• November 2026
    M T W T F S S
    « Oct    
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    30  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

MANUSIA DICIPTA  DENGAN KESEMPURNAAN

MANUSIA DICIPTA  DENGAN KESEMPURNAAN

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Yang memberikan ceramah pada Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency pada Hari Selasa, 28/05/2024 adalah Ustadz Dr. Cholil Umam, seorang penceramah yang tidak diragukan kapasitasnya. Ustadz Cholil merupakan seorang dosen pada Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam (BKI) pada Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Sunan Ampel Surabaya. Ceramah kali ini merupakan penafsiran atas Surat Asy Syams, ayat 7-9. Pak Cholil mengawali pembicaraannya bahwa ayat yang dibaca oleh Imam Shalat Rawatib Masjid Al Ihsan, Alief Rifqi (Al Hafidz) ini tentang bagaimana Allah bersumpah dengan banyak hal, seperti alam dan juga manusia.

Ayat yang dijelaskan oleh Ustadz Cholil tersebut jika diterjemahkan adalah sebagai berikut: “Demi Jiwa dan penyempurnaan (penciptaan) nya. Maka dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketaqwaannya. Sungguh beruntung orang yang menyucikannya dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” Jika kita renungkan betapa mendalamnya makna ayat ini. Allah bersumpah dengan jiwa manusia yang diciptakannya. Wawu di dalam ayat ini menunjukkan sebagai wawu qasam atau wawu yang berarti sumpah. Sama dengan Allah bersumpah dengan matahari, Allah bersumpah dengan waktu, Allah bersumpah dengan bulan, Allah bersumpah dengan waktu fajar dan sebagainya.

Jika dibaca dengan hati nurani, maka Allah itu sungguh telah menciptakan manusia sebagai makhluknya yang paling sempurna. Manusia diberikan akal untuk berpikir dan hati untuk merasakan  kebesaran Tuhan atau merasakan kehadiran Tuhan di dalam kehidupan manusia. Tuhan hadir tentu tidak dengan fisik yang bisa dibayangkan. Laisa kamitslihi syaiun. Allah itu sungguh berbeda, dzat, sifat dan af’alnya.

Tuhan itu hadir di dalam dunia ini dengan ayat atau tanda yang disebut sebagai ayat kauniyah atau ayat-ayat yang dapat dipikirkan. Keberadaan fisik manusia yang sempurna, yang terdiri dari system saraf dan sel yang rumit dan fungsional antara satu dengan lainnya. Ada keteraturan di dalam tubuh manusia. Tumbuh-tumbuhan juga hidup dengan teratur,  alam dan tata suryanya yang juga sangat teratur. Masing-masing beredar sesuai dengan garis edarnya, tidak bertabrakan antara satu bintang dengan bintang lainnya. Masing-masing berjalan sesuai dengan ketentuan Allah.

Manusia  memiliki ratio atau akal untuk berpikir dan manusia memiliki hati untuk merasakan, maka Allah memberikan pilihan pada manusia untuk berbuat baik atau jelek. Allah sudah menurunkan Nabi dan rasul serta kitab suci yang dapat dijadikan pedoman, seharusnya manusia bisa memilih mana yang terbaik bagi dirinya. Di dalam Kitab Suci Al Qur’an terdapat kabar gembira atau tabsyir dan peringatan bagi yang lalai atau tandzir. Rasulullah sudah memberikan pedoman yang berupa sunnah-sunnahnya dan larangannya. Maka barang siapa yang mempedomani atas mana yang wajib, mana yang sunnah, mana yang makruh dan mana yang larangan, maka kala manusia tidak memilih yang terbaik berdasarkan atas ajaran agamanya, maka dia lalai atau ingkar dalam menjalankan ajaran agamanya.

Nabi Muhammad SAW pernah menyatakan: “aku telah meninggalkan dua hal yang kamu tidak akan sesat yaitu Kitab Suci Al Qur’an dan Sunnah Rasul”. Jadi Allah sudah memberikan pedoman untuk melakukan kebaikan dan keburukan. Oleh karena itu maka manusia harus memaksimalkan potensi di dalam dirinya untuk berbuat kebaikan. Akal dan hati harus selaras untuk mengambil yang ma’ruf dan meninggalkan yang mungkar.

