• June 2026
    M T W T F S S
    « May    
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    2930  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

MAKANAN: BUKAN HANYA KEPENTINGAN FISIK

MAKANAN: BUKAN HANYA KEPENTINGAN FISIK

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Di dalam acara Komunitas Ngaji Bahagia (KNB), acara tahsinan hari Senin, 29/04/2024, terdapat pertanyaan menarik yang disampaikan oleh Pak Suryanto anggota KNB yang sangat anstusiastik. Beliau menanyakan bahwa manusia membutuhkan asupan makanan untuk membuatnya menjadi cerdas. Jika seorang anak terutama di dalam usia tumbuh kembang diberikan asupan yang memadai gizinya, maka akan cenderung menjadi cerdas.

Atas paparan ini, maka kemudian saya sampaikan bahwa makanan tentu memiliki pengaruh yang besar bagi kecerdasan anak terutama usia balita, dan masa pertumbuhan berikutnya. Sesungguhnya,  bahwa makanan yang sehat dan halal tentu memberikan pengaruh yang baik bagi pertumbuhan anak. Makanan yang halalan thayyiban. Makanan yang halal dan sehat atau baik. Baik,  di dalam konteks ini adalah memenuhi standart gizi atau memiliki   keseimbangan antara karbohidrat dan protein serta nutrisi yang cukup.

Terhadap pernyataan ini, maka saya memberikan penjelasan tambahan, yaitu: pertama, kecerdasan merupakan gabungan antara pengaruh genetika dan lingkungan. Genetika orang tuanya memiliki pengaruh antara 40-60 persen, dan pengaruh genetika Ibu cenderung lebih tinggi, artinya jika ibunya pintar, maka anaknya akan berkecenderungan pintar. Tidak disebut dominan tetapi berpeluang lebih besar. Sedangkan factor lingkungan adalah tradisi makanan yang bergizi, sehat dan menyehatkan. Dengan demikian kecerdasan tergantung pada factor gen dan juga tradisi makanan.

Kita bisa bertanya, bahwa kalau demikian berarti anak orang kaya cenderung pintar dibandingkan dengan anak-anak yang datang dari keluarga miskin? Secara konseptual bisa dijawab ya. Artinya bahwa ketercukupan gizi menjadi salah satu penentu. Namun perlu juga diingat bahwa tidak semua makanan yang tersaji memiliki kandungan  gizi yang baik. Orang kaya cenderung memberikan makanan anak-anaknya dengan komposisi daging, baik daging ayam atau daging kambing atau sapi, sehingga melupakan bahwa ada kebutuhan akan sayuran dan karbohidrat lainnya. Jadi sesungguhnya mesti terdapat kesadaran bahwa makanan yang sehat itu penting, apapun jenis makanannya. Ada orang yang kekurangan harta tetapi memiliki kesadaran untuk memberikan yang terbaik untuk anaknya. Orang tersebut memberikan sesuatu yang lebih dibandingkan dengan  yang dimakannya.

Di masa lalu, orang cenderung memberikan makanan yang lebih bergizi, tetapi seirama dengan perkembangan makanan instan dan makanan kering atau camilan, maka banyak makanan yang sesungguhnya kurang baik. Baik di kota maupun di desa ada perubahan tradisi makan dimaksud.

Kedua, makanan yang juga penting ada makanan yang berisi makanan spiritual. Manusia tidak hanya memerlukan makanan untuk pemenuhan kebutuhan biologis, akan tetapi juga perlu makanan untuk kepentingan jiwanya. Manusia tidak hanya memiliki kebutuhan biologis, tetapi juga kebutuhan social dan kebutuhan integrative. Kebutuhan biologis bisa dipenuhi dengan makan apa saja yang dianggapnya penting, tetapi kebutuhan social juga harus dipenuhi dengan mengajarkan tentang pentingnya membangun relasi social yang seimbang. Harus terdapat di dalam rumah tangga proses enkulturasi atau transformasi pengetahuan, nilai dan agama. Keduanya diperlukan agar seorang anak dapat memiliki moralitas yang baik sesuai dengan norma-norma agama.

Makanan bagi jiwa tentu terkait dengan keinginan agar jiwa menjadi jiwa yang tenang atau nafsu mutmainnah dan menghindari nafsu amarah dan lawwamah. Nafsu amarah adalah nafsu untuk memenuhi kebutuhan biologis saja. Apa saja yang terkait dengan kebutuhan biologis ingin dipenuhinya. Jika seseorang hanya mementingkan kebutuhan fisiknya, maka bisa disebut sebagai kal hayawan atau seperti hewan. Sedangkan jika berkeinginan dengan nafsu mutmainnah maka akan seperti malaikat atau kal malaikah.

