• June 2026
    M T W T F S S
    « May    
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    2930  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

SAQAR: NERAKA BAGI PENGINGKAR ALQUR’AN

SAQAR: NERAKA BAGI PENGINGKAR ALQUR’AN

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Salah satu di antara program dalam Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) adalah tahsinan yang diikuti oleh jamaah Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya. Acara ini dilakukan setiap hari kecuali Selasa untuk ceramah agama, Jum’at untuk baca Alqur’an  Surat Al kahfi. Sudah lama program ini berlangsung dan bersyukur sebab kegiatan ini terus berlangsung dengan peserta yang tetap semangat. Pada Kamis, 01/08/2024,  jamaah KNB membahas tentang Neraka Saqar, yaitu salah satu neraka yang disediakan oleh Allah terhadap orang yang ingkar atas keberadaan Allah, tidak mengakui Kenabian Muhammad SAW, tidak mempercayai kebenaran Alqur’an  dan tidak melakukan amalan shaleh.

Di dalam Islam dikenal ada sebanyak tujuh neraka, yaitu Neraka Jahannam, Neraka Saqar, Neraka Hutamah, Neraka Jahim, Neraka Ladza, Neraka Sa’ir, Neraka Jahim dan Neraka Hawiyah. Di antara tujuh nama neraka tersebut, maka yang sangat dikenal di kalangan umat Islam adalah Neraka Jahannam, Neraka Jahim, dan Neraka Sa’ir. Sedangkan Neraka Saqar, Hutamah, Ladza dan Hawiyah tidak dikenal dengan sangat memadai. Yang paling popular adalah neraka Jahannam. Bahkan jika ada orang atau anak yang nakal maka diasosiasikan dengan anak Jahannam. Begitulah masyarakat Islam, khususnya di Indonesia, mempersepsikan tentang neraka tersebut.

Neraka atau An Nar di dalam konteks ajaran Islam dikaitkan dengan nama tempat di alam akherat sesudah yaumul ba’tsi yaitu tempat penyiksaan dan menghasilkan penderitaan yang tidak terkira karena panasnya. Neraka berisi api yang terus menyala sepanjang masa yang diperuntukkan bagi orang yang ingkar akan keberadaan Allah, mengingkari kenabian Muhammad dan durhaka atas ajaran agama Islam. Mereka adalah orang yang diidentifikasi sebagai musyrik, kafir, munafiq dan dhalim. Di tempat inilah Allah akan memberikan balasan atas mereka yang berbuat seperti itu.

Berdasarkan tingkatannya, maka neraka yang paling dalam adalah Jahannam, lalu Ladza, Huthamah, Sa’ir, Saqar, Jahim dan Hawiyah. Jika dalam bentuk susunan, maka neraka yang paling atas adalah Hawiyah dan yang paling bawah adalah Jahannam. Masing-masing neraka tersebut diperuntukkan bagi orang yang sesuai dengan perilakunya. Orang yang musyrik, kafir dan munafiq itu ada di neraka Jahannam. Di dalam Surat Al Hijr, ayat 43 dinyatakan: “dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar tempat yang diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut setan) semuanya”. Pengikut Setan itu adalah orang yang menyekutukan Tuhan, mengingkari kebenaran agama dan orang yang sekali waktu percaya dan kemudian tidak percaya dan seterusnya.

Pada saat tahsinan, kita membahas tentang Neraka Saqar. Yaitu di dalam Surat Al Muddattsir, ayat 26-29. Di dalam surat ini dinyatakan: “wa ma adraka ma saqar.  La tubqi wa la tadzar. lawwahatun lil basyar.  ‘alaiha tis ‘ata ‘asyar”. Yang artinya: “tahukah kamu (neraka) Saqar. Ia (neraka) saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. Yang menghanguskan kulit manusia.” Jadi neraka Saqar itu digambarkan sebagai neraka yang akan menghanguskan tubuh manusia yang durhaka secara terus menerus. Terbakar tubuhnya lalu kembali semula dan terbakar lagi lalu begitu seterusnya. Dan neraka Saqar itu dijaga oleh sebanyak 19 malaikat.

Gambaran Neraka Saqar tersebut dinyatakan sebagai tempat bagi orang yang menganggap bahwa Alqur’an itu sihir yang dibawakan oleh Muhammad dengan mencontoh atas kitab-kitab sebelumnya, yaitu Taurat dan Injil. Memang terdapat cerita-cerita di dalam Alqur’an yang “menyerupai” cerita di dalam Taurat dan Injil. Hal ini bisa dipahami sebab Taurat atau Injil dan Alqur’an memiliki sumber yang sama sebagai Agama Semitis yang dinisbahkan kepada Nabi Ibrahim AS.

