• May 2026
    M T W T F S S
    « Apr    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

BERSYUKURLAH KITA MASIH BISA MEMBACA SHALAWAT

BERSYUKURLAH KITA MASIH BISA MEMBACA SHALAWAT

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Sebagai umat Islam, tentu kita berharap agar di kelak kemudian hari dapat masuk surga. Saya kira hal yang sangat wajar. Sebagai manusia yang bertaqwa kepada Tuhan dan sesungguhnya juga sudah menjalankan perintah Tuhan, tentu juga merupakan kewajaran jika kita terus berdoa kepada Tuhan agar bisa masuk surga. Saya kira tidak ada orang yang tidak berkeinginan untuk menjadi yang terbaik pada akhirnya.

Salah satu di antara keyakinan umat Islam, tentu termasuk umat Islam Indonesia adalah meyakini bahwa Nabi Muhammad SAW itu memiliki dan diberi otoritas oleh Allah SWT untuk memberikan syafaat khususnya pada hari mahsyar atau yaumuml hisab. Pada waktu yang akan datang di luar kehidupan di dunia tersebut, maka ada satu fase di mana manusia akan ditimbang amalnya. Ada yang amalnya bagus dan timbangannya bagus dan ada yang amalnya jelek dan timbangan tentu buruk. Inilah yang kemudian di dalam Alqur’an disebut sebagai ashhabul yamin wa  ashhabusy syimal. Golongan kanan dan golongan kiri. Tentu orang yang berkelakuan baik akan berharap bisa masuk dalam golongan kanan. Bahkan orang yang berkelakuan buruk pun berharap bisa masuk ke dalam golongan kanan.

Allah SWT memiliki kasih sayang yang luar biasa. Kasih sayang yang tiada taranya. Kasih sayang tersebut berupa rahmat yang tidak ada hentinya. Contoh, agar manusia bisa hidup maka diciptakan udara yang dengan udara tersebut manusia bisa menghirupnya dengan leluasa tanpa membayar sedikitpun. Allah hanya mengingatkan agar menjaga keseimbangan ekosistem alam agar semuanya bisa berjalan baik. Melalui keberadaan udara yang segar tersebut, maka manusia bisa menghirup udara untuk diproses di dalam paru-paru dan kemudian oksigen tersebut bisa menjadi salah satu yang menggerakkan kehidupan manusia. Selain itu juga kasih sayang dalam bentuk ketercukupan untuk memenuhi kebutuhan biologis, kebutuhan social dan kebutuhan integrative.

Bahkan nikmat yang paling besar adalah nikmat dapat menjadi umat Islam. Sedemikian sayangnya Allah SWT kepada manusia maka diturunkanlah pedoman agar manusia selamat. Pedoman tersebut berupa ajaran agama yang diturunkan kepada Nabi dan Rasul yang dipilih oleh Allah sebagai utusannya. Silih berganti Nabi dan Rasul tersebut diturunkan kepada umat manusia. Nabi Ibrahim diturunkan kepada umatnya di kala umat manusia menyembah berhala. Diajarkan kepada mereka Agama Hanif, agama yang lurus yang mengesakan Allah SWT. Itulah sebabnya Nabi Ibrahim disebut Bapak Monotheisme, karena Nabi Ibrahim mengajarkan hanya ada satu Tuhan yang wajib disembah dan dilakukan perintahnya. Secara berturut-turut kepada kemudian datang Nabi  Dawud, Nabi Sulaiman, Nabi Musa, Nabi Isa dan Nabi Muhammad SAW. Semua mengajarkan agama sesuai dengan Millah Ibrahim, yang manusia harus meyakini bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Millah Ibrahim ini yang kemudian disebut sebagai Agama Semitis atau agama yang diturunkan kepada orang-orang Semit dan kemudian menyebar ke berbagai penjuru dunia. Agama Yahudi, Kristen, Katolik dan Islam disebut sebagai Agama Semitis.

Semua agama memiliki jalan keselamatan. Islam tentu jalan keselamatannya adalah dengan ketauhidan yang benar dan amalan ibadah yang benar. Orang harus meyakini tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad Rasulullah, serta beramal yang shaleh sesuai dengan ajaran Islam. Islam mengajarkan agar seseorang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. La ilaha illallah. Dan dilanjutkan dengan Muhammadur Rasulullah. Lalu setelah itu harus mengamalkan ajaran Islam secara utuh atau kaffah. Bagi yang bisa melakukannya, maka dialah yang sesungguhnya bisa menjadi bagian dari golongan kanan.

