• June 2026
    M T W T F S S
    « May    
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    2930  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

FIKIR DZIKIR KATSIR

FIKIR DZIKIR KATSIR

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Sebagai kewajiban dalam rangka menyemarakkan Bulan Ramadlan 1445 H, maka Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya menyelenggarakan acara kultum ba’da shalat Isya’ yang diikuti oleh warga di sekitarnya. Saya mendapatkan kesempatan untuk memberikan ceramah agama di masjid tersebut pada Kamis, 04/04/2024. Saya sengaja memilih tema penting dalam kehidupan beragama, yaitu: “Three in One: Fikir, Dzikir dan Katsir”.

Sebagaimana biasa, maka saya jelaskan terlebih dahulu mengenai pentingnya rasa syukur kepada Allah karena kita dapat  menjalankan puasa Ramadlan 1445 Hijrah dengan baik. Kita sudah menjalani puasa 24 hari artinya kurang beberapa hari lagi maka kita akan mengakhiri puasa ramadlan. Harapan kita semoga kita dapat menikmati puasa lagi tahun depan.

Tidak mudah menjalankan ibadah puasa. Tidak semua orang kuat menjalankan puasa. Tidak semua orang dengan senang menjalankan puasa atau juga ada orang yang berada di antara senang dan kurang senang untuk menjalankan puasa. Semua itu tergantung dari kadar iman dan kekuatan ibadah yang kita miliki. Semakin kuat imannya, maka semakin kuat ibadahnya dan akan semakin bermanfaat iman dan ibadahnya tersebut. Marilah kita bersyukur atas nikmat Allah ini.

Pertama, fikir. Iman yang baik adalah iman yang didasari oleh keyakinan logis atau iman yang berbasis pada logika atau nalar kita. Kita diberi oleh Allah kemampuan akal untuk berfikir, baik untuk kepentingan duniawi maupun kepentingan agama. Dengan akal itu pula kita dapat  membedakan mana yang baik dan benar, serta mana yang jelek atau buruk. Sungguh manusia memang diciptakan Tuhan sebagai sebaik-baiknya umat.

Jika kita berpikir tentang agama bukan berarti bahwa kita berpikir tentang dzat Tuhan atau pekerjaan Tuhan, atau apa yang dikerjakan Tuhan akhir-akhir , akan tetapi berpikir tentang ciptaan Tuhan, baik aspek ayat qauliyah atau kauniyah. Ayat qauliyah adalah tentang teks ajaran Islam, sedangkan teks qauniyah adalah tentang alam dan seisinya. Kita diminta oleh Allah agar berpikir tentang ciptaan Allah dan bukan dzat Allah. Tafakkaru fi khalqillah wa la tafakkaru fi dzatillah, yang artinya berpikirlah tentang ciptaan Allah dan jangan berpikir tentang dzat Allah.

Akhir-akhir banyak sekali informasi tentang sains yang sesuai dengan ajaran Islam khususnya yang tertuang di dalam teks suci Alqur’an dah hadits Nabi Muhammad SAW, misalnya tentang proses penciptaan manusia yang benar-benar sesuai dengan hasil kajian sains. Lalu, penciptaan bumi dan langit, galaksi dalam tata surya yang teratur dengan tingkat kerumitannya, dan juga kebenaran mu’jizat Nabi-Nabi, yang semua menggambarkan bahwa alam itu diciptakan oleh Akal Agung atau Super mind yang di dalam agama dikenal sebagai Tuhan atau Allah SWT. Hipotesis tentang keberadaan Tuhan sebagai Sang Maha Pencipta semakin terbukti dengan kajian sains atas ayat-ayat kauniyah.

Kita tentu senang bisa beriman kepada kebenaran ajaran Islam. Bisa beriman atas kebenaran adanya Allah Yang Maha Pencipta, kita akhirnya juga percaya kepada Kitab Suci Alqur’an, Nabi Muhammad, Malaikat, takdir dan hari akhir. Kita menjadi percaya tidak lewat kajian-kajian yang sulit sebagaimana ahli sains, akan tetapi hasil kerja kaum saintis itu kita menjadi semakin yakin akan kebenaran Allah SWT. Dari iman yang ikut-ikutan ke iman yang berdasarkan atas pemikiran tentang ciptaan Allah SWT.

