• May 2026
    M T W T F S S
    « Apr    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

UKHUWAH ASHABIYAH: JANGAN LAKUKAN

UKHUWAH ASHABIYAH: JANGAN LAKUKAN

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Di dalam ceramah saya di Masjid Al Ihsan, Perumahan Lotus Regency, Selasa, 13/02/2024, ada satu hal yang belum saya jelaskan meskipun sempat saya singgung dalam membahas ukhuwah di dalam relasi social. Islam mengajarkan agar membina tri ukhuwah di dalam kehidupan, yaitu; Ukhuwah Islamiyah, Ukhuwah Wathaniyah dan Ukhuwah Basyariyah atau Insaniyah. Tri ukhuwah ini sudah saya jelaskan secara mendalam meskipun belum tuntas dalam kaitannya sebagai warga negara dan warga bangsa. Akan tetapi ukhuwah Ashabiyah belum saya bahas. Tulisan ini akan membahas secara lebih mendalam terkait dengan ukhuwah Ashabiyah dimaksud.

Ukhuwah Ashabiyah adalah persaudaran yang didasari oleh aspek kesukubangsaan, etnisitas, agama dan penggolongan social yang di dalamnya hanya mengakui kebenaran pada penggolongannya dan menafikan kebenaran pada golongan lainnya. Kebenaran hanya terdapat dalam pemahaman golongannya dan menganggap bahwa tafsir golongan lain itu salah dan perlu untuk dinihilkan. Di dalam skala yang lebih luas, misalnya bangsa Aria di masa Hitler hanya menganggap kebenaran itu atas tafsir bangsanya saja. Bangsa-bangsa lain harus ditundukkan dan yang sudah tunduk harus dicuci otaknya agar kemudian hanya mengenal kebesaran Wangsa Aria.

Di dunia ini sebenarnya juga terdapat konflik social bahkan perang. Tidak hanya perang antar negara dan bangsa tetapi juga perang yang difasilitasi oleh agama. Di dunia ini terdapat perang yang sangat lama, Perang Salib, antara Umat Islam dan Kristen, yang difaslitasi oleh keyakinan akan agama. Perang antara orang Kristen dan Katolik di Eropa juga dimaknai sebagai perang untuk membenarkan akan keyakinannya masing-masng. Agama Katolik yang selama itu dominan lalu menjadi terganggu melalui kehadiran Agama Protestan, sehingga kehadirannya ditolak dan terjadilah peperangan. Meskipun keduanya berasal dari Agama Nasrani yang dibangsakan dengan Nabi Isa AS, akan tetapi akhirnya harus pisah kongsi karena paham keagamaan.

Di dalam cerita pewayangan, terjadi pertarungan antara wangsa Kurawa dan Wangsa Pandawa, yang sesungguhnya masih bersaudara. Meskipun bersaudara tetapi yang dikedepankan adalah kebenaran tafsirannya masing-masing. Misalnya dalam penguasaan politik kenegaraan. Pandawa berkilah bahwa yang seharusnya menjadi penerus kerajaan Astina adalah wangsa Pandawa, sebab Pandawa adalah keturunan Raja Pandu Dewanata. Dia yang menjadi raja sebab kakaknya Destarata cacat mata, sehingga tidak layak menjadi raja. Tetapi kaum Kurawa berpandangan bahwa Astina adalah kewenangannya, bahkan setelah lakon “permainan dadu”, maka kerajaan Amarta juga dimilikinya sebab Pandawa kalah dalam permainan dadu.

Cerita lain dalam lakon Ramayana, maka juga terjadi pertarungan antara Rahwana dari Kerajaan Alengka dan Ramawijaya dari kerajaan Ayodya. Peperangan ini dipicu oleh keinginan Rahwana untuk menikahi Dewi Sinta yang sudah menjadi istri Rama. Di dalam cerita pewayangan digambarkan bahwa Rama adalah tokoh protagonist dan Rahwana adalah tokoh antagonis. Rama dikaitkan dengan agama Wisnu dan Dasamuka atau Rahwana adalah pemeluk agama Syiwa. Rama adalah golongan bangsa Aria yang mendiami India Tengah dan Utara, berkulit putih sedangkan Dasamuka adalah golongan kulit berwarna yang mendiami India Selatan. Peperangan ini tidak hanya persoalan perempuan, istri, tetapi juga perang yang dipicu oleh tafsir agama di dalam agama Hindu. Bahkan dinyatakan bahwa Rahwana adalah seorang raja sekaligus resi yang menyembah Dewa Syiwa. Sedangkan Rama adalah Raja dan sekaligus resi yang menyembah Wisnu.