Kita diajarkan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah kekasih Allah. Nabi akhiriz zaman. Satu-satunya Nabi yang diberikan kekuatan untuk bertemu dan “bermuwajahah” dengan Allah di alam arasy. Tidak ada satu pun Nabi dan Rasul selain Nabi Muhammad yang bisa melakukannya. Hanya Nabi terpilih saja yang bisa melakukannya. Sebagai Nabi pilihan yang memiliki keistimewaan maka Nabi Muhammad diberikan otoritas untuk memberikan syafaat fi yaumil hisab.

Tentu saja untuk memperoleh syafaatnya harus ada instrument yang bisa digunakan. Tidak mungkin syafaat tersebut diberikan dengan tanpa melakukan sesuatu yang disukai oleh yang memiliki syafaat. Reward akan selalu diberikan kepada orang yang patuh, taat dan melakukan sesuatu yang disukai oleh yang memberi syafaat. Seorang guru atau dosen dapat  memberikan reward bagi siswa atau mahasiswanya, jika siswa atau mahasiswanya tersebut patuh dan memiliki kapasitas yang sangat baik dalam program pembelajarannya. Indeks prestasinya sangat baik dan diperolehnya melalui jalan yang benar. Jadi tidak ada reward yang diberikan tanpa ada penyebab atas pemberian reward dimaksud.

Di antara keistimewaan Nabi Muhammad SAW adalah mengenai shalawat, yang menjadi salah satu penyebab kecintaan Allah dan juga kecintaan Nabi Muhammad SAW. Shalawat kepada Nabi Muhammad SAW itu hanya dibaca oleh manusia akan tetapi juga Malaikat Allah. Kalimat shalawat yang pasti dibaca umat Islam adalah Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala ahlihi waashhabihi ajma’in  atau  Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala ali Sayyidina Muhammad”.

Bacaan sependek ini ternyata memiliki kekuasaan dahsyat. Shalawat ini ternyata memiliki kekuatan untuk menjadi penyebab kecintaan Rasulullah kepada para pembacanya. Siapa yang sering membaca shalawat maka dia yang insyaallah selamat. Ada orang yang secara rutin dan istiqamah bisa membaca shalawat 100 kali, ada yang 1000 kali dan bahkan ada yang 10.000 kali dalam sehari. Jika orang sudah membaca shalawat sebanyak 10.000 kali maka dipastikan akan memperoleh keutamaan, yang kita semua tidak tahu kecuali para pelakunya.

Yang penting bagi kita adalah istiqamah untuk membaca shalawat berapapun jumlahnya. Dan kita tentu bersyukur karena bisa mengamalkan ajaran untuk keselamatan ini. Jika dengan shalawat kita selamat kenapa tidak kita lakukan.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

BERSYUKURLAH MENJADI ORANG INDONESIA

BERSYUKURLAH MENJADI ORANG INDONESIA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Mengapa kita harus bersyukur sebagai bangsa Indonesia? Ada apa sesungguhnya? Pertanyaan-pertanyaan ini patut untuk dikemukan apalagi dalam konteks peringatan 78 Tahun Kemerdekaan Indonesia yang jatuh pada hari Kamis, 17 Agustus 2023. Saya tentu akan membahasnya dari perspektif agama dan masyarakat, sebagai bagian dari kajian yang selama ini saya tekuni.

Pertanyaan ini sesungguhnya muncul pada saat pengajian rutin Selasanan pagi bada Shubuh di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya, 14/08/2023.  Pertanyaan ini terkait dengan masih kuatnya keyakinan orang Indonesia atas keberadaan Tuhan dan sangat sedikit yang tidak percaya keberadaan Tuhan, sementara itu di Eropa justru sebaliknya. Dewasa  ini semakin banyak orang yang tidak percaya Tuhan atau bisa dinyatakan sebagai atheis.

Berdasarkan Survey yang dilakukan oleh The World of Statistic 2022, bahwa negara dengan tingkat terbesar percaya kepada Tuhan adalah Indonesia sebesar 97 persen, dan disusul oleh Turkey dengan 91 persen. Sementara di Eropa misalnya di Italia, sebagai pusat ajaran Katolik, maka keyakinan adanya Tuhan tinggal 50 persen dan sisanya adalah kaum atheis atau sekurang-kurangnya tidak yakin Tuhan itu ada. Di Eropa Barat jauh lebih parah lagi. Di Inggris, Jerman, Perancis, dan lain-lain justru yang percaya kepada Tuhan berada di bawah angka 30 persen. Maka, Eropa sedang menuju menjadi negara atheis. Inilah yang menyebabkan kita bersyukur karena masyarakat Indonesia itu masyarakat yang sangat religious. Masyarakat yang meyakini bahwa ada kekuatan Tuhan dibalik alam semesta ini.

