• May 2026
    M T W T F S S
    « Apr    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

PARADIGMA BARU HUMAS

 Di era penguatan kelembagaan, maka peran hubungan masyarakat (humas) menjadi sangat vital. Hal itu disebabkan betapa pentingnya membangun imaje bagi lembaga dalam kaitannya dengan paradigma baru pelayanan berbasis pelanggan. Humas yang di dalam konsep semula adalah public relation, maka sesungguhnya perannya adalah untuk mengkomunikasikan lembaga dimaksud dengan publik atau masyarakat. Sehingga humas menjadi garda depan bagi lembaga untuk mengintrodusir apa dan bagaimana lembaga tersebut terkait dalam relasinya dengan masyarakat. (more..)

TRADISI COLOKAN DI JAWA

 Tradisi colokan juga sangat khas Jawa. Dari namanya saja sudah kelihatan kalau ini merupakan tradisi Jawa yang sangat khas. Sama seperti tradisi-tradisi yang berkaitan dengan bulan puasa, maka tradisi ini juga tidak diketahui secara pasti siapa yang menciptakan dan kapan dimulainya tradisi ini. Namun demikian, saya berkeyakinan bahwa tradisi  ini juga dapat dikaitkan dengan keberadaan walisanga sebagai penyebar Islam di Jawa khususnya dan Nusantara pada umumnya. Dan secara lebih khusus tradisi ini juga bisa dikaitkan dengan Kanjeng Sunan Kalijaga yang memang memiliki cara berdakwah yang sangat khas. (more..)

TRADISI MEGENGAN DI JAWA

 Tradisi Megengan memang sangat khas Jawa. Tradisi ini biasanya dilaksanakan menjelang puasa. Jika saya menulis mengenai tradisi ini sekarang, tentu dengan maksud bahwa Islam Jawa memang memiliki sekian banyak tradisi yang khas dalam implementasi Islam. Tradisi ini sungguh-sungguh merupakan tradisi indigenius atau khas,  yang tidak dimiliki oleh Islam di tempat lain. Tradisi ini ditandai dengan upacara selamatan ala kadarnya untuk menandai akan masuknya bulan puasa yang diyakini sebagai bulan yang suci dan khusus.

Sama dengan tradisi-tradisi lain di dalam Islam Jawa, maka tradisi ini juga tidak diketahui secara pasti siapa yang menciptakan dan mengawali pelaksanaannya. Tetapi tentu ada dugaan kuat bahwa tradisi ini diciptakan oleh walisanga khususnya Kanjeng Sunan Kalijaga. Memang hal ini baru sebatas dugaan, namun mengingat bahwa kreasi-kreasi tentang Islam Jawa terutama yang menyangkut tradisi-tradisi baru akulturatif yang bervariatif tersebut kebanyakan datang dari pemikiran Kanjeng Sunan Kalijaga, maka kiranya dugaan ini pun bisa dipertanggungjawabkan.

Megengan secara lughawi berarti menahan. Misalnya dalam ungkapan megeng nafas, artinya menahan nafas, megeng hawa nafsu artinya menahan hawa nafsu dan sebagainya. Di dalam konteks puasa, maka yang dimaksud adalah menahan hawa nafsu selama bulan puasa. Secara simbolik, bahwa upacara megengan berarti menjadi penanda bahwa manusia akan memasuki bulan puasa sehingga harus menahan hawa nafsu, baik yang terkait dengan makan, minum, hubungan seksual dan nafsu lainnya. Dengan demikian, megeng berarti suatu penanda bagi orang Islam untuk melakukan persiapan secara khusus dalam menghadapi bulan yang sangat disucikan di dalam Islam. Para walisanga memang mengajarkan Islam kepada masyarakat dengan berbagai simbol-simbol. Dan untuk itu maka dibuatlah tradisi untuk menandainya, yang kebanyakan adalah menggunakan medium slametan meskipun namanya sangat bervariasi.

