• October 2026
    M T W T F S S
    « Sep    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

ALQUR’AN KITAB SUCI ORISINAL (2)

ALQUR’AN KITAB SUCI ORISINAL (2)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Tulisan ini bukanlah termasuk dalam kajian tafsir atas Alqur’an akan tetapi lebih banyak dan bercorak kajian sosiologis-historis. Oleh karena itu jika kemudian terdapat pembacaan atas suatu ayat atau penjelasan tentang ayat Alqur’an bukan berarti berada di dalam kawasan tafsir tetapi hanya merupakan terjemahan dan pemahaman secara umum saja.  Hal ini perlu ditegaskan agar kita bisa memahami bahwa sebuah tulisan tentang Alqur’an tidaklah mesti berada di dalam ilmu tafsir akan tetapi bisa juga sosiologis, antropologis atau historis.

Alqur’an memang diturunkan di dalam Bahasa Arab, sebagai bahasa yang digunakan oleh Allah kepada umat Nabi Muhammad SAW yang memang pada awalnya berbahasa Arab. Oleh karena itu untuk memahami tafsir Alqur’an tentu saja harus menguasai Bahasa Arab dengan berbagai tata bahasanya, kosa katanya, langgam bahasanya, dan makna umum atau khasnya. Orang tidak hanya cukup untuk memahami Alqur’an melalui penguasaan Bahasa Arab secara umum, akan tetapi harus memahami ilmu nahwu, Sharaf, balaghah, ilmu arudh, ilmu qiraat dan sebagainya. Belum lagi ragam metodologi penafsiran, misalnya tafsir maudhui, tafsir ijmali, tafsir ra’yi, tafsir riwayah, dan sebagainya.

Salah satu keuntungan dari kodifikasi atas teks Alqur’an pada masa Usman bin Affan adalah memastikan bahwa urutan surat, ayat dan tulisan dalam Alqur’an dipastikan tidak berbeda dengan hafalan dan tulisan di dalam Alqur’an. Jadi Alqur’an yang kita baca sekarang dengan Alqur’an pada zaman Usman bin Affan dan masa tabiin dan tabiit-tabin tersebut sama. Yang berbeda adalah gaya penulisan,  bentuk tulisan dan cara membacanya. Yang saya maksud dengan gaya penulisan tentu terkait dengan model khat atau tulisan yang berkembang sesuai dengan tradisi pada masyarakatnya. Misalnya khat atau tulisan cetakan Alqur’an India atau mushaf India dan cetakan Singapura atau cetakan Mesir tentu bisa berbeda.

Alqur’an memang sudah lama dicetak, cetakan pertama dilakukan di Hamburg Jerman tahun 1694 pada Percetakan Abraham  Hincklemann dengan cetakan lengkap, ada tanda baca, tanda huruf, dan penomoran ayat. Cetakan ini menggunakan qiraat Ashim atas Riwayat  Hafs. Kemudian   misalnya cetakan India tahun 1870 M, sedangkan Alqur’an cetakan Singapura pada tahun 1860. Lalu ada cetakan Mesir tahun 1924 dan 1926. Di dalam cetakan Mesir tersebut tidak didapatkan harakat. Tetapi untuk cetakan India dan Singapura menggunakan harakat. Itulah sebabnya Alqur’an cetakan India dan Singapura banyak beredar di Indonesia. Cetakan Alqur’an yang sekarang di Indonesia, tentu diilhami oleh Alqur’an cetakan India dan Singapura dimaksud. Alqur’an dicetak dengan harakat tentu untuk memudahkan bagi masyarakat Nusantara yang tidak menguasai Bahasa Arab.

Alqur’an yang dicetak di Mesir tidak berharakat sebab masyarakat Mesir adalah masyarakat pengguna Bahasa Arab, sehingga lebih mudah untuk dapat membaca Alqur’an dan selain itu juga untuk kepentingan menjaga berbagai ragam bacaan di dalam Alqur’an. Pemerintah Mesir pada tahun 1924 juga menyelenggarakan upaya untuk membakukan bacaan Alqur’an dan dipililah bacaan Ashim atas Riwayat Hafs. Alqur’an cetakan Mesir ini kemudian disebarkan di seluruh dunia.

Sesuai dengan penuturan Menachem Ali, bahwa dari sisi tulisan atau rangkaian huruf maka tidak ada perbedaan antara satu dan lainnya. Meskipun berbeda cetakan dan tempat pencetakan Alqur’an, akan tetapi sama saja dalam teksnya. Yang berbeda adalah cara membacanya. Kita mengenal ada yang disebut sebagai Qira’ah Sab’ah atau tujuh cara membaca Alqur’an. Cara membacanya bukan teksnya. Juga dikenal ada qiraah asyrah atau bacaan 10 cara membaca Alqur’an.

