• November 2026
    M T W T F S S
    « Oct    
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    30  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

BERIMAN DAN  BERBUAT BAIK: SEBUAH SISTEM

BERIMAN DAN  BERBUAT BAIK: SEBUAH SISTEM

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Iman atau keyakinan itu kunci dan amal shaleh atau perbuatan baik adalah akibat yang dikaitkan dengan iman atau keyakinan di dalam agama. Iman saja tidak cukup dan amal kebaikan saja juga tidak cukup. Keduanya adalah berkait kelindan secara sistemik. Iman adalah dasarnya dan amal kebaikan adalah akibatnya. Oleh karena itu sering menjadi perdebatan, apakah orang yang beriman sudah memenuhi standart keislaman atau hanya amal kebaikan sudah menjadi standart keislaman.

Bagi penganut Islam, maka keduanya harus berada di dalam satu kesatuan. Tidak boleh hanya memahami dan melakukan salah satunya. Islam yang kafah bagi saya adalah orang Islam yang memahami keduanya dalam satu kesatuan. Iman yang benar, bil lisan, bil qalbi dan bil fi’li adalah iman yang benar. Lesan kita menyatakan amantu bil lisani, hati kita menyatakan amantu bil qalbi dan amalan kita menyatakan amantu bil fi’li. Jika ini yang terjadi maka sesungguhnya kita sudah berada di dalam keislaman yang benar.

Kata iman terdapat sebanyak 956 kali disebutkan di dalam Alqur’an. Sedangkan iman dan amal shaleh disebutkan sebanyak 60 kali di dalam Alqur’an. Kata iman dan perubahannya disebutkan sebanyak 31 kali. Artinya bahwa ada banyak ayat di dalam Alqur’an yang menyebutkan tentang Iman dan juga amal saleh. Jika dipertanyakan mengapa kata iman itu ada banyak jumlahnya di dalam Alqur’an tentu saja dapat dikaitkan dengan iman sebagai fundamental issue di dalam Islam. Iman adalah kata kunci untuk memahami Islam. Tanpa iman maka seluruh amal perbuatan kita yang terkait dengan kebaikan tentu akan tertolak.

Memahami bahwa iman juga dikaitkan dengan amal shaleh juga dapat diartikan bahwa iman merupakan inti dari amal shaleh. Secara teologis dapat dijelaskan bahwa ada orang yang memiliki perbuatan baik bahkan sangat baik, akan tetapi berbasis pada keimanan yang salah atau tidak sesuai dengan prinsip ajaran Islam, maka amalnya itu menjadi sia-sia. Tidak ada gunanya. Ini pandangan teologis yang tidak bisa ditawar.

Semua agama di dunia memiliki pandangan yang sama. Yaitu doktrin kemutlakan kebenaran agama. Yahudi, Katolik, Kristen, Hindu, Budha dan Konghucu, bahkan agama-agama local juga berkeyakinan bahwa iman dan perbuatan baik merupakan satu kesatuan.  Iman kepada Allah dalam agama Nasrani juga mengikat kepada umatnya, Allah dalam agama Islam juga mengikat umatnya, Yahweh dalam agama Yahudi juga mengikat umat, demikian pula Hindu dan Buddha serta Khonghucu. Semuanya mengikat atas umatnya. Jadi ukuran iman adalah bagaimana seseorang meyakini akan keberadaan atas yang dianggap suci atau Tuhan yang dilafalkan dalam Bahasa yang berbeda sesuai dengan keyakinannya.

Semua orang Islam di seluruh dunia meyakini Allah sebagai rabb atau ilah. Sebagai rabb artinya Tuhan yang mencipta, memelihara, mengatur atas kehidupan manusia dan tata surya yang teratur dan berlaku seirama dengan kehendak Tuhan. Kemudian juga Tuhan dalam konteks ilah atau pusat sesembahan. Manusia akan meyakini akan eksisteni Tuhan dalam konteks sesembahan dan pengaturan.

