• May 2026
    M T W T F S S
    « Apr    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

TRILOGI PAHAM DAN AMALAN MENUJU MUKHLISHIN

TRILOGI PAHAM DAN AMALAN MENUJU MUKHLISHIN

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Sungguh saya merasa sangat bahagia bertemu dengan Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) pada ngajii Selasanan di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya. Ngaji santai dan bergelak tawa yang menyenangkan, tetapi juga belajar memahami ajaran Islam dengan cara yang membahagiakan. Selasa, 14/05/2024 merupakan hari yang menyenangkan karena bisa bersama-sama mendalami ajaran Islam yang penting yaitu menjadi orang yang ikhlas, atau menjadi kaum Mukhlishin.

Ngaji Bahagia ini sudah menjadi brand image bagi komunitas ini. Akibatnya, baru datang saja tanpa ada pembicaraan apa-apa kita sudah tertawa bareng. Sungguh nuansa pengajian yang berbeda dengan lainnya. Yang dikaji adalah Islam tetapi dikemas dalam konten Islam happy atau Islam yang membahagiakan. Bukankah di era semakin menguatnya kehidupan yang meterialistis ini, seseorang memerlukan kehidupan yang happy, yang senang, yang membahagiakan. Dan Ngaji Bahagia merupakan medium untuk menjadi salah satu cara sublimasi untuk mendapatkan kebahagiaan.

Ada tiga hal yang saya bahas di dalam pengajian itu, yakni: pertama, mukhlish atau perbuatan ikhlas adalah perbuatan yang sudah dilakukan oleh seseorang dan di dalam tindakannya tersebut terdapat rasa menerima dan pasrah hanya kepada Allah semata. Bagaimana orang bisa pasrah dan menerima atas semua hal yang didapatkannya atau diperolehnya, maka kata kuncinya adalah iman kepada Allah. Semuanya bersumber dari adanya iman. Jika ada iman di dalam dada seseorang, maka semua perbuatan yang dilakukannya akan kembali kepada rasa iman dimaksud.

Iman menyangkut keyakinan bahwa tiada Tuhan selain Allah. La ilaha illallah. Di dalam keyakinan tersebut terdapat akal atau pikiran dan hati atau perasaan  dan kemudian mengejawantah di dalam tindakan. Makanya di dalam Alqur’an banyak ayat yang menggambarkan pasangan antara iman dan amal shalih. “Alladzina amanu wa ‘amilush shalihati falahum ajrun ghairu mamnun”. “Orang-orang yang beriman dan beramal shalih, maka baginya pahala yang tidak terhingga”.  Oleh karena itu, amal shaleh selalu dikaitkan dengan iman, sebab tidak akan menjadi amal shaleh jika tidak didasari oleh Iman. Sebab kebaikan yang tidak didasari  oleh iman bukanlah amal shaleh di dalam agama Islam. Jadi ukuran utamanya adalah iman kepada Allah SWT. Ada banyak orang yang disebut sebagai humanis. Orang yang berbuat baik. Namun demikian, perbuatannya itu tidak berpahala di dalam konteks Islam karena tidak didasari oleh Iman kepada Allah SWT.

Kedua, menerima. Di dalam Islam terdapat takdir yang berlaku untuk manusia. Saidun auw saqiyyun. Bahagia atau sengsara, senang atau susah, bersukaria atau berdukacita. Semuanya sudah ada catatannya. Di dalam Alqur’an dijelaskan: “kulla yushibana illa ma kataballahu lana, huwa maulana wa alallahi fal yatawakkalil mu’minun”. Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang sudah ditetapkan oleh Allah untuk kami. Dialah pelindung kami dan hanya kepada Allah orang-orang beriman harus bertawakkal”. (Surat Attaubah, 51).

