• June 2026
    M T W T F S S
    « May    
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    2930  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

MEMOHON KEPADA ALLAH DENGAN DOA

MEMOHON KEPADA ALLAH DENGAN DOA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Pada Sabtu malam di Masjid Al Ihsan diselenggarakan acara tarawih, witir dan ceramah agama. Sesuai jadual,  30/03/2024, seharusnya yang memberikan taushiyah adalah Ustadz Drs. Ahmad Rofiq, SH, MH. Akan tetapi ternyata Ustdz Rofiq berhalangan hadir, sehingga saya yang diminta oleh takmir masjid untuk menggantikannya. Tentu saja perintah ini saya laksanakan sebagai konsekuensi atas keberadaan masjid yang berada di dekat rumah.

Oleh karena itu, di dalam acara kultum ini, saya menyampaikan beberapa hal terkait dengan kehidupan kita sebagai muslim di Indonesia. Ketiga hal tersebut saya kaitkan dengan doa yang lazim dibaca oleh Imam Shalat Rawatib di Masjid Al Ihsan. Yaitu Ustasdz Firdaus, Ustdz Alief dan Ustadz Syawwal, Ustadz Alief Rifqi dan Syawwal  adalah mahasiswa UINSA, sedangkan Ustdz Firdaus adalah  alumnus UINSA. Ketiganya  hafidz Alquran.

Saya mengawali ceramah ini dengan menjelaskan mengenai salah satu doa yang sering kita panjatkan kepada Allah SWT. Nyaris setiap berdoa,  imam masjid Al Ihsan membaca doa tersebut. Memang doa tersebut  merupakan permohonan kepada Allah SWT agar doa tersebut dikabulkan. Doa menjadi mujarab, dan pemohonan kita tentang apa yang didoakan diterima oleh Allah SWT. Doa tersebut adalah: Rabbana taqabbal minna du’a ana , innaka antas sami’un ‘alim, wa tub alaina innaka antat tawwabur rahim”. Yang  artinya: Wahai Tuhan kami terimalah doa kami, sesungguhnya Engkau adalah Dzat yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui, dan engkau adalah Dzat yang memberi ampunan, sesungguhnya Engkau Dzat yang maha pengampun”.

Doa ini sangat luar biasa dan memang harus sering kita baca seirama dengan doa apa saja yang kita panjatkan kepada Allah SWT. Jangan pernah ragu untuk memohon kepada Allah dengan permohonan yang tulus dan mengharap dengan sebenar-benarnya tentang permohonan tersebut. Jika kita sungguh-sungguh dalam berdoa tentu tidak ada halangan Allah untuk mengabulkannya. Tetapi yang penting bahwa kita harus dalam keadaan suci atau sedang dalam keadaaan berwudhu. Allah itu Maha Suci dan tentu akan senang jika orang yang berdoa dalam kesucian. Doa tersebut akan bisa menggambarkan siapa sesungguhnya manusia.

Pertama, doa dapat menggambarkan bahwa manusia adalah makhluk yang dhaif. Makhluk yang lemah. Manusia merupakan makhluk yang tidak memiliki daya dan kekuatan yang hebat sehingga bisa menaklukkan alam. Berhadapan dengan sesama makhluk, misalnya harimau saja manusia akan kalah jika manusia tidak memiliki kelebihan khusus. Coba kalau kita datang ke Kawah Bromo lalu berdirilah di bibir kawahnya, maka akan menunjukkan betapa kecilnya manusia itu di hadapan alam. Belum lagi berhadapan  dengan kekuasaan dan kekuatan Allah SWT.

Tentu ada manusia khusus yang bisa menundukkan binatang buas,  misalnya Syekh Abdul Jalil di kala berguru kepada Pendeta Buddha, Namanya Samsitawratah, lalu Syekh Abdul Jalil dan kawan-kawannya pergi ke hutan lalu bertemu dengan seekor harimau yang besar. Kawan-kawannya melarikan diri, sedangkan Syekh Abdul Jalil sendiri bertemu. Maka dengan doa yang dibacanya, maka harimau itu justru menunduk lalu menjilati Syekh Abdul Jalil dan menghormatinya. Karena kelebihan ilmu itu,  Syekh Abdul Jalil justru bisa berteman dengan Harimau.

