• November 2026
    M T W T F S S
    « Oct    
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    30  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

JANGAN MENGINGKARI KEBENARAN AGAMA

JANGAN MENGINGKARI KEBENARAN AGAMA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) hari Kamis, 31/09/2024 terasa menyenangkan, karena yang hadir komplit. Ada Pak Bintara, Pak Dr. Suwardi, Pak Suryanto, Pak Rusmin, MPd, Pak Hardi, Pak Budi dan lain-lain. Pak Mulyanta dan Pak Sahid yang karena udzur syar’i, maka tidak sempat mengikuti acara tahsinan di Masjid Al Ihsan, Perumahan Lotus Regency Surabaya. Seperti biasa, meskipun temanya tahsinan Alqur’an, akan tetapi gelak tawa tidak terhindarkan. Jika ada Pak Bin dan ada Pak Mul, maka ngaji bahagia benar-benar menjadi bahagia.

Kita tahsinan di Surat Al Al Mursalat, yang jika dipahami secara mendasar, akan menggambarkan mengenai tabsyir atau berita yang menggembirakan dan tandzir berita yang menakutkan. Agama, apapun namanya, selalu menghadirkan dua hal ini, yaitu berita gembira dan berita sedih. Hal ini tentu terkait dengan agama sebagai pedoman untuk melakukan tindakan. Kita diajari untuk patuh pada ajaran agama dan kemudian akan memperoleh reward atau ganjaran dari Allah SWT yang berupa surga atau Jannah dan siapa yang menolak kebenarannya maka akan diganjar dengan punishment yang berupa neraka atau an-nar. Jadi, kita tinggal pilih saja.

Di dalam surat Al Mursalat, terdapat banyak ayat yang berbunyi “wailuy yaumaidzin lil mukadzdzibin” yang artinya “Celakalah pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan (agama)”. Ada delapan ayat yang menyatakan seperti itu. Artinya, bahwa Allah SWT tidak main-main atas orang yang mendustakan agama. Janji Allah pasti ditepati. Innallah la yukhliful mi’ad”, bahwa “sesungguhnya Allah tidak akan mengingkari janjinya”. Jika Allah SWT sudah mendeklarasikan bahwa orang yang ingkar akan kebenaran ajaran agama (Islam), maka Allah pasti akan memasukkan ke dalam neraka, dan sebaliknya atas orang yang membernarkannya, pastilah Allah akan memasukkannya ke dalam surganya.

Di dalam surat Al Mursalat, sudah dijelaskan tentang apa balasan  orang yang ingkar kepada kebenaran agama dan orang yang patuh pada ajaran agama. Bagi yang ingkar akan kebenaran agama, maka Allah akan memberikan balasan yang berupa neraka dengan semburan api yang tinggi, asap api neraka itu memiliki tiga cabang, semburan api tersebut bergulung-gulung seperti kawanan unta yang berjalan di padang pasir, mereka tidak bisa berbicara untuk membuat alibi, dan mereka dikumpulkan dengan orang-orang terdahulu yang juga ingkar kepada kebenaran agama.

Sedangkan orang yang patuh kepada Allah digambarkan sebagai orang yang dinaungi pepohonan surga yang teduh dan mata air yang  bening. Lalu juga terdapat buah-buahan yang ranum dengan tingkat kematangan yang sempurna, dan semuanya dibebaskna untuk makan dan minum sesukanya sebagai balasan atas perbuatannya yang baik di muka bumi. Berbahagialah orang yang mempercayai akan kebenaran agama dengan berbagai varian ajarannya.

Islam merupakan ajaran agama yang lengkap. Tidak hanya ajaran tentang keyakinan atau teologis, akan tetapi juga ajara ritual atau tata cara beribadah atau dimensi ritual, dan juga ajaran akhlak yang utama atau akhlaqul karimah. Di dalam akhlak inilah Allah mengajarkan mengenai bagaimana berhubungan dengan-Nya, bagaimana caranya berhubungan dengan sesama manusia dan bagaimana berhubungan dengan alam seluruhnya.

Sebagai konsekuensi sifat Rahman dan Rahim Tuhan, maka Allah memberikan rahmat bagi seluruh alam dan bukan rahmat bagi manusia saja. Bahkan juga bukan hanya rahmat bagi umat Islam akan tetapi rahmat bagi seluruh alam semesta.  Inilah kunci ajaran Islam, agama yang sedemikian hebat ajarannya tentang kemanusiaan atau humanitas.