Tafsir agama di dalam agama yang sama terkadang dapat memicu konflik social. Di dalam agama selalu ada keyakinan yang ultimate, meskipun yang diyakini kebenarannya tersebut adalah paham keagamaan dari para ulamanya. Apalagi jika agamanya berbeda. Dipastikan bahwa bisa saja terjadi konflik social jika kemudian masing-masing menganggap ajaran agamanya yang paling benar dan yang lain salah dan tidak mungkin terjadi keinginan untuk saling hidup dalam kebersamaan.

Di dalam setiap agama sungguh terdapat keniscayaan untuk memberikan peluang orang yang berbeda paham agama, berbeda ras dan suku bangsa dan bahkan etnis untuk saling hidup dalam kebersamaan. Islam memberikan peluang untuk hal tersebut. Banyak teks yang memberikan pengakuan atau co existence dengan orang lain yang berbeda, bahkan juga memberikan peluang untuk pro-existence.

Oleh karena itu jangan menjadikan tasfir agama sebagai kebenaran mutlak. jika kita melakukannya maka kita telah jatuh ke dalam “menuhankan” tafsir. Hal ini tidak dikehendaki oleh pembawa agama, seperti Nabi Muhammad SAW. Coba bayangkan bahwa Nabi Muhammad SAW itu membenarkan terhadap bacaan sahabatnya di dalam berdoa di dalam shalat. Banyak peristiwa yang memberikan gambaran betapa demokratisnya Nabi Muhammad SAW dalam beragama. Jadi kalau di dalam shalat lalu ada bacaan yang berbeda maka hal tersebut merupakan keniscayaan. Jangan sampai beranggapan bahwa hanya bacaannya saja yang benar dan bacaan yang lain salah dan tidak diterima shalatnya.

Ukhuwah Ashabiyah itu membayangkan bahwa di dalam dunia ini hanya ada  satu agama, satu keyakinan dan satu tafsir agama. Jika kelompok yang seperti itu melakukan ceramah agama, maka yang menjadi dalilnya adalah “amar ma’ruf nahi mungkar”. Jadi tujuannya adalah untuk meluruskan paham agama sesuai dengan paham agamanya.

Mereka melarang yasinan, tahlilan, dzikiran ba’da shalat, melarang upacara kematian, melarang ziarah kubur, melarang ziarah wali-wali Allah, berbagai tradisi yang tidak sesuai dengan yang diyakininya, maka dianggapnya churafat, dan takhayul. Kelompok Salafi Wahabi ini datang dan kemudian menguasai masjid-masjid dan menyebarkan ajaran Salafi Wahabi dan melarang amalan apapun yang tidak sesuai dengan paham keagamaannya.

Pandangan eksklusif tentang agama seperti ini yang dapat melahirkan ukhuwah Ashabiyah. Sebagai negara dengan masyarakatnya yang plural dan multicultural tentu prinsip ukhuwah Ashabiyah  tidaklah tepat.  Islam melalui Alqur’an sudah menjelaskan bahwa tidak boleh orang memaksa di dalam beragama, dan bagimu agamamu dan bagiku agamaku. Jadi Islam itu begitu indahnya dalam mengajarkan ukhuwah insaniyah sebagaimana firman Allah bahwa manusia diciptakan dalam kemuliaan. Maka, kita harus memuliakan manusia dalam kodratnya masing-masing.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

AJARAN UKHUWAH ITU SISTEMIK

AJARAN UKHUWAH ITU SISTEMIK

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Agama apapun tentu mengajarkan prinsip persaudaraan. Tentu saja Islam juga mengajarkan tentang persaudaraan atau ukhuwah. Secara konseptual bahwa ukhuwah di dalam ajaran Islam itu dikenal dengan istilah ukhuwah Islamiyah, Ukhuwah Wathaniyah, dan ukhuwah basyariyah atau insaniyah. Inilah yang kemudian disebut sebagai trilogy ukhuwah. Islam sebagai agama yang mengajarkan kerahmatan bagi umat manusia dan alam, maka sangat mengedepankan persoalan persaudaraan tersebut.

Inilah kata kunci di dalam ceramah saya pada jamaah Masjid al Ihsan, Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya. Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) ini merupakan ngaji ang dilaksanakan setiap hari Selasa. Maka juga lazim disebut ngaji selasanan. Jamaahnya tidak banyak. Ada sebanyak 23 orang yang secara rutin hadir di dalam pengajian ini. Mereka adalah tokoh agama dalam levelnya masing-masing, sehingga ngaji ini lebih merupakan kegiatan diskusi atau two way traffic preaching dibanding dengan ceramah yang one way traffic preaching atau ceramah searah, dari penceramah kepada para jamaah.

