• May 2026
    M T W T F S S
    « Apr    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

NIKMAT IMAN YANG TAK TERNILAI

NIKMAT IMAN YANG TAK TERNILAI

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Iman kepada Allah merupakan substansi di dalam ajaran Islam. Yang lain-lain merupakan konsekuensi atas keimanan kita kepada Allah dimaksud. Jadi, kalau orang sudah beriman kepada Allah lalu baginya terdapat kewajiban sebagai umat Islam yang harus dipenuhi. Sebagai substansi maka iman merupakan urusan batin atau hati manusia, tetapi berimplikasi atas lesan, pikiran dan tindakan. Iman merupakan inti dari semua tindakan di dalam beragama.

Manusia dapat hidup karena tiupan roh dari Allah. Artinya, bahwa di dalam diri manusia sesungguhnya terdapat esensi ketuhanan. Makanya di dalam diri manusia sesungguhnya terdapat kesamaan antara Roh manusia dengan esensi ketuhanan. Jadi manusia mestilah memiliki keyakinan akan keberadaan Tuhan. Ada gelombang yang sama antara manusia yang mendapatkan tiupan roh dari Allah dengan keberadaan Allah. Di dalam diri manusia terdapat gelombang ketuhanan.

Hanya saja, gelombang ketuhanan tersebut bisa tereduksi di dalam pengaruh kehidupan duniawi. Di dalam sebuah cerita tentang Malaikat Harut dan Marut yang diturunkan ke bumi dan dilengkapi dengan instrument kemanusiaan, maka kedua Malaikat tersebut lalu berlaku seperti manusia yang memiliki hawa nafsu. Dan akhirnya nafsu amarah atau nafsu biologisnya yang mengedepan dan menjadi malaikat yang terpenjara di dalam kekhilafan. Padahal semula adalah malaikat yang hanya memiliki kepatuhan dan ketundukan kepada Allah saja. Begitulah pengaruh dunia atas nafsu manusia. Meskipun manusia sudah pernah berjanji akan keberadaan Tuhan sewaktu di alam roh, akan tetapi kemudian berpaling dari kepercayaannya tersebut karena factor duniawii.

Allah melambangkan orang yang dipengaruhi harta sebagai Qarun, orang yang dipengaruhi oleh kekuasaan seperti Namrudz, atau orang yang dipengaruhi oleh pemahaman ashabiyah seperti Ibnu Muljam dan sebagainya. Jika Qarun dan Namrudz memang orang yang tidak percaya Tuhan Allah karena dua-duanya menciptakan Tuhannya sendiri, maka Ibnu Muljam adalah orang yang sangat mempercayai keberadaan Allah bahkan guru ilmu Alqur’an, namun akhirnya harus membunuh Sayyidina Allah Karramahullahu wajhah karena faksi politik yang terjadi kala itu.

Berdasarkan atas cerita ini, maka bisa dipahami bahwa ada iman yang tidak menyelamatkan, dan ada yang tidak beriman yang memang tidak terselamatkan. Orang beriman kepada Allah dengan segala atribut keimanan yang sudah dilakukannya, tetapi menjadi tidak selamat sebab terlalu mengagungkan pembenaran atas perilakunya sendiri. Truth claimed yang berlebihan memang bisa membahayakan diri sendiri dan orang lain.

Sebenarnya kita termasuk orang yang beruntung. Kita bisa mengaktualkan iman yang sudah kita perjanjikan dengan Allah. Kala kita hidup di dunia, maka kita beriman kepada Allah tanpa bertanya apakah dzat Allah itu, terdiri dari apa dzat Allah itu dan tidak bertanya bagaimana Allah itu menciptakan tata surya dengan segala kelengkapannya. Cukup bagi kita bahwa Allah itu Maha Kuasa, Allah itu Maha Mencipta, Allah itu Maha Tahu, Allah itu Maha Kasih Sayang  dan sejumlah sifat yang melekat atas kekuasannya. Yang  dibuktikan adalah produk di dalam tata surya dengan menggunakan perangkat teknologi telescope untuk mengamati tata surya dan segenap galaksi yang terdapat di dalamnya.

