• May 2026
    M T W T F S S
    « Apr    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

TETAPLAH BERSABAR DAN PASRAH KEPADA ALLAH MESKI DALAM KESULITAN

TETAPLAH BERSABAR DAN PASRAH KEPADA ALLAH MESKI DALAM KESULITAN

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Selasa, 16/01/2023 di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency, seperti biasanya dilaksanakan pengajian rutin bada Shubuh dan yang menjadi penceramah adalah Dosen Prodi Bimbingan dan Konseling Islam pada Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK), Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya,  Dr. Cholil Umam, MPdI, yang sudah sangat lama menekuni dunia dakwah terutama di masjid-masjid di Surabaya.

Saya bersyukur bisa mendengarkan dan mengikuti ceramah yang sangat baik dari Pak Cholil. Banyak pengalaman yang diceritakannya, sehingga yang disampaikan bukan hanya pengetahuan teoretik tetapi apa yang sudah dialaminya, apa yang dilakukannya. Melalui contoh realistic  tersebut, maka para peserta pengajian menjadi merasakan bagaimana suka dan dukanya dalam berbuat syukur, sabar dan tawakkal. Dengan begitu, maka kita merasa terlibat di dalam ungkapan-ungkapan yang dicontohkannya.

Saya mencoba untuk menuliskan tentang taushiyah Ustadz Cholil dalam tiga hal, yaitu: pertama, pentingnya kesabaran. Pak Cholil bercerita pengalamannya bagaimana diuji oleh Allah untuk sabar. Beliau menyatakan: “saya itu dari sisi ekonomi sudah menjadi orang yang cukup. Rumah saya  lebih besar dibandingkan rumah Mantan Rektor dan Sekjen Kemenag. Saya merasakan bahwa rejeki yang diberikan oleh Allah kepada saya  sudah terasa berlebih. Anak-anak sekolah di lembaga pendidikan ternama di Surabaya, anak saya yang di SMA Al Hikmah bahkan bisa pergi keluar negeri karena dapat mengikuti kompetisi bergengsi. Jadi semuanya itu karena saya terus melazimkan membaca Surat Al Waqiah setiap hari, bahkan oleh guru saya diminta supaya membaca Surat Al Waqiah 41 kali dalam sekali duduk. Saya lakukan. Tetapi Allah ternyata  menguji saya dengan uang yang saya miliki sebanyak 1,7 Milyard diminta oleh Allah dalam sekejap. Saya terlibat di dalam proyek pembangunan tower PLN ternyata uang itu hangus. Kelabakan juga sebab itu bukan uang sedikit bagi PNS seperti saya. saya punya usaha mencetak buku pelajaran dan terkumpul uangnya sebanyak itu, akhirnya harus diminta oleh yang memiliki rejeki. Di sinilah saya introspeksi untuk bersabar dan tetap bersyukur. Allah mengajarkan kepada kita, agar tetap membaca hamdalah atas kenikmatan dan juga kesusahan yang kita alami.

Lebih lanjut dinyatakan: “saya itu kalau disuruh kyai tidak saya tanya, apa dan bagaimana. Pokoknya saya lakukan. Disuruh membaca Surat Al Waqiah saya lakukan, di suruh shadaqah saya lakukan. Saya setiap hari membawa minuman dan makanan. Tidak banyak 10 biji. Terkadang minuman dan roti, terkadang makanan. Pernah suatu kali saya lewat di jalan dan kemudian saya lihat ada pemulung, ternyata dia belok ke gang kecil, sehingga makanan tersebut tidak jadi saya berikan. Saya terus jalan dan sampai di Sumenep ketemu orang tua yang berjalan dan makanan itu akhirnya saya berikan. Saya berpikir, bahwa makanan itu rejekinya orang di Sumenep dan bukan rejekinya pemulung di Surabaya. Pernah juga saya membawa makanan dan jamnya sudah mepet menjelang jam 2 siang. Khawatir busuk, akhirnya ada dua orang tukang becak yang sedang tidur dan saya bangunkan untuk saya berikan makanan itu. Saya berpikir, bahwa orang yang sedang tidurpun jika Allah berkehendak memberikan rejeki pasti akan sampai ke tangannya rejeki tersebut. Subhanallah.