Tetapi secara umum manusia itu lemah. Tetapi Allah memberinya kemampuan akal yang luar biasa. Allah memberikan Rational intelligent, sehingga dapat menciptakan senjata untuk bisa membunuh harimau bahkan untuk membunuh sesama manusia. Manusia dengan kemampuan akalnya dapat menciptakan hal-hal baru, misalnya teknologi sehingga manusia dapat hidup lebih baik. Makanya yang Maha Kuat adalah Allah SWT. Kita sebagai umat Islam harus menyatakan: la haula wa la quwwata illa billah”. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali daya dan kekuatan Allah SWT.

Kedua, melalui doa tersebut, maka kedudukan manusia adalah pemohon. Bukan kita sebagai makhluk yang menentukan apakah doa kita diterima atau ditolak oleh Allah. Dalam  hal ini, maka Allahlah yang menentukan. Manusia berusaha Tuhan yang menentukan. Man proposes God disposes. Manusia adalah makhluk yang memohon pertolongan. Ada syaratnya orang memohon, yaitu sebagaimana di dalam teks Surat Al Fatihah: iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in. kepada MU ya Allah kami menyembah dan kepada MU ya Allah kami memohon. Jadi harus mengabdi dulu, harus menyembah dulu dan baru memohon kepada Allah. Jadi jangan berkali-kali memohon tetapi tidak pernah mengabdikan diri kepada Allah SWT. Jalani dulu ibadahnya dan baru memohon kepada Allah SWT. Jika kepada manusia, maka kita harus bertolong menolong dalam kebaikan dan taqwa, artinya kita harus saling berwasiat untuk berbuat baik dan mengingatkan agar terus bertaqwa kepada Allah SWT. Dilarang oleh Allah untuk saling menolong dalam kejahatan dan keburukan.

Ketiga,  di dalam berdoa kita meyakini bahwa Allah yang Maha Besar. Allahu Akbar. Dengan berdoa itu akan meneguhkan bahwa manusia adalah makhluk yang dhaif dan Allah adalah Dzat yang Maha Besar. Jadi tidak salah jika itu berdzikir dengan ucapan Allahu Akbar, Allahu Akbar sebanyak 33 kali setelah selesati sholat maktubah. Dzikir ini untuk meneguhkan akan kekuasaan dan kekuatan Allah SWT. Allah itu Maha Besar. Allah itu Maha Kuasa. Tidak ada satu makhluk pun yang melebihi kekuasaan dan kekuatannya.

Oleh karena itu di dalam berdoa agar hati kita meyakini bahwa hanya Allah saja yang akan mengabulkan doa dan permohonan kita. Yakin dan tawakkal kepadanya. Hanya saja tentang doa tersebut adakalanya memang segera dikabulkan, ada yang ditunda bahkan ada yang dikabulkan nanti kala di akherat. Yang penting jangan berputus asa untuk berdoa kepada Allah SWT.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

 

 

AMAL SHALIH SEBAGAI TOLOK UKUR KEHIDUPAN

AMAL SHALIH SEBAGAI TOLOK UKUR KEHIDUPAN

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Sebagaimana biasanya, maka setiap malam pada malam Ramadlan dilakukan acara kultum atau kependekan dari kuliah tujuh menit sebagai bagian dari acara ritual shalat tarawih dan witir yang nyaris dilakukan oleh  masyarakat di seluruh Indonesia. Saya tidak tahu kapan istilah kultum itu dipakai sebagai istilah public untuk menandai ceramah agama yang dilakukan secara rutin dalam waktu yang tidak panjang. Kira-kira berkisar 15-20 menit saja.

Di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya juga diadakan acara kultum pada setiap malam pada Bulan Ramadlan. Acara yang melekat pada ritual tarawih dan witir. Kali ini, 27/03/2024, yang memberikan ceramah agama adalah Ustdz Dr. Cholil Umam, Dosen Program Studi Bimbingan Konseling Islam pada Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Ampel Surabaya. Ceramahnya tidak panjang tetapi mengena dan sesuai dengan kebutuhan siraman rohani pada jamaah masjid tersebut. Tema ceramahnya adalah kata ahsan. Disampaikannya ahsan itu mirip nama masjid ini, Al Ihsan. Ada tiga hal yang disampaikannya, yaitu:

Pertama, fi Ahsani taqwim. Manusia itu diciptakan Allah sebagai sebaik-baik makhluk. Manusia itu dibandingkan makhluk lainnya di dunia ini dinyatakan oleh Allah sebagai sebaik-baik makhluk. Karena manusia memiliki kelengkapan inteligensi yaitu inteligensi rasional, inteligensi emosional, inteligensi social dan inteligensi spiritual.