Manusia sebagai makhluk biologis tentu memerlukan asupan biologis. Dan manusia sebagai makhluk spiritual tentu juga membutuhkan asupan rohaniyah atau asupan kejiwaan. Oleh karena itu, yang terpenting sesuangguhny adalah mendamaikan di antara kebutuhan fisik atau dimensi biologis yang bersepadupadan dengan kebutuhan kejiwaan dan kebutuhan spiritual. Agar dimanej keduanya dalam satu pemahaman bahwa kehilangan salah satunya adalah sebuah problem yang mendasar.

Kita sedang hidup di dunia. Tentu saja bahwa yang berlaku adalah hukum dunia. Oleh karena itu kita tidak dapat menyelesaikan problem duniawi dengan cara-cara lain selain dengan cara duniawi. Kita sering menyatakan: “pasrahkan kepada Allah  semuanya”. Akan tetapi tentu tidak mudah hal itu dilakukan, sebab keterikatan kita dengan dunia di mana kita hidup.

Oleh karena itu, cara yang tepat kiranya adalah menempatkan pasrah kepada Allah itu sebagai final goal, tetapi tetap menjadikan dunia tempat kita hidup sebagai tujuan antara atau instrumental goal. Jadi tetaplah memohon kepada Allah kebaikan di dunia dan juga kebaikan di akherat.

Wallahu a’lam bi al shawab.

IQRA’: BACALAH AYAT TUHAN SECARA KONPREHENSIP

IQRA’: BACALAH AYAT TUHAN SECARA KONPREHENSIP

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Mengaji model dialog yang dilakukan di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency memang unik. Tidak ada narasumber yang dominan, sebab semuanya memiliki peluang untuk menjadi narasumber. Pengajian dimulai kembali pasca Ramadlan. Pada bulan Ramadlan mengaji Selasa ba’da Subuh tidak dilakukan sebab pada malam hari sudah dilakukan kultum yang diisi oleh berbagai da’i. Ngaji ba’da Shubuh diganti dengan tadarrus Alqur’an, yang dilakukan selama sebulan penuh. Ngaji Ba’da Shubuh dimulai dan dilaksanakan pada tanggal 23/04/2024.

Bermula dari penjelasan Pak Bintara, salah satu jamaah pengajian pada Komunitas Ngaji Bahagia (KNB), dinyatakan bahwa yang terpenting itu sesungguhnya adalah membaca atas alam ciptaan Allah SWT. Iqra’ di dalam wahyu pertama itu disampaikan oleh Malaikat Jibril di Gua Hira’. Di dalam wahyu pertama itu dinyatakan: “Iqra”. Sampai tiga kali. Jadi hal itu menekankan bahwa perintah membaca tersebut ditekankan di dalam Islam. Dinyatakan kita perlu membaca atas petunjuk alam, kita juga membaca tanda-tanda alam. Bagaimana terjadinya musim hujan, musim kemarau, tanda-tanda di dalam diri manusia. Dan sebagainya.

Berdasar atas penjelasan tersebut, kemudian saya tambahkan keterkaitan antara tiga kali Malaikat Jibril membaca iqra’. Muhammad adalah orang yang ummi atau tidak bisa membaca dan menulis. Muhammad yang ummi adalah desain Tuhan. Ummi tidak berarti bodoh, sebab  beliau memiliki kecerdasan yang luar biasa, kecerdasan kenabian. Di atas kecerdasan rasional, emosional, social dan spiritual. Kecerdasan kenabian diberikan Allah melalui pemberian wahyu yang khusus hanya untuk Nabi dan rasul saja.

Ada tiga hal dalam kaitannya dengan wahyu pertama yang dibacakan Jibril sebanyak tiga kali. Jibril mengatakan: “iqra”, lalu Muhammad menjawabnya: “ma ana biqori’in”. sampai tiga kali lalu Malaikat Jibril meneruskan: Iqra’, bismi rabbikal ladzi khalaq, khalaqal insana min ‘alaq, iqra wa rabbukal akramul ladzi ‘allama bil Qalam, allamal insana ma lam ya’lam”. Bacalah kata Malaikat Jibril, maka Muhammad menjawab: “saya tidak bisa membacanya”, setelah tiga kali, maka Malaikat Jibril meneruskan bacaannya: “bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan, yang menciptakan manusia dari tanah, bacalah nama Tuhanmu yang mengajarkan dengan pena dan yang mengajarkan sesuatu yang tidak diketahuinya”.