Di dalam perkembangnya maka dikenal ada tujuh ragam bacaan Alqur’an. Berdasarkan nuonline (30/10/2021) dinyatakan ada tujuh imam di dalam bacaan Alqur’an. untuk memudahkan membacanya maka saya sebut nama-nama terakhirnya atau depannya saja, meskipun juga nama kepanjangannya. Yaitu Imam Nafi’ (Imam Nafi’ ibn Abdurrahman), Imam Ibn Katsir (Imam Abdullah Ibn Katsir), Imam  Amar (Imam Abu Amar Zabban ibn Al A’la Al Bashri),  Imam Abdullah (Imam Abdullah  ibn Amir al Syami), Imam Ashim (Imam Ashim bin Abi Al Najud al Kufi), Imam Al Zayyat (Imam Hamzah al Zayyat), dan Imam Hamzah (Imam Ali ibn Hamzah al Kissai).

Perbedaan atas langgam bacaan juga berimplikasi atas cara membacanya, sehingga jika orang tidak hati-hati akan beranggapan bahwa ada banyak versi di dalam Alqur’an. Jadi yang berbeda adalah cara membacanya, bukan teksnya. Semua teks Alqur’an sudah teruji tidak ada perbedaan. Satu teks adanya. Berdasarkan atas manuskrip-manuskrip yang didapatkan, maka diketahui bahwa urutan surat dan ayat di dalam Alqur’an teruji kesahihannya. Suatu contoh di manuskrip kuno Alqur’an di dalam Museum Birmingham, yang hanya tiga surat, ternyata susunan surat dan ayatnya sama dengan susunan surat dan ayat di dalam teks Alqur’an di dalam Mushaf Usman bin affan.

Kita tentu bersyukur bahwa Alqur’an yang kita yakini itu mengandung kesahihan dan terjaga thula makan wa  zaman, sepanjang tempat dan sepanjang waktu, yang menggambarkan bahwa Alqur’an itu memang benar-benar terjaga. Yang Alqur’an sudah terjaga secara azali, dan yang hadits dijaga melalui kehadiran imam-imam hadits yang melakukan seleksi secara akurat dan tepat.

Dua sumber hukum Islam sebagaimana terdapat di dalam Islam sungguh dapat menjadi sandaran atau pedoman tentang bagaimana kita membangun relasi dengan Allah, dengan sesama manusia dan dengan alam semesta.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

 

ALQUR’AN KITAB ORISINAL (1)

ALQUR’AN KITAB ORISINAL (1)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Di dalam artikel pendek ini tentu tidak semua hal tentang Alqur’an dapat dijelaskan. Tulisan ini hanya sekedar eksplorasi secara ringkas untuk menggambarkan bahwa Alqur’an adalah kitab yang terjaga keasliannya berdasarkan atas kajian-kajian manuskrip tentang Alqur’an. Tulisan ini bukan tafsir Alqur’an akan tetapi hanyalah survey sosiologis-historis tentang Alqur’an dengan referensi yang sangat terbatas. Artikel ini memuat tentang perdebatan dan perbandingan dengan teks-teks kitab lainnya secara general.

Perdebatan tentang Kitab Suci nyaris terus terjadi sepanjang masa, semenjak Kitab Suci tersebut diturunkan oleh Tuhan kepada nabi atau rasul. Semua kitab suci. Tidak terkecuali juga Kitab Suci Alqur’an. Kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW ini juga mengalami perdebatan semenjak di diturunkan hingga sekarang. Jika di masa lalu tidak dipercayai sebagai wahyu Allah SWT, maka di masa sekarang tentu berbeda perdebatannya.

Tentu bisa dihitung dengan jari orang yang mempercayai bahwa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW kepada orang-orang Quraisy adalah wahyu Allah SWT. Di masa awal hanya ada sebanyak 40 orang yang kemudian dikenal sebagai assabiqunal awwalun. Di antara mereka adalah Khadijah, Abu Bakar As shiddiq, Ali bin Abi Thalib dan sebagainya. Merekalah orang yang mempercayai kenabian Muhammad sehingga mempercayai bahwa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW adalah wahyu Allah yang kelak dikenal sebagai Alqur’an.

