• June 2026
    M T W T F S S
    « May    
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    2930  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

GOLONGAN PARA PECINTA NABI MUHAMMAD SAW

GOLONGAN PARA PECINTA NABI MUHAMMAD SAW

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Sebagaimana biasa,  pengajian di Masjid Al Ihsan yang dilakukan pada Hari Selasa, 27/08/2024 menghadirkan suatu tema yang kiranya cukup menarik, yaitu tentang penggolongan social religious yang terkait dengan Nabi Muhammad SAW. Apalagi dewasa ini sedang riuh rendah pembahasan tentang para habaib yang lagi menuai kritik dari para pengkaji nasab.

Ada tiga hal yang saya sampaikan pada pengajian pada Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) kali ini, yaitu: pertama, tentang pentingnya terus bersyukur kepada Allah karena kenikmatan spiritual yang terus kita dapatkan. Rasanya kita semakin berumur tetapi berkat adanya tempat ibadah, maka kita menjadi semakin religious. Tiap waktu yang memungkinan kita dapat melakukan  shalat jamaah di masjid, tiap pagi kita bisa  membaca Alqur’an meskipun satu surat, Surat Al Waqi’ah, dan juga bisa tahsinan untuk memperlancar bacaan kita tentang Alqur’an dan sekaligus juga penjelasan-penjelasan sekedarnya tentang arti dari ayat-ayat yang kita baca.

Di masa kita masih muda,  kita sibuk dengan bekerja dan bekerja, mencari rizki yang dijanjikan Tuhan, menemukan rezeki untuk keluarga dan sebagainya. Semuanya kita lakukan bahkan untuk beribadah itu waktu dan ruangnya menjadi sempit. Rasanya. Tetapi seirama dengan semakin bertambahnya usia, maka kita semakin merasa berdekatan dengan Tuhan. Dan kita juga bersyukur, karena masyarakat Indonesia itu semakin religious dibandingkan dengan masyarakat Eropa atau Amerika. Kita merupakan bangsa yang paling tinggi kepercayaannya kepada Tuhan yang Maha Esa.

Kedua, islam memang mengenal penggolongan social. Di dalam Alqur’an dijelaskan tentang sesungguhnya Allah menciptakan manusia lelaki dan perempuan, berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, yang semuanya agar saling mengenal. Namun demikian, yang terbaik di antara manusia adalah yang paling bertaqwa. Sebagaimana  tercantum di dalam Surat Al Hujurat, ayat 13. Ada tiga konsep yang kita tahu dari ayat ini, yaitu konsep lelaki dan perempuan,  penggolongan berdasarkan jenis kelamin. Lalu ada penggolongan social berbasis pada kebangsaan dan kesukuan atau kabilah serta ketaqwaan kepada Allah.

Maka dikenal ada Bangsa Arab, ada Bangsa Persia, ada Bangsa Palestina, ada Bangsa Yahudi, ada Bangsa Eropa, Bangsa Amerika dan sebagainya. Bangsa Amerika juga terdapat Bangsa Amerika Utara, dan Amerika Selatan atau Amerika Latin. Dikarenakan adanya suatu wilayah kenegaraan, maka kemudian dikenal penyempitan wilayah kebangsaan, misalnya bangsa Arab lalu dikenal ada Bangsa Arab Saudi, Bangsa UAE, Bangsa Qatar, dan sebagainya. Bangsa atau Bani Israel juga dikenal ada Bangsa Samaria, Bangsa Yahudi dan Bangsa Azkenazi. Di Eropa juga dikenal ada Bangsa Inggris, Bangsa Perancis, Bangsa Belanda, Bangsa Spanyol dan sebagainya. Konsep kebangsaan dikaitkan dengan negara secara administraif dan kewilayahan atau geografis.

Setiap bangsa kemudian memiliki bahasanya sendiri-sendiri. Misalnya ada Bahasa Persia, ada Bahasa Yunani, Ada Bahasa Sansekerta, Bahasa Arab, Bahasa Inggris, Bahasa Perancis, Bahasa Spanyol dan seteresnya. Mereka mengembangkan bahasanya sendiri-sendiri. Tetapi ada rumpunnya masing-masing. Misalnya rumpuan Bahasa Ibrani yang menjadi induk dari Bahasa di Timur Tengah, Bahasa Sansekerta yang berada di dalam rumpun Bahasa  Persia, India, Pakistan dan sebagainya, lalu rumpun Bahasa Inggris yang terkait dengan bahasa-bahasa di Eropa dan sebagainya.