Jika kita pahami dengan dalil logika, mengapa tiga kali Malaikat Jibril memberikan wejangannya kepada Muhammad, maka tentu ada tiga hal mendasar juga terkait dengan hal tersebut. Pertama, membaca ayat Qauliyah. Agar  kita membaca kalam Tuhan, membaca dengan Namanya. Bisa dimaknai agar kita membaca Alqur’an dan memahami artinya. Kita diajarkan untuk membaca kalimat demi kalimat di dalam Alqur’an, yang di dalam tradisi dinyatakan sebagai tadarrus Alqur’an. Kita sudah melakukannya meskipun belum optimal, misalnya di dalam bulan Ramadlan kemarin, maka setiap pagi kita mengkhatamkan masing-masing satu juz. Yang diharapkan tentunya adalah setelah puasa kita bisa melanjutkan tradisi tersebut. Bahkan di dalam KNB sudah selama dua tahun lebih melazimkan membaca Surat Al Waqi’ah dan juga tahsinan Alqur’an dan terjemahannya sekaligus. Ada banyak hal yang bisa dipahami dari acara tahsinan tersebut.

Kedua,  membaca ayat Kauniyah. Agar kita membaca ayat-ayat atau tanda-tanda kebesaran Allah melalui ciptaannya. Alam ini merupakan ciptaan Allah yang harus dipikirkan, direnungkan dan dipelajari. Tentu tidak ada yang sia-sia di dalam Allah menciptakan ciptaannya dimaksud. Allah meminta kepada kita semua untuk memikirkan ciptaannya dan jangan memikirkan siapa Allah itu. Kita diminta percaya tanpa keraguan. Kita dimintanya untuk meyakini dengan sepenuh hati dan pikiran. Tetapi yang harus dipikirkan adalah ciptaan Allah. Allah berulang kali menyatakan: “afala ta’qilun, afala tatafakkarun” dan sebagainya.

Berbagai temuan sains akhir-akhir ini memberikan indikasi tentang semakin menguatnya dalil keberadaan Tuhan. Hipotesis keberadaan Tuhan semakin menguat sebagai konsekuensi atas temuan sains mengenai alam dan tata suryanya. Alam yang teratur, jutaan galaksi yang beredar sesuai dengan tempatnya, keteraturan atas peredaran bintang sesuai dengan garis edarnya, semuanya membuktikan bahwa alam tidak tercipta dengan sendirinya. Tetapi dipastikan ada sesuatu yang sangat Maha Kuasa, atau di dalam sains disebut sebagai The Great Mind, atau The Supreme Being, yang menciptakan dan mengaturnya. Tidak ada yang meragukan bahwa jika alam itu terjadi dengan sendirinya akan memiliki keteraturan sebagaimana desain keteraturannya dalam system tata surya yang canggih dan mengagumkan.

Melalui  penemuan teleskop yang semakin canggih, maka semakin membuktikan bahwa alam dengan segala keteraturannya itu dipastikan ada yang menciptakan. 14 abad lebih Alqur’an sudah menjelaskan tentang keteraturan alam dan segala proses penciptaannya. Dan berdasarkan kajian akhir-akhir ini bahwa Alqur’an bukanlah ciptaan Muhammad tetapi merupakan kalam Tuhan yang benar adanya. Itulah sebabnya semakin banyak ilmuwan yang kemudian meyakini kebenaran Alqur’an dan kemudian menjadi muslim.

Ketiga,  membaca ayat akhirat. Kita diminta untuk membaca tentang adanya kehidupan lain selain kehidupan di dunia ini. Temuan akhir-akhir ini dalam bidang sains memberikan gambaran bahwa dunia yang kita tempati ini suatu ketika akan berakhir. Di kala tata surya sudah tidak lagi teratur seperti sekarang, maka dunia akan mengalami kehancuran. Temuan ini sejalan dengan ayat-ayat Alqur’an tentang hari kiamat yang digambarkan bahwa gunung-gunung  akan berhamburan, bintang-bintang akan bertabrakan, dan sebagainya sebagaimana digambarkan di dalam ayat-ayat makiyyah tentang kiamat. Kita harus membaca hal ini sehingga akan menghasilkan kearifan di dalam kehidupan.

Sesiapapun yang dapat membaca tiga hal tersebut, maka dialah yang akan selamat di dalam kehidupan duniawi dan ukhrawi. Kita sudah meyakininya, semoga kita mendapatkan rahmatnya Allah swt untuk bisa memasuki surganya. Allahuma inna nas’alukal jannata wal ‘afwa ‘indal hisab.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

SILATURRAHIM: MUTIARA DALAM AJARAN RELASI SOSIAL

SILATURRAHIM: MUTIARA DALAM AJARAN RELASI SOSIAL

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Ada yang membedakan antara silaturrahim dan silaturrahmi. Perbedaannya terletak pada siapa yang melakukan relasi social dalam konteks silaturahmi atau silaturrahim tersebut. Jika kepada yang lebih tua disebut sebagai silaturrahim artinya ada dimensi penghormatan dan kasih sayang yang diharapkan dari yang tua kepada yang muda, sementara itu silaturrahmi merupakan relasi social dari yang tua kepada yang lebih muda. Keduanya memiliki akar kata yang sama di dalam konsepsi Islam yaitu rahima yang berarti kasih sayang.