Kedua, dzikir. Jika  sudah menjadi kuat keimanan kita atas kebenaran ajaran Islam, maka tindakan selanjutnya adalah dzikir atau mengingat Tuhan. Dzikir ini sangat penting di dalam ajaran Islam. Bahkan shalat itu juga dzikir. Ada banyak bacaan tentang dzikir yang sudah dibakukan oleh para ulama berdasarkan atas teks di dalam Kitab Suci atau berdasar atas Hadits Nabi Muhammad SAW. Rumusan doa sudah sangat banyak. Rumusan dzikir juga sudah banyak. Tetapi dzikir yang sangat penting adalah kalimat tauhid.

Dzikir ini disebut kunci surga. Miftahul Jannah la ilaha illallah. Kunci surga dengan mengucapkan tidak ada Tuhan selain Allah. Jadi tidak salah jika kita banyak mengucapkan tahlil apakah dengan dibaca sendiri atau dibaca bersama-sama. Kalimat tauhid ini bisa dibaca di mana saja. Bisa di masjid, rumah, tempat kerja dan sebagainya. Yang tidak boleh hanya di toilet. Tidak usah ragu untuk membaca kalimat tauhid ini dimana saja dan kapan saja.

Berikutnya adalah membaca shalawat Nabi Muhammad SAW. Bisa dibaca yang panjang atau pendek. “Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala ali Sayyidina Muhammad”. Nabi Muhammad SAW adalah satu-satu manusia yang diberikan oleh Allah otoritas untuk memberikan syafaat kepada manusia. Nabi-Nabi yang lain tidak diberikan hal tersebut. Makanya kita harus menjadi hamba Allah yang bisa dikenal oleh Nabi Muhammad dan caranya adalah dengan membaca shalawat. Allah dan malaikatnya saja membaca shalawat kepada Nabi Muhammad lalu kita tidak membacanya. Dzikir itu banyak sekali bacaannya. Semakin banyak berdzikir semakin menjadi tenang kehidupan kita. Ala bidzikrillahi tatmainnul qulub. Melalui dzikir kepada Allah, maka hati akan menjadi tenang.

Ketiga,  katsir atau  banyak. Iman yang benar sudah kita miliki, amal ibadah sudah dilakukan. Dzikir sudah menjadi kebiasaan, maka akhirnya kita masuk dalam golongan orang yang banyak amalan kebaikannya. “Wadzkurullaha katisran la’allakum tattaqun”. Yang artinya: “Dan berdzikirlah yang banyak mudah-mudahan menjadi orang yang bertaqwa”. Kita harus meyakini bahwa dengan iman yang benar, dengan ibadah yang benar dan banyak, maka kita akan menjadi orang yang banyak peluangnya untuk memasuki surganya Allah SWT.

Berbahagialah kita yang bisa menjadi goloangan orang Islam yang berpikir, berdzikir dan akhirnya katsir dalam peluang memasuki kebahagiaan di akherat. Surga Allah diperuntukkan orang yang melakukan three in one ini.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

TIDAK ADA KEBAIKAN YANG SEMPURNA

TIDAK ADA KEBAIKAN YANG SEMPURNA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Ceramah agama dalam kultum bulan Ramadlan yang dilakukan oleh Ustadz Dr. Cholil Umam memang tidak Panjang. Pendek saja tetapi memiliki substansi yang luar biasa. Apa yang disampaikan menggambarkan tentang realitas keberagamaan kita dewasa ini di tengah kehidupan yang materialistic pada masyarakat yang religious. Ada paradoks yang nyata di dalam kehidupan kita sebagai masyarakat Indonesia yang dikenal sebagai masyarakat yang religious. Kultum di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency tersebut diselenggarakan pada Hari Rabo, 03/04/2024.

