• May 2026
    M T W T F S S
    « Apr    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

BEKERJA SEBAGAI IBADAH

BEKERJA SEBAGAI IBADAH

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) memperoleh tamu-tamu istimewa di dalam pengajian Selasanan, 28/11/2023, sebab pengajian ini diikuti oleh Jamaah Masjid Ar Raudhah Perumahan Sakura. Biasanya hanya jamaah Masjid Al Ihsan dan beberapa orang dari Perumahan Sakura. Tentu saja pengajian menjadi lebih semarak, sebab selain warga Perumahan Lotus Regency juga ada warga Perumahan Sakura yang mengikuti pengajian ini.

Seperti biasanya, saya didapuk untuk mengantarkan pembahasan pengajian, dan tema kali ini tentang “Bekerja Sebagai Ibadah”. Tema ini saya pilih sebagai kelanjutan pengajian di Masjid Raudhah Perumahan Sakura pada Sabtu sebelumnya, 25/11/2023. Saya sebutkan kalau tema ini untuk pendalaman tentang materi pengajian di Masjid Ar Raudhah dimaksud. Di dalam pembahasannya, saya bagi menjadi tiga bahasan, yaitu:

Pertama, bersyukur. Sudah sepantasnya kita bersyukur kepada Allah dengan sebenar-benarnya syukur. Syukur tidak hanya dengan pernyataan, tetapi juga dengan hati dan perbuatan. Bersyukurlah dengan ketiganya agar Allah memberikan ganjaran yang lebih banyak dan lebih baik. Jangan hanya banyak tetapi banyak dan baik. Banyak dan bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga dan masyarakat.

Kedua, bekerja yang baik. Bekerja adalah upaya atau usaha yang kita lakukan untuk memperoleh imbalan yang berupa uang atau barang untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan lainnya yang dianggap sebagai kebutuhan penting. Sedangkan ibadah adalah pengabdian kita di dalam kehidupan kepada Tuhan yang berimplikasi terhadap kehidupan individu, keluarga dan juga masyarakat. Jadi ibadah bukan hanya untuk Tuhan atau menyembah Tuhan untuk Tuhan tetapi persembahan tersebut berimplikasi terhadap diri individu yang melakukannya, keluarga dan juga masyarakat. Ada yang disebut ibadah untuk kesalehan individu dan ibadah untuk kesalehan social.

Ada sebuah hadits Nabi Muhammad SAW yang baik sekali untuk menjadi bahan perenungan bagi kita yang berbunyi: “man aradad dunya fa’alaihi bil ilmi, waman aradal akhirati fa alaihi  bil ‘ilmi, waman aradahuma fa’alaihi bil ‘ilmi”, yang artinya kurang lebih: “barang siapa menghendaki kehidupan dunia, maka bagainya dengan  berilmu, dan barang siapa menghendaki kehidupan akhirat maka baginya juga dengan ilmu dan barang siapa menghendaki keduanya, maka baginya juga dengan ilmu”.

Untuk kehidupan di dunia, khususnya bekerja, maka orang harus memiliki ilmu untuk bekerja. Orang menyatakan harus professional, artinya bekerja dengan ilmu dan keterampilan. Ada ilmunya dan ada keterampilannya. Tentu berbeda antara orang yang berilmu dengan tidak berilmu dalam bekerja. Orang yang berilmu dalam kapasitas pekerjaannya, maka akan muncul inovasi dan perubahan di dalam cara bekerja. Tentu akan lebih efektif dan efisien. Orang berilmu akan bekerja dengan otaknya, sedangkan orang tidak berilmu akan bekerja dengan kekuatan fisiknya. Yang lebih dihargai dalam dunia pekerjaan adalah pekerjaan yang dilakukan dengan kekuatan akalnya, selain fisiknya.

Untuk kehidupan akherat maka juga harus dengan ilmu. Yang dibutuhkan adalah ilmu keislaman, ilmu agama. Tetapi tidak cukup hanya memiliki ilmu tetapi juga diamalkannya. Ilmu amaliah. Bukan ilmu untuk ilmu tetapi ilmu untuk diamalkan. Islam mengajarkan bahwa orang yang berilmu pengetahuan itu tinggi derajadnya. Islam mengajarkan bahwa ilmu bukan bebas nilai atau value free, akan tetapi ilmu itu momot nilai atau value laden. Inilah inti dari Sabda Nabi Muhammad SAW: al ilmu bila ‘amalin ka sajaratin bila tsamarin”. Yang artinya: “ilmu yang tidak diamalkan itu laksana pohon yang tidak berbuah”.