Islam merupakan agama yang diturunkan kepada umat manusia sebagai agama untuk melakukan rekonstruksi atas pemahaman agama sebelumnya. Muhammad SAW diutus oleh Allah untuk mengembalikan kepercayaan atau iman sebagaimana iman di dalam ajaran Nabi Ibrahim yang hanif. Islam merupakan agama yang sangat menjunjung tinggi keesaan Tuhan atau agama moniteisme sebagaimana  ajaran monoteisme yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim AS. Sebagaimana diketahui bahwa Nabi Ibrahim dilabel sebagai Nabi yang mengajarkan ajaran monoteisme, sehingga disebut sebagai Bapak Monoteisme.

Sesungguhnya, semua agama besar di dunia, merupakan agama dengan induk ajaran agama sebagaimana dipahami dan dipraktikkan oleh Nabi Ibrahim, yang disebut sebagai agama Semit, yaitu Yahudi, Nasrani dan Islam. Ketiganya memiliki kakek moyang yang sama, Nabi Ibrahim AS. Hasil perkawinan Ibrahim dengan Sarah menghasilkan keturunan yang mengembangkan ajaran Yahudi dan Nasrani, sedangkan dengan Hajar menghasilkan keturunan yang kemudian mengembangkan ajaran Islam.

Agama ini sesungguhnya mengajarkan akan kasih sayang. Namun demikian, kala ajaran agama tersebut berada di tangan manusia melalui penafsiran para ahlinya akhirnya menghasilkan paham keagamaan yang keras. Misalnya agama Yahudi yang sekarang, maka ajarannya penuh dengan kekerasan, terutama kekerasan actual. Demikian pula kala agama di tangan manusia, maka juga terjadi berbagai peperangan, yang tentu bisa merusak harkat dan martabat manusia. Melalui peperangan akan terjadi kerusakan fisik yang tidak terkirakan. Memerlukan waktu tidak kurang dari setengah abad untuk memulihkannya. Belum lagi dimensi psikhologis yang bisa berpengaruh dalam satu abad.

Padalah semua agama mengajarkan kepada  sesama manusia untuk saling menghargai dan menghormati. Medium untuk membangun kasih sayang adalah silaturrahmi atau silaturrahim. Islam sedemikian concern terhadap ajaran kasih sayang yang diwujudkan dalam membangun relasi yang baik dengan sesama manusia. Di dalam hal ini, Islam mengajarkan agar manusia tidak hanya berlaku baik atas sesama manusia, tetapi juga dengan alam seluruhnya.

Sedemikan besar kasih sayang Nabi Muhammad SAW terhadap umatnya, maka di kala Nabi Muhammad SAW berdakwah di Thaif, lalu dilempari kotoran dan batu sehingga wajah Nabi Muhammad SAW terluka, maka Malaikat menawarkan kepada-Nya untuk menghimpit mereka dengan dua gunung di Thaif, maka Nabi justru melarangnya, Nabi Muhammad beralasan, bahwa tugasnya adalah mendakwahkan Islam sebagai agama kasih sayang dan bukan untuk menghancurkannya. Nabi berkilah bahwa hal itu dilakukan karena mereka belum mengerti. Begitulah penjelasan teks suci atas akhlak Nabi Muhammad SAW.

Jika kemudian terjadi konflik social yang dinyatakan sebagai konflik agama, maka sesungguhnya yang terjadi adalah konflik yang disebabkan oleh penafsiran atas teks agama yang bercampur baur dengan masalah-masalah kemanusiaan dan kemasyarakatan. Urusan duniawi. Jadi mereka berperang bukan demi agama, akan tetapi demi kepetingannya sendiri-sendiri. Tidak kurang tidak lebih.

Di dalam hadits Nabi Muhammad SAW dinyatakan: man kana yu’minu billahi wal yaumil akhiri fal yashil rahimah”. Yang artinya: “barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya menyambung tali silaturrahmi”. Kita termasuk orang yang beriman kepada Allah SWT. Kita meyakini akan terjadinya hari kiamat, sebagaimana yang dijelaskan di dalam Alqur’an. Kita meyakini seluruh ajaran agama Islam sebagai kebenaran. Maka Rasulullah menyatakan agar kita melakukan silaturrahmi. Hukumnya memang sunnah saja bukan kewajiban. Tetapi karena ini perintah yang utama, maka tentu pahalanya atau balasan Allah atas orang yang bersilaturhami tentu sangat besar.

