• May 2026
    M T W T F S S
    « Apr    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

QAULAN KARIMAN DALAM RELASI SOSIAL

QAULAN KARIMAN DALAM RELASI SOSIAL

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Zaman ini disebut era teknologi informasi pada tahapan Era Revolusi Industri 4.0. Zaman serba digital. Sebuah era yang ditandai dengan cyber war dalam arena  proxy war. Sebuah era di mana terjadi “perang” cyber yang menggunakan teknologi informasi dan salah satunya adalah media social. Ada banyak sarananya, misalnya Artificial intelligent, big data dan internet of thing.

Sesungguhnya manusia memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan berbagai perubahan, baik secara cepat atau lambat. Di masa lalu tidak terpikirkan bahwa perkembangan tata cara berkomunikasi berlangsung secepat ini. Tetapi melalui teknologi android semuanya berubah. Dari komunikasi tatap muka, orang perorang ke komunikasi virtual. Sebuah model baru dalam berkomunikasi yang tidak dibatasi oleh jarak. Bayangkan sekarang dengan mudah orang mengetahui apa yang dilakukan oleh kerabatnya. Ambil contoh, misalnya ada kerabatnya yang pergi umrah, maka pada the real time diketahui apa yang dilakukannya. Hanya berbeda jam saja. Tetapi mereka bisa berkomunikasi secara langsung tanpa jeda.

Sungguh kita sedang dimanjakan oleh media social dalam kehidupan. Melalui media social, maka apapun bisa dicari dan ditemukan.  Jika kita ingin mengetahui apa yang kita perlukan, maka dengan google search, maka akan dapat ditemukan jawabannya. Kita tidak perlu bertanya kepada orang lain, bahkan bertanya kepada kyai jika ada masalah-masalah agama. Semuanya serba instan untuk dicari di dalam media social.

Namun yang menjadi problem dewasa ini dalam kaitannya dengan media social adalah bagaimana seharusnya melakukan komunikasi. Media social sebagai media ekspresi ternyata sangat rentan dengan problem etika. Ada etika social yang terkadang dilupakan di kala melakukan relasi social. Terutama di saat politik sedang merebak. Milsanya pilkada, pilgub dan pilpres, termasuk pilpres tahun 2024.

Islam sesungguhnya sudah memberikan panduan tentang bagaimana seharusnya melakukan komunikasi yang baik atau relasi social yang membahagiakan. Di antara prinsip di dalam berkomunikasi baik lesan atau verbal atau dengan non verbal, maka harus menggunakan prinsipqaulan kariman.

Secara lughawi atau kebahasaan, qaulan berarti perkataan dan kariman adalah kemuliaan. Berasal dari Bahasa Arab qala artinya berkata atau fi’il atau kata kerja, dan karama yang artinya memuliakan. Karama adalah kata kerja atau fi’il. Karaman adalah kata benda atau isim yang berarti kemuliaan. Qaulan kariman berarti perkataan yang memuliakan, atau pernyataan yang  menyenangkan atau ungkapan yang membuat orang lain bahagia.

Di dalam kehidupan, suka atau tidak suka, senang atau tidak senang, kita mesti melakukan komunikasi dengan orang lain. Andaikan kita orang yang ekstrovert, tetapi dipastikan bahwa kita tetap akan berkomunikasi dengan orang lain. Meski komunikasi tersebut sangat terbatas. Beruntunglah jika menjadi orang yang introvert, maka kita dapat  melakukan komunikasi dalam banyak hal. Baik kita menjadi orang yang introvert atau ekstrovert, akan  tetapi tetap saja kita harus menggunakan etika dalam berkomunikasi.

Etika tersebut adalah pedoman berkomunikasi dengan memuliakan orang lain sebagai  lawan bicara. Ada tiga hal yang harus diperhatikan, yaitu: pertama, pembicaraan yang menghormati atas lawan bicara. Kita harus memuliakan sesama manusia. Jangan sampai pembicaraan  kita membuat orang lain merasa direndahkan. Manusia memiliki harkat dan martabat yang harus dipahami sebagai sesama manusia. Jika kita berusia lebih muda, maka sangat layak jika kita memuliakan orang yang lebih tua. Jangan sampai karena kelebihan ilmu atau apapun menghilangkan keinginan untuk memuliakan orang yang lebih tua usianya.