Bekerja termasuk bagian dari mengamalkan ilmu pengetahuan. Orang yang bekerja sebagai Aparat Sipil Negara atau pegawai swasta, pengusaha dan bekerja di sector lainya hakikatnya adalah orang yang telah mengamalkan ilmu pengetahuan. Meskipun berbeda ilmu yang dipelajari di bangku pendidikan dengan praktek kerjanya, tetapi saya yakin bahwa tentu ada pengaruh pendidikannya tersebut dengan pekerjaannya. Jika pekerjaannya itu dilakukan dalam rangka untuk memperoleh kebaikan, maka pekerjaan yang dilakukan itu bisa dinyatakan sebagai ibadah.

Ketiga, makna bekerja. Bekerja akan bermakna ibadah jika memang diniatkan untuk ibadah. Tidak hanya bekerja dengan membaca basmalah, tetapi memang bekerja dengan tujuan untuk beribadah kepada Allah SWT. Diniatkan ibadah kita kepada Allah SWT. Bagi saya bekerja itu hanya instrument saja. Sarana untuk mendapatkan rejekinya Allah, dan dengan rejeki tersebut kita bisa menghidupi keluarga. Dengan bekerja, maka kita akan bisa menyekolahkan anak-anak kita, dan cucu-cucu kita. Dengan bekerja maka kita akan bisa menyenangkan keluarga. Kesejahteraan dan kebahagiaan itu salah satunya dipicu oleh ketercukupan ekonomi. Dan indikatornya adalah jika kita bisa bekerja dengan sempurna.

Oleh karena itu mari kita niatkan bekerja sebagai lahan untuk beribadah kepada Allah. Jadikan bekerja tidak hanya sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan keluarga tetapi untuk mencari ridhonya Allah. Ada final goalnya, bahwa ibadah merupakan cara untuk memperoleh keridlaan Allah SWT. Lalu ibadah juga memiliki final hope yaitu harapan untuk menjadi lahan menemukan harapan ridlanya Allah, dan yang terakhir jadikan bekerja sebagai lahan untuk menemukan persahabatan dalam ridla Allah SWT. Kita harus memiliki friendship. Insyaallah dengan berpikir dan bertindak seperti ini, maka pekerjaan  kita akan bernilai ibadah kepada Allah SWT.

Wallahu a’lam bi al shawab.

IMAMAH, APA JUGA INI?

IMAMAH, APA JUGA INI?

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Tidak bisa dipungkiri bahwa imamah merupakan bagian dari ajaran Islam, meskipun Nabi Muhammad SAW tidak memberikan contoh yang kongkrit tentang imamah tersebut. Pada masa kenabian, maka imamah itu melekat dengan posisi Nabi Muhammad SAW sebagai Rasulullah, sehingga tidak dapat dipisahkan antara aspek kenabian dan pemerintahan. Hal ini tentu sesuai dengan Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah SAW yang berkait kelindan dengan aspek ibadah dan keyakinan, sementara itu juga terdapat aspek muamalah yang merupakan relasi antar umat yang memerlukan aspek pemerintahan. Di dalam semua relasi tersebut dipandu oleh Nash atau teks suci Alqur’an dan juga apa yang dilakukan oleh Nabi atau sunnah-sunnah yang terdapat di dalam kehidupan Rasulullah.

Ada dua kata yang terkadang membuat kita bingung, yaitu imam dan imamah. Keduanya sama-sama bermakna kepemimpinan.  Baik  imam maupun imamah memiliki makna yang sama yaitu menunjuk kepada tindakan untuk menjadi pemimpin. Hanya saja, imam itu bermakna generic atau umum. Bisa digunakan untuk mengaitkan dengan kata apa yang yang memiliki konotasi kepemimpinan. Misalnya imam shalat jamaah, imam kegiatan kebersamaan apa saja, bisa peristiwa religious atau non religious. Di dalam tradisi NU, misalnya bisa imam tahlilan, imam yasinan, imam fida’an, dan lain-lain. Semuanya terkait dengan relasi antar manusia yang membutuhkan tokoh untuk menjadi pemimpin.

