• May 2026
    M T W T F S S
    « Apr    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

MENGGAPAI BAHAGIA

MENGGAPAI BAHAGIA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Pengajian yang dilakukan oleh Komunitas Ngaji Bahagia di Masjid Al Ihsan, Perumahan Lotus Regency, Selasa 08/08/2023 bada Shubuh sungguh mengasyikkan. Yang diceritakan terkait dengan menggapai Bahagia. Yang memberi ceramah dengan metode dialogis adalah Ustadz Sahid, yang memiliki profesionalisme dalam pengembangan SDM berbasis spiritual. Ngaji yang benar-benar bahagia. Saling tertawa bersama dan gojlokan bersama. Yang jelas, asyik.

Di dalam cermahnya Ustadz Sahid menyatakan bahwa  untuk menggapai kebahagiaan itu diperlukan lima hal, yaitu:

Pertama, tersenyum. Diusahakan agar kita  bisa tersenyum, sekurang-kurangnya tujuh detik dan bukan tersenyum yang terpaksa. Orang yang tersenyum terpaksa itu akan bisa diketahui oleh orang lain. Orang bisa membaca seseorang itu tersenyum dengan ikhlas atau dengan keterpaksaan. Demikian pula orang yang tersenyum dengan ikhlas juga akan kelihatan. Di dalam suatu majelis akan dapat diketahui siapa yang ikhlas dan siapa yang tidak. Wajah seseorang bisa menggambarkan nuansa hati yang ada di dalamnya.

Kedua, tertawa. Komunitas Ngaji Bahagia ini sudah on the track. Sudah oke. Bayangkan bahwa nyaris setiap hari kita bisa tertawa 17 kali dengan tertawa lepas. Tertawa yang tidak tertahan, tertawa yang dilepaskan karena ada hal-hal yang memang pantas dan layak untuk ditertawakan. Apapun acaranya, di dalam Komunitas Ngaji Bahagia itu dipastikan ada tertawanya. Bahkan acara tahsinan Alqur’an yang serius juga terdapat hal-hal yang bisa ditertawakan. Yang penting kita memulai kehidupan di pagi hari dengan tertawa dan penuh canda. Rasanya setiap hari lebih dari 17 kali kita tertawa. Tertawa yang lepas akan menghasilkan hormone kebahagiaan atau yang disebut sebagai endorfin. Yakni hormone yang bisa memicu rasa bahagia. Orang yang selesai olahraga, melihat lukisan, mendengarkan music dan sebagainya maka akan terdapat rasa kebahagiaan, yang dipicu oleh endorfin.

Ketiga, kualitas waktu. Yang dibutuhkan untuk mencapai kebahagiaan itu adalah penggunaan waktu secara berkualitas. Artinya bahwa waktu yang digunakan untuk kebersamaan baik di dalam keluarga, komunitas, dan tempat bekerja itu adalah waktu yang mencukupi standart cukup. Tidak tergesa-gesa atau tidak terburu-buru. Kita harus bisa mengatur waktu secara memadai. Jika sedang berada di dalam keluarga , maka waktunya harus cukup. Hati, pikiran dan perasaan benar-benar berada di dalam keluarga. Waktu itu bukan diukur dari panjang dan banyaknya akan tetapi dari bagaimana kita memenej waktu agar sesuai dengan keperluan bersama.

Keempat, penghargaan. Kita hidup dengan orang lain. Kita tidak hidup sendiri di dunia ini. Karena kita hidup bersama orang lain, maka kita harus memberi penghargaan kepada orang yang baik dan memberi manfaat untuk kita. Tidak hanya untuk diri sendiri, akan tetapi juga untuk orang lain, keluarga, komunitas dan masyarakat. Memberikan ucapan selamat kepada orang lain yang bermanfaat bagi yang lain juga merupakan salah satu cara untuk membahagiakan diri dan orang lain. Memberikan penghargaan sama dengan memberikan pengakuan atas fungsi dan perannya bagi orang lain. Tetapi yang juga penting juga jangan mabuk penghargaan. Jika orang mabuk penghargaan maka apapun yang dilakukan harus dipuji. Ini justru bisa menjadi penyakit hati. Rasanya memberikan penghargaan itu juga harus dengan kewajaran saja sesuai dengan kapasitasnya dan bukan agar menyenangkan hati orang yang justru akan menyebabkan yang bersangkutan jumawa atau sombong.

