Jika selama ini ada anggapan hanya wilayah perkotaan sebagai wajah depan Indonesia, maka sekarang harus diubah bahwa yang menjadi wajah depan Indonesia adalah wilayah perbatasan. Jadi Kalimantan Barat, Aceh, Sumatera Utara, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur, Papua adalah wajah depan Indonesia. Seperti diketahui bahwa Kalimantan Barat bersebelahan dengan Malaysia, Aceh berbatasan dengan Singapura, Sulawesi Utara berbatasan dengan Filipina, Nusa Tenggara Barat berbatasan dengan Timor Timur dan Papua berbatasan dengan Papua Nugini. Jika di wilayah timur mungkin saja kondisinya masih hampir sama, artinya masih sama sebagai daerah yang berkembang, maka untuk Kalimantan Barat dan Aceh berdampingan dengan negara yang relatif lebih maju yaitu Singapura dan Malaysia. (more..)
Selama ini orientasi pengembangan fisik banyak ditujukan kepada wilayah perkotaan. Coba kalau kita amati maka yang berkembang luar biasa adalah daerah perkotaan terutama di Jawa. Jakarta sebagai ibukota negara berkembang luar biasa. Demikian pula ibukota propinsi juga berkembang pesat. Seperti Surabaya, Semarang, Jogjakarta, Bandung untuk Jawa, kemudian Ujungpandang, Balikpapan, Palembang dan sebagainya juga berkembang relatif cepat. Alasan yang digunakan adalah ibukota negara atau propinsi adalah wajah Indonesia. Kemajuan Indonesia dari sisi fisik adalah terletak di wilayah ibukota tersebut. (more..)
Beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 30 Agustus 2009 saya diwawancarai Radio El Shinta tentang relasi Indonesia Malaysia yang sekarang lagi menghangat. Problem yang mendasar adalah tentang klaim yang dilakukan oleh Malaysia mengenai tari Pendet dan juga batik yang dijadikan sebagai ikon wisata Malaysia. Jauh sebelumnya kesenian Reog yang selama ini melekat dengan kota Ponorogo juga diklaim oleh Malaysia sebagai salah satu budaya Malaysia. Dalam wawancara itu, ada yang berpikir agar menggemakan kembali “Ganyang Malaysia” seperti yang di tahun enam puluhan diserukan oleh Presiden Soekarno ketika negeri ini berkonfrontasi dengan Malaysia. (more..)
Peningkatan kualitas dosen tidak saja menjadi tugas Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) akan tetapi juga menjadi tanggung jawab Departemen Agama (Depag). Hal tersebut dikarenakan Depag juga memiliki sejumlah lembaga pendidikan tinggi yang dikenal dengan sebutan Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI), baik yang negeri maupun yang swasta, PTAIN dan PTAIS. (more..)
Seharusnya setiap dosen memiliki kemampuan metodologis yang memadai di dalam bidang keilmuannya. Ungkapan ini tentu bukan mengada-ada, sebab dosen hakikatnya bukan hanya sekedar menjadi pengajar tetapi sekaligus juga seorang peneliti. Di dalam konsepsi Tri Dharma Pendidikan Tinggi maka darma pendidikan tinggi tersebut adalah pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat. Dengan demikian, dosen adalah pengajar atau pendidik, sekaligus peneliti dan pengabdi masyarakat. (more..)