Besarnya keyakinan atas keberadaan Tuhan itu tentu saja terkait dengan lingkungan social, di mana kita ada atau di mana kita dilahirkan. Inilah yang menyebabkan kita harus bersyukur kepada Allah terlahirkan yang tanpa keinginan kita untuk lahir di Indonesia. Kita lahir di Bumi Pertiwi Negara Republik Indonesia. Saya yang lahir pada tanggal 7 Agustus 1958, kini sudah 65 tahun, bersyukur karena lahir pada jam dan hari Indonesia. Seandainya saya lahir pada jam yang berbeda saja, maka saya akan lahir di Afghanistan atau Irak atau Suriah. Karena saya lahir pada jam yang bertepatan di Indonesia,  maka saya lahir di Indonesia dan menjadi warga negara dan bangsa Indonesia. Terlepas dari takdir Tuhan yang saya harus lahir dari Rahim Ibu saya dalam pernikahannya dengan Bapak saya. Takdir  itu telah tertulis di Alam Roh, 50 juta tahun alam roh, yang tidak bisa diprediksi berapa lamanya.

Berdasarkan teori ilmu sosial, paradigma Perilaku Sosial, maka manusia itu dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya. Kita lahir di Indonesia, dari orang tua di Indonesia, yang ketepatan beragama Islam, maka saya menjadi Islam semenjak lahir. Begitu lahir langsung diperdengarkan adzan dan iqamah. Pertama kali lahir ke dunia sudah diperdengarkan nama Allah yang maha besar. Itulah sebabnya kita dapat beragama Islam karena keadaan lingkungan kita. Bahkan seandainya kita lahir dari Rahim orang Buddha atau Hindu dan lahir kita di Bali, maka kita akan menjadi beragama Hindu. Jadi, lingkungan memiliki pengaruh yang besar di dalam kehidupan kita.

Sebagai umat Islam kita tentu bersyukur atas karunia Tuhan terbesar di dalam kehidupan ini, sebab semenjak bayi hingga hari ini kita masih menjadi penganut agama Islam yang setia. Kita tetap meyakini keberadaan Allah dan juga sekuat-kuatnya menjalankan perintah Allah. Tidak ada di dalam hati sedikitpun untuk mengingkari keberadaan Allah. Bagi kita Allah itu wujud, ada. Allah itu kekal. Allah itu yang awal  tiada awalnya dan yang akhir tiada akhirnya. Allah itu berbeda dengan makhluk. Keyakinan itu telah terpateri semenjak kita belajar di Masjid, di Sekolah dan pengajian-pengajian mulai di masa kecil hingga sekarang.

Semua ini terjadi bukan tanpa sebab, bukan tanpa musabab. Kita dapat menjadi umat Islam adalah berkat perjuangan para pendahulu kita, para waliyullah. Tanpa kehadiran mereka di Bumi Nusantara pada awal abad ke 11-18, maka kita tidak akan menjadi umat Islam. Dan  terus sampai sekarang para ulama, kyai dan ustadz terus mendedangkan adanya keyakinan kepada Allah, kapan dan di manapun. Inilah keuntungan kita di Indonesia.

Para waliyullah, yang dikenal sebagai Walisanga, adalah penyebar Islam di Nusantara. Mereka berdakwah pada saat pemerintahan akhir Majapahit, dan sukses untuk mengislamkan Jawa dan juga mengislamkan Nusantara. Melalui ikhtiar, doa dan dakwahnya tersebut, maka masyarakat Nusantara bisa menjadi umat Islam. Masyarakat Indonesia dapat menjadi umat beragama. Oleh karena itu, jika kita tidak bersyukur atas semua ini, maka rasanya kita telah mengingkari upaya-upaya Islamisasi yang dilakukan oleh leluhur kita.

Kita bersyukur bahwa Islam masih dominan di Indonesia. Dengan angka prosentase sebesar 87 persen umat Islam di Indonesia, maka menempatkan Indonesia sebagai negara dengan umat Islam terbesar di dunia. Perkembangan Islam dalam performance keislaman juga terus membaik. Berkat organisasi NU dan Muhammadiyah dan lain-lain yang sepaham dengan Islam moderat atau Islam rahmatan lil alamin, maka dinamika relasi antar umat beragama juga sangat baik. Nyaris tidak kita jumpai konflik social yang didasari oleh keyakinan beragama.