Jadi kita ini makhluk terbaik. Makanya manusia itu juga harus berpenampilan yang baik. Supaya menjadi lebih baik. Kita punya baju yang baik, kita punya sarung yang baik, kita punya kopyah yang baik, kita punya celana yang baik, maka yang baik-baik tersebut harus dipakai. Yang baik tidak mesti yang baru. Yang baik di dalam agama itu adalah kebersihannya dan keterbebasannya dari najis. Kalau sarung tidak harus bermerek BHS.

Oleh karena itu, jika kita shalat hendaknya dipakai pakaian yang terbaik, yang bersih dan tidak ada najisnya. Islam mengajarkan: “annadhofatu minal iman”, kebersihan merupakan sebagian dari iman. Kita menjadi senang jika melihat seseorang yang pakaiannya bersih, rapi, potongan rambutnya rapi, jika berkumis ditata yang rapi, kalau berjenggot juga rapi.  Tentu  saja semua itu menggambarkan tampilan terbaik bagi umat Islam.

Kedua, ahsanu qaulan atau perkataan yang terbaik atau sebaik-baik perkataan. Islam itu mengajarkan kepada  kita agar tutur kata kita merupakan  perkataan yang baik. Perkataan yang membuat orang lain sebagai lawan bicara  menjadi senang dan bahagia. Kalau kita berkata, maka  perkataan kita adalah perkataan yang lemah lembut yang membuat orang yang menjadi lawan pembicaraan itu menjadi senang dan bahagia. Kita memang harus berhati-hati di dalam berbicara. Terkadang tidak kita sadari bahwa pembicaraan kita ternyata menyakitkan hati orang. Pembicaraan tersebut dapat membuat orang tidak nyaman. Oleh karena itu setiap pembicaraan harus selalu  terukur kebaikannya. Perkataan demi perkataan yang kita ucapkan harus sesuai dengan berutur kata yang baik. Terkadang kita juga harus diam. Sebagaimana hadits Nabi  Muhammad SAW: falyaqul  khairan auliyasmuth, berkatalah yang baik atau lebih baik diam. Makanya ada yang menyatakan diam itu emas. Kita itu hidup dalam relasi social yang kompleks. Makanya kita harus hati-hati dan menjaga diri terutama dalam bertutur kata agar persahabatan atau perkawanan dengan orang lain itu akan terus berlangsung dengan kebaikan-kebaikan.

Ketiga, ahsanu amalan atau sebaik-baik amal perbuatan. Amal perbuatan itu tidak hanya amal perbuatan yang ditujukan kepada umat manusia tetapi juga amal perbuatan untuk Allah SWT. Amal perbuatan yang ditujukan kepada manusia adalah amal perbuatan yang berupa kebaikan yang mendahulukan kemaslahatan umum artinya bahwa perbuatan tersebut bisa membuat orang yang terkenai perbuatan menjadi senang.

Perbuatan yang kita lakukan tersebut memiliki makna kebaikan tidak hanya untuk diri kita tetapi juga untuk orang lain. Di dalam Bahasa Jawa dinyatakan: “wong liyo melu gumuyu” atau orang lain ikut menikmati dengan tersenyum. Perbuatan  kepada orang lain tersebut didasari oleh ajaran Islam. Sebuah perbuatan yang tidak menyakitkan orang, yang tidak menyusahkan orang dan perbuatan yang tidak membawa dampak buruk bagi orang lain. Jika kita ditakdirkan kaya, maka dalam relasi social kita tidak angkuh, sombong atau merasa yang paling hebat. Jika ditakdirkan menjadi pejabat, maka yang dilakukan adalah untuk kepentingan umat. Jika membuat kebijakan public, maka kebijakan tersebut berguna dan bermanfaat bagi orang lain atau rakyat.

Contoh lainnya, jika kita kaya maka kita mengeluarkan sedekah, infaq dan zakat. kita dapat  berbagi dengan orang lain yang membutuhkan. Sebagian harta kita  ada milik kaum dhuafa’, maka harus dikeluarkan sesuai dengan kadar kemampuan yang dimiliki. Contoh lainnya, jika ada orang yang kesulitan ekonomi maka bisa dibantu sesuai dengan kemampuan. Sedekah itu bisa menghilangkan bala’ sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW: ashshadaqatu tadfa’u lil bala’ atau sedekah itu dapat dapat menghindarkan dari bala’ atau menghilangkan kesulitan, kesusahan dan mara bahaya. Orang yang bahagia adalah orang yang bisa terhindar dari kesulitan besar atau kecil.