Allah memberikan jaminan bahwa orang yang bersilaturrahmi akan dipanjangkan usianya. Kematian tentu kepastian dan tidak ada satu manusiapun yang memahami kapan akan terjadi kematian. Maka Allah memberikan jaminan barang siapa yang menyukai silaturrahmi, maka Allah akan memberikan kepanjangan usia. Selain itu, Allah juga menjamin akan keluasan rejeki kepada orang yang melakukan silaturrahmi. Dengan membangun relasi social berbasis silaturrahmi, maka Allah akan memberikan keberkahan akan rejekinya dan kemudahan akan rejekinya. Melalui silaturrahmi, maka Allah akan dapat mempertemukan kepentingan-kepentingan yang bisa saja berujung pada kepentingan ekonomi.

Oleh karena, marilah melaksanakan silaturrahim sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Ajaran Islam memiliki sejumlah Mutiara, dan salah satu mutiaranya adalah ajaran silaturrahim.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

 

KETUPAT LEBARAN

KETUPAT LEBARAN

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Ketupat adalah Bahasa Indonesia. Dalam Bahasa Jawa disebut kupat dan dalam Bahasa Arab disebut Kaffatan. Ketiganya secara substansial memiliki makna yang sama. Yaitu sebuah istilah untuk menggambarkan suatu aktivitas, khususnya dalam tradisi Islam Jawa. Hanya saja, kaffatan di dalam Bahasa Arab menunjuk pada kesempunaan pengamalan dalam ajaran Islam. Kaffah artinya sempurna atau menyeluruh. Di dalam ayat Alqur’an dinyatakan: udkhulu fis silmi kaffah. Masuklah ke dalam ajaran Islam secara sempurna.

Di dalam tradisi Jawa istilah kaffah menjadi kupat. Mengubah ucapan dengan menyesuaikan dengan lidah orang Jawa adalah kekhasan cara para Waliyullah, Wali Sanga, dalam menyebarkan Islam. Istilah wudhu di dalam Bahasa Arab berubah menjadi ulu atau udu, sama halnya dengan shalat dhuhur menjadi sembahyang luhur atau sembahyang lohor. Salamatan dalam Bahasa Arab menjadi slametan dalam Bahasa Jawa atau barakah dalam Bahasa Arab menjadi berkat dalam Bahasa Jawa.
Namun secara substantial tentu yang dimaksudkan adalah ajaran kesempurnaan tentang orang yang sudah menyelesaikan ibadah puasa atau juga upaya untuk membersihkan atau menyempurnakan diri dalam menghadapi puasa. Maka, di dalam tradisi Islam Jawa dikenal ada tradisi kupatan Ruwah atau Sya’ban. Orang Jawa sesuai dengan penanggalan yang dibuat oleh Sultan Agung menyebutkan bulan Sya’ban dengan Wulan Ruwah. Rangkaiannya adalah Rejeb, Ruwah, dan  Poso atau di dalam kelender Islam disebut sebagai rajab, sya’ban dan Ramadlan. Doa kita di dalam Bahasa Arab adalah allahumma bariklana fi rajab wa Sya’ban wa balighna Ramadlan, yang artinya: “Ya Allah berkahi kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikan  kami di Bulan Romadlon”.

Kupat di dalam Bahasa Jawa kemudian berubah menjadi Ketupat di dalam Bahasa Indonesia. Sampai hari ini, orang-orang pedesaan Jawa masih menggunakan istilah kupat dan bukan ketupat. Acara untuk melakukan selamatan di Masjid atau Mushalla atau balai desa disebut sebagai kupatan. Acara berdoa bersama dengan masing-masing individu pelakunya membawa kupat di dalam baskom atau lainnya yang disertasi dengan lepet dan sayur mayur serta daging ayam, yang digoreng atau dijadikan kare. Makanan  kare merupakan makanan favorit pada masyarakat pedesaan, yang terdiri dari daging ayam, dan bumbu kare yang terdiri dari santan, dan bumbu lengkap dengan campuran cabe sesuai dengan selera. Ada juga yang membawa sayur lodeh, biasanya buah pepaya muda dicampur dengan bumbu lengkap dan ditambah tahu, tempe atau kulit sapi atau kerbau yang biasanya disebut cecek. Keduanya, baik kare atau lodeh tentu nikmat dimakan dengan kupat.

