• October 2026
    M T W T F S S
    « Sep    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

LIMA CARA BERBAHAGIA

LIMA CARA BERBAHAGIA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Pagi ini, Selasa, 13/08/2024, anggota Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya memperoleh kehormatan yang sangat besar, sebab bisa mendengarkan ceramah atau taushiyah ba’da Shubuh yang disampaikan oleh Ustadz Sahid Sumitro, trainer terkemuka yang sering bicara tentang tema “Cinta, Bahagia dan Kehidupan Rumah Tangga”.

Ustadz Sahid adalah trainer yang malang melintang dalam dunia perusahaan, birokrasi dan lembaga-lembaga pelayanan public. Di antara keistimewaaanya adalah menggabungkan unsur agama, psikhologi dan realitas social yang dihadapi oleh individu dan masyarakat. Ustadz Sahid mengembangkan pemikiran Martin Seligment, ahli psikhologi positif dari Amerika, dalam membahas tentang cara memperoleh kebahagiaan.

Ada tiga hal yang disampaikannya, yaitu: pertama, semua orang sebenarnya memiliki potensi untuk bahagia. Akan tetapi kenyatannya tidak semuanya bisa memperoleh kebahagiaan. Bahkan hanya sekitar 10 persen saja yang bisa meraih kebahagiaan sementara 90 persen lainnya belum tentu bahagia. Tetapi kita sungguh bersyukur bahwa kita bisa mendapatkan suasana untuk mendukung kebahagiaan tersebut. Misalnya dengan mengikuti Ngaji Bahagia, yang persyaratannya harus tertawa sebanyak 17 kali. Di dalam otak manusia ada unsur kebahagiaan. Jika diperhatikan unsur kebahagiaan tersebut berada di kening di antara dua alis atau eyebrow. Makanya orang India memberikan tanda khusus tempat kebahagiaan bersemayam. Jika diluruskan,  arah  alis ke dalam itu ada unsur kebahagiaan di dalam otak manusia.

Kedua, ada empat aspek yang membuat kebahagiaan, yang dapat disingkat dengan PERMA. Jangan ditambah dengan S di depan kata itu. Ada empat huruf yang membentuk kebahagiaan. P adalah positive emotion atau perasaan yang selalu positif. Janganlah berpikir negative tentang segala sesuatu. Berpikirlah yang positif agar kita dapat memperoleh emosi yang positif. Salah satu cara untuk memperkuat emosi yang positif adalah selalu bersyukur kepada Allah SWT. Jangan pernah menyatakan saya sebenarnya senang tetapi karena sesuatu hal lalu menjadi berkurang kesenangan saya. Tetapi gunakanlah kata “meskipun ada yang kurang dari hasil yang kita dapatkan, akan tetapi saya tetap senang karena acaranya sukses”. Meskipun keuntungan kita minim, tetapi alhamdulillah kita tidak rugi, kita tetap senang. Syukur atas nikmat Allah SWT yang luar biasa.

E adalah engagement atau kedekatan. Kita harus merasa dekat dengan yang Maha Pencipta, kita harus merasa dekat dengan Nabi Muhammad SAW. Kita merasa dekat dengan guru-guru, kita merasa dekat dengan orang tua. Kita merasa dekat dengan istri dan anak-anak. Coba kita tanyakan kepada orang tua, apa yang sesungguhnya menjadi keinginannya. Jika kita bertanya sambil lalu, maka akan dinyatakan: “aku sudah senang melihat anak-anak semua berkecukupan dan rukun”. Jawaban yang normative. Tetapi ketika ditanya dari  hati ke hati, maka akan diperoleh jawaban: “sebelum aku meninggal saya ingin melihat ka’bah. Saya akan sangat bahagia kalau hal itu terjadi”. Maka anak-anaknya berusaha bagaimana agar orang tuanya bisa ke Ka’bah.

R adalah relevance atau cocok atau sesuai dengan apa yang kita inginkan. Jika kita ingin mendapatkan rejeki yang halal, lalu kita dapatkan, maka apa yang menjadi keinginan dan apa yang kita dapatkan akan sesuai. Hal ini akan membuat kebahagiaan. Salah satu di antara kuncinya adalah komunikasi. Dengan komunikasi yang baik, maka hidup kita akan relevan dengan siapa saja yang berhubungan dengan kita. Di dalam keluarga kita harus saling berkomunikasi dengan baik. Saling memuji dan saling menghargai. Perempuan itu memerlukan kehangatan. Perempuan itu memerlukan sentuhan fisik yang bisa membahagiakan. Jika kita mau pergi agar dicium keningnya, diajak bersalaman, dicium tangannya dan ungkapkan sesuatu yang manis yang membuat hati perempuan berbunga-bunga.

