Melihat halaman depan Jawa Pos, 14/08/09/, rasanya menjadi sedih. Bagaimana tidak pemakaman jenazah yang dinyatakan sebagai teroris ternyata dihadiri oleh Ustaz Abu Bakar Baasyir dan jamaahnya yang begitu banyak. Ini sebuah pemandangan yang ironis di tengah keinginan bangsa dan masyarakat Indonesia yang menginginkan agar terorisme dibabat tuntas. Sungguh banyak hal yang ironis dari warga masyarakat Indonesia. Ada paradoks-paradoks yang menyelimuti kehidupan bangsa ini.
(more..)
Ketika penyiar Televisi atau tulisan di koran menyebut Noordin M Top secara lengkap, yaitu Noordin Mohammad Top, maka hati saya protes. Apakah pantas orang yang melakukan kekerasan sosial dengan bom dan membunuh orang yang tanpa dosa atau tidak tahu apa-apa tentang politik itu dapat diberikan sebutan Mohammad. Protes saya disebabkan oleh penyandang nama Mohammad seharusnya menjadi teladan manusia lainnya dalam ucapan, sikap dan tindakannya. Nama Kanjeng Nabi Mohammad saw terlalu suci untuk dinisbahkan dengan Noordin. Makanya lebih baik saya sebut Noordin Manusia Top saja.
(more..)
Pernyataan Duta Besar Malaysia, Dato Zainal Abidin Zain di Kantor Wakil Presiden, 11/08/09 menarik untuk disimak. Beliau menyatakan: “tidak benar banyak orang Malaysia yang menjadi teroris di sini. Mungkin anda lupa, yang mengajar mereka ini Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Baasyir. Mereka orang mana? Lebih lanjut dinyatakan: “tindakan Azhari dan Noordin yang mengobok-obok Indonesia tidak mencerminkan kehendak warga Malaysia. Bahkan keduanya juga diburu aparat penegak hukum Malaysia delapan tahun lalu, sebelum diselamatkan jaringannya di Indonesia”.
(more..)
Pendahuluan
Dunia kita ini sesungguhnya dilanda kepanikan. Ada sejumlah krisis yang terjadi di belahan dunia sana dan dampaknya dirasakan oleh orang sejagat, tak terkecuali orang Indonesia. Krisis ekonomi yang melanda Amerika Serikat bisa dirasakan orang Indonesia terutama yang terkait dengan jaringan ekonomi global. Para pemain bursa efek, pemain valas, perdagangan ekspor impor dan mereka yang terkait dengan keuangan global sungguh-sungguh merasakan betapa pengaruh krisis yang melanda negara adi daya tersebut.
(more..)
Dalam salah satu laporan televisi swasta disebutkan bahwa ada TKW Indonesia yang meninggal di kolong Jembatan di Arab Saudi. Sayangnya bahwa berita tersebut saya ketahui agak terlambat, sehingga tidak tahu detail beritanya. Tetapi yang jelas bahwa berita ini melengkapi cerita-cerita tentang TKI-TKW Indonesia yang sedang mengais rejeki di negeri orang.
Penderitaan seakan enggan menjauh dari pekerja migran Indonesia. Antin Suprihatin binti Solehudin (34), tenaga kerja asal Bandung, Jawa Barat, tewas mengenaskan dianiaya majikannya di Provinsi Ha’il, 700 kilometer barat laut dari Riyadh, Arab Saudi.
(more..)