• May 2026
    M T W T F S S
    « Apr    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

THAGHUT DI ERA MODEREN

THAGHUT DI ERA MODEREN

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Pada Selasa, 02/01/2024, jamaah pengajian atau Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) memperoleh asupan pemahaman yang sangat penting, yaitu thaghut yang disampaikan oleh Ustadz Muhammad Zamzami, S.Fil.I, al hafidz, alumni Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya. Ketepatan bahwa Ustadz Zamzami meneliti tentang Thaghut dalam pandangan Ali Sunnah dan Syiah melalui kajian tentang thaghut dalam Tafsir Al Munir dan Tafsir Qumi.

Di dalam surat Al Baqarah ayat 256, dijelaskan sebagai berikut: “la ikraha fiddin, qod tabayyanar rusydu minal gahyyi. Faman yakfur bit thaghuti wa yu’min billahi faqadisy tamsyaka bil ‘urwatil wustqa lan fishama laha, wallahu sami’un ‘alim”. Yang artinya: “tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama Islam, sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari pada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang pada tali Allah yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”.

Ustadz Zamzami mengutip pandangan Muhammad bin Abdul Wahab tentang thaghut. Menurut Bahasa, thaghut adalah melanggar batas, berbuat kejam dan sewenang-wenang,  melebihi batas dan pengingkaran atas kebenaran Tuhan secara optimal. Dinyatakannya bahwa thaghut memiliki banyak arti, di antaranya adalah syaithan, penguasa yang dzalim dan orang atau kelompok yang menentukan sesuatu bukan bersumber dari hukum Islam, orang yang mengaku mengetahui hal-hal ghaib, dan orang yang beribadah selain mencari ridha Allah.

Jika dikaitkan dengan pemahaman tersebut, maka thaghut berarti mengikuti jalan syaitan, atau mengikuti jalan kemungkaran, jalan kesesatan dan mengingkari atau menolak ajaran Islam. Lalu yang menarik, bahwa thaghut bisa dikaitkan dengan kekuasaan atau pemerintahan. Thaghut dalam konteks pemerintahan, adalah jika sebuah pemerintahan melakukan atau merumuskan kebijakan yang tidak sesuai dengan ajaran agama. Pemerintahan yang mengajak masyarakatnya untuk mengingkari ajaran agama dan menolak atas kebenaran yang diajarkan oleh agama. Jika ada pemerintahan yang melakukan hal ini, maka pemerintahan tersebut dapat dianggap sebagai pemerintahan thaghut.

Yang tidak kalah menarik, bahwa thaghut tersebut juga dapat dikaitkan dengan system perundang-undangan. Jika perundang-undangan di dalam sebuah negara kemudian bercorak secular atau tidak didasarkan pada hukum Allah, maka negara tersebut juga dapat dilabel sebagai negara thaghut. Pemberlakuan hukum yang tidak didasarkan pada hukum Allah itu disebut dengan negara thaghut.

Dilihat dari pemahaman tersebut, maka orang yang mengaku bisa memprediksi hal-hal gaib di masa yang akan datang, maka itu termasuk thaghut. Dhukun atau ahli ramal tentang nasib orang di masa yang akan datang bisa dikategorikan sebagai thaghut. Meramal nasib perjodohan, meramal tentang nasib usaha di masa depan dan sebagainya adalah bagian dari perilaku thaghut. Dukun atau peramal melakukan pekerjaannya tanpa data karena konon katanya berasal dari kemampuan adikodratinya, sedangkan memprediksi atau forecasting atas usaha berdasar atas data yang dianalisis tentu masuk dalam kajian ilmu pengetahuan dan bukan ramalan. Contoh lain, di dalam keyakinan Jawa bahwa utuk menikah seseorang harus menghindari angka 25 dari hari kelahiran lelaki dan perempuan. Katanya bisa celaka. Yang semacam ini tidak perlu diyakini kebenarannya dan juga bisa dikategorikan sebagai thaghut.

Di dalam pengajian ini, saya turut memberikan sedikit pemahaman tentang thaghut sebagai konsepsi yang telah dinyatakan oleh Muhammad bin Abdul Wahab. Berdasarkan uraian tadi, maka sesungguhnya penjelasan Muhammad bin Abdul Wahab tentu berdasarkan atas apa yang dianggapnya penting pada saat itu. Di dalam mendirikan negara Saudi Arabia, maka ada dua orang yang penting, yaitu Ibnu Saud dan Abdul Wahab. Dua orang ini bersepakat bahwa yang memegang tampuk kekuasaan Arab Saudi adalah generasi keturunan  dari Ibnu Saud, sedangkan yang menjadi pemegang otoritas keagamaan adalah Abdul Wahab dan keturunannya.