Berdasarkan ayat ini, maka tidak ada sesuatu yang terjadi pada diri kita terkecuali semuanya sudah terdapat catatan atau takdir Allah SWT. Lalu jika semuanya ada catatannya berarti bahwa orang yang celaka atau memperoleh balasan neraka juga sudah terdapat catatan di dalam bukunya. Jadi terkesan Tuhan itu tidak adil, kenapa tidak semua manusia diberikan catatan yang baik, sehingga semuanya akan masuk surga. Terhadap catatan ini kiranya perlu mendapatkan perhatian. Allah memang memberikan catatan seseorang itu bahagia atau sengsara. Tetapi sesungguhnya Allah memberikan peluang untuk melakukan amalan yang shalihan. Nabi dan Rasul itu diturunkan kepada segenap umat manusia. Nabi dan Rasul diutus untuk memberikan pedoman kepada manusia berdasarkan wahyu yang diterimanya dari Allah SWT. Maka atas catatan tersebut, Allah tetap memberikan peluang bagi yang bersangkutan untuk memilih. Ibaratnya kita berada di persimpangan jalan dan tidak tahu jalan mana yang ditempuh. Maka ada petunjuk, jika lewat jalan ini akan selamat tetapi banyak rintangan, tetapi kalau lewat jalan yang satunya itu lebih mudah tetapi berujung ketidakselamatan. Manusia diminta untuk memilihnya. Bisa jadi orang yang catatannya sebenarnya jelek tetapi kemudian selamat dan ada orang yang catatannya baik tetapi akhirnya tidak selamat. Salah satu piranti untuk memahami tentang kepastian Tuhan tersebut adalah dengan sikap menerima. Di dalam filsafat Jawa disebut sebagai nerimo ing pandum. Diterima pemberian tersebut jika semuanya sudah diusahakan dengan usaha yang berisi kebaikan-kebaikan.

Ketiga, pasrah atau tawakkal yaitu upaya untuk memahami bahwa setiap usaha yang dilakukan tersebut selalu terkait dengan bagaimana takdir atau catatan atas yang dilakukan tersebut. Ada kalanya usaha tersebut berhasil dan ada kalanya tidak berhasil. Ada kalanya menyenangkan dan ada kalanya menyusahkan. Jika kita sampai pada tahapan ini, maka kita sudah sampai pada tahapan orang yang ikhlas. Di dalam filsafat Jawa disebut sebagai legowo atau menerima dan pasrah atas semua yang berlaku bagi dirinya. Legowo bukan hanya menerima tetapi juga pasrah atas ketentuan yang harus diterimanya.

Dengan demikian, trilogy keyakinan, nerimo dan legowo merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Tidak mungkin orang menerima dan pasrah jika tidak didasari oleh iman. Dan iman saja juga tidak cukup jika tidak dibarengi dengan sikap dan tindakan menerima dan pasrah atas segala ketentuan yang datang kepadanya. Dari semua itu, maka yang muncul adalah kata hikmah atau akibat dari hasil akhir perbuatan yang tidak disadari sebelumnya tetapi menjadi nyata adanya, dan yang lebih penting tidak merugikannya secara fisik atau batin, tetapi menguntungkan fisik dan batinnya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

IBADAH TRANSAKSIONAL

IBADAH TRANSAKSIONAL

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Saya semula menyatakan bahwa kebanyakan di antara kita di dalam beribadah lebih cenderung mengarah kepada perilaku untung rugi. Jadi pemikirannya lebih mengarah kepada pemikiran rasional semata. Jika untungnya banyak  dikerjakan, jika untung sedikit bisa ditinggalkan  dan jika tidak menguntungkan tentu tidak  dilakukan.

Sebagai contoh, jika pada bulan puasa, maka kuantitas ibadah kita cenderung meningkat. Bahkan meningkat luar biasa. Amalan-amalan sunnah nyaris semua dilakukan. Mulai dari shalat sunnah tarawih dan witir, dzikir atau wirid juga ditambah, jumlah bacaan shalawat  ditambah, lalu tadarrus Qur’an juga dilakukan secara lebih maksimal. Mengapa begini? Karena Allah akan melipatgandakan pahala orang yang melakukannya.

Lalu, ada seorang jamaah pada Komunitas Ngaji Bahagia (KNB), 07/05/2024, Namanya Pak Dr. Wardi yang nyeletuk menyatakan: “ibadah kita transaksional”. Ungkapan transaksional itu menarik, sehingga kata itu yang saya gunakan untuk menggambarkan cara orang beribadah yang hanya bertumpu pada pahala yang berupa surga. Jadi yang dicari adalah surga, yang dilambangkan sebagai tempat yang luar biasa, dengan berbagai kenikmatan yang bisa membuat seseorang menginginkannya. Bukankah manusia memang memiliki kecenderungan pada kenikmatan atau hedonis. Jadi, kalau kemudian manusia tergiur dengan surga tidak lain adalah keinginannya untuk memuaskan nafsu kenikmatan yang luar biasa tersebut.