Kelima, melayani. Memberikan pelayanan adalah perilaku yang baik. Di dalam kehidupan ini, orang yang mau melayani itu jumlahnya tidak banyak. Yang paling banyak adalah ingin dilayani. Padahal yang lebih utama itu adalah melayani. Bahkan jika bisa harus melayani dengan kepuasan yang di dalam bahasa perusahaan atau manajemen disebut customer satisfaction. Di dalam kehidupan ini, manusia tidak bisa hidup sendiri dan harus saling memberi dan menerima, melayani dan dilayani. Ada kalanya dilayani dan ada kalanya melayani. Jika menjadi seorang suami juga jangan hanya minta dilayani tetapi juga harus melayani istri. Jangan yang satu lebih dominan dari yang lain. Islam mengajarkan keseimbangan di dalam kehidupan ini.

Saya memberikan sedikit komentar di dalam ceramah ini. Jika mengacu pada bahagia di dalam konteks literatur barat, maka bahagia itu lebih bercorak fisik. Padahal kebahagiaan itu bukan hanya persoalan keterpenuhan kebutuhan fisik, akan tetapi yang lebih penting adalah terpenuhinya kebutuhan batin. Kebahagiaan jiwa dan raga. Kebahagiaan lahiriyah dan batiniyah. Islam mengajarkan bahwa ada kebahagiaan yang difasilitasi oleh pendekatan spiritualitas.  Kebahagiaan spiritualitas tersebut difasilitasi oleh taqarrub kepada Allah. Melalui taqarrub ilallah, maka akan terbuka hijab atau selimut yang memisahkan antara manusia dengan Tuhan. Di dalam ayat Alqur’an dinyatakan: “wa ma  ramaita idz romaita, fa innallaha roma”. Yang artinya” “dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allahlah yang melempar”. (Surat Al Anfal, ayat 17).

Di dalam konteks ini, maka kala manusia itu berdekatan dengan Allah, maka apa yang dilakukan hakikatnya adalah apa yang dilakukan oleh Allah. Dan yang bisa seperti itu hanyalah orang khusus dan di dalam literatur Islam disebutkan sebagai ahli tasawuf. Bagi kita yang awam dalam beragama, maka yang penting adalah bagaimana kita dapat  mendawamkan amalan apapun yang berbasis pada ajaran Islam, sehingga kita masih dapat masuk orang yang dikaruniai kebahagiaan fi dini wad dunya wal akhirah.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

NABI MUHAMMAD MANUSIA MULIA

NABI MUHAMMAD MANUSIA MULIA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Ada pernyataan menggelitik dari Pimpinan Pondok Pesantren Az Zaytun, Panji Gumilang, bahwa Nabi Muhammad itu manusia biasa. Pernyataan ini benar, tetapi jangan titik, seharusnya koma. Yang benar adalah Nabi Muhammad itu manusia biasa yang memperoleh wahyu dan diutus sebagai Rasul oleh Allah SWT. Kita tentu harus hati-hati dalam menempatkan Nabi Muhammad SAW sebagai manusia sebab Beliau memang utusan Allah yang memiliki kelebihan dibanding manusia biasa.

Beliau itu lebih dari insan kamil. Jika insan kamil saja sudah sangat luar biasa, maka Nabi Muhammad SAW itu lebih dari yang luar biasa. Adakah manusia di dunia ini yang bisa bertemu dengan Allah SWT, yang bisa bermuwajahah dengan Allah, yang bisa menerima wahyu langsung dari Allah SWT. Dan itu hanya Nabi besar Muhammad SAW. Oleh karena itu tidaklah salah jika bagi kalangan ahli sunnah wal jamaah ketika menyebut Nabi Muhammad SAW dengan sebutan sallallahu ‘alaihi wasallam, wa nibbyina, wa habibina, wa syafi’ina, wa qurratu a’yunina wa nabiyyil musthafa Muhammadin sallalahu ‘alaihi wa sallam.

Bacaan ini menggambarkan betapa orang Islam itu memahami  Nabi Muhammad SAW sebagai hamba Allah SWT yang memberikan syafaat dan menolong, yang menjadi tanda mata, dan yang terpilih oleh Allah SWT. Sebuah ungkapan betapa agungnya Nabi Muhammad SAW itu di mata umat Islam. Hal itu karena Nabi Muhammad SAW adalah satu-satu manusia di dunia yang diberikan hak otoritatif oleh Allah untuk memberikan syafaat di alam mahsyar, sebuah padang atau tempat yang sangat luas di saat manusia dibangunkan dari tidur panjangnya di alam kubur atau alam barzakh.