Jadi kerajaan Saudi Arabia merupakan system pemerintahan monarchi yang berbasis pada system keturunan Ibnu Saud, dan untuk paham keagamaannya harus berdasar atas penafsiran Abdul Wahab. Itulah sebabnya beberapa ahli menyatakan bahwa paham keagamaan Arab Saudi adalah Wahabiyah atau Salafi Wahabi. Kata Salafi dikaitkan dengan upaya Abdul Wahab untuk mengikuti ulama salafus shalih dengan doktrin Kembali kepada Alqur’an dan hadits. Mereka sangat keras dalam memberantas takhayul, bidh’ah dan khurafat (TBC). Semua yang tidak didapatkan sunnahnya sesuai dengan amalan rasul dianggap sebagai mengada-ada dan merupakan kesesatan. Kelompok HTI, FPI dan aliran Islam yang fundamental lebih suka menyebut dirinya sebagai ahli sunnah, tetapi bukan ahli sunnah wal jamaah.

Sebagai konsekuensi dari pandangannya tersebut, maka gagasan Ibn Saud juga menjadikan hukum Islam sebagai dasar menentukan kebijakannya. Tentu saja adalah hukum Islam sebagaimana dirumuskan oleh ulama-ulama Wahabi yang selama ini telah mendampingi raja-raja di Saudi. Memang tidak sekeras kaum Khawarij atau kaum radikalis yang menyatakan la hukma illa lillah atau tidak ada hukum kecuali hukumnya Allah, akan tetapi hukum Islam yang dikembangkannya dinyatakan bersumber dari hukum pada zaman kenabian atau sekurang-kurangnya masa Khulafaur Rasyidin, meskipun plus minus. Artinya hukum tetap disesuaikan dengan kenyataan perkembangan dunia.

Jadi memberantas thaghut menjadi salah satu dari agenda pemerintahan Arab Saudi agar pemerintahannya tetap berjalan di atas rel penafsiran ulama Salafi Wahabi. Sampai hari ini, yang menjadi standart dalam penafsiran ajaran agama adalah tiga ulama Arab Saudi, yaitu Syekh Nashiruddin Albani, Syekh Utsaimin dan Syekh Abdullah bin Baz dan jika ke atas lagi adalah penafsiran Ibnu Taimiyah. Semua yang tidak bersandar pada penafsiran-penafsiran tersebut maka dianggapnya sebagai tidak sah dalam paham Islam.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

MENYIKAPI LUPA DALAM GERAKAN SHALAT

MENYIKAPI LUPA DALAM GERAKAN SHALAT

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Manusia itu tempatnya kekhilafan dan kesalahan. Al insanu mahalul khatha’ wan nisyan. Jadi kalau kita terkadang lupa juga sangat manusiawi. Bahkan jika kita melakukan kehilafan juga sangat manusiawi. Tetapi memang khilaf dan salah betulan dan bukan salah dan khilaf yang dibuat-buat. Islam itu sangat mudah dan tidak menyulitkan hamba pemeluknya. Islam is simple for human being.

Jika saya di Tuban, maka saatnya Pak Darsam, imam di Mushalla Raudhatul Jannah, istirahat menjadi imam. Kira-kira karena ada saya. maka sayalah yang menjadi imam shalat rawatib. Pak Darsam yang adzan dan iqamah. Pak Darsam menjadi imam di mushalla ini sudah       1 bertahun-tahun, bahkan semenjak mushalla ini didirikan. Dulu di saat masih ada Mbah Saeran, Paman saya dan Kebayan Desa Sembungrejo, atau Bapak H. Rois, ayah sambung saya, kaur Kesra Desa Sembungrejo, maka merekalah yang menjadi imam di mushalla. Tetapi ketika mereka berdua sudah wafat, maka Pak Darsam saja yang melanjutkan menjadi imam. Alhamdulillah mereka adalah orang-orang yang ikhlas di dalam menjalani kehidupannya.

Kala saya menjadi imam shalat shubuh, maka saya lupa untuk membaca doa qunut. Kala saya sudah mendekati gerakan sujud ada jamaah yang mengingatkan,  maka saya terus sujud karena khawatir kalau saya berdiri lagi maka shalat shubuh akan menjadi tiga rakaat. Maka di akhir shalat lalu saya lakukan sujud syahwi, sebagaimana yang dilakukan orang NU yang mengikuti paham keagamaannya Imam Syafi’i. Makanya, selesai shalat shubuh lalu saya jelaskan sedikit saja tentang bagaimana menyikapi terhadap kekhilafan shalat khususnya kala shalat shubuh.