Perilaku Nabi Muhammad SAW dapat menjadi contoh tentang bagaimana seharusnya manusia menhormati dan menghargai kemanusiaan. Bahkan di dalam perang, yang umat Islam kala itu dijadikan sebagai sasaran, maka Rasulullah menganjurkan jangan membunuh perempuan, jangan membunuh lelaki tidak berdaya, jangan membunuh anak-anak, jangan merusak tanaman dan kebun-kebun kurma dan bahkan juga jangan merusak tempat ibadah. Betapa mulianya Rasulullah itu bagi kemanusiaan.

Bandingkan dengan perilaku manusia modern, yang suka merusak alam, merusak hutan, merusak lautan, merusak lingkungan dan sebagainya. Dan jika perang maka digunakan senjata pemusnah masal. Bahkan kaum teroris juga melakukan pengeboman atas wilayah yang dipastikan di situ terdapat umat Islam. Sungguh jauh ajaran Islam itu dari apa yang dicontohkan oleh Rasulullah dengan perilaku manusia modern. Nabi Muhammad SAW mencontohkan yang terbaik, sementara manusia dewasa ini melakukan yang terjelek. Masyaallah.

Anggota KNB pasti menjadi orang yang tidak mengingkari kebenaran ajaran agama. Kita semua telah menjadi pelaku-pelaku agama yang patuh dan rutin. Coba kita bayangkan betapa bahagianya orang tua kita, kakek nenek kita yang setiap sore dan pagi kita bacakan surat al Fatihah dan Surat Al waqi’ah. Kita meyakini bahwa bacaan-bacaan Alqur’an tersebut pasti diterima Allah dan akan disampaikan pahalanya untuk kita dan leluhur kita.

Itulah sebabnya menjadi anggota KNB sungguh kebahagiaan. Kita bisa bercanda, kita dapat  mengaji dan juga membahas sedikit-sedikti tentang terjemah Alqur’an. Subhanallah.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

RAHMAT ALLAH UNTUK ALAM SEMESTA

RAHMAT ALLAH UNTUK ALAM SEMESTA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Sebagaimana biasa, setiap Selasa, ba’da Shubuh dilakukan pengajian rutin oleh Komunitas Ngaji Bahagia (KNB), dengan peserta pengajiannya adalah para jamaah shalat Subuh. Ada yang dari Jamaah shalat Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency dan ada yang dari Masjid Raudhah Perumahan Sakura, Surabaya. Pada Selasa, 28/10/2024, saya yang mendapatkan jatah untuk memberikan ceramah agama. Dan sebagaimana biasa,  ceramah ini bercorak interaktif dan happy.

Di dalam ceramah ini, saya sampaikan dua  hal yang penting dengan tema tentang Rahmah yang merupakan ajaran kunci di dalam Islam. Sebagaimana yang sudah dipahami bahwa Islam itu agama yang dapat memberikan rahmat bagi seluruh alam. Dinyatakan: “wa ma arsalnaka illa rahmatan lil ‘alamin”.  Yang artinya kurang lebih: “dan tidaklah aku turunkan kepada-Mu (Muhammad) kecuali untuk kerahmatan bagi seluruh alam”.

Pertama, para ulama ahli tafsir berbeda pendapat mengenai makna rahmat. Di kalangan ahli tafsir terdahulu, maka rahmat itu diartikan hanya diperuntukkan bagi umat Islam. Meskipun teksnya menyatakan rahmatan lil alamin, akan tetapi yang dimaksudkan adalah rahmat bagi umat Islam saja. Sementara  itu ulama terkemudian, misalnya Al Thabari menyatakan bahwa rahmat Allah itu diberikan kepada seluruh manusia dan alam, tidak perduli apa agamanya. Semua umat manusia mendapatkan rahmatnya Allah. (Sahiron, 2023). Saya berkecenderungan dengan pendapat Al Thabari di dalam menafsirkan pernyataan rahmatan lil alamin tersebut.