Ketiga,  dari penggolongan berbangsa-bangsa dan berkabilah-kabilah tersebut kemudian dikenal ada penggolongan social religious yang terkait dengan Nabi Muhammad SAW. Mereka dapat dinyatakan sebagai pecinta Rasulullah, dalam konteks sebagai dzurriyah Rasul dan  pecinta ilmu dari Rasulullah SAW. Ada beberapa penggolongan lagi terkait dengan para pecinta Rasul, yaitu: kaum syiah. Kita tetap harus meyakini bahwa Syiah adalah salah satu penggolongan religious di dalam Islam. Ada yang disebut sebagai penggolongan sebagai ahlu sunnah wal jamaah, dan golongan habaib atau para habib.

Mari kita bahas tentang Syiah secara selintas. Syiah merupakan bagian dari umat Islam. Yang merasakan bahwa mereka adalah orang orang-orang yang menjadikan dirinya sebagai bagian dari keturunan Ali dan Hussein. Mereka menyebar ke dalam berbagai wilayah tetapi yang paling banyak berada di Iran. Syiah itu terdiri berbagai sekte. Ada yang benar dan ada yang menyimpang dari perspektif tafsir ahlu sunnah wal jamaah. Misalnya yang menyimpang adalah Syiah Rafidhah, yang lebih mengutamakan Ali dibanding Nabi Muhammad. Tetapi juga ada Syiah yang ajarannya nyaris  sama dengan Islam Sunnah wal jamaah. Yang berbeda  dalam hal imamah.

Kemudian ada golongan habaib yang berada dalam koridor Islam ahlu sunnah wal jamaah. Mereka adalah golongan yang merasa sebagai keturunan Rasulullah. Dzurriyah Nabi Muhammad SAW. Golongan ini merasa sebagai keturunan fisikal Nabi Muhammad SAW. Mereka sekarang sedang diuji dengan temuan-temuan nasab yang tidak sebagaimana keyakinan mereka, bahwa mereka dianggap keturunan kaum Yahudi. Test DNA yang secara ilmiah akan memberikan jawaban atas mereka ini sesungguhnya keturunan siapa. Haplogroupnya ada dikaitkan dengan Yahudi Azkenazi, kaum Yahudi yang berasal dari Kaukasus di Eropa Tengah, yang kemudian hijrah ke seluruh daratan Eropa dan kemudian pada zaman Hitler mereka terusir dari wilayahnya dan kemudian pada tahun 1948 mendirikan Negara Israel atas prakarsa Amerika dan Inggris.

Kemudian golongan Islam ahlu sunnah wal jamaah non habaib. Mereka adalah orang-orang Islam yang secara kultural selalu mendawamkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW melalui berbagai ritual yang dilakukannya. Misalnya membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Di Indonesia dikenal sebagai umat Islam Ahlu Sunnan wal Jamaah, yang mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW melalui madzab empat (Imam Syafi’I, Imam Hambali, Imam Hanafi dan Imam Maliki) atau juga umat Islam yang tidak menjadikan imam-imam madzab sebagai panutan tetapi mengamalkan ajaran Islam yang relevan dengan ahli sunnah.

Masing-masing penggolongan bisa berbeda sesuai dengan aspek teologis berdasarkan madzab ulama masa lalu, atau aspek ritual atau ibadah sesuai dengan imam madzab atau ulama di masa lalu dan dimensi relasi social yang sesuai dengan prinsip-prinsip ajaran Islam yang diyakininya. Akan tetapi sekali lagi, bahwa cara kita beragama itu adalah berdasarkan atas tafsir yang dilakukan oleh para ulama di masa lalu, maupun sekarang.

Hal ini semata-mata karena kita tidak bisa mengakses langsung atas ajaran agama yang benar-benar sesuai dengan amalan Rasulullah. Melalui pemahaman beragama seperti ini maka tidak akan melahirkan pemahaman dan prilaku beragama yang hanya membenarkan dirinya sendiri,  akan tetapi juga mengakui bahwa ada yang bisa berbeda dengan tafsir agamanya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

IMAN DAN AMAL SALEH: IDAMAN KAUM MUSLIMIN

IMAN DAN AMAL SALEH: IDAMAN KAUM MUSLIMIN

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Setiap jum’at pagi, para jamaah shalat Shubuh yang tergabung dalam Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) selalu melantunkan bacaan Surat Al Kahfi. Acara ini sudah berjalan selama lebih kurang tiga tahun. Bacaan secara tartil atas Surat Al Kahfi dipimpin oleh Ustadz Alief Rifqi dan sebelumnya dipimpin oleh Ustadz Zamam dan Ustadz Firdaus. Mereka adalah para khafidz yang diberi amanah untuk menjadi imam shalat rawatib di Masjid Al Ihsan, Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya.