Mari kita bayangkan ada sekian banyak orang yang mendapatkan petunjuk melalui jalan berliku penuh dengan cobaan. Saya ingin mengambil contoh istrinya almarhum Adjie Massaid, Angelina Sondakh mantan Putri Indonesia, yang mendapatkan hidayah untuk masuk Islam. Begitu masuk Islam,  maka silih berganti cobaan dan penderitaan yang dialaminya. Suaminya tiba-tiba meninggal sewaktu main futsal, lalu tersandung kasus yang mengharuskannya mendekam di penjara dalam waktu yang sangat lama, 12 tahun, sementara anaknya masih kecil. Untungnya, Angelina ini berada di dalam keluarga yang memiliki pemahaman agama yang lentur meskipun keluarganya beragama Kristen. Begitu dahsyatnya cobaan yang dialaminya. Tidak terbayangkan bagaimana penderitannya tersebut. Dari seorang perempuan yang menjadi idola perempuan Indonesia karena kecantikannya, menjadi anggota DPR yang berwibawa,  lalu harus terjerembab di dalam kehinaan menjadi narapidana.

Namun keyakinannya akan agama Islam sama sekali tidak luntur. Di dalam penjara itu Anggi justru belajar agama, belajar mengaji Alqur’an dan melakukan ibadah sebagaimana yang diwajibkan di dalam Islam. Untuk menjadi muslim ternyata harus melalui jalan yang sangat berliku penuh tantangan dan tidak mudah untuk melampauinya. Tetapi hidayah tersebut sudah melekat di dalam jiwa dan batinnya sehingga tidak menggoyahkannya untuk kembali kepada keyakinan lamanya.

Inilah iman yang sangat misterius. Keyakinan akan adanya Tuhan yang sudah dilampaui manusia dalam kurun waktu 4.000 tahun sebelum masehi hingga sekarang. Iman yang menjadikan manusia melakukan kebaikan dengan semangat beribadah kepada Tuhan dan etos relasi social yang baik dengan sesama manusia dan juga etika atas pentingnya menjaga ekosistem alam yang baik dan membawa manfaat bagi kemanusiaan.

Kita ini orang yang tanpa berjuang sudah menjadi orang Islam. Kita menjadi muslim tanpa berjuang untuk menjadi muslim. Iman kita itu  given atau diberikan begitu saja oleh Tuhan  Allah kepada kita. Iman yang tidak dicapai by achievement. Iman yang dilalui dengan perjuangan yang sangat berat, tetapi iman yang kita dapatkan karena factor orang tua dan lingkungan kita.

Oleh karena itu sudah sepantasnya jika kita bersyukur kepada Allah yang telah memberikan iman itu kepada kita. Iman yang kita peroleh tanpa perjuangan. Kita sudah menjadi muslim bahkan sebelum lahir. Kala lahir sudah diadzani, diajari shalat kala usia enam tahun, belajar Alqur’an pada usia enam tahun dan bahkan bisa mengikuti Pendidikan agama di Pondok pesantren.  Alangkah nikmatnya kita ini telah menjadi muslim semenjak kita lahir, dan coba dibayangkan dengan orang yang di kala dewasa baru memperoleh hidayah dan melalui jalan yang sangat berliku.

Marilah iman yang sudah menjadi bagian di dalam hidup itu  kita pelihara, kita pertahankan dan kita tingkatkan kapasitasnya melalui berbagai macam cara untuk memelihara, mempertahankan dan meningkatkannya. Insyaallah kita adalah orang yang selamat karena keimanan kita kepada Allah SWT.

Wallahu a’lam bi al shawab.

JAGA IMAN KITA  BERTAMBAH  BUKAN BERKURANG

JAGA IMAN KITA  BERTAMBAH  BUKAN BERKURANG

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Sebagaimana yang sudah sering saya nyatakan bahwa iman merupakan keyakinan atas hal yang abstrak bahkan sangat abstrak karena terkait dengan kegaiban berbasis ajaran agama. Memang agama itu berisi tentang kegaiban, selain juga ada ajaran yang tidak berisi kegaiban. Bahkan ada kegaiban yang karena peran sains lalu menjadi hal yang  emprik. Saya sudah banyak menjelaskan tentang hal ini. Di antaranya tentang peristiwa mi’raj Nabi Muhammad SAW yang berdasarkan penjelasan antariksawan NASA bersesuaian dengan indikator-indikator di dalam Alqur’an.

Di dalam agama, Iman itu harus diyakini dan tidak boleh ada keraguan di dalamnya. Manusia diharuskan untuk meyakini hal-hal yang gaib, seperti keberadaan Allah yang Maha Gaib, Malaikat yang gaib, hari kiamat yang masih gaib, dan juga tentang Kitab Suci dan Rasul. Di dalam Surat Al Baqarah, dijelaskan “Alif lam Mim, dzalikal kitabu la raiba fihi hudal lil muttaqin. Alladzina yu’minuna bil ghaibi wa yuqimunash shalata wa mimma razaqnahum yunfiqun…”. Artinya: “alif lam mim, Kitab (Alqur’an ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan shalat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka”.

