• May 2026
    M T W T F S S
    « Apr    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

ISLAM DAN ILMU PENGETAHUAN

ISLAM DAN ILMU PENGETAHUAN

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Di dalam pengajian Selasanan di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency pada 05/03/2024, maka saya ikut memberikan penjelasan atas ceramah agama yang disampaikan oleh Ustadz Sahid dengan tema Puasa Full Cinta, sebagaimana yang sudah saya unggah di nursyam.uinsby.ac.id dan juga sudah saya share di komunitas WAG yang saya terlibat di dalamnya.

Saya memberikan penjelasan bahwa ajaran-ajaran Islam yang selama itu menjadi doktrin atau berada di dalam wilayah keyakinan, akan tetapi lama kelamaan akhirnya bisa dibuktikan secara saintifik. Ajaran Islam yang semula diyakini saja keberadaannya, akhirnya melalui kajian ilmiah berhasil dibuktikan. Sungguh Allah SWT telah memberikan peluang bagi ahli sains untuk memberikan justifikasi bahwa ajaran Islam benar dan ada yang relevan dengan kajian ilmiah.

Di dalam Islam terdapat dua aspek ajaran yaitu ajaran doctrinal dan ajaran tentang pemikiran. Yang doctrinal adalah ajaran inti di dalam Islam yang terkait dengan doktrin-doktrin agama. Tentang Tuhan, tentang Malaikat, tentang Rasul, tentang Hari qiyamat, tentang Roh  dan tentang takdir adalah berkaitan dengan doktrin yang mau tidak mau orang harus percaya. Tidak perduli masuk akal atau tidak, rasional atau tidak. Yang diwajibkan adalah mempercayai kebenarannya. Inilah kebenaran mutlak yang manusia beragama tidak boleh meragukannya. La raiba fihi. Ada dunia kegaiban yang manusia harus meyakininya dengan sepenuh hati, jiwa dan raga.

Namun demikian ada juga yang mengandung dimensi kebenaran akal atau ratio kita membenarkannya. Misalnya ajaran etika untuk mengajarkan relasi antar manusia, maka rasio kita membenarkannya. Melalui ajaran etika maka manusia memiliki kesopanan, manusia memiliki tata cara untuk saling berkomunikasi dan manusia memiliki kemampuan untuk menyatakan mana relasi social yang boleh dan mana yang tidak. Di dunia ini ada banyak etika social yang didasari oleh ajaran agama. Dunia menjadi teratur yang salah satunya didasarkan atas ajaran agama, misalnya ajaran kasih sayang, saling memberi dan ajaran untuk berbuat baik.

Di dalam kaitannya dengan mukjizat para Nabi atau Rasul juga merupakan kejadian yang tidak masuk akal manusia. Ada mu’jizat yang akal manusia tidak mampu untuk memikirkannya. Salah satu kelebihan Nabi atau rasul adalah dikaruniai dengan mu’jizat yang melampaui batas akal manusia. Misalnya Nabi Isa dapat menghidupkan orang yang wafat, Nabi Sulaiman dapat berbicara dengan binatang, Nabi Musa dapat membelah laut dengan tongkatnya, Nabi Ibrahim tidak terbakar karena api, Nabi Muhammad SAW dapat membelah bulan, dan kalam Allah Alqur’an yang hanya bisa dijelaskan dengan “kata” sebagai mu’jizat.

Alqur’an inilah yang banyak bercerita tentang kejadian-kejadian yang disebut sebagai mu’jizat. Alqur’an sebagai Kitab Suci banyak menceritakan tentang kejadian masa lalu, misalnya tentang jasad Fir’aun yang berada di pantai Laut Merah, Bulan terbelah, isra’ dan mi’raj,  malam lailatul qadar, dan Nabi Ibrahim yang tidak mempan dibakar oleh Raja Namrud dan lain-lain. Ada banyak kejadian aneh yang terdapat di dalam Alqur’an yang menggambarkan tentang  dunia mu’jizat yang penuh misteri. Dan sebagaimana dipahami bahwa tidak semua mu’jizat tersebut dapat dijelaskan dengan akal manusia melalui penelitian di bidang sains.