Alqur’an itu merupakan kitab suci yang berisi ayat-ayat kauniyah dan ayat-ayat qauliyah. Ada banyak pernyataan di dalam teks Alqur’an yang selaras dengan temuan-temuan para ahli ilmu pengetahuan dewasa ini. Makanya Allah menyatakan “apakah kamu tidak berpikir, apakah kamu tidak ingat, dan sebagainya. Allah mengingatkan agar manusia berpikir atas kebenaran ayat-ayat Alqur’an melalui penyelidikan atau penelitian tentang ayat-ayat kauniyah di dalam Alqur’an. Allah juga mengingatkan agar kita membaca Alqur’an sebab dengan membaca Aqur’an, maka hal tersebut merupakan bagian dari dzikir kepada Allah SWT.

Allah tidak hanya menyuruh berpikir dan merasakan kebenaran ajaran Islam, akan tetapi Allah juga meminta kepada kita untuk menyucikan diri atau menyucikan jiwa. Ada dua cara untuk menyucikan jiwa yaitu dengan beriman kepada Allah dan melakukan amalan-amalan shaleh. Kita yakin bahwa Allah itu ada, Allah itu maha kasih sayang, Allah itu maha kuasa dan sempurna dan sebagainya. Kita yakini dengan sebenar-benarnya. Jangan ragu-ragu. Semua kembalikan kepada Allah yang memiliki segalanya. Kita ini tidak punya apa-apa. Kekayaan, harta, pangkat, jabatan  dan kekuasaan, semua milik Allah. Jika sudah diambil maka selesai semuanya.

Dan yang tidak kalah penting adalah amal shaleh. Ada contoh bagaimana Allah itu akan memudahkan kita dalam melakukan sesuatu karena kita menyenangkan atau memudahkan orang lain. Saya punya cerita kata Ustadz Cholil: “saya mengantarkan seseorang untuk memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan kapasitasnya. Saya datang ke kyai di Sidoarjo. Saya dengan kawan ini diterima kyai dengan baik, dan pada ujung pembicaraan saya sampaikan maksud saya. Kyai lalu mengontak seseorang yang memilki tugas and fungsi sesuai dengan yang saya mohon. Tidak dijawab mungkin karena sibuk. Kala saya sudah berdiri, tiba-tiba Hand Phone kyai berdering. Rupanya yang mengontak adalah orang yang tadi dikontak. Saya sudah berdiri untuk pamit sehingga dapat  mendengarkan pembicaraan antara kyai dan orang dimaksud. Jadi saya mendengar sendiri kesiapan untuk memutuskannya pekan depan. Pak Cholil melanjutkan: “kemudahan ini saya peroleh karena sebelumnya saya bersedekah kepada orang di jalanan”.

Wallahu a’lam bi al shawab.

PAGUYUBAN RONGGOLAWE UNTUK KEINDONESIAAN

PAGUYUBAN RONGGOLAWE UNTUK KEINDONESIAAN

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Paguyuban Keluarga Ronggolawe Tuban di Surabaya dan Sekitarnya (PKRTS) merupakan wadah perkumpulan Orang Tuban yang berada di luar kota Tuban. Mereka berada di Surabaya, Gresik, Lamongan, Bojonegoro, Pasuruan, Bangkalan dan sekitarnya. Jumlahnya cukup banyak dan kebanyakan memang orang yang lahir di Tuban dan kemudian mengayuh kehidupan di kota-kota lain. Usianya berkisar antara 30-80 tahun.

Meskipun begitu, mereka masih dikaruniai usia yang panjang dan sehat. Kebanyakan adalah mantan pejabat yang pernah mengalami dinamika dalam kehidupan birokrasi yang pernah dilakukannya. Di antara mereka juga ada yang pengusaha, dan telah malang melintang di dalam usahanya. Bahkan secara etnis juga bervariasi. Tetapi semuanya hidup dalam guyub rukun dan tepo seliro.

Hari Ahad, 02/06/2024, di Rumah Makan Viaduct by Gubeng Jalan Nias No.110 Surabaya,  Binaan Pemkot Surabaya dilakukan acara serah terima dan pengukuhan pengurus PKRTS masa bakti 2024-2028. Sebuah acara ceremonial yang dikemas  secara informal. Meskipun pengukuhan pengurus organisasi tetapi tidak dilakukan secara formal sebagaimana pengukuhan pengurus organisasi atau birokrasi. Namanya paguyuban maka yang penting adalah guyub. Dalam Bahasa ahli sosiologi disebut sebagai gemeinschaft atau masyarakat paguyuban yang sering diperlawankan dengan gesselschaft atau masyarakat patembayan. Nama paguyuban tersebut banyak digunakan untuk perkumpulan atau organisasi yang berbasis kedaerahan.