Islam mengajarkan kepada kita tentang keyakinan atas kegaiban, melakukan shalat dan menafkahkan rezeki yang didapatkannya. Jadi kalau kita mengaku sebagai orang Islam maka kita harus meyakini dunia kegaiban sebagaimana diajarkan oleh Islam, yaitu iman kepada Allah, malaikat, kitab suci, rasul, takdir dan hari kiyamat. Inilah substansi keimanan di dalam Islam. Tetapi yang paling mendasar adalah keyakinan tentang eksistensi Tuhan tetapi akan berimplikasi atas keyakinan pada  malaikat, rasul, kitab suci, takdir dan hari akhir. Saya menyatakan sebagai implikasi sebab keimanan atas yang lain itu adalah kepercayaan atas ciptaan Allah. Jadi iman yang substantif adalah iman kepada Allah. Jika kita sudah percaya kepada Allah, maka hal-hal lain diharuskan mengikutinya.

Iman itu dunia kegaiban yang posisinya di luar kebenaran empiris sensual dan kebenaran empiris rasional. Iman itu berada di luar kemampuan observasi dan rasio. Jadi kalau seseorang menggunakan keduanya dipastikan tidak akan menemukan kegaiban Tuhan. Dia akan jatuh ke dalam atheisme atau gnotisisme. Meskipun kita tidak mampu membuktikan iman kita kepada Allah dengan berbagai perangkat yang ada di dalam diri kita, tetapi kita sudah mempercayainya. Kita bersyukur bahwa meskipun kita tidak tergolong dalam golongan orang khusus, misalnya para sahabat, tabiin dan tabiit-tabiin termasuk pada waliyullah, akan tetapi karena factor lingkungan maka kita menjadi orang Islam yang percaya secara penuh atas keberadaan Allah.

Manusia tidak memiliki perangkat yang memadai untuk membuktikan atas keberadaan Tuhan. Kita tidak bisa masuk ke dalam dunia kegaiban. Jangankan membuktikan keberadaan Allah,  untuk membuktikan ciptaan Allah seperti makhluk Jin saja kita tidak mampu. Memang ada orang yang bisa memasuki alam Jin dan ini bisa dipelajari, akan tetapi  hanya orang khusus yang bisa melakukannya dan berhasil. Ada orang yang bisa melihat kegaiban dunia jin dan seperti riil adanya.

Iman adalah dunia gaib, maka juga pantas jika manusia sebagai makhluk fisikal lalu terkadang mempertanyakan tentang keimanan itu. Ada yang bertanya dan kemudian kebablas bahkan keluar dari jalur keimanan dan berakhir dengan gnostik atau atheis dan murtad dari ajaran agama.   Mereka orang yang kritis terhadap ajaran agama, khususnya dalam dimensi keyakinan kepada Tuhan dan kemudian terus mencari identitas keyakinannya namun demikian justru tidak ditemukannya. Ada  orang yang semula sangat religious tetapi karena belajar tentang Marxisme, sosialisme dan komunisme lalu berakhir dengan sikap atheism. D.N. Aidit, tokoh PKI adalah seorang santri dari Sumatera Barat, tetapi karena terlibat dalam proyek komunisme internasional, maka berubah pemikirannya menjadi komunis yang atheis.  Jadi seseorang bisa berkurang atau berubah keimanannya  karena factor pembelajaran atau bacaan atas apa yang dikajinya atau kebiasaan yang kemudian akhirnya menjadi ideologi. Jika demikian, maka akhirnya iman akan berkurang bahkan berubah.

Iman juga dapat bertambah artinya perasaan, hati dan pikiran kita semakin meyakini akan keberadaan Allah. Di dalam hal ini iman dapat bertambah jika memang ada stimulus yang menjadi motif penyebabnya. Ada kalanya bacaan dapat memperkuat iman kita. Kalau kita membaca di Youtube tentang kejadian-kejadian di dalam tata surya atas hasil kajian para scientis, maka kita akan merasakan bahwa alam itu sedemikian rumitnya tetapi ada kekuatan yang mengaturnya. Semua berada dalam garis edarnya dan tidak terjadi tabrakan antar galaksi di dalam tata surya kita.