Nabi Muhammad SAW memang merupakan satu-satunya  Nabi dan Rasul yang memiliki kelebihan utama. Bisa bertemu dengan Allah di Arasy, bisa memberikan syafaat, dan Rasul yang memperoleh keistemewaan dari Allah SWT. Bahkan ada di antara umat Islam yang meyakini bahwa tanpa washilah kepada Nabi Muhammad SAW maka amalan seseorang itu tidak jelas diterima oleh Allah SWT atau tidak. Maka dengan berwashilah kepada Nabi Muhammad SAW maka peluang untuk diterimanya amal ibadah itu akan sangat besar. Washilah kepada Nabi Muhammad SAW menjadi seakan-akan kewajiban bagi umat Islam.

Nabi Muhammad SAW dan semua Nabi dan Rasul adalah manusia. Itu betul. Nabi adalah manusia yang memiliki keistimewaan. Di antara keistimewaannya adalah memperoleh wahyu sebagai pedoman di dalam mengarungi samudra kehidupan. Di dalam Surat Al Kahfi, ayat 110 Allah SWT menyatakan: “qul innama ana basyarun mislukum yuha ilaiyya annama  ilahukum ilahuw wahid”. Faman kana yarju liqa’a rabbihi fal ya’mal amalan shalhaw wa la  yusrik bi ‘ibadatihi syai’a”.  Yang artinya: “Katakanlah Wahai Muhammad, sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa”. Maka barang siapa mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah dia mengerjakan kebaijikan dan janganlah menyekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya”.

Ayat ini untuk menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah manusia juga hanya mendapatkan wahyu Allah dalam kerangka menjadi pedoman bagi umat manusia di dalam kehidupannya, yaitu beramal shalih, menjalankan ajaran agama dan akhirnya bisa bertemu dengan Allah atau mendapatkan rahmat Allah yang berupa surga. Di dalam surga itulah diyakini bahwa manusia akan bertemu Tuhannya.

Sebagai manusia, maka Nabi Muhammad SAW juga sangat manusiawi, misalnya memiliki rasa kesal, memiliki rasa puas, memiliki rasa senang dan memiliki rasa sedih. Seluruh perasaan yang dimiliki Nabi Muhammad sama dengan perasaan manusia. Hanya saja bedanya, bahwa Nabi Muhammad SAW itu dipandu oleh wahyu Allah.  Sebagai contoh, Nabi Muhammad SAW  merasa sangat sedih atas kewafatan pamannya, Abu Thalib dan istrinya Khadijah. Di saat itu merasa betapa kesedihan yang sangat mendalam. Ditinggalkan dua orang yang menjadi pelindungnya. Abu Thalib yang menjadi pelindungnya dari gangguan orang Quraiys, dan Khadijah adalah istrinya yang sangat dicintainya dan juga menjadi tempat untuk mengadukan kehidupannya dan yang memberi ketenangan dan sekaligus pelindung Baginda Rasulullah. Tahun itu disebut sebagai “amul khuzn” atau tahun kesedihan. Allah kemudian memberikan hiburan untuk menjalani perjalanan Isra’ dari Mekah ke Yerusalem dan Mi’raj dari Mekah ke Sidratul Muntaha, Mustawa dan Arasy untuk bertemu dengan Allah SWT.

Nabi juga pernah sedih, misalnya sebagaimana diceritakan di dalam Surat Adhuha. Di dalam surat ini digambarkan bahwa Nabi diejek oleh Kaum Quraisy, karena lama tidak lagi mendapatkan wahyu. Maka Allah kemudian menyatakan: “ wadh dhuha, wallaili idza saja, ma wadda’aka rabuka wa ma qala, wa lal akhiratu khairul laka minal ula”.  Yang artinya: “Demi Dhuha (ketika matahari naik sepenggalah), dan demi malam yang apabila telah sunyi, Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak (pula) membencimu, dan sungguh yang kemudian itu lebih baik bagimu dari pada yang permulaan”.

