• May 2026
    M T W T F S S
    « Apr    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

REMAJA DAN PLAY STATION

 Kita sungguh-sungguh prihatin membaca berita-berita di koran bahwa kenakalan remaja semakin variatif, misalnya pencurian yang dilakukan oleh para remaja. Banyak pencurian yang dilakukan oleh remaja berusia belasan tahun. Cara dan modusnya juga sangat variatif. Bahkan mereka banyak yang melakukannya dalam jumlah yang lebih dari tiga kali. Dan ternyata hasil pencurian tersebut digunakan untuk bermain game di play station. Dengan demikian, secara kasar, bisa dinyatakan bahwa ada relasi antara pencurian yang dilakukan oleh para remaja dengan kecanduan bermain game di play station. Dugaan ini tentu masih sangat bersifat asumtif sebab hanya menggunakan commonsense untuk melihat adanya relasi tersebut. (more..)

MEMBANGUN PENDIDIKAN BERBASIS KEARIFAN LOKAL

 Hari Sabtu, 21 Nopember 2009, saya berkesempatan untuk memberikan orasi ilmiah dalam Wisuda Sarjana di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Rasyid di Gedung Juang 45 Surabaya. Secara sengaja saya menyampaikan materi tentang “Membangun Pendidikan Berbasis Kearifan Lokal”. Tema ini saya anggap penting karena lembaga pendidikan ini berada di dalam naungan pondok pesantren. Sehingga alumni strata I (S1) Pendidikan Agama Islam (PAI) ini tetap berda di jalur Islam yang rahmatan lil alamin, sebagaimana misi pesantren pada umumnya. (more..)

PENYEBAB KORUPSI

 Hingga dewasa ini, korupsi masih menjadi problem di negara-negara berkembang. Korupsi memang sudah menjadi penyakit sosial di negara-negara berkembang dan sangat sulit diberantas. Untuk melakukan pemberantasan korupsi ternyata juga sangat banyak hambatannya. Makanya, bagaimanapun kerasnya usaha yang dilakukan oleh pemerintah melalui lembaga-lembaga negara ternyata korupsi juga tidak mudah dikurangi apalagi dihilangkan. Bahkan secara seloroh bisa dinyatakan bahwa korupsi tidak akan pernah bisa untuk dihilangkan. Kenyatannya memang tidak ada suatu negara di dunia ini yang memiliki indeks persepsi korupsi (IPK) yang berada di dalam angka mutlak 10, paling banter adalah mendekati angka mutlak tersebut. (more..)

TANTANGAN LINGKUNGAN PENDIDIKAN

 Di dalam sebuah workshop yang diselenggarakan oleh Bakesbang Jawa Timur tanggal 18 Nopember 2009 di Hotel Utami, ada sebuah pertanyaan yang dilontarkan oleh seorang guru Pendidikan Kewarganegaan yang mengajar di sekolah dasar, bahwa menjadi guru sekarang ini sangat berat, sebab  sangat sulit untuk memberi contoh kepada siswa tentang kebaikan-kebaikan. Di sekolah mereka diajari tentang yang baik dan buruk, akan tetapi di lingkungannya dijumpai sesuatu yang  bertentantangan dengannya. Misalnya, tayangan  tentang ketidakadilan, tayangan sinetron dengan latar percintaan remaja, beredarnya ponsel porno dan sebagainya. Hal ini merupakan tantangan pendidikan yang tidak mudah diatasai oleh guru. (more..)

SEKALI LAGI INDEKS KORUPSI INDONESIA

 Di tengah perseteruan berbagai institusi penegak hukum, KPK dengan Kepolisian, ternyata muncul peringkat baru tentang Indeks Korupsi di Indonesia. Indeks korupsi Indonesia ternyata berada di urutan 111 dari 180 negara di dunia yang disurvei. Memang ada peningkatan indeksnya, yaitu  2,8  di tahun 2009 dibanding dengan 2,6 di tahun 2008. Di dalam hal peringkat tersebut, Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya, seperti Singapura, Brunei Darus Salam, Malaysia dan Thailand. Meskipun indeks korupsi meningkat, namun ternyata peringkat Indonesia tersebut hanya sejajar dengan beberapa negara miskin lain, yaitu Togo, Solomon Island, Mali, Algeria dan Djibouti. Di kawasan Asia Tenggara, persepsi korupsi Indonesia belum membanggakan. Indonesia berada di urutan kelima, sedangkan Singapura berada di urutan 3 dan Brunei di urutan 35. Indonesia hanya lebih baik sedikit dibandingkan Filipina, Timor Leste, Vietnam, Kamboja, Laos dan Myanmar. Indeks Persepsi Korupsi tersebut dibuat berdasarkan survey setahun terakhir yang merupakan gabungan dari 13 polling dan survey yang dilakukan oleh 10 institusi independen. Survey tersebut dilakukan untuk mengukur persepsi korupsi para pejabat publik dan politisi. (more..)