M adalah meaning atau hidup yang bermakna. Hidup akan terasa bermakna jika hidup kita dibutuhkan orang. Orang tidak membenci atas kehadiran kita. Orang tidak merasa bermasalah dengan hidup kita. Misalnya, jika di acara pengajian kita, lalu Pak Mulyanta tidak datang, maka ketidakdatangan Pak Mulyanta itu ditanyakan. Itu artinya kita merasa berada di dalam lingkungan komunitas yang saling membutuhkan. Islam mengajarkan agar kita saling berdoa untuk keselamatan. Islam itu agama yang luar biasa karena mengajarkan hambanya untuk saling menolong dalam kebaikan dan melarang untuk saling menolong dalam kejahatan dan keburukan.

A adalah achievement atau appreciation. Yaitu upaya untuk mensyukuri atas capaian siapa saja. Orang membutuhkan pengakuan akan keberhasilan.  Setiap manusia akan senang untuk dipuji karena keberhasilannya. Misalnya harus mengapresiasi atas masakan istri kita. Buatlah pernyataan yang mengakui kehebatan rasa masakannya. Jika anak kita prestasinya kurang baik, misalnya ranking 15 jangan disalahkan tetapi agar diapresiasi, misalnya dengan menyatakan: “tidak apa-apa peringkat 15, Bapak dulu di peringkat 16. Tetapi tahun berikutnya di peringkat tiga dan tahun berikutnya di peringkat satu”. Begitulah cara yang kita lakukan agar keluarga kita bahagia dan hal itu juga akan membuat kita bahagia. Kita juga harus mengapresiasi atas keberhasilan komunitas dan masyarakat kita, dan seterusnya.

Insyaallah dengan mengembangkan lima hal sebagaimana terurai di atas,  maka kita akan merasakan kebahagiaan sebagaimana yang kita inginkan. Sekali lagi bahwa kita memiliki potensi kebahagiaan dan yang bahagia itu sedikit. Jadilah yang sedikit tersebut di dalam kehidupan. Bahagia  sangat tergantung kepada nuansa kehidupan kita dan kita yang bisa merealisasikannya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

ANTARA WASHILAH DAN TAWASSUL

ANTARA WASHILAH DAN TAWASSUL

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Tema yang cukup berat dibahas di dalam Kamunitas Ngaji Bahagia (KNB) karena temanya menyangkut ajaran yang debatable di kalangan ahli dan kelompok agama. Ada pro-kontra tentang ajaran washilah dan tawassul. Tetapi menjadi relative lebih mudah karena saya tidak mengkajinya dari perspektif fiqih atau teologis akan tetapi dari dimensi sosiologisnya. Hal ini tentu karena  kapasitas saya bukan ahli fiqih yang rumit atau teologis yang sophisticated. Dari aspek sosiologis tentunya akan melihat pemahaman atau penjelasan yang bersifat pandangan dalam penggolongan social tentang washilah atau tawassul.

Ngaji Bersama itu dilaksanakan pada hari Selasa pagi Ba’da Shubuh, 06/08/2024, di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya. Pengajian ini diikuti oleh sejumlah jamaah Masjid dari Masjid Al Ihsan dan Masjid Ar Raudhah yang setiap hari Selasa ba’da Shubuh ngaji bareng. Tema ini dibahas untuk memberikan penjelasan tentang kata washilah dan tawassul yang selama ini sudah menjadi khazanah di dalam ilmu keislaman. Ada tiga hal yang saya jelaskan.

Pertama,  washilah berasal dari Bahasa Arab dalam akar kata washala dan kemudian menjadi isim washilah yang artinya adalah perantaraan atau jalan. Di dalam Al qur’an dijelaskan tentang kata washilah tersebut di dalam Surat Al Maidah 35, dengan ungkapan, yaitu: “ya ayyuhal ladzina amanut taqullaha  wabtgahu ilaihil washilata wa jahidu fi sabilihi la’allakum tuflihun”, yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah, carilah wasilah (jalan untuk mendekatkan diri) kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya agar kamu beruntung.