Neraka Saqar juga disediakan kepada orang yang beranggapan bahwa Alqur’an itu bukan wahyu Allah tetapi perkataan Nabi Muhammad. Alqur’an bukanlah wahyu Tuhan sebagaimana diceritakan oleh Nabi Muhammad. Dalam posisi Nabi itu sebagai orang yang Ummi atau tidak bisa membaca, maka seharusnya dipahami bahwa Nabi tidaklah pernah membaca Kitab Taurat dan Injil, sehingga jika Nabi Muhammad bisa membuat pernyataan yang indah melebihi keindahan ciptaan manusia, maka tentu harus dipahami bahwa apa yang dinyatakan oleh Nabi Muhammad adalah wahyu Allah.

Suatu ketika Musailamah al Kaddzab membuat puisi yang dinyatakan untuk menandingi Alqur’an akan tetapi hasil kreasi Musailamah itu justru menjadi bahan tertawaan. Jangankan melebih kehebatan Alqur’an, menyamai saja tidak. Begitulah Allah menurunkan wahyu dengan keutamaan yang nyata dan kelebihan yang tidak tertandingi. Makanya orang yang tidak mempercayainya diingatkan akan dimasukkan ke dalam Neraka Saqar sebagaimana diceritakan di dalam Surat Al Mudattsir.

Berbahagialah kita bisa menjadi umat Islam yang meyakini akan kebenaran kalam Allah, mempercayai eksistensi Allah dan keberadaan Nabi Muhammad, lalu juga mengamalkan ajaran agama Islam sebagaimana yang sudah kita lakukan. Dengan berbuat seperti ini, maka diharapkan bahwa Allah akan memberikan rahmatnya untuk kita terhindar dari Neraka Saqar dan sebaliknya kita dimasukkan Allah ke dalam surga.

Wallahu a’lam bi al shawab.

BARAKAH

BARAKAH

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Salah satu kebahagiaan yang saya rasakan adalah di kala bisa memberikan sedikit ceramah tentang relasi antara agama dengan masalah-masalah social di kalangan masyarakat Islam, khususnya dan masyarakat pada umumnya. Pada hari Selasa, 30/07/2024, sebagaimana biasanya, diadakanlah ngaji bersama jamaah shalat Shubuh di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya. Tradisi ngaji pada Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) selalu  diselingi dengan humor sekurang-kurangnya 17 kali. Dan pada ngaji pagi itu, saya kira memenuhi ketentuan untuk tertawa sebanyak itu.

Ada tiga hal yang saya sampaikan pada waktu mengaji dimaksud, yaitu: Pertama, barakah itu di masyarakat kita, dimaknai hanya untuk hal-hal yang terkait dengan rejeki yang berupa harta atau kekayaan. Jadi dipahami bahwa berkah itu hanya urusan ekonomi atau urusan materi. Secara maknawi, barakah di dalam Bahasa Arab, atau berkah di dalam Bahasa Indonesia, atau berkat di dalam Bahasa Jawa adalah bertambahnya kebaikan atau di dalam Bahasa Arab dinyatakan sebagai ziyadatul Khair. Para ahli ilmu keislaman menyatakan seperti itu. Jadi yang namanya berkah itu jika terjadi bertambahnya kebaikan. Jika kita mendapatkan sesuatu dan sesuatu tersebut menambah kebaikan pada diri kita, maka itulah yang disebut sebagai keberkahan atau barakah. Keberkahan tentu tidak dipahami sebagai keberkahan rezeki saja. Apalagi hanya dimaknai dengan pemahaman hanya pertambahan harta dalam bentuk uang atau asset lainnya. Berkah atau barakah memiliki sejumlah makna yang di dalamnya terdapat kebaikan demi kebaikan.