Kita sedang menghadapi adanya peluang disharmoni social yang dipicu oleh pilpres 2024. Jika kita amati perbincangan di media social, maka menunjukkan adanya peluang untuk terjadinya disharmoni social karena dukungan kepada capres dan cawapres yang menjadi pilihannya. Pertarungan tersebut memang bukan bersifat fisik tetapi pertarungan kata-kata, ungkapan-ungkapan dan ucapan dari pendukung 0I, 02 dan 03. Masing-masing beragumentasi sesuai dengan pikirannya dan kesadarannya. Ada yang menyatakan yang penting Anis. Ada yang menyatakan yang penting Prabowo dan ada juga yang menyatakan yang penting Ganjar.

Para pemilih minded tersebut tidak memperdulikan siapa dia. Yang penting akan menjadi pilihannya dan sekurang-kurangnya juga bisa mempengaruhi orang lain untuk memilihnya. Ternyata ada juga pemilih konsisten dan komitmen yang tidak akan terpengaruh apapun. Mereka ini sudah menentukan pilihan yang sesuai dengan apa yang dianggapnya sebagai kebenaran. Saya jelaskan tiga hal, yaitu:

Pertama, konsep persaudaraan bukan berada di ruang kosong. Dengan latar belakang seperti ini, maka saya memberikan ceramah tentang ukhuwah atau persaudaraan di dalam Islam. Ada sekurang-kurangnya tiga jenis ukhuwah, yaitu ukhuwah insaniyah atau ukhuwah basyariyah, ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah Islamiyah. Perkembangan  akhir-akhir ini di masyarakat Indonesia juga terdapat ukhuwah ashabiyah.

Ukhuwah insaniyah atau ukhuwah basyariyah bagi saya merupakan ukhuwah tertinggi dalam relasi kemanusiaan. Persaudaraan kemanusiaan didasari oleh realitas sebagai sesama manusia. Allah sungguh memuliakan manusia. Di dalam Alqur’an dinyatakan: “laqad karramna Bani Adama”, yang artinya: “sesungguhnya Kami (Allah) memuliakan anak cucu Adam”. Ayat ini menegaskan bagaimana Allah itu memuliakan manusia. Allah sungguh memuliakan ciptaannya yang memang dijadikans sebagai khalifahnya atau wakilnya di muka bumi. Rasulullah juga memberikan contoh tentang upaya membangun ukhuwah insaniyah. Ukhuwah yang tidak disekat-sekat dengan etnis, suku bangsa, golongan social dan bahkan agama. Ketika Nabi Muhammad menyebarkan Islam, maka Nabi Muhammad juga melindungi terhadap umat lain yang berbeda agama.

Lalu ada ukhuwah wathaniyah atau persaudaraan sebagai sesama bangsa dan negara. Persaudaraan ini juga lintas suku bangsa, etnis, golongan social dan agama. Selama seseorang menjadi warga negara dan bangsa maka selama itu pula yang bersangkutan harus menjadi sesama saudara sebangsa. Mereka memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam berhubungan dengan negara. Tidak ada warga negara klas satu atau dua. Semua sama. Kemudian juga terdapat ukhuwah Islamiyah. Yaitu persaudaraan yang didasari oleh sesama umat Islam. Islam menegaskan bahwa sebagai sesama umat Islam,  maka  relasi antar umat Islam itu layaknya sebuah bangunan yang satu bagian akan menguatkan yang lain. Nabi Muhammad SAW menyatakan: Al mu’minu lil mu’mini kal bunyan yasyuddhu ba’dhuhu ba’dhan”.    Artinya “orang mukmin dengan orang mu’min lainnya itu seperti bangunan, yang satu menguatkan yang lain”.

Kedua, bagi kita ukhuwah itu bukan sebagai konsep yang parsial akan tetapi konsep sistemik di dalam relasi social. Konsep persaudaraan antar manusia tidak bisa dipisahkan dengan konsep persaudaran sesama bangsa dan konsep persaudaraan sebagai muslim juga tidak dapat dilepaskan dengan lainnya. Di dalam kehidupan masyarakat yang plural dan multicultural, maka ketiganya harus dilakukan secara konstan. Kala kita hidup di masyarakat, maka ketiganya harus dilakukan secara berkeseimbangan. Tidak boleh hanya menggunakan konsep ukhuwah Islamiyah tetapi juga harus mempertimbang dua konsep lainnya.