Namun demikian, semakin banyak fenomena mu’jizat Nabi yang bisa dijelaskan dengan penjelasan sains. Ada banyak ahli sains yang menjadi muslim setelah melakukan kajian yang mendalam tentang informasi di dalam Alqur’an. Ada beberapa yang fenomenal, misalnya dibenarkannya bahwa Fir’aun itu mati di laut sebab di dalam mulutnya terdapat kandungan garam yang tidak mungkin itu terjadi pada manusia yang tidak tenggelam di laut. Di dalam studi yang dilakukan oleh Maurice Buchaile maka dipastikan bahwa Fir’aun yang semasa dengan Nabi Musa itu tenggelam di laut kala Fir’aun tersebut mengejar Nabi Musa yang menyeberangi laut Merah dalam pelariannya dari Mesir ke Palestina. Kala Nabi Musa menyeberangi laut, maka Fir’aun dan bala tentaranya mengikutinya, akan tetapi akhirnya Fir’aun dan tentaranya tenggelam di laut, dan jasad Fir’aun tersebut terkubur di pantai dan ditemukan dalam studi untuk diawetkan. Kala Buchaille menelitinya maka sampai kesimpulan bahwa Fir’aun tersebut memang tenggelam di laut. Dalam waktu 400 tahun barulah mu’jizat Nabi Musa tersebut terkuak dan menjadi penyebab masuk Islamnya Buchaille.

Yang juga tidak kalah menarik adalah kebenaran mu’jizat Nabi Muhammad tentang bulan terbelah. Di masa Nabi Muhammad SAW hal tersebut menjadi mu’jizat sampai kemudian ditemukan kenyataan bahwa bulan memang memiliki indicator di bulan terdapat patahan-patahan yang menandakan pernah terbelah. Di masa lalu, bulan terbelah merupakan mu’jizat, akan tetapi di kala manusia dengan ilmu pengetahuannya dapat menyingkap secara empiris bahwa bulan terdapat patahan yang menggambarkan tentang bulan pernah terbelah, maka mu’jizat tersebut ternyata secara empiris benar.

Bahkan juga puasa. Di masa lalu puasa menjadi ajaran yang wajib dilakukan sebagai rukun Islam. Umat Islam harus melakukannya. Tetapi seirama dengan kajian empiris tentang puasa dari dimensi Kesehatan, maka puasa ternyata memang dapat menjadikan seseorang lebih sehat. Benarlah sabda Nabi Muhammad SAW shumu tasihhu.  Berpuasalah agar menjadi sehat.

Wallahu a’lam bi al shawab.

PUASA FULL CINTA

PUASA FULL CINTA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Pengajian di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency, Selasa, 05/03/2024,  menjadi menarik karena membahas cinta. Tetapi cinta yang dibahas bukan cinta antar jenis, tetapi cinta spiritual yaitu cinta yang terkait dengan kehadiran bulan Ramadlan 1445 Hijriyah atau 2024 M. Yang memberikan pengajian adalah Ustadz Sahid, specialis trainer SDM yang sudah malang melintang di berbagai pelatihan pengembangan SDM baik di dunia pemerintahan maupun dunia perusahaan. Pengajian rutin selasanan memang diikuti oleh jamaah pengajian dari Masjid Raudhah di Perumahan Sakura Regency dan Masjid Al Ihsan di Perumahan Lotus Regency.

Yang menarik dari pengajian ini adalah terdapat dialog antara narasumber dan peserta pengajian. Tetapi yang lebih heboh karena persyaratan harus tertawa lepas sekurang-kurangnya 17 kali. Proposisi yang dikembangkan lewat pengajian ini adalah Ngaji Bahagia, semakin banyak tertawa semakin baik dan akan berakhir semakin sehat. Semua jamaah selalu dipancing untuk tertawa apapun materi ceramahnya.

Ada tiga hal yang disampaikan oleh Ustadz Sahid di alam ceramahnya. Pertama, ucapan rasa syukur karena semua jamaah dalam keadaan sehat wal afiat. Semua bisa shalat jamaah, terutama jamaah shalat shubuh. Shalat shubuh berjamaah itu fadhilahnya sangat tinggi karena Allah akan memberikan pahala yang sangat besar untuk para jamaah. Apalagi seperti di sini dilakukan wirid atau dzikir bersama, lalu membaca Alqur’an Surat Al Waqiah atau Surat Al Kahfi dan doa yang memohon ampunan kepada Allah agar kekhilafan, kesalahan dan dosa diampuni oleh Allah.  Dan yang tidak kalah menarik adalah melalui pengajian ini kita dapat  tertawa bersama dengan tertawa lepas, yang rasanya tidak dijumpai di tempat lain. Zaman ini sudah berat maka jangan dibuat semakin berat. Mari kita tertawakan saja kehidupan ini agar kita selalu fresh lahir dan batin.