Melalui gambaran seperti ini dapat dipahami bahwa Nabi Muhammad SAW adalah manusia sebagaimana manusia lainnya yang memiliki perasaan yang berupa kesedihan, kegalauan, keriangan, bahkan juga sendagurau. Namun demikian yang membedakannya dengan kita bahwa Nabi itu memperoleh wahyu yang kemudian menjadi Kitab Suci Al Qur’an. Berbahagialah orang yang meyakininya, karena keyakinan ini adalah modal dasar agar kita mendapatkan syafaat dari Nabi Muhammad SAW.

Wallahu a’lam bi al shawab.

BERAGAMA YANG MENYEJUKKAN BUKAN MEMANASKAN

BERAGAMA YANG MENYEJUKKAN BUKAN MEMANASKAN

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Agama memang memiliki dua dimensi di dalam pemberitaan terkait dengan ajarannya, yaitu sebagai tabsyir (pemberi kabar gembira) dan tandzir (pemberi kabar peringatan). Agama apapun selalu terkait dengan dua dimensi ini. Di dalam Islam banyak ajaran yang memberikan kabar gembira bagi orang yang mematuhi ajaran agama sebagai pesan Tuhan melalui Nabi-Nabi-Nya dan juga terdapat kabar yang memberikan peringatan atau bahkan ancaman bagi orang yang melalaikannya.

Yang saya maksud ancaman adalah berita bagi orang yang ingkar atas kebenaran ajaran agama. Misalnya menyekutukan Tuhan (musyrik), mengingkari keberadaan Tuhan dan kebenaran ajaran agama (kafir), atau orang yang tidak jelas prinsip hidupnya atau terdapat ketidaksesuaian antara apa yang diungkapkan dan apa yang diyakininya (munafik). Terhadap orang yang seperti ini, maka Islam memberikan peringatan agar kembali ke dalam jalan kebenaran, sebagaimana ajaran Nabi-Nabi, khususnya Nabi Muhammad SAW, setelah diturunkannya agama Islam, sebagai kelanjutan dari Millah Ibrahim yang monoteistik.

Sebagai manusia tentu kita bergembira dan suka karena kita termasuk orang yang mendapatkan petunjuk. Ada banyak orang yang telah mendapatkan petunjuk tetapi tidak mengindahkannya. Kita termasuk orang yang sekurang-kurangnya telah meyakini kebenaran ajaran agama, terutama ajaran yang prinsip tentang ketuhanan, kenabian dan segala hal yang terkait dengan kebenaran agama dimaksud.

Di luaran banyak sekali orang yang telah memperoleh kabar kegembiraan dan kemudian tidak mengindahkannya. Mereka tetap berada di dalam kehidupan yang semula dengan keyakinan yang telah diperbaharui oleh utusan Allah pada tahap-tahap berikutnya. Millah Ibrahim telah mengalami proses pembaharuan sesuai dengan masanya.

Millah Ibrahim tersebut telah diperbaharui oleh Nabi Daud dengan Kitab Zabur, Nabi Musa melalui Kitab Taurat, Nabi Isa melalui Kitab Injil dan Nabi Muhammad SAW melalui Kitab Al Qur’an. Dengan demikian, Kitab Al Qur’an merupakan pembaharuan terakhir atas Millah Ibrahim, sehingga semestinya perubahan terakhir itulah yang menjadi pegangan bagi umat manusia pasca diturunkannya Nabi Muhammad SAW. Ini merupakan pandangan teologis di dalam agama Islam. Tentu akan berbeda bagi pandangan teologis bagi agama lainnya.

Tetapi satu hal yang sangat mendasar di dalam Islam, bahwa Islam tidak mengajarkan agar antara satu konsepsi teologis dengan lainnya itu harus saling berhadapan. Masing-masing tetap boleh meyakini kebenaran keyakinannya.  Persoalan di masa yang akan datang atau di alam akhirat tentu akan terdapat penilaian  dari Allah SWT. Manusia sudah diberikan kabar tentang yang baik dan benar sesuai dengan ajaran Tuhan, adapun mereka tetap berada di dalam keyakinannya itu adalah terkait dengan pilihannya sendiri.

Tuhan Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW tidak memaksa seseorang harus menyakini kebenaran ajaran Islam. Islam menegaskan: “la ikraha fiddin”, artinya tidak ada paksaan di dalam beragama. Bahkan Islam mengajarkan: “lakum dinukum waliyadin” artinya: “bagimu agamamu dan bagiku agamaku”. Manusia sudah diberitahu tentang jalan kebenaran, dan jika tidak mengikuti jalan kebenaran tersebut, maka hal itu merupakan tanggungjawabnya.

