• November 2026
    M T W T F S S
    « Oct    
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    30  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

MENILAI ULANG MEDIA KOMUNIKASI

 

Manusia memang sungguh-sungguh makhluk sosial. Jika sehari saja tidak berkomunikasi dengan sesamanya kira-kira ada sesuatu yang hilang. Sebagai makhluk sosial maka manusia pastilah hidup berkelompok dalam komunitas kecil atau besar. Oleh karena itu, jika manusia memiliki keinginan untuk selalu berkomunikasi maka hal itu  merupakan sesuatu yang sangat wajar. Berkomunikasi adalah proses yang sangat manusiawi  dan merupakan ciri khas manusia. Untuk memiliki kemampuan berkomunikasi, manusia harus mengalami proses enculturasi. Proses belajar mulai kecil. Artinya, seseorang akan sangat tergantung kepada lingkungannya. Jika ia berada di dalam lingkungan yang baik maka besar kemungkinannya dia akan menjadi baik dan sebaliknya. (more..)

KESEJAHTERAAN DAN PROFESIONALISME GURU

 

Semuanya menjadi gembira dengan perubahan status guru sebagai profesi. Sehingga seorang guru akan sama profesinya dengan  dokter, insinyur, advokat, notaris dan sebagainya. Perubahan status profesi tidak sekedar perubahan nama akan tetapi juga perubahan pada sistem pekerjaan dan tanggung jawab. Undang-Undang Guru dan Dosen No 14 tahun 2005 diharapkan mampu menjawab tuntutan profesi guru di tengah arus kompetisi yang semakin kuat.

Sebagai ukurannya, seseorang disebut profesional jika memiliki pengetahuan (knowledge), sikap (attitude) dan keahlian (skill) atau bisa disingkat PSK dalam bidang pekerjaan yang digelutinya. Jadi seorang guru akan dianggap profesional jika memiliki moralitas seorang pendidik yang bertanggungjawab bagi keseluruhan proses transformasi pengetahuan, sikap dan skill kepada murid dalam posisi keseimbangan. (more..)

GURU DI ERA KONSUMERISME

 

Guru sebagai kerotoboso berasal dari kata digugu lan ditiru. Artinya adalah orang yang dipatuhi dan dijadikan contoh. Makanya dalam status sosial guru menempati hirarkhi yang sangat tinggi. Bahkan di Madura, seorang guru berada di bawah status Bapak, Ibu, Guru dan raja. Ungkapan emic viewnya adalah baba, bubu, guru, rato. Di Jawa seorang guru juga menempati status tinggi. Ungkapan digugu lan ditiru merupakan ungkapan yang memberikan gambaran tentang posisi guru dalam kehidupan masyarakat. (more..)

GURU DAN KEMISKINAN

 

Benarkan guru masih miskin? Pertanyaan ini layak dikemukakan terkait dengan laporan di Harian Surya tentang seorang guru yang tewas bunuh diri di sekolah. Adalah Sri Cahyono Effendi, 58 tahun, seorang guru di SDN Bangunrejo I, Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban yang ditemukan sudah tidak bernyawa dengan leher menggantung di kantin sekolah sekitar pukul 6.30 WIB. Ketika jasadnya ditemukan yang bersangkutan masih berseragam dinas guru lengkap. Berdasarkan pantauan Suara Karya (04/09/09) bahwa ada dugaan faktor ekonomi sebagai penyebab kematiannya. Dia memang menjadi tumpuan kehidupan tiga keluarga sehingga gajinya selalu habis setiap bulan. Sementara itu anak-anaknya juga belum ada yang bekerja. Lantaran tidak kuat menahan beban ekonomi keluarga tersebut maka Pak Guru nekad mengakhiri hidupnya. Bahkan sebelum meninggal, dia sempat akan meminjam uang di koperasi tetapi belum dikabulkan lantaran gajinya sudah tidak tersisa. (more..)

MENGUKUR BUDAYA AKADEMIK

 

Sekarang kita sedang hidup di era kompetisi. Artinya, mau tidak mau, suka atau tidak suka kita memang harus menyiapkan diri secara maksimal jika kita ingin terus survive di dalam menghadapi tekanan struktural dan kultural yang terus menghimpit. Tekanan struktural tersebut bersumber dari hubungan pusat dan pinggiran, negara kaya dengan negara berkembang, antara pemilik modal dan tenaga kerja dan antara negara dan rakyat. Meskipun secara politis, rakyat telah memiliki kekuatan untuk melakukan tekanan kepada negara, namun tetap saja posisinya belum sebagaimana yang diharapkan. Sebagai contoh, di mana-mana rakyat masih menderita sebagai akibat perilaku politik dan sosial para elitnya yang tidak memberikan ruang gerak bagi penumbuhan ekualitas. Di dalam dunia pendidikan pun juga terdapat kesenjangan yang cukup lebar, antara si kaya dengan si miskin terutama dalam hal akses pendidikan. (more..)