Tentang kesederhanaan Gus Dur, saya kira juga tidak ada yang membantah. Kesederhanaan tersebut terlihat di dalam banyak hal, salah satu yang paling menonjol adalah gaya berpakaiannya. Pakaian yang paling banyak digunakan di dalam acara-acara yang resmi bukan setelan jas, dasi dan celana yang bermerek luar negeri, tetapi batik lengan pendek dan kebanyakan berwarna coklat. Bahkan ketika beliau keluar dari istana negara karena impeachment yang dilakukan oleh MPR, maka beliau hanya memakai celana pendek. Peristiwa ini tentu saja dianggap sebagai sebuah ironi bagi orang yang memandang jabatan dan segalanya sebagai sesuatu yang sakral. (more..)
Sebagai sebuah realitas, Gus Dur sebagai tokoh pluralisme tentu tidak ada yang menolak. Semua tokoh nasional maupun internasional sependapat dengan pernyataan ini. Ketokohan Gus Dur dalam perbincangan dunia pluralisme dan multikulturalisme tentu saja tidak terlepas dari peran Beliau di dalam dialog dan praksis relasi antar umat beragama, relasi antar suku, dan etnis di dalam kehidupan masyarakat secara umum. (more..)
Saya kira tidak ada orang yang meragukan wawasan kebangsaan Gus Dur. Beliau adalah orang yang sangat konsisten dalam membangun dan mengembangkan wawasan kebangsaan. Dalam perjalanan panjang kehidupannya, maka Gus Dur merupakan sosok yang selalu mengembangkan sikap inklusif, pluralistik, multikulturalistik dan demokratis. Beliau bisa bergaul dengan siapa saja dan dari latar belakang apa saja. Beliau adalah orang yang lintas agama, suku, etnis dan budaya. Seseorang tidak akan bisa menjadi Presiden World Conference on Religion and Peace (WCRP), jika tidak memenuhi persyaratan trans agama, suku, etnis dan budaya. (more..)
Kenyataan Gus Dur sebagai presiden rakyat memang tidak bisa dipungkiri. Hal itu pernah terungkap ketika beliau diimpeachment oleh MPR atas alasan yang kurang jelas. Model pemakzulan kepala negara, baru terjadi di era reformasi sebagai bagian dari euforia proses demokrasi yang sedang terjadi kala itu. Gus Dur memang jatuh dari kursi keprisedenan akan tetapi tahta kerakyatan tetap menjadi miliknya. Dan itu terbukti ketika beliau wafat ternyata justru banyak usulan dari masyarakat tentang pengangkatan Beliau untuk menjadi pahlawan nasional dan bahkan penerima hadiah nobel perdamaian. (more..)
Hal yang tidak bisa saya lupakan adalah kesempatan diterima oleh Dubes RI untuk Republik Arab Mesir, A.M. Fachri dan Atase Pendidikan Kedubes RI di Mesir, Prof. Dr. Sangidu, MHum serta beberapa staf Kedubes, Mukhlason dan lainnya. Pertemuan ini sangat penting terkait dengan pesan Menteri Agama, Surya Dharma Ali yang memang titip pesan secara khusus kepada Dubes RI untuk Mesir. Pesan tersebut memang harus disampaikan secara langsung mengingat pesan ini penting bagi hubungan RI dengan Republik Arab Mesir. Yaitu tentang pembangunan asrama mahasiswa Indonesia yang mengambil kuliah di Universitas Al Azhar. (more..)