Kedua, sebentar lagi kita akan memasuki bulan ramadlan. Bulan istimewa yang Allah akan memberikan rahmah, maghfirah, dan terlepas dari api neraka. Bulan ini sangat istimewa oleh karena semoga kita diberi peluang oleh Allah agar bisa menyelesaikan puasa selama satu bulan, bisa 29 hari atau 30 hari. Doa yang selalu dibacakan oleh imam-imam kita dalam shalat adalah “Allahumma bariklana fi rajab wa sya’ban wa balighna ramadlan”, yang artinya: “Ya Allah berkahilah kami di bulan rajab dan sya’ban dan sampaikan kami pada bulan ramadlan”. Inilah permohonan kita kepada Allah agar kita dapat melakukan puasa ramadlan. Bulan yang penuh ampunan dan penuh dengan keberkahan. Bahkan juga terdapat di dalamnya malam Lailatul Qadar, suatu malam yang jika kita beribadah maka ibadah kita  akan  lebih baik dari 1000 bulan. Subhanallah.

Jika diibaratkan maka bulan Rajab itu bulan penyemaian daun-daun dan batang-batang, lalu pada bulan Sya’ban itu masa berbuah dengan buahnya yang besar, ranum dan menggairahkan dan bulan puasa adalah masa panen. Masa memetik buah-buah yang ranum dimaksud. Makanya pada bulan Rajab dan Sya’ban itu disebut sebagai bulan persiapan untuk memasuki bulan ramadlan. Umat Islam disunatkan untuk berpuasa sebagai persiapan berpuasa di bulan ramadlan. Puasa itu instrument untuk melatih jiwa dan raga. Jiwa kita dilatih untuk sabar dan fisik kita dilatih untuk menahan hawa nafsu makan dan minum dan perbuatan lain yang dilarang di dalam berpuasa. Orang yang sedang berpuasa tidak akan marah, inni shaimun, saya sedang berpuasa. Cuma saja jangan sampai  marahnya dilampiaskan setelah berbuka. Diupayakan agar selama berpuasa dan setelah berpuasa kita menjaga kesabaran. Sama halnya kita menahan makan dan minum di siang hari tetapi balas dendam di malam hari. Kita sudah melakukan pelatihan dan semoga nanti kita semua  akan sehat sehingga dapat melaksanakan puasa secara sempurna.

Ketiga, puasa yang kita lakukan harus puasa yang penuh rasa cinta. Bahkan orang yang bergembira karena datangnya puasa saja akan memperoleh pahala dari Allah sebagai bagian dari mencintai ajaran Islam dalam berpuasa. Janganlah kita justru berkeluh kesah karena kehadiran puasa. Meskipun kita diciptakan sebagai makhluk yang suka berkeluh kesah. Innal insana khuliqa halu’a, yang artinya sesungguhnya manusia diciptakan suka berkeluh kesah (Alqur’an,Surat  Al Ma’arij, ayat 19).

Puasa itu diajarkan kepada manusia agar manusia bersabar dan bertaqwa kepada Allah. Manusia juga diajarkan untuk mencintai Allah, mencintai manusia dan mencintai alam semesta. Allah itu menciptakan dunia dan tata surya ini dengan kasih dan sayang. Allah itu mengatur alam dengan keteraturan yang luar biasa tersebut karena kecintaan Allah kepada khalifahnya di bumi.

Puasa bisa menjadi instrument untuk menumbuhkan kasih sayang kepada sesama makhluk terutama kepada sesama manusia. Manusia itu ditakdirkan oleh Allah untuk memiliki kasih sayang dan cinta. Di dalam hati seseorang itu berdiam dengan teguh rasa kasih sayang dan cinta. Kita bisa menyayangi keluarga, menyayangi orang lain, menyayangi kaum dhu’afa, dan juga menyayangi kaum miskin yang semua itu adalah ekspresi manusia atas kasih sayang Allah ke dalam diri kita.

Melalui puasa kita diajarkan untuk menumbuhkan cinta kepada Allah dalam kerangka meningkatkan hablum minallah, kita diajarkan untuk mencintai manusia sebagai sesama ciptaan Allah dalam kerangka meningkatkan hablum minan nas dan juga mencintai ciptaan Allah yang berupa alam semesta, atau hablum minal alam.