Sebagai pengukuhan resmi bercorak informal, maka saya yang diminta oleh Pak Endro Siswantoro untuk melakukan pengukuhan, saya nyatakan: Dengan mengucap Bismillahirrahmanir Rahim, Bapak, Ibu dan Saudara-Saudara saya lantik sebagai pengurus Paguyuban Ronggolawe Tuban di Surabaya dan Sekitarnya. Semoga Allah,  Tuhan yang Maha Kuasa memberikan keberkahan bagi kita semua untuk pengembangan paguyuban Ronggolawe. Yang penting apapun yang kita lakukan adalah untuk nyambang nyambung dan seduluran. Semuanya untuk keindonesian kita.

Di antara yang hadir di dalam pengukuhan pengurus adalah Prof. Soewarno, Pak Endro Siswantoro, Pak Subiyantoro, Pak M. Kendry, Pak Agung Subagyo, Pak Suharto, Pak Ahmad Nasich, Pak Arief, Pak Sigit Erstanto, Ibu Laksita Rini, Ibu Nanik Sukristana, Ibu Septa Rinawati, Pak Irawan dan Ibu Hj. Erna K. Acara yang  diselenggarakan jam 16.00 WIB sampai magrib ini tentu sangat menarik untuk diperbincangkan terutama dalam kaitannya dengan apa yang bisa dilakukan, bukan apa yang harus dilakukan. Kita ingat bahwa ini paguyuban sebagai organisasi kebersamaan.

Di dalam sambutan yang disampaikan oleh Pak Subiyantoro, Ketua PKRTS 2021-2024, menyatakan bahwa di Indonesia itu diperlukan orang yang pinter, bener, kober dan uber. Orang yang pintar sangat dibutuhkan tetapi orang yang pintar dan benar justru sangat penting. Tidak hanya pintar dan benar tetapi juga orang yang punya waktu untuk mengabdi dan mau bekerja. Dinyatakannya: “saya mewakili pengurus PKRTS 2018-2024, menyatakan dari kedalaman hati agar kami dimaafkan jika pada kepengurusan yang lalu belum sesuai dengan harapan. Yang penting program-program dasar paguyuban sudah dilakukan”.

Sementara itu Pak Suharto, ketua Paguyuban 2024-2028 juga menyampaikan ucapan terima kasihnya atas kepercayaan keluarga paguyuban Ronggolawe yang memercainya untuk menjadi pimpinan paguyuban. Dinyatakannya: “saya harus banyak belajar dari para senior untuk memimpin paguyuban ini. Saya merasa senang karena pimpinan paguyuban ini merupakan gabungan senior dan Yunior. Saya berharap bimbingan dari para senior untuk menyukseskan paguyuban keluarga Ronggolawe”.

Acara diakhiri dengan doa yang dibacakan oleh Ustadz Dr. Nasich Hidayatullah. Dosen UIN Sunan Ampel dan Imam Masjid Al Akbar Surabaya. Selain itu,  saya juga diberikan kesempatan untuk memberikan taushiyah. Maklum jabatannya adalah  Penasehat. Jadi memberi nasehat saja. Ada tiga hal yang saya sampaikan, yaitu: pertama, saya ucapkan selamat kepada semua pengurus baru, Pak Suharto dkk, yang sudah siap sedia menjadi pengurus PKRTS, semoga kepengurusan ini selalu berada di dalam bimbingan Tuhan yang Maha Kuasa, Allah SWT. Semoga sukses. Sementara itu juga saya ucapkan terima kasih kepada pengurus sebelumnya, Pak Soebiyantoro dan kawan-kawan  serta Pak Irawan dan kawan-kawan, yang juga sudah mengabdi kepada paguyuban kita bersama ini.

