Saya diundang oleh PBNU dalam acara Civic Education yang diselenggarakan di Hotel Sahid Jaya, Surabaya, kemarin (12/03/2010). Acara ini dihadiri oleh Kyai-kyai Muda NU seluruh Jawa Timur dan juga Prof. Dr. Masykuri Abdillah, dari UIN Jakarta. Selain saya, yang menjadi pemateri adalah KH. Miftahul Achyar, Dr. Wahidah, MA, Pembantu Dekan I Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel dan Prof. Dr. Kacung Marijan, MA dari Universitas Airlangga, Prof. Dr. Mas’ud Said, dari Universitas Muhammadiyah Malang. Ketepatan saya diberi tema “Keragaman dan Toleransi”. Di antara sekian banyak kyai yang bertanya, maka ada sebuah pertanyaan yang rasanya perlu saya apresiasi. Pertanyaan itu secara substansial ialah: “apakah khittah NU sudah selesai? (more..)
Prof. Dr. H. Nur Syam, MSi
Guru Besar Sosiologi dan Rektor IAIN Sunan Ampel[1]
Pengantar
Secara hakiki, bahwa tidak ada manusia yang hidup sendirian di dunia ini. Seseorang pasti membutuhkan lainnya dalam menjalani kehidupan. Di dalam cerita keagamaan, maka ketika Nabi Adam hidup sendirian di surga, maka beliau kesepian. Ketika beliau melamun seorang diri, maka datanglah kemudian Hawwa yang kemudian menjadi kawannya. Maka, ketika Nabi Adam dipindahkan ke dunia, maka kemudian Hawwa menjadi isterinya. Dari dua orang inilah kemudian menghasilkan manusia yang jumlahnya sangat banyak dengan bergolongan-golongan, dalam etnis, suku dan bahasa. (more..)
Apakah ada demo berkeadaban? Secara teoretis mestinya ada. Secara konseptual mestinya juga ada. Jika secara empiris ternyata sulit didapatkan, tentu ada kesenjangan antara yang seharusnya dengan yang senyatanya. Ada gap antara das sein dan das solen. Sesungguhnya, melakukan demonstrasi adalah bagian dari proses demokrasi. Demonstrasi adalah bagian dari cara untuk menyampaikan gagasan kepada pihak lain, ketika cara yang sangat lazim, misalnya musyawarah tidak lagi bisa dilakukan. Di dalam hal ini, maka demonstrasi bisa dijadikan sebagai instrument untuk artikulasi kepentingan. (more..)
Ketika terjadi demonstrasi yang anarkhis sebagaimana dilakukan oleh sejumlah mahasiswa di Makassar yang disebabkan oleh penyerangan polisi terhadap Kantor HMI, maka Mendiknas menghimbau agar di dalam melakukan demonstrasi hendaknya dilakukan dengan santun dan tidak anarkhis. Himbauan ini tentu saja menjadi penting di tengah keinginan bersama untuk membangun masyarakat Indonesia berbasis pada kesopanan dan keadaban. (more..)
Hari Ahad, 7/03/2010, segenap pimpinan IAIN Sunan Ampel memperoleh suntikan pemahaman yang sangat menarik dari Dr. Afandi Muchtar, MA, Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Kementerian Agama Republik Indonesia. Kedatangan beliau terkait dengan kegiatan mencermati proposal konversi IAIN Sunan Ampel ke UIN Sunan Ampel. Untuk kepentingan merumuskan proposal yang perfect memang secara sengaja diundang beberapa ahli. Selain Dr. Afandi Muchtar, juga dilakukan konsultasi dengan Prof. Abu Amar dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Dr. Agus Zainal dkk dari ITS dan juga akan menyusul yang lain. Melalui beberapa kajian dan konsultasi diharapkan akan menghasilkan proposal yang memadai. (more..)