Kedua, makna berkah atau barakah sangat variative. Di antara makna yang bisa dipelajari di dalam teks Suci Alqur’an adalah keberkahan fisik yaitu pertambahan kesehatan, kekuatan atau  ketiadaan rasa sakit yang diderita. Makanya di dalam doa dinyatakan: wa afiyatan fil jasad. Jasad yang sehat atau badan yang sehat. Nabi Muhammad SAW pernah diberikan kekuatan fisik dalam melakukan Isra’ dan Mi’raj. Bagaimanakah manusia bisa berjalan dengan sangat cepat dari Mekkah ke Masjid Al Aqsha, Palestina dalam satu perjalanan dan dilanjutkan dengan perjalanan cepat menembus langit dan sampai di Sidratul Muntaha, Mustawa dan bertemu  Allah SWT. Di dalam satu pendapat dinyatakan bahwa Nabi Muhammad Mi’raj dengan fisiknya dan ada pendapat lain hanya sukmanya atau rohnya saja. Kita perlu beriman sebagaimana imannya Sayyidina Abu Bakar dengan tidak bertanya secara teologis tentang bagaimana hal tersebut dilakukan. Barakna haulahu dapat diterjemahkan sebagai Nabi Muhammad SAW dikelilingi dengan kekuatan fisik yang sangat hebat sehingga bisa menembus sebagaimana kekuatan melebihi cahaya.

Barakah juga bisa dimaknai sebagai  ziyadatul khoir fil ‘ilmi. Bertambahnya kebaikan di dalam ilmu. Maknanya jika kita memiliki ilmu, maka ilmu tersebut akan menambah kebaikan untuk diri dan masyarakat. Ilmu yang bermanfaat bagi diri dan orang lain. Bukankah pahala ilmu yang beramanfaat itu akan terus berlangsung meskipun orangnya sudah wafat. Al ilmu yuntafa’u bih. Ilmu yang bermanfaat bagi dirinya.  Yang bisa memanfaatkan ilmu bukan hanya guru, dosen atau penceramah, akan tetapi kita semua bisa memanfaatkannya. Ilmu yang tidak hanya berhenti pada pengetahuan akan tetapi menjadi amalan. Di kala kita bisa mengamalkan ilmu, maka ilmu itu bermanfaat.  Jika ada orang lain yang mencontoh ilmu tersebut untuk diamalkan maka kita telah memperoleh manfaatnya ilmu. Misalnya, saya melakukan puasa Senin Kamis sebagaimana diceritakan oleh Pak Suryanto, maka secara tidak langsung saya mendapatkan manfaat ilmu dan demikian pula Pak Suryanto. Gampang untuk menjadikan ilmu bermanfaat.

Lalu barakah dalam makna ziyadatul khoir fil iqtishadiyah yaitu bertambahnya kebaikan di dalam perekonomian khususnya rezeki yang berupa harta, kekayaan dan kekuasaan. Jika secara ekonomi kita bertambah hartanya atau asetnya dan harta atau  asset tersebut tidak menambah kebaikan, maka artinya harta dan asset kita tidak berbarakah. Tetapi jika pertambahan harta dan asset tersebut lalu berguna untuk masyarakat maka berarti bahwa asset dan harta tersebut bermanfaat. Allah sudah menyediakan washilah atau perantara atau instrument agar harta dan asset kita bermanfaat, yaitu dengan zakat, infaq, sedekah dan wakaf. Agama yang paling komplit dalam ajaran pilantropi adalah Islam. Melalui instrument tersebut dapat mengantarkan umat Islam untuk mencintai amalan shalihan berupa infaq ke masjid, zakat dan sedekah ke anak-anak yatim dan juga memberikan wakaf dalam bentuk harta tidak bergerak atau wakaf uang.

Ketiga, semua variasi ziyadah tersebut kemudian berada di dalam konteks ziyadatul khoir fiddin. Jadi ujung akhir dari semua ziyadah tersebut adalah keberagamaan kita menjadi semakin baik. Dunia spiritualitas kita semakin luar biasa. Shalat makin baik, puasa semakin baik, wirid semakin banyak dan terstruktur, dan zakat juga semakin bertambah. Akan menjadi hebat lagi jika kita melakukannya justru bukan kala banyak uang, akan tetapi juga tidak melupakan pilantropi  di saat rezeki ekonomi kita tidak sebaik sebelumnya. Alladzina yunfiquna fis sarrai wadh dharrai, Orang-orang yang berinfaq di kala sempit dan ulaika humul muflihun, mereka adalah orang-orang yang beruntung.

Wallahu a’lam bi al shawab.

SIMBOL POTENSI MASUK NERAKA

SIMBOL POTENSI MASUK NERAKA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Beberapa saat yang lalu, saya mendengarkan salah satu tayangan di Media Sosial tentang orang-orang yang potensial akan masuk neraka. Nama-nama mereka tercantum di dalam teks suci Alqur’an dan mereka tergolong orang yang mengingkari kebenaran atas apa yang dibawa oleh Nabi dan Rasul yang bersumber dari Allah SWT. Tentu yang tertera secara tekstual di dalam Alqur’an adalah sebuah kebenaran transcendental.   Di  dalam literatur ilmu agama dan ilmu social disebut sebagai kebenaran yang bersumber dari empiris transcendental, yaitu kebenaran yang berbasis pada keyakinan atau kepercayaan atas eksistensi hal-hal yang gaib dan konsekuensi atas keyakinannya tersebut.