Kedua,  visi organisasi kita adalah nyambang nyambung seduluran. Ini merupakan visi yang sangat bagus sebagai pondasi untuk kita berorganisasi dimaksud. Nyambang artinya kita dapat  bertemu offline atau temu darat. Dan ini bisa dilakukan meskipun tidak  mudah. Janjian waktu dan tempat dulu,  baru selesai. Beberapa hari yang lalu kita dapat silaturrahmi melalui temu darat di Hotel Inna Simpang untuk halal bihalal. Ini bagian dari nyambang. Lalu nyambung atau silaturrahmi. Untuk offline memang sulit sebab kita memiliki kesibukan masing-masing. Tetapi dengan perkembangan teknologi informasi, maka kita bisa melakukannya dengan zoom. Maka, mari kita lakukan meeting dengan on line agar tali silaturahmi kita akan bisa terjaga.

Ketiga,  karena program bisa dilakukan tidak harus dengan temu muka, maka bisa lewat zoom. Kita  dapat mengembangkan model-model program melalui program zoom. Secara kelakar saya sampaikan bahwa Pak Irawan dapat membuat program bagaimana menyuntik sapi dengan benar, atau Prof. Soewarno bisa memberikan bimbingan tentang bagaimana beternak yang benar. Pak Agung bisa memberikan pelatihan pemberdayaan masyarakat dan sebagainya. Pak Nasich bisa melakukan tahsinan Alqur’an yang dilakukan secara daring. Kita bisa melakukan pertemuan tiga bulanan. Urunan.

Menjadi pengurus organisasi nirlaba seperti Paguyuban Keluarga Ronggolawe tentu tidak banyak orang yang berminat menjadi ketua dan anggota pengurusnya. Berbeda dengan organisasi yang berbasis profesi atau yang menguntungkan. Oleh karena itu yang mau menjadi pengurus ini berarti orang pilihan dan semoga apa yang dilakukan dicatat sebagai amal kebaikan untuk keluarga Ronggolawe dan juga untuk nusa dan bangsa.

Wallahu a’lam bi al shawab.

BELAJAR DARI AYAT KAUNIYAH: MENJAGA KESEIMBANGAN

BELAJAR DARI AYAT KAUNIYAH: MENJAGA KESEIMBANGAN

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Di dalam kehidupan ternyata diperlukan pembelajaran, baik pembelajaran melalui program pendidikan terstruktur, program pembelajaran tidak terstruktur, pembelajaran melalui ceramah agama atau bahkan juga ceramah-ceramah tentang kehidupan yang ada di sekeliling kita semua. Di antara yang tidak kalah menarik adalah pembelajaran berbasis pada ayat kauniyah atau ayat-ayat tentang ciptaan Tuhan yang tergelar di alam semesta.

Ada dua hal penting terkait dengan pembelajaran dimaksud, yaitu pembelajaran atas tanda-tanda atau lambang-lambang kehidupan yang tergelar di sekitar kita dan ada tanda-tanda pembelajaran ruhaniyah yang hanya dipahami melalui proses perenungan yang mendalam atas peristiwa yang terjadi. Dua-duanya saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Artinya bahwa kita harus memahami ayat kauniyahnya dan kemudian memahami dimensi ruhaniyahnya.

Saya ingin bercerita tentang pengalaman yang saya kira bisa menjadi ibrah atau pelajaran untuk kita semua berbasis pada pengalaman empiris yang saya sendiri mengalaminya. Pembelajaran tersebut berdasar atas kepergian saya bersama anggota Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) ke Solo untuk melihat Masjid Muhammad Bin Zayed di kota Solo. Masjid Monumental yang didirikan atas kerja sama antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Uni Emirat Arab. Masjid dengan luas bangunan satu hektar dengan ciri Khas Masjid Timur Tengah ini berdiri megah dengan warna putih yang sangat dominan tetapi memiliki karpet berciri khas Solo, Batik Kawung yang didatangkan khusus dari Italia.

Sepulang dari Solo saya terkena sakit maag. Secara fisikal penyebab terjadinya penyakit tersebut tentu bisa dikaitkan dengan gaya makan saya pada hari kala saya berkunjung ke Solo. Bukankah di dalam Alqur’an Surat Al Kahfi dijelaskan bahwa setiap segala sesuatu itu ada sebabnya. Jadi wajar jika kemudian kita mencoba menganalisis apa yang menjadi penyebab sakit maag dimaksud. Tentu ada kaitannya dengan makanan. Dengan logika sederhana saja bisa dipahami. Lalu saya analisis makanan apa saja yang masuk ke dalam tubuh saya atau perut saya.