Tidak hanya Alqur’an yang terus menjadi perdebatan, akan tetapi juga kitab Taurat dan injil. Taurat adalah kitab yang diturunkan kepada Nabi Musa AS. Sedangkan kitab Injil diturunkan kepada Nabi Isa AS. Juga ada Zabur atau Talmud yang diturunkan kepada Nabi Dawud. Hakikat diturunkannya kitab-kita tersebut secara berurutan atau bergantian adalah untuk melakukan koreksi atas kitab-kitab yang sudah ditulis sebelumnya atau dikodifikasi oleh umat agama masing-masing. Kitab suci memang dikodifikasi oleh umat agama masing-masing setelah Sang Rasul wafat. Kitab Taurat ditulis setelah Nabi Musa wafat kira-kira puluhan tahun, Kitab Injil ditulis oleh umatnya kira-kira 60 tahun setelah ketiadaan Nabi Isa. Dan Kitab Suci Alqur’an ditulis untuk kodifikasi pada masa Khulafaur Rasyidin, Usman bin Affan, pada tahun 25-30 hijrah.

Semula wahyu Allah kepada Nabi Muhammad tertulis di dalam pelepah kurma, tulang hewan atau batu dan juga dihafal oleh banyak sahabat. Akan tetapi lama kelamaan bisa saja terjadi kerusakan tulisan tersebut dan juga semakin banyak sahabat yang wafat, sehingga Khalifah ketiga berusaha untuk mengkodifikasi kitab suci Alqur’an, sehingga kitab Suci Alqur’an tersebut disebut sebagai Mushaf Usmani. Meskipun bervariasi cetakan dan bacaannya, akan tetapi semua Kembali kepada teks yang sudah dibakukan oleh Usman bin Affan.

Pada masa Rasulullah sebenarnya sudah ada upaya untuk menuliskan wahyu Allah kepada Nabi Muhammad. Ada banyak sahabat Nabi yang bisa menulis dan kepadanya diperintahkan untuk menulis teks Alqur’an, ayat demi ayat atau wahyu demi wahyu. Setelah Nabi wafat, maka naskah Alqur’an yang sudah terkumpulkan tersebut disimpan di rumah Hafsah binti Umar, istri Nabi, dan kemudian disimpan di rumah Umar bin Khatab dan setelah itu disimpan di rumah Usman bin Affan. Jadi bukan hanya dihafal akan tetapi benar-benar tertulis. Dan bahkan Nabi terlibat dalam verifikasi atas kumpulan teks-teks tersebut.

Berbeda dengan Taurat yang terdapat variasi-variasi di dalam teks dan bunyi teks atau kandungan teksnya, misalnya ada Taurat yahudi dan taurat Samariyah, maka injil juga ditulis oleh banyak murid Isa atau di dalam agama Kristiani disebut sebagai Yesus Kristus. Sekurang-kuranya ada empat yang disebut sebagai Injil  Kanonik atau  injil yang diakui oleh gereja, misalnya Injil Matius, Injil Markus, Injil Yohanes dan Injil Lukas, juga terdapat beberapa Injil yang disebut sebagai Injil apokrif atau Injil yang tidak dijadikan sebagai rujukan utama bahkan ada yang ditolak, misalnya Injil Barnabas. Injil Barnabas merupakan salah satu teks yang ditulis oleh Barnabas sebagai hawariyyun atau pra penolong Isa Al Masih.

Dipastikan bahwa dalam kerangka untuk kodifikasi Alqur’an yang masih berada di dalam berbagai tulisan tersebut dibicarakan oleh para sahabat Nabi. Keuntungannya, ada yang hafal seluruh isi teks Alqur’an dan ada yang tertulis, sehingga tidak sulit untuk menyamakan pandangan tentang bagaimana susunan suratnya, susunan ayatnya, susunan bunyi teksnya dan juga tata letaknya. Jadi tidak hanya mengandalkan ingatan atau hafalan tetapi juga dicrosscheck dengan tulisan atau tulisan dicrosscheck dengan hafalan. Inilah barangkali makna Allah akan menjaga kitab suci Al qur’an.

Jarak antara Nabi Musa dan Isa adalah 1500 tahun. Nabi Musa keluar dari Mesir pada tahun 1513 SM pada saat usianya 80 tahun. Dan wafat tahun 1473 SM. Sedangkan jarak antara Nabi Isa dengan Nabi Muhammad adalah 571 tahun terhitung dari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Jadi jarak antara Nabi Musa dengan Nabi Isa selama 15 abad, sedangkan jarak antara Nabi Isa dengan Nabi Muhammad adalah enam abad.