Berdasarkan pelacakan atas teks suci dimaksud, maka   terdapat orang yang dipastikan akan masuk neraka. Dosa yang dilakukan sebagai dosa besar yang tidak terampuni, karena mereka memang tidak sempat untuk bertaubat. Tidak ada waktu baginya untuk bertaubat kepada Allah. Mereka semua meninggal pada saat belum sempat bertaubat kepada Allah atas kekhilafan atau dosa yang diperbuatnya.

Di antara mereka yahg dinash akan masuk neraka tersebut adalah: Qabil bin Adam. Qabil adalah saudara Habil. Sebagaimana yang dikehendaki oleh Tuhan, bahwa Nabi Adam menurunkan anak-anak kembar, dan sesuai dengan syariat pada waktu itu, maka harus dinikahkan secara silang. Saudara kembar Habil menikah dengan Qabil dan saudara kembar Qabil menikah dengan Habil. Kecantikan perempuan menjadi penyebab atas kedengkian di antara hamba Allah tersebut. Qabil kecewa karena yang dinikahkan dengannya adalah saudara kembar Habil yang kurang cantik dan saduara kembarnya yang cantik dinikahkan dengan Habil. Ini merupakan awal pertama terjadinya sikap dengki dan iri hati. Ditambah lagi dengan korban Qabil yang terdiri dari buah-buahan yang tidak berkualitas yang menyebabkan Allah tidak menerimanya, sementara kurban Habil berupa kambing yang berkualitas, sehingga diterima Allah. Maka Qabil kemudian membunuh Habil. Inilah pembunuhan pertama umat manusia di dunia.

Berikutnya adalah anak Nabi Nuh, Kan’an. Dalam banjir besar pada masa Nabi Nuh, maka istri dan anaknya termasuk yang lebih percaya kepada kaum Nabi Nuh ketimbang kepercayaan atas Nabi Nuh. Keduanya terkena bencana tenggelam karena air bah yang menyapu daratan. Gunung yang tinggipun terkena efek tenggelam atas banjir dimaksud. Hanya orang yang percaya kepada ajaran Nabi Nuh saja yang selamat.

Lalu, istri Nabi Luth. Istri Nabi Luth adalah orang yang lebih mendengarkan kaumnya Nabi Luth dibandingkan dengan suaminya sendiri. Dia justru menjadi mata-mata kaum musyrikin tentang keadaan Nabi Luth. Yang dipastikan juga masuk neraka adalah Fir’aun yang hidup semasa dengan Nabi Musa. Fir’aun adalah seorang raja yang sangat berkuasa dan karena kekuasaannya yang besar tersebut, maka dia mengaku Tuhan. Dia hidup dikelilingi dengan ahli sihir yang dapat meramal masa depan. Pada masanya, Piramida di Mesir dibangun. Rasanya piramida yang terbesar di Mesir itu adalah karyanya, selain itu juga terdapat piramida yang kecil-kecil.

Kemudian Raja Namrudz yang juga meyakini dirinya adalah Tuhan karena kekuasaannya yang sangat besar. Namrudz adalah seorang raja yang sangat otoriter. Siapa yang tidak mematuhinya pasti akan dihukum mati. Salah satu di antara orang yang menentang keyakinannya adalah Nabi Ibrahim, maka Nabi Ibrahimpun dihukum dengan dibakar hidup-hidup. Nabi Ibrahim dimasukkan dalam api yang menyala selama tujuh hari. Di akhir masa hidupnya, Namrudz dikalahkan oleh seekor nyamuk yang memasuki hidungnya dan menyebabkan sakit kepala tak tertahankan. Termasuk pembuat patung yang dinisbahkan sebagai bapak Nabi Ibrahim, Azar. Pembuat patung ini diyakini akan menjadi penghuni neraka.

Lalu Qarun, seorang yang sangat kaya raya, bahkan untuk membawa kunci gudang-gudangnya diperlukan satu kendaraan khusus. Qarun merupakan orang yang selalu menumpuk harta sehingga kekayaannya tidak dapat digambarkan. Qarun mati dalam keadaan kafir dan dipastikan juga akan menjadi penghuni neraka. Qarun adalah orang kaya di masa lalu yang menjadi gambaran kaum kapitalis. Juga terdapat nama Abu Lahab dan istrinya, Abu Jahal dan lain-lain yang menggambarkan atas orang yang selalu berbuat jahat dan ingin mencelakakan orang lain.