Nafas Islam memang sangat kentara di dalam tradisi ini. Dan sebagaimana diketahui bahwa Islam memang sangat menganjurkan agar seseorang bisa menahan hawa nafsu. Manusia harus menahan nafsu amarah, nafsu yang digerakkan oleh rasa marah, egois, tinggi hati, merasa benar sendiri dan menang sendiri. Nafsu amarah adalah nafsu keakuan atau egoisme yang paling sering meninabobokan manusia. Setiap orang memiliki sikap egoistik sebagai bagian dari keinginan untuk mempertahankan diri. Namun jika nafsu ini terus berkembang tanpa dikendalikan, maka justru akan menyesatkan karena seseorang akan jatuh kepada sikap ”sopo siro sopo ingsung” atau sikap yang menganggap dirinya paling hebat, sedangkan yang lain tidak sama sekali. Nafsu amarah merupakan simbolisasi dari sifat egoisme manusia dalam berhadapan dengan manusia atau ciptaan Tuhan lainnya. Kemudian nafsu lawwamah atau nafsu biologis atau nafsu fisikal, yaitu nafsu yang menggerakkan manusia untuk sebagaimana binatang yang hanya mementingkan nafsu biologisnya saja atau pemenuhan kebutuhan fisiknya saja. Nafsu ini memang penting sebab tanpa nafsu ini maka manusia tidak akan mungkin untuk mengembangkan diri dan keluarganya. Manusia butuh makan, minum, berharta, dan sebagainya. Namun jika hanya ini yang dikejar maka manusia akan jatuh ke dalam pemenuhan kebutuhan fisiknya saja tanpa mengindahkan kebutuhan lainnya yang juga penting. Maka yang menjadi penyeimbang di antara kebutuhan egoistik dan biologis tersebut adalah nafsu mutmainnah, yaitu nafsu keberagamaan atau etis yang mendasarkan semua tindakan berbasis agama. Nafsu mutmainnah inilah yang akan mengantarkan manusia agar sampai kepada Tuhannya. Sebagaimana dinyatakan di dalam al-Qur’an: ”irji’i ila rabbiki radliyatan mardliyah, fadkhuli fi ’ibadi fadkhuli jannati”, yang artinya kurang lebih adalah ”kembalilah kepada Tuhan dengan ridla dan diridlai, masuklah ke dalam hambaku dan masuklah ke dalam surgaku.” Ayat ini menegaskan bahwa yang bisa menjadi hamba Allah dan bisa memasuki surganya adalah hambanya yang diridlai karena telah memasuki nafsu mutmainnah. Dengan demikian, Islam mengajarkan bahwa melalui kemampuan untuk menahan nafsu amarah dan lawwamah dan berikutnya mengembangkan nafsu mutmainnah, maka manusia akan selamat di dalam kehidupannya.

Memang para walisanga mengajarkan Islam melalui simbol-simbol budaya. Hanya sayangnya bahwa yang ditangkap oleh masyarakat Islam hanyalah simbolnya belaka. Padahal jika yang ditangkap itu tidak hanya simbolnya tetapi juga substansinya, maka sesungguhnya ada pesan moral yang sangat mendasar. Misalnya tradisi megengan dan colokan tersebut. secara substansial merupakan simbolisasi bahwa puasa adalah hari di mana seseorang harus menahan nafsu dan terus dicolok agar jangan sampai keliru dalam melakukan tindakan di bulan puasa.

Dengan demikian, berbagai macam tradisi yang berkembang dan hidup di dalam masyarakat –khususnya—masyarakat Jawa jangan dipandang dari sudut asli atau tidak ketidakaslian ajaran Islam, tetapi marilah dibaca bahwa memang ada varian-varian di dalam mengekspresikan Islam itu melalui tradisi yang dikonstruksi oleh mereka sendiri.

Wallahu a’lam bi al shawab.

KETUPAT LEBARAN

 Ketupat Lebaran  juga merupakan tradisi yang unik dan khas Indonesia. Tradisi ketupat lebaran sudah menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Meskipun tidak diketahui mulai semenjak kapan tradisi kupatan ini menjadi tradisi lebaran di Indonesia, namun sudah merupakan tradisi yang given dari satu generasi ke generasi berikutnya. Baik masyarakat pedesaan maupun perkotaan menyelenggarakan acara kupatan lebaran sebagai penanda berakhirnya puasa dan memasuki kehidupan baru berikutnya. (more..)

BELAJAR DARI PEMAKAMAN PARA TERORIS

 Memang rasanya tidak ada pemberitaan yang menarik akhir-akhir ini selain membicarakan tentang terorisme. Semua media mengungkapkan tentang gerakan terorisme dalam berbagai anggelnya. Radio, televisi, koran dan majalah banyak yang membicarakan tentang terorisme sebagai sisi menarik dunia jurnalistik. Perbincangan yang menarik akhir-akhir ini adalah tentang rencana pemakaman para teroris, seperti Urwah, Adib dan Mistam. Ada pro kontra di kalangan masyarakat tentang nasib akhir atau pemakaman mayat-mayat teroris tersebut.  (more..)