Surat Al Kahfi, secara umum bercerita tentang tokoh-tokoh historis sebagaimana diabadikan di dalam berbagai Kitab Suci, seperti Taurat, Injil dan Alqur’an. Agama-agama Semitis yang berada di dalam satu keturunan Nabi Ibrahim AS ini memang memiliki banyak kesamaan meskipun juga banyak perbedaan. Ada sisi yang sama misalnya kaitannya dengan sejarah-sejarah Nabi-Nabi meskipun ada titik tertentu yang membedakannya. Tokoh yang diceritakan adalah tentang tujuh pemuda yang ditidurkan di dalam gua selama ratusan tahun, tentang Nabi Musa dan Nabi Harun, Nabi Khidhir, Dzul Qarnain, Ya’juj dan Ma’juz, Nabi Isa  dan lain-lain. Mereka adalah tokoh-tokoh sejarah yang keberadaannya dapat dibenarkan berdasarkan atas komparasi teks yang terdapat di dalam agama-agama Semitis.

Saya tentu tidak akan membahas secara ilmu tafsir, sebab ini bukan keahlian saya, dan saya hanya akan membahas tentang penjelasan atas tarjamah di dalam akhir Surat Al Kahfi, yang saya rasa sarat dengan informasi kebaikan atau khabar fil khair atau tabsyir dan bukan tandzir atau peringatan. Akhir Surat Al Kahfi memberikan gambaran tentang orang yang berbahagia karena bisa berjumpa dengan Allah SWT di dalam akhirat.

Bunyi teks tersebut, pada Surat Al Kahfi, ayat 110, adalah sebagai berikut: qul innama ana basyarum mislukum yuha ilayya annama ilahukum ilahuw wahid. Fa man kana yarju liqa’a rabbihi fal ya’mal amalan shalihan wa la yusrik bi’ ibadihi rabbihi ahadan.”  Yang artinya: “Katakanlah (Muhammad) sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha esa. Maka barang siapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah menyekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya”.

Ayat ini memberikan gambaran tentang tiga  hal, yaitu: pertama, penjelasan kepada umat manusia bahwa Nabi Muhammad SAW adalah manusia sebagaimana kita semua. Secara fisikal Nabi Muhammad adalah manusia dengan sifat fisik kemanusiaan. Nabi perlu makan, minum dan memenuhi hasrat seksualnya. Hanya semuanya dilakukan atas wahyu Allah, tidak mengikuti hawa nafsunya, sebagaimana manusia pada umumnya. Nabi dikendalikan oleh wahyu Allah yang terus mengikuti dan mengontrolnya. Semua yang dilakukan secara fisikal oleh Nabi Muhammad merupakan wahyu yang hidup di dalam diri Muhammad SAW.

Kedua,  wahyu Allah kepada Nabi Muhammad merupakan wahyu agar orang bertauhid kepada Allah SWT. Manusia diajarkan agar tidak mensyarikatkan, menduakan, atau mentigakan, atau menjamakkan, bahwa ada ilah lain selain sifat ahadiyahnya sendiri. Allah itu Maha Esa, atau Maha Tunggal. Di dalam Bahasa Jawa disebut sebagai Sang Hyang Tunggal. Dia ini bukan Dewa, tetapi yang berstatus di atas para Dewa. Huwallahu ahad, Dia yang Maha Esa. Kata Esa tidak bisa diterjemahkan ke dalam kata Satu. Sebab kata Satu masih bisa dipecah-pecah. Tetapi Esa atau Tunggal adalah dzat yang tidak dapat dipilah dalam bentuk dan bilangan apapun. Sang Hyang Tunggal adalah Yang Mencipta, Yang Memelihara dan juga Mengakhiri Ciptaannya. Tuhan yang menciptakan manusia, memelihara dan mematikannya. Tuhan yang menciptakan tumbuhan, memelihara dan mematikannya. Dan seterusnya.