Di  dalam Alqur’an sudah terdapat siapa yang kiranya dapat menjadi penghuni neraka, karena amal perbuatannya. Ada yang kafir, musyrik dan orang yang jahat selama hidupnya. Mereka orang yang tidak mendengarkan seruan untuk memercayai keberadaan Allah SWT dan tidak mengikuti pedoman sebagaimana yang sudah disampaikan oleh para rasulnya. Mereka adalah symbol realitas tentang orang yang berpotensi masuk neraka.

Jika dianalisis secara kasar, maka Fir’aun dan Namrudz adalah symbol atas penguasa yang dzalim yang otoriter dan menyuruh masyarakatnya untuk mengingkari keberadaan Tuhan dengan mengaku dirinya sebagai Tuhan. Bisa jadi, penguasa seperti ini juga ada di zaman sekarang, hanya dengan kadar yang berbeda. Ada pemimpin negara yang menyengsarakan masyarakatnya.

Lambang keserakahan adalah Qarun, seorang kapitalis di masa lalu. Kapitalisme bukan hanya peristiwa di masa kini saja tetapi juga di masa lalu. Orang kapitalis yang serakah dan hanya mementingkan kekayaan tanpa mengingat bahwa di dalam hartanya terdapat hak kaum miskin adalah orang yang berpotensi masuk neraka. Qarun adalah lambang kapitalisme yang tidak berkemanusiaan. Kemudian juga Azar adalah contoh orang yang memberikan peluang orang lain untuk menyembah berhala selain Allah. Para pengkhutbah yang mengajak orang lain melakukan kemusyrikan dan kekafiran disimbolkan dengan Azar sang pembuat berhala.

Kan’an adalah symbol anak yang tidak patuh pada orang tuanya. Kan’an adalah anak yang tidak meyakini akan kebenaran ajakan orang tuanya. Dia menolak ajakan orang tuanya untuk mematuhi perintah Allah. Dianggapnya bahwa dirinya mampu melawan perintah Allah melalui orang tuanya. Lalu istri Nabi Luth adalah lambang atas ketidakpatuhan seorang perempuan akan kebenaran. Dia lebih suka untuk mempercayai orang lain yang kafir ketimbang suaminya yang memperoleh warta kebenaran dari Allah SWT.

Kemudian, Abu Lahab dan Abu Jahal menggambarkan orang yang tidak pernah berlaku kebaikan. Hidupnya dipenuhi dengan pemikiran untuk mencederai dan menghacurkan orang lain. Upayanya untuk terus menerus mencelakai Nabi Muhammad SAW adalah lambang atas orang yang selalu berpikiran dan bertindak kejahatan. Hidupnya dipenuhi dengan iri, dengki dan berbuat jahat kepada orang lain.

Jika Alqur’an menggambarkan dengan sejumlah tokoh yang akan masuk neraka. Sesungguhnya Allah mengajari akan umat Nabi Muhammad jangan melakukan hal yang sama dengan umat-umat terdahulu tersebut. Jika menjadi penguasa harus menjadi penguasan yang adil dan selalu membuat kebijakan yang memihak rakyat. Jika menjadi professional janganlah profesi yang bersearah dengan kejelekan dan upaya untuk membuat orang tidak meyakini akan keberadaan Allah. Jika menjadi manusia jangan selalu berbuat jahat dengan keinginan untuk mencelakai orang lain.

Sekali lagi apa yang dinyatakan di dalam Alqur’an adalah upaya bagaimana Allah menyimbulkan dengan prilaku yang mengarah kepada perbuatan yang potensial ke neraka. Na’udzubillahi min dzalik.

Walahu a’lam bi al shawab.

PIKIR, DZIKIR DAN TAQWA

PIKIR, DZIKIR DAN TAQWA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Judul ini saya rumuskan atas ceramah agama yang saya sampaikan pada Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya. Kelompok pengajian yang dilabel dengan nama Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) itu memang menyelenggarakan ngaji bareng setiap Selasa ba’da Shubuh, dengan prinsip Ngaji Bahagia atau ngaji dengan tertawa dan senyum bareng-bareng. Jadi setiap Selasa kita harus menyiapkan bahan humor agar tetap bisa mengaji dan bahagia. Bukankah tertawa merupakan salah satu indicator kebahagiaan. Ngaji ini dilakukan pada 23/07/2024.

