• May 2026
    M T W T F S S
    « Apr    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

INGIN RIDLO ALLAH UNTUK  SURGA YANG SANGAT PENTING

INGIN RIDLO ALLAH UNTUK  SURGA YANG SANGAT PENTING

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bagi kalangan ahli tasawuf, maka yang diutamakan adalah memperoleh ridlo Allah SWT, baik di dalam kehidupan di dunia terlebih kehidupan di akhirat. Oleh karena itu, para ahli tasawuf mengedepankan ridla Allah di atas semua yang berupa kenikmatan di akhirat. Banyak orang yang berpikir, bahwa akhir segalanya di dalam kehidupan adalah di kala kita dapat memasuki surganya Allah, akan tetapi bagi ahli tasawuf,  ridla Allahlah yang menentukan akhir dari segala kehidupan roh manusia.

Manusia dengan rohnya memang akan mengalami perjalanan untuk berpindah-pindah dari satu fase kehidupan kepada satu fase kehidupan lainnya. Dimulai dengan alam roh yang kita sudah lupa kapan saatnya, tetapi yang jelas bahwa di sana ada perjanjian yang kita lakukan dengan kewajiban untuk mengabdi kepada Allah dan tidak kepada yang lain. Instrument  untuk mengingat perjanjian itu adalah agama yang diturunkan oleh Allah kepada manusia. Di masa lalu diturunkan kitab Zabur kepada umat Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman dan nabi-nabi lain sesudahnya, sampai kemudian diturunkan kepada Nabi Musa kitab suci Taurat dan nabi-nabi lain sesudahnya, lalu diturunkan Kitab Injil kepada Nabi Isa dan nabi-nabi lain, dan kemudian diturunkan Alqur’an kepada Nabi Muhammad SAW dan kepada umatnya. Kitab-kitab suci ini selalu diturunkan kepada Nabi-Nabi tertentu yang sesungguhnya untuk membenahi atas tafsir pada kitab suci yang sudah melenceng dari teks kitab suci dimaksud. Itulah makna kenapa kitab Suci Alqur’an dianggap sebagai  kitab terakhir yang terjaga dari kesalahan teksnya, meskipun terdapat penafsiran yang berbeda tetapi pada prinsip-prinsip utamanya terdapat kesamaan-kesamaan.

Roh manusia mengalami perpidahan dari alam roh ke alam dunia, ke alam kubur dan ke alam akhirat. Makanya, roh itu abadi dalam konteks tidak mengalami kerusakan, karena memang diciptakan oleh Allah untuk merasakan alam keabadian. Tetapi tentu tidak abadi sebagaimana keabadian Allah, yang tidak ada awalnya dan tidak ada akhirnya. Sebagaimana keabadian surga dan neraka yang tidak sama dengan keabadian Allah, karena surga dan neraka adalah ciptaan Allah SWT.

Manusia tergolong dalam tiga bagian. Pertama, ahli tasawuf, yakni orang yang memiliki usaha taqarrub kepada Allah SWT, dan karena kedekatannya tersebut lalu Allah membukakan hijab yang menyelubungi antara Allah dan hambanya. Saya tidak bisa menggambarkan bagaimana relasi vertical Allah dan manusia tersebut, akan tetapi kenyataan empirisnya pasti ada. Semua agama mengajarkan tentang keberadaan makhluk Allah yang bernama manusia dengan kapasitas bisa melakukan hal semacam ini. Di dalam Islam disebut sebagai waliyullah, orang yang memiliki kedekatan spiritual yang memasuki alam keilahian. Di dalam ajaran Nasrani, sebagaimana Alqur’an menjelaskan adalah para hawariyun, atau sahabat Nabi Isa yang menjadi pengikut setianya.