Kedua, kesabaran itu kuncinya sukses. Dijelaskan bahwa hanya dengan kesabaran semua masalah kehidupan akan bisa teratasi. Dinyatakannya: “saya  sama sekali tidak ahli dalam aplikasi-aplikasi. Baru saja di kampus disibukkan dengan pengisian aplikasi yang ukuran saya pasti tidak bisa. Saya melihat bagaimana sibuknya dan ruwetnya pengisian aplikasi elektronik Sistem Kinerja Pegawai (e-SKP), lalu tiba-tiba ada staf di Fakultas Dakwah dan Komunikasi yang menawarkan bantuan untuk mengisi e-SKP dimaksud. Saya sediakan bahan-bahannya dan pengisian dibantunya. Ini adalah rahmatnya Allah kepada saya. Dosen yang lain pada merasa ruwet mengisi e-SKP, dan saya dibantu dengan ikhlas oleh staf pada FDK. Inilah bentuk kasih sayang Allah kepada hambanya. Saya merasakan betapa Allah itu memberikan kasih sayangnya kepada hambanya yang bersabar di dalam menghadapi problem yang dihadapinya. Yang penting berdoa agar diberikan kemudahan di dalam menghadapi kehidupan. makanya surat yang sangat sering saya baca di dalam shalat adalah surat Al Insyirah, karena di situ Allah menjanjikan bahwa pada setiap kesulitan ada kemudahan.

Ketiga, kita harus pasrah kepada Allah. Serahkan semuanya kepada Allah. Kita tidak memiliki kekuatan apa-apa, selain pasrah kepada Allah. Contoh Nabi-Nabi Allah. Nabi Ibrahim yang dibakar oleh Namrudz, maka ditawari oleh Malaikat untuk menyelamatkannya, lalu Nabi Ibrahim bertanya bagaimana cara menyelamatkannya, dijawab oleh Malaikat dengan berdoa kepada Allah, maka Ibrahim menyatakan saya bisa berdoa. Maka doanya adalah: “hasbunallah wa ni’mal wakil”, dan melalui doa sebagai washilah itu, Allah mengabulkannya sehingga api yang sifatnya membakar menjadi dingin. Nabi Musa yang dikejar oleh fir’aun juga sama. Nabi Musa berdoa kepada Allah dan diminta oleh Allah untuk memukulkan tongkatnya tiga kali ke laut Merah, dan laut terbelah sehingga Nabi Musa dan kaumnya selamat. Nabi Yunus yang marah meninggalkan umatnya, lalu naik kapal dan ternyata Nabi Yunus justru dibuang di tengah laut karena terkena undian sebagai orang yang harus dibuang ke laut agar kapalnya tidak tenggelam. Di dalam perut ikan hiu yang gelap tersebut, Nabi Yunus berdoa: “la ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadh dhalimin. Selamatlah Nabi Yunus dan dimuntahkan ikan sehingga sampai di tepi laut. Dan yang unik, ketika Nabi Yunus itu tidak sadarkan diri, maka datanglah sapi dan memberikan susunya ke mulut Nabi Yunus. Begitulah Allah itu memberikan rahmatnya kepada orang yang pasrah. Tidak ada siapa-siapa kecuali Allah SWT.

Contoh-contoh ini dapat menjadi ibrah bagi kita semua untuk menjadi orang yang sabar, orang yang syukur dan orang yang pasrah kepada Allah. Maka bersabarlah, bersyukurlah dan tawakkal kepada Allah, semoga kita semua mendapatkan rahmatnya Allah SWT.

Wallahu a’lam bi al shawab.

TUGAS MANUSIA UNTUK  MENJAGA KEBAIKAN: THEO-ANTROPOSENTRISME

TUGAS MANUSIA UNTUK  MENJAGA KEBAIKAN: THEO-ANTROPOSENTRISME

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Ada banyak perspektif di dalam melihat kebaikan. Ada beberapa pemikiran filsafati yang mendasari tentang kebaikan. Saya hanya akan membahas tiga saja dari sekian banyak pemikiran filsafat yang mendasari cara orang melihat kebaikan. Tetapi sebelum membahas tentang kebaikan, maka apa sesungguhnya kebaikan itu? Bagi saya, kebaikan adalah pemikiran, sikap dan tindakan seseorang yang mengandung makna tidak merugikan manusia dan alam, serta berada di dalam konteks kemaslahatan.

Dari pengertian ini, maka ada beberapa hal yang perlu dipahami, yaitu: pemikiran yang terkait dengan kemaslahatan, sikap yang terkait dengan kemaslahatan, dan tindakan yang terkait dengan kemaslahatan. Sesuatu yang maslahat pasti tidak merugikan orang lain, tidak merusak alam dan variannya, dan pasti akan memberikan keuntungan bagi kehidupan manusia dan alam. Di dalam kemaslahatan tersebut dipastikan terdapat keseimbangan di dalam menjaga relasi antara alam dan manusia.