Jika kita menggunakan premis bahwa setiap Nabi yang lahir belakangan adalah koreksi atas ajaran agama sebelumnya, maka jarak waktu koreksi dari Nabi Musa ke Isa itu luar biasa panjangnya, sedangkan jarak koreksi dari Nabi Isa ke Nabi Muhammad relative lebih pendek. 15 abad berbading 6 abad. Koreksi atas ajaran agama sebelumnya itu secara sosiologis sangat dimungkinkan sebab telah menjadi kecenderungan umat manusia untuk mengubah apa yang sudah diyakininya. Semula asli dan kemudian karena factor penafsiran sehingga makin lama makin jauh penafsiran atas ajaran agama tersebut, bahkan lama-lama menjadi berubah.

Inilah yang mengilhami atas pandangan Peter Berger, bahwa agama adalah kabar angin dari langit. Sebagai kabar angin maka tentu akan mengalami  perubahan di tengah perubahan social dan penafsiran demi penafsirannya. Makanya, ada yang mendekati maknanya dengan makna teksnya dan ada yang jauh dari makna teksnya. Dan ini adalah keniscayaan di dalam dunia beragama.

Wallahu a’lam bi al shawab.

GOLONGAN PARA PECINTA NABI MUHAMMAD SAW

GOLONGAN PARA PECINTA NABI MUHAMMAD SAW

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Sebagaimana biasa,  pengajian di Masjid Al Ihsan yang dilakukan pada Hari Selasa, 27/08/2024 menghadirkan suatu tema yang kiranya cukup menarik, yaitu tentang penggolongan social religious yang terkait dengan Nabi Muhammad SAW. Apalagi dewasa ini sedang riuh rendah pembahasan tentang para habaib yang lagi menuai kritik dari para pengkaji nasab.

Ada tiga hal yang saya sampaikan pada pengajian pada Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) kali ini, yaitu: pertama, tentang pentingnya terus bersyukur kepada Allah karena kenikmatan spiritual yang terus kita dapatkan. Rasanya kita semakin berumur tetapi berkat adanya tempat ibadah, maka kita menjadi semakin religious. Tiap waktu yang memungkinan kita dapat melakukan  shalat jamaah di masjid, tiap pagi kita bisa  membaca Alqur’an meskipun satu surat, Surat Al Waqi’ah, dan juga bisa tahsinan untuk memperlancar bacaan kita tentang Alqur’an dan sekaligus juga penjelasan-penjelasan sekedarnya tentang arti dari ayat-ayat yang kita baca.

Di masa kita masih muda,  kita sibuk dengan bekerja dan bekerja, mencari rizki yang dijanjikan Tuhan, menemukan rezeki untuk keluarga dan sebagainya. Semuanya kita lakukan bahkan untuk beribadah itu waktu dan ruangnya menjadi sempit. Rasanya. Tetapi seirama dengan semakin bertambahnya usia, maka kita semakin merasa berdekatan dengan Tuhan. Dan kita juga bersyukur, karena masyarakat Indonesia itu semakin religious dibandingkan dengan masyarakat Eropa atau Amerika. Kita merupakan bangsa yang paling tinggi kepercayaannya kepada Tuhan yang Maha Esa.

Kedua, islam memang mengenal penggolongan social. Di dalam Alqur’an dijelaskan tentang sesungguhnya Allah menciptakan manusia lelaki dan perempuan, berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, yang semuanya agar saling mengenal. Namun demikian, yang terbaik di antara manusia adalah yang paling bertaqwa. Sebagaimana  tercantum di dalam Surat Al Hujurat, ayat 13. Ada tiga konsep yang kita tahu dari ayat ini, yaitu konsep lelaki dan perempuan,  penggolongan berdasarkan jenis kelamin. Lalu ada penggolongan social berbasis pada kebangsaan dan kesukuan atau kabilah serta ketaqwaan kepada Allah.

Maka dikenal ada Bangsa Arab, ada Bangsa Persia, ada Bangsa Palestina, ada Bangsa Yahudi, ada Bangsa Eropa, Bangsa Amerika dan sebagainya. Bangsa Amerika juga terdapat Bangsa Amerika Utara, dan Amerika Selatan atau Amerika Latin. Dikarenakan adanya suatu wilayah kenegaraan, maka kemudian dikenal penyempitan wilayah kebangsaan, misalnya bangsa Arab lalu dikenal ada Bangsa Arab Saudi, Bangsa UAE, Bangsa Qatar, dan sebagainya. Bangsa atau Bani Israel juga dikenal ada Bangsa Samaria, Bangsa Yahudi dan Bangsa Azkenazi. Di Eropa juga dikenal ada Bangsa Inggris, Bangsa Perancis, Bangsa Belanda, Bangsa Spanyol dan sebagainya. Konsep kebangsaan dikaitkan dengan negara secara administraif dan kewilayahan atau geografis.