Kata washilah juga bisa dinyatakan sebagai perantara, misalnya terdapat di dalam doa yang dibaca setelah adzan dikumandangkan. “Allahuma rabba hadzihid da’watit tammah, wash shalatil qaimah, ati sayyidana Muhammadanil washilata wal fadhilah…”.  Yang artinya: “Ya Allah telah hadir berkumandang panggilan yang sempurna, dan  shalat yang didirikan, hadirkan junjungan Nabi Muhammad sebagai perantara dan keutamaan..”. Nabi Muhammad SAW adalah perantara untuk membangun relasi dengan Allah atau hablum minallah. Nabi Muhammad adalah perantara agung atau washilatul ‘udzma. Lewat perantaraan Nabi Muhammad maka kita dapat  menjadi hamba Allah yang bertaqwa.

Agar kita dapat berhubungan dengan benar kepada Allah,  maka sebaiknya memang relasi atau hablum minallah itu melalui Nabi Muhammad SAW. Kita menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai perantara kita kepada Allah. Ada pendapat yang menyatakan, bahwa Allah itu maha Gaib dengan kegaiban yang tiada taranya, maka yang memungkinkan kita dapat  berhubungan dengan Yang Maha Gaib adalah melalui utusannya. Nabi Muhammad SAW yang memiliki otoritas untuk berhubungan langsung dengan Allah SWT. Jika kita berhablum minallah melalui Nabi Muhammad, maka “peluang” untuk sampai kepada Allah itu lebih besar.

Kedua, tawassul berasal dari kata wassala atau berarti taqarrub atau mendekat kepada Allah. Dari kata wassala kemudian menjadi tawassul atau dapat diartikan sebagai pendekatan diri kepada sesuatu melalui perantaraan. Secara maknawi, tawassul berarti mendekatkan diri kepada orang agar mendapatkan kemudahan dalam sesuatu yang diinginkan. Jadi ada keinginan di dalam upaya pendekatan tersebut. Di dalam tradisi sebagian umat Islam, khususnya ahli tarekat, maka washilah diartikan sebagai mendekatkan diri kepada Allah melalui para guru atau mursyid tarekat agar apa yang dilakukannya itu menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kala berdzikir, misalnya dzikir tahlil baik sirri atau jahri, tersembunyi atau terucapkan, maka harus bertawassul kepada para guru atau mursyid tarekat. Diasumsikan bahwa para guru atau mursyid tarekat tersebut merupakan individu yang sangat dekat kepada Allah SWT sehingga apa yang dilakukannya itu menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Bisa juga dzikir yang dibacanya itu cepat sampai kepada Allah melewati para guru atau mursyidnya. Jika dilakukannya sendiri akan lama sampainya, akan tetapi dengan perantaraan gurunya, maka doa atau dzikir itu akan lebih cepat sampai kepada Allah SWT.

Di dalam washilah yang utama adalah orangnya atau perantaranya atau benda yang digunakan untuk menjadi perantaranya, sedangkan di dalam tawassul yang penting adalah apa yang akan diperlukan untuk diantarkan. Sebagai contoh yang paling sederhana adalah jika kita mendapatkan rezeki, maka perantaranya adalah pekerjaan yang kita lakukan. Jadi pekerjaan itulah yang menjadi washilah kita mendapatkan gaji atau rezeki. Hakikat pemberi rezeki adalah Allah SWT tetapi pekerjaan itulah yang mengantarkan kita mendapatkan rezeki dimaksud. Sementara itu tawassul adalah upaya untuk mendapatkan sesuatu sesuai dengan keinginannya melalui perantaraan lainnya.

Sebagai contoh lainnya, jika kita membaca Surat Alfatihah dengan harapan kita memperoleh berkahnya bacaan tersebut, maka ini dinamakan  tawassul dengan Alqur’an. Jika kita berkeinginan memperoleh keselamatan di yaumil qiyamah dengan membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, maka hal ini juga tawassul. Jadi di dalam tawassul dipastikan ada washilah, tetapi tidak semua washilah adalah tawassul.

Ketiga, di dalam Islam ada dua yang bisa menjadi washilah dengan otonomi memberikan syafaat kepada umat Islam, yaitu Nabi Muhammad SAW dan kitab suci Alqur’an.  Dengan demikian orang yang dapat menjadikan Nabi Muhammad dan Alqur’an sebagai penolongnya adalah orang yang mencintai Rasulullah, misalnya membaca shalawat kepada-Nya. Semakin banyak shalawat yang dibaca dengan keikhlasan dan kesungguhan, maka akan besar peluangnya untuk mendapatkan syafaat Rasulullah SAW. Itulah sebabnya ada orang yang melazimkan membaca shalawat dalam jumlah yang sangat banyak dengan tujuan mendapatkam syafaat Rasulullah SAW.