Di dalam Islam, misalnya di dalam Surat An Nisa’, ayat 173, sebagai berikut: “fa ammal ladzina amanu wa ‘amilush shalihati fayuwafihim ujurahum wa yazidhum min fadhlihi, wa ammal ladzinasytankafu was takbaru fayu’adzibuhum ‘adzaban alima wa yazidu lahum min dunillahi waliyyau wa la Nashira”, yang artinya; “Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, Allah akan menyempurnakan pahala bagi mereka dan menambah sebagian dari karunianya. Sedangkan orang-orang yang enggan (menyembah Allah) dan menyombongkan diri, maka Allah akan mengadzab mereka dengan adzab yang pedih. Dan mereka tidak akan mendapatkan pelindung dan penolong selain Allah”.

Coba kita perhatikan kandungan ayat ini dengan menggunakan kata-kata kuncinya. Menurut saya ada empat kunci penting, yaitu iman dan amal shaleh. Keduanya merupakan inti dari ajaran Islam. Siapapun yang memiliki keduanya, maka dia akan dijamin untuk menjadi orang yang memperoleh rahmatnya Allah SWT. Inilah yang menjadi kata kunci berikutnya yaitu kesempurnaan pahala. Artinya bahwa semakin iman kepada Allah dan semakin baik amal perbuatannya, maka akan semakin besar peluangnya untuk memperoleh kesempurnaan pahalanya. Kata kunci berikutnya adalah enggan menyembah Allah dan menyombongkan diri di hadapan Allah, maka akan besar peluangnya untuk untuk memperoleh adzab Allah SWT.

Jika dibuat gambarannya maka iman dan amal shaleh bersepadan dengan karunia dan pahala Allah, sedangkan keengganan menjalankan ritual yang sesuai dengan ajaran agama dan menyombongkan diri di hadapan Allah SWT maka bersearah dengan adzab yang pedih. Orang yang melakukan kesombongan seperti ini, maka Allah tidak akan menjadi penolongnya.

Sebagai contoh manusia yang sombong adalah Fir’aun, yang merasa karena besarnya kekuasaan yang dimilikinya lalu manusia di bawah kekuasaannya harus menyembahnya layaknya menyembah Allah SWT. Akhirnya, Fir’aun ini meninggal di laut kala mengejar Nabi Musa AS. Demikian pula Raja Namrud yang juga menganggap dirinya Tuhan, dia menikahi ibunya sendiri dan akhirnya mati hanya karena seekor nyamuk yang masuk ke dalam kepalanya. Konon dia berada di dalam kesakitan selama 400 tahun lamanya. Dia meninggal karena kepalanya dibenturkan dengan benda keras.

Dengan demikian, orang yang beriman dan beramal shalih akan memasuki surganya Allah sedangkan orang yang ingkar kepada Allah dan menyombongkan diri akan masuk ke dalam nerakanya Allah.

Wallahu a’lam bi al shawab.

LIMA CARA BERBAHAGIA

LIMA CARA BERBAHAGIA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Pagi ini, Selasa, 13/08/2024, anggota Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya memperoleh kehormatan yang sangat besar, sebab bisa mendengarkan ceramah atau taushiyah ba’da Shubuh yang disampaikan oleh Ustadz Sahid Sumitro, trainer terkemuka yang sering bicara tentang tema “Cinta, Bahagia dan Kehidupan Rumah Tangga”.

Ustadz Sahid adalah trainer yang malang melintang dalam dunia perusahaan, birokrasi dan lembaga-lembaga pelayanan public. Di antara keistimewaaanya adalah menggabungkan unsur agama, psikhologi dan realitas social yang dihadapi oleh individu dan masyarakat. Ustadz Sahid mengembangkan pemikiran Martin Seligment, ahli psikhologi positif dari Amerika, dalam membahas tentang cara memperoleh kebahagiaan.

Ada tiga hal yang disampaikannya, yaitu: pertama, semua orang sebenarnya memiliki potensi untuk bahagia. Akan tetapi kenyatannya tidak semuanya bisa memperoleh kebahagiaan. Bahkan hanya sekitar 10 persen saja yang bisa meraih kebahagiaan sementara 90 persen lainnya belum tentu bahagia. Tetapi kita sungguh bersyukur bahwa kita bisa mendapatkan suasana untuk mendukung kebahagiaan tersebut. Misalnya dengan mengikuti Ngaji Bahagia, yang persyaratannya harus tertawa sebanyak 17 kali. Di dalam otak manusia ada unsur kebahagiaan. Jika diperhatikan unsur kebahagiaan tersebut berada di kening di antara dua alis atau eyebrow. Makanya orang India memberikan tanda khusus tempat kebahagiaan bersemayam. Jika diluruskan,  arah  alis ke dalam itu ada unsur kebahagiaan di dalam otak manusia.