Pertama, Islam mengharuskan umatnya untuk berpikir. Di dalam Alqur’an banyak terdapat ayat yang memberikan gambaran tentang berpikir dengan diksi afala tafakkarun atau afala ta’qilun. Biasanya di dalam teks tersebut dikaitkan dengan hal-hal yang bercorak empiris atau non empiris yang memerlukan pemikiran, sehingga di kala kita tidak memikirkannya atau pemikiran kita tidak sesuai dengan apa yang digambarkan oleh Alqur’an atau tidak sesuai dengan petunjuk Tuhan melalui Nabi-Nabinya, maka lalu Allah memperingatkan, apakah kamu tidak berpikir.

Maka yang disentuh oleh tanda-tanda alam atau tanda-tanda ketuhanan adalah pemikiran. Yang menjadi sasarannya adalah otak manusia. Di dalam konteks ayat ini, maka digambarkan bahwa manusia sesungguhnya diberikan kekuatan pemikiran atau kemampuan logika yang dapat dijadikan sebagai instrument untuk menghadirkan keberadaan Allah. Alam yang teratur, manusia yang diciptakan dengan kelengkapan fisik dan jiwa, dengan kemampuan untuk menalar dan sebagainya haruslah menjadi instrument untuk meyakini bahwa Tuhan itu ada. Bisa jadi masing-masing membahasakan Tuhan sesuai dengan bahasanya, tetapi intinya bahwa manusia meyakini keberadaan Dzat Yang Maha Kuasa atau omnipotence dan Yang Maha Tahu atau omniscience. Tidak mungkin manusia dengan kelengkapan yang sempurna untuk hidup dan alam yang sempurna dalam penciptaannya itu terjadi dengan sendirinya. Itulah yang dinyatakan Tuhan agar manusia memikirkan ciptaan Allah dan tidak memikirkan dzatnya Allah SWT.

Jangan kita bertanya Dzat Tuhan terbuat atau terdiri dari partikel apa, akan tetapi berpikirlah tentang penciptaan alam dan seluruh isinya yang sempurna. Tidak boleh berpikir tangan Tuhan dan wajah Tuhan seperti apa, akan tetapi bagaimana Allah menjadi pencipta atas segala kehidupan di dunia. Manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, tata surya, galaksi dan sebagainya. Bagaimana binatang yang buas memiliki rasa cinta kepada anak-anaknya, bagaimana tumbuhan bisa beranak pinak untuk menyebarkan keturunannya dan sebagainya.

Kedua,  manusia harus berdzikir kepada Allah sebagai wujud atas hasil pemikirannya bahwa Tuhan itu maujud. Jika seseorang sudah berpikir tentang ciptaan Tuhan dan berkesimpulan bahwa ada Dzat Yang Maha Tahu atas apa yang diciptkannya, dan Dzat yang Maha Kuasa atas semua ciptaannya, maka pada gilirannya manusia diharuskan untuk berdzikir atau mengingat Allah atau mengambil pelajaran dan manfaat atas keyakinannya tersebut. Manusia sudah seharusnya untuk mengambil pelajaran atas bagaimana bumi dihamparkan, bagaimana langit ditinggikan, bagaimana gunung ditegakkan dan seterusnya. Bagaimana bumi dengan tanamannya bisa menjadi sumber kehidupan bagi manusia dan makhluk hidup lainnya. Bagaimana langit menjadi pelindung atas cahaya panas dan bintang-bintang yang jatuh di bumi. Atmosfir dapat membakar atas benda-benda langit yang jatuh, misalnya meteor, sehingga tidak jatuh ke bumi.

Alangkah indahnya Allah menciptakan semua ini. Jika manusia meyakini hal ini, maka dia pasti akan bertasbih, bertahmid,  atau dengan kata lain berdzikir kepada Allah karena kehebatan semua hal tersebut. Berdzikir dikaitkan dengan diksi afala tadzakkarun atau apakah tidak mengambil pelajaran. Jadi manusia diminta oleh Allah untuk selalu menjadikan seluruh alam sebagai pelajaran. Berdzikir dikaitkan dengan qalbun atau hati, yang di dalamnya terdapat emotional intelligent, social intelligent dan spiritual intelligent. Dengan kesadarannya maka manusia bisa memaknai kehadiran Tuhan di dalam kehidupan.