Kreasi-kreasi semacam ini biasanya dinisbahkan dengan Kanjeng Sunan Kalijaga. Jadi jika dilihat masa hidup Kanjeng Sunan Kalijaga, maka kupat atau kupatan sudah terjadi di Nusantara, khususnya Jawa pada awal abad ke 15 sampai akhir abad 16. Berbagai Riwayat menyatakan bahwa nama Beliau semula adalah Raden Said, putra Bupati Tuban Wilwatikta dengan  Dewi Nawangrum. Beliau juga disebut sebagai Brandal Lokajaya. Beliau melakukan perampokan pada orang kaya yang tidak mau membayar zakat, dan hasil kegiatannya itu dibagi-bagikan kepada rakyat miskin di Kabupaten Tuban.

Beliau menjadi santri setelah bertemu dengan Kanjeng Sunan Bonang, yang diabadikan dengan simbolisasi buah kelapa yang berubah menjadi emas. Melalui lelaku atau ritual khusus untuk calon waliyullah dalam bimbingan Sunan Bonang, maka akhirnya Raden Said atau Brandal Lokajaya  menjadi waliyullah yang digelari dengan nama Sunan Kalijaga.

Secara hipotesis dapat dinyatakan bahwa tradisi kupatan merupakan kreasi Kanjeng Sunan Kalijaga di dalam mensimbolisasikan tradisi slametan dalam bentuk ritual kupatan yang dilakukan sebagai persiapan berpuasa dan setelah berpuasa. Tradisi kupatan menjelang puasa atau nisfu sya’ban dikaitkan dengan persiapan menghadapi ritual puasa dan tradisi kupatan sepekan setelah hari raya idul fitri dikaitkan dengan symbol keberhasilan melakukan puasa selama sebulan.

Kupat terbuat dari beras yang sudah dicampur air atau dipususi lalu dimasukkan ke dalam anyaman daun kelapa yang dibuat dalam segi empat atau segi tiga. Tidak mudah untuk membuat kupat. Harus belajar secara serius. Di masa  remaja  saya diajari untuk membuat kupat itu. Hingga hari ini saya masih bisa membuatnya. Tetapi anak-anak saya rasanya sudah tidak bisa membuatnya. Di era segalanya bisa dibeli, maka keterampilan untuk membuat kupat atau lepet sudah tidak lagi diminati. Kira-kira prinsipnya: bisa membelinya.

Kupatan tahun ini terasa ada yang kurang. Biasanya, saya dan keluarga datang ke Mojokerto di Desa Kutogirang, Ngoro, Mojokerto. Emak Hajjah Muthainnah selalu membuat kupat dan lepet yang diberikan khusus kepada saya. Hingga satu pekan kupat dan lepet tersebut tidak basi. Katanya karena dimasak dalam waktu yang lama, sehingga tahan lama. Selain itu juga rasanya yang menantang lidah untuk memakannya.

Sekarang Emak sudah tidak ada lagi. Tidak ada lagi yang bisa membuat kupat dan lepet khas seperti itu. Agak berbeda dengan kupat dan lepet di Tuban, tepatnya di Desa Sembungrejo, Merakurak, di orang tua saya, Hj. Turmiatun. Meskipun sesama kupat dan lepet, akan tetapi taste-nya agak berbeda. Saya merasakan kupat dan lepet di Mertua saya  lebih enak  dinikmati. Menikmati makanan khas seperti itu tetap ada kelebihannya di tengah semakin banyaknya inovasi tentang jajanan yang berkembang dewasa ini.

Kupat dan lepet terbuat dari bahan daun kelapa, yang disebut janur. Baik yang terbuat dari daun kelapa atau daun lontar, akan tetapi keduanya tetap disebut sebagai janur. Janur sering dipakai oleh masyarakat Nusantara untuk kepentingan upacara-upacara, misalnya upacara pernikahan. Janur merupakan keratabasa atau singkatan yang menggambarkan sejatining nur atau cahaya sejati atau sejatining rasa.

Kita masih ingat konsep Nur Muhammad, yang diciptakan oleh Allah sebelum menciptakan alam semesta dan manusia di dalamnya. Yaitu sebuah pemahaman bahwa semua yang diciptakan Tuhan itu berasal dari Nur Muhammad. Di dalam filsafat Jawa dikenal konsep Sang Hyang Nur Rasa, yaitu kekuatan cahaya rasa yang agung, yang bisa menyinari atas kehidupan manusia. Dengan kata lain bahwa di dalam diri manusia terdapat unsur Sang Hyang Nur Rasa, atau roh yang ditiupkan kepada janin kala di alam perut ibu. Dengan Sang Hyang Nur Rasa itulah manusia akan hidup dengan dimensi cahaya Tuhan atau Nurullah.