Kedua, ahli ilmu pengetahuan yaitu mereka yang mendalami ilmu keislaman dan kemudian mengajarkannya kepada umat lain. Fungsinya adalah menjadi pengingat kepada manusia lain agar bertaqwa dan mengabdi kepada Allah. Di dalam kehidupannya disibukkan untuk mengembangkan kebaikan dan kebenaran. Kebaikan umum atau kebaikan khusus. Kebaikan umum terkait dengan kemanusiaan, misalnya menyebarkan tentang keadilan, persamaan dan toleransi, sedangkan yang khusus adalah kebaikan dan kebenaran yang berbasis pada ajaran Islam untuk umat Islam. Ajaran keadilan, persamaan dan toleransi sesungguhnya juga ajaran Islam dan secara umum bisa diberlakukan untuk semua penganut agama.

Ketiga, orang awam atau orang yang tidak memiliki seperangkat pengetahuan agama yang sangat baik, akan tetapi ada yang amal kebaikannya luar biasa dan ada yang tidak memiliki amalan kebaikan. Orang dengan penggolongan ketiga tersebut “rawan” di dalam kehidupannya tergantung kepada factor internal dan eksternal yang ada pada yang bersangkutan. Factor lingkungan menjadi penyebab dominan di dalam kebaikan atau keburukan. Dia akan menjadi baik, jika berada di dalam lingkungan baik dan akan menjadi jelek kalau berada di dalam lingkungan yang jelek. Makanya, Islam mengajarkan agar kita berada di dalam perkawanan yang baik dan benar. Di dalam konsepsi Islam Jawa disebut sebagai wongkang sholeh kumpulono. Kita harus berkawan dengan orang yang baik. Jika kita berkawan dan berada di dalam lingkungan yang baik tentu Allah akan senang pada perilaku kita.

Namun demikian, tentu ada hamba Allah yang diberi otoritas untuk mengubah lingkungan  jelek menjadi baik atau lingkungan  rusak menjadi lingkungan yang baik. Ingat bahwa kebanyakan pesantren besar  didirikan di lokasi yang rusak, misalnya kampung maling, kampung judi, dan sebagainya. Pesantren Tebuireng didirikan oleh Hadratusy Syekih Hasyim Asy’ari pada kampung yang rusak, tetapi dengan usaha yang sungguh-sungguh  akhirnya justru dari tempat tersebut menjadi pesantren yang sangat terkenal hingga hari ini. Semua itu tentu karena keridlaan Allah SWT.

Kita memahami bahwa keridlaan Allah merupakan penentu atas semua akhir dari kehidupan manusia. Dan kita ingin mendapatkan keridlaan tersebut. Kita  ingin diri kita, keluarga kita dan bahkan umat Islam semuanya bisa mendapatkan keridlaan Allah SWT dan berakhir dengan penempatan kita di dalam surganya Allah SWT. Atas keridlaan Allah, maka api yang panas menjadi dingin, sebagaimana Nabi Ibrahim. Laut yang bergelora dengan air, dapat berubah menjadi jalan terbentang pada waktu Nabi Musa  dan manusia raksana Thalut bisa dikalahkan oleh ketapel Nabi Dawud.

Makanya, keridlaan Allah adalah segalanya. Itulah sebabnya menjadi bermanfaat  jika kala selesai shalat kita berdoa: “Allahumma inna nas alukal jannata wal afwa ‘indal hisab. Yang artinya: “Ya Allah kami memohon kepadaMU surga dan ampunan kala masa hisab”. Kita memang harus berdo’a seperti ini, karena kita yakin bahwa dengan amalan shalat yang baik, kita akan memperoleh ridla Allah yang berujung kepada keanggotaan kita di dalam surga. Allahumma amin.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

 

 

 

HIDUP BERKAH

HIDUP BERKAH

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Setiap orang ingin menggapai keberkahan hidup. Berkah itu secara general bisa diartikan sebagai pertambahan kenikmatan atas sesuatu yang diterima. Jika harta maka dirasakan bahwa harta yang diberikan oleh Allah SWT  itu menjadi sesuatu yang memiliki kenikmatan tambahan. Atau jika kesehatan, maka berkah kesehatan itu artinya fisik, jiwa dan rohani kita selalu dalam kesehatan. Jika keluarga, maka dirasakan bahwa seluruh anggota keluarga merasakan kedamaian, ketenteraman dan selalu di dalam kehidupan yang baik dan bermanfaat.