Kedua, ada empat aspek yang membuat kebahagiaan, yang dapat disingkat dengan PERMA. Jangan ditambah dengan S di depan kata itu. Ada empat huruf yang membentuk kebahagiaan. P adalah positive emotion atau perasaan yang selalu positif. Janganlah berpikir negative tentang segala sesuatu. Berpikirlah yang positif agar kita dapat memperoleh emosi yang positif. Salah satu cara untuk memperkuat emosi yang positif adalah selalu bersyukur kepada Allah SWT. Jangan pernah menyatakan saya sebenarnya senang tetapi karena sesuatu hal lalu menjadi berkurang kesenangan saya. Tetapi gunakanlah kata “meskipun ada yang kurang dari hasil yang kita dapatkan, akan tetapi saya tetap senang karena acaranya sukses”. Meskipun keuntungan kita minim, tetapi alhamdulillah kita tidak rugi, kita tetap senang. Syukur atas nikmat Allah SWT yang luar biasa.

E adalah engagement atau kedekatan. Kita harus merasa dekat dengan yang Maha Pencipta, kita harus merasa dekat dengan Nabi Muhammad SAW. Kita merasa dekat dengan guru-guru, kita merasa dekat dengan orang tua. Kita merasa dekat dengan istri dan anak-anak. Coba kita tanyakan kepada orang tua, apa yang sesungguhnya menjadi keinginannya. Jika kita bertanya sambil lalu, maka akan dinyatakan: “aku sudah senang melihat anak-anak semua berkecukupan dan rukun”. Jawaban yang normative. Tetapi ketika ditanya dari  hati ke hati, maka akan diperoleh jawaban: “sebelum aku meninggal saya ingin melihat ka’bah. Saya akan sangat bahagia kalau hal itu terjadi”. Maka anak-anaknya berusaha bagaimana agar orang tuanya bisa ke Ka’bah.

R adalah relevance atau cocok atau sesuai dengan apa yang kita inginkan. Jika kita ingin mendapatkan rejeki yang halal, lalu kita dapatkan, maka apa yang menjadi keinginan dan apa yang kita dapatkan akan sesuai. Hal ini akan membuat kebahagiaan. Salah satu di antara kuncinya adalah komunikasi. Dengan komunikasi yang baik, maka hidup kita akan relevan dengan siapa saja yang berhubungan dengan kita. Di dalam keluarga kita harus saling berkomunikasi dengan baik. Saling memuji dan saling menghargai. Perempuan itu memerlukan kehangatan. Perempuan itu memerlukan sentuhan fisik yang bisa membahagiakan. Jika kita mau pergi agar dicium keningnya, diajak bersalaman, dicium tangannya dan ungkapkan sesuatu yang manis yang membuat hati perempuan berbunga-bunga.

M adalah meaning atau hidup yang bermakna. Hidup akan terasa bermakna jika hidup kita dibutuhkan orang. Orang tidak membenci atas kehadiran kita. Orang tidak merasa bermasalah dengan hidup kita. Misalnya, jika di acara pengajian kita, lalu Pak Mulyanta tidak datang, maka ketidakdatangan Pak Mulyanta itu ditanyakan. Itu artinya kita merasa berada di dalam lingkungan komunitas yang saling membutuhkan. Islam mengajarkan agar kita saling berdoa untuk keselamatan. Islam itu agama yang luar biasa karena mengajarkan hambanya untuk saling menolong dalam kebaikan dan melarang untuk saling menolong dalam kejahatan dan keburukan.

A adalah achievement atau appreciation. Yaitu upaya untuk mensyukuri atas capaian siapa saja. Orang membutuhkan pengakuan akan keberhasilan.  Setiap manusia akan senang untuk dipuji karena keberhasilannya. Misalnya harus mengapresiasi atas masakan istri kita. Buatlah pernyataan yang mengakui kehebatan rasa masakannya. Jika anak kita prestasinya kurang baik, misalnya ranking 15 jangan disalahkan tetapi agar diapresiasi, misalnya dengan menyatakan: “tidak apa-apa peringkat 15, Bapak dulu di peringkat 16. Tetapi tahun berikutnya di peringkat tiga dan tahun berikutnya di peringkat satu”. Begitulah cara yang kita lakukan agar keluarga kita bahagia dan hal itu juga akan membuat kita bahagia. Kita juga harus mengapresiasi atas keberhasilan komunitas dan masyarakat kita, dan seterusnya.