Di dalam Alqur’an banyak dijumpai gambaran pahala yang akan diberikan kepada orang yang suka beribadah kepada Allah yang berupa surga. Surga itu digambarkan sebagai:  “jazauhum ‘inda rabbihim jannatu adnin tajri min tahtihal anhar”  (Surat Al Bayyinah: 8), yang artinya: “balasan mereka di sisi Tuhannya adalah surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai”. Mereka yang tergolong orang yang beruntung  disebut sebagai ashhabul  yamin, yaitu orang yang dijanjikan Allah akan menjadi ahli surga. Dinyatakan di dalam Alqur’an (Surat Al Waqiah, 27-30) : “wa ashhabul Yamini, ma ashhabul yamin, fi sidrim makhdhud wa thalhim mandhud wa dzillin mamdud wa main mashub, yang artinya: “dan golongan kanan, alangkah bahagianya golongan kanan itu. Berada di antara pohon bidara yang tak berduri, dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya), dan naungan yang terbentang luas”.

Bahkan juga gambaran ahli surga adalah: “usianya berkisar 33 tahun, yang masuk surga berwajah bersinar seperti bulan purnama, tidak buang air besar dan kecil, tidak ingusan, tidak meludah, dan keringatnya seperti minyak pewangi dan disediakan dua orang istri yang sangat putih bahkan tulang betisnya kelihatan,  dan tidak ada permusuhan. Selain itu juga bisa saling melihat dan memiliki rumah yang mewah. Mereka berkata dengan lemah lembut, dan hidup dalam kenyamanan, kedamaian dan kerukunan. (Rumah Zakat, 24/11/23).

Membaca dan menghayati atas gambaran ahli surga yang seperti itu tentu sangat pantas jika orang merindukan surga. Sebagai makhluk yang menyenangi kelezatan, kenikmatan, kenyamanan dan kedamaian, maka gambaran surga itu sungguh menakjubkan. Begitulah cara Allah mengajarkan kepada Nabi Muhammad SAW agar seseorang bercita-cita menjadi ahli surga. Sebuah ajaran moral yang sangat luar biasa untuk memberikan literasi religious betapa surga tersebut sangat menjajikan dan manusia dapat berada di sana selama amalan kebaikannya baik dan banyak.

Alqur’an sebagai pedoman utama di dalam ajaran Islam diturunkan pada masyarakat Arab yang kondisi geografis dan topografi kering kerontang, masyarakat banyak hidup nomaden karena mengikuti sumber air yang tersedia atau jika menetap tentu karena ketersediaan sumber bahan makanan dan minuman pada masa itu, sehingga Nabi Muhammad SAW banyak memberikan kabar gembira atau tabsyir agar masyarakat Arab mengikuti ajaran Islam. Misalnya digambarkan bahwa di dalam surga  terdapat air mengalir dari sungai-sungai, tumbuhannya menghijau, rumahnya indah-indah, bahkan juga kenikmatan syahwati yang tiada taranya. Semua itu menggambarkan bahwa ada konteks social pada zaman Nabi Muhammad dengan teks suci yang hadir pada mereka. Itulah sebabnya banyak ulama Arab yang kemudian mengagumi tanah Nusantara, sebab di mana-mana gambaran Alqur’an tentang geografis dan topografis bumi Nusantara itu sebagaimana gambaran di dalam Alqur’an. Pada zaman Presiden Soekarno, ada mufti Mesir dan Rektor Al Azhar University, Prof. Mahmud Syaltut, yang datang ke Indonesia dan menyatakan bahwa: “Indonesia adalah percikan surga di dunia”.

Oleh karena itu, jika banyak orang  yang memohon kepada Allah agar diganjar dengan surga tentu bukanlah sebagai kesalahan. Begitulah adanya. Namun demikian, yang sesungguhnya jauh lebih penting adalah seseorang memohon kepada Allah agar mendapatkan ridha-Nya. Melalui keridhaan Allah atas diri manusia tersebut, maka dipastikan manusia akan memperoleh surga-Nya.

