Dewasa ini pesantren sudah dikembangkan tidak hanya untuk upaya tafaqquh fiddin, akan tetapi juga mengarahkan misinya pada pengembangan kualitas santri untuk kemampuan diri dalam menghadapi dunia riil kehidupan yang lebih luas. Jika di masa lalu, orang mengirimkan anaknya ke pesantren hanya untuk kepentingan memperoleh pengetahuan agama atau tafaqquh fiddin, akan tetapi sekarang juga ada harapan baru agar anaknya juga memperoleh ilmu pengetahuan umum. Itulah sebabnya pesantren dengan kyainya lalu mengantisipasinya dengan membuka multi program, Ilmu agama, Ilmu umum dan praksisnya . Makanya, banyak kyai yang sudah melakukan pembaharuan system pendidikan di dunia pesantren. (more..)
Berita yang sempat saya baca di Harian Bangsa, 21/03/2010, tentang “Ketika Wanita Taliban Kabur dari Suami, Tertangkap, Telinga Hidung Dipotong”, membuat saya merasa ngeri. Apalagi sebagai ilustrasinya disertakan pula gambar perempuan yang dipotong telinga dan hidungnya tersebut. Bagi sebagian orang, mungkin tindakan ini juga membuat merinding. Dan juga banyak di antara kita yang merasakan bahwa tindakan orang Taliban tersebut tidak patut ditiru. Tentu saja, hal ini disebabkan oleh kuatnya rasa penghargaan terhadap perempuan yang memang patut untuk dihargai. (more..)
Di masa lalu, jika orang menyebut pesantren maka pasti akan terbayang sebuah lembaga pendidikan yang tradisional dengan segala atributnya. Di antara atribut tersebut adalah pengajian kitab kuning, pengajian dengan system sorogan, bandongan dan wetonan, dan juga sebagian santrinya yang hanya sarungan. Dan di masa lalu bahkan ada tudingan yang tidak mengenakkan, yaitu santri kudigan. Tentu ini adalah stereotipis yang diberikan kepada para santri oleh orang lain yang sesungguhnya tidak memahami dunia kepesantrenan. (more..)
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Sarlito Wirawan Sarwono terhadap para teroris yang sudah dihukum, maka dinyatakan bahwa mengubah ideology fundamentalis ternyata akan mengalami kesulitan. Mereka yang sudah menjadikan agama sebagai ideology ternyata tidak mudah berubah. Ada semacam kekuatan lahir dan batin yang sangat tinggi untuk mempertahankan ideologinya tersebut. Agama yang di dalamnya sudah mengandung dimensi keyakinan akan kebenaran mutlak, dan ketika diideologikan maka akan menjadi sebuah kekuatan yang sangat dahsyat. (more..)
Konsep pemilu jurdil dan luber sudah ada semenjak tahun 1971, yaitu ketika pemilu kedua di era Indonesia modern terjadi. Menurut saya sungguh hebat orang yang menemukan konsep ini. Bayangkan konsep ini telah menjadi ikon penting dalam penyelenggaraan pemilu semenjak itu. Dan itu berarti bahwa konsep jurdil dan luber telah menghiasi wacana pemilu dalam jangka waktu yang lama. Bahkan, pemerintah orde reformasi juga tidak mengganti slogan ini. Tentu karena keyakinan bahwa konsep ini memang baik dan tetap relevan di tengah perubahan sosial dan politik. (more..)