Puasa merupakan cara Allah untuk mengajari kita sebagai makhluknya agar terus menumbuhkan rasa kasih sayang dan cinta. Hanya dengan kasih sayang dan cinta maka dunia akan menjadi aman dan damai,  sehingga bahagia dan tenteram akan dapat diraih bersama.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

DIMENSI ESOTERIS AGAMA (BAGIAN DUA)

DIMENSI ESOTERIS AGAMA (BAGIAN DUA)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Tulisan ini merupakan kelanjutan atas tulisan sebelumnya yang juga membahas tentang Dimensi Esoteris Agama dengan focus pada bahasan bahwa semua agama memiliki dimensi esoteris atau tasawuf. Tidak hanya Islam yang memilikinya, tetapi agama-agama lain juga berkutat dengan ajaran mendalam agama. Dunia metafisis atau kegaiban agama-agama. Dunia metafisis agama berkaitan dengan bagaimana Tuhan hadir di dalam diri manusia melalui pengalaman batin berbasis pada kemampuan yang disebut ainun bashirah.

Islam merupakan agama yang sangat mendasar mengajarkan tentang dimensi metafisis atau ajaran kegaiban.

Ajaran tasawuf dikaitkan dengan dua sahabat Nabi Muhammad SAW, yang memiliki kontribusi besar dalam pengalaman agama dalam coraknya yang batiniah. Dua orang sahabat tersebut adalah Sayyidina Abu Bakar RA dan Sayyidina Ali RA. Yang banyak hadir di Indonesia adalah yang memiliki sanad yang tersambung kepada Sayyidina Ali dan Sayyidatina Fathimah. Hal ini tentu saja sehubungan dengan para pendakwah generasi pertama dan kedua yang terafiliasi sanadnya sampai kepada Sayyidina Ali dan Sayyidatina Fathimah binti Rasulullah SAW.

Salah satu kelebihan dari tradisi Arab adalah upaya secara terus menerus untuk merawat genealogi keturunan yang sambung menyambung sampai leluhurnya. Sanad Waliyullah, misalnya Eyang Sunan Drajat itu bersambung kepada Eyang Sunan Ampel terus ke Eyang Syekh Ibrahim Asmaraqandi, ke Syekh  Jumadil Kubra terus ke atas sampai ke Sayyidina Ali dan Sayyidatina Fathimah ke Rasulullan SAW. Mereka adalah para Sayyid yang dibangsakan dengan keturunan Arab dari jalur Sayyidina Ali dan Sayyidah Fathimah. Sementara itu juga ada yang dibangsakan dengan Syarif yang berhubungan dengan keturunan Sayyidina Hasan, misalnya Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Dalam bahasa sederhana dapat dinyatakan bahwa Syekh itu terkait dengan genealogi ilmu keislaman, sedangkan syarif dikaitkan dengan genealogi kekuasaan. Mereka adalah para penganut Islam esoteris dengan banyak pengamalan tasawufnya. Misalnya, Sunan Gunungjati dikenal sebagai pengikut tarekat Syatariyah dan juga penganut tarekat Syahadatain. (Nur Syam, Tarekat Petani: Fenomenologi Tarekat Syatariyah Lokal, 2014).

Tasawuf adalah dimensi mendalam dalam agama atau dimensi esoteris agama, sedangkan tarekat adalah dimensi praksis tasawuf yang merupakan bentuk pengamalannya. Tasawuf dibagi menjadi dua dalam praksis kehidupan para ahlinya, yaitu tasawuf falsafi dan tasawuf amali atau tasawuf akhlaki. Tasawuf falsafi merupakan jenis tasawuf yang menggunakan pendekatan falsafah atau pemikiran untuk mengenal dan merasakan kehadiran Tuhan dalam amalan-amalannya. Tasawuf falsafi banyak bersentuhan dengan ilmu kalam atau membicarakan tentang Tuhan dan bagaimana Tuhan itu hadir di dalam diri manusia. Misalnya Al Hallaj, Dzinnun Al Mishri, dan Yazid Bustami di Timur Tengah serta Syekh Lemah Abang atau Syekh Abdul Jalil di Nusantara. Ada dua pemikiran tentang kehadiran Tuhan, yaitu Tuhan memasuki alam manusia, misalnya pernyataan anal haq sebagaimana diungkapkan oleh Al Hallaj atau Syekh Abdul Jalil. Jika seseorang sudah bisa menghadirkan Tuhan  di dalam amalan tasawufnya, maka tidak ada perbedaan antara manusia dan Tuhan karena Tuhan sudah manjing sajiwa atau Tuhan memasuki alam nasut. Alam manusia. Tentu tidak dalam bentuk fisik tetapi dalam pengalaman batiniah melalui ainun bashirah.