Ketiga,  di dalam berpikir dan berdzikir tersebut, maka ada tiga corak manusia dalam memahami teks suci sebagai pedoman utama dalam kehidupan beragama. Ada yang disebut sebagai kaum tekstualis atau kaum fundamentalis. Mereka adalah orang yang memahami agama sebagaimana bunyi teksnya. Jika Allah digambarkan di dalam Alqur’an memiliki wajah maka di dalam pemahamannya bahwa Allah itu berwajah. Jika Allah itu bertangan maka Allah juga bertangan. Tetapi yang mendasar kaum tektualis tersebut lalu menjadi fundamentalis yang beranggapan bahwa orang yang berbeda dengan keyakinannya dianggap sudah bukan lagi sebagai orang Islam.

Lalu ada kaum kontekstualis atau kaum moderat, yaitu kelompok yang memahami atas Alqur’an dengan cara tidak hanya melihat teksnya tetapi juga konteksnya. Jika dinyatakan bahwa Tuhan itu berwajah maka yang dimaksud bahwa Tuhan itu ada di mana-mana sesuai dengan kekuasaannya. Tuhan itu tidak menempati tempat tertentu, misalnya arasy, sebab tentu tidak ada tempat yang dapat menampung dzat Tuhan Yang Maha Agung. Jika ada tempat yang menjadi tempat Tuhan berarti ada yang lebih besar dari Tuhan. Jika Tuhan digambarkan memiliki tangan, maka tangan itu berari kekuasaan. Bukan tangan dalam gambaran manusia. Dipastikan bahwa Allah itu Maha Kuasa dengan kekuasaannya.

Kemudian juga ada kaum liberalis atau kelompok yang bebas untuk bertuhan atau tidak bertuhan.  Semau-maunya. Tentu kala bertuhan juga dengan alasannya dan jika tidak bertuhan juga dengan alasannya. Bisa menjadi theis atau atheis. Bisa juga menjadi agnostic. Orang yang ragu-ragu atas keberadaan Tuhan yang akhirnya justru berpeluang lebih besar untuk tidak meyakini keberadaan Tuhan. Dewasa ini orang yang semakin atheis semakin banyak. Di Eropa, misalnya Belanda, Swedia, Jerman, Perancis, Spanyol, Inggris dan lain-lain, maka orang  yang mempercayai keberadaan Tuhan kurang dari 30 persen. Sementara itu di Italia tinggal 50 persen. Beruntung di Indonesia masih 97 persen yang percaya Tuhan.

Meskipun manusia itu atheis atau tidak meyakini keberadaan Tuhan, namun jika mereka terkena musibah atau penderitaan, dalam banyak hal lalu percaya atas keberadaan Tuhan. Mereka akan menyebut “Oh my God”, atau “Ya Tuhan”, dan lain-lain. Di dalam dunia psikhologis digambarkn bahwa di kala orang sedang dalam mara bahaya, maka yang pertama disebut bukan keluarganya tetapi Tuhan.

Wallahu a’lam bi al shawab.

BERDZIKIR DALAM ISLAM

BERDZIKIR DALAM ISLAM

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Di dalam Alqur’an sebagaimana pedoman utama dalam ajaran Islam ada banyak ungkapan yang menunjukkan tentang keutamaan dzikir. Di dalam konteks ini, dzikir diartikan sebagai upaya untuk membaca kalimat thayyibah sebagaimana diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW dan diteruskan oleh para ulama sebagai pewaris para Nabi. Ada banyak jenis ucapan di dalam kalimat thayyibah, misalnya la ilaha Illallah, Allahu Akbar, Subhanallah, Alhamdulillah, Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad, Ya hayyu Ya Qayyum, Ya Lathif, Ya Jalal Ya Qahhar, Ya Rahman Ya Rahim dan sebagainya.

Dzikir secara bahasa berarti mengingat. Dari akar kata dzakara atau mengingat. Makanya berdzikir kepada Allah berarti mengingat akan keberadaan Allah. Berdzikir itu tidak sama dengan berpikir. Artinya bahwa jika berpikir menggunakan kemampuan otak atau akal atau rational intelligent, maka berdzikir itu ada kaitannya dengan perasaan, hati atau qalbun. Makanya sumber dzikir adalah hati. Kata mengingat itu sudah melampau proses kesadaran. Berdzikir itu memanggil kembali atas hal-hal yang pernah diketahui atau dipahami dan sudah bersemayam di dalam gudang inderawi atau sensory storage, lalu pada suatu saat dipanggil kembali.  Di dalam sensory storage itu  terdapat jutaan konsep atau kata atau relasi antar konsep, kata, fakta dan realitas yang saling terhubung secara sistemik.