Bagi saya bahwa rahmat itu dapat diberikan oleh Allah untuk manusia di dunia dan di akherat. Semua manusia memperoleh rahmatnya Allah. Misalnya semua diberi peluang untuk bisa makan, mengembangkan keturunan, hidup dengan sejahtera, hidup dengan berkecukupan secara ekonomi dan sebagainya. Semua diberikan kewenangan oleh Allah untuk mengakses kehidupan secara lebih baik. Ada orang yang kaya dan ada orang yang miskin. Ada yang sejahtera dan tidak dan sebagainya. Akan tetapi hakikatnya semua memperoleh rahmatnya Allah. Ini yang disebut rahmat Allah di dunia. Namun demikian ada yang secara khusus hanya memperoleh rahmat di akherat. Yakni rahmat yang diberikan kepada umat Islam yang mempercayai kebenaran Islam dari sumber teks suci di dalam agama Islam.

Kedua, Berdasarkan pemikiran (Sahiron, 2023) bahwa rahmat Allah tersebut dibagi di dalam lima hal yaitu: 1) Ajaran Islam mengajarkan tentang keselamatan dan kebahagiaan. Hakikat ajaran Islam adalah agar manusia mendapatkan kebahagiaan dan keselamatan. Yang melakukan kebaikan dan menjauhi larangan Islam adalah orang yang berbahagia atau yang muflihun. Keselamatan dan kebahagiaan tersebut dapat terjadi di dunia dan akherat. Semua orang yang beragama berharap agar mendapatkan dua kebahagiaan sekaligus.

2) ajaran Islam mengajarkan tentang manusia tidak dibebani melebihi kapasitasnya. Allah tidak akan membebani sesuatu yang melebihi kekuatannya. “la yukallifullahu nafsan illa wus’aha”. “Tidaklah Allah membebani manusia di luar kemampuannya”. Manusia diberikan kekuatan fisik dan kekuatan batin sehingga cobaan Allah kepada manusia juga didasarkan atas kekuatan tersebut. Allah tidak akan mencoba manusia dengan di luar kemampuannya.

3) Islam mengajarkan tentang ketinggian harkat dan martabat manusia. Manusia adalah makhluk Allah yang sangat mulia. “inna khalaqnal insana fi ahsanit taqwim”. “sesungguhnya kami menciptakan manusia sebagai sebaik-baik ciptaan”. Sebagai makhluk Allah manusia dilengkapi dengan kemampuan pikiran, kemampuan emosi atau hati, kemampuan perasaan kemanusiaan dan kemampuan spiritual. Itulah sebabnya malaikat saja cemburu atas ketinggian martabat manusia dimaksud.

4) manusia tidak akan melakukan kerusakan di bumi. Manusia diciptakan Allah untuk tidak merusak alam. Allah menyatakan: “dhaharal fasadu fil barri wal bahri bima kasabat aidin nas”. “tampak kerusakan di daratan dan lautan karena ulah tangan manusia”. Allah sesungguhnya melarang manusia untuk melakukan kerusakan dalam hal apapun. Allah melarang manusia untuk melakukan tindakan bodoh dengan merusak alam, misalnya mencemari udara, illegal logging dan juga mencemari laut, sungai dan sebagainya. Allah mengajarkan agar menjaga alam melalui konsep hablum minal alam.

5) Islam mengajarkan agar manusia mencintai sesamanya dan menganjurkan agar memberikan pertolongan kepada orang-orang yang lemah atau kaum mustadh’afin. Islam mengajarkan tentang zakat, infaq dan sedekah serta wakaf yang tujuannya adalah untuk memberikan sebagian kecil hartanya untuk kebaikan bagi orang lain.  Ajaran philantropi di dalam Islam merupakan ajaran yang sangat mulia. Ajaran yang penuh kecintaan kepada sesama manusia. Allah meminta kepada manusia untuk menebarkan keselamatan dan juga memberikan makanan kepada yang membutuhkan. “afsus salam wa ith’amuth thaam”. “menebarkan salam dan memberikan makan”.

Inilah keindahan Islam yang merupakan ciri dari agama terakhir. Agama yang mengajarkan manusia agar membangun relasi yang baik dengan Tuhan, membangun relasi yang baik dengan sesama manusia dan juga membangun hubungan yang baik dengan alam.

Wallahu a’lam bi al shawab.

JADIKAN SHALAWAT SEBAGAI WASHILAH MENCAPAI RAHMAT ALLAH

JADIKAN SHALAWAT SEBAGAI WASHILAH MENCAPAI RAHMAT ALLAH

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Jika saya pulang ke Tuban, selalu ada yang kurang jika saya tidak menyapa para jamaah Shalat di Mushalla depan rumah saya, yaitu jamaah Mushalla Raudhatul Jannah di Dusun Semampir, Desa Sembungrejo, Merakurak,  Tuban. Ketepatan Hari Selasa, 22/10/2024, saya secara sengaja datang di rumah Tuban untuk menjenguk orang tua perempuan saya.