Jika kita sedang berkuasa, maka keberkahan kekuasaan itu berarti yang dilakukan itu memberi manfaat kepada orang lain atau masyarakat. Kebijakan yang dibuat bisa memberikan efek positif bagi masyarakat yang dipimpinnya. Jika sebagai seorang birokrat, maka yang dilakukannya itu bermakna kemajuan bagi institusinya dan institusinya menjadi institusi yang bermanfaat bagi masyarakat. Di era yang disebut sebagai pelayanan optimal bagi para pelanggan, maka jika para stakeholder kita merasakan kepuasan atas kinerja kita, maka kita dapat  menyatakan bahwa institusi dan team kerja telah bekerja secara optimal.

Jika kita sebagai guru atau dosen atau kyai, maka keberkahan ilmu itu bisa dirasakan jika semakin banyak anak didik, mitra belajar, siswa, santri atau mahasiswa yang diajar mampu dan berhasil untuk menggapai kehidupan yang semakin baik. Keberhasilan murid merupakan kebanggaan guru, dan ketidaksuksesan murid adalah kesedihan guru. Seorang guru yang baik jika bisa merasakan apa yang dirasakan oleh murid-muridnya. Ada murid kita yang menjadi pejabat, menjadi birokrat, menjadi teknokrat, menjadi wirausahawan, menjadi  businessman, menjadi politisi, menjadi akademisi dan sebagainya merupakan kebanggaan yang tidak terkira dari seorang guru atau dosen. Lalu juga menjadi sedih jika melihat siswa atau mahasiswa yang pernah diajarnya kurang berhasil di dalam kehidupannya.

Jika menjadi usahawan, maka akan menjadi berkah kehidupannya jika pertambahan kekayaannya tidak hanya menjadi akumulasi modal saja akan tetapi justru menambah nilai manfaat bagi umat. Tidak hanya sekedar memenuhi Corporate Social Responsibility (CSR) akan tetapi lebih dari itu. Ada keyakinan bahwa sebagian harta yang didapatkannya melalui serangkaian usahanya itu merupakan bagian dari orang-orang dhu’afa yang harus ditanggungnya. Jadi bukan bersikap sebagai kapitalis murni yang hanya menumpuk atau mengakumulasikan modal saja, akan tetapi tergerak dan mengimplementasikan kepeduliannya atas orang lain yang kurang atau tidak beruntung.

Di Indonesia, ada banyak orang yang berhasil secara ekonomi karena menjadi pengusaha. Ada orang-orang Indonesia yang masuk dalam jajaran 100 orang terkaya di dunia. Ada kaum businessman yang hartanya sangat banyak. Sejumlah 15 orang terkaya di Indonesia yang akumulasi kekayaannya lebih dari 40 persen APBN Indonesia. Bahkan ada orang kaya nomor 1 dan 2 di Indonesia yang kekayaannya itu mencapai angka lebih dari Rp500 trilyun. Artinya sama dengan anggaran Kementerian Agama  selama 4 tahun. Karena akumulasi kekayaaan tersebut dari perusahaan-perusahaan yang dimilikinya, maka dipastikan bahwa CSR perusahannya juga besar.

Semenjak awal memang strategi pembangunan di Indonesia menggunakan model  pertumbuhan atau growth model. Maka yang besar didorong untuk semakin besar, dan kemudian hasilnya akan menetes ke bawah atau trickle down effect. Perusahaan besar akan memiliki sejumlah unit perusahaan menengah dan terus ke bawah untuk bisa mempekerjakan  tenaga kerja  dari  kalangan masyarakat. Akan tetapi rencana trickle down effect ini tidak berjalan sebagaimana rencana sebab watak kapitalis murni itu yang justru menguat, sehingga tetesan ke bawah pun tidak terjadi.

Di antara kita tentu sudah bersyukur bahwa kita hidup di Indonesia yang masyarakat, bangsa dan negaranya memiliki modal dasar keamanan dan kedamaian. Bagi kita modal perdamaian, keamanan dan ketenteraman masyarakat merupakan modal social yang sangat besar. Dengan modal tersebut, maka bagaimanapun keadaan ekonomi kita, ternyata kita masih memiliki peluang untuk bisa hidup. Maka, keberkahan sebuah negara adalah kala negaranya itu aman dan damai, lalu warganya bisa merasakannya sebagai modal kehidupan yang luar biasa.