Lalu terdapat tasawuf ‘amali atau akhlaki yaitu tasawuf yang berbentuk tarekat yang lebih menekankan pada fiqih. Jadi tarekat yang di dalamnya terdapat dzikir dan wirid dilakukan secara terstruktur dalam jumlah tertentu. Bagi kalangan ini, seseorang tidak diperkenankan memasuki dunia tarekat jika amalan syariahnya belum memadai. Jadi harus amalan syariahnya baik lalu memasuki amalan tarekat dan terakhir akan memasuki amalan hakikat.  Syariat, tarekat dan hakikat merupakan system yang menyatu dan tidak bisa dipisahkan satu dengan lainnya. Tidak boleh misalnya di kala sudah memasuki alam hakikat lalu meninggalkan alam syariat. Genealogi keilmuan tarekat amali  berbasis pada fiqih atau syariah dalam konteks amalan ibadah.

Di Indonesia terdapat sebanyak 41 tarekat dengan tokoh dan amalan-amalannya. Sebanyak 41 tarekat ini yang dianggap mu’tabaroh atau memiliki ketersambungan sanad sampai Rasulullah Muhammad SAW. Ada yang disebut tarekat ghairu mu’tabarah atau tarekat yang terputus salah satu sanadnya.  Terdapat sanad yang tidak tersambung sampai kepada Rasulullah. Itulah sebabnya terdapat perkumpulan tarekat Mu’tabarah, misalnya Jam’iyah Ahlu Thariqah Mu’tabarah Nahdhiyah (JATMAN), sebuah organisasi yang menghimpun tarekat-tarekat yang sesuai dengan genealogi yang diabsahkan oleh NU sebagai tarekat mu’tabarah.

Karena factor politik di masa Orde Baru, maka juga terdapat perpecahan di dalam tubuh organisasi tarekat, yaitu di saat Kyai Mustain memasuki Golkar, maka tarekat-tarekat lain yang tergabung dalam JATMAN mendukung Partai Persatuan Pembangunan (PPP), maka kemudian di bawah Golkar, Kyai Mustain mendirikan Jam’iyah Ahlu Thariqah Mu’tabarah Indonesia (JATMI) yang masih eksis sampai sekarang meskipun semakin mengecil keanggotaan tarekat di dalamnya.

Tarekat sebagai orde tasawuf tentu tidak terlepas dari persoalan duniawi. Ajaran tarekatnya memang mengandung kesakralan atau kesucian, akan tetapi pelakunya tentu berada di dalam dunia profan, makanya hukum keduniawian tentu menyelimuti para pelakunya. Tetapi yang pasti, bahwa pelaku tarekat adalah orang yang lebih terstruktur di dalam pengalaman dzikir atau wiridnya. Dan kata kunci wiridnya adalah kalimat tauhid atau  lailaha illallah. Tidak ada Tuhan selain Allah. Inilah substansi dari ajaran tarekat. Kalau ada yang lain-lain adalah tambahan-tambahan untuk memperoleh nilai lebih di dalam beribadah.

Tarekat merupakan instrument untuk “menemukan” Tuhan bagi para perindu Tuhan. Mereka ingin memperoleh pencerahan Tuhan dalam wirid yang dibacanya. Tentu ada yang berhasil dan ada yang tidak tetapi berdasarkan logika supra rasional, bahwa dipastikan bahwa siapa yang banyak dzikirnya tentu akan mendapatkan balasan yang setimpal dengan amalannya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

DIMENSI ESOTERIS AGAMA (BAGIAN SATU)

DIMENSI ESOTERIS AGAMA (BAGIAN SATU)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Di Masjid Al Ihsan, Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya memang diselenggarakan pengajian pada setiap Hari Selasa ba’da Shubuh dengan membahas berbagai tema yang dianggap relevan dan penting dalam kerangka menjaga keimanan, keislaman  termasuk menjaga keluarga dan komunitas atau masyarakat. Tetapi setiap acara tahsinan Alqur’an selalu dibahas tentang hal-hal yang terkait dengan ayat yang dibaca. Meskipun saya bukan ahli tafsir, akan tetapi oleh Ustadz Alief Rifqi Al Hafidz, saya selalu diminta untuk memberikan penjelasan tentang ayat yang dibaca. Tetapi tafsir sosiologis.