Sebagai negara yang tidak menggunakan dasar agama akan tetapi berdasar atas Pancasila, maka relasi social itu harus berbasis pada tiga hal tersebut. Ada ukhuwah yang bercorak umum untuk semua manusia, dan ada persaudaraan yang khusus sebagai wargawarga negara dan juga ada persaudaraan yang lebih khusus yang didasarkan atas keyakinan di dalam agama masing-masing. Melalui kesepahaman sistemik ini, maka kedamaian dan kerukunan untuk membangun keselamatan dipastikan akan eksis di dalam kehidupan kita semua.

Ketiga, jika kita dapat mengamalkan prinsip ajaran Islam dan relasi social yang luas, sesama manusia, atau yang khusus atau relasi kebangsaan atau kenegaraan dan keagamaan, maka kita akan bisa menjadi manusia yang bisa memahami orang lain. Kita semua diajari dengan ajaran agama yang menjunjung tinggi kehidupan bersama, maka sudah selayaknya jika kehidupan manusia akan menjadi lebih baik.

Trilogy ukhuwah ini sudah selayaknya tidak hanya dipahami tetapi juga diamalkan. Jika manusia Indonesia bisa mengamalkannya di dalam kehidupan tentu akan dipastikan terjadinya kerukunan, keharmonisan dan keselamatan bangsa. Sebagai negara bangsa, Indonesia akan menjadi lebih baik jika umat manusia di Indonesia berpegang teguh pada trilogy kerukunan.

Wallahu a’lam bi al shawab.

MEMPERINGATI ISRA DAN MI’RAJ

MEMPERINGATI ISRA DAN MI’RAJ

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Umat Islam di seluruh dunia dipastikan memperingati satu hari yang penting di dalam kehidupan sebagai umat beragama, yaitu peristiwa Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Di Indonesia jatuh pada hari Kamis, 08/02/2023.  Isra’ dan Mi’raj dinyatakan sebagai peristiwa penting karena di dalam peristiwa Isra’ dan Mi’raj itu Nabi Muhammad SAW mendapatkan perintah langsung dari Allah SWT untuk menjalankan ritual penting di dalam Islam, yaitu ibadah shalat.

Nabi diperjalankan Allah pada suatu malam dari Masjid Al Haram ke Masjid Al Aqsa. Masjid Al Haram di Mekkah al Mukarramah menuju ke Masjid al Aqsa di Yerusalem. Suatu perjalanan yang sangat jauh dan tidak bisa ditempuh dalam waktu semalam kecuali oleh kekuatan yang diberikan oleh Allah SWT. Jarak antara Mekah dan Yerusalem sejauh 1.472 KM. Pada zaman itu, hanya ada kendaraan unta atau kuda, maka dapat ditempuh selama satu bulan, sekarang dengan kendaraan darat dapat ditempuh selama 17 jam. Oleh karena itu, jarak tempuh antara Masjidil Haram dan Masjidil Aqsa dalam semalam, apalagi dilanjutkan dengan Mi’raj ke langit ke tujuh, ke Sidratul Muntaha lalu ke Mustawa dan ke Arasy dalam waktu semalam tentu sesuatu yang luar biasa. Malaikat Jibril yang menemani perjalanan isra’ dan mi’raj tertahan hanya sampai di Sidratul Muntaha. Malaikat Jibril tidak diberkahi untuk melanjutkan perjalanan ke Mustawa dan Arasy. Itu haknya Allah dan tidak ada satupun makhluk yang mampu mencapainya kecuali Nabi Muhammad SAW atas ridla Allah SWT.

Jarak antara langit terjauh, andaikan itu adalah Neptunus kira-kira 4,7 miliar kilometer. Artinya tidak masuk akal jika Rasulullah kemudian menempuh perjalanan yang sedemikian jauh apalagi ditambah perjalanan ke Sidratul Muntaha dan Mustawa lalu ke Arasy, yang jaraknya tidak terekam dalam dunia ilmiah atau scientific approach. Sejauh yang bisa dilacak oleh sains adalah misalnya perjalanan ke Mars yang membutuhkan waktu selama 26 hari berdasarkan informasi terakhir. Di masa lalu, jarak tempuhnya adalah sembilan bulan atau selama 270 hari. Bayangkan Rasulullah seharusnya menempuh perjalanan selama 26 hari melalui jalan pintas atau jalan Panjang  selama 270 hari.