Pertama, kita terkadang menjadi makmum yang imamnya bukan orang yang kita kenal. Kita shalat di masjid atau mushallah yang terkadang paham keagamaannya tidak sama dengan kita. Misalnya kita shalat shubuh di Masjid Muhammadiyah atau Masjid yang dikelola oleh kaum Salafi atau bahkan shalat shubuh di Masjidil Haram atau di Masjid Nabawi, maka di sana tidak ada bacaan qunut pada rakaat kedua yang mengantarai antara gerakan rukuk dan sujud. Lalu, bagaimana kita menyikapinya? Maka kita harus mengikuti tindakan shalat imam. Jangan kita melakukan suatu tindakan shalat yang berbeda dengan apa yang dilakukan imam. Misalnya, kita qunut sendiri atau lalu sujud syahwi sendiri. Yakini bahwa yang dilakukan imam di dalam shalatnya itu benar dan kita sebagai makmumnya akan mendapatkan kebaikan dan pahala di dalam shalat kita. Diharuskan bahwa semua tindakan imam shalat kita ikuti, sebab ada yang wajib dan harus dilakukan di dalam shalat dan ada yang sunnah di dalam gerakan atau bacaan shalat yang bisa saja ditinggalkan.

Ada seorang da’i Salafi yang menyatakan bahwa jika ada imam yang membaca qunut dan sementara itu kelompok salafi menjadi makmum, maka silahkan membaca doa apa saja jangan mengikuti bacaan qunut tersebut. Inilah dunia penafsiran tentang gerakan dan bacaan shalat yang memang bervariasi. Lalu bagaimana sikap bagi kaum salafi yang menjadi makmum di dalam shalat shubuh, maka kiranya yang terbaik adalah dengan mengikuti apa yang dilakukan imam meskipun tidak mengamini atau mengangkat tangan. Bukankah doa di dalam qunut itu sangat baik untuk didengarkan atau bahkan diamini. Bisa menyatakan amin di dalam hati.

Kedua, membaca doa qunut itu memang debatable atau bisa diperdebatkan dasarnya. Imam Syafi’i menyatakan wajib, sebab bacaan doa di dalam qunut itu memang hanya sekali dilakukan oleh Nabi Muhammad dalam shalat shubuh dan setelah itu beliau wafat. Maka menurut Imam Syafi’i membaca doa qunut di dalam shalat shubuh itu wajib mutlak, sehingga kalau lupa  harus diganti dengan sujud syahwi, sebagaimana jika kita lupa menjalankan gerakan dan bacaan wajib di dalam shalat. Tetapi madzab lain tidak mewajibkan dan juga tidak mensunahkan. Di antara umat Islam, maka orang  Muhammadiyah tidak melakukannya, karena tidak wajib menjalankannya bahkan juga bukan sunnah. Tetapi juga ada yang menyatakan bahwa pendapat yang mewajibkan bacaan qunut di dalam shalat shubuh itu memiliki dalil yang sah hanya dalilnya bukan dalil umum, tetapi dalil khusus, bahwa Nabi Muhammad SAW pernah melakukannya dan hanya sekali sepanjang hidupnya.

Ketiga,  islam itu tidak pernah menyulitkan hambanya. Ada pilihan-pilihan di dalam melakukan tindakan keagamaan, bahkan ritual  keagamaan. Termasuk shalat. Jadi kita tidak usah risau jika ada yang berbeda di dalam melakukan tindakan shalat. Yang jelas bahwa prinsip umumnya pasti sama. Jumlah rakatnya pasti sama, jumlah bacaan fatihahnya jelas juga sama meskipun ada yang membaca basmalah dengan keras atau dengan pelan,  bacaan takbirnya sama, jumlah rukuk dan sujudnya juga sama, kecuali ada sujud syahwi dan salamnya juga sama. Yang jelas bahwa prinsip umumnya sama, tetapi ada yang furu’iyah atau cabang-cabangnya yang berbeda.