Kupat atau ketupat merupakan simbolisasi dunia spiritualitas yang harus disiapkan untuk menjalani puasa dan setelah selesai puasa. Kupat yang terbuat dari janur sebagai keratabasa sejatining rasa harus disiapkan kesuciannya untuk bertemu dengan bulan yang suci dan juga menandakan kelulusan rasa spiritualitas setelah selama satu bulan disucikan.

Orang Jawa, khususnya, memang sering berurusan dengan dunia simbolik. Dan kupatan adalah symbol kesucian untuk menjemput kesucian, bulan  puasa yang disucikan  dan keberhasilan dalam mengalami  pergulatan menahan hawa nafsu  di bulan kesucian.

Wallahu a’lam bi asl shawab.

 

 

KEBAHAGIAAN HAKIKI

KEBAHAGIAAN HAKIKI

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Sebagai negara muslim terbesar di dunia, ternyata indeks kebahagiaan masyarakat Indonesia  masih jauh dari harapan. Berdasarkan penilaian World Happiness Report  (WHR), masyarakat Indonesia menempati posisi 80 dari sebanyak 143 negara yang disurvei. Peringkat indeks kebahagiaan tersebut diukur dari  evaluasi hidup (PDB perkapita, harapan hidup sehat,  dukungan social, kebebasan, kemurahan hati dan persepsi korupsi), emosi positif dan emosi negative. Sedangkan negara dengan kebahagiaan tinggi adalah Skandinavia, Finlandia,  Denmark dan Islandia. Dibandingkan dengan negara-negara di Asia Tenggara, Indinesia menempati urutan ke enam, setelah Singapura, Filipina, Vietnam, Thailand dan Malaysia (Yudi Latif, “Politik Kebahagiaan”, diunduh 14/04/2024).

Tampaknya memang ada paradoks. Di satu sisi masyarakat Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang religious. Bahkan masyarakat yang sangat mempercayai keberadaan Tuhan. Masyarakat Indonesia dalam keyakinannya tentang Tuhan bahkan mengalahkan masyarakat Turki. Masyarakat Indonesia sebanyak 97 persen mengakui dan meyakini tentang keberadaan Tuhan, sementara masyarakat Eropa termasuk masyarakat dengan indeks kebahagiaan tertinggi tersebut lebih banyak yang tidak mempercayai Tuhan alias atheis. Jika membacanya seperti ini, maka tampaknya tidak ada kaitan antara agama atau keyakinan akan keberadaan Tuhan dengan kebahagiaan.

Nanti dulu untuk berkesimpulan seperti itu. Ukuran kebahagiaan sebagaimana yang dinyatakan oleh WHR, memang kebahagiaan berbasis pada pengukuran empiris dan lebih mendasar adalah dimensi ekonomi. Jika kita baca, maka ukurannya adalah hal-hal yang empiris, seperti pendapatan dan pengeluaran, harapan hidup sehat, relasi social dan juga emosi yang dihadapi oleh yang bersangkutan. Memang ukuran yang digunakan adalah bercorak material. Oleh karena itu, ukuran spiritual menjadi terabaikan. Karena ukurannya bercorak material seperti halnya pendapatan ekonomi, harapan hidup sehat, dukungan social dan kebebasan, maka tentu masih jauh harapan masyarakat Indonesia untuk mencapainya. Dilihat dari indeks Pengembangan Sumber daya Manusia, maka posisi Indonesia berada di angka 114 dari 180 negara di dunia.

Padahal sesungguhnya untuk mengukur kebahagiaan tidak sekedar ukuran material. Ada dimensi hati yang terlibat di dalamnya. Di sinilah, agama lalu menjadi penting untuk dilibatkan di dalam mengukur kebahagiaan. Sayangnya bahwa pemeringkatan kebahagiaan itu selalu hasil survey dari orang Barat yang hanya melihat kebahagiaan dari aspek kepemilikan harta. Asumsinya bahwa semakin kaya dengan asetnya yang banyak maka akan menentukan atas kebahagiaannya. Jadi, ukuran kebahagiaan adalah pada dimensi ekonomi secara lebih mendasar.

Jika menggunakan ukuran ini, maka kebahagiaan masyarakat Indonesia tidak akan beranjak naik secara drastic. Akan tetap berada di dalam kisaran 70-80 atau bahkan suatu Ketika akan turun menjadi di atas angka 80 dan di bawah angka 90. Dekat-dekat di situ. Memang harus diakui bahwa untuk mengukur kesejahteraan itu dapat dilihat kehidupan ekonomi. Jika secara ekonomi tercukupi, maka bisa dinyatakan sebagai hidup yang sejahtera.