Kedua, menghormati lawan bicara. Salah satu kebutuhan manusia yang termasuk kebutuhan sekunder adalah keinginan untuk dihormati. Menghormati orang lain yang berbicara dengan kita hendaknya dilakukan dengan perkataan yang bisa membuat hatinya senang dan merasakan ditinggikan derajatnya. Kita akan dihormati orang jika kita menghormati orang. Kita juga akan dimuliakan orang jika kita memuliakan orang. Kita akan marasa senang jika kita menyenangkan orang lain. Prinsipnya, bahwa menghormati orang lain adalah “kewajiban” kita dalam relasi social.

Ketiga, gunakan kesantunan. Masyarakat Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang mengedepankan sopan dan santun. Masyarakat Indonesia dikenal oleh warga dunia sebagai masyarakat yang memiliki keramahan dan kesantunan di dalam pergaulan. Oleh karena itu sudah seharusnya jika sopan santun tersebut menjadi ukuran bagi kita semua. Tidak ada yang lebih baik dibandingkan dengan pergaulan yang berbasis kesantunan. Tidak ada yang lebih hebat dibandingkan dengan relasi social yang mengedepankan rasa persaudaraan yang berbasis pada penghormatan, kemuliaan dan kesetaraan.

Sebagai umat Islam tentu kita merasa senang bahwa Islam mengajarkan mengenai bagaimana seharusnya membangun relasi social berbasis pada prinsip qaulan kariman. Tidak hanya dalam berbicara tetapi juga di kala kita mengunggah postingan, berkirim pesan melalui  WhatsApp, twitter, Instagram dan sebagainya.

Jangan sampai kita terprovokasi untuk mengunggap pesan yang tidak berbasis pada qaulan kariman. Bayangakanlah bahwa jika kita tidak suka dengan unggahan yang membuat kita marah, maka juga jangan kita mengunggah pesan yang membuat orang marah. Jadikanlah hidup kita bahagia  karena membahagiakan orang lain.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

QAULAN MA’RUFAN DI TENGAH KEHIDUPAN SOSIAL

QAULAN MA’RUFAN DI TENGAH KEHIDUPAN SOSIAL

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Kita hidup di era media social. Kita nyaris tidak bisa dipisahkan dengan media social. Hampir setiap saat kita membuka tayangan video seperti  tik tok, youtube yang tersaji sedemikian variative yang menyita perhatian dan waktu. Sungguh kita sudah kerasukan media social sedemikian parahnya, sehingga setiap waktu luang dipastikan kita akan melihat dan mendengarkan tayangan berbagai macam hal lewat hand phone. Apa saja tersedia di dalam media social. Mulai pesan keagamaan, pesan politik, pesan ekonomi, pesan birokrasi, pesan hiburan atau entertainment baik yang sopan, yang bernilai atau yang tidak terkontrol dari sisi etika.

Di dalam kerumunan, misalnya terminal,  bandara, kafe dan bahkan di dalam birokrasi, maka akan dapat dilihat betapa riuhnya mereka bercengkerama dengan Hand phone masing-masing. Bahkan dua sorang suami-istri yang duduk berdampingan, masing-masing sibuk dengan gadgetnya. Suami tidak diperhatikan atau istri tidak diperhatikan. Dunia mereka berada di dalam genggamannya. Ada yang sibuk nonton tayangan di Tik Tok, dan ada yang sibuk membaca pesan-pesan di WhatsApp, atau mendengarkan music atau obrolan santai.

Saya hanya akan membahas tentang relasi social dan bagaimana panduan etikanya. Kita hidup di dalam relasi social. Kita tidak hidup sendirian di dalam dunia. Kita memerlukan orang lain untuk berkomunikasi, berdialog, bertemu muka atau saling berkirim informasi dan sebagainya. Hanya ada di dalam cerita manusia yang hidup sendirian, seperti cerita Robinson Crusoe atau Hay bin Yaqdhan. Manusia yang hidup dalam kesendirian dan ditemani oleh hewan-hewan lainnya. Tetapi itu hanya fiksi. Yang jelas bahwa kita memerlukan orang lain di dalam kehidupan. Kala Nabi Adam kesepian di Surga, maka Allah menurunkan manusia dalam jenis lain, Hawwa, untuk menemaninya. Surga menjadi semarak karena hadirnya perempuan yang dipersonifikasikan dengan Hawwa. Terlepas bagaimana cerita berikutnya, tetapi sesungguhnya manusia memerlukan manusia lainnya di dalam kehidupan.