Ketiga, keinginan bertemu Allah di alam akherat. Sebagai umat Islam sangat pantas jika kita ingin berwawan wajah dengan Allah. Semua umat Islam yang menjalankan agamanya dengan baik tentu berkeinginan seperti itu. Allah melalui Nabi Muhammad SAW memberikan persyaratannya, yaitu dipersyaratkan untuk melakukan amalan shalihan atau amal shaleh atau amal kebajikan. Bagi orang yang berbuat baik, maka Allah menjanjikan akan dapat bertemu dengan-Nya di alam akhirat. Ada banyak sekali amal kebaikan tersebut, tetapi yang sangat baik adalah amal shaleh yang dilakukannya dengan keikhlasan dan penuh dengan kesyukuran. Bukan amal baik yang kemudian disebarkan ke mana-mana agar orang mengaguminya. Amal itu hanya untuk Allah semata untuk memperoleh ridhonya Allah semata. Selain itu yang mutlak adalah mengesakan Allah SWT. Perbuatan baik berada di dalam kerangka keimanannya kepada Allah.

Allah menegaskan bahwa jika kita ingin bertemu dengan-Nya maka persyaratannya adalah beramal yang baik dan tidak menyekutukannya. Jadi jangan ada sebiji dzarrahpun di dalam hati kita untuk menyekutkan Allah SWT.

Wallahu a’lam bi al shawab.

BERIMAN DAN  BERBUAT BAIK: SEBUAH SISTEM

BERIMAN DAN  BERBUAT BAIK: SEBUAH SISTEM

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Iman atau keyakinan itu kunci dan amal shaleh atau perbuatan baik adalah akibat yang dikaitkan dengan iman atau keyakinan di dalam agama. Iman saja tidak cukup dan amal kebaikan saja juga tidak cukup. Keduanya adalah berkait kelindan secara sistemik. Iman adalah dasarnya dan amal kebaikan adalah akibatnya. Oleh karena itu sering menjadi perdebatan, apakah orang yang beriman sudah memenuhi standart keislaman atau hanya amal kebaikan sudah menjadi standart keislaman.

Bagi penganut Islam, maka keduanya harus berada di dalam satu kesatuan. Tidak boleh hanya memahami dan melakukan salah satunya. Islam yang kafah bagi saya adalah orang Islam yang memahami keduanya dalam satu kesatuan. Iman yang benar, bil lisan, bil qalbi dan bil fi’li adalah iman yang benar. Lesan kita menyatakan amantu bil lisani, hati kita menyatakan amantu bil qalbi dan amalan kita menyatakan amantu bil fi’li. Jika ini yang terjadi maka sesungguhnya kita sudah berada di dalam keislaman yang benar.

Kata iman terdapat sebanyak 956 kali disebutkan di dalam Alqur’an. Sedangkan iman dan amal shaleh disebutkan sebanyak 60 kali di dalam Alqur’an. Kata iman dan perubahannya disebutkan sebanyak 31 kali. Artinya bahwa ada banyak ayat di dalam Alqur’an yang menyebutkan tentang Iman dan juga amal saleh. Jika dipertanyakan mengapa kata iman itu ada banyak jumlahnya di dalam Alqur’an tentu saja dapat dikaitkan dengan iman sebagai fundamental issue di dalam Islam. Iman adalah kata kunci untuk memahami Islam. Tanpa iman maka seluruh amal perbuatan kita yang terkait dengan kebaikan tentu akan tertolak.

Memahami bahwa iman juga dikaitkan dengan amal shaleh juga dapat diartikan bahwa iman merupakan inti dari amal shaleh. Secara teologis dapat dijelaskan bahwa ada orang yang memiliki perbuatan baik bahkan sangat baik, akan tetapi berbasis pada keimanan yang salah atau tidak sesuai dengan prinsip ajaran Islam, maka amalnya itu menjadi sia-sia. Tidak ada gunanya. Ini pandangan teologis yang tidak bisa ditawar.

Semua agama di dunia memiliki pandangan yang sama. Yaitu doktrin kemutlakan kebenaran agama. Yahudi, Katolik, Kristen, Hindu, Budha dan Konghucu, bahkan agama-agama local juga berkeyakinan bahwa iman dan perbuatan baik merupakan satu kesatuan.  Iman kepada Allah dalam agama Nasrani juga mengikat kepada umatnya, Allah dalam agama Islam juga mengikat umatnya, Yahweh dalam agama Yahudi juga mengikat umat, demikian pula Hindu dan Buddha serta Khonghucu. Semuanya mengikat atas umatnya. Jadi ukuran iman adalah bagaimana seseorang meyakini akan keberadaan atas yang dianggap suci atau Tuhan yang dilafalkan dalam Bahasa yang berbeda sesuai dengan keyakinannya.