Ketiganya tidak berdiri sendiri-sendiri tetapi three in one. Ketiganya merupakan system yang saling terkait. Tidak bisa dipisah-pisah tetapi harus menjadi satu kesatuan. Oleh karena itu, orang yang baik adalah orang yang penampilannya baik atau menyenangkan orang, perkataan yang terbaik sehingga merasa senang bergaul dengannya dan perilakunya juga yang terbaik atau membawa manfaat bagi orang lain.

Sesungguhnya Allah menciptakan manusia untuk saling bergaul dengan kebaikan. Manusia harus mengedepankan kebaikan-kebaikan dalam relasi social. Oleh karena itu, jika kita menginginkan kebaikan dari orang lain, maka kita juga harus melakukan kebaikan kepada orang lain. Jika kita dapat melakukannya, maka kehadiran kita akan dirindukan orang, kehadiran kita dinantikan orang dan kita akan dapat merasakan kebahagiaan bersama-sama.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

NIKMAT IMAN YANG TAK TERNILAI

NIKMAT IMAN YANG TAK TERNILAI

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Iman kepada Allah merupakan substansi di dalam ajaran Islam. Yang lain-lain merupakan konsekuensi atas keimanan kita kepada Allah dimaksud. Jadi, kalau orang sudah beriman kepada Allah lalu baginya terdapat kewajiban sebagai umat Islam yang harus dipenuhi. Sebagai substansi maka iman merupakan urusan batin atau hati manusia, tetapi berimplikasi atas lesan, pikiran dan tindakan. Iman merupakan inti dari semua tindakan di dalam beragama.

Manusia dapat hidup karena tiupan roh dari Allah. Artinya, bahwa di dalam diri manusia sesungguhnya terdapat esensi ketuhanan. Makanya di dalam diri manusia sesungguhnya terdapat kesamaan antara Roh manusia dengan esensi ketuhanan. Jadi manusia mestilah memiliki keyakinan akan keberadaan Tuhan. Ada gelombang yang sama antara manusia yang mendapatkan tiupan roh dari Allah dengan keberadaan Allah. Di dalam diri manusia terdapat gelombang ketuhanan.

Hanya saja, gelombang ketuhanan tersebut bisa tereduksi di dalam pengaruh kehidupan duniawi. Di dalam sebuah cerita tentang Malaikat Harut dan Marut yang diturunkan ke bumi dan dilengkapi dengan instrument kemanusiaan, maka kedua Malaikat tersebut lalu berlaku seperti manusia yang memiliki hawa nafsu. Dan akhirnya nafsu amarah atau nafsu biologisnya yang mengedepan dan menjadi malaikat yang terpenjara di dalam kekhilafan. Padahal semula adalah malaikat yang hanya memiliki kepatuhan dan ketundukan kepada Allah saja. Begitulah pengaruh dunia atas nafsu manusia. Meskipun manusia sudah pernah berjanji akan keberadaan Tuhan sewaktu di alam roh, akan tetapi kemudian berpaling dari kepercayaannya tersebut karena factor duniawii.

Allah melambangkan orang yang dipengaruhi harta sebagai Qarun, orang yang dipengaruhi oleh kekuasaan seperti Namrudz, atau orang yang dipengaruhi oleh pemahaman ashabiyah seperti Ibnu Muljam dan sebagainya. Jika Qarun dan Namrudz memang orang yang tidak percaya Tuhan Allah karena dua-duanya menciptakan Tuhannya sendiri, maka Ibnu Muljam adalah orang yang sangat mempercayai keberadaan Allah bahkan guru ilmu Alqur’an, namun akhirnya harus membunuh Sayyidina Allah Karramahullahu wajhah karena faksi politik yang terjadi kala itu.

Berdasarkan atas cerita ini, maka bisa dipahami bahwa ada iman yang tidak menyelamatkan, dan ada yang tidak beriman yang memang tidak terselamatkan. Orang beriman kepada Allah dengan segala atribut keimanan yang sudah dilakukannya, tetapi menjadi tidak selamat sebab terlalu mengagungkan pembenaran atas perilakunya sendiri. Truth claimed yang berlebihan memang bisa membahayakan diri sendiri dan orang lain.