Banyak ahli, terutama kaum orientalis,  yang menyatakan bahwa Islam disiarkan dengan pedang. Islam disebarluaskan melalui perang. Pendapat ini didasari oleh kebencian yang begitu mendalam terhadap Islam. Patut diingat bahwa peperangan yang terjadi antara umat Islam dengan kaum pagan dan kaum agama lain pada zaman Nabi Muhammad SAW merupakan peperangan yang disebabkan oleh pengingkaran atas perjanjian yang sudah dibuat antara umat Islam dengan mereka. Bukankah Nabi Muhammad SAW sudah membuat perjanjian yang disebut sebagai Perjanjian Hudaibiyah dan Perjanjian Madinah dan kala ada di antara mereka yang sudah terikat di dalam perjanjian tersebut melakukan pengingkaran, maka di situlah perang terjadi. Namun demikian, Nabi Muhammad SAW melarang umat Islam di dalam peperangan untuk membakar tempat ibadah, merusak sumber-sumber ekonomi, merusak pepohonan, membunuh perempuan, anak-anak dan orang tua. Demikianlah etika perang di dalam Islam.

Jadi tidak salah jika Islam disebut sebagai agama perdamaian atau peaceful religion. Agama yang menekankan pada perdamaian. Prinsip yang menjadi pegangan bagi agama Islam adalah agama yang mengajarkan  keselamatan.  Oleh karena itu, jika ada orang yang beragama dengan tidak menyelamatkan orang atau komunitas lain, maka tentu ada yang salah di dalam pemahaman beragamanya.

Di antara yang membuat orang beragama dengan tidak mengedepankan keselamatan adalah tafsir atas agama yang tunggal atau selalu menganggap tafsir agamanya saja yang benar dan yang lain salah. Jangankan orang yang beragama lain, bahkan yang sesama Islam juga disalah-salahkan bahkan dikafir-kafirkan. Cara beragama semacam inilah yang menyebabkan Islam kehilangan aura perdamaian dan keselamatan.

Nabi Muhammad SAW saja membiarkan doa, bacaan  dan gerakan shalat yang berbeda, asal prinsip-prinsipnya sama. Ada sahabat Nabi Muhammad SAW yang melaporkan sahabat itu membaca doa di dalam shalat seperti ini, dan Nabi Muhammad SAW mendiamkannya atau membiarkannya. Kala hal tersebut kemudian diriwayatkan di dalam hadits-hadits Nabi Muhammad SAW, maka terdapat perbedaan.  Lalu perbedaan tersebut dibesar-besarkan seakan-akan hanya tafsirnya yang benar dan yang lain salah. Inilah pangkal masalah di antara sesama umat Islam.

Kita sungguh bersyukur bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia mengikuti ajaran agama yang memberikan kabar gembira kepada umatnya. Islam yang lebih utama adalah yang mengabarkan rasa kegembiraan, kedamaian, keselamatan dan kenyamanan di dalam kehidupan. Melalui kabar gembira ini, maka beragama itu menjadi happy atau membahagiakan.

Saya kira manakah yang lebih utama beragama yang membahagiakan atau yang menakutkan. Pilihan orang yang benar adalah agama yang membahagiakan.

Wallahu a’lam bi shawab.

 

 

 

 

MENEMUKAN KEBAHAGIAAN

MENEMUKAN KEBAHAGIAAN

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Ngaji Bahagia, Selasa 1/08/2023, terasa istimewa, bukan karena pesertanya banyak, akan tetapi karena materi yang dikaji adalah tentang kebahagiaan. Lagi pula yang menyampaikan adalah Ust. M. Sahid, yang dikenal sebagai Trainer of Human Resource Development, yang selama ini telah malang melintang dalam berbagai pelatihan khususnya pada perusahaan-perusahan besar, misalnya Indosat, PLN, Telkom dan sebagainya. Memang untuk penceramah di Masjid Al Ihsan ini dilakukan secara bergantian. Terkadang saya, Pak Sahid, Pak Mulyanta, dan bahkan juga Pak Abdullah. Ngaji Bahagia ini diindikatori dengan ngaji dan tertawa secara seimbang.