Pagi, Rabo,  28/02/2024 Pak Mulyanta memulai dengan pertanyaan yang menggelitik tentang apakah tasawuf itu ada pada semua agama. Menurutnya bahwa setiap agama memiliki dimensi tasawuf yang tentu sesuai dengan ajaran agamanya. Maka, sebelum tahsinan dimulai kita bahas dulu terkait dengan pertanyaan tersebut. Tentu saja sebuah pertanyaan yang tidak mudah dijelaskan karena menyangkut dimensi mendalam atau dimensi esoteris agama-agama. Dan pastilah bahwa saya bukan orang yang ahli dalam semua agama, kecuali yang berada di aras permukaan atau Bahasa kerennya struktur luarnya.

Benar bahwa setiap agama, apa saja dan bahkan aliran kebatinan, menyajikan dimensi mendalam agama, yang di dalam Islam disebut sebagai tasawuf. Di dalam agama Tao atau yang juga sering dikaitkan dengan ajaran filsafat China disebut dengan ungkapan Yin dan Yang merupakan ajaran yang menyatakan bahwa setiap benda di dunia ini terdiri dari dua kekuatan yang saling menguatkan atau saling memperkuat. Yang berwarna putih dan Yin berwarna hitam. Keduanya mengandung kekuatan atau potensi yang saling berhubungan. Yin berlambang hitam sebagaimana malam dan Yang berlambang putih yang berarti siang. Keduanya tidak dapat dipisahkan dan mengandung keseimbangan. Dunia itu terdiri dari hukum berpasangan, seperti lelaki dan perempuan, bulan dan matahari, siang dan malam dan sebagainya.

Di dalam agama Hindu terdapat pandangan tentang Tat Twam Asi artinya adalah pandangan yang menyatakan bahwa di dalam kehidupan yang terpenting adalah kekitaan bukan keakuan. Kau adalah aku, aku adalah kau. Aku  dan kau adalah kita. Pandangan ini menjadi bagian dari prilaku manusia agar hidup dalam keseimbangan, menyeimbangkan antara kepentingan diri dan kepentingan orang lain. Ajaran ini mengajarkan agar orang saling menyayangi dalam darma. Dalam perspektif ketuhanan, maka ajaran ini menggambarkan bahwa di dalam diri manusia terdapat energi ketuhanan dan di dalam Ketuhanan terdapat potensi penciptaan diri manusia. Jika Kamu adalah manusia, maka Aku adalah Tuhan. Dan antara Aku dan Kamu merupakan satu kesatuan yang menggambarkan kemenyatuan  antara yang profan dan yang sacral.

Di dalam agama Buddha maka inti kehidupan adalah bahagia. Orang yang beragama harus dapat mencapai kebahagiaan atau dapat mengendalikan pikiran atau mengendalikan kemauan. Kebahagiaan itu akan dapat dicapai jika seseorang dapat menyeimbangkan antara Aku dan Kamu. Antara Aku Tuhan dan Kamu manusia. Untuk mencapainya maka agama Buddha mengajarkan untuk bermeditasi, misalnya melaksanakan Yoga. Agama Buddha begitu mengagungkan kebahagiaan sebagai pencapaian beragama yang paling tinggi. Hal tersebut tercermin dari ungkapan Budhis, “agar semua makhluk  bahagia”.

Islam sebagai agama juga mengajarkan tentang tasawuf, yang di dalam konsepnya disebut sebagai ihsan. Setelah Nabi Muhammad SAW diajari oleh Malaikat Jibril yang mempersonifikasikan  diri, dengan ungkapan ma huwal iman…lalu ma huwal Islam… lalu  ma huwal ihsan. Kata ihsan inilah yang menjadi sumber lahirnya tasawuf yang diamalkan oleh umat Islam.  Sesuai dengan hadits Nabi Muhammad SAW, dinyatakan bahwa  Ihsan  adalah “engkau menyembah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, dan jika kamu tidak dapat melihatnya bahwa sesungguhnya Allah melihatmu”. Jika dipertanyakan mengapa Malaikat Jibril mengajarkan agar manusia menyembah Allah seakan-akan Allah hadir di dalam persembahan tersebut dan jika tidak dapat melihat Tuhan yang disembahnya, maka yakinilah bahwa Allah itu melihatnya. Tentu hal ini terkait dengan “kegaiban” Allah yang dipastikan bahwa manusia tidak akan dapat melihat dengan mata kepalanya. Yang bisa bertemu dengan Allah SWT hanya Nabi Muhammad sebagai manusia sempurna.