Kiamat itu diprediksi akan terjadi jika tata surya sudah tidak lagi beredar dalam garis edarnya sehingga antara satu dengan lainnya bertabrakan dan menjadikan  tata surya mengalami kerusakan. Alqur’an sudah menjelaskan banyak hal di dalam Juz 30 di dalam Alqur’an. Misalnya Surat Al Zalzalah, Surat Al Qira’ah, Surat al Insyiqaq dan sebagainya. Surat-surat di dalam juz 30 ini merupakan tandzir atau peringatan bagi manusia bahwa hari akhir itu ada dan harus dipercayai dan hal ini sesuai dengan penelitian di bidang sains.

Oleh karena itu marilah kita jaga iman kita agar iman terus berada di dalam diri kita. Jangan sampai yang sudah tertanam di dalam lubuk bertahun-tahun kemudian terpengaruh oleh factor dari luar diri kita apapun factor tersebut. Bisa factor bacaan, factor perkawanan, factor pernikahan dan sebagainya. Kita jaga sepenuh jiwa dan raga, agar iman tetap bersemayam di dalam diri kita.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

 

 

MENJAGA IMAN ITU PENTING

MENJAGA IMAN ITU PENTING

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Sesungguhnya ada banyak doa yang kita panjatkan kepada Allah SWT agar iman kita selalu terjaga. Di antara doa tersebut diungkapkan dalam pernyataan: “tsabbit imanana, imanan shadiqan, dan imanan kamilan dan lain-lain. Prinsipnya bahwa kita memerlukan keteguhan iman agar sebagai penganut agama maka kita bisa  selamat fid dini, waddunya wal akhirah. Doa di dalam Islam sangatlah penting. Saya menyatakan ada trilogy kehidupan yang sangat mendasar yaitu “usaha, doa dan tawakkal”.

Iman merupakan konsep yang abstrak karena menyangkut kegaiban di dalam agama. Tidak ada peluang orang membuktikan tentang keimanan sebagaimana ilmu pengetahuan, yang empiris logis, dan empiris rasional. Tidak ada peluang sama sekali, karena Tuhan itu bukan suatu dzat yang bersifat bendawi. Allah merupakan kegaiban di dalam agama yang harus diyakini keberadaannya. Orang hanya percaya atau tidak. Jika percaya maka akan berlaku hukum dalam kaitannya dengan kepercayaannya itu. Misalnya harus menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya, kapan dan di mana saja. Selama yang bersangkutan sudah mukallaf  atau dapat dikenai hukum Islam, maka yang bersangkutan harus menjalankan agamanya berbasis pada keyakinannya tersebut.

Memang berdasarkan atas temuan-temuan tentang tata surya  yang sedemikian rumit tetapi teratur, dan juga penciptaan manusia yang rumit tetapi teratur dan berbagai berita di dalam Alqur’an yang akhirnya dapat dibuktikan secara empiris, misalnya penemuan garam di dalam mulut Fir’aun yang menandai kebenaran ayat Alqur’an atau bulan terbelah di dalam mu’jizat Nabi Muhammad SAW dan bukti bahwa Bulan memang memiliki tanda pernah terbelah, maka keyakinan akan keberadaan Tuhan itu semakin nyata. Benarlah ungkapan Allah SWT bahwa manusia dimintanya untuk memikirkan dengan ilmu tentang ayat-ayat keberadaan Allah dan bukan berpikir tentang dzat Allah. Tafakkaru fi khalqillah wa la tafakkaru fi dzatillah. Berpikirlah akan ciptaan Allah dan jangan berpikir tentang dzat Allah.

Dzat Allah merupakan kegaiban kubra yang akal manusia tidak akan mampu untuk menjangkaunya. Wa ma utitum minal ilmi illa qalila. Yang artinya kurang lebih: “dan tidak diberi ilmu kepadamu kecuali sedikit.”  Tetapi manusia sudah sampai untuk membuktikan tentang big bang, lobang hitam, batas langit yang tak bertepi dan sebagainya dengan menggunakan teropong Hubble. Dan melalui penglihatan jarak yang sangat jauh tersebut, maka manusia sampai pada kesimpulan bahwa tata surya dan segenap kerumitan dan keteraturannya hanya diciptakan oleh Akal Sempurna atau Akal Agung yang Maha Agung. Dan itulah yang kemudian diyakini sebagai Allah SWT dengan segala atribut yang melekat pada kekuasaan yang Maha Besar atau Omnipotence dan yang Maha Tahu atau Omniscience.