Sesuai dengan temanya, maka bahagia itu merupakan suatu keadaan di mana terdapat perasaan senang, gembira dan merasakan hilangnya kesedihan atau lainnya sebagai akibat keberhasilan dalam melaksanakan suatu tindakan. Jadi yang menjadi kata kunci adalah perasaan. Orang bisa merasakan senang, sedih, gembira dan susah yang semuanya adalah fenomena hati atau fenomena perasaan. Bahagia juga bisa diartikan kemenyatuan antara fisik dan hati atau perasaan yang menimbulkan rasa senang atau gembira.

Bahagia itu memiliki standart. Standart itu bisa bersifat pribadi, artinya bagi seseorang dianggap bahagia tetapi bagi yang lain dianggapnya tidak bahagia. Bahagia itu merupakan kasus individual dan bukan kebahagiaan yang bersifat umum. Akan tetapi  standart itu hanya bisa mengacu kepada ukuran standart umum, yang di dalam dunia ilmu pengetahuan disebut sebagai indicator kebahagiaan. Jika seseorang telah mencapai standart ini, maka dia dinyatakan sebagai orang yang bahagia.

Ada empat standart untuk mengukur secara umum tentang kebahgaiaan sesuai dengan psikhologi modern. Yang pertama adalah pleasure. Yaitu kebahagiaan yang bercorak kesenangan sementara karena telah melakukan tindakan yang menyenangkan. Contohnya adalah di saat kita membutuhkan minuman kemudian oleh seorang kawan kita diberikan minuman, atau di saat lapar maka kita diberikan makanan. Di saat kita tidak punya uang kemudian tiba-tiba kawan kita memberikan uang. Kebahagiaan seperti ini bersifat sementara dan terjadi di saat itu.

Yang kedua, adalah achievement atau tercapainya suatu keinginan atau cita-cita yang telah lama diinginkan. Misalnya kita memiliki istri setelah sekian lama kita menginginkan kehadiran seorang istri. Bisa juga misalnya naik pangkat yang memang diinginkannya. Yang lain misalnya kita memiliki keuntungan dari usaha atau bisnis yang kita lakukan. Semua ini akan sangat menyenangkan. Orang bisa berbahagia dalam waktu yang relative lebih lama karena telah mencapai target yang diinginkan.

Yang ketiga, contribution atau kala seseorang sudah mampu memberikan sumbangan atau kontribusi atas orang lain di dalam kehidupannya. Misalnya Bill Gate yang mendonasikan keuntungannya untuk pengembangan pendidikan, atau Elon Musk yang kaya raya itu berhasil menyumbangkan keuangannya untuk kesejahteraan umat atau misalnya Rockefeller yang mendonasikan hartanya untuk beasiswa bagi para sarjana atau akademisi dari dunia ketiga. Di dalam ukuran yang sederhana saja, misalnya di saat kita  bisa memberikan solusi atas masalah yang dihadapi oleh kawan kita dan berakibat jangka panjang di dalam kehidupannya, maka hal ini juga kebahagiaan.

Yang keempat, ultimate goals atau pencapaian tujuan yang tidak terbatas. Standart ini merupakan standart final yang bisa diraih oleh seseorang untuk memperoleh kebahagiaan. Kebahagiaan hakiki, sebuah kebahagiaan yang sudah bukan lagi untuk kepentingan fisikal atau perasaan belaka tetapi kebahagiaan yang sudah mencapai derajat tertinggi karena telah mencapai kepasrahan, keridlaan dan syukur atas apa yang dianugerahkan Tuhan kepada kita semua. Kebahagiaan seperti ini hanya akan diperoleh seseorang yang sudah berada di dalam maqam Muthmainnah sebagaimana  terdapat di dalam Alqur’an: Ya Ayyuhan nafsul muthmainnah, irji’i ila rabbiki radhiyatan mardhiyah, fadkhuli fi ‘ibadi fadkhuli jannati”.  Yang artinya kurang lebih: “Wahai Jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu  dengan hati yang ridha dan dirindhai-Nya, dan masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku”.

Jadi jiwa yang tenanglah yang sesungguhnya menjadi standart tertinggi tentang kebahagiaan. Makanya, ada orang kaya tetapi tidak bahagia, dan ada orang yang tidak kaya tetapi bahagia. Dengan demikian kebahagiaan itu ada pada masing-masing individu yang jiwanya telah berada di dalam kategori nafsul muthmainnah.