Setiap bangsa kemudian memiliki bahasanya sendiri-sendiri. Misalnya ada Bahasa Persia, ada Bahasa Yunani, Ada Bahasa Sansekerta, Bahasa Arab, Bahasa Inggris, Bahasa Perancis, Bahasa Spanyol dan seteresnya. Mereka mengembangkan bahasanya sendiri-sendiri. Tetapi ada rumpunnya masing-masing. Misalnya rumpuan Bahasa Ibrani yang menjadi induk dari Bahasa di Timur Tengah, Bahasa Sansekerta yang berada di dalam rumpun Bahasa  Persia, India, Pakistan dan sebagainya, lalu rumpun Bahasa Inggris yang terkait dengan bahasa-bahasa di Eropa dan sebagainya.

Ketiga,  dari penggolongan berbangsa-bangsa dan berkabilah-kabilah tersebut kemudian dikenal ada penggolongan social religious yang terkait dengan Nabi Muhammad SAW. Mereka dapat dinyatakan sebagai pecinta Rasulullah, dalam konteks sebagai dzurriyah Rasul dan  pecinta ilmu dari Rasulullah SAW. Ada beberapa penggolongan lagi terkait dengan para pecinta Rasul, yaitu: kaum syiah. Kita tetap harus meyakini bahwa Syiah adalah salah satu penggolongan religious di dalam Islam. Ada yang disebut sebagai penggolongan sebagai ahlu sunnah wal jamaah, dan golongan habaib atau para habib.

Mari kita bahas tentang Syiah secara selintas. Syiah merupakan bagian dari umat Islam. Yang merasakan bahwa mereka adalah orang orang-orang yang menjadikan dirinya sebagai bagian dari keturunan Ali dan Hussein. Mereka menyebar ke dalam berbagai wilayah tetapi yang paling banyak berada di Iran. Syiah itu terdiri berbagai sekte. Ada yang benar dan ada yang menyimpang dari perspektif tafsir ahlu sunnah wal jamaah. Misalnya yang menyimpang adalah Syiah Rafidhah, yang lebih mengutamakan Ali dibanding Nabi Muhammad. Tetapi juga ada Syiah yang ajarannya nyaris  sama dengan Islam Sunnah wal jamaah. Yang berbeda  dalam hal imamah.

Kemudian ada golongan habaib yang berada dalam koridor Islam ahlu sunnah wal jamaah. Mereka adalah golongan yang merasa sebagai keturunan Rasulullah. Dzurriyah Nabi Muhammad SAW. Golongan ini merasa sebagai keturunan fisikal Nabi Muhammad SAW. Mereka sekarang sedang diuji dengan temuan-temuan nasab yang tidak sebagaimana keyakinan mereka, bahwa mereka dianggap keturunan kaum Yahudi. Test DNA yang secara ilmiah akan memberikan jawaban atas mereka ini sesungguhnya keturunan siapa. Haplogroupnya ada dikaitkan dengan Yahudi Azkenazi, kaum Yahudi yang berasal dari Kaukasus di Eropa Tengah, yang kemudian hijrah ke seluruh daratan Eropa dan kemudian pada zaman Hitler mereka terusir dari wilayahnya dan kemudian pada tahun 1948 mendirikan Negara Israel atas prakarsa Amerika dan Inggris.

Kemudian golongan Islam ahlu sunnah wal jamaah non habaib. Mereka adalah orang-orang Islam yang secara kultural selalu mendawamkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW melalui berbagai ritual yang dilakukannya. Misalnya membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Di Indonesia dikenal sebagai umat Islam Ahlu Sunnan wal Jamaah, yang mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW melalui madzab empat (Imam Syafi’I, Imam Hambali, Imam Hanafi dan Imam Maliki) atau juga umat Islam yang tidak menjadikan imam-imam madzab sebagai panutan tetapi mengamalkan ajaran Islam yang relevan dengan ahli sunnah.