Kemudian juga membaca Alqur’an. Ada umat Islam yang hafal Alqur’an dan orang tersebut dijanjikan akan masuk surga dengan para Nabi-Nabi. Di dalam sebuah cerita yang disampaikan oleh Ustadz Abdul Shomad (UAS) dinyatakan bahwa ibunya ditanya oleh seseorang, apa doa yang dibacanya sehingga memiliki putra yang hebat, maka Ibunya menjawab bahwa setiap hari dibacakan surat Alfatihah 100 kali untuk anaknya tersebut. Hal ini menandakan bahwa bacaan Alqur’an bisa memiliki efek yang hebat, yang dapat diterima dampaknya di dunia dan juga kelak di akherat.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

SAQAR: NERAKA BAGI PENGINGKAR ALQUR’AN

SAQAR: NERAKA BAGI PENGINGKAR ALQUR’AN

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Salah satu di antara program dalam Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) adalah tahsinan yang diikuti oleh jamaah Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya. Acara ini dilakukan setiap hari kecuali Selasa untuk ceramah agama, Jum’at untuk baca Alqur’an  Surat Al kahfi. Sudah lama program ini berlangsung dan bersyukur sebab kegiatan ini terus berlangsung dengan peserta yang tetap semangat. Pada Kamis, 01/08/2024,  jamaah KNB membahas tentang Neraka Saqar, yaitu salah satu neraka yang disediakan oleh Allah terhadap orang yang ingkar atas keberadaan Allah, tidak mengakui Kenabian Muhammad SAW, tidak mempercayai kebenaran Alqur’an  dan tidak melakukan amalan shaleh.

Di dalam Islam dikenal ada sebanyak tujuh neraka, yaitu Neraka Jahannam, Neraka Saqar, Neraka Hutamah, Neraka Jahim, Neraka Ladza, Neraka Sa’ir, Neraka Jahim dan Neraka Hawiyah. Di antara tujuh nama neraka tersebut, maka yang sangat dikenal di kalangan umat Islam adalah Neraka Jahannam, Neraka Jahim, dan Neraka Sa’ir. Sedangkan Neraka Saqar, Hutamah, Ladza dan Hawiyah tidak dikenal dengan sangat memadai. Yang paling popular adalah neraka Jahannam. Bahkan jika ada orang atau anak yang nakal maka diasosiasikan dengan anak Jahannam. Begitulah masyarakat Islam, khususnya di Indonesia, mempersepsikan tentang neraka tersebut.

Neraka atau An Nar di dalam konteks ajaran Islam dikaitkan dengan nama tempat di alam akherat sesudah yaumul ba’tsi yaitu tempat penyiksaan dan menghasilkan penderitaan yang tidak terkira karena panasnya. Neraka berisi api yang terus menyala sepanjang masa yang diperuntukkan bagi orang yang ingkar akan keberadaan Allah, mengingkari kenabian Muhammad dan durhaka atas ajaran agama Islam. Mereka adalah orang yang diidentifikasi sebagai musyrik, kafir, munafiq dan dhalim. Di tempat inilah Allah akan memberikan balasan atas mereka yang berbuat seperti itu.

Berdasarkan tingkatannya, maka neraka yang paling dalam adalah Jahannam, lalu Ladza, Huthamah, Sa’ir, Saqar, Jahim dan Hawiyah. Jika dalam bentuk susunan, maka neraka yang paling atas adalah Hawiyah dan yang paling bawah adalah Jahannam. Masing-masing neraka tersebut diperuntukkan bagi orang yang sesuai dengan perilakunya. Orang yang musyrik, kafir dan munafiq itu ada di neraka Jahannam. Di dalam Surat Al Hijr, ayat 43 dinyatakan: “dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar tempat yang diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut setan) semuanya”. Pengikut Setan itu adalah orang yang menyekutukan Tuhan, mengingkari kebenaran agama dan orang yang sekali waktu percaya dan kemudian tidak percaya dan seterusnya.

Pada saat tahsinan, kita membahas tentang Neraka Saqar. Yaitu di dalam Surat Al Muddattsir, ayat 26-29. Di dalam surat ini dinyatakan: “wa ma adraka ma saqar.  La tubqi wa la tadzar. lawwahatun lil basyar.  ‘alaiha tis ‘ata ‘asyar”. Yang artinya: “tahukah kamu (neraka) Saqar. Ia (neraka) saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. Yang menghanguskan kulit manusia.” Jadi neraka Saqar itu digambarkan sebagai neraka yang akan menghanguskan tubuh manusia yang durhaka secara terus menerus. Terbakar tubuhnya lalu kembali semula dan terbakar lagi lalu begitu seterusnya. Dan neraka Saqar itu dijaga oleh sebanyak 19 malaikat.