Yang penting kita tidak boleh menganggap bahwa yang kita  lakukan saja yang benar. Sikap ananiyah itu berlebihan, seakan-akan kebenaran itu hanya miliknya, haknya, otoritasnya. Tidak ada kebenaran lain, padahal teks agama ketika sudah sampai kepada manusia, maka yang ada adalah penafsiran. Jadi tafsir itu bukan kebenaran mutlak tetapi relative. Kebenaran mutlak hanya ada pada Allah dan rasulnya tentang tafsir teks suci atau Alqur’an. Tetapi meskipun relative tetap harus tetap menjadi keyakinan bahwa yang kita lakukan adalah kebenaran. Yang kita lakukan adalah kebenaran yang bersumber dari teks suci hasil penafsiran ulama yang otoritatif atau yang memiliki keahlian sangat memadai.

Imam syafi’i, imam Hambali, Imam Hanafi dan Imam Maliki adalah mujtahid mutlak karena kelengkapan ilmu keislamannya. Itulah sebabnya kita mengikuti tafsirnya tentang Islam. Dan kita meyakini bahwa kebenaran hasil tafsirnya dapat dijadikan sebagai rujukan di dalam mengamalkan ajaran Islam.

Sungguh menjadi Islam itu mudah dan tidak sulit, membahagiakan dan tidak menyengsarakan, membawa kedamaian dan bukan membawa perpecahan.  Selamat melakukan ibadah sesuai dengan keyakinan kita masing-masing.

Wallahu a’lam bi al shawab.

JAGA SHALAT JAMAAH SUBUH: PAHALANYA BESAR

JAGA SHALAT JAMAAH SUBUH: PAHALANYA BESAR

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Saya harus kembali ke Surabaya, setelah dalam beberapa hari  berada di rumah Tuban. Tentu saya harus kembali sebab ada dua acara penting yang harus saya lakoni pada hari Selasa dan Rabo, 26-27/12/2023. Diundang oleh Rektor UINSI Samarinda dan acara pengukuhan delapan professor di UINSA. Selain juga hari kamis harus menguji skripsi dan tesis di UINSA, dan ada lagi satu ujian disertasi terbuka di UINSATU Tulungagung tetapi melalui zoom. Ternyata di akhir tahun jadwal tetap padat.

Senin malam, 25/12/2023 atau malam Selasa itu saya berkesempatan memberikan ceramah pada jamaah Mushalla Raudhatul Jannah di dusun Semampir, Sembungrejo Merakurak Tuban. Saya memang harus menyempatkan untuk memberikan nasehat keagamaan pada jamaah shalat yang mengikuti shalat maghrib berjamaah. Sungguh ada rasa bahagia bisa memberikan sekedar nasehat keagamaan pada jamaah shalat magrib yang rutin shalat di mushallah tersebut. Ada tiga hal yang saya sampaikan, yaitu:

Pertama, kita bersyukur kepada Allah karena diberikan kesempatan untuk shalat berjamaah. Suatu kenikmatan yang luar biasa. Untuk bisa melakukan shalat jamaah tidak harus rumahnya dekat dengan masjid atau jauh dari masjid. Banyak orang yang rumahnya sangat dekat dengan mushalla atau masjid akan tetapi tidak mampu untuk melakukan shalat berjamaah, akan tetapi ada orang yang rumahnya jauh dari masjid atau mushalla akan tetapi konsisten melakukan shalat berjamaah. Semua ini tentu karena rahmatnya Allah SWT. Mari kita bersyukur kepada-Nya agar kenikmatan yang diberikan kepada kita akan semakin banyak dan semakin banyak. Allahumma amin ya rabbal alamin.

Kedua, salah satu tanda orang beriman adalah menjalankan apa yang diperintahkan oleh Allah SWT melalui junjungan kita Nabi Agung Muhammad SAW. Yang sangat mendasar adalah melaksanakan shalat, baik yang dilakukan secara sendiri-sendiri atau shalat munfaridan atau shalat bersama-sama atau shalat jama’an. Namun demikian, Nabi Muhammad SAW menyatakan bahwa shalat berjamaah itu pahalanya 27 derajat, sedangkan untuk shalat sendirian itu hanya tiga derajat. Betapa jauhnya jarak pahala di dalam shalat antara shalat sendirian dan shalat berjamaah.   Di antara yang juga sangat besar pahalanya, adalah shalat shubuh berjamaah. Didahului dengan shalat tahiyatal masjid lalu shalat qabliyah shubuh, lalu shalat shubuh berjamaah, lalu dzikir atau membaca Alqur’an sampai waktu thulu’isy syamsi, lalu shalat sunnah syuruq, dan wirid lagi sampai masuk waktu shalat dhuha, lalu shalat dhuha,  maka pahalanya sebagaimana melakukan ibadah haji sempurna. Begitulah Nabi Muhammad SAW mengajarkannya. Sebagai manusia tentu ada terkadang waktu yang kita tidak bisa melakukannya karena udzur syar’i, misalnya perjalanan atau sedang kurang fit badan, tetapi sekurang-kurangnya ada waktu yang kita dapat melakukannya.