Badan Pusat Statistik (BPS), telah merilis tentang Indeks kebahagiaan, dengan indicator: Dimensi Kepuasan Hidup yang terdiri dari Kesehatan fisik dan mental, Pendidikan dan keterampilan, pekerjaan, pendapatan rumah tangga, kondisi dan fasilitas rumah, keharmonisan keluarga, ketersediaan waktu luang, hubungan social, kualitas lingkungan, kondisi keamanan. Lalu dimensi perasaan  yang terdiri dari perasaan senang, tidak khawatir, tidak tertekan. Kemudian standart dimensi makna hidup yang terdiri atas penerimaan diri, tujuan hidup, pengembangan diri, kemandirian, penguasaan lingkungan, dan hubungan positif dengan orang lain.

Ukuran kebahagiaan yang dilansir oleh BPS sudah lebih maju dibandingkan dengan ukuran kebahagiaan yang diungkapkan oleh WHR. Ukuran kebahagiaan menurut BPS sudah melibatkan standart kepuasan hidup, domensi perasaan dan dimensi makna hidup. Standart kebahagiaan hidup menurut BPS lebih memberikan peluang kepada seseorang untuk menjadi bagian dari orang yang bahagia, sebab sudah memasukkan dimensi perasaan dan makna hidup. Perasaan senang, perasaan dihargai dan perasaan masih diperhatikan oleh lingkungan dan masyarakat.  Sudah terjadi perkembangan mengenai indeks kebahagiaan yang  sebelumnya hanya diukur dengan kepuasan hidup (satisfaction), lalu dikembangkan dengan perasaan (affection) dan makna hidup (eduaimonia). Melalui pengukuran baru, maka memungkinkan terjadinya perubahan dalam realitas kebahagaiaan pada masyarakat Indonesia. Tingkat kebahagiaan masyarakat Indonesia rata-ratanya adalah 73,80 pada tahun 2021 dan  meningkat dibandingkan dengan hasil survey tahun 2017 sebesar 71,21.

Menurut Imam Al Ghazali, bahwa untuk menggapai kebahagiaan, maka ada lima tahapan, yaitu: pengetahuan tentang diri, pengetahuan tentang Allah, pengetahuan tentang dunia, pengetahuan tentang akhirat dan kecintaan kepada Allah. Manusia harus tahu dirinya, tahu siapa dirinya. Tahu bahwa dirinya adalah makhluk yang tidak berdaya kecuali atas kekuatan yang diberikan oleh Allah SWT. Memahami atas diri akan menjadi jalan awal untuk memahami tentang hakikat manusia sebagai ciptaan Allah SWT. Lalu, manusia juga harus memahami siapa sesungguhnya yang menciptakan dunia dan seisinya, termasuk menciptakan dirinya. Dengan kelemahan yang dimilikinya, pantas jika dia harus menyandarkan dirinya kepada kekuasaan Tuhannya. Memahami diri dan memahami Tuhan menjadi bagian dari kalamullah: man ‘arafa nafsahu faqad  ‘arafa rabbahu. Orang yang memahami siapa dirinya dalam berhubungan dengan Allah, maka orang itu akan mengenal Tuhannya. Manusia juga harus memahami dunianya. Manusia hidup di dalam dunia, sehingga hukum dunia menjadi penting. Urusan duniawi harus diselesaikan dengan cara duniawi, samil memasrahkannya kepada Tuhannya. Dialektika manusia-Tuhan, Tuhan-manusia menjadi penting. Yang tidak kalah penting adalah pemahaman tentang kehidupan sesudah mati. Sesungguhnya yang mati adalah fisik atau jasadnya, sedangkan rohnya akan terus hidup di alam kubur. Roh akan menjalani siklus kehidupan untuk berada di alam kubur dalam rangka menunggu kehidupan di alam akhirat. Pengetahuan seperti ini, akan membawa seseorang untuk menjalani kehidupan yang penuh dengan harapan akan kebahagiaan kelak di alam akerat. Dan yang terakhir betapa pentingnya adalah mencintai Allah. Cinta kepada Allah itu sudah ditunjukkan oleh para rasul dan yang fenomenal adalah kecintaan Nabi Ibrahim kepada Allah melebihi cintanya kepada anaknya, Ismail.

Dengan pengukuran kebahagiaan yang bercorak fisikal dan spiritual tersebut, maka manusia akan memperoleh kebahagiaan yang sejati atau kebahagiaan yang hakiki. Di sinilah makna doa sapujagat yang sering kita baca, yaitu: “rabbana atina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina adzaban nar”.

Wallahu a’lam bi al shawab.