Ada beberapa dugaan penyebab secara fisikal, yaitu makan ketan pagi hari dan siang hari. Minum kopi blend madu dan jahe, makan serba daging yakni sate, tengkleng dan tongseng. Serba daging kambing. Lalu yang mendasar makan saya terlambat dua jam. Baik pada siang hari maupun malam hari. Saya biasanya makan secara on time, antara jam 11.30 WIB sampai 12.00 WIB dan antara jam 17.30 WIB-18.00 WIB. Maka malam kira-kira jam 02.00 dini hari perut saya terasa tidak nyaman dan didiagnosis pada sore hari berikutnya memang terkena maag. Inilah yang saya sebut sebagai ayat kauniyah. Ayat atau tanda fisikal terkait dengan gaya makan. Gaya makan saya itu tentu kurang pas. Kopi campur madu bisa saja baik akan tetapi kala dipadu dengan jahe akan menimbulkan gesekan antar zat yang dapat menaikkan suhu panas, lalu dipadukan dengan ketan yang juga mengandung dimensi sama, lalu dipadukan dengan daging kambing yang juga mengandung unsur “panas”. Klop makanan tersebut akan dapat menimbulkan gesekan di dalam perut yang menyebabkan meningkatnya asam lambung. Inilah yang saya konsepsikan sebagai ketidakseimbangan di dalam pola makan.

Kemudian ada penyebab rohaniyah, yaitu takdir Tuhan. Semua anggota KNB telat makan dan yang lelaki juga makan yang hampir sama. Mereka minum kopi kecuali kopi blend madu dan jahe. Tetapi mereka tidak sakit. Mereka sehat, bahkan ada seorang anggota jamaah yang dikenal memiliki penyakit maag juga ternyata tidak terkena gangguan lambung. Lalu, apa yang terjadi? Inilah yang kemudian dikenal sebagai takdir atau kepastian Tuhan, bahwa saya memang harus merasakan sakit maag dimaksud. Takdir Tuhan menyatakan bahwa pada jam tersebut dan hari tersebut saya harus memakan makanan-makanan yang tidak seimbang dan berakibat atas naiknya asam lambung saya. Takdir adalah ketentuan Tuhan dan kita harus meyakininya sebagai bagian dari rukun iman yang kita Yakini.

Allah menyatakan di dalam Alqur’an yang menyatakan bahwa sesungguhnya di dalam kehidupan ada takdir. Segala sesuatu ada kepastiannya. Makanya, setiap yang terjadi pada manusia dipastikan ada takdir yang mengiringinya. Tidak ada sesuatu yang terjadi tanpa takdirnya. Dan seperti biasanya kita baru memahami takdir tersebut setelah ada kejadian. Itulah yang sering dikonsepsikan sebagai hikmah. Pada setiap kejadian itu ada hikmahnya. Apakah sakit itu hikmah? Maka jawabannya pasti ada hikmahnya. Setiap sesuatu yang terjadi adalah pelajaran bagi kita. Bagi diri dan orang lain.

Kita memang tidak memiliki kemampuan untuk menerawang masa depan. Kita tidak memiliki ilmu yang cukup untuk itu. Kita diberi Allah hanya sedikit saja pengetahuan. Tidak banyak. Termasuk kita tidak tahu apa yang terjadi esok hari dan apa yang akan terjadi untuk orang-orang di sekitar kita. Kita hanya tahu sesuatu yang sudah terjadi. Lalu kita bisa memikirkannya. Dan mencari jawabannya. Jawaban itulah yang disebut sebagai ayat-ayat kauniyah atau ayat kejadian. Lalu bergerak untuk memahami dimensi ketuhanannya.

Dengan demikian, kita mesti belajar tentang apa saja yang terjadi pada diri kita, pada lingkungan kita, pada masyarakat kita dan kemudian dari pembelajaran tersebut dapat menjadi panduan kita untuk tidak melakukan hal negatif yang serupa. Jika kita sudah diberikan pemahaman tentang ayat kejadian lalu kita masih melakukannya, maka hal tersebut menjadi  bagian dari takdir yang meski kita lakukan dan terima.

Wallahu a’lam bi al shawab.