Gambaran Neraka Saqar tersebut dinyatakan sebagai tempat bagi orang yang menganggap bahwa Alqur’an itu sihir yang dibawakan oleh Muhammad dengan mencontoh atas kitab-kitab sebelumnya, yaitu Taurat dan Injil. Memang terdapat cerita-cerita di dalam Alqur’an yang “menyerupai” cerita di dalam Taurat dan Injil. Hal ini bisa dipahami sebab Taurat atau Injil dan Alqur’an memiliki sumber yang sama sebagai Agama Semitis yang dinisbahkan kepada Nabi Ibrahim AS.

Neraka Saqar juga disediakan kepada orang yang beranggapan bahwa Alqur’an itu bukan wahyu Allah tetapi perkataan Nabi Muhammad. Alqur’an bukanlah wahyu Tuhan sebagaimana diceritakan oleh Nabi Muhammad. Dalam posisi Nabi itu sebagai orang yang Ummi atau tidak bisa membaca, maka seharusnya dipahami bahwa Nabi tidaklah pernah membaca Kitab Taurat dan Injil, sehingga jika Nabi Muhammad bisa membuat pernyataan yang indah melebihi keindahan ciptaan manusia, maka tentu harus dipahami bahwa apa yang dinyatakan oleh Nabi Muhammad adalah wahyu Allah.

Suatu ketika Musailamah al Kaddzab membuat puisi yang dinyatakan untuk menandingi Alqur’an akan tetapi hasil kreasi Musailamah itu justru menjadi bahan tertawaan. Jangankan melebih kehebatan Alqur’an, menyamai saja tidak. Begitulah Allah menurunkan wahyu dengan keutamaan yang nyata dan kelebihan yang tidak tertandingi. Makanya orang yang tidak mempercayainya diingatkan akan dimasukkan ke dalam Neraka Saqar sebagaimana diceritakan di dalam Surat Al Mudattsir.

Berbahagialah kita bisa menjadi umat Islam yang meyakini akan kebenaran kalam Allah, mempercayai eksistensi Allah dan keberadaan Nabi Muhammad, lalu juga mengamalkan ajaran agama Islam sebagaimana yang sudah kita lakukan. Dengan berbuat seperti ini, maka diharapkan bahwa Allah akan memberikan rahmatnya untuk kita terhindar dari Neraka Saqar dan sebaliknya kita dimasukkan Allah ke dalam surga.

Wallahu a’lam bi al shawab.

BARAKAH

BARAKAH

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Salah satu kebahagiaan yang saya rasakan adalah di kala bisa memberikan sedikit ceramah tentang relasi antara agama dengan masalah-masalah social di kalangan masyarakat Islam, khususnya dan masyarakat pada umumnya. Pada hari Selasa, 30/07/2024, sebagaimana biasanya, diadakanlah ngaji bersama jamaah shalat Shubuh di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya. Tradisi ngaji pada Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) selalu  diselingi dengan humor sekurang-kurangnya 17 kali. Dan pada ngaji pagi itu, saya kira memenuhi ketentuan untuk tertawa sebanyak itu.

Ada tiga hal yang saya sampaikan pada waktu mengaji dimaksud, yaitu: Pertama, barakah itu di masyarakat kita, dimaknai hanya untuk hal-hal yang terkait dengan rejeki yang berupa harta atau kekayaan. Jadi dipahami bahwa berkah itu hanya urusan ekonomi atau urusan materi. Secara maknawi, barakah di dalam Bahasa Arab, atau berkah di dalam Bahasa Indonesia, atau berkat di dalam Bahasa Jawa adalah bertambahnya kebaikan atau di dalam Bahasa Arab dinyatakan sebagai ziyadatul Khair. Para ahli ilmu keislaman menyatakan seperti itu. Jadi yang namanya berkah itu jika terjadi bertambahnya kebaikan. Jika kita mendapatkan sesuatu dan sesuatu tersebut menambah kebaikan pada diri kita, maka itulah yang disebut sebagai keberkahan atau barakah. Keberkahan tentu tidak dipahami sebagai keberkahan rezeki saja. Apalagi hanya dimaknai dengan pemahaman hanya pertambahan harta dalam bentuk uang atau asset lainnya. Berkah atau barakah memiliki sejumlah makna yang di dalamnya terdapat kebaikan demi kebaikan.