Insyaallah dengan mengembangkan lima hal sebagaimana terurai di atas,  maka kita akan merasakan kebahagiaan sebagaimana yang kita inginkan. Sekali lagi bahwa kita memiliki potensi kebahagiaan dan yang bahagia itu sedikit. Jadilah yang sedikit tersebut di dalam kehidupan. Bahagia  sangat tergantung kepada nuansa kehidupan kita dan kita yang bisa merealisasikannya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

ANTARA WASHILAH DAN TAWASSUL

ANTARA WASHILAH DAN TAWASSUL

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Tema yang cukup berat dibahas di dalam Kamunitas Ngaji Bahagia (KNB) karena temanya menyangkut ajaran yang debatable di kalangan ahli dan kelompok agama. Ada pro-kontra tentang ajaran washilah dan tawassul. Tetapi menjadi relative lebih mudah karena saya tidak mengkajinya dari perspektif fiqih atau teologis akan tetapi dari dimensi sosiologisnya. Hal ini tentu karena  kapasitas saya bukan ahli fiqih yang rumit atau teologis yang sophisticated. Dari aspek sosiologis tentunya akan melihat pemahaman atau penjelasan yang bersifat pandangan dalam penggolongan social tentang washilah atau tawassul.

Ngaji Bersama itu dilaksanakan pada hari Selasa pagi Ba’da Shubuh, 06/08/2024, di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya. Pengajian ini diikuti oleh sejumlah jamaah Masjid dari Masjid Al Ihsan dan Masjid Ar Raudhah yang setiap hari Selasa ba’da Shubuh ngaji bareng. Tema ini dibahas untuk memberikan penjelasan tentang kata washilah dan tawassul yang selama ini sudah menjadi khazanah di dalam ilmu keislaman. Ada tiga hal yang saya jelaskan.

Pertama,  washilah berasal dari Bahasa Arab dalam akar kata washala dan kemudian menjadi isim washilah yang artinya adalah perantaraan atau jalan. Di dalam Al qur’an dijelaskan tentang kata washilah tersebut di dalam Surat Al Maidah 35, dengan ungkapan, yaitu: “ya ayyuhal ladzina amanut taqullaha  wabtgahu ilaihil washilata wa jahidu fi sabilihi la’allakum tuflihun”, yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah, carilah wasilah (jalan untuk mendekatkan diri) kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya agar kamu beruntung.

Kata washilah juga bisa dinyatakan sebagai perantara, misalnya terdapat di dalam doa yang dibaca setelah adzan dikumandangkan. “Allahuma rabba hadzihid da’watit tammah, wash shalatil qaimah, ati sayyidana Muhammadanil washilata wal fadhilah…”.  Yang artinya: “Ya Allah telah hadir berkumandang panggilan yang sempurna, dan  shalat yang didirikan, hadirkan junjungan Nabi Muhammad sebagai perantara dan keutamaan..”. Nabi Muhammad SAW adalah perantara untuk membangun relasi dengan Allah atau hablum minallah. Nabi Muhammad adalah perantara agung atau washilatul ‘udzma. Lewat perantaraan Nabi Muhammad maka kita dapat  menjadi hamba Allah yang bertaqwa.

Agar kita dapat berhubungan dengan benar kepada Allah,  maka sebaiknya memang relasi atau hablum minallah itu melalui Nabi Muhammad SAW. Kita menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai perantara kita kepada Allah. Ada pendapat yang menyatakan, bahwa Allah itu maha Gaib dengan kegaiban yang tiada taranya, maka yang memungkinkan kita dapat  berhubungan dengan Yang Maha Gaib adalah melalui utusannya. Nabi Muhammad SAW yang memiliki otoritas untuk berhubungan langsung dengan Allah SWT. Jika kita berhablum minallah melalui Nabi Muhammad, maka “peluang” untuk sampai kepada Allah itu lebih besar.