Pertama, secara filsafati,  ada kebenaran yang dipandu oleh humanisme. Pandangan humanisme terkait dengan pemahaman, sikap dan tindakan yang memanusiakan manusia. Pandangan yang menjunjung tinggi atas martabat dan harkat manusia. Humanisme menganggap bahwa manusia adalah pusat. Di dalam kajian antropologi disebut sebagai antroposentrisme, atau menempatkan manusia sebagai pusat segala-galanya.

Di dalam kehidupan ini ada orang yang menyatakan bahwa yang penting berbuat baik. Perbuatan baik tersebut tidak harus dikaitkan dengan norma agama atau norma moral yang berbasis agama. Ukuran baik dan buruk ditentukan oleh kegunaannya atau usefulness. Jika sesuatu ada manfaatnya berdasar atas ukuran pandangannya dan diterima oleh masyarakat sekitarnya, maka dianggap sebagai kebaikan. Tidak perduli apakah hal tersebut sesuai atau tidak sesuai dengan ajaran agama. Jika ada yang sama hanya dianggap sebagai kebetulan. Ada banyak orang atheis yang berpandangan dan menjadikan humanisme sebagai pilihan di dalam kehidupannya.

Kedua, secara filsafati, ada kebenaran yang dipandu oleh filsafat materialisme. Pandangan materialisme terkait dengan pemahaman, sikap dan tindakan yang mengagungkan atas kekuatan materi di dalam kehidupan manusia. Materi adalah segala-galanya. Bagi kalangan ini, maka yang baik itu selalu diukur dari aspek materi. Jika mengikuti cara berpikir kaum Marxian, maka yang menentukan perubahan social adalah ekonomi atau yang secara konseptual disebut sebagai economic determinant. Kebaikan itu ditentukan oleh bagaimana kesuksesan seseorang dalam kehidupan ekonomi. Semakin banyak materi, maka semakin baik kehidupannya. Dengan demikian untuk mengukur kebaikan itu akan ditentukan oleh seberapa kekayaan yang dimilikinya. Jadi yang dianggap berhasil adalah orang yang bisa masuk dalam daftar orang-orang kaya baik secara nasional atau internasional. Jumlahnya di dunia hanya satu persen saja.

Ketiga, secara filsafati juga dikenal kebenaran yang dipandu oleh agama. Ada ragam pandangan misalnya theosentrisme. Di dalam konteks ini, theosentrisme merupakan pemahaman, sikap dan tindakan yang menganggap Tuhan adalah segala-galanya. Pandangan serba Tuhan. Jika antroposentrisme beranggapan bahwa serba manusia, maka theosentrisme berpandangan serba Tuhan. Pandangan theosentrisme itu melihat manusia sebagai sesuatu yang pasif dan Tuhan yang aktif. Semua didesain Tuhan, dan manusia hanyalah pelaku saja. Atau dengan kata lain bisa dinyatakan sebagai serba takdir dan manusia tidak memiliki kekuasaan apapun di dalam kehidupan ini.

Di dalam Islamic theology, maka pandangan ini bisa dikaitkan dengan aliran jabariyah atau determisme. Manusia tidak memiliki kekuatan dan kekuasaan apapun, manusia hanyalah pelaku yang menjalankan desain Tuhan. Seseorang berperilaku baik atau buruk itu merupakan takdir yang sudah ditentukan oleh Tuhan. Yang lebih ekstrim, manusia masuk surga atau neraka itu sudah merupakan ketentuannya. Pandangan theosentrisme itu seakan-akan menafikan utusan Tuhan, Nabi dan Rasul, yang diberikan kekuasaan oleh Allah untuk mengajak kepada kebaikan.

Saya berpendapat bahwa diperlukan suatu konsep yang dapat mewadahi kebaikan yang berbasis pada takdir Tuhan dan upaya manusia untuk merealisasikannya. Konsep tersebut adalah theo-antroposentrisme. Kebaikan itu terletak di antara takdir Tuhan dan upaya manusia. Tuhan itu Maha Baik dan penuh dengan kebaikan. Tuhan itu Maha Kasih Sayang dan penuh dengan kasih sayang. Agar manusia berada di dalam kebaikan, maka Tuhan menurunkan Rasul dan banyak Nabi yang bertugas pada komunitas-komunitas di seluruh dunia dengan tugas membimbing manusia di dalam jalan kebaikan.