Kedua, makna berkah atau barakah sangat variative. Di antara makna yang bisa dipelajari di dalam teks Suci Alqur’an adalah keberkahan fisik yaitu pertambahan kesehatan, kekuatan atau  ketiadaan rasa sakit yang diderita. Makanya di dalam doa dinyatakan: wa afiyatan fil jasad. Jasad yang sehat atau badan yang sehat. Nabi Muhammad SAW pernah diberikan kekuatan fisik dalam melakukan Isra’ dan Mi’raj. Bagaimanakah manusia bisa berjalan dengan sangat cepat dari Mekkah ke Masjid Al Aqsha, Palestina dalam satu perjalanan dan dilanjutkan dengan perjalanan cepat menembus langit dan sampai di Sidratul Muntaha, Mustawa dan bertemu  Allah SWT. Di dalam satu pendapat dinyatakan bahwa Nabi Muhammad Mi’raj dengan fisiknya dan ada pendapat lain hanya sukmanya atau rohnya saja. Kita perlu beriman sebagaimana imannya Sayyidina Abu Bakar dengan tidak bertanya secara teologis tentang bagaimana hal tersebut dilakukan. Barakna haulahu dapat diterjemahkan sebagai Nabi Muhammad SAW dikelilingi dengan kekuatan fisik yang sangat hebat sehingga bisa menembus sebagaimana kekuatan melebihi cahaya.

Barakah juga bisa dimaknai sebagai  ziyadatul khoir fil ‘ilmi. Bertambahnya kebaikan di dalam ilmu. Maknanya jika kita memiliki ilmu, maka ilmu tersebut akan menambah kebaikan untuk diri dan masyarakat. Ilmu yang bermanfaat bagi diri dan orang lain. Bukankah pahala ilmu yang beramanfaat itu akan terus berlangsung meskipun orangnya sudah wafat. Al ilmu yuntafa’u bih. Ilmu yang bermanfaat bagi dirinya.  Yang bisa memanfaatkan ilmu bukan hanya guru, dosen atau penceramah, akan tetapi kita semua bisa memanfaatkannya. Ilmu yang tidak hanya berhenti pada pengetahuan akan tetapi menjadi amalan. Di kala kita bisa mengamalkan ilmu, maka ilmu itu bermanfaat.  Jika ada orang lain yang mencontoh ilmu tersebut untuk diamalkan maka kita telah memperoleh manfaatnya ilmu. Misalnya, saya melakukan puasa Senin Kamis sebagaimana diceritakan oleh Pak Suryanto, maka secara tidak langsung saya mendapatkan manfaat ilmu dan demikian pula Pak Suryanto. Gampang untuk menjadikan ilmu bermanfaat.

Lalu barakah dalam makna ziyadatul khoir fil iqtishadiyah yaitu bertambahnya kebaikan di dalam perekonomian khususnya rezeki yang berupa harta, kekayaan dan kekuasaan. Jika secara ekonomi kita bertambah hartanya atau asetnya dan harta atau  asset tersebut tidak menambah kebaikan, maka artinya harta dan asset kita tidak berbarakah. Tetapi jika pertambahan harta dan asset tersebut lalu berguna untuk masyarakat maka berarti bahwa asset dan harta tersebut bermanfaat. Allah sudah menyediakan washilah atau perantara atau instrument agar harta dan asset kita bermanfaat, yaitu dengan zakat, infaq, sedekah dan wakaf. Agama yang paling komplit dalam ajaran pilantropi adalah Islam. Melalui instrument tersebut dapat mengantarkan umat Islam untuk mencintai amalan shalihan berupa infaq ke masjid, zakat dan sedekah ke anak-anak yatim dan juga memberikan wakaf dalam bentuk harta tidak bergerak atau wakaf uang.

Ketiga, semua variasi ziyadah tersebut kemudian berada di dalam konteks ziyadatul khoir fiddin. Jadi ujung akhir dari semua ziyadah tersebut adalah keberagamaan kita menjadi semakin baik. Dunia spiritualitas kita semakin luar biasa. Shalat makin baik, puasa semakin baik, wirid semakin banyak dan terstruktur, dan zakat juga semakin bertambah. Akan menjadi hebat lagi jika kita melakukannya justru bukan kala banyak uang, akan tetapi juga tidak melupakan pilantropi  di saat rezeki ekonomi kita tidak sebaik sebelumnya. Alladzina yunfiquna fis sarrai wadh dharrai, Orang-orang yang berinfaq di kala sempit dan ulaika humul muflihun, mereka adalah orang-orang yang beruntung.