Semua orang Islam di seluruh dunia meyakini Allah sebagai rabb atau ilah. Sebagai rabb artinya Tuhan yang mencipta, memelihara, mengatur atas kehidupan manusia dan tata surya yang teratur dan berlaku seirama dengan kehendak Tuhan. Kemudian juga Tuhan dalam konteks ilah atau pusat sesembahan. Manusia akan meyakini akan eksisteni Tuhan dalam konteks sesembahan dan pengaturan.

Di dalam Islam, misalnya di dalam Surat An Nisa’, ayat 173, sebagai berikut: “fa ammal ladzina amanu wa ‘amilush shalihati fayuwafihim ujurahum wa yazidhum min fadhlihi, wa ammal ladzinasytankafu was takbaru fayu’adzibuhum ‘adzaban alima wa yazidu lahum min dunillahi waliyyau wa la Nashira”, yang artinya; “Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, Allah akan menyempurnakan pahala bagi mereka dan menambah sebagian dari karunianya. Sedangkan orang-orang yang enggan (menyembah Allah) dan menyombongkan diri, maka Allah akan mengadzab mereka dengan adzab yang pedih. Dan mereka tidak akan mendapatkan pelindung dan penolong selain Allah”.

Coba kita perhatikan kandungan ayat ini dengan menggunakan kata-kata kuncinya. Menurut saya ada empat kunci penting, yaitu iman dan amal shaleh. Keduanya merupakan inti dari ajaran Islam. Siapapun yang memiliki keduanya, maka dia akan dijamin untuk menjadi orang yang memperoleh rahmatnya Allah SWT. Inilah yang menjadi kata kunci berikutnya yaitu kesempurnaan pahala. Artinya bahwa semakin iman kepada Allah dan semakin baik amal perbuatannya, maka akan semakin besar peluangnya untuk memperoleh kesempurnaan pahalanya. Kata kunci berikutnya adalah enggan menyembah Allah dan menyombongkan diri di hadapan Allah, maka akan besar peluangnya untuk untuk memperoleh adzab Allah SWT.

Jika dibuat gambarannya maka iman dan amal shaleh bersepadan dengan karunia dan pahala Allah, sedangkan keengganan menjalankan ritual yang sesuai dengan ajaran agama dan menyombongkan diri di hadapan Allah SWT maka bersearah dengan adzab yang pedih. Orang yang melakukan kesombongan seperti ini, maka Allah tidak akan menjadi penolongnya.

Sebagai contoh manusia yang sombong adalah Fir’aun, yang merasa karena besarnya kekuasaan yang dimilikinya lalu manusia di bawah kekuasaannya harus menyembahnya layaknya menyembah Allah SWT. Akhirnya, Fir’aun ini meninggal di laut kala mengejar Nabi Musa AS. Demikian pula Raja Namrud yang juga menganggap dirinya Tuhan, dia menikahi ibunya sendiri dan akhirnya mati hanya karena seekor nyamuk yang masuk ke dalam kepalanya. Konon dia berada di dalam kesakitan selama 400 tahun lamanya. Dia meninggal karena kepalanya dibenturkan dengan benda keras.

Dengan demikian, orang yang beriman dan beramal shalih akan memasuki surganya Allah sedangkan orang yang ingkar kepada Allah dan menyombongkan diri akan masuk ke dalam nerakanya Allah.

Wallahu a’lam bi al shawab.

LIMA CARA BERBAHAGIA

LIMA CARA BERBAHAGIA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Pagi ini, Selasa, 13/08/2024, anggota Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya memperoleh kehormatan yang sangat besar, sebab bisa mendengarkan ceramah atau taushiyah ba’da Shubuh yang disampaikan oleh Ustadz Sahid Sumitro, trainer terkemuka yang sering bicara tentang tema “Cinta, Bahagia dan Kehidupan Rumah Tangga”.

Ustadz Sahid adalah trainer yang malang melintang dalam dunia perusahaan, birokrasi dan lembaga-lembaga pelayanan public. Di antara keistimewaaanya adalah menggabungkan unsur agama, psikhologi dan realitas social yang dihadapi oleh individu dan masyarakat. Ustadz Sahid mengembangkan pemikiran Martin Seligment, ahli psikhologi positif dari Amerika, dalam membahas tentang cara memperoleh kebahagiaan.