Di dalam theo-antroposentrisme, maka manusia dapat memilih di antara pilihan yang sudah didesain oleh Allah. Ada pilihan jalan yang baik dan benar serta ada pilihan jalan sesat dan salah. Semuanya sudah diberitakan oleh Rasul dan Nabi-Nabi yang bertugas untuk menjadi pengingat bagi manusia di dalam menjalani kehidupannya. Makanya dikenal ada orang yang baik dan ada orang yang jahat, yang ukurannya adalah bagaimana kehidupan yang bersangkutan didasari oleh etika yang diajarkan oleh Tuhan melalui washilah para rasul dan nabi sesuai dengan teks ajaran agama.

Kebaikan dengan demikian adalah hasil negosiasi antara etika religious dan perilaku manusia. Bisa saja ada kebenaran bagi kaum humanis meskipun tidak mendasarkan pandangannya pada teks suci, namun bagi kaum agamawan, maka kebenaran itu haruslah hasil negosiasi antara kebenaran Tuhan dan kebenaran hasil pemahaman manusia atas kebenaran Tuhan.

Jadi tetap ada negosiasi antara teks dan konteks. Ada negosiasi antara theosentrisme dan antroposentrisme. Dan tugas manusia adalah menjaga agar kebaikan tetap menjadi arus utama di dalam kehidupan.

Wallahu a’lam bi shawab.

 

OPTIMISLAH SURGA ITU MILIK KITA

OPTIMISLAH SURGA ITU MILIK KITA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Ada yang sangat menarik di dalam pengajian hari Selasa, 09/01/2023 yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Cholil Umam di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency. Pengajian bada shubuh ini diikuti oleh sejumlah jamaah shalat shubuh dari warga Perumahan Lotus Regency dan Perumahan Sakura. Pengajian yang materinya sangat menarik itu  disampaikan oleh da’i yang memiliki jam terbang yang tinggi. Ustadz Dr. Cholil Umam adalah penceramah yang sudah malang melintang dalam dunia dakwah khususnya di Kota Surabaya.

Meskipun kuliah bada shubuh tetapi tetap dikemas dalam senda gurau sebagaimana ciri khas dari Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) yang memang selain mendapatkan materi ceramah agama yang bervariasi juga terdapat humor yang menyegarkan. Sungguh kita semua merasa bahagia sewaktu dan setelah mengikuti ceramah agama. Siapapun penceramahnya, maka harus terdapat humor di dalamnya.

Pak Cholil menyampaikan tiga hal mendasar, yaitu: pertama, optimislah bahwa surga akan menjadi milik kita. Jangan kita pesimis bahwa kita tidak bisa masuk surga. Orang memang harus takut masuk neraka tetapi jangan ragu bahwa kita ke depan adalah warga surganya Allah SWT. Untuk masuk surga syaratnya tidak berat. Allah memberikan peluang bagi umat Islam untuk dapat dengan mudah masuk surga. Hanya ada tiga syarat saja untuk bisa menjadi penghuni surga.

Syarat itu adalah dengan menjalankan shalat jamaah, khususnya shalat shubuh. Berjamaah shalat shubuh ternyata menjadi pintu masuk ke dalam surganya Allah, karena shalat shubuh itu hanya dapat dilakukan oleh orang yang memang benar-benar mencari ridlanya Allah SWT. Secara umum, shalat jamaah di masjid itu memang berat sebab orang banyak berpikir yang penting menjalankan shalat rawatib. Padahal kalau tahu hikmah shalat jamaah, maka orang akan melakukan shalat jamaah tersebut, terutama shalat shubuh.