Sebagaimana yang dinyatakan oleh Wapres, Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin, pada waktu Pembukaan Raker Ikatan Pesantren Indonesia (IPI) di Surabaya, 11-13/08/2023, bahwa ulama internasional di bawah koordinasi Grand Syekh Al Azhar pernah datang ke Indonesia dengan menyatakan bahwa Indonesia adalah masa depan Islam. Dinyatakannya jika di masa lalu itu kitab berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, maka ke depan haruslah Kitab Berbahasa Indonesia diterjemahkan ke dalam Bahasa Arab. Indonesia adalah contoh toleransi dan kerukunan umat beragama.

Kenyataan seperti ini yang mengharuskan kita bersyukur kepada Allah SWT sebab karunia menjadi orang Indonesia ternyata karunia terbesar di dalam kehidupan kita, baik sebagai individu, anggota keluarga dan anggota masyarakat, negara dan bangsa.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

SURGA DALAM  MATEMATIKA SUPRA RASIONAL

SURGA DALAM  MATEMATIKA SUPRA RASIONAL

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Kegiatan tahsinan yang diselenggarakan pada Masjid Al Ihsan telah sampai pada Surat At Tien, maka terdapat satu ayat yang membicarakan tentang orang yang beriman dan beramal shalih maka Allah akan memberikan balasan surga di sisinya. Ayat reward ini menegaskan bahwa untuk mencapai surga harus beriman kepada Allah dan beramal yang baik.  Di dalam Surat At Tin, ayat 6 dinyatakan: “kecuali orang yang beriman da beramal shalih, maka baginya adalah kenikmatan surga yang tiada hentinya”. Artinya, bahwa orang harus iman kepada Allah tanpa ada sedikitpun keraguan, dan beramal shalih sebagaimana kewajiban dan anjuran di dalam Islam.

Iman kepada Allah itu tersimpul di dalam kalimat tauhid atau kalimat pengesaan Allah SWT dan pengakuan mengenai kerasulan Muhammad SAW. Di dalam tradisi keilmuan Islam khususnya tasawuf maka dikenal dua konsep yaitu nafi wa itsbat. Konsep nafi untuk menjelaskan tentang pengesaan Allah yang tiada syarikat baginya. Allah itu ahad atau Allah itu esa adanya. Maka kala membaca la ilaha yang berarti tiada Tuhan atau ilah, berarti kita sedang menafikan segala ilah atau Tuhan yang selama itu sudah diyakini di dalam berbagai agama atau keyakinan tentang pengilahan atas sesuatu. Ada ilah yang berupa Api Suci, ada juga keyakinan tentang Dewa Matahari atau Dewa Ra, ada keyakinan tentang ilah-ilah yang diyakini oleh agama-agama Samawi yang sudah mengalami perubahan teologis atau agama bumi yang meyakini akan keilahian suatu hal.

Meskipun seseorang melakukan Tindakan yang tidak mengindahkan perintah Tuhan, dan bahkan juga melakukan pelanggaran atas perintah Tuhan, akan tetapi di dalam dirinya ada keinginan untuk memperoleh kebaikan pada akhirnya. Orang yang berperilaku jelek sekalipun ingin masuk surga. Begitulah adanya. Surga memang menjadi ajaran agama yang sangat universal. Setiap agama mengajarkan bahwa tujuan akhir kehidupan sesudah mati adalah surga. Di dalam Bahasa Arab disebut Jannah, di dalam Bahasa Hindu Indonesia disebut sebagai swargaloka, di dalam Agama Buddha disebut sebagai Nirwana dan di dalam Bahasa Indonesia disebut sebagai surga.

Untuk memasuki surga, sebagaimana diceritakan di dalam teks Suci, Alqur’an, ada dua yaitu beriman kepada Allah dan beramal baik. Di dalam Surat At Tin, ayat 6 dijelaskan bahwa: “illal ladzzina amanu wa ‘amilush shalihata falahum ajrun ghairu mamnun”.  Manusia yang tidak merugi adalah manusia yang beriman kepada Allah dan beramal shalih. Oleh karena itu, iman menjadi kata kunci. Di dalam tradisi Islam dinyatakan: “miftahul Jannah la ilaha illallah”. Yang artinya: “kunci Surga tidak ada Tuhan selain Allah”.