Di dalam konsepsi tasawuf maka melihat itu tidak dengan mata telanjang tetapi melalui mata hati atau ainun bashirah, yang bisa saja manusia  merasakan kehadiran Allah di dalam diri di kala beribadah. Orang yang melakukan shalat dengan kekhusyuan sebagaimana Sayyidina Ali, maka dengan ainun bashirah akan dapat merasakan kehadiran Allah SWT. Manusia yang melakukan riyadhah dengan tekun dan konsisten, tentu memiliki peluang untuk “menemukan” Tuhan dalam ainun bashirah. Diyakini bahwa terdapat manusia yang karena kehendak Allah bisa merasakannya. Di dalam dunia psikhologi disebut sebagai the experience of the holy atau pengalaman dalam berkomunikasi dengan Tuhan yang Maha Suci.

Para penyebar Islam generasi awal dan kedua, dan seterusnya, para waliyullah, diyakini oleh para pengagumnya sebagai orang yang mendapat karomah atau kelebihan batiniah atau memperoleh keridlaan yang berupa ainun bashirah. Hal ini tentu terkait dengan perjuangan dan riyadhahnya di dalam menyebarkan ajaran Islam.

Mereka merupakan orang Islam yang telah memasuki dunia esoteris di dalam Islam. Tidak hanya beragama secara formal tetapi beragama secara substansial dengan format mengamalkan tasawuf di dalam kehidupannya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

JAGA KELUARGA KITA DARI RADIKALISME

JAGA KELUARGA KITA DARI RADIKALISME

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Saya mendapatkan kiriman pesan melalui WhatApp dari sahabat saya, AKBP. M. Dhofier tentang gerakan radikalisme yang sudah menyasar pada anak-anak. Saya yakin bahwa yang dikirim ke saya bukan hoaks tetapi kenyataan. Sahabat-sahabat saya di BNPT dan Densus 88 pastinya akan mengirimkan informasi yang valid karena menyangkut nasib bangsa secara umum dan secara khusus terkait dengan masa depan agama di Indonesia.

Hal ini saya sampaikan dalam ceramah pada Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) pada acara ngaji rutin setiap hari Selasa. Disebut juga sebagai ngaji selasanan. Ngaji dilaksanakan di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency, Ketintang Surabaya. Acara ngaji bareng ini selalu diselingi dengan tertawa lepas, meskipun materi pengajiannya itu hal-hal yang sangat serius. Ada saja yang bisa ditertawakan. Peserta ngaji adalah jamaah shalat shubuh pada Masjid Al Ihsan Lotus Regency dan Masjid Raudhah pada Perumahan Sakura Regency. 27/02/2024.

Secara umum dapat dideskripsikan bahwa unggahan melalui youtube ini adalah mengenai pemahaman anak usia belasan yang sudah terpapar virus terorisme dan bukan sekedar radikalisme. Di dalam unggahan wawancara tersebut dinyatakan: “…. Kalau ini matinya senyum, “bahagia maksudnya”. “Semua orang kalau disuruh mati sahid langsung pada seneng. Kalau mati sahid itu meledak pakai  bom.  Kalau  orang mati itu  kesakitan, kalau mati sahid tidak ada rasa-rasapun, malahan ada yang badannya  sudah kebeler gede,  masih bisa ngomong bahkan tersenyum. Tulis  ada di Youtube”. “Kamu mau mati syahid”, dia menjawab: “aku maulah. Bom ini di mobil di dalamnya ada bom nanti dia jalan ke tempat kompi orang kafir nah  nanti di depan kompi orang kafir dipencet bomnya, terus bomnya meledak kayak bom nuklir”.

Hasil rekaman saya memang tidak persis dengan apa yang diungkap di Youtube, tetapi kurang lebihnya seperti itu. Jika diamati secara mendalam tentang raut wajah, gaya bicara dan diksi-diksi yang digunakan, betapa kelihatan bahwa anak ini sudah terobsesi dengan mati syahid. Wajahnya yang dingin, tatap matanya yang tanpa ekspresi, dan gaya bicaranya yang menggambarkan tentang pemahamannya yang mendalam tentang bom bunuh diri, dipastikan bahwa anak ini sudah terpapar secara mendalam mengenai mati syahid dengan bom bunuh diri. Masih kanak-kanak, tetapi dia sudah terpapar mengenai Gerakan Salafi Takfiri dan geraklan Salafi Jihadi. Di dalam penjelasannya, bahwa yang menjadi sasaran adalah kelompok kafir, yang berdasarkan literatur menjadi sasaran kaum takfiri, dan kemudian juga sudah terpapar Salafi Jihadi karena mau mati sahid dengan meledakkan dirinya.