Ceramah ini mengungkap tentang pengalaman perjalanannya dari rumah sampai di Masjid Al Ihsan. Ada tiga hal yang disampaikannya, yaitu: pertama, kita perlu bersyukur kepada Allah SWT karena kita sudah menjalani puasa tahun ini. Alhamdulillah kita sudah puasa hari yang ke 23. Jadi puasa kita ini termasuk sepertiga akhir yang sebagaimana dijanjikan Allah adalah peribadahan yang akan menghalangi kita untuk masuk neraka. Kita semua harus bersyukur kehadirat Allah SWT karena diberikan kenikmatan Kesehatan, sehingga kitab isa melaksanakan puasa secara memadai. Di luar sana ada banyak orang Islam yang tidak bisa melakukan puasa, bisa karena disengaja atau karena sakit, tetapi kita diberikan kesehatan yang prima sehingga kita dapat melaksanakan puasa secara sempurna. Semoga puasa kita diterima oleh Allah SWT.

Kedua, dinyatakan di dalam perjalanan ke masjid Al Ihsan, maka di Rumah Makan Primarasa itu penuh sesak dengan mobil bahkan parkirnya penuh sampai meluber di jalan. Banyak sekali. Diyakini  pasti  itu ada acara buka bersama, yang sekarang ini sudah menjadi tradisi di kalangan masyarakat menengah perkotaan. Artinya yang hadir adalah orang-orang yang secara ekonomi berkemampuan hampir sama. Orang yang banyak uang. Lalu, kala sampai di depan Es Teler 77, maka diketahui ada seorang lelaki setengah baya yang berjualan sapu dan alat-alat rumah tangga. Dipastikan dia tidak melakukan shalat tarawih karena masih berjualan. Maka shadaqah diberikan kepada lelaki tersebut.

Pernah juga acara ada pengajian  di masjid Al Furqan, dan seharusnya diminta untuk berbuka bersama, akan tetapi sesudah acara di masjid harus mengisi acara lain yang tidak bisa ditinggalkan. Pada saat berjalan menuju ke tempat pengajian, maka ada seorang lelaki yang duduk di samping jalan dalam keadaan yang kurang sehat. Bingkisan tersebut diberikan kepadanya, sambil orang itu mengeluh sakit.

Di sini ada dilemma, apakah meneruskan perjalanan menuju pengajian atau harus mengantar orang yang sakit. Ini situasi yang paradoks. Jika mengantar orang ini, maka merasa bersalah karena tidak memenuhi undangan yang sudah disiapkan dalam waktu yang panjang dan kedatangan di pengajian tentu sangat penting. Tetapi harus meninggalkan orang itu dalam keadaan yang seharusnya ditolong untuk dibawa ke  puskesmas. Di dalam situasi rumit, maka seseorang harus memilih. Dan pilihannya adalah mendatangi pengajian dan mengabaikan orang yang sakit. Dua-duanya penting tetapi harus memilih salah satu. Dua-duanya kebaikan tetapi harus memilih satu kebaikan.

Inilah yang kemudian dikonsepsikan bahwa tidak ada kebaikan yang sempurna dan juga tidak ada kesalahan yang sempurna. Di dalamnya mungkin masih menyisakan sesuatu yang berada di antara keduanya. Masih ada kesalahan di dalam kebaikan dan masih ada kebaikan di dalam kesalahan. Jika terdapat dua hal yang sama-sama baiknya, maka manusia bisa memilih  mana yang dianggap terbaik.

Ketiga,  di dunia ini kita tidak boleh merasa paling baik sendiri. Sebab pasti ada kebaikan pada orang lain. Kita tidak boleh memonopoli kebaikan seakan-akan hanya kita saja yang baik. Sama halnya orang yang menyombongkan diri karena shalat dan amal ibadahnya dipastikan dialah yang akan menghuni surga. Seakan-akan surga itu dikaplingnya. Untuk masuk surga itu benar-benar haknya Allah. Makanya di dalam doa yang diminta adalah rahmatnya Allah SWT dan ridhanya Allah SWT. Allahuma inna nas aluka ridhaka wal Jannah wa na’udzu bika min sakhatika wan nar. Ya Allah sesungguhnya saya meminta kepada-MU keridalaan dan surga dan jauhkan kami dari siksa api neraka.

Terkadang kita juga berpikir, apakah yang mendapatkan malam lailatul qadar itu hanya orang yang bisa beri’tikaf di masjid saja. Apakah tidak ada peluang orang yang bekerja mencari makan dan berijtihad untuk memenuhi kebutuhan keluarganya itu tertutup peluangnya untuk mendapatkan malam lailatul qadar. Maka sesungguhnya terdapat peluang bagi siapa saja untuk mendapatkan keberkahan malam lailatul qadar. Orang yang bekerja sungguh-sungguh untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan dilakukannya pekerjaan tersebut dengan ikhlas dengan tetap mengingat akan kekuasaan Allah, maka peluang tersebut dipastikan tetap terbuka.