Allah akan menghitung setiap langkah kita ke masjid untuk shalat jamaah itu dengan balasan surga. Jika rumahnya di Lotus Regency, maka bisa dihitung berapa langkah ke masjid, tetapi bagi jamaah dari Sakura tentu memakai kendaraan bermotor, lalu bagaimana Malaikat menghitungnya? Maka yang seperti ini adalah urusan Allah untuk memberi pahala yang setimpal. Rasulullah itu manusia yang memiliki kadar kasih sayang melebihi makhluk lainnya. Ada seorang jamaah di masjid yang diimami oleh Rasulullah. Sahabat yang tidak terkenal,  Namanya Sa’ban Mughirah. Tetapi jamaahnya rutin dan selalu berada di pojok masjid bagian depan. Suatu ketika selama sepekan sahabat Nabi ini tidak shalat jamaah, maka selesai shalat Nabi bertanya kepada jamaah, siapa yang tahu keadaan Sa’ban? Para sahabat menyatakan tidak tahu. Lalu Nabi menanyakan lagi, di mana rumahnya, maka ada seorang sahabat yang menyatakan tahu rumah Sa’ban. Maka Nabi dan beberapa sahabat mendatangi rumahnya yang cukup jauh kira-kira perjalanan 30 menit. Kira-kira antara masjid ini dengan Wonokromo. Sesampainya di rumah itu, ternyata ada pertanda sedang ada yang baru meninggal. Ternyata yang meninggal adalah Sa’ban. Lalu Nabi bertanya bagaimana keadaan Sa’ban, maka ada seorang tetangganya yang menyatakan, beliau sering menyatakan: “kenapa kurang jauh Ya Allah” dan hal itu diulang berkali-kali. Maka Nabi kemudian mendapatkan petunjuk bahwa pahala yang diberikan oleh Allah sangat luar biasa karena perjalanan menuju masjid pada saat shalat rawatib. Dijelaskan oleh Nabi bahwa yang diungkapkan itu adalah “kalau tahu sebegitu besarnya pahala, kenapa tidak ditakdirkan rumahnya lebih jauh, sehingga pahalanya lebih besar.”

Berikutnya, Pak Cholil menjelaskan  kesukaannya  membaca surat di Alqur’an yang isinya merupakan motivasi untuk melakukan kebaikan dan bersikap optimis. Surat Adh Dhuha, khususnya ayat “walal akhiratu khoirul laka minal ula”. Yang artinya: “bahwa kehidupan di akherat itu lebih baik dari kehidupan di dunia”. Ayat ini memberikan optimisme yang sangat tinggi. Jika seandainya kita tidak mendapatkan kehidupan di dunia yang nikmat atau di dalam kehidupan kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan, maka Allah memberikan jaminan bahwa kehidupan di akherat itu lebih baik”. Maka optimislah. Berikutnya adalah Surat al Insyirah, khususnya ayat: “inna ma’al ‘usyri yusro” dan diulang dua kali. Hal ini juga membuat kita optimis. Bahwa setiap sesuatu itu ada jalan keluarnya. Setiap kesulitan ada jalan kemudahan. Dalam surat ini ada ayat  al usyri itu isim ma’rifat jelas dan satu masalah, Allah memberikan petunjuk dengan ‘usro yang isimnya nakirah atau banyak potensi jawabannya. Jadi Allah itu memberikan satu ujian kepada kita tetapi memberikan banyak jalan penyelesaian.

Kedua, bersabar. Untuk masuk surga caranya dengan kesabaran. Di dalam menghdapai kesulitan di dalam kehidupan itu jawabannya adalah dengan kesabaran. Jangan jadi orang yang suka marah-marah. Ada persoalan sedikit saja marah. Tetapi yang penting justru bersabar. Yakinlah dengan kesabaran akan terdapat  jalan keluar di dalam menghadapi kesulitan atau ujian atas kehidupan kita. Jika ingin melihat orang yang sabar itu contohnya petinju. Jangan hanya dilihat atas pertarungannya  tetapi lihatlah bagaimana pertarungan tersebut berlangsung dan bagaimana kesabaran memainkan peran. Di dalam kesabaran itu terdapat keberanian. Jangan selalu berada di dalam ketakutan terhadap siapa saja. Ketakutan itu hanya kepada Allah semata. Kalau tidak berani maka pasti akan kalah. Lalu kemandirian, sebab petinju itu kala di atas ring harus bertarung sendirian. Bisa diberi instruksi oleh pelatih tetapi yang bertanding adalah petinjunya. Kemudian juga harus mengatur strategi, kapan memukul kapan menghindar. Untuk itu dibutuhkan kesabaran. Seterusnya memiliki kekuatan untuk melawan. Petinju itu harus berlatih dengan keras agar memiliki kekuatan. Jika tidak sabar, maka dia akan dikalahkan oleh emosinya. Kesabaran menjadi kata kuncinya.

Ketiga, menjaga istiqamah. Ibadah yang paling baik itu adalah ibadah yang dilakukan secara terus menerus atau secara rutin. Upayakan kita dapat melakukan ibadah shalat rawatib, shalat jamaah,  shalat sunnah dengan cara instiqamah. Kita bisa istiqamah shalat malam, lalu dzikir, lalu shalat qabliyah shubuh, lalu shalat subuh berjamaah, lalu dzikir atau mengaji Alqur’an sampai terbit matahari dan hal ini dilakukan secara rutin, maka inilah jalan ke surga yang dikehendaki oleh Allah SWT.