Sedangkan imamah itu istilah yang  khusus berkait kelindan dengan pemerintahan. Yaitu pemimpin yang menggerakkan roda pemerintahan di dalam suatu negara. System apapun yang dipilih, maka di situ ada system imamah. Pada zaman Nabi Muhammad SAW, maka Nabi Muhammad SAW adalah pemimpin agama dan negara sekaligus. Tidak dipisahkan sebab yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW berdasar atau dipandu oleh wahyu Allah SWT. System penyatuan antara peran kenabian atau prophetic mission dengan peran pemerintahan atau state mission itu dijadikan satu melalui peran atau misi para imam, yang di dunia Syiah dikenal sebagai imam dua belas. Meskipun secara historis kemudian peran itu lebih menonjol pada peran keagamaan atau religious mission sebab kaum Syiah tidak lagi menjadi penguasa pemerintahan, kecuali di Iran dengan berbagai modifikasinya.

Islam tidak memiliki system pemerintahan yang digunakan langsung oleh Nabi Muhammad SAW. Islam mengajarkan prinsipnya dan bukan bentuknya. Islam mengajarkan agar segala sesuatunya dimusyawarahkan. Di dalam Islam disebutkan: “wa syawirhum fil amri” (Ali Imron: 159) atau artinya: “dan bermusyawarahlah dengan mereka  dalam urusan itu” atau “wa amruhum syura bainahum” (Asy Syura: 38)  yang artinya: “sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka”. Prinsip dasar di dalam Islam dalam kehidupan adalah musyawarah termasuk dalam urusan pemerintahan. Pasca wafatnya Nabi Muhammad SAW, maka system musyawarah itulah yang digunakan. Para sahabat dalam jumlah yang disepakati dan orang yang ditunjuk kemudian memilih Sayyidina Abu Bakar Ash Shiddiq sebagai khalifah atau pemimpin. Berturut-turut kemudian Sayyidina Umar Bin Khattab, Sayyidina  Usman bin Affan dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Pemerintahan ini juga terdapat bercak darah, misalnya Sayyidina Umar bin Khattab, Sayyidina Usman bin Affan dibunuh, lalu Sayyidina Ali juga terbunuh. Pasca wafatnya Sayyidina Ali, maka kemudian terjadi kekacauan. Dan akhirnya naiklah Muawiyah sebagai khalifah yang dibantu oleh kroninya, dan akhirnya menghasislkan system imamah atau kekhalifahan yang bercorak mamlakah atau kerajaan atau monarkhi. System ini berakhir dan akhirnya naik Dinasti Abbasiyah yang menggantikannya sampai kekhalifahan Turki Ustmani dan Kekhalifahan Fathimiyah di Mesir, dan akhirnya jatuh kekuasaan Turki Usmani digantikan oleh system secular di bawah Kemal Pasha Attaturk.

Imamah itu terkait dengan system pemerintahan. Jadi tidak terkait secara langsung apakah harus berbasis atau berdasar Islam atau tidak. Dan semuanya tergantung dari penafsiran. Sama dengan ajaran Islam lainnya, maka semuanya adalah tafsir. Yang tidak tafsir hanyalah teks Alqur’an dan Sunnah Nabi yang qath’iyud dalalah atau yang kepastiannya sudah jelas. Sedangkan tentang imamah merupakan wilayah yang tergantung pada pendiri negara dan bangsa serta penafsiran ulamanya. Itulah sebabnya di negara-negara Timur Tengah yang mengklaim sebagai negara Islam ternyata juga bentuk negaranya bermacam-macam. Misalnya Mesir dengan bentuk negara republic atau jumhuriyah, Iran berbentuk Republik atau Islamic Republic of Iran, Irak dan Syria berbentuk republic, sementara itu Arab Saudi berbentuk kerajaan atau mamlakah, demikian juga UEA dan lain-lainnya. Jadi sangat tergantung pada bagaimana para pendiri bangsanya menentukan bentuk negaranya. Masing-masing system tersebut juga tidak menjamin ketenteraman dan kedamaian negaranya, misalnya Mesir yang berulang kali presidennya terbunuh, demikian juga Iraq dan lain-lain, terkecuali Raja Arab Saudi yang rakyatnya memang lebih memilih hidup sejahtera dengan system yang ada dibandingkan dengan system demokrasi yang tidak menjanjikan kesejahteraan.

