Di dalam bukunya, Arthur J. D’Adamo, menyatakan bahwa penyebab utama terjadinya konflik bernuansa agama adalah yang dikonsepkan sebagai religion’s way of knowing, yaitu konflik yang disebabkan oleh sebuah standart tentang agamanya sendiri yang diyakini kebenarannya sepenuhnya, yaitu: 1) bersifat konsisten dan berisi kebenaran-kebenaran yang tanpa kesalahan samasekali, 2) bersifat lengkap dan final—dan karena itu tidak diperlukan kebenaran dari agama lain, 3) kebenaran agamanya sendiri dianggap merupakan satu-satunya jalan keselamatan, pencerahan dan pembebasan, dan 4) seluruh kebenaran itu diyakini original dari Tuhan. Tidak ada konstruksi manusia. (more..)
Pada hari Selasa, 02/03/2010, saya diundang untuk acara talkshow di Televisi SBO. Selain saya juga diundang Pendeta Sumardiyanto, dari Gereja Kristen Jawi Wetan, sebagai narasumber. Acara dikemas untuk membincang tentang aliran-aliran baru dalam agama-agama di Indonesia. Acara ini juga dikemas dalam perbincangan yang mengundang penanya dari pemirsa. Talkshow ini menjadi menarik sebab banyak pertanyaan dari pemirsa di seputar hubungan antar agama yang memang menjadi daerah paling rawan dalam kehidupan umat manusia. (more..)
Saya kemarin sore, 5/03/2010, menjadi keynote speaker dalam acara yang diusung oleh LSM Jatim one dalam acara responsi terhadap rencana menerbitkan Undang-Undang Nikah Siri. Yang menjadi nara sumber adalah KH. Abdurahman Nafis (tokoh NUdan MUI Jawa Timur) dan Yayuk Istichanah, tokoh LSM yang bergerak di dalam aktivitas gender di Jawa Timur. Acara ini dihadiri oleh sejumlah tokoh gender Jawa Timur, mahasiswa, aktivis dan pengurus LSM Jatim One. Acara ini diselenggarakan di Auditorium Fakultas Syariah IAIN Sunan Ampel Surabaya. (more..)
Hari ini saya diminta untuk memberikan sambutan pada pembukaan acara yang diselenggarakan oleh ELOIS bekerjasama dengan PSG IAIN Sunan Ampel dan kepala Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah se Jawa Timur dalam Program Pengembangan Madrasah Berbasis Kesetaraan gender. Persoalannya adalah mengapa kesetaraan gender masih menjadi topic utama di dalam berbagai pelatihan di berbagai lembaga pendidikan, dan apa perlunya hal tersebut dilakukan. (more..)
Membaca tulisan mahasiswa tentang Konversi IAIN Sunan Ampel ke UIN Sunan Ampel, saya merasa bangga. Apapun response mahasiswa terhadap rencana konversi dari IAIN Sunan Ampel menjadi UIN Sunan Ampel adalah bagian dari rasa memiliki terhadap institusinya. Tulisan di buletin Coret yang diterbitkan oleh mahasiswa, memang secara khusus dalam satu edisi membahas tentang rencana konversi tersebut. Di antara tulisan itu ada yang pro dan kontra. Tetapi yang paling mendasar adalah tentang kekhawatiran mahasiswa mengenai persoalan pasca menjadi UIN Sunan Ampel, apakah institusi ini akan tetap memelihara Ilmu keislaman? Siapa yang akan memelihara ilmu keislaman? Apakah ilmu keislaman tidak akan terpinggirkan? (more..)