Pak Mulyanta juga menyatakan bahwa kebahagiaan itu ukurannya adalah hati merasa yang nyaman, merasa senang, dan terlepas dari masalah. Terkadang kita dapati ada tangis bahagia. Tangisan itu biasanya terkait dengan kesedihan tetapi ada kalanya kita menangis karena kesenangan. Anak yang menikah membuat kita sedih karena akan ditinggalkan olehnya bersama suami atau istrinya, dan kita menangis. Akan tetapi dibalik tangisan itu ada kebahagiaan karena merasa bahwa keinginan untuk menikahkan anak menjadi terlaksana. Jadi kebahagiaan itu sesuatu yang berada di dalam hati. Tetapi ada kalanya juga ada orang yang bisa kelihatan bahagia padahal sesungguhnya sedang menghadapi masalah. Misalnya artis itu pintar bersandiwara.

Di dalam kesempatan ini saya menyampaikan bahwa kebahagiaan abadi itu ada. Di dalam Islam disebut sebagai kebahagiaan di dunia dan kebahagian di akherat atau saidun fiddaraini, bahagia di dunia dan bahagia di akherat. Di dalam konsepsi ahli filsafat dan ahli tasawuf Syed Hussein Nasr disebut sebagai endless bliss. Kebahagian abadi, dan kebahagiaan abadi itu hanya akan diperoleh oleh orang yang sudah khatam kehidupan duniawi artinya hatinya tidak tertambat pada duniawi yang fana, akan tetapi tertambat kepada Allah yang baqa’ atau abadi. Manusia akan bisa hadir dalam keadaan endless bliss jika hatinya sudah pasrah atau tawakkal, sabar, syukur, dan lillah billah.

Kita juga bersyukur karena akhir-akhir ini, banyak peneliti Barat yang tertarik dengan fenomena spiritualitas. Banyak buku yang membahas tentang psychology, religion and spirituality yang menggunakan pendekatan keyakinan dan kepercayaan serta pengalaman manusia di dalam membangun relasi dengan Tuhan, dan mereka beranjak dari dunia kajian yang bersifat empiric sensual atau hanya hal-hal yang bisa diamati saja yang dianggap benar ke keyakinan beragama. Jadi masyarakat Barat memang semakin banyak yang meinggalkan agamanya, tetapi akademisinya justru sedang tertarik dengan fenomena spiritualitas.

Wallahu a’lam bi al shawab.

MENJAGA KELUARGA YANG HIDUP ATAU SUDAH WAFAT

MENJAGA KELUARGA YANG HIDUP ATAU SUDAH WAFAT

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Banyak orang yang berpikir bahwa yang patut dijaga adalah keluarga yang masih hidup. Bisa anak, cucu, orang tua dan keluarga lain yang masih hidup. Pemikirannya bahwa mereka ini harus diselamatkan dari Tindakan yang tidak atau kurang baik dan agar mereka selalu menjalankan Tindakan yang sesuai dengan ajaran agama. Bagi kalangan ini bahwa mereka yang sudah wafat itu sudah tertutup amal ibadahnya dan sudah tidak perlu mendapatkan bantuan apapun dari yang masih hidup.

Keyakinan seperti ini berangkat dari pemikiran rasional, yang menganggap bahwa orang yang masih hidup itu perlu mendapatkan pertolongan, bisa pertolongan material dan juga bisa pertolongan kepenasehatan. Jika ada yang bermasalah, maka bisa diselesaikan melalui pertolongan para ahlinya. Bisa konselor, psikholog, Lembaga keagamaan, Lembaga social dan bahkan Lembaga ekonomi. Semuanya bisa berperan sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya.

Ada yang secara ekonomi bermasalah, maka bisa hadir Lembaga pilantropi yang selama ini bergerak di bidang zakat, infaq dan shadaqah untuk menolongnya. Jika ada yang bermasalah psikhologisnya, maka bisa ditolong oleh psikhiater. Jika ada yang bermasalah secara social maka bisa diselesaikan melalui mediasi, dan jika ada yang bermasalah secara  kekeluargaan, maka bisa diselesaikan dengan dialog yang didampingi oleh para ahlinya.

Semua itu adalah masalah-masalah duniawi yang memang selalu menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan manusia kapan dan dimana saja. Tidak perduli orang kaya, orang miskin, pejabat atau rakyat. Terkadang akan mengalami hal yang esesnsinya sama meskipun cakupan dan bentuknya berbeda-beda. Jika dilakukan pertolongan atas hal ini, maka sungguh hal tersebut adalah pertolongan yang bersifat duniawi.