Melihat hal ini, maka sebaiknya tidak harus ada  pemaksaan bahwa system imamah tersebut harus berbentuk khilafah, sebagaimana gagasan kaum Islamis seperti Hizbut Tahrir  (HT) atau Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Bahkan menurut saya keinginan untuk menciptakan khilafah trans-nasional merupakan pemikiran yang utopis atau tidak berpijak pada kenyataan empiris.  di dunia ini  sudah terjadi pembagian dan batas kewilayahan negara bangsa yang masing-masing memiliki otoritas atas negara dan pemerintahannya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

FUNGSI KESABARAN: HIDUPLAH DENGAN SABAR

FUNGSI KESABARAN: HIDUPLAH DENGAN SABAR

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Saya akan mengulas khutbah yang  disampaikan oleh  Dr. KH. Cholil Umam di Masjid Al Ihsan, Jum’at 17 November 2023. Saya harus mengapresiasi khutbah tersebut karena sarat dengan petuah untuk melakukan kebaikan, terutama dalam kaitannya dengan bagaimana kita berupaya untuk membangun kesabaran.

Sabar merupakan sikap dan tindakan yang menunjukkan kapasitas diri kita di dalam menghadapi kehidupan yang kompleks. Bisa dalam kaitannya dengan diri sendiri, keluarga, orang lain dan kamunitas atau masyarakat. Sesungguhnya Islam sangat mengharapkan agar umat Islam menjadi orang yang sabar. Yakni orang yang mampu memahami bahwa kehidupan memang tidak hanya yang nikmat saja tetapi juga ada kalanya yang tidak enak. Ada kalanya kita dapat  menikmati kehidupan dan ada kalanya kita tidak bisa menikmati kehidupan. oleh karena dengan resep kesabaran, maka yang enak tetap menjadi enak dan yang kurang enak harus disadari bahwa kehidupan selalu mengandung dua sisi, yaitu senang atau susah, sedih atau gembira, sabar atau marah, nikmat atau tidak nikmat.

Dua sisi kehidupan ini memang ditakdirkan oleh Allah untuk kehidupan manusia. Tidak ada satu manusiapun di dunia ini yang tidak mengalami dua sisi kehidupan tersebut. Baik itu orang kaya maupun miskin, baik orang berkecukupan atau berkekurangan. Sekaya apapun manusia itu, maka dia pasti akan mengalami dua hal tersebut. Pada suatu ketika dipastikan akan mengalaminya. Orang kaya akan mengalami masalah, orang miskin juga mengalami masalah dan orang sehat juga bisa mengalami sakit. Apapun sakitnya, misalnya hanya sekedar batuk atau flu. Jadi, hakikat kemanusiaan selalu berada di dalam dua sisi kehidupan yang pasti akan dialaminya.

Sebagaimana biasanya,  saya akan menuliskan khutbah tersebut di dalam dua  aspek mendasar, yaitu: Pertama, manusia sesungguhnya diberikan oleh Allah potensi untuk bersabar. Dengan kekuatan hati nuraninya, maka manusia bisa melakukan kesabaran. Manusia tidak hanya memiliki nafsu  amarah atau nafsu yang bersifat hewani atau nafsu yang hanya mementingkan diri sendiri atau ingin menguasai segalanya berbasis pada kekuatan akalnya, akan tetapi manusia juga diberikan kekuatan atau potensi untuk nafsu muthmainnah atau nafsu yang tenang, tidak tergesa-gesa, nafsu yang sadar mana yang baik dan mana yang benar, dan mana yang salah dan tidak bermanfaat. Berbekal pada nafsu amarah maka manusia bisa menjadi pemarah, berbekal pada nafsu mutmainnah maka manusia menjadi pengendali diri dari kemarahan. Manusia akan menjadi sabar atau mengekang nafsunya agar tidak jatuh kepada kemarahan tetapi tetap berada di dalam keramahan.