Berdasarkan atas teks ini maka bisa dinyatakan bahwa siapa orang yang sudah mengikrarkan diri dengan menyatakan la ilaha illallah, maka yang bersangkutan sudah memiliki peluang untuk menjadi bagian dari surganya Allah. Jadi orang yang sudah beriman maka peluangnya untuk memasuki surga tentu besar. Iman memang bisa bertambah dan bisa berkurang. Namun selama kurangnya iman tersebut tidak sampai membuat seseorang menjadi munafik atau kafir atau yang lebih berat menjadi mursyrik, maka peluang untuk menjadi penghuni surga tersebut masih sangat luas. Iman itu bisa full atau 100 persen. Tidak ada di dalam ungkapan lesan dan batinnya serta prilakunya yang menyebabkan iman tersebut berkurang, maka dipastikan iman itu akan berada dalam nuansa full atau iman sepenuhnya. Disebut juga sebagai imanan shadiqan. Iman yang benar dan lurus.

Kemudian, yang juga menjadi indicator atas peluang menjadi penghuni surga adalah amal yang baik atau amalan shalihan. Siapapun bagi orang yang sudah beriman kepada Allah maka baginya akan dapat menjadi orang yang bisa beramal shaleh. Amal shaleh itu definisinya sangat luas. Mulai dari perkataan yang menyenangkan orang sampai  jihad di jalan Allah, mulai dari sedekah sampai pergi haji. Mulai dari memungut paku di jalan sampai mengedepankan menolong orang yang memerlukan.

Jika seandainya kemudian dikalkulasi, bahwa iman kita itu prosentasenya 90 persen dan amalan shaleh kita itu 50 persen, maka totalitas iman ditambah  dengan amal shaleh adalah 140 persen, artinya secara keseluruhan sebesar 70 persen. Jadi dengan modal 70 persen, maka peluang untuk menemukan surga Tuhan dalam pencarian di akherat itu akan bisa diraih. Namun demikian ini adalah othak-athik mathuk atau pikiran yang tidak memiliki dasar pembenaran, akan tetapi paling tidak menjadi bahan untuk meyakinkan diri bahwa kita termasuk insyaallah akan menemukan surganya Allah SWT.

Sebagai umat Islam pantaslah jika kita berharap mendapatkan rahmatnya Allah SWT. Di dalam banyak maqalah dinyatakan bahwa orang bisa masuk surga karena rahmatnya Allah. Untuk mendapatkan rahmatnya Allah, maka ada dua indicator yang sudah saya jelaskan, yaitu iman dan amal shaleh. Dua ini sekurang-kurangnya sudah kita pahami dan kita lakukan dalam kapasitas yang sesuai dengan kemampuan. Jadi tidak mungkin rasanya, rahmat Allah itu diterima jika tidak memenuhi dua aspek tersebut.

Perhitungan semacam ini yang saya konsepsikan sebagai matematika supra rasional. Kita bisa berhitung atau bermuhasabah, bahwa iman kita seperti ini dan amalan shaleh kita seperti ini. Kita berkeyakinan bahwa potensi kita untuk masuk surga itu besar. Surga rasanya sudah di tangan kita.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

MENGENANG SYEKH BOQA BAQI DAN KIPRAH DAKWAHHYA

MENGENANG SYEKH BOQA BAQI DAN KIPRAH DAKWAHHYA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Dalam dua tahun terakhir ini saya terlibat di dalam acara khaul Syekh Muhammad Al Bqi, Syekh Boqa Baqi atau Mbah Djumantoro. Memang ada tiga nama yang disematkan kepada Waliyullah penyebar Islam pada abad ke 15 di tlatah Tuban, khususnya di Merakurak Tuban Jawa Timur. Pertanda kewaliannya dapat dilihat dari nisan atau maesannya yang terdapat lambang segitga terbalik, yang tidak lazim di makam-makam pada umumnya.

Berdasarkan pelacakan atas lambang di dalam maesan tersebut, maka didapati bahwa di makam-makam para auliya di Trowulan, Eyang Syekh Jumadil Kubro, Eyang Ibrahim Asmoroqondi, Eyang Sunan Ampel, Eyang Sunan Bonang dan Eyang Sunan Drajat memiliki lambang serupa. Berdasarkan atas pelacakan tersebut maka bisa dianalisis bahwa ada keterkaitan genealogi antara para waliyullah, yang dikenal sebagai penyebar Islam di Nusantara. Di dalam buku “Tuban Bumi Wali The Spirit of Harmony: Melacak Jejak Penyebar Islam di Tuban” (2021), bahwa para penyebar Islam di Tuban tersebut memiliki ikatan kekerabatan. Rupanya strategi dakwah yang dikembangkan di masa lalu itu adalah dengan menyebar keturunannya untuk berdakwah di daerah-daearah yang belum terdapat penyebar Islamnya. Itulah sebabnya di seluruh wilayah Tuban terdapat sebanyak 193 waliyullah yang berperan menyebarkan Islam di wilayah tersebut.