Itulah sebabnya marilah kita semua berusaha untuk menjadi yang terbaik seraya mengharap ridha Allah semoga kita semua mendapatkan rahmad-Nya sehingga kita akan menjadi barisan dari ahli surga.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

PUASA SEBAGAI PELATIHAN FISIK DAN JIWA

PUASA SEBAGAI PELATIHAN FISIK DAN JIWA

Prof. Dr. Nur Syam, MSI

Selama bulan puasa ini saya nyaris tidak banyak menulis dengan tema puasa. Hanya beberapa saja. Saya lebih banyak menulis tentang iman dalam konteks kehidupan umat Islam, meskipun bukan dalam konteks kajian teologis atau ilmu kalam. Itulah sebabnya, saya akan menulis tentang puasa dalam kaitannya dengan puasa sebagai medium pelatihan fisik dan jiwa.

Memang bisa terdapat beberapa  pertanyaan, apakah puasa sebagai pelatihan fisik dan jiwa memiliki sejumlah pengaruh di dalam kehidupan seorang muslim, ataukah puasa tidak memiliki dampak bagi kehidupan seorang muslim, apa ada  yang meningkat di dalam keyakinan dan ibadah kita kepada Allah atau stagnan saja iman dan ibadah kita kepada Allah. Tentu saja kita berharap bahwa puasa akan memberikan dampak bagi kehidupan seorang muslim, apakah dalam keimanan, ritual dan relasi sosialnya. Ini harapan kita. Tetapi terkadang harapan itu tinggal harapan dan puasa ternyata tidak mengubah apapun. Puasa menjadi ritual tahunan rutin atau upacara liminal dan kita melakukannya sebatas sebagai upaya untuk menggugurkan kewajiban.

Seharusnya, secara teologis kita menjalankan puasa sebagai kebutuhan. Kita yang memerlukan puasa. Sama sekali bukan Tuhan atau Nabi Muhammad SAW yang membutuhkan kita berpuasa. Puasa itu kebutuhan kita, keperluan kita. Jadi kitalah yang harus proaktif untuk menjalankannya. Puasa akan membuat hidup kita semakin bermakna, baik dari sisi kesehatan fisik, kesehatan mental dan kesehatan roh.

Ada dua  hal yang saya jelaskan di dalam tulisan ini, yaitu: pertama, benarkah puasa dapat menjadi instrument untuk membuat pelakunya semakin sehat. Jawabannya berasal dari para dokter yang melakukan penelitian tentang fasting. Ternyata puasa bisa menjadi perangkat untuk semakin sehat. Dengan perubahan pola makan dari makan di siang hari ke makan di malam hari, maka secara langsung akan membuat pencernaan kita istirahat dari mengolah bahan makanan seperti karbohidrat dan protein untuk dijadikan sebagai nutrisi  lalu diproduk untuk menjadi potensi kekuatan tubuh. Karbohidrat yang berlebihan dan protein yang berlebihan akan bisa menyebabkan terjadinya lemak, termasuk lemah jenuh.

Jika di dalam tubuh terdapat banyak lemak jenuh, maka akan terjadi kolesterol atau asam urat. Dalam jangka panjang akan menyebabkan penyempitan pembuluh darah dan akan terjadi penyumbatan. Maka berpeluang terjadinya penyakit jantung coroner atau stroke. Puasa yang dilakukan siang hari akan menyebabkan lemak-lemak jenuh yang berada di pembuluh darah akan dijadikan sebagai bahan makanan. Jadi terdapat proses  pembersihan pada pembuluh darah. Makanya, pembuluh darah akan kembali menjadi bersih. Di kala tidak terdapat protein dan karbohidrat di dalam tubuh karena tidak ada asupan makanan, maka lemak jenuh itulah yang akan dijadikan sebagai asupan oleh tubuh. Itulah sebabnya, tubuh akan menjadi sehat di kala puasa. Hal ini sebagai kenyataan atas sabda Nabi Muhammad SAW bahwa: “shumu tasihhu”  atau berpuasalah agar kamu sehat.