Kedua, sabar merupakan sifat yang sangat disukai oleh Allah SWT. Di dalam konteks ini, Alqur’an menjelaskan bahwa sabar itu adalah keindahan dan Allah sangat menyukai kesabaran. Suatu cerita tentang bagaimana kesabaran itu menjadi kata kunci kehidupan adalah tentang kesabaran Nabi Ayub AS. Nabi Ayub menderita sakit sehingga banyak dilecehkan dan dibulli oleh umatnya, dinyatakannya bahwa Allah tidak lagi mencintainya, Allah sudah menutup pintu keridhaannya dan bahkan Allah sudah menutup kenabiannya. Maka, Nabi Ayub selalu berada di dalam kesabaran dan terus berdoa memohon yang terbaik dari-Nya. Maka Allah kemudian memberikan kesembuhan dan Allah menyatakan: “fashabrun jamil”, yang artinya bersabarlah karena kesabaran itu keindahan” (Surat Yusuf, ayat 18). Ada beberapa fungsi kesabaran, yaitu:

1) sabar merupakan perhiasan dunia yang paling indah. Orang yang bersabar berarti sedang berada di dalam perhiasan dunia yang indah dimaksud. Dengan kesabaran maka hal-hal yang rumit akan bisa diselesaikan. Bayangkan jika orang marah, maka semuanya menjadi salah dan yang benar adalah dirinya sendiri. Muncul sikap egois dan tidak perduli akan orang lain. Itulah sebabnya Allah menganjurkan agar kita melebihkan kesabaran. Jika kita marah hendaknya berwudlu. Air wudlu yang mengenai badan kita akan menjadi menyejuk jiwa.

2) Kesabaran merupakan kunci surga. Memang kunci surga adalah kalimat tauhid. Namun kalimat tauhid itu nyaris tidak ada manfaatnya jika orang sering marah kepada orang lain, bahkan tanpa sebab atas kemarahannya tersebut. Allah menyatakan di dalam Surat An Nahl, ayat 96, yanga artinya: “Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”.

Bisa jadi bahwa kemarahan itu disebabkan oleh pekerjaan yang kurang tepat, namun alangkah indahnya jika tidak dikemas di dalam kemarahan. Kemaslah atau bungkuslah kemarahan dengan ungkapan yang menyejukkan. Pasti bisa. Janganlah pernah marah kepada orang lain di kerumunan. Jika memang harus dimarahi ungkapkan hanya berdua saja. Tetapi kala akan berakhir mintalah maaf. Maka perikaku kita akan dikenangnya. (baca Nur Syam dalam Friendly Leadership, 2018).

3) Allah membersamai orang yang sabar. Allah itu sangat menyukai orang yang sabar dan akan bersamanya di dalam mengarungi kehidupan. Allah secara khusus menyatakan: “innallah ma’ash shabirin” yang artinya: “Allah bersama orang-orang yang sabar” (Surat Al Baqarah,  ayat 153). Bukankah sebuah kebahagiaan jika kita dapat  dibersamai oleh Allah. Saya kira tidak ada kebahagiaan yang melebihi hidup bersama Allah SWT. Oleh karena itu, orang yang bersabar dipastikan akan memperoleh ridlonya Allah. Dan akibat dari ridlonya Allah adalah ganjaran surga yang akan didapatkannya.

Semoga kita dapat melakukannya dengan sepenuh kesadaran. Saya kira kita akan dapat melakukannya dengan belajar secara terus menerus dan mengingat akan besarnya pahala yang dijanjikan oleh Allah SWT.

Wallahu a’lam bi al shawab.

JADILAH SEBAIK UMAT DENGAN BELAJAR ALQUR’AN

JADILAH SEBAIK UMAT DENGAN BELAJAR ALQUR’AN

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Sayyidina Usman RA, sebagai khalifah ketiga dalam khulafaur rasyidun, menyatakan berdasarkan Sabda Nabi Muhammad SAW bahwa Rasulullah pernah menyatakan : “khairukum man ta’allamal qur’ana wa ‘allamahu”, yang artinya bahwa sebaik-baik di antara kamu sekalian adalah yang belajar Alqur’an dan mengajarkannya”. Hadits ini merupakan motivasi yang sangat hebat dari Nabi Muhammad SAW agar umat Islam belajar Alqur’an.