Pada hari Ahad, 13 Agustus 2023 bertepatan dengan 26 Muharram, 1445 H, di desa Sembungrejo Merakurak Tuban diselenggarakan acara memperingati perjuangan Syekh Boqa Baqi, yang biasanya diselenggarakan pada bulan Muharram bada khaul Eyang Sunan Bonang. Acara rutin ini diselenggarakan dengan mengundang Kyai yang memiliki jam terbang banyak untuk memberikan ceramah agama, khususnya tentang sedekah bumi, khaul dan tradisi Islam Jawa tersebut. Saya mengambil jadwal pada siang hari karena harus segera kembali ke Surabaya. Makanya yang acara malam harinya saya tidak terlibat. Hadir pada acara siang tersebut adalah pamong desa, Gus Kubro, takmir Masjid Nur Iman, dan masyarakat yang hadir dengan membawa makanan sekedarnya sebagai tradisi sedekah bumi atau di masa lalu disebut sebagai manganan.

Pada acara ini saya sampaikan tiga hal yang saya anggap penting. Pertama, khaul merupakan upacara untuk memperingati perjuangan para ulama, da’i, muballigh, penyebar Islam. Kita bersyukur sebab dapat memperingati perjuangan para waliyullah yang menyebarkan Islam di tempat ini. Acara khaul dilaksanakan sesungguhnya dalam kerangka untuk mengenang jasa dan perjuangan waliyullah yang makamnya masih dikenal dengan baik. Kita memperingati khaul Syekh Muhammad Al Baqi, atau Syekh Boqa Baqi atau Mbah Jumantoro. Ada tiga nama tetapi sesungguhnya satu orang. Ada nama Islamnya dan ada nama Jawa. Ini tradisi yang biasa terjadi di dalam masyarakat Jawa, bahwa ada nama kala kecil dan ada nama kala dewasa. Pada saat saya usia sekolah dasar, tradisi memberi nama setelah dewasa itu biasa terjadi. Jika orang mau menikah maka diganti namanya dengan tidak menghilangkan nama asalnya. Nama Mbah Jumantoro adalah nama untuk menunjukkan bahwa beliau adalah orang Jawa, sedangkan nama Muhammad Al Baqi atau Boqa Baqi adalah nama Islam yang biasanya disesuaikan dengan nama Arab. Jadi tidak usah berdebat tentang nama. Yang jelas bahwa di desa ini terdapat ulama yang hebat di masa lalu sebagai penyebar Islam. Kita harus yakin bahwa makam Syekh Muhammad Al Baqi ada di sini.

Kedua,  tradisi manganan atau tradisi sedekah bumi. Manganan itu artinya mangan bebarengan atau makan bersama-sama. Sama dengan yasinan berarti membaca yasin bersama-sama, tahlilan artinya membaca tahlil bersama-sama. Barzanjenan artinya membaca barzanji bersama-sama. Jadi manganan adalah tradisi untuk makan bareng. Manusia yang hidup makan nasi, daging, telor, kue, dan sebagainya. Ini semua makanan untuk memenuhi kebutuhan fisik atau badan. Yang hidup makan bareng sesuai dengan kebutuhan fisiknya. Di sisi lain ada yang juga membutuhkan makanan, yaitu para ahli kubur kita semua. Ahli  kubur itu tidak membutuhkan makanan sebagaimana makanan orang hidup, akan tetapi yang dibutuhkan adalah makanan yang berupa non fisik, seperti bacaan tahlil, bacaan yasin, bacaan Alqur’an, doa dan lain-lain. Ini yang dibutuhkannya. Makanya kita harus memberikan makanan kepada para ahli kubur kita. Jika orang tua masih hidup, maka menyayanginya adalah dengan memenuhi kebutuhannya. Bagi yang sudah wafat maka bentuk sayang kita kepadanya adalah dengan mengirimkan bacaan fatihan, bacaan yasin, bacaan tahlil, dan doa. Oleh karena itu jangan pernah lupa berdoa untuk leluhur kita yang sudah wafat.