Kedua, tawassul berasal dari kata wassala atau berarti taqarrub atau mendekat kepada Allah. Dari kata wassala kemudian menjadi tawassul atau dapat diartikan sebagai pendekatan diri kepada sesuatu melalui perantaraan. Secara maknawi, tawassul berarti mendekatkan diri kepada orang agar mendapatkan kemudahan dalam sesuatu yang diinginkan. Jadi ada keinginan di dalam upaya pendekatan tersebut. Di dalam tradisi sebagian umat Islam, khususnya ahli tarekat, maka washilah diartikan sebagai mendekatkan diri kepada Allah melalui para guru atau mursyid tarekat agar apa yang dilakukannya itu menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kala berdzikir, misalnya dzikir tahlil baik sirri atau jahri, tersembunyi atau terucapkan, maka harus bertawassul kepada para guru atau mursyid tarekat. Diasumsikan bahwa para guru atau mursyid tarekat tersebut merupakan individu yang sangat dekat kepada Allah SWT sehingga apa yang dilakukannya itu menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Bisa juga dzikir yang dibacanya itu cepat sampai kepada Allah melewati para guru atau mursyidnya. Jika dilakukannya sendiri akan lama sampainya, akan tetapi dengan perantaraan gurunya, maka doa atau dzikir itu akan lebih cepat sampai kepada Allah SWT.

Di dalam washilah yang utama adalah orangnya atau perantaranya atau benda yang digunakan untuk menjadi perantaranya, sedangkan di dalam tawassul yang penting adalah apa yang akan diperlukan untuk diantarkan. Sebagai contoh yang paling sederhana adalah jika kita mendapatkan rezeki, maka perantaranya adalah pekerjaan yang kita lakukan. Jadi pekerjaan itulah yang menjadi washilah kita mendapatkan gaji atau rezeki. Hakikat pemberi rezeki adalah Allah SWT tetapi pekerjaan itulah yang mengantarkan kita mendapatkan rezeki dimaksud. Sementara itu tawassul adalah upaya untuk mendapatkan sesuatu sesuai dengan keinginannya melalui perantaraan lainnya.

Sebagai contoh lainnya, jika kita membaca Surat Alfatihah dengan harapan kita memperoleh berkahnya bacaan tersebut, maka ini dinamakan  tawassul dengan Alqur’an. Jika kita berkeinginan memperoleh keselamatan di yaumil qiyamah dengan membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, maka hal ini juga tawassul. Jadi di dalam tawassul dipastikan ada washilah, tetapi tidak semua washilah adalah tawassul.

Ketiga, di dalam Islam ada dua yang bisa menjadi washilah dengan otonomi memberikan syafaat kepada umat Islam, yaitu Nabi Muhammad SAW dan kitab suci Alqur’an.  Dengan demikian orang yang dapat menjadikan Nabi Muhammad dan Alqur’an sebagai penolongnya adalah orang yang mencintai Rasulullah, misalnya membaca shalawat kepada-Nya. Semakin banyak shalawat yang dibaca dengan keikhlasan dan kesungguhan, maka akan besar peluangnya untuk mendapatkan syafaat Rasulullah SAW. Itulah sebabnya ada orang yang melazimkan membaca shalawat dalam jumlah yang sangat banyak dengan tujuan mendapatkam syafaat Rasulullah SAW.

Kemudian juga membaca Alqur’an. Ada umat Islam yang hafal Alqur’an dan orang tersebut dijanjikan akan masuk surga dengan para Nabi-Nabi. Di dalam sebuah cerita yang disampaikan oleh Ustadz Abdul Shomad (UAS) dinyatakan bahwa ibunya ditanya oleh seseorang, apa doa yang dibacanya sehingga memiliki putra yang hebat, maka Ibunya menjawab bahwa setiap hari dibacakan surat Alfatihah 100 kali untuk anaknya tersebut. Hal ini menandakan bahwa bacaan Alqur’an bisa memiliki efek yang hebat, yang dapat diterima dampaknya di dunia dan juga kelak di akherat.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