Melalui sabda Nabi Muhammad SAW sebagaimana  yang diungkapkan oleh Sayyidina Utsman tersebut, maka umat Islam sungguh-sungguh sangat banyak yang belajar Alqur’an. Ada di antaranya yang belajar membaca Alqur’an melalui tahsinan Alqur’an, dan ada yang belajar khusus hafalan ALqur’an dan ada juga yang belajar tafsir Alqur’an, tarjamah Alqur’an dan ada juga yang secara khusus belajar mengenai tilawatil Qur’an.

Seandainya tidak sedari awal, artinya pada zaman Nabi Muhammad SAW telah terdapat orang-orang yang secara khusus menghafal Alqur’an maka keaslian Alqur’an tentu tidak bisa dijamin. Melalui para hafidz dan hafidzah Alqur’an itulah maka keaslian Alqur’an sebagaimana awal tidak  mengalami masalah. Berkat banyaknya sahabat yang hafal Alqur’an, maka keaslian alqur’an menjadi terjaga.

Lalu juga muncul inovasi pada zaman Sayyidina Utsman. Inovasi itu muncul sebab banyak sahabat Nabi yang hafidz Alqur’an gugur di medan pertempuran, maka kemudian diupayakan agar Alqur’an dapat dituliskan sebagai upaya untuk menjaga otentisitas Alqur’an. Alqur’an perlu dikodifikasi, sebab selama kehidupan Rasulullah Muhammad SAW, wahyu Allah SWT tersebut dituliskan di pelepah kurma, di batang-batang pohon kurma yang sudah kering, sehingga tercecer di antara pada sahabat. Mengingat hal tersebut, maka Sayyidina Utsman memerintahkan agar Alqur’an ditulis ulang dan dikumpulkan sesuai dengan urutan dan sistematika turunnya atau kandungan  Alqur’an.

Berkat inovasi yang dilakukan oleh Khalifah Utsman ibn Affan ini, maka kita dapat  menikmati teks Kitab Alqur’an sebagaimana yang bisa dibaca setiap hari. Alqur’an yang bisa dibaca hari ini merupakan warisan tak ternilai harganya karena dapat memastikan keaslian Alqur’an yang terus terjaga. Rasionalitas penulisan Alqur’an pada masa Sayyidina Utsman terbukti sebagai upaya untuk menjaga otentisitas Alqur’an. Dan yang juga paling hebat bahwa Alqur’an itu hanya ada dalam satu Bahasa, yaitu Bahasa aslinya atau Bahasa Arab. Alqur’an yang dikenal sekarang disebut sebagai mushaf Utsmani.

Tidak ada satu ahli di dalam ilmu pengetahuan yang menyangsikan tentang otentisitas Alqur’an. Sebuah Kitab Suci yang terjaga semenjak diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW sampai hari akhir. Hal ini sebagaimana Firman Allah SWT: “inna nahnu nazzalnadz dzikra wa inna lahu lahafidzun”, yang artinya: “sesungguhnya kami (Allah) yang menurunkan Alqur’an dan kami (Allah) yang akan menjaganya”. Alqur’an terjaga berkat upaya kreatif sahabat Nabi Muhammad untuk menjaganya. Oleh karena itu, jika Alqur’an terjaga dari keasliannya, maka semuanya karena kepastian Tuhan yang akan menjaganya.

Akhir-akhir ini kita melihat betapa gairah untuk belajar Alqur’an sangat tinggi. Banyak lembaga tahfidz yang berkembang. Bahkan di televisi juga dijumpai acara yang sangat menarik, misalnya yang diinisiasi oleh Syekh Ali Jaber dengan program sejuta hafidz sungguh merupakan acara yang ekselen untuk mengembangkan pembelajaran Alqur’an. Di masjid, di lembaga pendidikan dan juga di masyarakat sedang semarak menggeliat program pembelajaran Alqur’an. Semua ini menjadi bukti bahwa masyarakat sedang on fire untuk mempelajari Alqur’an. Sungguh kita sedang melihat fenomena kecintaan masyarakat terhadap Kitab Suci Alqur’an dimaksud.