Di dalam tradisi Islam, maka saling mendoakan itu hal yang sangat lazim. Makanya jika berdoa maka kita selalu menyatakan: wa li jami’il muslimina wal muslimat wal mu’minina wal mu’minat, al ahya’i minhum wal amwat”.  Maknanya bahwa kita saling mendoakan. Saya mendoakan Gus Kubro, Gus Kubro mendoakan saya, Pak Darsam mendoakan Pak Darwik, Pak Sarmadi dan seterusnya. Jadi kita saling berdoa. Oleh karena itu yang banyak masuk surga adalah umat Islam. Ada yang sepertiga di awal dan ada yang sepertiga di akhir. “ li ashhabil yamin tsullatum minal awwalin wa tsullatum minal akhiri”.

Ketiga,  mari kita panjatkan rasa syukur ke hadirat Allah SWT. Kita sehat wal afiat. Kita harus bersyukur kepada Allah atas semua kenikmatan yang diberikan kepada kita tersebut. Bagi yang sudah tua, maka doanya adalah “Ya Allah panjangkan usia kami, sehatkan tubuh kami, cahayailah hidup kami dan mantapkan iman kami kepada-Mu”. Mari kita terus bersyukur agar hidup kita semakin berbarakah.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

ISLAM JAWA YANG EKSOTIK

ISLAM JAWA YANG EKSOTIK

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Jangan ada kesalahan di dalam membaca judul artikel ini. Yang saya maksud dengan Islam Jawa adalah Islam yang dipeluk atau dianut oleh orang Jawa. Suatu masyarakat yang semenjak dahulu sudah menjalankan ajaran Islam sesuai dengan kemampuan dan kapasitasnya sebagai umat Islam berdasarkan atas pemahamannya tentang Islam yang khas. Hal ini sama dengan konsep Islam Nusantara, artinya adalah Islam yang tumbuh dan berkembang di Nusantara. Islam yang seperti ini hakikatnya juga Islam yang memiliki sumber ajaran dari Nabi Muhammad SAW, hanya saja sudah dipahami dengan konteks Nusantara dengan penduduknya yang beragama Islam. Oleh karena itu tidak layak dipertentangkan dengan Islam Arab, Islam Mesir, Islam Malaysia dan sebagainya. Islam itu hakikatnya universal, hanya saja di dalam pemahaman dan ekpresinya yang bisa bervariasi sesuai dengan lokus dan budaya yang berkembang di wilayah tersebut.

Di dalam acara ngaji bareng di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency, kita sedang mendaras tentang ayat yang terkait bahwa manusia merupakan makhluk ciptaan Allah yang terbaik (Surat At Tin, ayat 4). Hal itu karena manusia adalah khalifah Allah di muka bumi. Sebagai khalifah tentu saja harus diberi perangkat yang lebih sempurna dibandingkan dengan makhluk Tuhan lainnya, misalnya hewan dan tumbuh-tumbuhan, bahkan juga dibandingkan dengan makhluk Tuhan yang masih gaib bagi manusia, seperti Jin, Syetan, Malaikat dan lainnya.

Manusia diberikan oleh Allah dengan kelengkapan akal, yaitu rational intelligent atau kemampuan nalar atau pikiran, emotional intelligent atau kesadaran yang berbasis kepada kemanusiaan, social intelligent atau kesadaran manusia untuk menjadi bagian dari manusia atau komunitasnya atau bagian dari kemanusiaan dan spiritual intelligent atau nalar ketuhanan. Dengan empat intelligensi tersebut, maka manusia bisa menjadi penguasa dunia sebagai wakil Tuhan bagi kehidupan di dunia.

Melalui empat akal tersebut,  maka manusia dapat melakukan kerja fisik dan kerja batin. Kerja fisik tentu untuk memenuhi kebutuhn fisik, misalnya makan, minum, berteduh, berpakaian, berkendaraan dan kebutuhan biologis lainnya. Sedangkan kerja non fisik adalah kerja yang terkait dengan pemenuhan kebutuhan batin yang juga sangat penting di dalam kehidupan. Tidak ada manusia di dunia  yang tidak memiliki kebutuhan batin. Bukan sekedar rasa senang, tersenyum, tertawa dan bergembira ria atau lawan katanya seperti susah, sedih, murung dan menderita akan tetapi yang jauh juga dibutuhkan adalah rasa ketuhanan. Meskipun seseorang menyatakan dirinya  tidak percaya Tuhan atau atheis, tetapi saya tetap berkeyakinan bahwa suatu ketika akan merasakan betapa ada kekuatan gaib yang menggerakkan atas dunia dan manusia.