Perjalanan Rasulullah tersebut digambarkan sebagai perjalanan yang diberkahi Allah di sekelilingnya dan hal itu sebagai bukti atas kekuasaan Allah yang memang di luar nalar manusia. Berkah merupakan kata yang abstrak, artinya ziyadah atau tambahan. Jadi kala Allah memperjalankan Nabi Muhammad dalam waktu yang kecepatannya melebihi kecepatan  cahaya, maka dipastikan bahwa Nabi Muhammad memiliki kekuatan yang melebihi batas kekuatan manusia yang paling digdaya sekalipun. Kekuatan Nabi Muhammad SAW melebihi dan bahkan berlipat-lipat dibandingkan dengan meteor yang di kala memasuki atmosfir akan terbakar. Jadi bisa dibayangkan bahwa kekuatan Nabi Muhammad SAW sewaktu mi’raj itu melebihi kekuatan api dan kekuatan dingin, sehingga Nabi melintas dengan berkah Allah SWT.

Saya tidak bisa memastikan apakah mu’jizat Rasulullah untuk menembus langit itu akan dapat dibuktikan oleh dunia ilmu pengetahuan. Akan tetapi dengan ditemukannya jalan pintas ke Mars yang selama itu dikenal selama 270 hari akhirnya bisa dipecahkan menjadi 26 hari. Hanya Allah SWT yang mengetahuinya. Perkembangan ilmu pengetahuan yang cepat bisa memungkinkan jika di masa lalu merupakan misteri, akan tetapi akhirnya menjadi kenyataan dalam dunia sains.

Perjalanan Nabi Muhammad SAW itu digambarkan sebagai perjalanan religious yang selalu mengandung misteri. Dan inti dari perjalanan tersebut, sebagaimana dinyatakan oleh Ustadz Muhammad Firdaus Ramadlan, SHI al Hafidz, dalam khutbah Jum’at, 09/01/2024, sekurang-kurangnya ada tiga hal, yaitu: pertama, memberikan gambaran betapa pentingnya ibadah shalat. Begitu pentingnya maka Nabi Muhammad dipanggil secara langsung oleh Allah SWT. Misalnya jika seorang pemimpin memanggil bawahannya secara langsung dengan empat mata menunjukkan betapa penting misi yang harus dilakukan. Maka di kala Allah mewajibkan shalat lima kali dalam sehari dalam peristiwa Mi’raj, maka menunjukkan betapa agungnya ritual shalat bagi manusia. Nabi Muhammad SAW adalah manusia sempurna, al insan al kamil, dan sebagai rasul maka Nabi Muhammad dikaruniai kelebihan atas rasul-rasul lainnya yang diwujudkan dalam kemampuan untuk bertemu langsung kepada Allah. Semua ini adalah karena keridlaan Allah SAW atas kerasulan Nabi Muhammad SAW.

Kedua, Nabi Muhammad adalah teladan dalam kesabaran. Nabi Muhammad SAW diberi berkah oleh Allah untuk menerima wahyu secara langsung merupakan buah kesabarannya. Nabi ditinggalkan oleh dua orang yang sangat dicintainya, Khadijah dan Abu Thalib, dan Nabi Muhammad menyerahkan semua kepada Allah SWT. Jika Nabi merasa sedih tentu sangat manusiawi akan tetapi karena kepasrahan dan kesabarannya maka dihibur untuk mendapatkan wahyu secara langsung.

Ketiga, jika Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan ke Yerusalem untuk mengunjungi pusat tiga agama, Yahudi, Nasrani dan Islam, yaitu masjidil Aqsa, maka hal tersebut memberikan penjelasan bahwa relasi antara Masjidil Haram dan Masjidil Aqsa sungguh sangat bersejarah. Itulah sebabnya Nabi Muhammad menganjurkan kepada umat Islam untuk menziarahi tiga masjid, yaitu Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan Masjidil Aqsa. Dulu sebelum menjadikan ka’bah di Mekah al Mukarramah sebagai kiblat dalam shalat, maka Nabi Muhammad pernah menjadikan Masjidil Aqsa sebagai kiblat.