Islam mengajarkan tentang tatakrama di dalam membangun relasi social. Pedoman etika tersebut adalah qaulan ma’rufa. Ajaran Islam merupakan seperangkat pedoman yeng berisi kebaikan untuk dilaksanakan dan keburukan yang harus ditinggalkan. Selain itu juga ada yang dianjurkan, ada yang sebaiknya ditinggalkan atau kebolehan untuk dilakukan. Inilah yang disebut sebagai af’alul khomsa. Yaitu diwajibkan, dilarang, disunnahkan, dimakruhkan dan dimubahkan.  Berkata  yang baik, memuliakan, dan menyenangkan hati lawan bicara atau sasaran pembicaraan merupakan amalan yang dianjurkan. Bahkan cenderung untuk diwajibkan. Atau disebut sebagai sunnah muakkad atau sunnah yang mendekati wajib atau keharusan. Sebagai ajaran yang momot dengan etika atau hubungan baik dengan sesama manusia, maka Islam tentu sangat menganjurkan agar seseorang berkata dalam konsep qaulan ma’rufan.

Ma’rufa berasal dari Bahasa Arab yang artinya adalah kebaikan yang berlaku di dalam suatu masyarakat. Kata ma’ruf merupakan kebaikan yang terdapat di dalam lingkungan suatu masyarakat atau komunitas, yang bersumber dari nilai social berpadu dengan nilai keagamaan. Perlu ditambahkan dengan nilai keagamaan, sebab ada juga suatu masyarakat yang menggunakan nilai social saja atau norma social yang ternyata tidak sesuai dengan norma agama. Nilai atau value adalah pandangan dan tindakan yang bercorak “relative” yang belum tentu menjadi acuan di dalam tindakan. Sedangkan norma atau norm adalah pandangan atau tindakan yang “mengikat” bagi suatu komunitas sebab telah menjadi kesepakatan, meskipun tidak tertulis. Norma tersebut  mengikat pandangan dan tindakan masyarakat karena dapat berimplikasi pada sangsi social. Misalnya seseorang yang berkata kasar maka orang akan menghindarinya, karena khawatir dikenai ucapan yang menyebabkan sakit hati. Upaya untuk menghindarinya merupakan sangsi social yang dikenakan oleh masyarakat dalam lingkungannya.

Islam mengajarkan tentang sopan santun di dalam berbicara atau mengungkapkan segala sesuatu baik vebal maupun non verbal. Di dalam Alqur’an dijelaskan di dalam Surat An Nisa’ ayat 5 dan 8, dan Al Baqarah 235 dan 263 dan Al Ahzab ayat 32. Secara istilah qaulan ma’rufa adalah perkataan atau pernyataan yang baik, mengandung kesopanan atau kesantunan, tidak menyakiti hati lawan bicara atau sasaran pernyataan dan juga berisi ungkapan mengingatkan dengan bahasa yang santun dan baik. Di dalam Surat Al Ahzab ayat 32 dijelaskan sebagai berikut: “wahai istri-istri Nabi kamu tidak seperti perempuan-perempuan lain jika kamu bertaqwa, maka janganlah tunduk (melemah-lembutkan suara) dalam berbicara sehingga bangkit nafsu orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah dengan perkataan yang baik”. Ayat ini memang khitabnya kepada istri Nabi, tetapi sesungguhnya memiliki makna generic bahwa manusia harus berkata atau membuat pernyataan yang berada di dalam koridor yang baik.

Manusia berada di dalam lingkungan social yang variative. Plural  dan multicultural. Dipastikan bahwa yang bersangkutan selalu berhubungan dengan individu lain. Manusia memiliki berbagai perangai, pandangan, sikap dan tindakan yang bermacam-macam. Oleh karena itu juga akan terjadi keragaman di dalamnya. Ada yang berbudi halus, ada yang kasar. Ada yang gaya berbicaranya meledak-ledak dan ada yang lembah lembut. Ada yang sangat sopan tetapi juga ada yang kasar. Inilah realitas kehidupan social.

Meskipun demikian, Islam tetap mengajarkan agar kita berlaku baik dalam relasi social dimaksud. Tidak boleh berkata atau menyatakan sesuatu dengan bahasa yang menyinggung perasaan, yang bisa membuat hati orang lain terluka. Islam sedemikian baiknya mengajari manusia agar selalu berada di dalam koridor menjaga relasi social atau hablum minan nas dengan tetap mengedepankan kebaikan perkataan, kebaikan sikap dan kebaikan tindakan.