Saya tentu saja mengapresiasi atas keberlangsungan shalat berjamaah di mushalla ini, baik shalat jamaah magrib, isya’  maupun shubuh, yang semenjak mushalla ini didirikan sampai hari ini terus berlangsung, bahkan juga acara-acara yang terkait dengan keagamaan dan pendidikan untuk anak-anak, semuanya menandai bahwa warga sekitar mushalla ini sudah memiliki kesadaran untuk berbakti kepada Allah SWT melalui masjid. Hanya saja mungkin perlu ditularkan kepada generasi muda, anak-anak kita, keponakan kita, cucu kita, dan lain-lain agar bisa melakukannya. Yang sudah tua sudah oke, maka yang muda juga harus oke. Kita semua berkeyakinan bahwa ajaran untuk melakukan shalat berjamaah adalah bagian penting di dalam ajaran Islam.

Kita menyadari betul tentang the power of shalat shubuh berjamaah atau di dalam Bahasa Indonesia adalah kekuatan shalat shubuh berjamaah. Ketika saya melakukan penelitian di Jawa Tengah dulu (1990), saya menyaksikan kyai Syihabuddin, mursyid tarekat Syatariyah di Mayong Jepara Jawa Tengah,  selalu  berada di tempat imam mengerjakan shalat sampai matahari memasuki dhuha. Masyaallah ternyata hal ini dilakukan berdasarkan anjuran Nabi Muhammad SAW untuk mendapatkan pahala yang besar di dalam kehidupan.

Ketiga,  shalat berjamaah tersebut juga dapat dikaitkan dengan wirid atau dzikir berjamaah. Meskipun ada sebagian ulama yang tidak membolehkan wirid berjamaah ba’da shalat, namun demikian melalui dzikir berjamaah tersebut kita mendapatkan aura kebersamaan di dalam beribadah dan bisa merasakan kesyahduan wirid bersama. Saya masih berkeyakinan bahwa membaca Alqur’an secara berjamaah atau dzikir berjamaah dengan suara yang syahdu dan tertata akan dapat menembus arasy. Jika saya keluar sebentar untuk ke toilet lalu mendengarkan dari luar bacaan surat Alwaqi’ah secara berjamaah, maka rasanya suaranya itu menembus dinding masjid dan terus keluar menyebar melalui hembusan angin dan saya yakin akan terus ke angkasa lalu menembus arasy dan sampai ke hadirat Allah SWT.

Pada suatu ketika, penyair Zawawi Imron, sahabat saya, ditanya di dalam sebuah seminar, “kenapa orang melakukan wirid dengan suara keras”, maka Beliau menjawab: “agar dengan suara dzikir yang keras tersebut akan bisa didengar oleh tumbuh-tumbuhan, udara dan alam, sehingga alam menjadi bersahabat, udara akan menjadi bersih dan menyehatkan”. Sebuah jawaban yang luar biasa melampaui ekspektasi orang yang melakukan dzikir dengan suara keras.

Wallahu a’lam bi al shawab.

LESTARIKAN TRADISI MEMBACA SURAT YASIN

LESTARIKAN TRADISI MEMBACA SURAT YASIN

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Sungguh bukan sebuah kebetulan, bahwa pada saat saya pulang ke Dusun Semampir, Desa Sembungrejo, Kecamatan Merakurak ternyata ada kegiatan Jam’iyah Tahlil yang setiap Kamis malam atau malam Jum’at melakukan kegiatan yasinan dan tahlilan keliling mushala di dusun ini. Ketepatan untuk Jum’at, 21/12/2023, yang digunakan tahlilan dan yasinan adalah Mushalla Raudlatul Jannah, mushalla di depan rumah saya. Mushalla keluarga yang tanah dan mushallanya sudah diwakafkan kepada Yayasan Qarya Jadida, serta tanah dan bangunan Lembaga Pendidikan PAUD dan TK Al Hikmah.

