Ketika saya membaca tulisan Sirikit Syah di Warta BAZ (Badan Amil Zakat Provinsi Jawa Timur), tentang Pluralisme Kebablasan, menurut saya ada hal yang memang harus dipahami secara komprehensip. Salah satu yang cukup mengganggu saya adalah ketika disebutkan bahwa Gus Dur adalah termasuk orang yang berkeyakinan bahwa semua agama sama. Ada pertanyaan yang harus saya kemukakan, bahwa apakah benar Gus Dur sampai tahapan berpikir seperti itu. Apakah Gus Dur sampai pada keyakinan bahwa semua agama secara teologis sama. Pertanyaan ini yang menurut saya perlu diklarifikasi sebab bisa mengandung “kesalahan” konseptual tentang pluralisme Gus Dur. (more..)
Kesadaran kaum perempuan untuk belajar sesungguhnya sudah dimulai semenjak Raden Ajeng Kartini mendobrak tradisi keluarga Jawa untuk menyekolahkan anak-anaknya dan tidak mengawinkannya di usia yang masih dini. Hal itu terjadi tidak saja di kalangan orang awam atau rakyat jelata, tetapi juga di kalangan bangsawan atau kaum ningrat. Terbukti bahwa RA. Kartini sendiri dikawinkan di usia muda dan tidak diperbolehkan untuk melanjutkan pendidikannya. Sementara saudara lelakinya diberi kesempatan untuk belajar lebih tinggi. Artinya, meskipun kesadaran berpedidikan sudah dilakukan ketika itu, maka masih kalah dibandingkan tentang kesadaran menyekolahkan anak-anak lelaki. (more..)
Angka partisipasi pendidikan bagi kaum perempuan yang masih rendah ternyata menjadi perhatian Mendiknas Muhammad Nuh, sebagaimana yang diungkapkannya di Jawa Pos beberapa saat yang lalu. Keprihatinan Muhammad Nuh terkait dengan kenyataan empiris bahwa masih banyak perempuan yang hanya lulusan pendidikan dasar dan tidak melanjutkan ke pendidikan menengah atau bahkan pendidikan tinggi. (more..)
Kemarin, Sabtu, 26 Pebruari 2010, saya diundang oleh Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jawa Timur untuk membahas tentang ”Implementasi Pemikiran Gus Dur terhadap Jam’iyah Nahdlatul Ulama yang Berkualitas dan Berdaya Saing Global”. Acara ini dihadiri oleh KHA. Muchid Muzadi, Ulama NU senior, dan Dr. M. Faqih, dari Institut Teknologi Surabaya (ITS) Sepuluh Nopember Surabaya dan dipandu oleh Dr. Mahmud Mustain, juga dari ITS. Diskusi ini menjadi menarik karena akan dijadikan sebagai materi persiapan Mu’tamar NU ke 32 di Makassar. Dan hasil seminar ini akan dijadikan sebagai rujukan untuk dibahas di Ciganjur Jakarta, beberapa saat yang akan datang. (more..)
Prof. Dr. H. Nur Syam, Msi
Pengantar
NU semenjak semula memang merupakan organisasi sosial keagamaan yang memiliki tugas untuk memberikan panduan dan bimbingan, bagaimana agar perubahan kebutuhan maupun kaifiyah dalam memecahkan kebutuhan tersebut tidak mengakibatkan goncangan pada moral masyarakat dengan terus melakukan pembinaan akhlakul karimah. Dengan demikian, NU di satu pihak terus melakukan perbaikan dan khidmahnya kepada umat dan bangsa, di fihak lain NU terus berusaha agar menjaga masyarakat berpedang teguh pada sifat dan sikap yang mencerminkan akhlakul karimah yang bersumber dari ajaran Islam. (more..)