Saya  memang hari itu harus pergi ke Kudus menghadiri undangan Rektor IAIN Kudus, Prof. Dr. Abdurahman Kasdi, Lc.,  dalam rangka Studium General untuk mahasiswa Program Magister dan Doctor IAIN Kudus. Ada sebanyak 30 orang mahasiswa baru program doctor Islamic Studies pada tahun pertama dibukanya Program Studi Islamic Studies. Diharapkan menyusul dibuka juga Prodi Manajemen Pendidikan Islam untuk tahun depan.

Saya selalu merasa senang jika datang di desa saya ini, sebab bisa bertemu dengan kawan-kawan di masa kecil, yang masih sehat dan dapat melakukan shalat berjamaah, khususnya shalat jamaah Shubuh. Shalat jamaah shubuh merupakan shalat jamaah yang sulit dilakukan karena terkadang seseorang belum bangun. Jadi shalat shubuhnya terlambat. Bisa jadi karena ada acara semalam yang padat, sehingga tidurnya lambat.

Ada tiga hal yang saya sampaikan di dalam ceramah ba’da shubuh di Mushalla Raudhatul Jannah, yaitu: pertama, kita harus selalu bersyukur atas nikmat Allah, terutama nikmat iman kepada-Nya. Nikmat terbesar di dalam kehidupan adalah nikmat untuk selalu menjadi umat Islam, yang meyakini keberadaan Allah, meyakini kebenaran kitab suci Alqur’an, kebenaran kehadiran Nabi Muhammad sebagai pembimbing terbesar umat manusia, dan meyakini rukun iman lainnya. Tidak hanya ini tetapi juga dapat melaksanakan ibadah dan berbuat baik untuk sesama manusia. Inilah nikmat terbesar di dalam kehidupan. Kita  juga bisa hidup dalam sehat, sebab kesehatan itu begitu penting agar kita dapat  melakukan ibadah dengan sempurna.

Kedua, para ulama baik ulama Nu maupun ulama Muhammadiyah menganjurkan agar kita membaca shalawat. Kyai Asrori mursyid Taraket Qadiriyah Naqsyabandiyah di Kedinding Surabaya menjelaskan bahwa membaca shalawat yang diniatkan untuk memohon ampunan Allah,  maka hal itu pasti akan diampuni Allah. Jika membaca shalawat untuk ampunan Allah maka ampunan tersebut melalui Nabi Muhammad kekasih Allah. Jika kita membaca istighfar maka kita meminta langsung, yang kita belum bisa memastikannya diterima atau lainnya. Tetapi dengan memohon ampunan melalui bacaan shalawat kepada Nabi Muhammad,  maka shalawat dan permohonan doa tersebut akan diterima Allah SWT. Ustadz Adi Hidayat, ulama Muhammadiyah juga menyarankan yang sama. Intinya, bahwa dengan membaca shalawat yang diniatkan untuk memperoleh ampunan Allah, maka diyakini bahwa Allah akan mengampuni dosanya. Oleh karena itu, marilah kita lakukan keduanya, membaca istighfar yang langsung memohon ampunan kepada Allah dan juga bisa melakukan shalawat yang juga bisa menjadi kepastian akan ampunan Allah SWT.

Ketiga, shalawat akan dapat menjadi washilah untuk memperoleh syafaat Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Memperoleh syafaat dari Nabi Muhammad adalah anugrah yang sangat luar biasa. Siapa yang tidak ingin mendapatkannya. Yang dipastikan untuk memperoleh syafaat Nabi Muhammad SAW adalah orang yang membaca shalat secara istiqamah, yang terus menerus. Mungkin jumlahnya tidak harus banyak tetapi basis istiqamahnya itu yang sangat penting. Amalan yang disukai Allah adalah amalan yang dilakukan secara rutin. Maka beruntunglah orang yang di dalam hidupnya diwarnai dengan bacaan shalawat. Semakin banyak membaca shalawat dan istiqamah, maka semakin besar peluangnya untuk memperoleh syafaat dari Nabi Muhammad SAW.