Iman akan dapat berkurang  bahkan hilang jika tidak dirawat dengan baik. Untuk merawat iman, maka ada tiga hal yang harus dilakukan oleh yang mempercayainya. Pertama, berusaha untuk merawatnya dengan melakukan perbuatan baik yang diwajibkan oleh Islam. Agama Islam itu momot dengan amalan-amalan yang berbasis pada value Islam. Islam mengajarkan agar manusia melakukan relasi dengan Tuhan melalui ritual-ritual yang diwajibkan atau disunnahkan. Yang wajib seperti syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji bagi yang mampu. Semua ibadah adalah puncak relasi dengan Allah melalui skema ajaran yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW. Bahkan dalam beberapa hal, ibadah itu akan mendapatkan pengesahan jika melalui washilah kepada Nabi Muhammad SAW. Umat Islam Indonesia di dalam kebanyakan melakukannya melalui washilah kepada Nabi Muhammad SAW atau para ulama yang memiliki kedekatan kepada Allah SWT. Manusia juga harus membangun relasi yang baik dengan sesama manusia. Allah mengabarkan bahwa ibadah yang sebenarnya dapat dilakukan sendiri, akan tetapi jika dilakukan dengan berjamaah, maka pahalanya akan berlipat ganda. Allah menyatakan bahwa manusia yang kaffah adalah manusia yang dapat menjalankan agamanya secara utuh sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad SAW. Akan tetapi karena kita tidak semasa dengan Nabi Muhammad SAW maka kita beribadah sesuai dengan tafsir para ulama yang tidak diragukan kapasitasnya sebagai ahli tafsir dalam bidang Alqur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW, yang menghasilkan ilmu fiqih yang menjadi basis bagi pelaksanaan ibadah mahdhah maupun ghairu mahdhah.

Kedua, berusaha untuk berada di dalam lingkungan yang baik. Baik lingkungan keluarga maupun lingkungan social harus kondusif untuk menjaga iman kepada Allah SWT. Lingkungan memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan manusia. Di dalam syair lagu Jawa sebagaimana dinyanyikan oleh Cak Nun, maka terdapat ungkapan: “wong kang shaleh kumpulono”. Orang yang berperilaku shaleh harus menjadi sahabat kita dan kita bisa  berada di dalam lingkungan orang saleh tersebut. Nabi Muhammad SAW juga menyatakan: anta ma’a man ahbabta”. Yang artinya: “kamu bersama orang yang kamu cintai”. Berbahagialah seseorang yang berada di dalam lingkungan Islami, sehingga kita dapat  menjaga iman kita kepada Allah SWT. Seorang anak yang dididik dalam lingkungan yang penuh kasih sayang, maka anak akan tumbuh dengan kasih sayang. Anak yang didik dalam cacian, maka juga akan belajar untuk melakukan caci maki. Anak yang berada di dalam lingkungan kekerasan juga akan cenderung melakukan kekerasan.

Ketiga, hendaknya terus berdoa agar Allah menjaga iman kita. Kita perlu bersandar kepada Allah agar iman kita itu dijaganya. Jika Allah melepas iman dan menghilangkan iman itu dari dalam diri kita, maka akan hilanglah iman kita. Ada banyak orang yang semula beriman tetapi kemudian menjadi murtad atau ada banyak orang yang sebelumnya bukan beragama Islam tetapi kemudian menjadi muallaf. Kita bersyukur kepada Allah SWT karena iman yang diberikan Allah kepada kita. Dan yang lebih penting adalah Allah tetap menjaganya. Kita terus berdoa kepada Allah agar iman kita selalu terjaga di mana dan kapan saja.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

BERAGAMA SECARA ISTIQAMAH

BERAGAMA SECARA ISTIQAMAH

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Dalam khazanah Bahasa Indonesia, istiqamah adalah konsisten. Yaitu perilaku yang dilakukan secara terus menerus dengan kesadaran sepenuhnya. Bukan perilaku yang dilakukan sekali dua kali tetapi secara terus menerus dengan melibatkan pikiran, hati atau kesadaran yang tinggi untuk melakukannya. Konsistensi akan terjadi jika pelaku telah memiliki sejumlah referensi akan berartinya tindakan tersebut bagi dirinya.

Seseorang yang merasakan arti atau makna kesehatan, maka akan melakukan olah raga rutin. Bagi orang tua yang setiap hari melakukan kegiatan jalan kaki terutama pagi hari, karena merasakan betapa manfaat gerak jalan ini. Sama halnya dengan orang yang melakukan olah raga badminton, tennis meja, bola voli atau sepakbola maka yang bersangkutan dipastikan akan melakukannya tanpa diminta atau disuruh. Dia telah memiliki kesadaran untuk melakukannya secara rutin.