Sungguh kita dapat bersyukur sebagai warga bangsa Indonesia. Kita memiliki keluarga, kekayaan, harta atau pangkat dan jabatan, pekerjaan dan usaha yang bisa berjalan dalam kenyataan social yang terjadi di Indonesia. Jika ada di antara kita yang belum beruntung secara ekonomi, akan tetapi setidak-tidaknya masih mendapatkan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan minimal keluarga.

Selalu saya nyatakan bahwa modal aman dan damai merupakan kata kunci keberkahan yang besar dari bangsa Indonesia. Jika kita tidak mensyukuri hal semacam kita, maka jangan sampai Allah SWT memberikan dampak negative bagi bangsa Indonesia. Jika ada di antara sedikit warga negara Indonesia yang cenderung untuk memprovokasi tindakan disharmoni, maka semoga warga negara seperti itu mendapatkan hidayah dari Allah SWT.

Sebagai penutup artikel ini, marilah kita berdo’a kepada Allah SWT dengan doa yang sering dibaca. Allahumma bariklana fi ‘umrina, Allahumma bariklana di ‘ilmina, Allahumma bariklana fi rizqina, Allahumma bariklana fi hayatina, Ya arhamar rahimin. Ya Allah berkahi umur kami, Ya Allah berkahi ilmu kami, Ya Allah berkahi rizki kami, Ya Allah berkahi kehidupan kami, Wahai Dzat yang memberi kerahiman bagi kami.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

KAUM PEREMPUAN, MEDIA SOSIAL DAN KEBUTUHAN INFORMASI

KAUM PEREMPUAN, MEDIA SOSIAL DAN KEBUTUHAN INFORMASI

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Ada yang menarik di dalam sessi tanya jawab pada acara Moderasi Beragama bagi Para Guru Madrasah Se Kabupaten Bangkalan. Acara yang diselenggarakan oleh Detasemen Khusus  (Densus) 88 Anti Teror. Acara ini menghadirkan para kepala Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) dan juga guru-guru pada madrasah di Kabupaten Bangkalan. Acara ini diselenggarakan di Aula MAN Bangkalan, 24/05/2023, dan dihadiri oleh Kakankemenag Kabupaten Bangkalan, Ahmad Sururi, Kepala Madrasah Aliyah Negeri Bangkalan, Ali Wafa, dan tentu saja AKBP Dofir, Kanit Pencegahan Terorisme pada Densus 88 Anti Teror.

Pertanyaan yang menarik  tersebut terkait dengan ungkapan saya dalam sessi presentasi yang saya nyatakan bahwa para ibu jangan secara terus menerus menonton Youtube, agar menonton Youtube atas apa yang diperlukan saja, jangan sampai kecanduan Youtube. Jika seperti ini nanti akan bisa menjadi masalah terkait dengan keluarga. Tidak dilarang menonton Youtube tetapi agar dibatasi sesuai dengan kebutuhan.

Pernyataan ini memantik respon langsung dari kaum Wanita.  Pertanyaannya adalah “sekarang ini kita hidup di era media sosial, artinya kita harus terlibat di dalam dunia media sosial tersebut. Saya merasa kurang sepakat dengan narasumber, kenapa yang dijadikan sebagai sasaran larangan atau pengurangan nonton Youtube hanya kaum perempuan, kenapa yang lelaki tidak. Lalu, selama ini kami menggunakan media Youtube untuk kepentingan-kepentingan yang positif, misalnya untuk mengetahui berbagai informasi dan juga perkembangan informasi di dunia. Selain juga misalnya untuk memenuhi kebutuhan tentang resep makanan, pengetahuan agama dan informasi hiburan.  Jadi tidak mungkin kami  menutup begitu saja kecenderungan untuk menjadi bagian dari media sosial”.