Oleh karena itu, saya lalu didapuk untuk memberikan ceramah agama untuk memperkuat kesadaran beragama dalam Jam’iyah Tahlil di dusun ini. Saya tentu menyambut gembira atas inisiatif para anggota jam’iyah yang memberikan kesempatan kepada saya untuk memberikan ceramah agama. Tema yang saya ceramahkan adalah tentang “perlunya melestarikan bacaan Surat Yasin”. Ada tiga hal yang saya sampaikan di dalam ceramah ini, yaitu:

Pertama,  tentang syukur kepada Allah. Kita sungguh merasakan bahagia karena kita masih dikaruniai usia yang panjang dan sehat. Usia yang panjang tetapi sakit-sakitan tentu tidak mengenakkan. Makanya yang membahagiakan adalah usia panjang dan sehat. Kesehatan adalah segala-galanya. Syukur dapat dilakukan dengan ucapan atau syukur bi lisan, kemudian syukur bil  qalbi atau syukur dengan hati dan syukur bil fi’li atau syukur dengan perbuatan. Yaitu berbuat baik kepada sesama manusia dan melakukan ibadah kepada Allah SWT. Kita harus bersyukur kepada Allah atas semua nikmat yang diberikan kepada kita. Jika kita menghitung nikmatnya Allah pasti kita tidak akan mampu menghitungnya.

Kedua, ibu-ibu dipastikan sebagai umat Islam yang baik. Ibu-Ibu ini tidak hanya meyakini keberadaan Allah semata, akan tetapi telah melaksanakan ajaran Islam. Salah satu di antaranya adalah melaksanakan acara yasinan atau acara membaca yasin bersama-sama dan membaca tahlil atau membaca kalimat tauhid, la ilaha illallah. Artinya kita sudah termasuk orang yang melaksanakan janji kita kepada Allah kala di alam roh. Di alam roh kita sudah pernah berjanji kepada Allah untuk menyaksikan bahwa  Allah itu wujud yang maha pencipta jagad raya dan sebagai sesembahan manusia. Roh manusia itu sudah mengalami perjalanan dari zaman alam roh dan sekarang mengalami alam dunia. Yang akan datang akan masuk ke dalam alam kubur atau alam barzakh. Kita tidak tahu berapa lama roh kita akan berada di dalam alam barzakh. Dan setelah itu, akan memasuki alam akhirat atau alam pembalasan atas amal ibadah.

Sebagai umat Islam yang telah lama mengamalkan bacaan yasin dan tahlil, maka saya mengapresiasi atas keberlangsungan jam’iyah tahlil di dusun ini. Kalau tidak salah sudah semenjak tahun 1990-an. Ini menandakan bahwa kesadaran untuk melestarikan acara rutin malam jum’atan ini sudah sangat tinggi. Jarang sebuah organisasi dapat  berjalan dalam waktu tahunan  dengan acara keagamaan. Dan jam’iyah tahlilan di dusun ini telah membuktikannya. Hanya sayangnya, yang ikut jam’iyahan ini adalah orang-orang yang sudah berusia tua. Yang anak-anak muda agak jarang ikut. Makanya, ke depan perlu dipikirkan agar juga melibatkan anak-anak muda.

Ketiga, yang kita baca adalah Surat Yasin. Surat Yasin dikenal sebagai jantungnya Alqur’an. Sedangkan surat Al ikhlas itu hatinya atau intinya Alqur’an. Ada sebuah Riwayat yang menyatakan bahwa pada waktu Sayyidina Ali menikahi Sayyidah Fathimah binti Rasulullah adalah dengan membaca surat Al Ikhlas sebanyak tiga kali. Nabi pernah bercerita kepada Sayyidina Ali bahwa membaca surat Al Ikhlas sebanyak tiga kali, maka sama dengan mengkhatamkan Alqur’an. Selanjutnya Surat Yasin itu merupakan jantungnya Alqur’an. Hal ini sebagai gambaran bahwa betapa pentingnya Surat Yasin bagi kehidupan kita. Ibaratnya,  Alqur’an itu tubuh manusia, tanpa jantung maka tubuh itu akan mati. Dapat diibaratkan bahwa tanpa Surat Yasin, maka Alqur’an itu tidak hidup. Dengan demikian siapapun yang membaca Surat Yasin, berarti telah menghidupkan Alqur’an.