Sesungguhnya, orang yang sangat religious adalah masyarakat Nusantara, khususnya orang Jawa. Masyarakat Jawa adalah makhluk Tuhan yang paling sadar akan ketuhanan dan hal-hal yang terkait dengan Tuhan. Bagi orang Jawa, semuanya   dapat diatribusikan sebagai bagian dari kekuatan Tuhan. Tuhanlah yang berada dibalik semua tindakan manusia, yang disebutnya sebagai ketentuan atau takdir Tuhan. Orang Jawa itu serba takdir. Tidak ada yang tidak berkesadaran tentang Tuhan. Gusti Allah adalah segala-galanya.

Di dalam beragama orang Jawa itu  unik. Mereka menyelami ajaran agama justru dengan subtansinya dan bukan formalnya. Secara emosional agama itu dijadikan sebagai  bagian tidak terpisahkan dari beragama secara substansial. Agama itu dipahami sebagai sarana untuk mencapai kesejatian hidup. Oleh karena itu, maka agama itu dihayati secara lebih mendasar dibandingkan formalitas agama yang mengajarkan aturan-aturan dalam beragama. Shalat misalnya dihayati sebagai instrument untuk mencapai Tuhan dengan shalat daim atau shalat sepanjang hayat. Shalat lima waktu itu merupakan ajaran formal dalam beragama dan harus dilakukan, akan tetapi dibalik shalat itu ada semacam penghayatan tentang makna shalat secara esoteris.

Orang Jawa dikenal sebagai sekelompok orang yang menjadikan agama sebagai mantram-mantram suci. Yang dapat dirumuskan dengan menggunakan berbagai ungkapan, yang bahkan tidak terdapat di dalam ajaran agama, Islam misalnya. Sebagai contoh, Islam telah mengajarkan untuk menolak gangguan makhluk halus, maka Islam mengajarkan tentang doa, misalnya:  “Allahumma inni ‘audzubika minar rihil ahmar wa damil aswad wa dail akbar”. Makanya, lalu mereka membikin doa yang merupakan campuran antara Bahasa Arab dan Bahasa Jawa dan kemudian dirumuskan sendiri. Misalnya kala menghadapi daerah yang ditengarahi banyak makhluk halusnya, maka yang dibaca bukanlah doa yang berbahasa Arab, akan tetapi dengan doa; “ Qulhu sungsang, rajaiman, kudungku Malaikat Jibril, tekenku jongkat Nabi Muhammad, la ilaha illallah Muhammadur rasulullah”. Bismillah dengan doa tersebut, maka keselamatan akan didapatkan. Bukannya mereka tidak mau percaya dan yakin tentang doa dalam Bahasa Arab, akan tetapi karena factor kurang puas, maka doa dalam Bahasa Arab tersebut dapat  diganti dengan doa yang dirumuskan oleh para leluhurnya.

Pak Hardi sedemikian percaya bahwa doa di dalam Bahasa Jawa itu didengarkan oleh Allah SWT. Di masa lalu banyak amalan yang dilakukan oleh Pak Hardi, akan tetapi karena pengaruh paham keagamaan yang puristik, maka ajaran agama dengan sentuhan Kejawen tersebut lama-lama ditinggalkan. Sementara itu, Pak Hardi yakin bahwa doa di dalam bahasa apapun selama Tuhan meridloinya dipastikan akan terselesaikan problemnya. Pak Rusmin juga menyampaikan bahwa Tuhan itu memahami bahasa universal, sehingga bahasa apapun dari makhluknya pasti diketahuinya. Makanya berdoa dalam bahasa apapun dipastikan Allah mendengarnya. Perkara terkabulkan atau tidak tentu masih panjang urusannya.

Yang terpenting di dalam doa adalah unsur keyakinan, kesungguhan, keikhlasan dan ketawakkalan, maka doa diterima atau tidak akan sangat tergantung kepada bagaimana tingkat keseriusan dalam berdoa. Ada doa berbahasa Arab yang diterima  dan tidak. Dan ada doa dalam Bahasa Jawa yang diterima  jika Allah SWT  menghendakinya. Dengan kata lain, tetaplah terus berdoa dan yakinlah bahwa Allah mengabulkannya.  Cuma factor waktu yang akan menjadi saksinya.

Wallahun a’lam bi al shawab.