Saya memberi respon balik atas pertanyaan ini. “Saya bersyukur bahwa Ibu-Ibu memiliki kecenderungan untuk melihat berbagai keadaan dan informasi di seputar kehidupan kita. Saya memang secara sengaja untuk menyatakan bahwa nonton Youtube itu kebolehan, akan tetapi yang boleh itu akan menjadi makruh bahkan haram jika kemudian jika itu kebablasan atau menjadi pecandu media sosial. Seakan kita berada di bawah tempurung jika  tidak nonton media sosial. Bagi saya nonton Youtube, tik tok, WA, Instagram, Facebook itu boleh saja, tidak ada larangan. Hukumnya mubah. Akan tetapi yang boleh itu bisa menjadi larangan jika kemudian kita menomorsatukan media sosial dan melupakan sisi kehidupan lainnya.

Saya lanjutkan: “kita semua  harus cerdas dalam bermedia sosial. Kita bisa menentukan apa yang penting dilihat dan apa yang tidak perlu ditonton. Kita harus cerdas memilih mana konten yang bermanfaat dan mana yang tidak. Kecerdasan bermedia sosial itu menentukan apakah kita sudah bisa mamahami dunia baru atau belum. Jika kita menjadi orang yang melakukan tindakan sharing saja apa yang didapatkan, maka itu pertanda bahwa kita belum dewasa di dalam bermedia sosial. Jika kita melakukan itu berarti kita sedang berada di dalam era transisi menuju peradaban digital. Kita masih masyarakat transisional.

Secara commonsense, waktu luang ibu-ibu lebih banyak dibandingkan dengan lelaki, kecuali bagi perempuan yang bekerja. Tetapi bagi perempuan yang menjadi ibu rumah tangga, maka waktu luangnya cenderung lebih banyak. Itulah sebabnya di antara pengalihannya adalah dengan menonton Youtube. Bagi perempuan yang tipenya seperti ini, maka dipastikan bahwa temannya adalah media sosial.

Sesungguhnya menjadi bagian dari dunia sosial tentu merupakan kebaikan, selama yang menjadi konten yang dicermatinya adalah konten yang positif. Misalnya mendengarkan ceramah-ceramah agama yang mendidik dan bukan ceramah agama yang merusak disharmoni di antara sesama umat Islam. Jadilah bagian dari konten-konten ceramah agama seperti ceramahnya Gus Baha’ atau Gus Muwafiq, atau Gus Miftah, Kyai Marzuki Mustamar dan da’i-da’i lain yang mengusung tema-tema yang moderat. Dan jangan menjadi pengikutnya da’i-da’i yang justru akan merusak terhadap ukhuwah Islamiyah. Saya kira para guru sudah tahu siapa yang di dalam konten ceramahnya itu bisa merusak citra Islam yang ramah menjadi Islam yang galak atau menakutkan.

Kita harus cerdas bermedia sosial. Oleh karena itu kita harus menjadi agen bagi literasi media tersebut. Para guru harus menjadi imam dalam literasi media sosial. Guru itu digugu lan  ditiru atau dijadikan sebagai teladan. Makanya, para guru harus memberi contoh yang baik dalam memahami agama atau mengamalkan ajaran agama. Jangan sampai justru guru yang mengajarkan agama yang penuh kebencian dan bukan agama yang memberikan kasih sayang.

Kita yang akan merasa bersalah kalau negeri Indonesia yang aman dan damai ini lalu menjadi kacau balau, menjadi tidak aman dan penuh konflik sosial. Kitalah yang bertanggung jawab, sebab para gurulah yang akan mengantarkan anak didik kita akan kemana arah yang ditempuhnya. Mari kita sadari di tangan kitalah nasib bangsa Indonesia ke depan.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

SHALAT SEBAGAI HAMPARAN SAJADAH PANJANG

SHALAT SEBAGAI HAMPARAN SAJADAH PANJANG

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Kala menulis artikel ini, sesungguhnya saya berada di dalam keraguan. Soalnya sederhana saja. Sebagaimana manusia lainnya, saya pun juga terkena kekhilafan dan kesalahan bahkan juga dosa. Ada banyak kesalahan, kehilfahan dan dosa yang bisa saya lakukan. Termasuk juga kelalaian dalam menjalankan shalat.