Agama itu terkait dengan keyakinan. Maka kita harus memastikan bahwa kita yakin dengan membaca shalawat, maka akan memperoleh syafaat Rasulullah SAW. Nabi Muhammad sebagai kekasih Allah diberikan wewenang untuk memberikan syafaat kepada hambanya yang mencintainya. Dan salah satu cara mencintai Nabi Muhammad SAW adalah dengan membaca:  “Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala ali sayyidina Muhammad”.

Nabi Muhammad SAW adalah kekasih Allah SWT. Tidak ada nabi dan rasul yang melebihi kasih sayang Allah dimaksud. Sebagai konsekuensi atas kasih sayang yang sedemikian besar, maka apa yang dimohonkan oleh Nabi Muhammad SAW akan diperkenankan oleh Allah. Dan salah satu dari perkenan Allah adalah Nabi Muhammad SAW berhak untuk memberikan syafaat. Jika seseorang mendapatkan syafaatnya Kanjeng Rasul, maka juga dipastikan akan mendapatkan rahmat Allah SWT.

Adakah yang lebih besar dari rahmat Allah SWT. Saya rasa tidak ada. Rahmat Allah adalah karunia terbesar yang diberikan Allah SWT kepada hambanya yang mencintai kekasihnya. Muhammad SAW adalah kekasihnya yang sangat layak memperoleh cinta dan kasih sayang. Makanya, jika seseorang bershalawat berarti mencintai kekasih Allah SWT dan akan berujung pada kehadiran rahmat Allah SWT yang sangat didambakan.

Dan di antara yang menjadi penyebab seseorang masuk surga adalah karena rahmat Allah SWT. Beruntunglah orang yang bershalawat sebab akan memperoleh syafaatnya Rasulullah Muhammad SAW dan akhrnya akan mendapatkan rahmat Allah SWT yang berupa menjadi barisan dari ahli surga.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

MENYEIMBANGKAN OLAH RAGA, OLAH PIKIR, OLAH RASA DAN OLAH RUH.

MENYEIMBANGKAN OLAH RAGA, OLAH PIKIR, OLAH RASA DAN OLAH RUH.

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Judul ini diilhami oleh pertanyaan Pak Mulyanta, Ketua RW 08, Kelurahan Ketintang Selatan, Kecamatan Gayungan Surabaya. Pertanyaan yang kelihatannya sederhana tetapi bisa membuka cakrawala yang lebih luas tentang bagaimana membangun keseimbangan antara olah rasa, olah pikir, olah rasa dan olah ruh. Dan membuka cakrawala tentang gradasi dari keempatnya. Juga memberikan pemahaman bahwa manusia sebaiknya tidak hanya mengembangkan salah satunya saja, tetapi harus keempatnya sekaligus.

Pengajian ini diselenggarakan di Masjid Al Ihsan, Perumahan Lotus Regency E8, Ketintang Selatan, Surabaya. Dihadiri oleh Jama’ah atau Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) pada Selasa, 15/10/2024. Sebagaimana biasanya, pengajian dilakukan ba’da shalat shubuh berjamaah. Ada tiga hal yang saya sampaikan di dalam pengajian tersebut, yaitu:

Pertama, islam merupakan agama yang komplit di dalam ajarannya, ada ajaran mengenai teologis, ritual, pengetahuan agama, konsekuensi beragama dan juga pengalaman beragama. Dalam pengetahuan beragama, Islam begitu menekankan mengenai manusia harus berpikir tentang ayat-ayat qauliyah dan ayat kauniyah. Ayat qauliyah terdapat di dalam Alqur’an dan hadits atau pendapat atau tafsir agama yang sudah diberikan oleh para ulama yang memiliki otoritas dalam ilmu keislaman. Kita harus belajar tentang Ilmu Alqur’an, Ilmu Tafsir, Ilmu Hadits, Ilmu Fiqih, Ilmu tasawuf dan sebagainya. Tentu tidak semua orang bisa melakukannya. Dalam hal seperti ini, maka yang ada yang ahli dan ada yang menjadi pengikut. Yang tidak memahami maka harus ittiba’ atau mengikuti kepada yang ahli.