SAQAR: NERAKA BAGI PENGINGKAR ALQUR’AN

SAQAR: NERAKA BAGI PENGINGKAR ALQUR’AN

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Salah satu di antara program dalam Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) adalah tahsinan yang diikuti oleh jamaah Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya. Acara ini dilakukan setiap hari kecuali Selasa untuk ceramah agama, Jum’at untuk baca Alqur’an  Surat Al kahfi. Sudah lama program ini berlangsung dan bersyukur sebab kegiatan ini terus berlangsung dengan peserta yang tetap semangat. Pada Kamis, 01/08/2024,  jamaah KNB membahas tentang Neraka Saqar, yaitu salah satu neraka yang disediakan oleh Allah terhadap orang yang ingkar atas keberadaan Allah, tidak mengakui Kenabian Muhammad SAW, tidak mempercayai kebenaran Alqur’an  dan tidak melakukan amalan shaleh.

Di dalam Islam dikenal ada sebanyak tujuh neraka, yaitu Neraka Jahannam, Neraka Saqar, Neraka Hutamah, Neraka Jahim, Neraka Ladza, Neraka Sa’ir, Neraka Jahim dan Neraka Hawiyah. Di antara tujuh nama neraka tersebut, maka yang sangat dikenal di kalangan umat Islam adalah Neraka Jahannam, Neraka Jahim, dan Neraka Sa’ir. Sedangkan Neraka Saqar, Hutamah, Ladza dan Hawiyah tidak dikenal dengan sangat memadai. Yang paling popular adalah neraka Jahannam. Bahkan jika ada orang atau anak yang nakal maka diasosiasikan dengan anak Jahannam. Begitulah masyarakat Islam, khususnya di Indonesia, mempersepsikan tentang neraka tersebut.

Neraka atau An Nar di dalam konteks ajaran Islam dikaitkan dengan nama tempat di alam akherat sesudah yaumul ba’tsi yaitu tempat penyiksaan dan menghasilkan penderitaan yang tidak terkira karena panasnya. Neraka berisi api yang terus menyala sepanjang masa yang diperuntukkan bagi orang yang ingkar akan keberadaan Allah, mengingkari kenabian Muhammad dan durhaka atas ajaran agama Islam. Mereka adalah orang yang diidentifikasi sebagai musyrik, kafir, munafiq dan dhalim. Di tempat inilah Allah akan memberikan balasan atas mereka yang berbuat seperti itu.

Berdasarkan tingkatannya, maka neraka yang paling dalam adalah Jahannam, lalu Ladza, Huthamah, Sa’ir, Saqar, Jahim dan Hawiyah. Jika dalam bentuk susunan, maka neraka yang paling atas adalah Hawiyah dan yang paling bawah adalah Jahannam. Masing-masing neraka tersebut diperuntukkan bagi orang yang sesuai dengan perilakunya. Orang yang musyrik, kafir dan munafiq itu ada di neraka Jahannam. Di dalam Surat Al Hijr, ayat 43 dinyatakan: “dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar tempat yang diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut setan) semuanya”. Pengikut Setan itu adalah orang yang menyekutukan Tuhan, mengingkari kebenaran agama dan orang yang sekali waktu percaya dan kemudian tidak percaya dan seterusnya.

Pada saat tahsinan, kita membahas tentang Neraka Saqar. Yaitu di dalam Surat Al Muddattsir, ayat 26-29. Di dalam surat ini dinyatakan: “wa ma adraka ma saqar.  La tubqi wa la tadzar. lawwahatun lil basyar.  ‘alaiha tis ‘ata ‘asyar”. Yang artinya: “tahukah kamu (neraka) Saqar. Ia (neraka) saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. Yang menghanguskan kulit manusia.” Jadi neraka Saqar itu digambarkan sebagai neraka yang akan menghanguskan tubuh manusia yang durhaka secara terus menerus. Terbakar tubuhnya lalu kembali semula dan terbakar lagi lalu begitu seterusnya. Dan neraka Saqar itu dijaga oleh sebanyak 19 malaikat.

Gambaran Neraka Saqar tersebut dinyatakan sebagai tempat bagi orang yang menganggap bahwa Alqur’an itu sihir yang dibawakan oleh Muhammad dengan mencontoh atas kitab-kitab sebelumnya, yaitu Taurat dan Injil. Memang terdapat cerita-cerita di dalam Alqur’an yang “menyerupai” cerita di dalam Taurat dan Injil. Hal ini bisa dipahami sebab Taurat atau Injil dan Alqur’an memiliki sumber yang sama sebagai Agama Semitis yang dinisbahkan kepada Nabi Ibrahim AS.