Ada kalanya, saya lalai.  Tiba-tiba waktunya habis dalam keadaan saya masih menyelesaikan pekerjaan.  Terkadang  di dalam perjalanan yang tidak bisa melakukan shalat karena pakaian terkena najis. sementara saya berada di dalam kemacetan jalan yang tidak bisa diurai. Yang jelas ada saat-saat di mana shalat itu dengan terpaksa ditinggalkan meskipun akhirnya dengan berbagai cara dapat diganti atau melakukan qadla’ atas shalat yang tertinggalkan dimaksud atau shalat lihurmatil waqt.

Shalat merupakan ibadah utama di dalam Islam, selain misalnya puasa, zakat dan amal-amal shalih lainnya. Bahkan ibadah shalat merupakan amalan manusia yang pertama dihisab atau diperhitungkan atau ditimbang. Di dalam Hadits yang dihisab pertama kali adalah shalat. Hal tersebut sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, Imam An Nasa’i dan Imam At Tirmidzi, dinyatakan: “Sesungguhnya  yang pertama kali dihisab pada diri seorang hamba  pada hari kiamat dari amal ibadahnya adalah shalat. Jika shalatnya baik baik, sungguh ia beruntung dan jika shalatnya rusak sungguh ia menjadi orang yang merugi”.

Umat Islam tentu memiliki sekian banyak kewajiban. Baik kewajiban individual maupun kewajiban social. Kewajiban individual merupakan kewajiban yang harus dilakukan umat Islam sebagai individu, misalnya melaksanakan ibadah shalat, melaksanakan puasa, melaksanakan zakat dan melakukan ibadah haji dan semua itu didahului dengan membaca syahadat atau pengakuan atas keesaan Allah dan Nabi Muhammad sebagai utusan Allah. Sedangkan ibadah social adalah ibadah yang memiliki cakupan untuk kepentingan masyarakat. Ada nilai social yang terkandung di dalam ibadah dimaksud. Ada ibadah mahdhoh atau ibadah dengan tujuan untuk kepentingan individu, misalnya shalat dan puasa. Sedangkan ibadah ghairu mahdhoh adalah ibadah yang memiliki visi kemanusiaan atau social.

Berbahagialah orang yang di dalam hidupnya terus menerus melakukan ibadah shalat. Kontinuitas shalat merupakan kata kunci bagi seorang muslim untuk menerima kebahagiaan awal di dalam mahsyar. Jika shalatnya baik dan rutin, maka peluang untuk menerima pahala dari Allah tentu sangat besar. Akan tetapi sebaliknya, jika amal ibadahnya tidak konsisten, maka juga punya peluang untuk tidak mendapatkan pahala dari Allah SWT. Makanya, Islam sungguh memberikan pedoman berupa hadits yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW, bahwa amalan pertama yang dihitung oleh Allah di alam mahsyar adalah shalatnya. Jika ada yang kurang, maka nanti akan bisa ditutup dengan amalan-amalan lain, seperti puasa, zakat, sedekah, infaq, dan amalan-amalan baik lainnya.

Namun demikian yang jelas, bahwa amalan di dalam Islam itu sebuah system, yang tidak berdiri sendiri-sendiri. Amalan shalih di dalam Islam itu sangat banyak. Shalat adalah salah satunya. Oleh karena itu, mari kita yakinkan diri kita bahwa kita harus melakukan amal ibadah yang memiliki nilai plus di sisi Allah SWT. Shalat kita tegakkan dan amalan shalih lainnya juga kita lakukan. Islam mengajarkan tentang system ibadah yang saling terkait.

Di dalam cerita yang berbasis pada hadits Nabi Muhammad SAW, bahwa orang bisa masuk surga karena menolong seekor anjing yang kehausan, atau cerita tentang masuk surga orang yang membuang duri di tengah jalan dan cerita tentang orang yang membaca kalimat tauhid atau kalimat thayyibah atau Imam Ghazali yang memberikan kesempatan minum bagi seekor lalat merupakan contoh tentang betapa Islam itu agama yang rahmat. Makanya, benar adanya bahwa masuknya seseorang ke dalam surga adalah karena rahmatnya Allah SWT.