Lalu berpikir juga tentang ayat-ayat kauniyah. Ayat-ayat tentang alam. Berpikir tentang bagaimana alam diciptakan oleh Dzat yang Maha Kuasa atau omni potence. Berdasarkan kajian atas keteraturan alam, maka tidak mungkin yang teratur itu terjadi dengan sendirinya. Pasti ada Dzat yang memiliki pengetahuan atau omni science, yang maha hebat dan dari pengetahuannya itu kemudian menciptakannya. Hipotesis tentang keberadaan Tuhan diyakini oleh ahli ilmu pengetahuan.

Ajaran tentang memahami qouliyah dan kauniyah akan memberikan kepastian bahwa iman kita adalah iman yang benar, tidak hanya dari doktrin saja akan tetapi dari pemahaman ilmu pengetahuan yang benar. Ajaran ilmu alam disandingkan dengan kalam Tuhan dalam Alqur’an dan ternyata yang di masa lalu dianggap sebagai mu’jizat dan melalui kajian atas kenyataan empiris ternyata benar. Ada banyak contoh mengenai hal ini.

Kedua, ajaran Islam yang mewadahi mengenai  olah rasa dan olah ruh adalah ajaran tasawuf. Ajaran tasawuf berisi ajaran tentang dimensi perasaan ketuhanan atau olah rasa atau rasa ketuhanan. Di dalam dunia tasawuf ada riyadhah atau lelaku untuk mencapai martabat tertinggi di dalam kebersamaan dengan Allah. Hal seperti ini tidak kita dapati dalam diri kita, sebab kebanyakan di antara kita lebih banyak beragama dengan olah pikir dan belum masuk ke dalam olah rasa. Kita masih beragama secara minimalis. Shalat minimalis, dzikir minimalis, pilantropi minimalis. Serba minimalis. Tetapi kita tetap bersyukur sebab tetap berada di dalam hidayah Allah. Betapa banyak orang yang tidak memdapatkan hidayah Allah. Jika di dunia terdapat sebanyak enam milyar manusia, yang beragama Islam hanya kira-kira satu milyar. Dan yang satu milyar juga belum optimal melakukan ajaran agamanya. Kita bersyukur setiap hari kita melakukan shalat lima kali, tiap pagi kita baca Alquran, kita tahsinan Alqur’an, dan amalan lainnya juga sudah kita amalkan.

Dengan setiap pagi kita membaca Surat Al Waqi’ah, maka kita berharap mendapatkan rejeki Allah baik yang berupa rejeki yang tangible maupun yang intangible. Rejeki yang berupa materi dan rejeki hidayah Allah untuk melakukan kebaikan, untuk bisa mengamalkan ajaran Allah SWT. Kita sudah membaca shalawat yang merupakan washilah antara kita dengan Allah. Bukankah Nabi Muhammad SAW adalah perantara terbaik di dalam dunia. Jika kita banyak membaca shalawat insyaallah kita akan bisa menjadi kekasih Rasulullah dan ujung akhirnya akan dikenal oleh Allah SWT.

Ketiga, ajaran tasawuf mengenal istilah tahalli, takhalli dan tajalli. Menghindari perbuatan jelek dan masuk kepada perbuatan yang baik dan kemudian dapat bertemu secara simbolik di dunia ini dengan Allah. Setidak-tidaknya kita sudah berada di dalam konteks mengamalkan ajaran Islam sesuai dengan kapasitas dan kekuatan kita. Tentu yang diharapkan adalah kemudian munculnya keridlaan Allah melalui washilah kita kepada Nabi Muhammad SAW.

Konsep olah raga diajarkan Islam sebagaimana maqalah “qalbun salim fi jismin salim” atau hati yang sehat dan selamat berada di dalam tubuh yang sehat. Kalau tubuh kita sehat, maka hati kita akan seharusnya penuh kesyukuran kepada Allah SWT. Kita tidak mengeluh karena sakit yang diderita. Islam mengajarkan agar kita bersyukur atas nikmat Allah. Seandainya kita menghitung nikmat Allah, maka kita tidak sanggup untuk menghitungnya.

Konsep olah pikir atau berusaha untuk terus menerus berpikir mengajarkan kita bahwa jangan sampai kita berada di ruang kosong. Jika kita tidak berpikir maka berarti pikiran kita hampa dan ini yang tidak diinginkan oleh Islam. Olah pikir bukan berarti semuanya dipikir atau terus menerus kepikiran akan tetapi olah pikir tersebut ditujukan untuk berpikir ciptaan Allah, dan mengakibatkan kita semakin bersyukur kepadanya. Islam selaras dengan kenyataan bahwa sakit maag terkadang disebabkan oleh factor berpikir yang tidak ada ujung selesainya dan factor fisik.