Ada tiga hal yang disampaikannya, yaitu: pertama, semua orang sebenarnya memiliki potensi untuk bahagia. Akan tetapi kenyatannya tidak semuanya bisa memperoleh kebahagiaan. Bahkan hanya sekitar 10 persen saja yang bisa meraih kebahagiaan sementara 90 persen lainnya belum tentu bahagia. Tetapi kita sungguh bersyukur bahwa kita bisa mendapatkan suasana untuk mendukung kebahagiaan tersebut. Misalnya dengan mengikuti Ngaji Bahagia, yang persyaratannya harus tertawa sebanyak 17 kali. Di dalam otak manusia ada unsur kebahagiaan. Jika diperhatikan unsur kebahagiaan tersebut berada di kening di antara dua alis atau eyebrow. Makanya orang India memberikan tanda khusus tempat kebahagiaan bersemayam. Jika diluruskan,  arah  alis ke dalam itu ada unsur kebahagiaan di dalam otak manusia.

Kedua, ada empat aspek yang membuat kebahagiaan, yang dapat disingkat dengan PERMA. Jangan ditambah dengan S di depan kata itu. Ada empat huruf yang membentuk kebahagiaan. P adalah positive emotion atau perasaan yang selalu positif. Janganlah berpikir negative tentang segala sesuatu. Berpikirlah yang positif agar kita dapat memperoleh emosi yang positif. Salah satu cara untuk memperkuat emosi yang positif adalah selalu bersyukur kepada Allah SWT. Jangan pernah menyatakan saya sebenarnya senang tetapi karena sesuatu hal lalu menjadi berkurang kesenangan saya. Tetapi gunakanlah kata “meskipun ada yang kurang dari hasil yang kita dapatkan, akan tetapi saya tetap senang karena acaranya sukses”. Meskipun keuntungan kita minim, tetapi alhamdulillah kita tidak rugi, kita tetap senang. Syukur atas nikmat Allah SWT yang luar biasa.

E adalah engagement atau kedekatan. Kita harus merasa dekat dengan yang Maha Pencipta, kita harus merasa dekat dengan Nabi Muhammad SAW. Kita merasa dekat dengan guru-guru, kita merasa dekat dengan orang tua. Kita merasa dekat dengan istri dan anak-anak. Coba kita tanyakan kepada orang tua, apa yang sesungguhnya menjadi keinginannya. Jika kita bertanya sambil lalu, maka akan dinyatakan: “aku sudah senang melihat anak-anak semua berkecukupan dan rukun”. Jawaban yang normative. Tetapi ketika ditanya dari  hati ke hati, maka akan diperoleh jawaban: “sebelum aku meninggal saya ingin melihat ka’bah. Saya akan sangat bahagia kalau hal itu terjadi”. Maka anak-anaknya berusaha bagaimana agar orang tuanya bisa ke Ka’bah.

R adalah relevance atau cocok atau sesuai dengan apa yang kita inginkan. Jika kita ingin mendapatkan rejeki yang halal, lalu kita dapatkan, maka apa yang menjadi keinginan dan apa yang kita dapatkan akan sesuai. Hal ini akan membuat kebahagiaan. Salah satu di antara kuncinya adalah komunikasi. Dengan komunikasi yang baik, maka hidup kita akan relevan dengan siapa saja yang berhubungan dengan kita. Di dalam keluarga kita harus saling berkomunikasi dengan baik. Saling memuji dan saling menghargai. Perempuan itu memerlukan kehangatan. Perempuan itu memerlukan sentuhan fisik yang bisa membahagiakan. Jika kita mau pergi agar dicium keningnya, diajak bersalaman, dicium tangannya dan ungkapkan sesuatu yang manis yang membuat hati perempuan berbunga-bunga.

M adalah meaning atau hidup yang bermakna. Hidup akan terasa bermakna jika hidup kita dibutuhkan orang. Orang tidak membenci atas kehadiran kita. Orang tidak merasa bermasalah dengan hidup kita. Misalnya, jika di acara pengajian kita, lalu Pak Mulyanta tidak datang, maka ketidakdatangan Pak Mulyanta itu ditanyakan. Itu artinya kita merasa berada di dalam lingkungan komunitas yang saling membutuhkan. Islam mengajarkan agar kita saling berdoa untuk keselamatan. Islam itu agama yang luar biasa karena mengajarkan hambanya untuk saling menolong dalam kebaikan dan melarang untuk saling menolong dalam kejahatan dan keburukan.

