Saya memang tidak secara terus menerus mengikuti persidangan kasus Antasari Azhar yang direlay oleh stasiun TVone. Hanya sesekali saja. Itupun juga tidak secara utuh. Sepotong-sepotong. Tentu saja karena waktu yang sangat terbatas untuk mengikutinya. Pekerjaan kantor tentu menyita cukup banyak waktu untuk mengerjakan pekerjaan rutin, baik yang terkait dengan pekerjaan administratif maupun akademis. Makanya kesempatan untuk melihat televisi menjadi sangat terbatas. Tetapi itu bukan berarti tidak care terhadap situasi di luar, tetapi semata-mata karena waktu memang hanya 24 jam, tidak bisa lebih. (more..)
Berita di Jawa Pos (22/01/10), tentu sangat menarik. Kios koran milik Bagus Susilowanto dijadikan sebagai cara untuk mengajak berbuat jujur. Dan menurut pengalaman pemiliknya, bahwa setahun terakhir pelanggan selalu bayar. Ayo Jujur, demikianlah nama kios koran yang terdapat di Sidoarjo, Jawa Timur. Di kios kejujuran tersebut tertulis dengan tegas: “Jangan Berbuat Zalim” di selembar kertas ukuran folio yang di tempel di kios kejujuran tersebut. Untuk para pembeli, cukup menaruh uangnya di kotak gabus yang diletakkan persis di bawah tulisan “Jangan Berbuat Zalim”. Di situ ada tulisan, “Tempat Bayar Koran dan Tabloit”. Kios koran itu tidak ada yang menjaga, sehingga pembeli langsung bisa mengambil koran dan membayarnya sendiri. (more..)
Ada satu hal yang baru di era Orde Reformasi, yaitu kewajiban pejabat untuk menandatangani Pakta Integritas. Tentu saja Pakta Integritas ini memiliki tujuan agar pejabat negara memiliki komitmen yang kuat untuk menegakkan kejujuran. Dewasa ini, di tengah upaya reformasi birokrasi, maka satu aspek penting yang harus dikedepankan adalah penegakan kejujuran aparat pemerintah (state apparatus). Sebaik apapun sebuah sistemnya, jika yang menggerakkan sistem itu tidak baik, maka tidak akan menghasilkan out put atau out come yang baik. Jadi tetap penting man behind the gun. (more..)
Kemarin, Rabu, 20 Januari 2010, saya diwawancarai oleh kawan-kawan wartawan Solidaritas, majalah yang diterbitkan oleh Pers Mahasiswa IAIN Sunan Ampel (SA). Mereka bertanya seputar keinginan untuk menjadi UIN. Bukan wawancaranya yang penting, tetapi adalah keinginan mahasiswa yang sangat besar untuk memperoleh informasi tentang seputar konversi IAIN SA menjadi UIN itulah yang sangat patut untuk diapresiasi. Apalagi pertanyaannya sudah menggunakan model investigated news, artinya sebelum mewawancarai saya, mereka sudah melaukan pelacakan informasi ke sejumlah mahasiswa dan juga dosen IAIN SA. (more..)
Saya sebenarnya diundang oleh Prof. Dr. Kacung Marijan untuk sebuah diskusi di Universitas Airlangga, tepatnya di Fisipol, untuk berbicara tentang Peran Strategis Universitas dalam Membangun Public Integrity, pada tanggal 19 Januari 2010. Namun undangan ini terpaksa tidak saya datangi, sebab pada hari yang sama, Ibu Dra. Hj. Nurhayati Yusuf, mendadak meninggal dunia di kediamannya, Wonocolo, belakang IAIN Sunan Ampel. Dan sebagai pimpinan IAIN Sunan Ampel, saya mesti harus datang untuk mengantar kepergiannya yang terakhir. Dan seperti tradisinya, selalu diberi kesempatan untuk memberikan sambutan pelepasan. Saya sudah siapkan tulisan untuk bahan perbincangan—meskipun hanya mengutip beberapa tulisan—dan saya publish di blog saya. Maka saya kirim pesan pendek ke panitia, tentang udzur saya tersebut. (more..)