Kita tentu bersyukur bahwa kita sudah termasuk orang yang bisa menjalankan shalat. Kita bersyukur dibandingkan dengan umat Islam lain yang belum bisa menjalankan shalat. Ada yang karena ketiadaan informasi yang lengkap mengenai pentingnya shalat atau ketiadaan kesempatan untuk menjalankan ibadah shalat. Ada factor internal yang berasal dari dalam diri seseorang dan ada factor eksternal atau factor dari luar diri seseorang. Factor dari dalam adalah ketiadaan minat dan keinginan untuk menjalankan shalat atau ketiadaan semangat untuk menjalankan shalat. Mereka tahu shalat itu kewajiban, akan tetapi karena kemalasan maka shalat tidak dilakukannya. Sedangkan factor eksternal adalah tekanan pekerjaan, lingkungan social dan perkawanan. Pengaruh eksternal itu sungguh sangat besar bagi manusia. Banyak orang yang tergelincir dalam jurang kehancuran karena pertemanan atau karena factor lingkungan.

Kita ini merupakan orang yang beruntung karena bisa menjalankan ibadah shalat sedari kecil. Orang tua kita beragama Islam sehingga karena factor keturunan tersebut kita telah bersyahadat di waktu kecil. Kita telah dimasukkan ke dalam Lembaga Pendidikan Islam, apapun jenisnya. Ada yang mengaji di surau atau langgar, di pesantren, di madrasah atau di madrasah diniyah. Kita telah belajar shalat semenjak kecil.

Kenyataan ini merupakan rahmat Allah SWT untuk kita semua. Oleh karena itu, semoga kita dapat menjadikan shalat sebagai sajadah panjang, meskipun ada di antara hamparan sajadah tersebut  yang bolong-bolong. Dan yang tidak tersambung itu semoga bisa disambungkan dengan amalan-amalan lain yang baik yang berada di dalam bingkai amalan shalihan. Allahuma inna nas aluka amalan shalihan mutaqabbala. Amin.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

 

BERDOALAH KEPADA ALLAH UNTUK KEBAIKAN

BERDOALAH KEPADA ALLAH UNTUK KEBAIKAN

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Jika saya menulis terkait dengan pemahaman tentang Alqur’an atau Alhadits, sama sekali tidak dimaksudkan sebagai tafsir atau interpretasi atas seorang ahli di dalam bidang Alqur’an atau Alhadits, akan tetapi sekedar perenungan sebagai orang yang pernah belajar dan memiliki sedikit pengetahuan tentang hal ini. Mungkin  bisa dinyatakan bahwa lebih banyak unsur sosiologisnya ketimbang ilmu tafsir. Bahkan sangat sedikit pemahaman tentang ilmu tafsirnya.

Manusia sesungguhnya menghendaki agar hidupnya berada di dalam kebaikan. Semacam apapun manusia dipastikan bahwa dia ingin hidup normal dan baik. Hidup yang sesuai dengan kaidah social maupun agama. Hanya saja factor-faktor kepentingan atau kebutuhan, lingkungan dan pergaulan yang menyebabkannya untuk tidak berada di dalam kehidupan yang normal dan baik. Jadi, ada variable-variabel external yang menyebabkan seseorang melakukan tindakan yang tidak relevan dengan norma social atau norma agama.

Di dalam kesendirian, seseorang yang bejat akhlaknya pastilah dia merasakan betapa hampa kehidupannya. Dia akan merasakan betapa hidupnya itu tidak ada artinya, tidak ada manfaatnya. Panggilan hati nuraninya akan menyatakan seperti itu. Inilah hati Nurani yang sebenarnya, yang sesungguhnya memiliki kesadaran yang benar. Hanya saja sekali waktu. Tidak terjadi secara terus menerus. Padahal, kebaikan itu harus dilakukan secara terus menerus agar menjadi kebiasaan.

Ada   seseorang yang  adakalanya  malu akan memohon ampunan pada Allah. Ada perasaan berdosa yang keterlaluan sehingga menyebabkannya enggan atau merasa malu kala menyebut nama Allah, apalagi memohon ampunan. Seseorang akan merasakam bahwa dirinya sudah jatuh ke dalam lembah kehinaan dan dosa. Akibatnya seseorang merasakan sudah berada di dalam kesendirian untuk bisa berbuat baik.

