dan damai, dan insyaallah juga akan menjadi negara yang rakyatnya merasakan kemakmuran.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

BEKERJA SEBAGAI IBADAH

BEKERJA SEBAGAI IBADAH

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) memperoleh tamu-tamu istimewa di dalam pengajian Selasanan, 28/11/2023, sebab pengajian ini diikuti oleh Jamaah Masjid Ar Raudhah Perumahan Sakura. Biasanya hanya jamaah Masjid Al Ihsan dan beberapa orang dari Perumahan Sakura. Tentu saja pengajian menjadi lebih semarak, sebab selain warga Perumahan Lotus Regency juga ada warga Perumahan Sakura yang mengikuti pengajian ini.

Seperti biasanya, saya didapuk untuk mengantarkan pembahasan pengajian, dan tema kali ini tentang “Bekerja Sebagai Ibadah”. Tema ini saya pilih sebagai kelanjutan pengajian di Masjid Raudhah Perumahan Sakura pada Sabtu sebelumnya, 25/11/2023. Saya sebutkan kalau tema ini untuk pendalaman tentang materi pengajian di Masjid Ar Raudhah dimaksud. Di dalam pembahasannya, saya bagi menjadi tiga bahasan, yaitu:

Pertama, bersyukur. Sudah sepantasnya kita bersyukur kepada Allah dengan sebenar-benarnya syukur. Syukur tidak hanya dengan pernyataan, tetapi juga dengan hati dan perbuatan. Bersyukurlah dengan ketiganya agar Allah memberikan ganjaran yang lebih banyak dan lebih baik. Jangan hanya banyak tetapi banyak dan baik. Banyak dan bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga dan masyarakat.

Kedua, bekerja yang baik. Bekerja adalah upaya atau usaha yang kita lakukan untuk memperoleh imbalan yang berupa uang atau barang untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan lainnya yang dianggap sebagai kebutuhan penting. Sedangkan ibadah adalah pengabdian kita di dalam kehidupan kepada Tuhan yang berimplikasi terhadap kehidupan individu, keluarga dan juga masyarakat. Jadi ibadah bukan hanya untuk Tuhan atau menyembah Tuhan untuk Tuhan tetapi persembahan tersebut berimplikasi terhadap diri individu yang melakukannya, keluarga dan juga masyarakat. Ada yang disebut ibadah untuk kesalehan individu dan ibadah untuk kesalehan social.

Ada sebuah hadits Nabi Muhammad SAW yang baik sekali untuk menjadi bahan perenungan bagi kita yang berbunyi: “man aradad dunya fa’alaihi bil ilmi, waman aradal akhirati fa alaihi  bil ‘ilmi, waman aradahuma fa’alaihi bil ‘ilmi”, yang artinya kurang lebih: “barang siapa menghendaki kehidupan dunia, maka bagainya dengan  berilmu, dan barang siapa menghendaki kehidupan akhirat maka baginya juga dengan ilmu dan barang siapa menghendaki keduanya, maka baginya juga dengan ilmu”.

Untuk kehidupan di dunia, khususnya bekerja, maka orang harus memiliki ilmu untuk bekerja. Orang menyatakan harus professional, artinya bekerja dengan ilmu dan keterampilan. Ada ilmunya dan ada keterampilannya. Tentu berbeda antara orang yang berilmu dengan tidak berilmu dalam bekerja. Orang yang berilmu dalam kapasitas pekerjaannya, maka akan muncul inovasi dan perubahan di dalam cara bekerja. Tentu akan lebih efektif dan efisien. Orang berilmu akan bekerja dengan otaknya, sedangkan orang tidak berilmu akan bekerja dengan kekuatan fisiknya. Yang lebih dihargai dalam dunia pekerjaan adalah pekerjaan yang dilakukan dengan kekuatan akalnya, selain fisiknya.