LESSON LEARNED TENTANG KEHIDUPAN DAN KEMATIAN

LESSON LEARNED TENTANG KEHIDUPAN DAN KEMATIAN

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Selalu ada saja yang menarik di dalam acara tahsinan Alqur’an di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya. 23/05/2024. Acara tahsinan ini dipandu oleh Ustadz Alief Rifqi, Al Hafidz, Imam tetap masjid Al Ihsan. Seperti biasa bahwa acara ini selalu saja ada hal-hal menarik yang menjadi bahan pembicaraan. Ada humor, ada taushiyah dan ada juga penerjemahan ayat-ayat yang dibaca. Pada acara seperti ini, semua bisa menjadi narasumber.

Kali ini pembicaraan pengantar disampaikan oleh Pak Mulyanta, Ketua RW 8 yang menjadi pengikut setia di dalam Komunitas Ngaji Bahagia (KNB), yang digelar setiap hari Selasa ba’da shalat Shubuh dan juga acara tahsinan yang dilakukan setiap ba’da shubuh di Masjid ini. Meskipun pesertanya tidak membludak, tetapi anggotanya merupakan orang-orang yang sukses pada zamannya dalam berbagai profesi atau dalam profesi yang sedang dilakoninya.

Pak Mul, begitulah sesama kita menyebutnya,  bercerita tentang “kematian” dan hal-hal lain di sekelilingnya. Pak Mul bercerita tentang kematian seorang sahabatnya, dari daerah lain. Sahabatnya adalah orang yang sukses di dalam kehidupannya, anak-anaknya sukses di dalam perjalanan kehidupannya. Ada bahkan yang hidup di Amerika Serikat. Yang lain juga sukses hidup di Indonesia. Hanya sayangnya, anak-anaknya yang sukses tersebut berada di luar rumahnya atau kota tempat tinggalnya. Jauh dan tidak bisa setiap saat berada di dekatnya. Maklumlah mereka sudah memiliki pekerjaan dan harus bertanggungjawab atas kehidupan keluarganya. Di masa tuanya, sahabatnya ini harus hidup sendiri tanpa siapapun. Hidup seorang diri. Kala wafat,  sahabatnya ini berada d rumah saudaranya, sementara rumahnya sendiri kosong. Tentu doa kita untuk aktivis Islam ini adalah semoga amal kabaikannya diterima oleh Allah dan mendapatkan rahmat Allah SWT untuk menjadi barisan dari ahli surga. Bukankah setiap mengawali acara tahsinan selalu kita lantunkan doa: Allahumaghfir li wa li walidaiyya wa lil mu’minin wal mu’minat. Amin ya rabbal alamin”. Sebuah doa yang luar biasa yang tidak hanya untuk kepentingan diri tetapi juga untuk kepentingan umat Islam. Semua didoakan agar mendapatkan ampunan dari Allah SWT.

Salah seorang sosiolog, David Reisman, pernah menulis tentang “lonely in the crowd”  atau kesepian di tengah keramaian. Konsep ini memang relevan untuk menggambarkan tentang kehidupan kaum modernis yang sarat dengan dunia materialistic dan kelimpahan kakayaan. Di kala masyarakat berada di dalam posisi yang beranggapan bahwa ukuran kesuksesan adalah kesejahteraan lahiriyah, maka bisa dibayangkan bahwa persoalan batiniah  tidak terlalu penting. Sesungguhnya basis pemikiran seperti ini hadir bersamaan dengan semakin menguatnya modernisasi yang hinggap di dalam kehidupan masyarakat.

Memang harus diakui bahwa keberhasilan anak secara ekonomis tentu membanggakan orang tua. Banyak di antara kita yang beranggapan bahwa ukuran kesuksesan anak adalah di kala mereka berhasil secara ekonomi. Tidak jarang di antara kita menceritakan kesuksesan anak karena keberhasilan secara ekonomi. Kita bangga jika anak kita dapat  memiliki benda-benda penting seperti rumah, kendaraan roda empat, dan peralatan rumah tangga yang hebat serta asesori kehidupan yang mewah. Inilah ukuran keberhasilan.