Neraka Saqar juga disediakan kepada orang yang beranggapan bahwa Alqur’an itu bukan wahyu Allah tetapi perkataan Nabi Muhammad. Alqur’an bukanlah wahyu Tuhan sebagaimana diceritakan oleh Nabi Muhammad. Dalam posisi Nabi itu sebagai orang yang Ummi atau tidak bisa membaca, maka seharusnya dipahami bahwa Nabi tidaklah pernah membaca Kitab Taurat dan Injil, sehingga jika Nabi Muhammad bisa membuat pernyataan yang indah melebihi keindahan ciptaan manusia, maka tentu harus dipahami bahwa apa yang dinyatakan oleh Nabi Muhammad adalah wahyu Allah.

Suatu ketika Musailamah al Kaddzab membuat puisi yang dinyatakan untuk menandingi Alqur’an akan tetapi hasil kreasi Musailamah itu justru menjadi bahan tertawaan. Jangankan melebih kehebatan Alqur’an, menyamai saja tidak. Begitulah Allah menurunkan wahyu dengan keutamaan yang nyata dan kelebihan yang tidak tertandingi. Makanya orang yang tidak mempercayainya diingatkan akan dimasukkan ke dalam Neraka Saqar sebagaimana diceritakan di dalam Surat Al Mudattsir.

Berbahagialah kita bisa menjadi umat Islam yang meyakini akan kebenaran kalam Allah, mempercayai eksistensi Allah dan keberadaan Nabi Muhammad, lalu juga mengamalkan ajaran agama Islam sebagaimana yang sudah kita lakukan. Dengan berbuat seperti ini, maka diharapkan bahwa Allah akan memberikan rahmatnya untuk kita terhindar dari Neraka Saqar dan sebaliknya kita dimasukkan Allah ke dalam surga.

Wallahu a’lam bi al shawab.

BARAKAH

BARAKAH

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Salah satu kebahagiaan yang saya rasakan adalah di kala bisa memberikan sedikit ceramah tentang relasi antara agama dengan masalah-masalah social di kalangan masyarakat Islam, khususnya dan masyarakat pada umumnya. Pada hari Selasa, 30/07/2024, sebagaimana biasanya, diadakanlah ngaji bersama jamaah shalat Shubuh di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya. Tradisi ngaji pada Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) selalu  diselingi dengan humor sekurang-kurangnya 17 kali. Dan pada ngaji pagi itu, saya kira memenuhi ketentuan untuk tertawa sebanyak itu.

Ada tiga hal yang saya sampaikan pada waktu mengaji dimaksud, yaitu: Pertama, barakah itu di masyarakat kita, dimaknai hanya untuk hal-hal yang terkait dengan rejeki yang berupa harta atau kekayaan. Jadi dipahami bahwa berkah itu hanya urusan ekonomi atau urusan materi. Secara maknawi, barakah di dalam Bahasa Arab, atau berkah di dalam Bahasa Indonesia, atau berkat di dalam Bahasa Jawa adalah bertambahnya kebaikan atau di dalam Bahasa Arab dinyatakan sebagai ziyadatul Khair. Para ahli ilmu keislaman menyatakan seperti itu. Jadi yang namanya berkah itu jika terjadi bertambahnya kebaikan. Jika kita mendapatkan sesuatu dan sesuatu tersebut menambah kebaikan pada diri kita, maka itulah yang disebut sebagai keberkahan atau barakah. Keberkahan tentu tidak dipahami sebagai keberkahan rezeki saja. Apalagi hanya dimaknai dengan pemahaman hanya pertambahan harta dalam bentuk uang atau asset lainnya. Berkah atau barakah memiliki sejumlah makna yang di dalamnya terdapat kebaikan demi kebaikan.