Dengan demikian, relasi antara Yerusalem dengan Masjidil Aqsa dengan Mekkah dengan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi di Madinah merupakan relasi yang saling berdekatan. Oleh karena itu menjadi pantas jika umat Islam membela Palestina sebagai bagian tidak terpisahkan dari perjuangan umat Islam.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

 

QAULAN SADIDAN: NYATAKAN APA ADANYA

QAULAN SADIDAN: NYATAKAN APA ADANYA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Kita hidup di dalam dunia social dengan berbagai ragam suku bangsa, etnis, dan juga tradisi. Itulah sebabnya kita hidup di tengah pluralitas dan juga multikulturalitas. Ada berbagai macam suku bangsa, etnis, penggolongan social, penggolongan agama dan juga model relasi social. Semuanya memang telah menjadi kodrat di dalam kehidupan manusia. Tidak ada suatu masyarakat yang hanya terdiri dari satu golongan social. Mungkin di masa lalu ada, tetapi sekarang di tengah kemudahan migrasi dari satu wilayah ke wilayah lain, maka peluang untuk hidup dalam pluralitas dan multikulturalitas itu sangat besar.

Di Amerika Serikat, maka terdapat suatu ras baru yang merupakan campuran antara ras kulit putih dengan kulit berwarna, yaitu orang Amerika yang berasal dari Eropa dan Orang Amerika Latin, sehingga menghasilkan satu ras baru, America-Latino. Kulit mereka tidak kemerah-merahan dan juga tidak keputih-putihan tetapi merupakan paduan di antara dua warna kulit. Misalnya penyanyi Shakira, J. Lopez, dan petinju Mohammad Ali. Merupakan hasil ras campuran yang justru terkadang eksotik warna kulitnya. Demikian pula di Eropa dan Australia. Di Indonesia kita juga melihat ras campuran antara orang kulit Putih, Eropa, dengan orang kulit berwarna, Jawa atau Sunda, yang kemudian menghasilkan ras baru, sebenarnya, yaitu ras campuran seperti Sophia Latjuba, Tamara Blezinsky, Tamara Geraldine, Cinta Laura, Mawar Eva De Jongh, Caitlin-Halderman,  dan lain-lain.

Hidup itu bagaikan berada di taman bunga. Sebuah taman bunga akan menjadi indah jika di dalamnya terdapat bunga yang warna-warni. Demikian pula di dalam kehidupan. Jika di dalam masyarakat terdapat berbagai warna kulit, ukuran badan, perangai dan prilaku yang berbeda-beda maka hidup akan menjadi indah. Itulah sebabnya kita harus memahami orang lain, tidak dengan menggunakan ukuran kita saja, akan tetapi dengan melakukan negosiasi pemahaman, sehingga akan memproduk kesepahaman yang mengasyikkan.

Saya meyakini bahwa di antara semua pedoman kehidupan baik yang berbasis agama atau social, maka sebenarnya ada yang disebut sebagai pola umum yang berlaku mendasar. Setiap ras, suku bangsa, golongan social dan agama tentu ada yang khusus yang memang menjadi inti di dalam kehidupannya, akan tetapi tentu ada yang menjadi milik bersama yang bersumber dari resources yang berbeda, misalnya berbeda agamanya tetapi ada “kesamaan” dalam hal-hal yang bercorak umum. Misalnya kesopanan, kebaikan sikap dan prilaku, dan relasi social yang sepadan, seimbang dan harmonis.

Di dalam membangun relasi social, tentu semua suku bangsa, ras, dan antar golongan memiliki hal yang sama yaitu berkata dengan jujur, apa adanya, tegas, dan tidak menyembunyikan sesuatu yang sudah diketahui oleh banyak orang. Di dalam relasi social dipastikan orang tidak suka untuk dibohongi, tidak suka dilecehkan, tidak suka untuk dikibuli, dan tidak suka untuk direndahkan.

Hidup itu memang perlu ketegasan. Perlu kejujuran. Di dalam memilih sesuatu juga harus disertai dengan ketegasan. Orang sering salah mengartikan bahwa berkata dengan tegas itu sama dengan berkata dengan keras. Padahal itu dua hal yang sangat berbeda. Jika kita menyamakan antara ketegasan dan kekerasan, maka kita akan bisa menyatakan bahwa kebanyakan orang Medan atau Papua itu keras, sebab suaranya yang memang sering keras. Padahal bersuara keras merupakan bagian dari tradisi dan gaya berbicara orang-orang tersebut.

Tegas secara Bahasa berarti mengungkapkan sesuatu apa adanya. Apa yang dinyatakan memang benar sesuai apa yang dipahami atas kenyataan yang diketahuinya. Sedangkan secara istilah tegas berarti mengungkapkan sesuatu dengan bahasa yang lugas, jujur, tidak berbelit-belit, apa adanya, dan tidak menyembunyikan sesuatu yang benar dan tidak berbasa-basi.