Ada banyak fadhilah membaca Surat Yasin, tetapi di dalam ceramah ini saya hanya akan menjelaskan dua saja fadhilah membaca atau keutamaan membaca Surat Yasin, yaitu dengan membaca Surat Yasin, maka  dapat menghapus dosa. Jika pada malam hari kita membaca Surat Yasin, maka Allah akan menghapus dosa yang kita lakukan. Allah memberikan pahala kepada orang yang membaca Surat Yasin dan juga memberikan ampunan kepada orang yang membaca Surat Yasin. Ibu-ibu sudah tahunan membaca Surat Yasin. Artinya pahala membaca Surat Yasin juga pasti diterima oleh ibu-ibu. Meskipun membacanya hanya sekali dalam sepekan, yaitu malam jum’at, maka Allah sudah pasti akan memberikan pahalanya dan memberikan ampunan atas kekhilafan ibu-ibu sekalian. Oleh karena itu jangan pernah lelah untuk membaca Surat Yasin setiap pekannya. Jika malam ini  ada yang terlambat diusahakan pekan depan jangan terlambat. Agar jangan sampai kita hanya dapat ekornya Surat Yasin. Atau separuh badannya Surat Yasin. Upayakan agar kita mendapatkan seluruh badannya Surat Yasin. Yang penting juga niatnya jangan hanya untuk arisan akan tetapi untuk membaca Surat Yasin agar mendapatkan pahala dan ampunan dari Allah SWT.

Kemudian, membaca Surat Yasin bagi orang yang sedang dalam situasi sakaratul maut juga sangat baik. Dengan membaca Surat Yasin, maka akan memudahkan roh orang yang akan meninggalkan jasadnya lebih mudah. Di dalam Bahasa Jawa dinyatakan padang dalane jembar kuburane. Oleh karena itu jika ada di antara keluarga kita yang sedang mengalami saat menjelang kematian, maka bacakan Surat Yasin agar mudah jalan keluarnya roh dari jasad untuk menuju kepada alam barzakh. Islam merupakan jalan kemudahan bagi yang hidup, bagi orang yang akan wafat dan juga orang yang berada di dalam barzakh.

Kita semua perlu untuk mentradisikan bacaan Surat Yasin, agar kita memperoleh keselamatan di dunia dan akhirat. Kita harus meyakini bahwa dengan membaca Surat Yasin, maka Allah akan mendatangkan pahala untuk kita semua.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

JAGA DZIKIR

JAGA DZIKIR

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Untuk akhir tahun 2023, saya memang secara sengaja  pulang ke rumah Tuban lebih awal. Tidak seperti biasanya yang menjelang tahun baru masihiyah, maka pada tahun ini saya pulang ke Tuban Hari Selasa, 19/12/23, setelah menyelesaikan acara menguji skripsi para mahasiswa Program Strata I Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) dan ujian Tesis untuk mahasiswa program magister Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI). Saya akan kembali menjelang tahun baru, ketepatan juga ada acara di UINSA  untuk mengikuti prosesi Pengukuhan Professor beberapa dosen UINSA dan juga undangan untuk memberikan pembekalan bagi para pimpinan dan dosen UINSI Palangkaraya.

Di saat pulang itulah maka saya sempatkan untuk memberikan ceramah pada jamaah Mushallah Raudlatul Jannah di Dusun Semampir, Desa Sembungrejo, Kecamatan Merakurak, Tuban. Mushalla ini  di depan rumah dan  sudah cukup lama dibangun sekitar tahun 1990. Bukan masjid yang besar, tetapi saya bersyukur mushalla ini terus digunakan untuk shalat rawatib baik untuk jamaah lelaki maupun perempuan. Pada hari Rabo, 20/12/2023 ba’da shubuh saya memberikan ceramah agama dengan tema “menjaga dzikir Kepada Allah SWT”. Tema yang menurut saya sangat penting agar para jamaah konsisten di dalam menjalankan wirid yang selama ini sudah terbiasa dilakukan. Ada tiga hal yang saya sampaikan kepada jamaah shalat shubuh, yaitu:

Pertama,  kita dicela sebagai pengamal Islam yang melakukan bidh’ah. Sebagaimana diketahui bahwa dewasa ini serangan atas umat Islam yang melakukan dzikir ba’da shalat semakin menguat, dinyatakannya bahwa Nabi Muhammad SAW tidak melakukannya, sehingga dihukumi sebagai bidh’ah. Bagi kelompok Salafi  bahwa yang tidak dilakukan Nabi Muhammad SAW dalam kaitannya dengan ritual, apakah itu dzikir atau amalan ibadah lain semuanya dianggapnya bid’ah dhalalah dan layak masuk neraka.

Masyarakat pedesaan sekarang memasuki area media social, terutama anak-anak muda. Oleh karena itu, agar diupayakan  jangan sampai kita terpengaruh oleh provokasi yang disampaikan oleh para Salafis untuk mengurangi dzikir kita kepada Allah SWT. Jangan sampai kita terpengaruh untuk tidak mengamalkan amalan yang afdhal karena dianggapnya tidak memiliki rujukan. Kampanye semacam ini terus dilakukan dengan dalih amar ma’ruf nahi mungkar.