Sebenarnya kita termasuk orang yang beruntung. Kita bisa mengaktualkan iman yang sudah kita perjanjikan dengan Allah. Kala kita hidup di dunia, maka kita beriman kepada Allah tanpa bertanya apakah dzat Allah itu, terdiri dari apa dzat Allah itu dan tidak bertanya bagaimana Allah itu menciptakan tata surya dengan segala kelengkapannya. Cukup bagi kita bahwa Allah itu Maha Kuasa, Allah itu Maha Mencipta, Allah itu Maha Tahu, Allah itu Maha Kasih Sayang  dan sejumlah sifat yang melekat atas kekuasannya. Yang  dibuktikan adalah produk di dalam tata surya dengan menggunakan perangkat teknologi telescope untuk mengamati tata surya dan segenap galaksi yang terdapat di dalamnya.

Mari kita bayangkan ada sekian banyak orang yang mendapatkan petunjuk melalui jalan berliku penuh dengan cobaan. Saya ingin mengambil contoh istrinya almarhum Adjie Massaid, Angelina Sondakh mantan Putri Indonesia, yang mendapatkan hidayah untuk masuk Islam. Begitu masuk Islam,  maka silih berganti cobaan dan penderitaan yang dialaminya. Suaminya tiba-tiba meninggal sewaktu main futsal, lalu tersandung kasus yang mengharuskannya mendekam di penjara dalam waktu yang sangat lama, 12 tahun, sementara anaknya masih kecil. Untungnya, Angelina ini berada di dalam keluarga yang memiliki pemahaman agama yang lentur meskipun keluarganya beragama Kristen. Begitu dahsyatnya cobaan yang dialaminya. Tidak terbayangkan bagaimana penderitannya tersebut. Dari seorang perempuan yang menjadi idola perempuan Indonesia karena kecantikannya, menjadi anggota DPR yang berwibawa,  lalu harus terjerembab di dalam kehinaan menjadi narapidana.

Namun keyakinannya akan agama Islam sama sekali tidak luntur. Di dalam penjara itu Anggi justru belajar agama, belajar mengaji Alqur’an dan melakukan ibadah sebagaimana yang diwajibkan di dalam Islam. Untuk menjadi muslim ternyata harus melalui jalan yang sangat berliku penuh tantangan dan tidak mudah untuk melampauinya. Tetapi hidayah tersebut sudah melekat di dalam jiwa dan batinnya sehingga tidak menggoyahkannya untuk kembali kepada keyakinan lamanya.

Inilah iman yang sangat misterius. Keyakinan akan adanya Tuhan yang sudah dilampaui manusia dalam kurun waktu 4.000 tahun sebelum masehi hingga sekarang. Iman yang menjadikan manusia melakukan kebaikan dengan semangat beribadah kepada Tuhan dan etos relasi social yang baik dengan sesama manusia dan juga etika atas pentingnya menjaga ekosistem alam yang baik dan membawa manfaat bagi kemanusiaan.

Kita ini orang yang tanpa berjuang sudah menjadi orang Islam. Kita menjadi muslim tanpa berjuang untuk menjadi muslim. Iman kita itu  given atau diberikan begitu saja oleh Tuhan  Allah kepada kita. Iman yang tidak dicapai by achievement. Iman yang dilalui dengan perjuangan yang sangat berat, tetapi iman yang kita dapatkan karena factor orang tua dan lingkungan kita.

Oleh karena itu sudah sepantasnya jika kita bersyukur kepada Allah yang telah memberikan iman itu kepada kita. Iman yang kita peroleh tanpa perjuangan. Kita sudah menjadi muslim bahkan sebelum lahir. Kala lahir sudah diadzani, diajari shalat kala usia enam tahun, belajar Alqur’an pada usia enam tahun dan bahkan bisa mengikuti Pendidikan agama di Pondok pesantren.  Alangkah nikmatnya kita ini telah menjadi muslim semenjak kita lahir, dan coba dibayangkan dengan orang yang di kala dewasa baru memperoleh hidayah dan melalui jalan yang sangat berliku.

Marilah iman yang sudah menjadi bagian di dalam hidup itu  kita pelihara, kita pertahankan dan kita tingkatkan kapasitasnya melalui berbagai macam cara untuk memelihara, mempertahankan dan meningkatkannya. Insyaallah kita adalah orang yang selamat karena keimanan kita kepada Allah SWT.

Wallahu a’lam bi al shawab.