Di dalam posisi seperti ini, maka seseorang membutuhkan pendamping atau membutuhkan penasehat. Harus ada seseorang yang menemaninya untuk berani memohon ampunan dan berdoa kepada Allah. Sebagaimana praktik penyembuhan terhadap kaum narkoba, seperti yang dilakukan di Inabah Suryalaya, maka seseorang benar-benar dibimbing agar tidak berada di dalam kesendirian. Diajaknya mandi malam, lalu diajaknya untuk berdoa. Diajarinya untuk shalat malam, dan akhirnya bisa kembali ke jalan yang benar.

Para pecandu narkoba itu orang yang takut air. Makanya nyaris tidak pernah mandi. Maka dengan mandi malam, maka saraf-sarafnya dibangkitkan kembali untuk merasakan sentuhan air yang dingin dan menyegarkan. Dalam upaya terus menerus untuk mandi malam, maka akhirnya saraf-sarafnya akan menjadi normal, dan jika sudah ada pertanda normal tersebut, maka kemudian akan bisa diajari dan diajak untuk berdoa dan memohon ampunan kepada Allah SWT.

Begitulah, yang dilakukan oleh Hanan Attaqi terhadap anak-anak jalanan di Bandung, geng motor, atau Ra Khalil untuk menyadarkan anak-anak jalanan agar bisa kembali normal kehidupannya. Saya kira jika kita berdakwah kepada orang-orang yang sudah insaf dalam kebaikan, maka hanya untuk merawat amal ibadahnya, akan tetapi menyadarkan kembali kepada kebaikan atas orang-orang yang tidak sadar atau belum sadar akan agamanya tentu lebih berat dan sulit.

Problem manusia semakin kompleks. Tuntutan ekonomi semakin tinggi. Kehidupan semakin terdiferensiasi dalam penggolongan social yang semakin ketat. Solidaritas social semakin cair. Solidaritas social organis semakin menguat, sementara itu solidaritas mekanis semakin mencair. Makanya banyak orang yang semakin merasakan kesepian di tengah keramaian atau lonely in the crowd.

Ada orang kaya dan banyak uangnya yang kesepian, ada orang yang punya derajad tinggi tetapi juga kesepian. Ada orang yang memiliki pengaruh tetapi dia tidak merasakan kebahagiaan.  Di dunia ini ternyata banyak hal yang terjadi. Ada banyak hal yang membuat tidak bahagia dan membuat sengsara. Makanya, kita harus introspeksi apakah kehidupan kita termasuk dalam posisi yang mana. Bahagia, sengsara atau tidak menentu.

Di dalam hal ini, maka Islam mengajarkan agar selalu melakukan introspeksi diri. Hasibu anfusakum qabla ‘an tuhasabu. Kita harus berhitung tentang amalan-amalan baik yang kita lakukan dan amalan-amalan jelek yang kita lakukan. Semua ini dilakukan sebelum hari perhitungan atas diri kita dilakukan oleh Allah SWT, pada yaumul makhsyar.  Pada hari di mana semua amal akan dipertunjukkan dan dilakukan perhitungan.

Itulah sebabnya kita harus selalu berdoa kepada Allah SWT: “Allahumma inna nas aluka ’ilman nafi’a, wa rizqan wasi’a wa ‘amalan shalihan mutaqabbala”. Saya hanya akan sedikit membahas di dalam tulisan ini tentang ‘amalan shalihan mutaqabbala. Sebuah permohonan kepada Allah agar amal-amal kita yang baik diterima oleh Allah. Melalui penerimaan atas amalan-amalan kebaikan tersebut, maka kita dapat berharap bahwa kita akan bisa menjadi hambanya Allah yang beruntung.

Dan siapakah yang tidak bahagia jika amalan kita diterima oleh Allah SWT, dan kita dapat masuk ke dalam surganya dengan rahmat dan ridhonya Allah SWT.

Wallahu’alam bi al shawab.