Tidak hanya yang berusia muda atau anak-anak yang belajar membaca Alqur’an akan tetapi juga orang tua. Ada di antaranya yang memang berupaya agar  dapat membaca Alqur’an dan ada juga yang berkeinginan memperbaiki bacaan Alqur’annya atau disebut sebagai tahsinan Alqur’an. Fenomena ini menggambarkan akan kesadaran baru di kalangan masyarakat Islam untuk semakin menjadi muslim yang kaffah di dalam membaca Alqur’an.

Upaya yang dilakukan oleh masyarakat sebenarnya diinspirasikan oleh Sabda Nabi Muhammad SAW bahwa jika umat Islam ingin menjadi yang terbaik adalah dengan mempelajari Alqur’an, apalagi jika mengajarkannya. Seandainya dibuat prosentasinya, maka yang paling utama atau 100 persen kebaikannya adalah yang belajar Alqur’an dan mengajarkannya, sedangkan jika hanya belajar Alqur’an saja maka kira-kira prosentasenya sebesar 50 persen. Masih beruntunglah jika kita mendapatkan angka sebesar 50 persen dari umat terbaik dari Nabi Muhammad SAW.

Pagi hari ini, Sabtu, 18 November 2023, saya harus menghadiri acara Wisuda Alqur’an yang dipagelarkan oleh Lembaga Pendidikan Islam Al Muslim Sidoarjo. Wisuda ini meliputi hafalan Alqur’an, kefasihan membaca Alquran dan tarjamah Alqur’an. Wisuda ini diikuti oleh anak-anak SD, SMP dan SMA Al Muslim. Ada dua cucu saya yang ikut di dalam wisuda ini, yaitu Yuvika Farnaz Adzkiyah (kelas 3C) yang telah menyelesaikan program membaca Alqur’an secara tartilan 30 juz dan Nisrina Arfa Al Abashi (3B) yang mengikuti wisda tahfidz.

Saya tentu bersyukur atas kenikmatan Allah SWT atas kehadiran cucu saya yang hari ini diwisuda di dalam Alqur’an. Tentu harapan yang paling mendalam adalah agar mereka konsisten dalam mempelajari Alqur’an sebagai kitab Suci yang mengandung keutamaan.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

FIDA’AN: APA INI YA?

FIDA’AN: APA INI YA?

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Seperti biasanya, jika saya pulang ke rumah Tuban, tepatnya di Dusun Semampir, Desa Sembungrejo, Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban dipastikan memberikan ceramah agama, khususnya kepada jamaah Mushalla Raudlatul Jannah pada shalat Maghrib atau shalat  Shubuh. Jika saya datang sebelum maghrib, maka saya mesti akan memberikan ceramah pada bada shalat Maghrib dan jika saya datangnya agak malam atau bada Maghrib, maka dapat memberikan ceramah agama bada shalat Shubuh, Senin,  13/11/2023.

Saya memberikan ceramah agama dengan tema Fida’an, sebab tradisi ini sudah menyejarah di kalangan umat Islam khususnya warga NU. Fidaan sudah menjadi tradisi yang menyejarah di dalam kehidupan masyarakat Indonesia sebagai bagian dari upaya untuk memberikan kebahagiaan bagi ahli kubur yang sudah meninggal. Bisa saja orang tua, keluarga bahkan sahabat atau umat Islam sebagai saudara sesama umat Islam.

Fida berasal dari Bahasa Arab yang artinya adalah tebusan. Fida dilakukan setelah kematian seseorang dan keluarganya untuk melakukan kegiatan tahlilan atau yasinan atau membaca surat-surat di dalam Alqur’an khususnya surat Al Ikhlas. Jika membaca surat Al Ikhlas bisa sebanyak 1000 kali, atau membaca tahlil sebanyak 1000 kali. Bisa dilakukan secara berjamaah atau dilakukan secara sendiri-sendiri. Jika secara Bahasa, fida’ berarti tebusan, maka secara istilah, fida berarti merupakan upaya yang dilakukan secara individu untuk membebaskan diri dari dosa atau kekhilafan yang pernah dilakukannya. Jadi sebagai bentuk penebusan atas kesalahan yang dilakukannya sendiri. Sementara itu juga bisa bermakna sebagai upaya untuk membebaskan atas keluarga atau sahabat dari siksaan alam kubur, misalnya orang tua, kerabat atau sesama sahabat yang sudah wafat. Itulah sebabnya di dalam tradisi NU terdapat acara tahlilan atau Yasinan atau bacaan surat lain di dalam Alqur’an yang ditujukan untuk orang yang sudah meninggal. Jika dilakukan dalam jumlah banyak jamaah, maka bacaan tahlil bisa dilakukan sebanyak 70.000 kali atau bacaan al Ikhlas sebanyak 100.000 kali. Inilah yang disebut sebagai fidaan kubro.