Masing-masing penggolongan bisa berbeda sesuai dengan aspek teologis berdasarkan madzab ulama masa lalu, atau aspek ritual atau ibadah sesuai dengan imam madzab atau ulama di masa lalu dan dimensi relasi social yang sesuai dengan prinsip-prinsip ajaran Islam yang diyakininya. Akan tetapi sekali lagi, bahwa cara kita beragama itu adalah berdasarkan atas tafsir yang dilakukan oleh para ulama di masa lalu, maupun sekarang.

Hal ini semata-mata karena kita tidak bisa mengakses langsung atas ajaran agama yang benar-benar sesuai dengan amalan Rasulullah. Melalui pemahaman beragama seperti ini maka tidak akan melahirkan pemahaman dan prilaku beragama yang hanya membenarkan dirinya sendiri,  akan tetapi juga mengakui bahwa ada yang bisa berbeda dengan tafsir agamanya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

IMAN DAN AMAL SALEH: IDAMAN KAUM MUSLIMIN

IMAN DAN AMAL SALEH: IDAMAN KAUM MUSLIMIN

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Setiap jum’at pagi, para jamaah shalat Shubuh yang tergabung dalam Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) selalu melantunkan bacaan Surat Al Kahfi. Acara ini sudah berjalan selama lebih kurang tiga tahun. Bacaan secara tartil atas Surat Al Kahfi dipimpin oleh Ustadz Alief Rifqi dan sebelumnya dipimpin oleh Ustadz Zamam dan Ustadz Firdaus. Mereka adalah para khafidz yang diberi amanah untuk menjadi imam shalat rawatib di Masjid Al Ihsan, Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya.

Surat Al Kahfi, secara umum bercerita tentang tokoh-tokoh historis sebagaimana diabadikan di dalam berbagai Kitab Suci, seperti Taurat, Injil dan Alqur’an. Agama-agama Semitis yang berada di dalam satu keturunan Nabi Ibrahim AS ini memang memiliki banyak kesamaan meskipun juga banyak perbedaan. Ada sisi yang sama misalnya kaitannya dengan sejarah-sejarah Nabi-Nabi meskipun ada titik tertentu yang membedakannya. Tokoh yang diceritakan adalah tentang tujuh pemuda yang ditidurkan di dalam gua selama ratusan tahun, tentang Nabi Musa dan Nabi Harun, Nabi Khidhir, Dzul Qarnain, Ya’juj dan Ma’juz, Nabi Isa  dan lain-lain. Mereka adalah tokoh-tokoh sejarah yang keberadaannya dapat dibenarkan berdasarkan atas komparasi teks yang terdapat di dalam agama-agama Semitis.

Saya tentu tidak akan membahas secara ilmu tafsir, sebab ini bukan keahlian saya, dan saya hanya akan membahas tentang penjelasan atas tarjamah di dalam akhir Surat Al Kahfi, yang saya rasa sarat dengan informasi kebaikan atau khabar fil khair atau tabsyir dan bukan tandzir atau peringatan. Akhir Surat Al Kahfi memberikan gambaran tentang orang yang berbahagia karena bisa berjumpa dengan Allah SWT di dalam akhirat.

Bunyi teks tersebut, pada Surat Al Kahfi, ayat 110, adalah sebagai berikut: qul innama ana basyarum mislukum yuha ilayya annama ilahukum ilahuw wahid. Fa man kana yarju liqa’a rabbihi fal ya’mal amalan shalihan wa la yusrik bi’ ibadihi rabbihi ahadan.”  Yang artinya: “Katakanlah (Muhammad) sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha esa. Maka barang siapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah menyekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya”.

Ayat ini memberikan gambaran tentang tiga  hal, yaitu: pertama, penjelasan kepada umat manusia bahwa Nabi Muhammad SAW adalah manusia sebagaimana kita semua. Secara fisikal Nabi Muhammad adalah manusia dengan sifat fisik kemanusiaan. Nabi perlu makan, minum dan memenuhi hasrat seksualnya. Hanya semuanya dilakukan atas wahyu Allah, tidak mengikuti hawa nafsunya, sebagaimana manusia pada umumnya. Nabi dikendalikan oleh wahyu Allah yang terus mengikuti dan mengontrolnya. Semua yang dilakukan secara fisikal oleh Nabi Muhammad merupakan wahyu yang hidup di dalam diri Muhammad SAW.