Islam itu sedemikian agungnya mengajari manusia untuk membuat pernyataan yang santun, yang membuat orang merasakan kebahagiaan kala bertemu dan berbicara atau merasakan kedamaian. Islam mengajarkan fal yaqul khoiron,  atau berkata yang baik. Islam mengajarkan berkata yang qaulan ma’rufan atau berkata yang penuh dengan kesopanan.

Kita sedang berada di dalam era unggahan berbagai tayangan yang kebanyakan tidak sesuai dengan koridor ajaran Islam. Kita menyaksikan ada banyak hoaks, ada banyak ungkapan yang bahkan membunuh karakter apalagi menghadapi pilpres pada tahun 2024. Di media social bergentayangan berita dan informasi yang sungguh diperlukan kesabaran untuk menghadapinya. Ada suasana saling menyerang dengan pernyataan, yang intinya membela kelompoknya dan menghancurkan kelompok lain.

Sungguh di dalam keadaan seperti ini, marilah kita kembali kepada ajaran Islam, agar kita selalu berada di dalam moralitas qaulan ma’rufan agar kehidupan yang damai dan harmonis itu tidak tereduksi oleh berbagai unggahan di dalam media social. Kita harus menjaga masyarakat, negara dan bangsa  agar tetap berada di dalam kerukunan dan kedamaian.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

SHALAT, RAHMAT DAN SURGANYA ALLAH

SHALAT, RAHMAT DAN SURGANYA ALLAH

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Pak Cholil memang penceramah agama yang mumpuni. Pak Cholil memiliki spesialisasi membaca dan menjelaskan kitab yang ditulis oleh Ibnu Hajar Al Asqalani, Kitab Nashaihul Ibad yang menjelaskan tentang seluk beluk peribadahan kepada Allah SWT dan juga relasi dengan sesama manusia. Pak Cholil Umam memberikan ceramah agama di masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency, ba’da shubuh pada Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) pada Selasa, 30/01/2024.

Ada tiga hal yang disampaikan Pak Dr. Cholil, yaitu: Pertama, tentang surat-surat di dalam Al Qur’an itu ternyata memiliki maknanya sendiri-sendiri bagi umat Islam yang mempercayainya. Saya jika menjadi imam, misalnya dalam shalat maghrib, maka yang saya baca surat-surat pendek. Yaitu setelah membaca Surat Al Fatihah, maka saya membaca Surat Al Kafirun. Surat Al Kafirun tersebut memiliki pahala yang luar biasa. Dengan membaca Surat Al Kafirun, maka seakan-akan kita membaca seperempat Al quran. Lalu saya membaca Surat Al Ikhlas ba’da membaca Surat Al Fatihah pada rakaat kedua. Surat Al Ikhlas tersebut seakan-akan sepertiga Al Qur’an. Maka orang yang membaca Surat Al Ikhlas tiga kali seakan-akan membaca seluruh Al Qur’an. Saya membaca surat-surat yang pendek saja sebab jamaahnya juga pasti senang. Dan yang terpenting Nabi Muhammad SAW tidak membaca surat-surat yang panjang dalam shalat berjamaah.

Kedua, shalat merupakan amal ibadah yang diwajibkan di dalam Islam. Bahkan Nabi Muhammad SAW dipanggil langsung oleh Allah untuk menerima perintah shalat.   Di dalam peristiwa Isra’ dan Mi’raj maka Nabi Muhammad SAW diperintahkan untuk melakukan shalat sebagai kewajiban bagi umat Islam. Melalui shalat, maka kita bermuwajahah dengan Allah, seakan-akan kita berhadapan dengan Allah.

Shalat merupakan medium bagi umat Islam untuk mengingat Allah. Ashlatu lidzikri, yang artinya shalatlah untuk mengingat Allah. Umat Islam tidak hanya mengingat Allah begitu saja, akan tetapi diwajibkan mengingat Allah melalui syariat menjalankan perintah shalat. Dinyatakan bahwa “ash-shalatu ‘imaduddin, faman aqamaha faqad aqamad din, faman hadamaha faqad hadamad din”. Shalat adalah tiang agama. Siapa yang mendirikan maka dia mendirikan agama dan siapa yang meninggalkannya maka dia merusak agama”. Demikianlah penjelasan yang sangat penting di dalam menjalankan shalat.

