Secara historis, bahwa Perguruan Tinggi (PT) memiliki peran signifikan dalam sejarah kehidupan umat manusia. Jika dicermati, maka peran tersebut dapat diketahui dari bagaimana PT menjadi tempat bagi persemaian mimpi dan keinginan untuk terus melakukan perubahan, baik perubahan yang terjadi secara tidak direncanakan, ataupun perubahan sosial yang direncanakan. (more..)
Untuk menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) tantangan IAIN Sunan Ampel (IAIN SA) tidak hanya berasal dari kalangan internal, artinya dari warga IAIN SA seperti para dosen dan guru besar yang masih melihat dunia pendidikan hitam putih, akan tetapi juga datang dari kalangan eksternal, artinya banyaknya instansi yang harus dilewati untuk perubahan kelembagaan tersebut. Memang tidak mudah melakukan perubahan dari status quo ke progresivitas, terutama yang menyangkut perubahan mindset tersebut. (more..)
Dalam tulisan kemarin, saya ungkapkan bahwa karena adanya tantangan perubahan, kompetisi dan tuntutan kebutuhan, maka IAIN SA harus berubah. Lalu perubahan macam apa yang seharusnya dilakukan. Maka ada salah satu yang mendasar adalah perubahan institusi dari IAIN menjadi UIN. Mungkin Akan ada pro dan kontra tentang rencana ini. Tapi melihat kuatnya keinginan untuk berubah di kalangan yang pro futuristik, maka keinginan ini rasanya tidak bisa ditunda. Jadi pilihan untuk menjadi UIN kiranya tidak bisa ditunda. (more..)
Di dalam bukunya Asrori S. Karni, Etos Studi Kaum Santri, 2009, yang membicarakan tentang wajah baru pendidikan Islam di Indonesia, ada hal yang membuat saya menjadi berpikir bahwa belum ada sesuatu yang baru sebagai trend yang dapat dibicarakan tentang IAIN termasuk IAIN Sunan Ampel. Jika UIN dibahas panjang lebar bahkan dalam catatan khusus, maka IAIN hanya dibicarakan secara selintas. Ada tiga UIN yang dibahas, yaitu UIN Jakarta, UIN Jogyakarta dan UIN Malang. Ini menandakan bahwa membicarakan UIN dengan konsep-konsep integrasi keilmuan dengan berbagai variasinya ternyata jauh lebih menarik, sementara cerita tentang IAIN tidak ada yang bisa dirajut secara khusus. (more..)
Setelah lama drama yang bertemakan cinta memenuhi negeri ini, mulai dari sinetron remaja yang bertema cinta, infotainment percintaan, lagu-lagu percintaan, tari dan seni percintaan dan juga semua pertunjukan yang bernada cinta, maka sekarang kita disuguhi drama baru melalui media yaitu drama politik. Drama tersebut akhir-akhir ini banyak menghiasi beberapa stasiun televisi. Dan sebagaimana sebuah pertunjukan, maka drama ini pun menghadirkan dunia panggung depan dan belakang, aktor dan berbagai perilakunya, baik yang kocak maupun yang serius, serta penonton yang sukanya berkomentar macam-macam, dan juga penonton yang keras yang menghadirkan kekerasan simbolik di dalam drama ini. (more..)