Ternyata di dalam kehidupan ini keberhasilan anak bukan dari bagaimana kesejahteraan anak itu terdapat di dalam kehidupannya. Tetapi keberhasilan anak jika anak bisa melakukan “kebaikan” bagi keluarganya, khususnya pada kedua orang tuanya. Kebaikan itu saya berikan tanda petik, sebab kebaikan itu bermakna khusus, yaitu kebaikan yang basisnya adalah ajaran agama. Kebaikan dalam Islam itu bagi orang tua adalah ungkapan birrul walidain. Kata birr itu khusus kebaikan yang berdasar atas ajaran agama.  Berbeda dengan khair yang basisnya bisa selain ajaran agama. Misalnya tradisi yang tidak memiliki basis keagamaan.

Di dalam tradisi Jawa dikenal ungkapan “mangan ora mangan yen ngumpul” artinya makan tidak makan yang penting adalah berkumpul. Orang Barat salah memahami ungkapan ini yang dianggap sebagai cara berpikir kemiskinan. Padahal ungkapan ini menggambarkan tentang tradisi Jawa yang beranggapan bahwa “yang penting berkumpul”. Jadi bukan pada konteks makannya, tetapi pada konteks kumpul atau menyatu dalam kesatuan keluarga. Ada banyak tradisi Jawa yang bersenada dengan perkumpulan, misalnya slametan, brokohan, kendurenan atau banyak lainnya. Kata kuncinya adalah berkumpul.

Islam mengajarkan agar anak selalu berbakti kepada orang tua. Kapan dan di mana saja. Berbakti tersebut bisa memiliki makna memberikan ketercukupan kasih sayang, memberikan ketercukupan kehidupan fisikalnya, dan memenuhi ketercukupan kebutuhan batinnya. Orang tua tidak hanya membutuhkan ketercukupan kebutuhan fisik saja. Kebutuhan makan, minum dan menempati rumah yang layak, akan juga memerlukan kebutuhan akan ketenangan batinnya.

Islam mengajarkan agar menjadi anak yang saleh dengan indicator melakukan upaya untuk membahagiakan orang tua, baik kebahagiaan fisik dan batin. Kebahagiaan fisik dengan mencukupi kebutuhan fisiknya dan kebahagiaan batin jika anaknya menjadi anak yang saleh yang dapat mendoakannya. Anak yang saleh tidak akan terputus sampai manusia berada di dalam alam barzakh. Kala manusia wafat,  maka semuanya ditinggalkan kecuali tiga hal saja, yaitu shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak saleh yang bisa mendoakannya.

Harapan kita semua tentu adalah agar  tidak terputus untuk mendoakan orang tua kita baik yang masih hidup atau sudah wafat. Doa yang terus kita lantunkan adalah: “Ya Allah ampunilah aku dan ampunilah kedua orang tuaku dan rahmati keduanya sebagaimana mereka mengasuh aku kala masih kecil”.

Wallahu a’lam bi al shawab.

SEKSUALITAS DALAM RELASI LELAKI DAN PEREMPUAN

SEKSUALITAS DALAM RELASI LELAKI DAN PEREMPUAN

Prof. Dr. Nur Syam, Msi

Tema pengajian dalam Kamunitas Ngaji Bahagia (KNB) di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency kali ini, sungguh menarik. Tema yang dibicarakan tersebut ada kaitannya dengan tema sebelumnya, sebagaimana dipertanyakan oleh Pak Karsali, sebuah pertanyaan yang tidak mudah dijawab, yaitu: “Mengapa kalau di dalam komunitas yang isinya lelaki saja, kok yang dibicarakan itu mesti urusan seksualitas”.

Pertanyaan ini memantik Pak Sahid Sumitro, penceramah dan pelatih pengembangan SDM di Surabaya, untuk memberikan jawaban. Dan jawaban tersebut disampaikan pada waktu ngaji Selasanan pada pekan berikutnya. Pak Sahid mengungkapkan tentang data hasil penelitian yang tentunya sangat layak untuk dipaparkan. Maka, Pak Sahid berceramah dengan tema: “Seksualitas dalam Relasi Lelaki dan Perempuan”. 21/05/2024.

Pak Sahid mengungkapkan data untuk menjawab mengapa lelaki jika bertemu dalam komunitas lelaki maka yang dibicarakan adalah persoalan seksual. Ada tiga hal yang disampaikannya, yaitu: pertama, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Richard Lee, bahwa di dalam otak lelaki terdapat lebih besar pemikiran tentang seksualitas. Lelaki berkecenderungan berpikir seksualitas sebanyak 19 kali atau kalau menurut ahli psikhologi sebanyak 12 kali. Sedangkan perempuan hanya berpikir seksualitas separuhnya. Jadi, lelaki lebih besar keinginannya atau pemikirannya dalam seksualitas dibanding dengan perempuan. Jika lelaki lebih banyak membicarakan seksualitas dibanding perempuan karena memang begitulah isi dari otak lelaki.