Kita harus bersyukur sebab menjadi orang yang mendirikan agama. Orang yang mendirikan shalat untuk mengingat Allah. Mematuhi ajaran Allah dan menjaga sunnah Rasulullah. Apalagi kita bisa melakukannya dengan shalat berjamaah. Bukankah mengikuti shalat jamaah, apalagi shalat shubuh, adalah pekerjaan yang berat. Kita harus mengalahkan rasa kantuk, harus mengalahkan keinginan untuk tidur. Jam shalat shubuh itu jam enaknya tidur. Apalagi jika malamnya kita tidurnya agak larut. Makanya, dengan kita secara rutin dapat melakukan shalat jamaah shubuh, maka pahalanya besar sekali. Setiap langkah kedatangan kita ke masjid dicatat dengan pahala oleh Allah.

Ketiga, di dalam surat Al Fatihah, di dapatkan ayat yang berbunyi: “iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in”. Kepada-Mu ya Allah saya menyembah dan kepada-Mu kami memohon”. Jadi kalau kita meminta kepada Allah itu harus didahului dengan menyembahnya. Dan medium sesembahan yang terbaik adalah melalui shalat. Jika kita ingin ditolong Allah di dalam menyelesaikan masalah-masalah yang kita hadapi, maka shalat. Di dalam shalat itu kita pasrahkan semuanya kepada Allah. Jadi shalat bisa menjadi sarana agar kita dicintai Allah. Jika kita ingin juga dicintai oleh Rasulullah, maka kita membaca shalawat kepadanya. Sebanyak-banyaknya. Semakin banyak semakin baik. Allah dan Malaikatnya saja bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW, maka seharusnya kita juga melakukannya. Insyaallah kita akan dicintai oleh Allah dan rasulnya karena melakukan shalat dan membaca shalawat.

Di dalam ayat yang lain juga dijelaskan: “wasta’inu bish-shabri wash-shalat”, yang artinya memohonlah kepada Allah melalui pertolongan dengan kesabaran dan shalat. Jadi untuk memohon pertolongan kepada Allah itu harus dengan dua hal, yaitu sabar dan shalat. Dua hal ini harus dilakukan secara konsisten. Tidak cukup dengan sabar atau tidak cukup dengan shalat, tetapi kedua-duanya. Jangan sampai shalatnya bagus tetapi suka marah-marah kepada orang lain. Atau sabar menghadapi orang lain tetapi tidak melakukan shalat. Keduanya harus berjalan seimbang. Yang sangat sulit bagi kita adalah menjaga kesabaran. Susah sekali. Hal ini menyangkut diri dan lingkungan. Jika kita tidak bisa memenej lingkungan kita dengan baik, maka seringkali kita menjadi marah-marah. Maka semuanya harus dihadapi dengan kesabaran agar kita dapat  hidup nyaman.

Di dalam shalat itu yang sulit adalah menjaga kekhusyuan. Kita dituntut untuk shalat dengan menghadirkan sepenuh jiwa, raga dan roh kita untuk Allah. Tetapi terkadang sangat sulit. Contoh, kita shalat lalu orang di shaf depan kita memakai sarung dengan merek BHS, atau Wadimor, atau Gajah Duduk, maka kita terkadang terpengaruh. Waduh sarungnya BHS, berapa harganya. Makanya yang paling baik itu shalat yang berada di shaf paling depan. Agar kita tidak terpengaruh pada jamaah lainnya.

Tetapi satu hal yang sangat penting, kita  harus memohon kepada Allah untuk memperoleh rahmatnya. Dengan rahmat Allah itu kita dapat berpeluang masuk surga. Andaikan shalat kita masih ada yang kurang tepat, maka dengan rahmat Allah itu akan menutup tentang kekurangan di dalam shalat kita.

Semoga kita dapat memasuki ridha dan rahmat Allah atas amal perbuatan yang kita lakukan. Melalui ridha dan rahmat Allah maka kita akan bisa memasuki surganya. Dan hal ini adalah harapan orang Islam sebagaimana juga harapan kita semua.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

QAULAN LAYYINAN SEBAGAI PRINSIP KOMUNIKASI SOSIAL

QAULAN LAYYINAN SEBAGAI PRINSIP KOMUNIKASI SOSIAL

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Jamaah Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency telah mendapatkan siraman rohani dalam pengajian yang dilakukan pada setiap Hari Selasa, ba’da Shubuh. Dalam dua kali terakhir diisi oleh Pak Dr. Cholil Umam, dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel. Materi Pak Cholil tentu terkait dengan pemahaman dan pengamalan beragama, khususnya terkait dengan sabar dan cara melakukannya.

Pada Selasa, 23/01/2024, saya yang memberikan ceramah ba’da Shubuh dengan tema yang agak berbeda. Saya lebih kuat nalar sosiologisnya dibandingkan dengan nalar keagamaannya. Saya menyampaikan tiga hal terkait dengan relasi antara generasi muda, debat dalam koridor Keislaman dan bagaimana menjadikan qaulan layyinan dalam relasi antar manusia.