Untuk kehidupan akherat maka juga harus dengan ilmu. Yang dibutuhkan adalah ilmu keislaman, ilmu agama. Tetapi tidak cukup hanya memiliki ilmu tetapi juga diamalkannya. Ilmu amaliah. Bukan ilmu untuk ilmu tetapi ilmu untuk diamalkan. Islam mengajarkan bahwa orang yang berilmu pengetahuan itu tinggi derajadnya. Islam mengajarkan bahwa ilmu bukan bebas nilai atau value free, akan tetapi ilmu itu momot nilai atau value laden. Inilah inti dari Sabda Nabi Muhammad SAW: al ilmu bila ‘amalin ka sajaratin bila tsamarin”. Yang artinya: “ilmu yang tidak diamalkan itu laksana pohon yang tidak berbuah”.

Bekerja termasuk bagian dari mengamalkan ilmu pengetahuan. Orang yang bekerja sebagai Aparat Sipil Negara atau pegawai swasta, pengusaha dan bekerja di sector lainya hakikatnya adalah orang yang telah mengamalkan ilmu pengetahuan. Meskipun berbeda ilmu yang dipelajari di bangku pendidikan dengan praktek kerjanya, tetapi saya yakin bahwa tentu ada pengaruh pendidikannya tersebut dengan pekerjaannya. Jika pekerjaannya itu dilakukan dalam rangka untuk memperoleh kebaikan, maka pekerjaan yang dilakukan itu bisa dinyatakan sebagai ibadah.

Ketiga, makna bekerja. Bekerja akan bermakna ibadah jika memang diniatkan untuk ibadah. Tidak hanya bekerja dengan membaca basmalah, tetapi memang bekerja dengan tujuan untuk beribadah kepada Allah SWT. Diniatkan ibadah kita kepada Allah SWT. Bagi saya bekerja itu hanya instrument saja. Sarana untuk mendapatkan rejekinya Allah, dan dengan rejeki tersebut kita bisa menghidupi keluarga. Dengan bekerja, maka kita akan bisa menyekolahkan anak-anak kita, dan cucu-cucu kita. Dengan bekerja maka kita akan bisa menyenangkan keluarga. Kesejahteraan dan kebahagiaan itu salah satunya dipicu oleh ketercukupan ekonomi. Dan indikatornya adalah jika kita bisa bekerja dengan sempurna.

Oleh karena itu mari kita niatkan bekerja sebagai lahan untuk beribadah kepada Allah. Jadikan bekerja tidak hanya sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan keluarga tetapi untuk mencari ridhonya Allah. Ada final goalnya, bahwa ibadah merupakan cara untuk memperoleh keridlaan Allah SWT. Lalu ibadah juga memiliki final hope yaitu harapan untuk menjadi lahan menemukan harapan ridlanya Allah, dan yang terakhir jadikan bekerja sebagai lahan untuk menemukan persahabatan dalam ridla Allah SWT. Kita harus memiliki friendship. Insyaallah dengan berpikir dan bertindak seperti ini, maka pekerjaan  kita akan bernilai ibadah kepada Allah SWT.

Wallahu a’lam bi al shawab.

IMAMAH, APA JUGA INI?

IMAMAH, APA JUGA INI?

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Tidak bisa dipungkiri bahwa imamah merupakan bagian dari ajaran Islam, meskipun Nabi Muhammad SAW tidak memberikan contoh yang kongkrit tentang imamah tersebut. Pada masa kenabian, maka imamah itu melekat dengan posisi Nabi Muhammad SAW sebagai Rasulullah, sehingga tidak dapat dipisahkan antara aspek kenabian dan pemerintahan. Hal ini tentu sesuai dengan Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah SAW yang berkait kelindan dengan aspek ibadah dan keyakinan, sementara itu juga terdapat aspek muamalah yang merupakan relasi antar umat yang memerlukan aspek pemerintahan. Di dalam semua relasi tersebut dipandu oleh Nash atau teks suci Alqur’an dan juga apa yang dilakukan oleh Nabi atau sunnah-sunnah yang terdapat di dalam kehidupan Rasulullah.