Doa tertinggi kepada Allah adalah untuk memperoleh ridha Allah melalui jiwa yang tenang. Seseorang yang memilikinya maka dialah yang memperoleh ridha Allah yang kemudian berujung kepada jalan menuju surga. Jadi ada tiga  hal mendasar yaitu berdoalah untuk mendapatkan ridhanya  dan surganya Allah serta memohon agar terhindar dari api neraka.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

MENJADI FITRI MELALUI HALAL BIL HALAL

MENJADI FITRI MELALUI HALAL BIL HALAL

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Halal bil halal memang tradisi Indonesia. Tradisi ini tidak dijumpai di negara lain, kecuali di dalamnya terdapat komunitas Indonesia yang berada di negeri tersebut. Misalnya komunitas Indonesia di Singapura, Malaysia, bahkan di Hongkong atau Taiwan. Di Arab Saudi tentu tidak kita dapatkan. Di negeri minyak ini, tradisi seperti ini dianggap tidak memiliki basis pemahaman Islam sesuai dengan tafsir atas ajaran agamanya.

Tetapi jangan bertanya untuk masyarakat di Indonesia. Meskipun tidak memiliki basis paham fiqih yang tegas dan juga termasuk tradisi yang relatif baru, dilakukan awalnya pada tahun 1948, akan tetapi tradisi ini memiliki pijakan sosiologis yang kuat, karena masyarakat Indonesia yang bertradisi “guyub rukun” atau masyarakat paguyuban yang memang memiliki kecenderungan untuk makan-makan bersama atau kumpul-kumpul bersama. Tradisi halal bil halal merupakan tradisi asli Indonesia yang merupakan kelanjutan dari tradisi sebelumnya. Ibarat sebuah produk, maka casing baru dan substansi baru. Casingnya halal bi halal, dan substansinya saling memaafkan.

Di RT 05 RW 08, 09/05/2024 diselenggarakan acara halal bil halal. Acara ini dihadiri oleh Ketua RW 8, Pak Mulyanta, Ketua RT 05 Pak Wahyudi, Ketua RT 02, Pak Abdullah, dan sejumlah RT lain, ketua Takmir Masjid Al Ihsan, Pak Rusmin, Prof. Abdul A’la dan sejumlah anggota Komunitas Ngaji Bahagia (KNB), Pak Sahid, Pak Rahmad Lubis, Pak Hardi, Ustadz Firdaus, Ustadz Alief dan warga masyarakat di RT 05 Ketintang Surabaya.

Acara yang semarak karena sajian makannya yang bervariasi. Ada Soto, Nasi goreng, Mie goreng, dan tahu telor dengan aneka minuman seperti teh, kopi dan es kopyor. Asik juga menikmati makan bareng dengan warga setempat. Acara dikemas dengan sangat sederhana, hanya ada bacaan Alqur’an, sambutan RT dan RW dan taushiyah dan doa, saling bersalaman dan diakhir dengan makan bareng.

Saya diminta untuk memberikan sedikit saja uraian tentang makna halal bi halal dan juga doa. Sebagaimana biasanya, maka saya uraikan dalam waktu yang sangat singkat tentang makna halal bi halal. Pertama, halal bil halal adalah tradisi social religious. Sebuah tradisi yang khas Indonesia dengan memadukan antara peristiwa social dengan ajaran Islam. Peristiwa sosialnya adalah temu muka atau bermuwajahah sedangkan ajaran Islamnya adalah saling memaafkan atau saling bersilaturahmi satu warga dengan warga lainnya serta keluarganya. Tetapi yang jelas ada implikasi kebaikannya. Halal bil halal adalah memadukan antara kebiasaan masyarakat Nusantara untuk saling menyapa, bertegur sapa, saling memaafkan dan saling menyayangi.