Ketegasan sesungguhnya sangat diperlukan di dalam semua lini kehidupan. Misalnya seorang pemimpin, maka harus memberikan perintah yang tegas sehingga dapat dipahami oleh stafnya dengan benar. Bayangkan jika perintah tersebut mengandung makna yang bermacam-macam, maka staf akan merasakan kebingungan untuk melaksanakannya. Termasuk di dalam memberikan fatwa atau judgement,  maka juga harus tegas. Jangan sampai fatwa itu membuat orang yang melaksanakannya merasakan tidak nyaman. Termasuk juga di kala harus membuat regulasi, maka pasal-demi pasal harus memberikan kejelasan apa dan bagaimana konsekuensi hukum itu bagi para pelanggarnya.

Sesungguhnya Islam sudah memberikan pesan yang sangat jelas. Qulil haqqa walau kana murran. Berkatalah yang benar walaupun dirasakan pahit. Quill haqqa itu bermakna berkata dengan jujur,  tegas, apa adanya. Bisa jadi pengungkapannya menggunakan cara yang sopan, sebab ketegasan tidak ada artinya jika kemudian justru tidak menyadarkan orang lain atau menyakiti orang lain. Ketegasan dan kesopanan itu ibarat dua sisi mata uang. Di satu sisi harus tegas, dan di sisi lain harus sopan.

Islam memberikan panduan bahwa qaulan sadidan, qulan kariman, qaulan layyinan itu tidak berdiri sendiri-sendiri tetapi merupakan satu kesatuan. Di dalam ungkapan kejujuran dan ketegasan terdapat ungkapan lemah lembut dan ungkapan yang menghargai orang lain.

Alangkah indahnya ajaran Islam dalam persoalan relasi social. Semua ini bersesuaian dengan hakikat human relation, human right, human expression, and  human dignity. Jika umat Islam dan umat agama lain bisa mengamalkan yang seperti ini, maka dijamin bahwa kerukunan, harmoni dan keselamatan dipastikan eksis di tengah kehidupan kita.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

MENGHADAPI RELASI SOSIAL KOMPLEKS; BAGAIMANA SIKAP KITA?

MENGHADAPI RELASI SOSIAL KOMPLEKS: BAGAIMANA SIKAP KITA?

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Ceramah saya pada acara Selasanan, 06/02/2024, sebagai ceramah rutin  ba’da Shubuh, di Masjid Al Ihsan diikuti oleh warga Lotus Regency dan juga Warga Sakura Regency. Tema di dalam ceramah ini bukan aspek agama an sich tetapi lebih dekat kepada pemahaman tentang relasi social dalam pandangan Islam di tengah kehidupan social yang semakin kompleks terutama pada akhir-akhir ini. Sebagaimana biasanya, maka ceramah ini saya bagi dalam tiga session, yaitu:

Pertama, tentang ungkapan rasa syukur kepada Allah bahwa kita semua yang hadir shalat jamaah Shubuh dan mengikuti ceramah ba’da shubuh ini dikaruniai kesehatan lahir dan batin, fisik dan rohani, bahkan bahkan sehat jasad, jiwa dan roh. Hal ini semua tidak lain karena rahmat Allah kepada kita semua. Ada di antara kita yang sudah di atas 60 tahun bahkan mendekati 70-an tahun, ada yang masih 50-tahunan. Tetapi semua sehat, bergas waras-wiris, tentu karena kenikmatan yang diberikan Tuhan kepada kita semua. Syukur Alhamdulillah.

Kedua, kita hidup di era yang kompleks. Serba rumit atau sering disebut sebagai era disruptif, sebuah era di mana sering terjadi gonjang ganjing, terjadi perubahan yang mendadak, terjadi situasi yang tidak nyaman tetapi kita harus menghadapinya. Kita harus mengikutinya. Kita tidak bisa melawan. Kita mengikuti perubahan cepat tersebut dengan harap-harap cemas, dan tertatih-tatih. Suatu contoh tiba-tiba terjadi pandemic Covid-19 yang mengharu biru kehidupan. Tiba-tiba harus berada di rumah, bekerja di rumah, sekolah di rumah bahkan juga ibadah di rumah. Work from home, learn at home dan ritual at home. Tetapi tidak ada sesuatu yang terjadi tanpa hikmah. Dan hikmah yang dirasakan adalah dengan semakin menguatnya keinginan untuk mengikuti perubahan zaman terutama dalam bidang teknologi informasi. Belajar daring, ujian daring, silaturrahmi virtual, dan pemanfaatan media social yang juga canggih untuk kepentingan kita semua.