Pertama, sekarang adalah eranya kaum muda, yang sering dilabel sebagai generasi muda atau generasi milenial. Para milenial memiliki beberapa ciri khas dalam kaitannya dengan belajar social atau belajar kemasyarakatan. Ada sekurang-kurangnya lima ciri khas, yaitu belajar tentang pengalaman. Generasi milenial sebenarnya memiliki kecenderungan untuk belajar berbasis pengalaman dan bukan hanya belajar tentang pengetahuan. Jadi yang sebenarnya dicari adalah pengalaman di dalam kehidupan. Untuk menemukan pengetahuan cukup dengan gadget. Apa saja yang ingin dipelajari ada di situ. Tinggal klik dan klik.

Hanya sayangnya bahwa tidak semua generasi milenial belajar tentang pengalaman. Egoism kaum milenial terkadang bisa menjadi pemicu kenapa mereka tidak menjadikan pengalaman generasi sebelumnya untuk dijadikan kaca benggala. Ada banyak generasi milenial yang justru ingin menemukan jati dirinya dengan membongkar tradisi atau kebiasaan generasi sebelumnya. Ada sebuah buku yang menarik judulnya: “Millennials Kill Everything” yang ditulis oleh Yuswohady, Farid Fatahillah, Budi Triyaditia, dan Amanda Rachmaniar. Berdasarkan buku ini, maka  generasi milenial memiliki perilaku yang berbeda dengan perilaku generasi sebelumnya, termasuk perilaku konsumsinya. Tidak hanya itu juga life style yang dilakukannya. Semua serba berubah dan mau tidak mau mereka harus diikuti.

Kedua,  kita baru saja milihat penampilan dan ekpresi para calon wakil presiden dalam acara debat cawapres dalam pemilu 2024. Kita bisa melihat bagaimana performance Gibran Rakabuming Raka sebagai cawapres Nomor 02, yang berlaga di dalam debat cawapres  untuk pilpres 2024. Kita melihat ada Prof. Dr. Mahfud MD, usia 66 tahun, Cak Muhaimin Iskandar 58 tahun dan Gibran Rakabuming Raka 36 tahun. Jika dilihat dari usia, maka Prof. Mahfud termasuk generasi baby boomer, Cak Imin generasi X dan Gibran generasi milenial atau generasi Y.  Sebuah diskusi yang menarik untuk dicermati. Tidak hanya masyarakat Indonesia tetapi juga masyarakat dunia. Debat ini akan menentukan Indonesia masa depan. Debat ini menggambarkan bagaimana relasi antara generasi tua, yang diwakili oleh Prof. Mahfud dan Cak Imin dan generasi muda yang diwakili oleh Gibran.

Tanpa berupaya untuk mendowngrade siapapun, tetapi kita melihat bagaimana tampilan, ekspresi, penyampaian gagasan, dan gimmick yang menyertai perdebatan tersebut. Tentu ada yang menganggap debat itu biasa saja. Di  dalam perdebatan pasti ada upaya untuk “mengalahkan” yang lain. Di  dalam setiap perdebatan pasti menghasilkan pandangan siapa yang lebih baik dan sebagainya. Semuanya tentu didasarkan atas tafsir atau analisis yang selalu berkaitan dengan kepentingan siapa yang menganalisis dan untuk kepentingan apa dan siapa. Karena penilaian atas debat cawapres itu berbasis atas pemahaman atau tafsir siapa yang melakukannya, maka para penafsir lain tentu akan memahami apa dan siapa dia. Semuanya akan terpulang kepada masing-masing kita. Ada yang pro dan ada yang kontra. Biasa saja.