Ada dua kata yang terkadang membuat kita bingung, yaitu imam dan imamah. Keduanya sama-sama bermakna kepemimpinan.  Baik  imam maupun imamah memiliki makna yang sama yaitu menunjuk kepada tindakan untuk menjadi pemimpin. Hanya saja, imam itu bermakna generic atau umum. Bisa digunakan untuk mengaitkan dengan kata apa yang yang memiliki konotasi kepemimpinan. Misalnya imam shalat jamaah, imam kegiatan kebersamaan apa saja, bisa peristiwa religious atau non religious. Di dalam tradisi NU, misalnya bisa imam tahlilan, imam yasinan, imam fida’an, dan lain-lain. Semuanya terkait dengan relasi antar manusia yang membutuhkan tokoh untuk menjadi pemimpin.

Sedangkan imamah itu istilah yang  khusus berkait kelindan dengan pemerintahan. Yaitu pemimpin yang menggerakkan roda pemerintahan di dalam suatu negara. System apapun yang dipilih, maka di situ ada system imamah. Pada zaman Nabi Muhammad SAW, maka Nabi Muhammad SAW adalah pemimpin agama dan negara sekaligus. Tidak dipisahkan sebab yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW berdasar atau dipandu oleh wahyu Allah SWT. System penyatuan antara peran kenabian atau prophetic mission dengan peran pemerintahan atau state mission itu dijadikan satu melalui peran atau misi para imam, yang di dunia Syiah dikenal sebagai imam dua belas. Meskipun secara historis kemudian peran itu lebih menonjol pada peran keagamaan atau religious mission sebab kaum Syiah tidak lagi menjadi penguasa pemerintahan, kecuali di Iran dengan berbagai modifikasinya.

Islam tidak memiliki system pemerintahan yang digunakan langsung oleh Nabi Muhammad SAW. Islam mengajarkan prinsipnya dan bukan bentuknya. Islam mengajarkan agar segala sesuatunya dimusyawarahkan. Di dalam Islam disebutkan: “wa syawirhum fil amri” (Ali Imron: 159) atau artinya: “dan bermusyawarahlah dengan mereka  dalam urusan itu” atau “wa amruhum syura bainahum” (Asy Syura: 38)  yang artinya: “sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka”. Prinsip dasar di dalam Islam dalam kehidupan adalah musyawarah termasuk dalam urusan pemerintahan. Pasca wafatnya Nabi Muhammad SAW, maka system musyawarah itulah yang digunakan. Para sahabat dalam jumlah yang disepakati dan orang yang ditunjuk kemudian memilih Sayyidina Abu Bakar Ash Shiddiq sebagai khalifah atau pemimpin. Berturut-turut kemudian Sayyidina Umar Bin Khattab, Sayyidina  Usman bin Affan dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Pemerintahan ini juga terdapat bercak darah, misalnya Sayyidina Umar bin Khattab, Sayyidina Usman bin Affan dibunuh, lalu Sayyidina Ali juga terbunuh. Pasca wafatnya Sayyidina Ali, maka kemudian terjadi kekacauan. Dan akhirnya naiklah Muawiyah sebagai khalifah yang dibantu oleh kroninya, dan akhirnya menghasislkan system imamah atau kekhalifahan yang bercorak mamlakah atau kerajaan atau monarkhi. System ini berakhir dan akhirnya naik Dinasti Abbasiyah yang menggantikannya sampai kekhalifahan Turki Ustmani dan Kekhalifahan Fathimiyah di Mesir, dan akhirnya jatuh kekuasaan Turki Usmani digantikan oleh system secular di bawah Kemal Pasha Attaturk.

Imamah itu terkait dengan system pemerintahan. Jadi tidak terkait secara langsung apakah harus berbasis atau berdasar Islam atau tidak. Dan semuanya tergantung dari penafsiran. Sama dengan ajaran Islam lainnya, maka semuanya adalah tafsir. Yang tidak tafsir hanyalah teks Alqur’an dan Sunnah Nabi yang qath’iyud dalalah atau yang kepastiannya sudah jelas. Sedangkan tentang imamah merupakan wilayah yang tergantung pada pendiri negara dan bangsa serta penafsiran ulamanya. Itulah sebabnya di negara-negara Timur Tengah yang mengklaim sebagai negara Islam ternyata juga bentuk negaranya bermacam-macam. Misalnya Mesir dengan bentuk negara republic atau jumhuriyah, Iran berbentuk Republik atau Islamic Republic of Iran, Irak dan Syria berbentuk republic, sementara itu Arab Saudi berbentuk kerajaan atau mamlakah, demikian juga UEA dan lain-lainnya. Jadi sangat tergantung pada bagaimana para pendiri bangsanya menentukan bentuk negaranya. Masing-masing system tersebut juga tidak menjamin ketenteraman dan kedamaian negaranya, misalnya Mesir yang berulang kali presidennya terbunuh, demikian juga Iraq dan lain-lain, terkecuali Raja Arab Saudi yang rakyatnya memang lebih memilih hidup sejahtera dengan system yang ada dibandingkan dengan system demokrasi yang tidak menjanjikan kesejahteraan.