Olah rasa juga menjadi perhatian Islam. Ajaran Islam itu tidak hanya mengajarkan ajaran ibadah yang bercorak fisikal, seperri shalat, dan haji  tetapi juga ibadah yang memasuki ruang “rasa”. Di dalam dunia tasawuf disebut sebagai dzikir atau wirid. Misalnya Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah yang “mewajibkan” penganutnya untuk wirid sebanyak 165 kali setiap selesai shalat. Wirid seperti ini bagi pemula, dan jika sudah memasuki proses yang panjang maka seseorang bisa membaca wirid dalam ribuan jumlahnya.

Olah roh adalah kebiasaan tertinggi dalam dunia taasawuf yang disebut sebagai tajalli atau menyatunya secara simbolik antara Tuhan dan manusia. Kala seseorang sudah sampai maqam ini, maka sudah tidak ada “jarak” antara Tuhan dan manusia. Tentu saja bukan Tuhan dalam dzatnya yang masuk ke dalam diri seseorang atau roh manusia masuk ke dalam dzatnya Tuhan, akan tetapi menyatunya roh manusia dengan Rahman dan Rahim Tuhan. Yaitu roh manusia yang mendapatkan kerahiman dan kerahmatan Allah SWT.

Di dalam konteks ini, maka olah raga, olah pikir, olah rasa dan olah roh adalah sebuah gradasi. Badan digerakkan untuk menjaga agar badan menjadi sehat, lalu ke olah piker atau berpikir tentang ciptaan Tuhan, lalu memasuki alam rasa atau alam yang mencintai sesama manusia, mencintai Nabi Muhammad SAW dan berujung pada kecintaan kepada Allah SWT.

Dan yang terakhir setelah rasa menyatu dengan Nabi Muhammad SAW dan Allah SWT, maka akan terjadi puncak kehidupan yaitu olah ruh, di mana sudah tidak terdapat lagi hijab yang membatasi Allah dengan diri, yang hanya bisa dijelaskan oleh orang yang sudah memasuki alam tersebut.

Tidak semua orang bisa sampai tahapan ini, sebab riyadhahnya sangat berat dan mungkin kita tidak memiliki kapasitas untuk sampai ke sana.

Wallahu a’lam bi al shawab.

ENERGI KA’BAH ENERGI DUNIA

ENERGI KA’BAH ENERGI DUNIA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Meskipun tidak diikuti oleh jamaah yang membludak, akan tetapi Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) adalah acara mengaji yang berkualitas. Baik yang memberikan pengajian maupun peserta pengajiannya adalah orang-orang yang sangat terpelajar dan yang paling penting pengajian ini dilakukan dalam two way traffic atau pengajian interaktif. Para peserta pengajian bisa bertanya kapan saja tidak menunggu jeda atau selesainya session mengajinya.

Pada hari Selasa, 01/10/2024,  yang memberikan pengajian adalah Ustadz Sahid Sumitro, seorang  trainer SDM yang mumpuni di dalam pengembangan SDM, baik pada perusahaan, birokrasi dan aktivis LSM. Dan yang menarik bahwa tema yang dibahas adalah tentang energi Ka’bah, yang ternyata bisa menjadi energi alam atau energi dunia. Energi Ka’bah dipancarkan ke seluruh dunia atas kehendak Allah. Energi Ka’bah bisa menyasar siapa saja yang memiliki gelombang yang sama dengan gelombang energi Ka’bah dimaksud.

Akhir-akhir ini semakin banyak yang di masa lalu dianggap sebagai mu’jizat yang hanya dilakukan oleh para Nabi sebagai utusan Allah dan sepertinya tidak masuk akal, akan tetapi temuan akhir-akhir ini memberikan indikasi bahwa apa yang di masa lalu dianggap sebagai mu’jizat yang tidak masuk akal  ternyata ditemukan pembenarannya secara ilmiah. Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan, maka yang di masa lalu sebagai misteri sekarang bukan lagi misteri karena bisa ditemukan pembenarannya di dalam alam. Contohnya adalah tenggelamnya, Fir’aun di Laut, terbelahnya bulan di masa Kenabian Muhammad SAW, dan juga bukti tentang Ashabul Kahfi dan sebagainya.