Ketiga, agama kita mengajarkan prinsip komunikasi yang disebut sebagai qaulan layyinan. Atau berkata dengan lemah lembut berbasis pada kasih sayang. Konsep qaulan layyinan itu berangkat dari perintah Allah kepada Nabi Musa dan Nabi Harun di kala keduanya  akan berbicara tentang Millah Nabi Musa, yaitu jalan Tuhan yang Maha Esa dan Maha Rahman dan Rahim. Di dalam Surat Thaha ayat 44 dijelaskan panjang lebar tentang bagaimana suasana pertemuan Nabi Musa dan Harun dengan Fir’aun. Dijelaskan: “kala Nabi Musa dan Harun akan bertemu dengan Fir’aun yang sombong, merasa berkuasa penuh dan dhalim, maka Nabi Musa dan Harun diperintah oleh Allah agar tetap mengedepankan perkataan yang lemah lembut dan kasih sayang. Allah menyatakan: faqula qaulan layyinan la’allahu yatadzakkaru au yakhsya.  Yang artinya: “maka berkatalah dengan lemah lembut, semoga dia (Fir’aun) menjadi ingat akan Allah atau takut. Allah memberikan gambaran kepada Nabi Musa dan Nabi Harun, bahwa ada dua potensi yang bisa didapatkan dengan berkata yang lemah lembut, yaitu agar seseorang bisa ingat terhadap Allah dan segala efek yang ditimbulkan dengan perintah Tuhan dan yang lain akan menjadi takut atas adzab Tuhan kepadanya. Untuk Fir’aun ternyata tidak sadar akan kedhalimannya dan kesesatannya bahkan tidak ada ketakutan atas adzab Allah, dan kemudian akhirnya ditimpa adzab Allah dengan tenggelam di Laut Merah.

Lalu apa kaitan antara generasi milenial, kampanye cawapres dan ungkapan yang lembah lembut dan menyejukkan? Ternyata bahwa generasi muda harus belajar dari para generasi sebelumnya tentang tetap pentingnya menjaga etika di dalam berdebat atau dalam relasi social baik antar sesama generasi milenial atau terhadap generasi yang lebih senior. Para generasi milenial yang belajar berbasis pengalaman, maka sebaiknya juga belajar dari generasi yang lebih senior tentang bagaimana tata krama di dalam perbincangan baik itu diskusi, debat atau pembicaraan non formal. Semua ada etikanya, dan di dalam Islam terdapat sebuah prinsip qaulan layyinan, yang artinya pernyataan yang diungkapkan harus dengan lemah lembut sehingga  membuat lawan bicaranya senang dan menyenangkan.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

MENJAGA KEISLAMAN KITA: ISLAM ITU MUDAH

MENJAGA KEISLAMAN KITA: ISLAM ITU MUDAH

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Sungguh kita ini manusia yang istimewa, sebab bisa mempercayai keberadaan Tuhan, Nabi Muhammad SAW dan segala yang diatribusikan kepada Allah dan rasulnya tersebut. Meskipun kita tidak menjadi orang yang sangat memahami ajaran Islam dengan kedalaman tertentu, akan tetapi kita dapat  menjalankan ajaran Islam sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Adakah yang lebih hebat dari kita? Saya kira nyaris tidak ada.

Kita ini  berbeda dengan para sahabat, dan tabiin yang bisa mengetahui dan mendengarkan ajaran Islam secara langsung dari Nabi Muhammad SAW dan para sahabat yang membersamai-Nya, sehingga tingkat kepercayaan dan keyakinan atau amalan-amalannya terukur sebagaimana amalan Nabi Muhammad SAW. Kita kita berselang 14 abad lebih, lalu percaya dan yakin lalu mengamalkan ajaran Islam yang seperti pengamalan Nabi Muhammad SAW. Alangkah hebatnya kita itu.

Allah SWT menurunkan Nabi Muhammad SAW, lalu hadir di tengah-tengah kita para ulama yang menjadi penyambung lidah dan kepanjangan tangan Nabi Muhammad SAW yang suci untuk menebarkan ajaran Islam yang menjadi pegangan kita semua. Untuk mempercayai keberadaan Allah dan kebenaran kalamnya, Al Qur’an al Karim, Allah SWT menurunkan para saintis untuk mengkaji kebenaran kalam Allah. Ada banyak contoh dari pengkaji kebenaran Islam dari jalur ilmu pengetahuan. Mereka adalah orang yang diberikan hidayah untuk membantu kita agar semakin yakin akan kebenaran Allah dan kalam mulianya. Allah juga menurunkan para alim ulama yang dengan kekuatan riyadhahnya mendapat kebenaran Allah dan kitab Sucinya. Allah SWT menurunkan cahaya kebenaran melalui ainun bashirah yang diberikan kepada mereka. Dan lagi-lagi kita dapat menjadi yakin akan kebenaran Allah, Nabi Muhammad SAW dan kitab sucinya.