Tetapi juga ada yang seharusnya mendapatkan pertolongan dari yang masih hidup terhadap yang sudah wafat. Yang diharapkan dari orang yang masih hidup terhadap yang wafat adalah doa untuk permohonan maaf atau ampunan. Bagi mereka adalah kiriman doa yang ditujukan kepada mereka yang wafat itu jauh lebih indah dan bermanfaat. Mereka tidak mengharapkan apa-apa selain doa dan bacaan-bacaan kalimat thayibah dari anak cucunya. Mereka memang sudah terputus dari amal ibadahnya, akan tetapi Allah SWT masih memberikan peluang baginya untuk memperoleh pertolongan. Di antara pertolongan yang utama adalah dari anak-anaknya atau bisa lebih luas keluarganya.

Islam sesungguhnya merupakan agama yang memberikan peluang bagi orang yang sudah wafat untuk bisa ikut bergembira karena kiriman doa, bacaan kalimat Thayyibah dan permohonan ampunan kepadanya. Secara spesifik Islam mengajarkan bahwa yang akan terus mengikuti orang yang sudah wafat adalah sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shaleh yang mendoakan orang tuanya. Akan tetapi secara umum berdasarkan amalan para ulama, maka sesama umat Islam pun bisa saling mendoakannya.

Jika kita melakukan shalat jamaah, maka imam shalat kemudian membacakan surat Al Fatihah kepada orang tua, kerabat bahkan kepada sesama jamaah umat Islam, muslimin wal muslimat, mu’minin dan wal mu’minat. Jika kita membacakan hal seperti ini, maka yang didoakan bukan sekedar orang tua atau kerabat tetapi segenap umat Islam. Inilah kehebatan ajaran Islam yang memiliki cakupan solidaritas kepada sesama jamaah umat Islam.

Umat Islam tidak dididik dalam beragama dengan mengedepankan egoism, termasuk dalam memperoleh pahala ajaran ganjaran dari Allah SWT. Islam selalu mengajarkan tentang sikap hidup yang menyayangi terhadap umat Islam bahkan juga terhadap umat beragama lain. Misalnya terhadap umat agama lain, Nabi Muhammad tidak memeranginya, selama kewajiban sebagai umat dalam suatu kesatuan bangsa tersebut dipatuhinya. Selama perjuangannya menegakkan panji-panji Islam, maka Nabi selalu mengedepankan kasih sayang kepada umat manusia. Islam itu rahmat bagi seluruh alam dan bukan rahmat bagi umat Islam saja.

Marilah kita pahami doa yang diajarkan oleh para ulama, khususnya ulama ahli Sunnah wal Jamaah, maka yang diajarkannya adalah kebersamaan. Ada yang doa khusus bagi orang-orang yang saleh, dan ada doa bagi seluruh umat Islam. Artinya, bahwa umat beragama yang sesuai dengan ajaran Islam, semenjak Nabi Adam AS sampai sekarang berada di dalam cakupan doa yang kita bacakan. Setelah kita mendoakan kepada orang tua kita, kakek nenek kita, nenek moyang kita, lalu juga berdoa untuk semua umat Islam, wa li jami’il musliminan wal muslimat, wal mu’minina wal mu’minat, al ahya’I minhum wal amwat. Sebuah doa sapu jagat yang ditujukan kepada semua umat Islam.

Islam itu mengajarkan “kekitaan” dan bukan “keakuan”. Islam mendidik agar umat Islam itu tidak hanya menyayangi diri sendiri tetapi menyayangi terhadap sesama umat Islam. Islam mengajarkan agar manusia menyayangi keluarganya, tetangganya, komunitasnya dan juga masyarakatnya. “kekitaan” itulah yang sesungguhnya menjadi inti pesan Islam dalam humanism. Yaitu ajaran yang secara normative memberikan pesan moral agar mengedepankan aspek kemanusiaan dalam membangun relasi social.

Dan uniknya, Islam tidak hanya mengajarkan pesan hanya untuk kasih sayang kepada sesama manusia yang masih hidup, akan tetapi juga secara normative mengajarkan kasih sayang kepada orang yang sudah wafat.

Wallahu a’lam bi al shawab.