Wallahu a’lam bi al shawab.

SIMBOL POTENSI MASUK NERAKA

SIMBOL POTENSI MASUK NERAKA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Beberapa saat yang lalu, saya mendengarkan salah satu tayangan di Media Sosial tentang orang-orang yang potensial akan masuk neraka. Nama-nama mereka tercantum di dalam teks suci Alqur’an dan mereka tergolong orang yang mengingkari kebenaran atas apa yang dibawa oleh Nabi dan Rasul yang bersumber dari Allah SWT. Tentu yang tertera secara tekstual di dalam Alqur’an adalah sebuah kebenaran transcendental.   Di  dalam literatur ilmu agama dan ilmu social disebut sebagai kebenaran yang bersumber dari empiris transcendental, yaitu kebenaran yang berbasis pada keyakinan atau kepercayaan atas eksistensi hal-hal yang gaib dan konsekuensi atas keyakinannya tersebut.

Berdasarkan pelacakan atas teks suci dimaksud, maka   terdapat orang yang dipastikan akan masuk neraka. Dosa yang dilakukan sebagai dosa besar yang tidak terampuni, karena mereka memang tidak sempat untuk bertaubat. Tidak ada waktu baginya untuk bertaubat kepada Allah. Mereka semua meninggal pada saat belum sempat bertaubat kepada Allah atas kekhilafan atau dosa yang diperbuatnya.

Di antara mereka yahg dinash akan masuk neraka tersebut adalah: Qabil bin Adam. Qabil adalah saudara Habil. Sebagaimana yang dikehendaki oleh Tuhan, bahwa Nabi Adam menurunkan anak-anak kembar, dan sesuai dengan syariat pada waktu itu, maka harus dinikahkan secara silang. Saudara kembar Habil menikah dengan Qabil dan saudara kembar Qabil menikah dengan Habil. Kecantikan perempuan menjadi penyebab atas kedengkian di antara hamba Allah tersebut. Qabil kecewa karena yang dinikahkan dengannya adalah saudara kembar Habil yang kurang cantik dan saduara kembarnya yang cantik dinikahkan dengan Habil. Ini merupakan awal pertama terjadinya sikap dengki dan iri hati. Ditambah lagi dengan korban Qabil yang terdiri dari buah-buahan yang tidak berkualitas yang menyebabkan Allah tidak menerimanya, sementara kurban Habil berupa kambing yang berkualitas, sehingga diterima Allah. Maka Qabil kemudian membunuh Habil. Inilah pembunuhan pertama umat manusia di dunia.

Berikutnya adalah anak Nabi Nuh, Kan’an. Dalam banjir besar pada masa Nabi Nuh, maka istri dan anaknya termasuk yang lebih percaya kepada kaum Nabi Nuh ketimbang kepercayaan atas Nabi Nuh. Keduanya terkena bencana tenggelam karena air bah yang menyapu daratan. Gunung yang tinggipun terkena efek tenggelam atas banjir dimaksud. Hanya orang yang percaya kepada ajaran Nabi Nuh saja yang selamat.

Lalu, istri Nabi Luth. Istri Nabi Luth adalah orang yang lebih mendengarkan kaumnya Nabi Luth dibandingkan dengan suaminya sendiri. Dia justru menjadi mata-mata kaum musyrikin tentang keadaan Nabi Luth. Yang dipastikan juga masuk neraka adalah Fir’aun yang hidup semasa dengan Nabi Musa. Fir’aun adalah seorang raja yang sangat berkuasa dan karena kekuasaannya yang besar tersebut, maka dia mengaku Tuhan. Dia hidup dikelilingi dengan ahli sihir yang dapat meramal masa depan. Pada masanya, Piramida di Mesir dibangun. Rasanya piramida yang terbesar di Mesir itu adalah karyanya, selain itu juga terdapat piramida yang kecil-kecil.

Kemudian Raja Namrudz yang juga meyakini dirinya adalah Tuhan karena kekuasaannya yang sangat besar. Namrudz adalah seorang raja yang sangat otoriter. Siapa yang tidak mematuhinya pasti akan dihukum mati. Salah satu di antara orang yang menentang keyakinannya adalah Nabi Ibrahim, maka Nabi Ibrahimpun dihukum dengan dibakar hidup-hidup. Nabi Ibrahim dimasukkan dalam api yang menyala selama tujuh hari. Di akhir masa hidupnya, Namrudz dikalahkan oleh seekor nyamuk yang memasuki hidungnya dan menyebabkan sakit kepala tak tertahankan. Termasuk pembuat patung yang dinisbahkan sebagai bapak Nabi Ibrahim, Azar. Pembuat patung ini diyakini akan menjadi penghuni neraka.