Melihat hal ini, maka sebaiknya tidak harus ada  pemaksaan bahwa system imamah tersebut harus berbentuk khilafah, sebagaimana gagasan kaum Islamis seperti Hizbut Tahrir  (HT) atau Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Bahkan menurut saya keinginan untuk menciptakan khilafah trans-nasional merupakan pemikiran yang utopis atau tidak berpijak pada kenyataan empiris.  di dunia ini  sudah terjadi pembagian dan batas kewilayahan negara bangsa yang masing-masing memiliki otoritas atas negara dan pemerintahannya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

FUNGSI KESABARAN: HIDUPLAH DENGAN SABAR

FUNGSI KESABARAN: HIDUPLAH DENGAN SABAR

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Saya akan mengulas khutbah yang  disampaikan oleh  Dr. KH. Cholil Umam di Masjid Al Ihsan, Jum’at 17 November 2023. Saya harus mengapresiasi khutbah tersebut karena sarat dengan petuah untuk melakukan kebaikan, terutama dalam kaitannya dengan bagaimana kita berupaya untuk membangun kesabaran.

Sabar merupakan sikap dan tindakan yang menunjukkan kapasitas diri kita di dalam menghadapi kehidupan yang kompleks. Bisa dalam kaitannya dengan diri sendiri, keluarga, orang lain dan kamunitas atau masyarakat. Sesungguhnya Islam sangat mengharapkan agar umat Islam menjadi orang yang sabar. Yakni orang yang mampu memahami bahwa kehidupan memang tidak hanya yang nikmat saja tetapi juga ada kalanya yang tidak enak. Ada kalanya kita dapat  menikmati kehidupan dan ada kalanya kita tidak bisa menikmati kehidupan. oleh karena dengan resep kesabaran, maka yang enak tetap menjadi enak dan yang kurang enak harus disadari bahwa kehidupan selalu mengandung dua sisi, yaitu senang atau susah, sedih atau gembira, sabar atau marah, nikmat atau tidak nikmat.

Dua sisi kehidupan ini memang ditakdirkan oleh Allah untuk kehidupan manusia. Tidak ada satu manusiapun di dunia ini yang tidak mengalami dua sisi kehidupan tersebut. Baik itu orang kaya maupun miskin, baik orang berkecukupan atau berkekurangan. Sekaya apapun manusia itu, maka dia pasti akan mengalami dua hal tersebut. Pada suatu ketika dipastikan akan mengalaminya. Orang kaya akan mengalami masalah, orang miskin juga mengalami masalah dan orang sehat juga bisa mengalami sakit. Apapun sakitnya, misalnya hanya sekedar batuk atau flu. Jadi, hakikat kemanusiaan selalu berada di dalam dua sisi kehidupan yang pasti akan dialaminya.

Sebagaimana biasanya,  saya akan menuliskan khutbah tersebut di dalam dua  aspek mendasar, yaitu: Pertama, manusia sesungguhnya diberikan oleh Allah potensi untuk bersabar. Dengan kekuatan hati nuraninya, maka manusia bisa melakukan kesabaran. Manusia tidak hanya memiliki nafsu  amarah atau nafsu yang bersifat hewani atau nafsu yang hanya mementingkan diri sendiri atau ingin menguasai segalanya berbasis pada kekuatan akalnya, akan tetapi manusia juga diberikan kekuatan atau potensi untuk nafsu muthmainnah atau nafsu yang tenang, tidak tergesa-gesa, nafsu yang sadar mana yang baik dan mana yang benar, dan mana yang salah dan tidak bermanfaat. Berbekal pada nafsu amarah maka manusia bisa menjadi pemarah, berbekal pada nafsu mutmainnah maka manusia menjadi pengendali diri dari kemarahan. Manusia akan menjadi sabar atau mengekang nafsunya agar tidak jatuh kepada kemarahan tetapi tetap berada di dalam keramahan.

