• May 2026
    M T W T F S S
    « Apr    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

KEMAMPUAN AGENSI ANGGODO

 Saya ini termasuk orang yang awam dalam persoalan hukum. Bukan karena apa-apa, hanya karena sulit menghafal rumusan-rumusan peraturan perundang-undangan. Otak saya memang tidak pernah dilatih secara maksimal untuk menghafal, sehingga terhadap hafalan yang rumit dan panjang-panjang maka saya angkat tangan saja. Tidak mampu. Jadi kalau pun saya menulis tentang berita seputar pertarungan “buaya” melawan “cicak” atau Kepolisian melawan KPK, maka itu hanyalah perspektif “sosiologis” yang memang merupakan ilmu yang sedikit saya kuasai. Tetapi sebagai bagian dari bidang ilmu-ilmu sosial, maka tentu tidak salah jika saya sedikit-sedikit mengungkap persoalan “ketidakadilan”, kriminalisasi, atau lainnya yang mungkin sebaiknya menjadi bagian dari perbincangan para ahli hukum. Tetapi bukankah ada wilayah abu-abu dalam bidang sosiologi dan hukum, yang kemudian disebut sebagai sosiologi hukum. (more..)

KEPAHLAWANAN BERBASIS SEMANGAT KEAGAMAAN

 Kemarin, 10 Nopember 2009, merupakan peringatan Hari Pahlawan. Dan seperti biasanya peringatan ini juga ditandai dengan upacara liminal tahunan untuk mengenang jasa para pahlawan bangsa yang sudah mendarmabaktikan seluruh kehidupannya, lahir dan batin, jiwa dan raga untuk kemerdekaan Indonesia. Mereka tidak hanya mengorbankan harta tetapi juga nyawa sekaligus. Namun saya berkeyakinan, bahwa  hingga hari ini tentu tidak diketahui secara pasti berapa jumlah mereka yang telah mengorbankan nyawanya untuk kemerdekaan Indonesia itu. Jumlah mereka yang menjadi korban keganasan perang kemerdekaan tampaknya agak sulit diidentifikasi secara menyeluruh. Mereka adalah para pahlawan yang mungkin hingga hari ini tidak dikenal dan tidak pernah tercatat di dalam sejarah kemerdekaan bangsanya. Makanya, ketika kita ditanya berapa jumlah pahlawan kemerdekaan kita, jawabannya tentu sangat sulit karena tidak semua yang menjadi korban dalam perang kemerdekaan tersebut teridentifikasi. (more..)

KETIKA APARAT NEGARA BEREBUT KEBENARAN

 Dunia pemberitaan di media, terutama televisi, akhir-akhir ini dipenuhi dengan tayangan kasus perseteruan antara Kepolisian dan KPK. Dua stasiun televisi, TVOne dan MetroTV tampaknya memang sedang beradu kejelian dalam menayangkan berita yang menghebohkan tersebut. Acara persidangan, testimoni, diskusi yang membahas tentang kasus ini menjadi topik hangat yang tidak ada henti-hentinya untuk ditayangkan. Luar biasa, sehingga berita lainnya tentang “pembangunan” atau bahkan dunia gosip artis pun bisa dikalahkan oleh drama pengadilan di negeri ini. Hampir semua pemirsa televisi menyaksikan drama heboh perseteruan antar dua aparat penegak keadilan, yang kemudian melibatkan  Kejaksaan,  TPF, DPR dan Para Ahli Hukum serta LSM dan Masyarakat lainnya untuk bersilang sengketa di dalamnya. Pro kontra, pokoknya lengkap.  (more..)

BUTUH KEBIJAKAN KONTEKSTUAL

 Pada awal kepemimpinan SBY dan Boediono dan pasca pelantikan para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu II, maka diikuti dengan keinginan untuk menaikkan gaji pejabat, seperti Presiden, Wapres, Gubernur,Wagub, Bupati, Wabup dan Walikota dan Wawalikota. Para pejabat ini dinilai layak untuk memperoleh tambahan penghasilan di tengah sudah sangat lama sistem penggajian tersebut diberlakukan. Ada ragam pendapat tentang rencana kenaikan gaji pejabat tersebut. Dari sisi penerima, tentu  terbesit rasa kesenangan sebab memang gajinya belum pernah naik, sedangkan dari sisi pengamat ada kecenderungan untuk mempertanyakan kenaikan gaji tersebut, apalagi di tengah masih belum membaiknya perekonomian nasional.  Ketika kritikan tersebut belum reda, maka pemberitaan di koran juga diramaikan lagi dengan berita renovasi pagar istana presiden yang menelan anggaran cukup besar, yaitu Rp. 22,5 milyar. Kritikan pun mencuat lagi seirama dengan pemberitaan tersebut, dan suaranya jauh lebih keras, sebab dinilai bahwa renovasi tersebut tidak memperhatikan jeritan rakyat yang masih terhimpit dengan penderitaan kemiskinan dan ketertinggalan lainnya. Bahkan Indonesia Corruption Watch (ICW) mengusulkan agar renovasi pagar istana terseut dibatalkan karena terlalu mahal. Dikhawatirkan bahwa renovasi pagar istana negara tersebut menjadi ajang korupsi (JP, 7/11/09). (more..)

KEADILAN BERBASIS HATI NURANI

 Hati secara fisikal adalah bagian tubuh di dalam diri manusia. Hati sering disebut sebagai liver. Tempatnya berdekatan dengan jantung dan memiliki fungsi fisikal sebagai penetralisir racun-racun atau toxin-toxin di dalam peredaran darah. Jika jantung berfungsi memompa darah agar sampai ke bagian-bagian tubuh yang membutuhkan, maka hati berfungsi membersihkan peredarannya. Tetapi hati di dalam teks-teks suci memiliki fungsi yang sangat penting yaitu sebagai sebuah sistem  yang akan mengarahkan suatu tindakan yang mengarah kepada kebenaran atau keburukan. (more..)