Sekarang dikenal satu system puasa yang disebut sebagai intermitten fasting atau puasa selang seling. Puasa ini dijadikan sebagai sarana bagi orang yang berkeinginan untuk mengurangi lemak darah sebagai penyebab kolesterol atau asam urat atau gula darah berlebih atau diabetes. Berdasarkan pengalaman puasa seperti ini, ada yang 20 jam ada yang 72 jam tidak makan karbohidrat dan protein, hanya boleh minum air putih, maka gula darah akan menurun drastic. Hal ini tentu sesuai dengan hasil penelitian para dokter, bahwa puasa memang signifikan untuk kepentingan menurunkan gula darah dan juga kolesterol. Di antara sunnah Nabi Muhammad SAW dikenal puasa Senin dan Kamis, atau bahkan yang dikenal sebagai puasa Dawud, yakni sehari puasa sehari berbuka. Dengan demikian, ajaran puasa sangat masuk akal atau rasional dan sesuai dengan kajian sains dewasa ini.

Kedua, puasa untuk kesehatan rohani atau jiwa dan roh. Di dalam salah satu ungkapan dinyatakan bahwa: qalbun salim fi jismin salim atau hati atau jiwa yang sehat terletak pada badan yang sehat. Artinya bahwa manusia yang sehat rohani atau jiwa dan rohnya adalah orang yang sehat jasmaninya. Secara tidak langsung bisa dinyatakan bahwa puasa  bisa menyebabkan seorang pelakunya menjadi sehat fisiknya tentu juga akan menjadi sehat rohaninya.

Puasa merupakan pelatihan kesabaran, sebab makna puasa adalah menahan diri dari melakukan semua tindakan yang membatalkan puasa. Misalnya nafsu makan, minum dan nafsu seksual akan dapat dieliminasi dengan puasa. Orang diajari untuk bersabar. Jika keinginannya siang hari maka tunggu nanti malam saja. Masih ada waktu yang tersedia untuk memenuhi hasrat biologis dimaksud. Jika seseorang yang sedang berpuasa diajak melakukan kejelekan atau kemungkaran, maka bisa menyatakan bahwa “saya sedang berpuasa”. Tidak berarti bahwa kalau tidak berpuasa boleh melakukannya, akan tetapi puasa dapat menjadi barometer yang membedakannya dengan orang yang permisif dalam tindakan.

Makanya benar apa yang dinyatakan oleh Nabi Muhammad SAW: “ashiyamu junnah” atau “puasa adalah perisai”. Penghalang untuk melakukan tindakan yang tidak berada di dalam koridor ajaran Islam. Dengan demikian, maka sesungguhnya puasa dapat menjadi instrument untuk mengajari fisik dan batin kita agar selalu berada di dalam substansi ajaran Islam, yakni berbuat baik kepada Allah, kepada manusia dan kepada alam sekalipun.

Dengan demikian, orang yang berpuasa akan memperoleh dua kebahagiaan sekaligus, yaitu kebahagiaan fisikal dan rohani dan sekaligus kebahagiaan karena akan berjumpa dengan Allah kelak di alam surga.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

PUASA UNTUK MELATIH KESABARAN

PUASA UNTUK MELATIH KESABARAN

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Sebagaimana biasa maka setiap bakda Shalat Isya’ sebelum tarawih maka diselenggarakan kultum sebagai upaya untuk memberikan pemahaman agama dalam kaitannya dengan puasa sebagai ibadah yang diwajibkan di dalam ajaran Islam. Pada hari Senin, 01/04/2024, maka yang memberikan pengajian adalah Ustadz Sahid Sumitro, yang sering memberikan pelatihan Sumber Daya Manusia (SDM) di berbagai instansi pemerintah maupun perusahaan. Tema yang dibawakan dalam acara kultum adalah “Puasa Sebagai Pelatihan Kesabaran”.