Mari kita optimis dengan amal ibadah yang kita lakukan sehingga kita akan menjadi bagian dari orang yang mendapatkan kebaikan di hari akhir. Kita harus optimis bahwa kehidupan di akherat itu akan jauh lebih baik karena kita semua termasuk orang yang terus menerus mengabdi kepada Allah SWT.

Wallahu a’lam bi al shawab.

MENJAGA DIRI DARI THAGHUT

MENJAGA DIRI DARI THAGHUT

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Tulisan ini bukanlah menggunakan perspektif hukum Islam atau lebih khusus fiqih, akan tetapi lebih bercorak sosiologis. Bukan otoritas saya untuk membicarakan tentang thaghut dari perspektif fiqih. Yang menjadi sedikit otoritas saya adalah pendekatan sosiologis sebagaimana yang pernah saya pelajari.

Tentang thaghut dari perspektif ajaran sudah saya paparkan pada tulisan sebelumnya sebagai hasil dari rangkuman atas ceramah dalam Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) yang diisi oleh Ustadz Muhammad Zamzami, STh., dan kemudian saya berikan komentar pendek terkait dengan penjelasan-penjelasan yang telah disampaikannya. Tetapi yang jelas bahwa thaghut ada kaitannya dengan dunia keyakinan yang menjadi inti di dalam agama Islam.

Pada tulisan yang lalu, saya lebih banyak membahas thaghut dalam konteks kekuasaan atau pemerintahan, sedangkan Muhammad Zamzami lebih banyak membahas tentang thaghut dari perspektif fiqih. Pembahasan  dikaitkan dengan pemikiran Muhammad bin Abdul Wahab yang menjadi pusat genealogi kaum Salafi Wahabi dari masa lalu hingga sekarang. Jika ada orang yang membahas tentang pemerintahan thaghut atau pemikiran yang berbasis pada keyakinan keagamaan yang dinyatakannya tidak sesuai dengan Islam murni, maka hal itu pasti dikaitkan dengan Muhammad bin Abdul Wahab.

Thaghut dapat dikaitkan dengan beberapa konsep Islam yang terbiasa disampaikan atau didakwahkan oleh kaum Salafi Wahabi, yaitu takhayul, bidh’ah dan churafat (TBC). Muhammadiyah di masa lalu, kira-kira tahun 1950-1970-an, juga sering mendakwahkan tentang TBC dan kemudian diakhir-akhir ini, kala Muhammadiyah surut dan tidak lagi membicarakan TBC, maka representasi TBC dilakukan oleh kaum Salafi Wahabi. Dunia media social menjadi ajang bagi kaum Salafi Wahabi untuk mengekspresikan dan menyebarkan keyakinannya tentang ajaran Islam.

Di dalam tulisan ini akan sedikit diulas tentang takhayul atau kepercayaan atas sesuatu yang tidak layak dipercayai. Takhayul di dalam Bahasa Arab berarti  membayangkan, menghayalkan atau berimajinasi, sedangkan secara istilah merupakan kepercayaan atas hal-hal yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Takhayul sering dikontradiksikan dengan keimanan. Orang yang bertakhayul artinya meyakini bahwa ada sesuatu yang diyakini di luar keimanan kepada Tuhan. Meyakini kebenaran akan terjadinya suatu hal di masa depan. Misalnya meramal nasib orang, meramal akan terjadi malapetaka, meramal akan terjadi masalah dan sebagainya. Hal tersebut diyakini sebagai kebenaran.

Di dalam tradisi Jawa terdapat banyak kepercayaan, misalnya jika ada burung prenjak maka dipercayai ada tamu, kalau ada bunyi burung gagak akan ada kematian, jika kejatuhan cecak akan bermasalah, bahkan bunyi tokekpun bisa dijadikan sebagai perlambang tertentu. Jika ada orang bermimpi giginya tanggal, maka  disimpulkan akan ada keluarganya yang meninggal,. Jika gigi atas yang tanggal, maka keluarga yang usianya lebih tua dan jika yang tanggal gigi bawah, maka yang akan meninggal adalah keluarga yang lebih muda. Di dalam tradisi Jawa, dunia berisi symbol-simbol yang dapat dipahami dengan mata batin. Orang Jawa yang terbiasa untuk melakukan riyadhoh tentu dapat merasakan aura apa yang disimbolkan oleh alam. Daun jatuhpun merupakan  simbol.