Tardisi fidaan memiliki dua sudat pandangan. Ada yang mengharamkannya misalnya kelompok Salafi Wahabi dan organisasi yang bersepakat dengan kaum Salafi Wahabi, yang didasaarkan oleh realitas bahwa Nabi Muhammad SAW tidak melakukannya. Sedangkan kelompok lain berpandangan bahwa membaca tahlil atau membaca Surat Al Ikhlas, baik dilakukan sendiri maupun berjamaah adalah kebolehan. Membaca kalimat thayyibah tentu bisa dilakukan kapan dan dimanapun. Yang problematic adalah membaca tahlil atau surat Al ikhlas bagi mayat atau orang yang sudah meninggal. Apalagi dilakukan dalam durasi waktu sebagaimana yang terjadi di Jawa ba’da meninggalnya orang lain, apalagi terikat kekerabatan.

Di dalam salah satu sabdanya, Nabi Muhammad SAW menyatakan: “Tiada seorang mayit di dalam kuburnya kecuali dalam keadaan seperti orang tenggelam yang banyak meminta tolong. Dia menanti doa dari ayah dan saudara atau seorang teman yang ditemaninya, apabila dia telah menemukan doa tersebut, maka doa itu menjadi yang lebih dicintai dari pada dunia dan seisinya, dan apabila orang yang hidup akan memberikan hadiah kepada orang yang sudah meninggal dunia adalah  dengan doa dan istighfar.” (Ihya’ Ulumiddin, Juz IV, hlm. 476 diunduh dari Kemenag Kabupaten Tangerang, 13/11/23).

Orang yang sudah meninggal memang sudah tidak memiliki apa-apa, kecuali tiga hal yaitu: shadaqah Jariyah, atau ilmu yang bermanfaat atau anak sholeh yang dapat mendoakan kepadanya. Oleh karena itu, maka fungsi anak terhadap orang tuanya sangat penting. Dialah yang akan dapat menyenangkan dan membahagiakan atas orang tuanya. Makanya harapan orang tua kepada anaknya adalah agar anaknya dapat mengirimkan doa kepadanya. Kiriman doa yang difasilitasi oleh Nabi Muhammad saw selaku washilah terbesar di dalam dunia. Nabi Muhammad SAW adalah washilah terbaik di dalam doa kepada Allah SWT. Itulah sebabnya kala orang NU berdoa maka selalu dilakukan washilahnya kepada  Nabi Muhammad SAW.

Berbahagialah bagi orang tua atau kerabat yang sudah wafat dan memiliki keluarga yang dapat berkirim doa kepadanya. Bisa berkirim bacaan surat Yasin, Surat Al Ikhlas, atau bacaan Lailaha illallah. Bagi mereka mendapatkan hadiah yang berupa bacaan Alqur’an atau kalimat thayyibah sungguh sangat menyenangkan. Maka tugas para orang tua adalah mengajari anaknya untuk menjadi anak shaleh yang kelak insyaallah akan membahagiakannya.

Oleh karena itu, sudah selayaknya jika bagi yang meyakini tentang bacaan fidaan sebagai salah satu instrument mengamalkan kalam mulia untuk keluarganya yang sudah meninggal dan bagi yang tidak melakukannya karena keyakinannya tidak jangan melakukan tindakan yang melecehkannya. Semua dilakukan atas nama tafsir agama yang dilakukan oleh para ulama, dan semua itu berada di dalam Kawasan tafsir agama.

Wallahu a’lam bi al shawab.