A adalah achievement atau appreciation. Yaitu upaya untuk mensyukuri atas capaian siapa saja. Orang membutuhkan pengakuan akan keberhasilan.  Setiap manusia akan senang untuk dipuji karena keberhasilannya. Misalnya harus mengapresiasi atas masakan istri kita. Buatlah pernyataan yang mengakui kehebatan rasa masakannya. Jika anak kita prestasinya kurang baik, misalnya ranking 15 jangan disalahkan tetapi agar diapresiasi, misalnya dengan menyatakan: “tidak apa-apa peringkat 15, Bapak dulu di peringkat 16. Tetapi tahun berikutnya di peringkat tiga dan tahun berikutnya di peringkat satu”. Begitulah cara yang kita lakukan agar keluarga kita bahagia dan hal itu juga akan membuat kita bahagia. Kita juga harus mengapresiasi atas keberhasilan komunitas dan masyarakat kita, dan seterusnya.

Insyaallah dengan mengembangkan lima hal sebagaimana terurai di atas,  maka kita akan merasakan kebahagiaan sebagaimana yang kita inginkan. Sekali lagi bahwa kita memiliki potensi kebahagiaan dan yang bahagia itu sedikit. Jadilah yang sedikit tersebut di dalam kehidupan. Bahagia  sangat tergantung kepada nuansa kehidupan kita dan kita yang bisa merealisasikannya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

ANTARA WASHILAH DAN TAWASSUL

ANTARA WASHILAH DAN TAWASSUL

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Tema yang cukup berat dibahas di dalam Kamunitas Ngaji Bahagia (KNB) karena temanya menyangkut ajaran yang debatable di kalangan ahli dan kelompok agama. Ada pro-kontra tentang ajaran washilah dan tawassul. Tetapi menjadi relative lebih mudah karena saya tidak mengkajinya dari perspektif fiqih atau teologis akan tetapi dari dimensi sosiologisnya. Hal ini tentu karena  kapasitas saya bukan ahli fiqih yang rumit atau teologis yang sophisticated. Dari aspek sosiologis tentunya akan melihat pemahaman atau penjelasan yang bersifat pandangan dalam penggolongan social tentang washilah atau tawassul.

Ngaji Bersama itu dilaksanakan pada hari Selasa pagi Ba’da Shubuh, 06/08/2024, di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya. Pengajian ini diikuti oleh sejumlah jamaah Masjid dari Masjid Al Ihsan dan Masjid Ar Raudhah yang setiap hari Selasa ba’da Shubuh ngaji bareng. Tema ini dibahas untuk memberikan penjelasan tentang kata washilah dan tawassul yang selama ini sudah menjadi khazanah di dalam ilmu keislaman. Ada tiga hal yang saya jelaskan.

Pertama,  washilah berasal dari Bahasa Arab dalam akar kata washala dan kemudian menjadi isim washilah yang artinya adalah perantaraan atau jalan. Di dalam Al qur’an dijelaskan tentang kata washilah tersebut di dalam Surat Al Maidah 35, dengan ungkapan, yaitu: “ya ayyuhal ladzina amanut taqullaha  wabtgahu ilaihil washilata wa jahidu fi sabilihi la’allakum tuflihun”, yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah, carilah wasilah (jalan untuk mendekatkan diri) kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya agar kamu beruntung.

Kata washilah juga bisa dinyatakan sebagai perantara, misalnya terdapat di dalam doa yang dibaca setelah adzan dikumandangkan. “Allahuma rabba hadzihid da’watit tammah, wash shalatil qaimah, ati sayyidana Muhammadanil washilata wal fadhilah…”.  Yang artinya: “Ya Allah telah hadir berkumandang panggilan yang sempurna, dan  shalat yang didirikan, hadirkan junjungan Nabi Muhammad sebagai perantara dan keutamaan..”. Nabi Muhammad SAW adalah perantara untuk membangun relasi dengan Allah atau hablum minallah. Nabi Muhammad adalah perantara agung atau washilatul ‘udzma. Lewat perantaraan Nabi Muhammad maka kita dapat  menjadi hamba Allah yang bertaqwa.

