Ketika saya membaca laporan Harian Jakarta Post (24/09/09) tentang pelaksanaan ‘Idul Fitri di daerah bekas konflik bernuansa agama, maka saya menjadi sangat bergembira. Ternyata sesungguhnya masyarakat di sana memiliki sense persaudaraan antar sesama umat beragama yang sangat tinggi. Ada di antara mereka yang selesai melakukan ibadah di gereja lalu mendatangi rumah-rumah orang Islam untuk bersalaman dan saling memaafkan. Kemudian mereka juga saling berkunjung untuk memanfaatkan momentum lebaran sebagai sarana untuk saling kunjung mengunjungi dalam suasana persaudaraan yang tulus. Hal ini menandakan bahwa sebenarnya di antara masyarakat kita itu sudah ada saling pemahaman tentang arti dan makna perbedaan terutama yang menyangkut agama. (more..)
Tiada yang lebih indah di dunia ini kecuali kebersamaan. Di dalam konsepsi ilmu sosial, bahwa dunia ini sebenarnya dibangun di atas relasi sosial yang stabil dan jika ada perubahan maka perubahan itu terjadi secara alami atau evolusioner. Perubahan yang cepat atau revolusioner hanya akan membawa kerumitan dan konflik sosial yang tidak terelakkan. Perubahan sosial memang sesuatu yang tidak terelakkan di dalam kehidupan sosial ini, namun demikian perubahan yang terjadi secara cepat hanya akan menghasilkan dinamika sosial yang terkadang tidak berimbang. Bahkan cenderung menyulitkan. Sebaliknya, dunia yang tanpa perubahan juga akan menyebabkan ketiadaan dinamikanya. Akan terjadi stagnasi di mana-mana. Akibatnya juga akan menyebabkan terjadinya pembangkangan di mana-mana. Oleh karena itu perubahan haruslah dimanej sedemikian rupa sehingga akan terjadi keseimbangan di dalam hasil akhir perubahan tersebut. (more..)
Lebaran sebagai penanda berakhirnya puasa ramadlan memang menyimpan banyak ritual. Tidak hanya ritual shalat idul fitri dan tradisi sungkeman atau halal bi halal tetapi juga ziarah kubur. Tradisi ini telah terjadi dalam rentangan waktu yang sangat lama dan tentu bermula ketika Islam mulai berkembang di Nusantara. Para wali, khususnya walisongo adalah orang yang pertama mengembangkan tradisi nyekar atau tradisi ziarah kubur. Di Nusantara, tradisi ini tentu sudah berkembang pada waktu kerajaan Hindu atau Budha, namun kemudian memperoleh sentuhan baru yang bersesuaian dengan ajaran Islam. (more..)
Jika manusia bersyukur kepada Allah, tentu sangat wajar sebab manusia diberi potensi untuk melakukan kebaikan dalam pengertian yang umum maupun khusus. Kebaikan umum terkait dengan tindakan terhadap sesama umat manusia dan keaikan khusus adalah tindakan kepada sesama umat Islam. Kemudian Allah juga mengajarkan kepada manusia agar selalu membangun kerukunan, keharmonisan dan keselamatan. Tiga hal inilah yang disebut sebagai pilar dalam membangun kehidupan di dunia. Bisa dibayangkan bahwa hidup tanpa kerukunan, tanpa keharmonisan dan tanpa keselamatan, maka kehidupan tersebut tentu terasa berada di neraka. Akan menjadi terasing di tengah keramaian yang di dalam konsepsinya David Reismann disebut lonely in the crowd. (more..)
Ketika di Arab Saudi sudah banyak yang melaksanakan puasa Syawal yang dilakukan satu hari setelah hari raya Idul Fitri, maka di masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, justru masih menyelenggarakan acara hari lebaran. Di Indonesia memang hari raya Idul Fitri bisa dilakukan berhari-hari. Baik acara yang diselenggarakan secara individual maupun secara berkelompok. Apalagi sekarang ini sedang berlangsung satu tambahan tradisi baru dalam melaksanakan acara halal bi halal yaitu halal bi halal keluarga, yang mengambil tokoh sentral dari keluarga itu, misalnya Bani Ismail, Bani Ridwan dan sebagainya. (more..)