Kedua,  wahyu Allah kepada Nabi Muhammad merupakan wahyu agar orang bertauhid kepada Allah SWT. Manusia diajarkan agar tidak mensyarikatkan, menduakan, atau mentigakan, atau menjamakkan, bahwa ada ilah lain selain sifat ahadiyahnya sendiri. Allah itu Maha Esa, atau Maha Tunggal. Di dalam Bahasa Jawa disebut sebagai Sang Hyang Tunggal. Dia ini bukan Dewa, tetapi yang berstatus di atas para Dewa. Huwallahu ahad, Dia yang Maha Esa. Kata Esa tidak bisa diterjemahkan ke dalam kata Satu. Sebab kata Satu masih bisa dipecah-pecah. Tetapi Esa atau Tunggal adalah dzat yang tidak dapat dipilah dalam bentuk dan bilangan apapun. Sang Hyang Tunggal adalah Yang Mencipta, Yang Memelihara dan juga Mengakhiri Ciptaannya. Tuhan yang menciptakan manusia, memelihara dan mematikannya. Tuhan yang menciptakan tumbuhan, memelihara dan mematikannya. Dan seterusnya.

Ketiga, keinginan bertemu Allah di alam akherat. Sebagai umat Islam sangat pantas jika kita ingin berwawan wajah dengan Allah. Semua umat Islam yang menjalankan agamanya dengan baik tentu berkeinginan seperti itu. Allah melalui Nabi Muhammad SAW memberikan persyaratannya, yaitu dipersyaratkan untuk melakukan amalan shalihan atau amal shaleh atau amal kebajikan. Bagi orang yang berbuat baik, maka Allah menjanjikan akan dapat bertemu dengan-Nya di alam akhirat. Ada banyak sekali amal kebaikan tersebut, tetapi yang sangat baik adalah amal shaleh yang dilakukannya dengan keikhlasan dan penuh dengan kesyukuran. Bukan amal baik yang kemudian disebarkan ke mana-mana agar orang mengaguminya. Amal itu hanya untuk Allah semata untuk memperoleh ridhonya Allah semata. Selain itu yang mutlak adalah mengesakan Allah SWT. Perbuatan baik berada di dalam kerangka keimanannya kepada Allah.

Allah menegaskan bahwa jika kita ingin bertemu dengan-Nya maka persyaratannya adalah beramal yang baik dan tidak menyekutukannya. Jadi jangan ada sebiji dzarrahpun di dalam hati kita untuk menyekutkan Allah SWT.

Wallahu a’lam bi al shawab.

BERIMAN DAN  BERBUAT BAIK: SEBUAH SISTEM

BERIMAN DAN  BERBUAT BAIK: SEBUAH SISTEM

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Iman atau keyakinan itu kunci dan amal shaleh atau perbuatan baik adalah akibat yang dikaitkan dengan iman atau keyakinan di dalam agama. Iman saja tidak cukup dan amal kebaikan saja juga tidak cukup. Keduanya adalah berkait kelindan secara sistemik. Iman adalah dasarnya dan amal kebaikan adalah akibatnya. Oleh karena itu sering menjadi perdebatan, apakah orang yang beriman sudah memenuhi standart keislaman atau hanya amal kebaikan sudah menjadi standart keislaman.

Bagi penganut Islam, maka keduanya harus berada di dalam satu kesatuan. Tidak boleh hanya memahami dan melakukan salah satunya. Islam yang kafah bagi saya adalah orang Islam yang memahami keduanya dalam satu kesatuan. Iman yang benar, bil lisan, bil qalbi dan bil fi’li adalah iman yang benar. Lesan kita menyatakan amantu bil lisani, hati kita menyatakan amantu bil qalbi dan amalan kita menyatakan amantu bil fi’li. Jika ini yang terjadi maka sesungguhnya kita sudah berada di dalam keislaman yang benar.

Kata iman terdapat sebanyak 956 kali disebutkan di dalam Alqur’an. Sedangkan iman dan amal shaleh disebutkan sebanyak 60 kali di dalam Alqur’an. Kata iman dan perubahannya disebutkan sebanyak 31 kali. Artinya bahwa ada banyak ayat di dalam Alqur’an yang menyebutkan tentang Iman dan juga amal saleh. Jika dipertanyakan mengapa kata iman itu ada banyak jumlahnya di dalam Alqur’an tentu saja dapat dikaitkan dengan iman sebagai fundamental issue di dalam Islam. Iman adalah kata kunci untuk memahami Islam. Tanpa iman maka seluruh amal perbuatan kita yang terkait dengan kebaikan tentu akan tertolak.