Energi Ka’bah di masa lalu juga dianggap sebagai khayalan belaka. Energi Ka’bah bahkan diremehkan sebagai mengada-ada. Tidak masuk akal. Tetapi kala ditemukan mengenai energi khusus yang ternyata ada di dalam kehidupan dunia, maka  energi Ka’bah sungguh merupakan sesuatu yang nyata adanya. Ka’bah merupakan pusat energi yang didesain oleh Allah bagi seluruh umat manusia.

Semenjak ditemukan gelombang untuk memancarkan suara, seperti gelombang radio dan kemudian ditemukan gabungan suara dan gambar di televisi, maka gelombang di suatu wilayah akan dapat bertemu dengan gelombang dari wilayah lain, sehingga terjadilah kesamaan gelombang dan kemudian menghasilkan suara atau gambar atau keduanya.

Di masa lalu, orang hanya bisa menelpon melewati gelombang telepon, akan tetapi seirama dengan penemuan gelombang melalui sinyal hand phone, maka orang di mana saja akan bisa berkomunikasi. Selama ada signal dari gelombang yang dipancarkan melalui satelit, maka selama itu pula signal akan dapat dipertemukan, sehingga menghasilkan suara dan gambar atau keduanya sekaligus.

Begitu pulalah cara kerja di dalam energi Ka’bah. Energi Ka’bah dapat memancar melampaui tempat dan waktu, dan kemudian energi tersebut akan dapat bertemu dengan energi ibadah yang dilakukan oleh manusia. Ka’bah merupakan sumber energi positif, sehingga hanya akan bisa bertemu dengan energi positif. Dari sini kita bisa memahami mengapa kita harus bersuci kala membaca Kitab Suci Alqur’an. Sebagaimana kita ketahui bahwa Alqur’an yang tercetak adalah kumpulan wahyu Allah, sehingga diyakini mengandung unsur kesucian Tuhan. Jika kita akan memegang Alqur’an yang merupakan kumpulan wahyu Tuhan yang tercetak, maka akan menjadi lebih baik dalam keadaan suci. Yang suci hanya akan dapat bertemu dengan yang suci.

Di dunia ini ada dua energi, yaitu energi positif dan energi negative. Energi positif datang dari kekuatan positif, Nabi dan malaikat dan yang diridloi oleh Allah untuk memancarkan energi positif. Selain itu juga terdapat energi negative, yang datang dari iblis, dan makhluk yang menjadi sumber energi negative. Jika manusia adalah orang yang musyrik, kafir, munafik,  dan sebagainya. Oleh karena itu, manusia harus belajar mendekati energi positif agar mendapatkan kebaikan.

Ka’baitullah adalah satu kesatuan energi. Dari ka’bahlah energi positif untuk manusia dan alam akan tersebarkan. Jika ka’bah adalah energi positif yang terbuat dari bendawi atau fisikal, maka Nabi Muhammad SAW adalah energi positif yang bersifat kemanusiaan. Dua energi itu menyatu di dalam satu kesatuan untuk membangun energi positif bagi kehidupan duniawi dan kemanusiaan. Di dalam konteks arti yang luas, maka ummatan wahidatan adalah bermakna satu kesatuan energi, yang terpancar dari ka’bah dan menyatu dengan energi manusia yang terwujud dalam diri Nabi Muhammad SAW. Nabi sebagai teladan bisa saja dimaknai sebagai teladan dalam memancarkan energi positif bagi manusia.

Untuk menyambungkan energi positif dalam tubuh manusia, maka Allah menganjurkan agar umat Islam membaca shalawat. Bacaan shalawat: “Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala ali sayyidina Muhammad” merupakan sarana batiniah agar energi positif yang berada di dalam diri Muhammad SAW akan dapat terjaga dan dapat memancarkannya kepada umatnya. Orang yang membaca shalawat artinya adalah orang yang melestarikan energi positif Nabi Muhammad SAW. Allah memberikan otoritas bagi Nabi Muhammad SAW untuk memberikan syafaat kepada umatnya.

Energi positif ka’bah akan terus hadir, sementara energi positif Nabi Muhammad SAW juga akan terus hadir, maka makna shalat dan shalawat adalah poros bagi kontinuitas satu kesatuan umat yang dipastikan terjadi. Sekali lagi satu kesatuan dalam energi positif.

Wallahu a’lam bi al shawab.