Oleh karena itu kita semua yang memiliki anak-anak yang masih dalam proses belajar tentang lingkungan dan proses pencarian agama, agar melakukan “kewaspadaan dini”, artinya harus memahami apa yang dilakukan oleh anak-anak kita. Jangan sampai kita mengabaikan terhadap anak kita dan keluarga kita. Kaum Salafi Jihadi sudah menyasar ke anak-anak. Jika di masa lalu, sasarannya adalah orang-orang yang secara ekonomi lemah, atau mahasiswa yang berkeinginan untuk browsing informasi keagamaan atau para perempuan yang terpinggirkan, maka sekarang sudah menyasar anak-anak. Jangan lupa bahwa anak-anak memiliki ingatan yang akan berjangka panjang, dan jika anak tersebut terpapar, maka akan bertahan lama ingatannya tersebut.

Kita harus membentengi keluarga  dengan beragama yang menyejukkan dan membawa kepada keteraturan social. Ada tiga hal yang bisa dilakukan terkait dengan membentengi keluarga, yaitu: Pertama, memahamkan keluarga kita untuk beragama yang bisa memberi rahmah kepada umat manusia. Agama itu memiliki dua potensi dalam kajian sosiologis, yaitu agama sebagai sumber keteraturan social dan agama sebagai sumber konflik social. Ada banyak konflik social yang bernuansa agama. Baik di luar negeri maupun di Indonesia. Diharapkan agar  keluarga kita tidak masuk dalam area agama sebagai sumber konflik. Tentu saja bukan agamanya yang menjadi sumber konflik tetapi penafsiran atas ajaran agama sebagai penyebabnya. Padahal di dalam tafsir agama itu luar biasa banyaknya dan jika ada satu saja yang menyatakan dengan keras bahwa hanya tafsirannya yang benar, maka bisa terjadi disharmoni social atau bahkan konflik social. Di masa lalu, relasi antara kelompok Kristen dengan Katolik adalah relasi konfliktual bahkan peperangan. Tentu saja kita tidak berharap seperti itu. Kita ingin agar kita beragama dengan penuh kerahmatan tidak hanya bagi sesama umat Islam tetapi juga terhadap yang lain. Alangkah indahnya jika kita dapat melakukannya.

Kedua, beragama dengan rasa cinta. Ada agama rahmah dan ada agama cinta. Agama yang di dalamnya terdapat rasa kasih dan sayang. Kalau dalam dunia pernikahan disebut dengan mawaddah dan rahmah yang berimplikasi Sakinah. Agama yang memberikan cinta dan kasih sayang dan berakibat hadirnya ketentraman, kerukunan dan persaudaraan. Bukankah Islam itu mengajarkan akan kasih sayang. Islam itu agama yang penuh dengan kecintaan kepada sesama.

Di dalam tradisi tasawuf dikenal tasawuf cinta, yang dikembangkan oleh Rabiah al Adawiyah yang memperkenalkan kepada kita akan keharusan beragama yang berbasis pada rasa cinta. Cinta kepada Allah adalah puncak dari segalanya. Cinta kepada yang lain hanyalah instrument belaka dan tujuan akhirnya adalah mencintai kepada Allah SWT. Kata Rabiah dalam Bahasa bebas: “Wahai Tuhan saya tidak pantas masuk ke surga, tetapi  tidak kuat untuk masuk neraka Jahim, terimalah taubat saya agar memperoleh cintamu”. Agama cinta mengandaikan bahwa manusia yang utama adalah manusia yang mencitai Tuhan dan Tuhan mencintainya.

Mungkin kita belum sampai kepada beragama dengan cinta sebagaimana yang diekspresikan oleh Rabiah, tetapi sekurang-kurangnya kita telah beragama dengan tidak berbasis pada kekerasan akan tetapi telah beragama dengan rasa kedamaian dan rasa menyayangi kepada yang lain.

Wallahu a’lam bil al shawab.