JAGA IMAN KITA  BERTAMBAH  BUKAN BERKURANG

JAGA IMAN KITA  BERTAMBAH  BUKAN BERKURANG

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Sebagaimana yang sudah sering saya nyatakan bahwa iman merupakan keyakinan atas hal yang abstrak bahkan sangat abstrak karena terkait dengan kegaiban berbasis ajaran agama. Memang agama itu berisi tentang kegaiban, selain juga ada ajaran yang tidak berisi kegaiban. Bahkan ada kegaiban yang karena peran sains lalu menjadi hal yang  emprik. Saya sudah banyak menjelaskan tentang hal ini. Di antaranya tentang peristiwa mi’raj Nabi Muhammad SAW yang berdasarkan penjelasan antariksawan NASA bersesuaian dengan indikator-indikator di dalam Alqur’an.

Di dalam agama, Iman itu harus diyakini dan tidak boleh ada keraguan di dalamnya. Manusia diharuskan untuk meyakini hal-hal yang gaib, seperti keberadaan Allah yang Maha Gaib, Malaikat yang gaib, hari kiamat yang masih gaib, dan juga tentang Kitab Suci dan Rasul. Di dalam Surat Al Baqarah, dijelaskan “Alif lam Mim, dzalikal kitabu la raiba fihi hudal lil muttaqin. Alladzina yu’minuna bil ghaibi wa yuqimunash shalata wa mimma razaqnahum yunfiqun…”. Artinya: “alif lam mim, Kitab (Alqur’an ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan shalat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka”.

Islam mengajarkan kepada kita tentang keyakinan atas kegaiban, melakukan shalat dan menafkahkan rezeki yang didapatkannya. Jadi kalau kita mengaku sebagai orang Islam maka kita harus meyakini dunia kegaiban sebagaimana diajarkan oleh Islam, yaitu iman kepada Allah, malaikat, kitab suci, rasul, takdir dan hari kiyamat. Inilah substansi keimanan di dalam Islam. Tetapi yang paling mendasar adalah keyakinan tentang eksistensi Tuhan tetapi akan berimplikasi atas keyakinan pada  malaikat, rasul, kitab suci, takdir dan hari akhir. Saya menyatakan sebagai implikasi sebab keimanan atas yang lain itu adalah kepercayaan atas ciptaan Allah. Jadi iman yang substantif adalah iman kepada Allah. Jika kita sudah percaya kepada Allah, maka hal-hal lain diharuskan mengikutinya.

Iman itu dunia kegaiban yang posisinya di luar kebenaran empiris sensual dan kebenaran empiris rasional. Iman itu berada di luar kemampuan observasi dan rasio. Jadi kalau seseorang menggunakan keduanya dipastikan tidak akan menemukan kegaiban Tuhan. Dia akan jatuh ke dalam atheisme atau gnotisisme. Meskipun kita tidak mampu membuktikan iman kita kepada Allah dengan berbagai perangkat yang ada di dalam diri kita, tetapi kita sudah mempercayainya. Kita bersyukur bahwa meskipun kita tidak tergolong dalam golongan orang khusus, misalnya para sahabat, tabiin dan tabiit-tabiin termasuk pada waliyullah, akan tetapi karena factor lingkungan maka kita menjadi orang Islam yang percaya secara penuh atas keberadaan Allah.

Manusia tidak memiliki perangkat yang memadai untuk membuktikan atas keberadaan Tuhan. Kita tidak bisa masuk ke dalam dunia kegaiban. Jangankan membuktikan keberadaan Allah,  untuk membuktikan ciptaan Allah seperti makhluk Jin saja kita tidak mampu. Memang ada orang yang bisa memasuki alam Jin dan ini bisa dipelajari, akan tetapi  hanya orang khusus yang bisa melakukannya dan berhasil. Ada orang yang bisa melihat kegaiban dunia jin dan seperti riil adanya.

Iman adalah dunia gaib, maka juga pantas jika manusia sebagai makhluk fisikal lalu terkadang mempertanyakan tentang keimanan itu. Ada yang bertanya dan kemudian kebablas bahkan keluar dari jalur keimanan dan berakhir dengan gnostik atau atheis dan murtad dari ajaran agama.   Mereka orang yang kritis terhadap ajaran agama, khususnya dalam dimensi keyakinan kepada Tuhan dan kemudian terus mencari identitas keyakinannya namun demikian justru tidak ditemukannya. Ada  orang yang semula sangat religious tetapi karena belajar tentang Marxisme, sosialisme dan komunisme lalu berakhir dengan sikap atheism. D.N. Aidit, tokoh PKI adalah seorang santri dari Sumatera Barat, tetapi karena terlibat dalam proyek komunisme internasional, maka berubah pemikirannya menjadi komunis yang atheis.  Jadi seseorang bisa berkurang atau berubah keimanannya  karena factor pembelajaran atau bacaan atas apa yang dikajinya atau kebiasaan yang kemudian akhirnya menjadi ideologi. Jika demikian, maka akhirnya iman akan berkurang bahkan berubah.

