Inilah tradisi khas masyarakat Indonesia. Halal bi halal namanya. Tradisi ini merupakan tradisi yang sudah mengakar di Indonesia. Makanya, banyak orang Indonesia yang menjadikannya sebagai momentum penting di dalam prosesi kehidupannya. Sungguh tidak diketahui secara pasti kapan tradisi ini bermula. Tetapi yang jelas sudah menjadi tradisi khas Indonesia, jauh sebelum Indonesia menjadi semakin modern. Dan anehnya meskipun masyarakat Indonesia sudah modern akan tetapi tradisi ini nampaknya tidak akan lekang oleh panas dan lapuk oleh hujan. Mau bukti? Cobalah lihat bagaimana masyarakat Indonesia yang berada di perantauan dan jauh dari sanak kerabatnya rela untuk berhimpitan pulang ke kampung halaman hanya untuk satu hal, berhalal bi halal. (more..)
Ketika saya membaca tulisan Nur Kholik Ridwan tentang “Regenerasi NII, Membedah Jaringan Islam Jihadi di Indonesia,” di mana tulisan tersebut diangkat dari laporan International Crisis Group (ICG) tentang meningkatnya gerakan fundamentalisme agama di Indonesia, saya sampai pada suatu kesimpulan awal bahwa gerakan fundamentalisme Islam telah memiliki kekuatan laten yang kuat yang sewaktu-waktu bisa seperti api dalam sekam, yang jika ada momentum yang tepat maka akan menjadi api yang besar. Kesimpulan awal ini tentunya bukan tanpa bukti empiris, sekurang-kurangnya prediksi empiris bahwa Islam fundamentalis semakin memiliki keberanian untuk mengekspresikan gerakannya dalam negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). misalnya melalui konferensi, diskusi, tulisan dan bahkan deklarasi secara terbuka. (more..)
Tulisan ini hampir saya buat ketika tokoh bomber yang sudah sangat terkenal dalam belantara gerakan terorisme Noordin M. Top diduga tewas di lokasi Dusun Beji, Desa Kedu, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung Jawa Tengah. Waktu itu diduga dia ditembak di dalam rumah Muh. Zahri, 60 tahun yang tidak lain adalah ayah Tatak salah seorang teroris jaringan Noordin M. Top dan Dr. Azhari yang juga pernah tertangkap di Wonosobo sekitar Maret 2006. akhirnya ternyata yang terbunuh dalam drama pengejaran teroris oleh Densus 88 adalah Ibrohim yang dinyatakan sebagai otak pengeboman di Hotel Ritz Carlton dan Hotel JW. Mariott. (more..)
Rukun puasa sebagaimana kita ketahui adalah menahan lapar, haus dan hubungan seks. Ini merupakan perintah fisikal yang harus dipenuhi selama menjalankan puasa. Jika tidak mampu menahan tiga hal yang bersifat fisikal ini maka puasanya akan batal. Meskipun sesungguhnya Nabi memberikan arahan bahwa orang yang puasanya hanya dengan menahan tiga hal itu dan tidak melakukan yang esensial seperti menahan hawa nafsu yang lebih luas, maka seseorang hanya akan memperoleh lapar dan dahaga saja. Ini sesungguhnya menyiratkan bahwa ada yang mesti juga tetap diperhatikan yaitu bagaimana seseorang yang sedang puasa dapat mencegah berbagai keinginan untuk berbuat jelek, meskipun sekedar niat saja. (more..)
Disyariatkannya puasa sesungguhnya merupakan bagian dari pelestarian ajaran agama-agama sebelumnya. Hal itu tentu bisa dilihat dari perintah menjalankan puasa di dalam teks al-Qur’an bahwa puasa juga dilakukan oleh umat sebelum Islam. Jadi ketika Islam diwahyukan kepada Muhammad saw yang tidak lain adalah penerus agama hanif, maka Islam juga mengambil sebagian hukum dan tradisi di dalam agama-agama sebelumnya, baik yang menambah atau mengurangi atau bahkan menetapkan ajaran agama yang sudah pernah ada. (more..)