Memahami bahwa iman juga dikaitkan dengan amal shaleh juga dapat diartikan bahwa iman merupakan inti dari amal shaleh. Secara teologis dapat dijelaskan bahwa ada orang yang memiliki perbuatan baik bahkan sangat baik, akan tetapi berbasis pada keimanan yang salah atau tidak sesuai dengan prinsip ajaran Islam, maka amalnya itu menjadi sia-sia. Tidak ada gunanya. Ini pandangan teologis yang tidak bisa ditawar.

Semua agama di dunia memiliki pandangan yang sama. Yaitu doktrin kemutlakan kebenaran agama. Yahudi, Katolik, Kristen, Hindu, Budha dan Konghucu, bahkan agama-agama local juga berkeyakinan bahwa iman dan perbuatan baik merupakan satu kesatuan.  Iman kepada Allah dalam agama Nasrani juga mengikat kepada umatnya, Allah dalam agama Islam juga mengikat umatnya, Yahweh dalam agama Yahudi juga mengikat umat, demikian pula Hindu dan Buddha serta Khonghucu. Semuanya mengikat atas umatnya. Jadi ukuran iman adalah bagaimana seseorang meyakini akan keberadaan atas yang dianggap suci atau Tuhan yang dilafalkan dalam Bahasa yang berbeda sesuai dengan keyakinannya.

Semua orang Islam di seluruh dunia meyakini Allah sebagai rabb atau ilah. Sebagai rabb artinya Tuhan yang mencipta, memelihara, mengatur atas kehidupan manusia dan tata surya yang teratur dan berlaku seirama dengan kehendak Tuhan. Kemudian juga Tuhan dalam konteks ilah atau pusat sesembahan. Manusia akan meyakini akan eksisteni Tuhan dalam konteks sesembahan dan pengaturan.

Di dalam Islam, misalnya di dalam Surat An Nisa’, ayat 173, sebagai berikut: “fa ammal ladzina amanu wa ‘amilush shalihati fayuwafihim ujurahum wa yazidhum min fadhlihi, wa ammal ladzinasytankafu was takbaru fayu’adzibuhum ‘adzaban alima wa yazidu lahum min dunillahi waliyyau wa la Nashira”, yang artinya; “Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, Allah akan menyempurnakan pahala bagi mereka dan menambah sebagian dari karunianya. Sedangkan orang-orang yang enggan (menyembah Allah) dan menyombongkan diri, maka Allah akan mengadzab mereka dengan adzab yang pedih. Dan mereka tidak akan mendapatkan pelindung dan penolong selain Allah”.

Coba kita perhatikan kandungan ayat ini dengan menggunakan kata-kata kuncinya. Menurut saya ada empat kunci penting, yaitu iman dan amal shaleh. Keduanya merupakan inti dari ajaran Islam. Siapapun yang memiliki keduanya, maka dia akan dijamin untuk menjadi orang yang memperoleh rahmatnya Allah SWT. Inilah yang menjadi kata kunci berikutnya yaitu kesempurnaan pahala. Artinya bahwa semakin iman kepada Allah dan semakin baik amal perbuatannya, maka akan semakin besar peluangnya untuk memperoleh kesempurnaan pahalanya. Kata kunci berikutnya adalah enggan menyembah Allah dan menyombongkan diri di hadapan Allah, maka akan besar peluangnya untuk untuk memperoleh adzab Allah SWT.

Jika dibuat gambarannya maka iman dan amal shaleh bersepadan dengan karunia dan pahala Allah, sedangkan keengganan menjalankan ritual yang sesuai dengan ajaran agama dan menyombongkan diri di hadapan Allah SWT maka bersearah dengan adzab yang pedih. Orang yang melakukan kesombongan seperti ini, maka Allah tidak akan menjadi penolongnya.

Sebagai contoh manusia yang sombong adalah Fir’aun, yang merasa karena besarnya kekuasaan yang dimilikinya lalu manusia di bawah kekuasaannya harus menyembahnya layaknya menyembah Allah SWT. Akhirnya, Fir’aun ini meninggal di laut kala mengejar Nabi Musa AS. Demikian pula Raja Namrud yang juga menganggap dirinya Tuhan, dia menikahi ibunya sendiri dan akhirnya mati hanya karena seekor nyamuk yang masuk ke dalam kepalanya. Konon dia berada di dalam kesakitan selama 400 tahun lamanya. Dia meninggal karena kepalanya dibenturkan dengan benda keras.

Dengan demikian, orang yang beriman dan beramal shalih akan memasuki surganya Allah sedangkan orang yang ingkar kepada Allah dan menyombongkan diri akan masuk ke dalam nerakanya Allah.

Wallahu a’lam bi al shawab.