Era ini ditandai dengan internet of thing (IoT), big data dan artificial intelligent (AI). Hidup kita serba internet. Nyaris tidak ada rumah yang tidak terpasng Wifi. Internet sudah menjadi kebutuhan primer. Jika Hp kita tidak ada pulsanya kita bingung setengah mati. Lebih baik tidak sarapan pagi dari pada kehabisan pulsa. Memang hidup menjadi lebih efektif dengan internet. Misalnya ada perusahaan yang menerapkan prinsip “selama ada internet, selama itu pula bisa bekerja”. Internet sudah menjadi kebutuhan tidak hanya dunia industry, perusahaan, Lembaga Pendidikan dan bahkan juga masyarakat luas.  Melalui kehadiran internet, maka tumbuh dengan subur kewirausahaan on line, perdagangan on line, dan juga munculnya start up terutama di kalangan generasi milenial. Era ini lalu disebut dengan era digital.

Lalu, big data juga memberikan dampak yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Melalui big data, maka tidak ada yang tidak bisa dilakukan. Bahkan ada analisis bahwa pekerjaan-pekerjaan yang selama ini membutuhkan analisis secara komprehensip, dari berbagai sudut pandang, maka dapat diselesaikan dengan mudah dan cepat melalui penguasaan big data. Bahkan konon katanya keputusan hukum pun bisa diselesaikan oleh hasil analisis dari big data. Hakim tinggal menggunakan keputusannya.

Kemudian juga AI. Kita juga hidup di era AI, dan salah satu wujud kongkritnya adalah robot. Ada banyak robot yang telah diciptakan. Robot penjaga toko, robot pelayan rumah tangga, sampai robot untuk pelayanan kebutuhan orang dewasa, khususnya kaum lelaki. Di China sudah diciptakan robot Hori, yang bisa berbahasa 87 bahasa dunia, dan menggunakan bahan-bahan yang mirip dengan manusia. Saya tidak tahu apa saja bahannya. Tahun ini sudah bisa dipasarkan di dunia. Melalui AI, maka mobil juga tidak perlu sopir. Jika kita ke China, dan berkeinginan untuk rekreasi, maka sudah tersedia mobil tanpa sopir yang siap mengantarkan kita ke mana saja kita berkeinginan. Sungguh luar biasa.  Kita bisa mendengarkan suara Presiden Soeharto, bukan pembicaraan di masa lalu, tetapi pembicaraan Pak Harto menghadapi masa sekarang. Suara, gerak bibir dan kontennya sangat luar biasa. Kita juga bisa menikmati sajian music duet antara Elvis Presley yang sudah wafat dengan anaknya, Lisa Presley, dalam tayangan yang sungguh sangat hidup dan menggambarkan bahwa keduanya sezaman. Semua ini adalah ulah AI. Sungguh luar biasa.

Ketiga, gunakan prinsip ajaran Islam untuk menghadapi semerbaknya unggahan dari berbagai channel dan berbagai kontennya. Ada dua prinsip penting sebagai basis di dalam kita melaksanakan relasi social yang kompleks. Yaitu qoulan kariman adalah berbicara atau mengupload sesuatu dengan prinsip memuliakan orang lain. Di dalam prinsip ini, maka jika kita menerima atau mengunggah kontens atau pesan agar dipertimbangkan, apakah yang saya unggah ini tidak membuat orang merasa terciderai. Apakah orang di seberang sana tidak merasa terdholimi, atau merasa tidak nyaman hatinya. Prinsipnya kita harus menghormati orang lain. Jika kita ingin dihormati, maka kita juga harus menghormati, begitulah adanya.

Kita juga harus berkata yang lemah lembut meskipun menghadapi orang yang dholim sekalipun. Sebagaimana pesan Allah kepada Nabi Musa dan Nabi Harun yang dmintanya untuk qaulan layyinan, atau berkata yang lemah lembut meskipun harus menghadapi orang yang sangat sombong, keras kepala, jahat dan dholim sekalipun. Sebagaimana Allah pesankan kepada kedua Nabi dimaksud, bahwa dengan pernyataan yang lemah lembut tersebut akan terdapat dua peluang, yaitu mengingat kebenaran Allah atau takut akan adzab Allah.

Di dalam menghadapi era sekarang ini, dengan eksplosi informasi, merebaknya pembunuhan karakter dan juga bullying, maka kita tetap harus menggunakan prinsip sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW berdasarkan wahyu Allah, lakukan semuanya dengan pernyataan yang lemah lembut dan pernyataan yang memuliakan.

Wallahu a’lam bi al shawab.