Hal inilah yang membuat  kita menjadi manusia yang beruntung. Sungguh-sungguh beruntung. Kita tidak perlu berjuang untuk mendapatkan hidayah Allah SWT, tetapi kita telah menjadi umat Islam semenjak lahir. Dan melalui pergaulan di dalam dunia dengan para ulama dan para ahli ilmu pengetahuan menjadikan keislaman kita semakin baik. Kita aktif di dalam pengajian baik yang dilakukan secara rutin sepekanan atau membaca dan mendengarkan pengajian melalui media social. Semuanya menjadi instrument bagi penguatan keimanan dan keislaman kita.

Islam  secara teologis mudah dipahami. Hanya ada satu Tuhan yang Maha Esa, yang tidak terbilang, yang  menciptakan dan memelihara alam makro kosmos dan mikro kosmos menjadi teratur dan penuh kemaslahatan. Kajian secara akademik tentang hipotesis Ketuhanan akhirnya justru sampai kepada kesimpulan bahwa alam yang sophisticated dan teratur tidak mungkin diciptakan oleh akal yang biasa-biasa saja. Tidak mungkin alam yang teratur itu terjadi dengan sendirinya. Pasti ada akal (mind) suci dan hebat  yang supra rasional. Dipastikan bahwa alam yang  sangat teratur diciptakan oleh Tuhan, yang di dalam Islam dikenal sebagai Allah SWT.

Melalui pemahaman atas Allah SWT yang  Maha Esa, maka manusia tidak perlu melakukan eksplorasi tentang Tuhan, terkecuali oleh para ahli sains dan ulama yang memiliki kelebihan sesuai dengan ijin Allah SWT. Itulah sebabnya Allah SWT mengajarkan agar manusia jangan ragu-ragu di dalam keimanan dan keislaman.  La raiba fihi hudal lil muttaqin. Jangan ragu-ragu. Allah SWT dipastikan menurunkan para ahli ilmu pengetahuan yang dapat memberikan penjelasan berbasis pada Teks Suci sebagaimana wahyu Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Allah SWT juga menurunkan ulama yang dapat menjelaskan kegaiban-kegaiban di seputar Allah dan ciptaannya, sehingga kita dapat memahami tentang hal tersebut.

Di dalam peribadahan, betapa sederhananya. Islam itu tidak rumit. Untuk shalat kita dapat melakukannya di semua masjid atau mushalla yang tersedia. Kita bisa menjadi pengikut shalat siapa saja. Kita yang memiliki kemampuan dalam membaca Al Qur’an juga dapat menjadi imam bagi siapa saja. Tidak ada hirarkhi yang tegas-tegas membedakan antara satu umat Islam dengan lainnya. Hirarkhi itu ada dalam pengetahuan dan ketaqwaannya  saja, misalnya ahli ilmu keislaman atau ahli ilmu lainnya. Tidak ada perbedaan antara satu suku bangsa atas lainnya. Yang dinyatakan membedakan hanyalah kadar ketaqwaannya.

Ajaran yang prinsip di dalam Islam juga sama. Misalnya jumlah shalat dan rakaatnya. Yang berbeda hanya di dalam bacaan-bacaan di dalamnya. Perbedaan tersebut sangat wajar terjadi sebab banyaknya sahabat Nabi Muhammad SAW yang meriwayatkan atas bacaan di dalam shalat. Perbedaan tersebut sudah direpresentasikan oleh para fuqaha atau ahli fiqih yang tercermin di dalam pendapat para imam madzhab. Ada Imam Maliki, Imam Syafi’i, Imam Hambali dan  Imam Hanafi. Sekali lagi perbedaan itu pada cabang-cabangnya dan bukan pada asas prinsipal di dalamnya.

Yang juga membanggakan bahwa perbedaan dalam pengamalan Islam itu dipahami sebagai varian dalam penafsiran Islam. Tidak perlu dipertentangkan dengan semangat menyala-nyala. Telah terdapat pemahaman bahwa dunia tafsir atas teks itu memang bisa sangat banyak sesuai dengan ahli tafsirnya. Tetapi yang menggembirakan bahwa semua tafsir yang berbeda tersebut tidak sampai merusak teks yang sudah dibakukan.

Saya kira sudah saatnya kita bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberikan pilihan kepada kita untuk beragama sesuai dengan ajaran Islam yang sungguh membahagiakan dan bukan menyulitkan. Sekali lagi Islam tidak hanya berisi tandzir atau informasi yang menakutkan akan tetapi juga informasi yang menyenangkan atau tabsyir. Islam menyeimbangkan keduanya sebagai upaya untuk menjaga agar kita tetap berada di dalam koridor memahami dan mengamalkan Islam sesuai dengan keyakinan kita.

Wallahu a’lam bi al shawab.