Kita sudah menjalankan hablum minallah dengan menjalankan puasa, zakat dan shalat bahkan juga shalat sunnah selama satu bulan penuh dan insyaallah dosa-dosa kita semua diampuni oleh Allah. Kita sudah fitri secara keilahian. Tetapi kita masih memiliki kekhilafan yang disengaja atau tidak disengaja di hadapan sesama manusia. Di sinilah makna penting halal bi halal yaitu upaya untuk saling memaafkan. Sebagai orang perkotaan, maka kesibukan kita sangat tinggi, sehingga tidak bisa saling berkunjung rumah. Maka halal bil halal bisa menjadi instrument untuk menggantikannya.

Jika kita sudah melakukan saling memaafkan, maka inilah yang disebut fitrah atau kembali ke fitrah, kembali kepada kesucian. Kita sudah fitri dalam konteks keilahian dan kita juga sudah fitri dalam konteks kemanusiaan. Jika kita sudah dapat melakukannya, maka sesungguhnya kita sudah memasuki dunia baru sebagai orang yang sudah kembali kepada kesucian. Kullu mauludin yuladu alal fithrah. Setiap yang dilahirkan dalam kesucian. Jadi seakan-akan setelah kita menjalani serangkaian ibadah kepada Allah dan diampuninya, dan juga sudah diampuni oleh sesama manusia, maka seakan-akan kita menjadi kembali suci sebagaimana di saat kita dilahirkan oleh ibu kita.

Kedua, halal bil halal adalah forum komunikasi antar warga atau antar anggota masyarakat atau forum silaturahmi. Sebagai orang yang memiliki kesibukan cukup tinggi, maka tentu sulit untuk melakukan acara kunjung rumah. Kebanyakan kita juga silaturrahmi di tempat asal kita masing-masing selama liburan hari raya. Maka salah satu instrument yang dapat menjadikan kita semua dapat bersilaturahmi adalah halal bil halal. Silaturahmi merupakan ajaran Islam dalam relasi social. Sebuah ajaran yang sangat indah dan membawa kerahmatan. Nabi Muhammad SAW mengajarkan agar kita saling silaturrahmi jika kita beriman kepada Allah dan mengimani hari kiamat. Man kana yu’minu billabi wal yaumil akhiri  fal yashil rahimah. Barang siapa yang percaya kepada Allah dan hari akhir, hendaknya menyambung silaturahmi.

Ketiga, untuk saling memaafkan. Betapa indahnya di kala kita saling bersalaman dan membuat setengah lingkaran dalam upaya untuk saling memaafkan. Hati terasa plong. Tidak ada lagi ganjalan di antara kita. Semua merasakan persahabatan dan dalam kebersamaan. Tidak ada jarak social yang menghalangi temu wajah seperti ini. Kita bisa saling bercanda, kita dapat  saling mencurahkan kebahagiaan bahkan juga bisa saling tersenyum dan tertawa lepas. Bagi saya, andaikan Nabi Muhammad SAW hadir di dalam acara  ini, maka dipastikan Nabi Muhammad SAW juga tersenyum melihat hambanya yang saling memaaffkan. Alangkah indahnya.

Dengan demikian, meskipun penyelenggaraan silaturahmi ini adalah tradisi khas keindonesiaan, akan tetapi memiliki makna yang sangat baik di dalam upaya untuk menjalankan ajaran Islam yang memang didesain Tuhan sebagai ajaran agama yang memberi rahmat kepada seluruh umat.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

MAKNA SYAWAL BAGI KAUM MUSLIMIN

MAKNA SYAWAL BAGI KAUM MUSLIMIN

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Pengajian rutin Selasanan di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency merupakan satu kegiatan pengajian yang berbeda dengan pengajian lainnya. Di antara ciri yang menbedakannya adalah tentang narasumber  dan jamaah yang melakukan dialog secara intensif. Bahkan terkadang pertanyaan bisa dijawab oleh jamaah lainnya dan baru kemudian nara sumber memberikan tambahan atau menggaris bawahi atas jawaban dimaksud.

Selain itu juga diupayakan agar dalam mengaji berada di dalam nuansa hepi, yang ditandai dengan tertawa sebanyak 17 kali. Untuk pengajian kali ini diisi oleh Ustadz  Sahid Sumitro, seorang pakar dalam bidang pelatihan atau training pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) yang telah memiliki jam terbang yang tinggi. Pengajian dilaksanakan pada 07/05/2024.