Lalu Qarun, seorang yang sangat kaya raya, bahkan untuk membawa kunci gudang-gudangnya diperlukan satu kendaraan khusus. Qarun merupakan orang yang selalu menumpuk harta sehingga kekayaannya tidak dapat digambarkan. Qarun mati dalam keadaan kafir dan dipastikan juga akan menjadi penghuni neraka. Qarun adalah orang kaya di masa lalu yang menjadi gambaran kaum kapitalis. Juga terdapat nama Abu Lahab dan istrinya, Abu Jahal dan lain-lain yang menggambarkan atas orang yang selalu berbuat jahat dan ingin mencelakakan orang lain.

Di  dalam Alqur’an sudah terdapat siapa yang kiranya dapat menjadi penghuni neraka, karena amal perbuatannya. Ada yang kafir, musyrik dan orang yang jahat selama hidupnya. Mereka orang yang tidak mendengarkan seruan untuk memercayai keberadaan Allah SWT dan tidak mengikuti pedoman sebagaimana yang sudah disampaikan oleh para rasulnya. Mereka adalah symbol realitas tentang orang yang berpotensi masuk neraka.

Jika dianalisis secara kasar, maka Fir’aun dan Namrudz adalah symbol atas penguasa yang dzalim yang otoriter dan menyuruh masyarakatnya untuk mengingkari keberadaan Tuhan dengan mengaku dirinya sebagai Tuhan. Bisa jadi, penguasa seperti ini juga ada di zaman sekarang, hanya dengan kadar yang berbeda. Ada pemimpin negara yang menyengsarakan masyarakatnya.

Lambang keserakahan adalah Qarun, seorang kapitalis di masa lalu. Kapitalisme bukan hanya peristiwa di masa kini saja tetapi juga di masa lalu. Orang kapitalis yang serakah dan hanya mementingkan kekayaan tanpa mengingat bahwa di dalam hartanya terdapat hak kaum miskin adalah orang yang berpotensi masuk neraka. Qarun adalah lambang kapitalisme yang tidak berkemanusiaan. Kemudian juga Azar adalah contoh orang yang memberikan peluang orang lain untuk menyembah berhala selain Allah. Para pengkhutbah yang mengajak orang lain melakukan kemusyrikan dan kekafiran disimbolkan dengan Azar sang pembuat berhala.

Kan’an adalah symbol anak yang tidak patuh pada orang tuanya. Kan’an adalah anak yang tidak meyakini akan kebenaran ajakan orang tuanya. Dia menolak ajakan orang tuanya untuk mematuhi perintah Allah. Dianggapnya bahwa dirinya mampu melawan perintah Allah melalui orang tuanya. Lalu istri Nabi Luth adalah lambang atas ketidakpatuhan seorang perempuan akan kebenaran. Dia lebih suka untuk mempercayai orang lain yang kafir ketimbang suaminya yang memperoleh warta kebenaran dari Allah SWT.

Kemudian, Abu Lahab dan Abu Jahal menggambarkan orang yang tidak pernah berlaku kebaikan. Hidupnya dipenuhi dengan pemikiran untuk mencederai dan menghacurkan orang lain. Upayanya untuk terus menerus mencelakai Nabi Muhammad SAW adalah lambang atas orang yang selalu berpikiran dan bertindak kejahatan. Hidupnya dipenuhi dengan iri, dengki dan berbuat jahat kepada orang lain.

Jika Alqur’an menggambarkan dengan sejumlah tokoh yang akan masuk neraka. Sesungguhnya Allah mengajari akan umat Nabi Muhammad jangan melakukan hal yang sama dengan umat-umat terdahulu tersebut. Jika menjadi penguasa harus menjadi penguasan yang adil dan selalu membuat kebijakan yang memihak rakyat. Jika menjadi professional janganlah profesi yang bersearah dengan kejelekan dan upaya untuk membuat orang tidak meyakini akan keberadaan Allah. Jika menjadi manusia jangan selalu berbuat jahat dengan keinginan untuk mencelakai orang lain.

Sekali lagi apa yang dinyatakan di dalam Alqur’an adalah upaya bagaimana Allah menyimbulkan dengan prilaku yang mengarah kepada perbuatan yang potensial ke neraka. Na’udzubillahi min dzalik.

Walahu a’lam bi al shawab.