Iman juga dapat bertambah artinya perasaan, hati dan pikiran kita semakin meyakini akan keberadaan Allah. Di dalam hal ini iman dapat bertambah jika memang ada stimulus yang menjadi motif penyebabnya. Ada kalanya bacaan dapat memperkuat iman kita. Kalau kita membaca di Youtube tentang kejadian-kejadian di dalam tata surya atas hasil kajian para scientis, maka kita akan merasakan bahwa alam itu sedemikian rumitnya tetapi ada kekuatan yang mengaturnya. Semua berada dalam garis edarnya dan tidak terjadi tabrakan antar galaksi di dalam tata surya kita.

Kiamat itu diprediksi akan terjadi jika tata surya sudah tidak lagi beredar dalam garis edarnya sehingga antara satu dengan lainnya bertabrakan dan menjadikan  tata surya mengalami kerusakan. Alqur’an sudah menjelaskan banyak hal di dalam Juz 30 di dalam Alqur’an. Misalnya Surat Al Zalzalah, Surat Al Qira’ah, Surat al Insyiqaq dan sebagainya. Surat-surat di dalam juz 30 ini merupakan tandzir atau peringatan bagi manusia bahwa hari akhir itu ada dan harus dipercayai dan hal ini sesuai dengan penelitian di bidang sains.

Oleh karena itu marilah kita jaga iman kita agar iman terus berada di dalam diri kita. Jangan sampai yang sudah tertanam di dalam lubuk bertahun-tahun kemudian terpengaruh oleh factor dari luar diri kita apapun factor tersebut. Bisa factor bacaan, factor perkawanan, factor pernikahan dan sebagainya. Kita jaga sepenuh jiwa dan raga, agar iman tetap bersemayam di dalam diri kita.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

 

 

MENJAGA IMAN ITU PENTING

MENJAGA IMAN ITU PENTING

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Sesungguhnya ada banyak doa yang kita panjatkan kepada Allah SWT agar iman kita selalu terjaga. Di antara doa tersebut diungkapkan dalam pernyataan: “tsabbit imanana, imanan shadiqan, dan imanan kamilan dan lain-lain. Prinsipnya bahwa kita memerlukan keteguhan iman agar sebagai penganut agama maka kita bisa  selamat fid dini, waddunya wal akhirah. Doa di dalam Islam sangatlah penting. Saya menyatakan ada trilogy kehidupan yang sangat mendasar yaitu “usaha, doa dan tawakkal”.

Iman merupakan konsep yang abstrak karena menyangkut kegaiban di dalam agama. Tidak ada peluang orang membuktikan tentang keimanan sebagaimana ilmu pengetahuan, yang empiris logis, dan empiris rasional. Tidak ada peluang sama sekali, karena Tuhan itu bukan suatu dzat yang bersifat bendawi. Allah merupakan kegaiban di dalam agama yang harus diyakini keberadaannya. Orang hanya percaya atau tidak. Jika percaya maka akan berlaku hukum dalam kaitannya dengan kepercayaannya itu. Misalnya harus menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya, kapan dan di mana saja. Selama yang bersangkutan sudah mukallaf  atau dapat dikenai hukum Islam, maka yang bersangkutan harus menjalankan agamanya berbasis pada keyakinannya tersebut.

Memang berdasarkan atas temuan-temuan tentang tata surya  yang sedemikian rumit tetapi teratur, dan juga penciptaan manusia yang rumit tetapi teratur dan berbagai berita di dalam Alqur’an yang akhirnya dapat dibuktikan secara empiris, misalnya penemuan garam di dalam mulut Fir’aun yang menandai kebenaran ayat Alqur’an atau bulan terbelah di dalam mu’jizat Nabi Muhammad SAW dan bukti bahwa Bulan memang memiliki tanda pernah terbelah, maka keyakinan akan keberadaan Tuhan itu semakin nyata. Benarlah ungkapan Allah SWT bahwa manusia dimintanya untuk memikirkan dengan ilmu tentang ayat-ayat keberadaan Allah dan bukan berpikir tentang dzat Allah. Tafakkaru fi khalqillah wa la tafakkaru fi dzatillah. Berpikirlah akan ciptaan Allah dan jangan berpikir tentang dzat Allah.