Jika dilihat gambar tentang otak lelaki, maka yang dominan adalah sex and sex. Artinya bahwa pada diri lelaki terdapat kecenderungan untuk berpikir dan melakukan kegiatan seksual dibanding perempuan. Jika perempuan memerlukan mood yang bagus untuk melakukan kegiatan seksualitas, maka lelaki tidak demikian. Yang penting menyalurkan hasrat seksualnya kapan dan di mana saja. Tidak memerdulikan apakah ada mood atau tidak. Tubruk saja.

Perempuan itu lebih cenderung untuk berpikir selain seks, misalnya berpikir tentang kebutuhan untuk shoping, kebanyakan isi otaknya terkait dengan komitmen atas kehidupan, misalnya komitmen berumah tangga, komitmen pada kesetiaan dan sebagainya. Termasuk juga otak kecemburuan. Jika perempuan ternyata pencemburu karena memang isi otaknya seperti itu. Tidak ada perempuan yang tidak pencemburu terhadap banyak hal. Tidak hanya urusan rumah tengga tetapi juga pencemburu atas keberhasilan orang lain.

Jika lelaki bisa melakukan relasi seksual kapan saja dan di mana saja, sebaliknya perempuan akan sangat berhitung dengan tempat dan waktu. Perempuan akan lebih mengedepankan apa yang sedang dikerjakan dan bukan apa yang dilakukan oleh pasangan hidupnya. Perempuan lebih berkomitmen dengan apa yang dilakukannya saat itu dan bukan menuruti apa yang diinginkan oleh pasangan hidupnya. Hal ini karena seks itu bagian kecil saja di dalam otak perempuan. Perempuan lebih tahan menjanda dibandingkan dengan lelaki yang menduda.

Kedua, jika lelaki ingin memperoleh respon yang memadai dalam hal apapun termasuk seksualitas, maka lelaki harus memahami apa yang sesungguhnya dibutuhkan. Perempuan itu lebih peka dengan ungkapan kata atau pernyataan yang disampaikan ke telinganya. Jika lelaki dapat memanfaatkannya bukan tidak mungkin lelaki akan memperoleh respon yang memadai. Ungkapkan kata-kata yang menghibur, menyanjung, mengagumi dan memberikan rasa aman dan damai. Ungkapkan kata cinta yang berasal dari kekuatan batin yang mendalam.

Lakukan sentuhan yang berbasis pada kasih sayang dan cinta. Lelaki mesti harus tahu di manakah wilayah erotis yang dimiliki oleh perempuan. Jika seseorang  tepat melakukannya tentu sangat potensial untuk memperoleh respon positif dari pasangan hidup. Beri dukungan atas apa yang diinginkannya. Jangan serba melarang. Beri dukungan dan penjelasan yang memungkinkan peluang untuk mencapainya. Diskusikan dengan pikiran dan perasaan. Berikan hadiah pada waktu-waktu khusus, misalnya pada waktu ulang tahun, ulang tahun perkawinan atau hari-hari khusus dan berikan pelayanan yang yang menyenangkan dan membuat bahagia.

Ketiga, membahagiakan pasangan. Baik lelaki maupun perempuan harus berupaya untuk saling membahagiakan. Kita sedang hidup di dunia, jangan persulit dengan syarat-syarat yang memberatkan. Permudahlah agar semua merasakan kemudahan dalam menjalani kehidupan. Hidup pasti ada masalahnya. Tetapi setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Every problem there is a solution. Carilah solusi bersama untuk memecahkannya.

Kehidupan merupakan rangkaian masalah dan kebahagiaan itu akan tumbuh kala masalah kehidupan bisa dipecahkan atau ditemukan solusinya. Kita semua yakin bahwa dengan kekuatan pikiran dan kekuatan hati yang dipadukan dengan usaha dan doa, maka mencapai hidup bahagia bukan sesuatu yang tidak bisa dicapai.

Wallahu a’lam bi al shawab.