Lalu, bagaimana dengan ramalan seperti ini? Adakah Islam mengakomodasi atau menolaknya? Maka sebagai jawabannya adalah tergantung dari keyakinannya. Islam mengajarkan bahwa keyakinan tentang semua kejadian adalah milik Allah. Tidak ada suatu kejadian yang tidak diketahui oleh Allah. Oleh karena itu jangan meyakini akan sesuatu yang belum terjadi. Untuk itu maka yang digunakan adalah potensi kejadian, dan bukan keyakinan akan kejadian. Jika yang dibicarakan itu potensinya, maka kita tidak meyakini sesuatu yang akan terjadi. Potensi itu peluangnya bisa terjadi dan tidak terjadi. Jika terjadi maka semata-mata kehendak Allah atau kepastian yang datang dari Allah. Dengan demikian,  janganlah lalu dihakimi syirik, haram atau bahkan makruh. Jika yang diyakini adalah potensi saja yang masih tergantung, maka kita tidak jatuh pada melakukan tindakan takhayul. Kita tidak berpikir tentang kejadian yang masuk atau tidak masuk akal.

Sama halnya pendapat yang menyatakan semua manusia memiliki potensi mendapatkan rejeki, akan tetapi untuk memperoleh rejeki maka syaratnya adalah orang harus berusaha. Jadi keyakinannya pada potensi adanya rejeki dan bukan keyakinan rejeki itu pasti  miliknya. Kita harus tetap berusaha, berdoa dan bertawakkal kepada Allah akan kehadiran rejeki pada seseorang tersebut.

Ada contoh lain, terkadang kita menyatakan bahwa seseorang sembuh karena dokter. Pernyataan ini seakan-akan meyakini bahwa dokterlah yang menyembuhkan penyakit. Maka jangan menyatakan bahwa dokter itu yang menyembuhkan, akan tetapi dokter itu menjadi perantara Allah untuk menyembuhkan. Manusia sakit berpotensi untuk sembuh atau juga tidak sembuh. Oleh karena itu, orang harus berusaha untuk menemukan washilah Allah untuk menyembuhkan penyakitnya. Pernyataan ini sama sekali bukan mengerdilkan otoritas Allah untuk menyembuhkan orang sakit. Allah itu kun fayakun semuanya terjadi. Hanya saja bahwa Allah akan memberikan wewenang bagi dokter untuk kesembuhan orang sakit.

Makanya, bagi saya, takhayul itu hanya ada jika orang meyakini bahwa ada kekuatan alam yang berupa symbol dan hal itu diyakini sebagai kebenaran. Oleh karena itu, jika hanya menyatakan sebagai potensi symbol tersebut terjadi, maka hal itu tidak bisa dinyatakan sebagai takhayul.

Wallahu a’lam bi al shawab.

MASUK SURGA ITU HAKNYA ALLAH SWT

MASUK SURGA ITU HAKNYA ALLAH SWT

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) makin konsisten. Bukan dari sisi jumlah yang mengaji tahsinan, tetapi dari pembahasan tentang ayat-ayat yang dipelajari bersama. Memang sebelum membaca ayat-ayat Alqur’an, maka dibacakan tarjamah ayat yang dibacakan oleh Ustadz Alif Rifqi, mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya. Pada hari Rabo, 04/01/2024, kita membahas tentang ayat di dalam Surat Al Qalam. Di antara ayat tersebut membahas tentang surga bagi orang yang beriman yang  akan memasuki surga Na’im, dan yang penting bahwa Allah akan membedakan antara orang yang beriman dengan orang yang tidak beriman.

Saya membahasnya dalam tiga hal, yaitu: Pertama, peluang masuk surga. Di  sini sebenarnya Allah memberikan peluang bagi orang yang beriman untuk menjadi penghuni surga dan memberikan peluang bagi orang yang tidak beriman atau kafir untuk memasuki neraka yang panasnya berlipat-lipat. Untuk masuk surga bisa dari umat Nabi-nabi terdahulu hingga Nabi Muhammad SAW. Umat Nabi Ibrahim yang mengamalkan agama Hanif, atau umat Yahudi yang mengamalkan ajaran Nabi Musa, orang Nasrani yang mengamalkan ajaran Nabi Isa dan umat yang mengamalkan Islam sesuai dengan pedoman yang diarahkan oleh Nabi Muhammad, semuanya berpeluang masuk surga, sebagaimana yang dijanjikan oleh Allah SWT.