Dari perluasan makna, maka kata tadzakkarun juga dimaknai mengambil pelajaran. Kata mengambil pelajaran memiliki keterkaitan dengan mengingat. Mengambil  pelajaran berarti atas sesuatu yang sudah dipahaminya atau diketahuinya. Dengan memahami dan mengetahui maka akan dapat mengambil pelajaran. Orang bisa mengambil pelajaran jika yang bersangkutan menyadari atas apa yang menjadi kesadarannya.

Di dalam surat An Nahl ayat 17 dijelaskan: ”afamay yakhluqu kamal la yakhliqu afala tadzakkarun”, yang artinya: “Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa), maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran.” Ayat ini sesungguhnya merupakan cara Allah untuk mengingatkan kepada kaum musyrik tentang perilaku mereka dalam menyembah berhala. Mereka yang menciptakan berhala dan kemudian disembahnya. Di sini Allah mengajarkan bahwa yang seharusnya disembah adalah Dzat yang Maha Pencipta, bukan benda-benda yang tidak dapat menciptakan apa-apa.

Dengan menggunakan logika, maka tidak mungkin manusia menyembah berhala yang diciptakannya. Mestinya berhala yang menyembah manusia yang menciptakannya. Jika diperdalam, maka manusia tidak jadi atau eksis dengan sendirinya, alam juga tidak terjadi dengan sendirinya, alam yang teratur dalam perjalanannya dipastikan ada Dzat yang Maha Kuasa untuk menciptakannya. Ada creator yang Maha Tahu dan Maha Kuasa untuk menciptakan keteraturan alam. Kecanggihan  penciptaan manusia dan kecanggihan dalam menjaga bagaimana agar alam berjalan sesuai dengan kodratnya merupakan obyek yang diciptakan oleh subyek yang hebat tak tertandingi. Tidak mungkin keteraturan terjadi dengan tiba-tiba tanpa ada yang menciptakannya. Ada kebenaran dari hipotesis tentang “The Supreme Being” atau “agen utama penciptaan alam” atau “ada akal sempurna sebagai pencipta alam semesta”.

Di dalam ayat di atas dijelaskan bahwa tidak sama antara yang dicipta dan mencipta.  Di dalam berbagai cerita tentang kenabian, maka dapat dipahami bahwa pada saat manusia berada di dalam masa yang jauh dari Nabi sebagai penyebar ajaran agama, maka manusia lalu membuat kreasi untuk menciptakan berhala-berhala yang disembahnya. Mereka menyatakan bahwa berhala adalah lambang atau symbol Tuhan. Mereka menyembah simbolnya dan bukan menyembah atas hakikat Tuhannya. Bagi mereka berhala adalah lambang Tuhan di dunia, sehingga mereka menyembahnya. Berhala dibuat oleh ahlinya, dan kemudian ditempatkan di suatu tempat yang dianggap sacral lalu disembahnya.

Fir’aun menciptakan patung dirinya untuk disembah oleh masyarakatnya. Fir’aun adalah Tuhan dan patungnya adalah simbolnya. Sama dengan Namrudz yang mengaku dirinya Tuhan, dan kemudian ahli patung diminta untuk membuat patungnya dan masyarakat dipaksa menyembahnya. Di dalam cerita tentang Nabi Ibrahim, maka ada patung besar dan patung-patung kecil, semua ditempatkan di tempat yang dianggap suci dan kemudian mereka melakukan upacara keagamaan di tempat tersebut. Kala patung yang kecil dirusak oleh Nabi  Ibrahim AS, maka Ibrahim AS menyatakan bahwa yang merusak patung kecil adalah patung yang besar, maka mereka beranggapan bahwa patung tidak dapat merusak lainnya. Jadi, sesungguhnya mereka paham dan mengerti bahwa patung tidak dapat melakukan apapun. Akan tetapi karena doktrin yang dipaksakan atas masyarakat maka mereka melakukannya.

Afala tadzakkarun sesungguhnya merupakan teguran Allah kepada manusia agar bisa memahami dan belajar atas berbagai realitas social yang ada di sekelilingnya. Ayat ini secara spesifik memberikan pemahaman kepada manusia agar bisa membedakan antara yang benar dan yang salah. Antara yang rasional dan tidak rasional. Antara yang haq dan bathil. Manusia dengan akal dan rasio yang dimilikinya selayaknya bisa membedakannya. Dari pembelajaran atas akal tersebut maka akhirnya dapat dijadikan sebagai pencerahan batin. Dari pencerahan pikiran ke pencerahan batin. Sebuah system yang diciptakan oleh Tuhan hanya untuk manusia dan bukan untuk makhluk lainnya.

Wallahu a’lam bi al shawab.