Kedua, sabar merupakan sifat yang sangat disukai oleh Allah SWT. Di dalam konteks ini, Alqur’an menjelaskan bahwa sabar itu adalah keindahan dan Allah sangat menyukai kesabaran. Suatu cerita tentang bagaimana kesabaran itu menjadi kata kunci kehidupan adalah tentang kesabaran Nabi Ayub AS. Nabi Ayub menderita sakit sehingga banyak dilecehkan dan dibulli oleh umatnya, dinyatakannya bahwa Allah tidak lagi mencintainya, Allah sudah menutup pintu keridhaannya dan bahkan Allah sudah menutup kenabiannya. Maka, Nabi Ayub selalu berada di dalam kesabaran dan terus berdoa memohon yang terbaik dari-Nya. Maka Allah kemudian memberikan kesembuhan dan Allah menyatakan: “fashabrun jamil”, yang artinya bersabarlah karena kesabaran itu keindahan” (Surat Yusuf, ayat 18). Ada beberapa fungsi kesabaran, yaitu:

1) sabar merupakan perhiasan dunia yang paling indah. Orang yang bersabar berarti sedang berada di dalam perhiasan dunia yang indah dimaksud. Dengan kesabaran maka hal-hal yang rumit akan bisa diselesaikan. Bayangkan jika orang marah, maka semuanya menjadi salah dan yang benar adalah dirinya sendiri. Muncul sikap egois dan tidak perduli akan orang lain. Itulah sebabnya Allah menganjurkan agar kita melebihkan kesabaran. Jika kita marah hendaknya berwudlu. Air wudlu yang mengenai badan kita akan menjadi menyejuk jiwa.

2) Kesabaran merupakan kunci surga. Memang kunci surga adalah kalimat tauhid. Namun kalimat tauhid itu nyaris tidak ada manfaatnya jika orang sering marah kepada orang lain, bahkan tanpa sebab atas kemarahannya tersebut. Allah menyatakan di dalam Surat An Nahl, ayat 96, yanga artinya: “Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”.

Bisa jadi bahwa kemarahan itu disebabkan oleh pekerjaan yang kurang tepat, namun alangkah indahnya jika tidak dikemas di dalam kemarahan. Kemaslah atau bungkuslah kemarahan dengan ungkapan yang menyejukkan. Pasti bisa. Janganlah pernah marah kepada orang lain di kerumunan. Jika memang harus dimarahi ungkapkan hanya berdua saja. Tetapi kala akan berakhir mintalah maaf. Maka perikaku kita akan dikenangnya. (baca Nur Syam dalam Friendly Leadership, 2018).

3) Allah membersamai orang yang sabar. Allah itu sangat menyukai orang yang sabar dan akan bersamanya di dalam mengarungi kehidupan. Allah secara khusus menyatakan: “innallah ma’ash shabirin” yang artinya: “Allah bersama orang-orang yang sabar” (Surat Al Baqarah,  ayat 153). Bukankah sebuah kebahagiaan jika kita dapat  dibersamai oleh Allah. Saya kira tidak ada kebahagiaan yang melebihi hidup bersama Allah SWT. Oleh karena itu, orang yang bersabar dipastikan akan memperoleh ridlonya Allah. Dan akibat dari ridlonya Allah adalah ganjaran surga yang akan didapatkannya.

Semoga kita dapat melakukannya dengan sepenuh kesadaran. Saya kira kita akan dapat melakukannya dengan belajar secara terus menerus dan mengingat akan besarnya pahala yang dijanjikan oleh Allah SWT.

Wallahu a’lam bi al shawab.