Di dalam ceramah tersebut disampaikan tentang pentingnya ucapan syukur kepada Allah SWT karena kita sudah menjalani puasa selama 20 hari, dan malam ini adalah malam sepertiga akhir dalam bulan puasa. Tepatnya malam ke 21. Jika pada sepertiga awal adalah rahmah, maka pada paroh kedua atau pertengahan adalah maghfirah dan pada sepertiga terakhir adalah itqun minan nar.  Mulai dari rahmah kemudian ampunan dan dijauhkan dari api neraka. Semoga puasa kita dalam sepertiga awal dan pertengahan menjadi puasa yang diterima oleh Allah dan akhirnya kita dapat  terhindar dari api neraka. Marilah kita meningkatkan rasa syukur kita semoga puasa kita menjadi yang terbaik. Allahumma amin. Tetapi ada pertanyaan mendasar, apakah puasa yang dilatih langsung oleh Allah dalam bentuk puasa dapat memiliki dampak bagi  kehidupan kita khususnya dalam berhubungan dengan Allah atau hablum minallah dan juga hablum minan nas. Agar puasa kita berdampak pada kebaikan, maka ada dua hal yang mendasar, yaitu:

pertama, menjaga makanan. Ada tiga jenis makanan ialah makanan pikiran, makanan hati dan makanan fisik. Jangan dikira bahwa yang membutuhkan makanan hanya fisik saja. Pikiran dan hati juga membutuhkan asupan. Tentu saja berbeda antara asupan fisik dan asupan pikiran dan hati. Makanan fisik tentu adalah makanan seperti nasi, sayur, buah dan kue-kue. Makanan ini untuk memenuhi kebutuhan fisik yaitu protein dan karbohidrat. Keduanya dibutuhkan untuk menghasilkan kalori sebagai bahan kekuatan fisik. Makanan itu tentu harus halal dan thayib. Makanan yang sesuai dengan hukum islam dan sehat atau yang halal dan menyehatkan.

Kemudian makanan pikiran adalah asupan agama, misalnya mendengarkan ceramah-ceramah atau nasehat-nasehat keagamaan. Melalui nasehat keagamaan tersebut, maka pikiran kita akan menjadi cerdas, yaitu cerdas secara spiritual. Jika seseorang cerdas pikirannya dalam hal keagamaan, maka akan sangat beruntung. Harus diingat bahwa pikiran yang sehat akan membawa kesehatan pada hati dan fisik. Jika pikirannya tidak sehat maka akan berpengaruh pada keinginan untuk melakukan tindakan kejahatan dan sebagainya. Makanya pikiran harus diisi dengan ajaran agama melalui pengajian, ceramah agama dan nasehat keagamaan.

Yang tidak kalah penting adalah makanan hati, yaitu dzikir kepada Allah. Hati kita  harus diisi dengan dzikir kepada Allah misalnya melalui bacaan kalimat tauhid, dengan membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, diisi dengan bacaan istighfar atau ucapan-ucapan yang baik yang bersesuaian dengan ajaran Islam.

kedua, menjaga dan mengembangkan kesabaran. Pelatihan selama empat hari yang khusus melatih diri untuk bersabar saja bisa mengubah mindset kita untuk berbuat yang sabar. Jadi artinya kita dilatih untuk bersabar dengan hasil menjadi orang yang sabar. Pelatihan ini dilakukan oleh manusia. Apalagi puasa itu yang melatih adalah Allah melalui ajaran yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW. Seharusnya dengan puasa akan dapat menjadi instrument untuk menjaga kesabaran kita.

Allah itu mengajarkan kepada kita untuk bersabar di dalam menghadapi setiap persoalan, baik yang persoalan yang kecil maupun persoalan yang besar. Ada persoalan diri sendiri, ada persoalan keluarga, misalnya anak, ada persoalan masyarakat, misalnya masalah lingkungan social dan sebagainya. Maka syarat agar bisa menyelesaikan adalah dengan kesabaran. Tidak ada yang bisa mengalahkan kesabaran.

Jika ada orang yang marah maka harus dihadapi dengan kesabaran. Jika ada orang yang usil juga harus dihadapi dengan kesabaran. Jika ada orang yang membuat ulah kepada kita juga harus dihadapi dengan kesabaran. Semuanya dihadapi dengan kesabaran, dan insyaallah dengan kesabaran tersebut maka persoalan demi persoalan akan dapat diselesaikan. Tetapi juga jangan lupa untuk terus berdoa kepada Allah semoga kita diberi kesabaran agar kita dapat  hidup dengan nyaman.