Baragama merupakan dimensi kehidupan yang bercorak keyakinan atau dimensi keyakinan atas adanya Tuhan Allah dan berimplikasi atas berbagai tindakan ritual yang dilakukannya. Orang yang mempercayai keberadaan Allah dengan keyakinan yang kuat dan dipandu oleh seperangkat pengetahuan yang sangat tinggi tentu akan melakukan kegiatan atau aktivitas yang sesuai dengan keyakinannya tersebut.

Kita melakukan shalat secara rutin. Shalat rawatib yang kita lakukan lima kali sehari sungguh merupakan tindakan berkesadaran yang dilakukan oleh orang yang sangat meyakini bahwa Allah adalah suatu wujud adi kodrati yang menciptakan dan menguasai atas seluruh jagad raya dengan berbagai planet atau  tata surya yang berjalan secara rapi dan teratur. Konsekuensi atas keyakinannya tersebut maka ajaran agama dilakukannya dengan konsisten tiada henti. Terus menerus dilakukannya sebagai perwujudan atas keyakinannya dimaksud.

Berbagai penelitian para ahli di bidang sains, maka keyakinan akan adanya “Pikiran Agung” yang menciptakan alam semesta menjadi semakin kuat. Tidak ada kemungkinan bahwa alam dengan tata suryanya yang teratur, rapi dan berjalan sesuai dengan jalurnya itu berasal dari tiada dan tiada yang menciptakannya. Hipotesis tentang keberadaan Tuhan semakin meyakinkan. Kebenaran eksistensi Tuhan semakin meyakinkan bagi manusia yang menyadarinya.

Jika keberadaan Tuhan semakin diyakini, maka konsekuensinya adalah dengan melakukan apa yang dikehendaki oleh Tuhan sebagaimana tercantum di dalam firmannya. Kalam Tuhan tersebut di dalam Islam berada di dalam Kitab Suci Alqur’an sebagaimana yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW. Dari keyakinan kemudian menumbuhkan peribadahan dengan berbagai ekspresinya. Sebagaimana pemikiran Durkheim, bahwa agama itu mencakup tiga hal yaitu believe, ritual and expression.

Kala kita melakukan ritual beragama, maka sesungguhnya kita itu memenuhi kebutuhan akan ketuhanan. Banyak ahli psikhologi yang menyatakan bahwa manusia memiliki kebutuhan akan ketuhanan. Hampir semua manusia memiliki kebutuhan ini, hanya saja ada yang dinyatakannya dan ada yang diingkarinya. Orang atheis atau gnostic tentu mengingkari akan kebutuhan ini, sebab sedemikian dominannya ratio yang tidak mempercayainya. Tetapi kebanyakan orang justru meyakini keberadaan Tuhan, sehingga kemudian menjalankan ajaran agama sebagaimana yang dilakukan oleh para ulama salafus salih yang melakukannya.

Jika dipikir untuk apa orang melakukan puasa dengan tidak makan di siang hari dan hanya boleh makan pada malam hari. Ternyata dunia kesehatan membenarkannya, bahwa puasa menjadi instrument untuk menjadi semakin sehat. Sisa-sisa makanan, misalnya lemak dan lain-lain di dalam tubuh akan di manfaatkan di kala tubuh tidak menyerap makanan yang biasa dimakan. Makanya puasa dapat menjadi instrument untuk menjadikan diri semakin sehat. Shumu tasihhu. Berpuasalah agar sehat. Begitulah sabda Nabi Muhammad SAW.

Sebagai manusia tentu saja akan selalu menimbang akan manfaat. Tentu saja termasuk kala menjalankan ibadah juga akan dilakukan atas manfaat yang dirasakannya. Sebuah studi yang dilakukan oleh Prof. Dr. Moh. Sholeh dan Dr. Siti Nur Asiyah telah membuktikan bahwa shalat malam ternyata bermanfaat untuk kekebalan tubuh. Pada suatu ketika, Prof. Dr. Dede Rosyada menyatakan pada saya bahwa ada kawannya dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang akan operasi kanker otak. Lalu oleh Prof. Dede disarankan untuk shalat tahajjud dengan sujud dalam waktu yang sangat lama. Hal itu sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh peneliti dari UI Jakarta yang diujinya, dan ternyata dalam waktu tertentu dosen UIN Jakarta tersebut sembuh dan tidak meneruskan operasi. Inilah yang saya nyatakan bahwa di dalam beribadah, maka manusia juga tidak lepas dari fungsi ibadah bagi dirinya.