Agar kita dapat berhubungan dengan benar kepada Allah,  maka sebaiknya memang relasi atau hablum minallah itu melalui Nabi Muhammad SAW. Kita menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai perantara kita kepada Allah. Ada pendapat yang menyatakan, bahwa Allah itu maha Gaib dengan kegaiban yang tiada taranya, maka yang memungkinkan kita dapat  berhubungan dengan Yang Maha Gaib adalah melalui utusannya. Nabi Muhammad SAW yang memiliki otoritas untuk berhubungan langsung dengan Allah SWT. Jika kita berhablum minallah melalui Nabi Muhammad, maka “peluang” untuk sampai kepada Allah itu lebih besar.

Kedua, tawassul berasal dari kata wassala atau berarti taqarrub atau mendekat kepada Allah. Dari kata wassala kemudian menjadi tawassul atau dapat diartikan sebagai pendekatan diri kepada sesuatu melalui perantaraan. Secara maknawi, tawassul berarti mendekatkan diri kepada orang agar mendapatkan kemudahan dalam sesuatu yang diinginkan. Jadi ada keinginan di dalam upaya pendekatan tersebut. Di dalam tradisi sebagian umat Islam, khususnya ahli tarekat, maka washilah diartikan sebagai mendekatkan diri kepada Allah melalui para guru atau mursyid tarekat agar apa yang dilakukannya itu menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kala berdzikir, misalnya dzikir tahlil baik sirri atau jahri, tersembunyi atau terucapkan, maka harus bertawassul kepada para guru atau mursyid tarekat. Diasumsikan bahwa para guru atau mursyid tarekat tersebut merupakan individu yang sangat dekat kepada Allah SWT sehingga apa yang dilakukannya itu menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Bisa juga dzikir yang dibacanya itu cepat sampai kepada Allah melewati para guru atau mursyidnya. Jika dilakukannya sendiri akan lama sampainya, akan tetapi dengan perantaraan gurunya, maka doa atau dzikir itu akan lebih cepat sampai kepada Allah SWT.

Di dalam washilah yang utama adalah orangnya atau perantaranya atau benda yang digunakan untuk menjadi perantaranya, sedangkan di dalam tawassul yang penting adalah apa yang akan diperlukan untuk diantarkan. Sebagai contoh yang paling sederhana adalah jika kita mendapatkan rezeki, maka perantaranya adalah pekerjaan yang kita lakukan. Jadi pekerjaan itulah yang menjadi washilah kita mendapatkan gaji atau rezeki. Hakikat pemberi rezeki adalah Allah SWT tetapi pekerjaan itulah yang mengantarkan kita mendapatkan rezeki dimaksud. Sementara itu tawassul adalah upaya untuk mendapatkan sesuatu sesuai dengan keinginannya melalui perantaraan lainnya.

Sebagai contoh lainnya, jika kita membaca Surat Alfatihah dengan harapan kita memperoleh berkahnya bacaan tersebut, maka ini dinamakan  tawassul dengan Alqur’an. Jika kita berkeinginan memperoleh keselamatan di yaumil qiyamah dengan membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, maka hal ini juga tawassul. Jadi di dalam tawassul dipastikan ada washilah, tetapi tidak semua washilah adalah tawassul.

Ketiga, di dalam Islam ada dua yang bisa menjadi washilah dengan otonomi memberikan syafaat kepada umat Islam, yaitu Nabi Muhammad SAW dan kitab suci Alqur’an.  Dengan demikian orang yang dapat menjadikan Nabi Muhammad dan Alqur’an sebagai penolongnya adalah orang yang mencintai Rasulullah, misalnya membaca shalawat kepada-Nya. Semakin banyak shalawat yang dibaca dengan keikhlasan dan kesungguhan, maka akan besar peluangnya untuk mendapatkan syafaat Rasulullah SAW. Itulah sebabnya ada orang yang melazimkan membaca shalawat dalam jumlah yang sangat banyak dengan tujuan mendapatkam syafaat Rasulullah SAW.

Kemudian juga membaca Alqur’an. Ada umat Islam yang hafal Alqur’an dan orang tersebut dijanjikan akan masuk surga dengan para Nabi-Nabi. Di dalam sebuah cerita yang disampaikan oleh Ustadz Abdul Shomad (UAS) dinyatakan bahwa ibunya ditanya oleh seseorang, apa doa yang dibacanya sehingga memiliki putra yang hebat, maka Ibunya menjawab bahwa setiap hari dibacakan surat Alfatihah 100 kali untuk anaknya tersebut. Hal ini menandakan bahwa bacaan Alqur’an bisa memiliki efek yang hebat, yang dapat diterima dampaknya di dunia dan juga kelak di akherat.

Wallahu a’lam bi al shawab.