Rasulullah mengajarkan jika marah dalam keadaan berdiri, maka harus duduk, jika dengan duduk masih marah, maka terlentang. Jika dengan terlentang masih juga marah, maka hendaknya berwudlu. Kemarahan itu unsurnya api, maka untuk memadamkan api maka harus dengan air. Dan air wudlulah yang paling cocok untuk menghilangkan kemarahan.

Kita semua yakin bahwa dengan menjaga makanan dan juga diimbangi dengan kesabaran, maka kita akan meraih pesan taqwa untuk orang yang berpuasa. Laallakum tattaqun. Mudah-mudahan kita semua menjadi orang yang bertaqwa kepada Allah.

Wallahu a’lam bi al shawab.   

IMAN TANPA KERAGUAN

IMAN TANPA KERAGUAN

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Akhir-akhir ini ada keenderungan yang kuat untuk menulis tentang iman,  tetapi bukan dalam perspektif ilmu kalam, tetapi lebih kurang dari perspektif sosiologis atau antropologis. Tentu saja, sebab saya bukanlah ahli ilmu kalam dengan kerumitan tentang bagaimanakah Allah itu. Biarlah hal ini menjadi pembicaraan di kalangan ahli teologi saja. Saya akan lebih menyoroti hal yang doktriner atau yang empiris, bagaimana orang mengekspresikan tentang keyakinannya dimaksud.

Iman itu sesuatu yang misterius, sebagaimana ajaran agama juga mesti harus ada hal-hal yang misterius. Jika ajaran agama lalu semuanya masuk akal atau rasional, maka agama akan menjadi ilmu pengetahuan. Jika demikian, maka agama tidak lagi menjadi ajaran Tuhan yang penuh dengan kesakralan dan kemisteriusan. Para ahli antropologi, sosiologi dan psikhologi juga sampai pada pandangan bahwa agama itu sesuatu yang misterium tremendum et fascinosum. Agama itu penuh dengan misteri yang menyenangkan dan menakutkan.

Sebagai yang misterius tentu tidak semuanya bisa dirasionalkan. Harus tetap ada yang tersisa. Yang tersisa itu adakah bagaimana dzat Tuhan, Sifat da af’al Tuhan atas dunia dan seisinya. Bagaimana Tuhan menciptakan tata surya yang sedemikian hebat, teratur dan mengagumkan. Bagaimana Tuhan merekayasa keberadaan manusia dari tidak ada menjadi ada. Bagaimana proses awalnya dan bagaimana proses akhirnya.

Manusia diciptakan Allah dari sari pati tanah. Jika di masa sesudahnya melalui pembuahan benih sperma ke ovum dalam rahim perempuan, maka bagaimana kala penciptaan manusia pertama. Di sini lalu banyak teori, misalnya teori evolusi Darwin, yang menyatakan bahwa ada proses perubahan dari jenis primate yang kemudian berevolusi menjadi manusia. Meskipun ada missing link dari makhluk non manusia kemudian menjadi manusia, namun ini adalah ijtihad yang dilakukan oleh seorang manusia untuk memberikan penjelasan atas asal usul manusia.

Kajian ilmiah seperti ini ternyata tidak mampu menjelaskan asal usul manusia yang berasal dari primate dan kemudian menjadi manusia. Berbagai kajian berikutnya tidak mampu menjawab atas missing link yang terputus. Misalnya, perkembangan otak dan fisik yang menjadi sempurna, dan sebagainya. Tetap menyisakan misteri yang tak terjawab.

Kemudian manusia mengembangkan cara untuk memahami Tuhan lewat ciptaannya. Ditemukan berbagai teleskop untuk menjawab akan keteraturan alam dan kerumitannya sekaligus. Dari kajian sains ditemukan bahwa alam memang teratur dan sesuatu yang teratur tentu tidak bisa terjadi dengan sendirinya.  Dipastikan  ada supreme being atau rasio agung yang menciptakannya atau super intelek atau super mind, yang tentu harus melebihi apa yang diciptakannya.