Oleh karena itu, apa yang dinyatakan oleh Nabi Muhammad SAW: “qul amantu billahu tsummastaqim”, yang artinya kurang lebih adalah: “katakan aku beriman kepada Allah dan akan beristiqamah”. Jika kita tarik relasi antara fungsi agama, ekspresi agama dan istiqamah, maka akan didapatkan suatu pemahaman bahwa: “setiap ekspresi keagamaan yang berbasis pada fungsi agama bagi dirinya, maka akan menjadi dasar akan tindakan yang konsisten di dalam mengamalkan ajaran agama”.

Kita bangun jam 02.30 atau jam 03.00 Wib lalu mengambil wudlu lalu melakukan shalat sunnah dalam rakaat tertentu, lalu kita melakukan dzikir atau wirid sebagaimana yang diajarkan oleh guru-guru kita dan hal tersebut menjadikan hati semakin tenang, merasa diri lebih tenteram dan membuat kehidupan lebih nyaman, maka hal tersebut akan menjadi basis bagi keistiqamahan  di dalam ibadah malam.

Jika demikian halnya, maka beragama bukan menjadi kewajiban akan tetapi menjadi kebutuhan. Jika kewajiban itu memberatkan kehidupan tetapi jika menjadi kebutuhan akan menjadi solusi untuk kehidupan. Tindakan istiqamah dalam beragama akan terjadi jika agama sudah memasuki alam kebutuhan.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

BERAGAMA DENGAN HAPPY

BERAGAMA DENGAN HAPPY

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Sebagaimana penugasan yang diberikan oleh Ta’mir Masjid Al Ihsan dalam bulan Ramadlan 1445 H., maka saya pada Hari Senin, 18 Maret 2024, saya memberikan ceramah agama pada jamaah shalat tarawih yang rutin hadir di masjid ini. Memang setiap malam dilakukan ceramah agama yang disebut Kultum, meskipun di dalam pelaksanaannya bisa mencapai 15 menit bahkan 20 menit. Kata kultum hanya untuk menegaskan bahwa ada kegiatan penambahan wawasan keislaman pada jamaah shalat tarawih.

Saya mengantarkan materi yang saya kira relevan untuk menjadi bahan perbincangan, yaitu” “beragama secara happy”, beragama yang tidak memberatkan karena sudah memahami bahwa beragama itu bukan paksaan tetapi kebutuhan. Untuk pertama kali agar kita bisa istiqamah memang harus dipaksa, sebab tanpa paksaan tentu kita tidak bisa bergerak untuk melakukannya. Melalui paksaan pada tahap awal maka kemudian akan terjadi pembiasaan. Saya menyampaikan tiga hal, yaitu:

Pertama, marilah kita bersyukur kepada Allah karena nikmat kesehatan yang diberikan sehingga kita dapat melaksanakan salah satu rukun Islam, puasa, dan juga melakukan kesunahan yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW, misalnya shalat tarawih, shalat witir dan sebagainya. Bulan puasa ini bulan yang sangat istimewa, oleh karena itu kita juga memperlakukannya dengan istimewa. Banyak berdoa kepada Allah agar doa dapat  diijabi oleh Allah. Saya suka  doa yang biasanya saya baca setelah salam. Doa pendek yang menurut saya luar biasa. “Allahumma inna nasalukal jannata wal afwa ‘indal hisab”. Artinya kurang lebih “Ya Allah  kami memohon kepada-Mu surga dan ampunan kala datangnya hisab”. Jadi kita memohon kepada Allah agar menjadi ahli surga dan yang penting mendapat afwun atau ampunan yang sangat tinggi. Sebab afwun itu ampunan yang sekaligus menghapus catatan dosanya. Diampuni dosanya dan dibuang catatannya. Jika maghfirah itu diampuni dosanya tetapi catatannya masih ada. Tetapi yang jelas bahwa mendapatkan maghfiroh Allah saja sudah sangat luar biasa. Puasa yang kita lakukan ini akan menjadi instrument untuk mendapatkan maghfirah. “Awwaluhu rahmah, wa ausatuha maghfirah wa akhiruhu itqun minan nar”. Awalnya kasih sayang, tengahnya ampunan dan akhirnya dijauhkan dari api neraka”.