Kedua, pandangan ahli ilmu kalam. Bagi ahli ilmu kalam atau ahli teologi, maka orang bisa beriman atau dalam kesesatan itu semata takdir Tuhan atau upaya manusia. Ada beberapa penjelasan, misalnya ada kaum Jabariyah, yang serba takdir bahwa semua karena takdir. Orang beriman atau tidak beriman, ada pemimpin yang adil atau  dholim dan semua yang dilakukan oleh manusia adalah bagian dari takdir Tuhan. Kaum ini berpikir serba takdir. Tetapi ujung akhirnya akan tetap kembali  kepada Allah SWT. Kelompok ini disebut sebagai aliran determinisme. Tokohnya adalah Ja’ad bin Dirham dan Jahm ibnu Shafwan.

Lalu ada ahli teologi yang berpaham bahwa semua karena factor manusia. Kelompok ini serba usaha. Semua kembali kepada usaha manusia. Disebut sebagai aliran Qadariyah. Jadi bukan Tuhan yang menentukan manusia masuk surga atau tidak, akan tetapi karena perilaku manusia itu sendiri. Manusia memiliki kehendak bebas dan perilaku bebas atau free will and free acts. Karena kebebasan tersebut, maka manusia bisa diganjar atau disiksa, memperoleh reward atau punishment tergantung dari amalnya. Manusia sudah diberikan pedoman ajaran agama sehingga bisa memilih jalan selamat atau jalan celaka. Aliran ini disebut sebagai aliran rasional. Di sinilah terdapat keadilan Tuhan. Tokohnya adalah Ma’bad Al Juhani dan Galian Al Dimasyqi.

Lalu ada ahli teologi yang mengambil jalan ketiga, memadukan antara takdir dan ikhtiar atau kepastian dan usaha. Penafsiran tentang takdir dalam konteks jalan ketiga atau kaum Ahli Sunnah dalam teologi adalah Tuhan yang menentukan dan manusia yang berusaha. Ada kepastian dan ada usaha. Keduanya saling berhimpitan. Di dalam usaha ada takdir dan di dalam takdir ada usaha. Man proposes God disposes. Ada takdir yang kepastiannya mutlak dan ada takdir yang kepastiannya mengambang. Dalam Bahasa Arab disebut ada takdir yang mubrom dan ada yang mu’allaq. Yang mubrom itu pasti tanpa ada kata tidak atau pasti terjadi, sedangkan yang muallaq itu tergantung kepada manusia mengusahakannya. Misalnya kematian, kelahiran, dan usia manusia  itu mutlak kepastian Tuhan. Diusahakan atau tidak pasti akan terjadi.  Tetapi ada yang muallaq, misalnya orang sakit dan kemudian melalui washilah dokter dan kemudian sembuh,  maka itu kepastian yang bersifat tergantung. Jika sakit dan tidak diobati, maka akan meninggal,  maka ketiadaan usaha itu menjadi washilah terjadinya takdir. Rejeki itu takdir Allah,  tetapi bisa tergantung usaha. Setiap manusia akan mendapatkan rejeki dari Allah, tetapi rejeki tersebut masih menggantung kepada usaha yang dilakukan oleh manusia. Semua manusia memiliki potensi untuk mendapat rejeki dengan besaran masing-masing, tetapi karena factor usaha maka rejeki tersebut menjadi takdir yang pasti. Menjadi actual.

Ketiga, surga merupakan  haknya Allah. Manusia juga memiliki potensi masuk surga, semuanya. Tetapi untuk masuk surga tergantung pada imannya kepada Allah dan kepasrahannya kepada Allah. Maka Iman dan Islam merupakan satu pasangan. Tidak cukup iman saja tetapi harus dibarengi dengan Islam. Percaya kepada Tuhan dan pasrah untuk menjadi hambanya Allah dengan menjalankan amalan-amalan kebaikan yang diwajibkannya. Pedoman sudah diberikan melalui perantaraan Nabi atau Rasul sehingga manusia bisa memilih mau kemana. Mau berislam atau mengingkari kebenaran. Tokoh ahli sunni adalah Al Maturidi dan Al Asy’ari.

Itulah sebabnya di dalam pandangan kaum Sunni dinyatakan dengan trilogy takdir dan usaha, yaitu “berusaha, berdoa dan pasrah” atau “ikhtiar, doa dan tawakkal” kepada Allah SWT. Jadi saya kira yang lebih tepat untuk menjadi pemahaman atas takdir adalah jalan ketiga ini.

Surga itu haknya Allah SWT dan manusia harus berusaha untuk menggapainya melalui ajaran agama yang diyakini kebenarannya. Kita semua berada di dalam pemahaman agama seperti ini.

Wallahu a’lam bi al shawab.