Sebagai umat yang sedari dahulu diajari oleh para ulama kita untuk berdzikir ba’da shalat mestilah harus terus dipegangi, jangan sampai karena provokasi para ulama belakangan yang merasa benar sendiri lalu kita mengikutinya. Yakinlah bahwa yang diajarkan oleh para ulama itu bukan untuk melawan atau melanggar ajaran agama, khususnya tuntunan Kanjeng Nabi Muhammad SAW, akan tetapi sebagai upaya untuk secara bersama-sama berdzikir kepada Allah, semoga Allah menerima dzikir kita tersebut.

Kedua,  kita melakukan  ittiba’ kepada para ulama. Para ulama yang mengajarkan dzikir ba’da shalat itu bukan ulama kaleng-kaleng, yang hanya nyaring bunyinya, akan tetapi sesungguhnya secara substantif mengajarkan tentang pentingnya amalan ibadah yang dilakukan secara berjamaah. Bukankah para waliyullah dan para ulama terdahulu yang mengajarkan Islam itu adalah ulama yang memiliki kapasitas keilmuan yang sangat tinggi. Siapa yang meragukan Kanjen Eyang Syekh Ibrahim Asmaraqandi, Kanjeng Sunan Ampel, Kanjeng Sunan Bonang, Kanjeng Sunan Drajad, Kanjeng Sunan Kalijaga dan diteruskan oleh para ulama seperti Hadratusy Syaikh Kyai Haji Hasyim Asy’ari, KH. Wahid Hasyim, KH. As’ad Syamsul Arifin dan sebagainya yang mengajarkan Islam yang kita pahami dan kita amalkan dewasa ini. Janganlah pernah ragu untuk membaca wirid atau dzikir ba’da shalat rawatib.

Saya harus mengapresiasi kepada jamaah shalat di Mushalla Raudlatul Jannah di Dusun Semampir, Sembungrejo, Merakurak, Tuban. Jamaah ini terus menerus mengamalkan wirid ba’da shalat. Coba kita perhatikan semua mengamalkan istighafar atau permohonan ampunan kepada Allah SWT. Semua membaca ayat kursi, semua membaca hamdalah, subhanallah, Allahu Akbar dan kalimat tauhid, Lailaha illallah. Coba bacaan ini merupakan rangkaian bacaan yang diabsahkan oleh para ulama dan telah menjadi amalan umat Islam Indonesia dalam ratusan tahun semenjak masuknya Islam di Nusantara. Alangkah indahnya melakukan dzikir secara bersama, yang insyaallah akan sampai ke arasy dan sampai kehadirat Allah SWT. Lantunan wirid secara bersama itu akan menembus langit dan sampai kepada Allah SWT.

Ketiga, meyakini yang kita lakukan adalah amalan yang benar. Yakinlah bahwa bacaan yang kita lakukan tersebut akan dapat menyenangkan Allah dan juga menyenangkan Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Setiap  kita berdzikir didahului dengan bacaan shalawat kepada Nabi Muhammad dan hal itu sangat dianjurkan di dalam Islam. Jika Allah SWT senang dan Nabi Muhammad SAW juga senang, maka keridlaan Allah pasti didapatkan. Alangkah senangnya jika kita memperoleh ridlanya Allah SWT.

Agama itu terkait dengan keyakinan. Oleh karena itu, setiap amalan yang kita lakukan harus didasari oleh keyakinan. Jika kita beramal tidak dengan keyakinan yang sepenuhnya, maka amalan tersebut akan mubazir. Kita harus yakin bahwa yang kita lakukan itu benar sesuai dengan pemahaman para ulama yang mengajarkannya. Kita harus yakin bahwa ulama itu tidak sembarangan dalam mengajarkan ilmu keislaman, termasuk di dalamnya  membaca wirid ba’da shalat rawatib.

Marilah kita lestarikan untuk membaca wirid secara berjamaah ini dan ajarkan kepada anak cucu kita agar terus melakukannya. Kita didik anak-anak kita, keluarga kita agar terus mencintai amalan-amalan yang afdhal sebagaimana diajarkan oleh guru-guru kita, ulama-ulama kita agar kita semua nanti di alam akherat akan mendapatkan syafaat atas amalan yang kita lakukan. Ridla Allahlah yang kita cari.

Wallahu a’lam bi al shawab.