Dzat Allah merupakan kegaiban kubra yang akal manusia tidak akan mampu untuk menjangkaunya. Wa ma utitum minal ilmi illa qalila. Yang artinya kurang lebih: “dan tidak diberi ilmu kepadamu kecuali sedikit.”  Tetapi manusia sudah sampai untuk membuktikan tentang big bang, lobang hitam, batas langit yang tak bertepi dan sebagainya dengan menggunakan teropong Hubble. Dan melalui penglihatan jarak yang sangat jauh tersebut, maka manusia sampai pada kesimpulan bahwa tata surya dan segenap kerumitan dan keteraturannya hanya diciptakan oleh Akal Sempurna atau Akal Agung yang Maha Agung. Dan itulah yang kemudian diyakini sebagai Allah SWT dengan segala atribut yang melekat pada kekuasaan yang Maha Besar atau Omnipotence dan yang Maha Tahu atau Omniscience.

Iman akan dapat berkurang  bahkan hilang jika tidak dirawat dengan baik. Untuk merawat iman, maka ada tiga hal yang harus dilakukan oleh yang mempercayainya. Pertama, berusaha untuk merawatnya dengan melakukan perbuatan baik yang diwajibkan oleh Islam. Agama Islam itu momot dengan amalan-amalan yang berbasis pada value Islam. Islam mengajarkan agar manusia melakukan relasi dengan Tuhan melalui ritual-ritual yang diwajibkan atau disunnahkan. Yang wajib seperti syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji bagi yang mampu. Semua ibadah adalah puncak relasi dengan Allah melalui skema ajaran yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW. Bahkan dalam beberapa hal, ibadah itu akan mendapatkan pengesahan jika melalui washilah kepada Nabi Muhammad SAW. Umat Islam Indonesia di dalam kebanyakan melakukannya melalui washilah kepada Nabi Muhammad SAW atau para ulama yang memiliki kedekatan kepada Allah SWT. Manusia juga harus membangun relasi yang baik dengan sesama manusia. Allah mengabarkan bahwa ibadah yang sebenarnya dapat dilakukan sendiri, akan tetapi jika dilakukan dengan berjamaah, maka pahalanya akan berlipat ganda. Allah menyatakan bahwa manusia yang kaffah adalah manusia yang dapat menjalankan agamanya secara utuh sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad SAW. Akan tetapi karena kita tidak semasa dengan Nabi Muhammad SAW maka kita beribadah sesuai dengan tafsir para ulama yang tidak diragukan kapasitasnya sebagai ahli tafsir dalam bidang Alqur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW, yang menghasilkan ilmu fiqih yang menjadi basis bagi pelaksanaan ibadah mahdhah maupun ghairu mahdhah.

Kedua, berusaha untuk berada di dalam lingkungan yang baik. Baik lingkungan keluarga maupun lingkungan social harus kondusif untuk menjaga iman kepada Allah SWT. Lingkungan memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan manusia. Di dalam syair lagu Jawa sebagaimana dinyanyikan oleh Cak Nun, maka terdapat ungkapan: “wong kang shaleh kumpulono”. Orang yang berperilaku shaleh harus menjadi sahabat kita dan kita bisa  berada di dalam lingkungan orang saleh tersebut. Nabi Muhammad SAW juga menyatakan: anta ma’a man ahbabta”. Yang artinya: “kamu bersama orang yang kamu cintai”. Berbahagialah seseorang yang berada di dalam lingkungan Islami, sehingga kita dapat  menjaga iman kita kepada Allah SWT. Seorang anak yang dididik dalam lingkungan yang penuh kasih sayang, maka anak akan tumbuh dengan kasih sayang. Anak yang didik dalam cacian, maka juga akan belajar untuk melakukan caci maki. Anak yang berada di dalam lingkungan kekerasan juga akan cenderung melakukan kekerasan.

Ketiga, hendaknya terus berdoa agar Allah menjaga iman kita. Kita perlu bersandar kepada Allah agar iman kita itu dijaganya. Jika Allah melepas iman dan menghilangkan iman itu dari dalam diri kita, maka akan hilanglah iman kita. Ada banyak orang yang semula beriman tetapi kemudian menjadi murtad atau ada banyak orang yang sebelumnya bukan beragama Islam tetapi kemudian menjadi muallaf. Kita bersyukur kepada Allah SWT karena iman yang diberikan Allah kepada kita. Dan yang lebih penting adalah Allah tetap menjaganya. Kita terus berdoa kepada Allah agar iman kita selalu terjaga di mana dan kapan saja.

Wallahu a’lam bi al shawab.