Meskipun kajian-kajian sains telah membuktikan tentang adanya Tuhan sebagai pencipta, tetapi tetap saja ada orang yang meragukan keberadaan atau eksistensi Tuhan. Mereka masih beranggapan bahwa Tuhan tidak bisa diyakini keberadaannya, atau sekurang-kurangnya memberikan alternatif orang boleh percaya boleh tidak. Bagi yang percaya tentang Tuhan adalah kaum beragama dan yang tidak percaya atau meragukan keberadaannya tentu bisa disebut seorang atheis atau agnostic.

Iman kepada Tuhan memang bukan dan tidak akan pernah bisa dibuktikan secara empiris, karena Tuhan adalah Yang Maha Gaib. Ghaibul ghuyub. Kegaiban dari seluruh kegaiban. Sains tidak akan mampu menjelaskan Tuhan berbasis pada kajiannya. Yang dikaji dalam sains adalah wujud-wujud yang alami atau natural yang bersifat luar biasa, sejauh akal bisa menjangkaunya melalui peralatan seperti teleskop, bagaimana alam dan tata suryanya tersebut diadakan. Meskipun dengan telescope yang paling canggihpun tentu tidak akan dapat mendeteksi bagaimana Tuhan tersebut dan dimanakah Tuhan tersebut. Sejauh yang bisa dikaji adalah jejak-jejaknya yang berupa tata surya dengan segenap galaksi  dan keberadaan benda-benda langit dan lainnya di dalam jagat raya.

Jika Tuhan kemudian bisa dibuktikan dengan perangkat sains,  maka keberadaan Tuhan itu sudah bukan misteri lagi. Tuhan tidak lagi menempati ruang kegaiban karena kegaiban tersebut telah diacak-acak oleh sains yang diciptakan manusia. Inilah ketidakmungkinan bagi Tuhan untuk dikaji secara empiris, karena Tuhan bukan sesuatu yang empiris. Jadi biarkanlah Tuhan berada di dalam ruangnya yang misterius agar manusia terus mencari dan mencarinya. Sekali lagi, ada manusia yang menemukannya dan ada manusia yang tidak mampu menemukannya.

Di sinilah factor hidayah atau petunjuk atau bisikan gaib tersebut berperan. Ada orang yang sudah dibentangkan tanda-tanda kekuasaan Allah melalui sains dan kemudian berikrar untuk menyatakan:  “la ilaha illallah Muhammadur Rasulullah”, atau “Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah”, dan ada yang tidak sampai kepada perolehan bisikan gaib di dalam hatinya sehingga hatinya tetap berada di dalam keyakinan sebelumnya, baik keyakinan adanya Tuhan dalam konsepsi agama selain Islam dan ada yang tetap berada di dalam keraguan.

Allah sudah membentangkan tanda-tanda keberadaannya melalui hipotesis keberadaan-Nya, dengan ayat-ayat Alqur’an yang “rasional” atau ayat-ayat kauniyah atau ayat alam semesta dan juga ada ayat-ayat yang hanya dapat dipahami dengan penglihatan mata batin atau ainun bashirah, yang tidak semua orang bisa mendapatkannya. Hanya orang-orang khusus yang memiliki kedekatan khusus dengan Allah saja yang bisa melakukannya, karena mendapatkan keridlaan dari-Nya.

Bagi orang awam seperti kita, maka yang penting adalah meyakini dengan sepenuh hati dengan segenap pikiran, rasa, hati dan batin  bahwa Allah itu adalah Tuhan Yang Maha Esa, Yang Maha Rahman dan Rahim, Yang Maha Pencipta, Yang Maha Kuasa dan sebagainya. Tuhan yang memiliki kekuasaan yang berbeda dengan hambanya, Tuhan yang Maha Kasih Sayang yang berbeda dengan hambanya, Tuhan yang Maha Pencipta yang berbeda dengan ciptaannya dan Tuhan yang Maha Tunggal sama sekali tidak berbilang, “qul huwallahu ahad”, “Katakan Muhammad bahwa Tuhan itu esa”.

Saya ingin menyatakan bahwa jangan pernah ada keraguan sebiji dzarrah pun tentang keberadaan Allah sebagai Rab dan Ilah dari kita semua. Tuhan yang selamanya akan tetap misterius, sampai nanti kala di surga,  maka Allah berjanji akan menemui orang yang berpasrah diri kepada-Nya atau menjadi muslim.

Wallahu a’lam bi al shawab.