Kedua, makna berkah atau barakah sangat variative. Di antara makna yang bisa dipelajari di dalam teks Suci Alqur’an adalah keberkahan fisik yaitu pertambahan kesehatan, kekuatan atau  ketiadaan rasa sakit yang diderita. Makanya di dalam doa dinyatakan: wa afiyatan fil jasad. Jasad yang sehat atau badan yang sehat. Nabi Muhammad SAW pernah diberikan kekuatan fisik dalam melakukan Isra’ dan Mi’raj. Bagaimanakah manusia bisa berjalan dengan sangat cepat dari Mekkah ke Masjid Al Aqsha, Palestina dalam satu perjalanan dan dilanjutkan dengan perjalanan cepat menembus langit dan sampai di Sidratul Muntaha, Mustawa dan bertemu  Allah SWT. Di dalam satu pendapat dinyatakan bahwa Nabi Muhammad Mi’raj dengan fisiknya dan ada pendapat lain hanya sukmanya atau rohnya saja. Kita perlu beriman sebagaimana imannya Sayyidina Abu Bakar dengan tidak bertanya secara teologis tentang bagaimana hal tersebut dilakukan. Barakna haulahu dapat diterjemahkan sebagai Nabi Muhammad SAW dikelilingi dengan kekuatan fisik yang sangat hebat sehingga bisa menembus sebagaimana kekuatan melebihi cahaya.

Barakah juga bisa dimaknai sebagai  ziyadatul khoir fil ‘ilmi. Bertambahnya kebaikan di dalam ilmu. Maknanya jika kita memiliki ilmu, maka ilmu tersebut akan menambah kebaikan untuk diri dan masyarakat. Ilmu yang bermanfaat bagi diri dan orang lain. Bukankah pahala ilmu yang beramanfaat itu akan terus berlangsung meskipun orangnya sudah wafat. Al ilmu yuntafa’u bih. Ilmu yang bermanfaat bagi dirinya.  Yang bisa memanfaatkan ilmu bukan hanya guru, dosen atau penceramah, akan tetapi kita semua bisa memanfaatkannya. Ilmu yang tidak hanya berhenti pada pengetahuan akan tetapi menjadi amalan. Di kala kita bisa mengamalkan ilmu, maka ilmu itu bermanfaat.  Jika ada orang lain yang mencontoh ilmu tersebut untuk diamalkan maka kita telah memperoleh manfaatnya ilmu. Misalnya, saya melakukan puasa Senin Kamis sebagaimana diceritakan oleh Pak Suryanto, maka secara tidak langsung saya mendapatkan manfaat ilmu dan demikian pula Pak Suryanto. Gampang untuk menjadikan ilmu bermanfaat.

Lalu barakah dalam makna ziyadatul khoir fil iqtishadiyah yaitu bertambahnya kebaikan di dalam perekonomian khususnya rezeki yang berupa harta, kekayaan dan kekuasaan. Jika secara ekonomi kita bertambah hartanya atau asetnya dan harta atau  asset tersebut tidak menambah kebaikan, maka artinya harta dan asset kita tidak berbarakah. Tetapi jika pertambahan harta dan asset tersebut lalu berguna untuk masyarakat maka berarti bahwa asset dan harta tersebut bermanfaat. Allah sudah menyediakan washilah atau perantara atau instrument agar harta dan asset kita bermanfaat, yaitu dengan zakat, infaq, sedekah dan wakaf. Agama yang paling komplit dalam ajaran pilantropi adalah Islam. Melalui instrument tersebut dapat mengantarkan umat Islam untuk mencintai amalan shalihan berupa infaq ke masjid, zakat dan sedekah ke anak-anak yatim dan juga memberikan wakaf dalam bentuk harta tidak bergerak atau wakaf uang.

Ketiga, semua variasi ziyadah tersebut kemudian berada di dalam konteks ziyadatul khoir fiddin. Jadi ujung akhir dari semua ziyadah tersebut adalah keberagamaan kita menjadi semakin baik. Dunia spiritualitas kita semakin luar biasa. Shalat makin baik, puasa semakin baik, wirid semakin banyak dan terstruktur, dan zakat juga semakin bertambah. Akan menjadi hebat lagi jika kita melakukannya justru bukan kala banyak uang, akan tetapi juga tidak melupakan pilantropi  di saat rezeki ekonomi kita tidak sebaik sebelumnya. Alladzina yunfiquna fis sarrai wadh dharrai, Orang-orang yang berinfaq di kala sempit dan ulaika humul muflihun, mereka adalah orang-orang yang beruntung.

Wallahu a’lam bi al shawab.