Kedua, mari kita beragama dengan hepi, dengan senang, dengan gembira. Ada lagunya Jamal Mirdad yang berjudul “Yang Penting Heppi”. Ya kita mesti beragama dengan hepi. Janganlah beragama dengan ketakutan berlebihan, sebab jika ini yang terjadi kita akan terkena dampak psikhologis atas ketakutan tersebut. Juga jangan beragama dengan kekerasan, sebab hal tersebut akan menakutkan orang lain. Orang yang semestinya akan menjadi Islam takut karena agama kita  penuh kekerasan. Jadikan beragama itu membahagiakan diri kita dan orang lain. Kita dan orang lain merasa nyaman dalam beragama. Kita dan orang lain merasa diayomi oleh agama kita. Pokoknya beragama membuat kemanusiaan kita semakin baik, kehidupan kita semakin baik dan hubungan dengan Allah dan sesama manusia juga semakin baik.

Ketiga,  Untuk menggapai beragama yang hepi tersebut maka ada empat hal  yang harus diperhatikan, yaitu: 1) kita selalu berhusnudz dzan kepada Allah. Jangan ada sedikitpun perasaan suudz dzan kepada Allah. Berbaik sangka kepada Allah itu awal dari beragama secara hepi. Tidak ada yang melebihi kebaikan Allah, tidak ada yang melebihi kasih sayang Allah, tidak ada yang melebihi kekuasaan dan kekuatan Allah. Bagi saya puncak sifat Allah itu adalah Rahman dan Rahim. Allah maha Rahman dan Maha Rahim.  Itu  yang harus terus dipompakan di dalam diri kita, sehingga akan terbentuk rasa berbaik sangka kepada Allah. Allah pasti akan mengampuni kita, Allah pasti akan memafkan kita dan Allah pasti akan memberikan rahmatnya untuk kita sebagai umat Muhammad SAW.

Lalu 2),  berdoa kepada Allah SWT. Jangan lelah berdoa. Kita diperintahkan untuk berdoa kepada-Nya. Ud’uni astajib lakum, berdoalah kepadaku yang pasti akan mengabulkan doa kalian. Kita harus banyak meminta bukan meminta yang banyak. Banyak meminta artinya banyak berdoa, sedangkan meminta yang banyak itu dalam jumlah yang diminta. Jangan bersuudz dzan bahwa doa  tidak dikabulkan oleh Allah. Ada yang langsung dikabulkan. Ini doanya para Nabi dan para waliyullah sebagai orang yang sangat dekat dengan Allah. Nabi Muhammad SAW kala diminta membelah bulan oleh orang Quraisy, maka Beliau berdoa kepada  Allah dan terbelahlah Bulan. Itupun masih dinyatakan sebagai sihir oleh orang Quraisy. Tetapi ada doa yang dikabulkan Allah pada waktu lain bahkan ada doa  yang dikabulkan Allah pada saat kita sudah wafat atau bahkan kala sudah memasuki alam akherat. Maka jangan berputus asa dan jangan suudz dzan kepada Allah SWT.

Kemudian 3), berusaha yang sungguh-sungguh. Kita mengenal ada dua takdir, yaitu takdir mubram atau takdir yang pasti dan tidak bisa berubah. Sementara itu ada takdir muallaq atau takdir tergantung. Seperti cerita Mas Alief kemarin sore, bahwa ada ulama yang sudah tahu takdirnya itu saqiyyun atau sengsara dan bukan sa’idun atau untung. Kala santrinya tahu hal ini maka kemudian dijelaskan oleh gurunya bahwa takdirnya memang sengsara akan tetapi ulama tersebut terus berdoa dan berusaha, dalam waktu 40 tahun maka takdir muallaq tersebut berubah dari saqiyyun ke saidun bahkan ada tulisan di dahinya tiga kali kata sa’idun.

Yang 4), adalah pasrah kepada Allah atau tawakkal kepada Allah, sebab Allah yang menentukan atas apa yang ada di dalam diri kita. Terus berusaha dan terus berusaha jangan pernah lelah dan terus berdoa dan berdoa. Sekali lagi  jangan pernah lelah, dan akhirnya serahkan hasilnya kepada Allah SWT. Biar Allahlah yang akan menentukan yang terbaik untuk kita. Kita baru tahu kala sesuatu sudah terjadi dan lalu kita menyatakan: “ternyata ada hikmahnya”.

Semua ini akan terjadi jika kita selalu  berhusnudz dzan kepada Allah. Melalui husnudz dzan tersebut maka apa yang kita lakukan akan membawa kepada kebahagiaan, membawa kepada rasa hepi. Jadi sudah saatnya kita beragama dengan hepi.

Wallahu a’lam bi al shawab.