Pak Sahid memberikan ceramahnya dengan tiga hal mendasar. Pertama, syawal itu terkait dengan makna peningkatan, yaitu meningkatnya amal ibadah kita kepada Allah SWT. Jadi harus diukur bagaimana keadaan ibadah kita pada sebelum puasa, pada waktu puasa dan bagaimana sesudah puasa. Meningkat artinya amal ibadah kita tersebut semakin baik dan semakin meningkat. Misalnya, jika pada waktu puasa itu kita tadarrus Qur’an  satu  juz sehari, maka apakah pada bulan Syawal itu naik lebih dari satu juz atau setidak-tidaknya bisa mempertahankan membaca satu  juz atau sekurang-kurangnya tetap membaca Qur’an.  Yang baik tentu saja jika terjadi peningkatan. Lalu di bulan puasa kita shalat sunnahnya banyak, ada tarawih ada witir, lalu setelah puasa itu kita meningkat atau justru tidak melakukan shalat sunnah. Jika kita pada bulan puasa itu suka sedekah, apakah sesudah bulan ramadlan kita tetap melakukan sedekah. Jadi yang penting meningkat.

Kedua, syawal itu berarti memulai perbuatan yang baik. Jadi artinya bahwa kita terus berupaya untuk melakukan perbaikan di dalam ibadah kita. Hidup selalu kita perbaharui untuk menjalankan kebaikan demi kebaikan. Kita merasa bahwa ada sesuatu yang kurang tepat di dalam ibadah kita, maka kita perbaharui. Ada kesepahaman untuk ibda’ bil khoir. Memulai sesuatu yang baik. Jika shalat kita terasa kurang khusyu’, maka harus diupayakan utuk khusyu’. Jika hati kita terasa belum tenang pada waktu dzikir, maka diupayakan untuk dapat melakukan dzikir dengan benar. Selalu berupaya untuk menjalankan kebaikan agar hidup menjadi semakin baik.

Ketiga, melakukan kebaikan secara berkelanjutan. Yang terbaik di dalam ibadah kepada Allah adalah konsistensi. Amantu billahi tsummastaqim. Saya beriman kepada Allah dan selalu konsisten. Jadi yang sesungguhnya diminta oleh Allah adalah konsistensi seseorang dalam melakukan ibadah kepada-Nya. Amalan yang sedikit tetapi  istiqamah itu jauh lebih baik dari pada banyak tetapi tidak konsisten. Islam mengajarkan kepada manusia agar terus menerus melakukan kebaikan. Inti kehidupan adalah kebaikan, yang dirumuskan dalam konsep hablum minallah, hablum minan nas wa hablum minal alam. Berbuat baik kepada Allah melalui serangkaian ibadah yang dilakukan, berbuat baik kepada manusia melalui saling menghargai, menghormati dan toleransi dan saling menolong dalam kebaikan, dan berbuat baik kepada alam karena alam adalah mitra di dalam kehidupan.

Dari tiga hal tersebut, maka kata kuncinya adalah istiqamah. Kita harus istiqamah di dalam menjalankan kebaikan. Shalat harus istiqamah. Terus menerus melakukannya. Jangan melakukan shalat secara bolong-bolong. Hidup merupakan hamparan sajadah memanjang. Jika kita ingin melaju di dalam kehidupan yang aman dan damai, senang dan bahagia di akhirat, maka harus mempertimbangkan pelaksanaan shalat secara istiqamah.

Perbuatan yang paling sulit adalah istiqamah. Namun demikian ada caranya untuk bisa melakukannya, yaitu: 1) kuatkan niat dalam beribadah. Apapun yang terjadi tidak boleh ditinggalkan. Kekuatan niat ini yang menentukan kita melakukan ibadah atau tidak. Setiap perbuatan itu ditentukan oleh niatnya. Jika kita sungguh-sungguh di dalam berniat, maka dipastikan kita akan dapat melakukannya. Barang siapa yang sudah berniat baik tetapi tidak berkuasa melakukannya, maka akan mendapatkan catatan satu pahala, dan jika bisa melakukannya maka akan mendapatkan dua pahala.

2) Menjadi kebiasaan. Jika niat sudah kuat, dan kita melakukan niat yang berupa ibadah maka lama-lama kelamaan akan menjadi kebiasaan. Perbuatan yang dirasakan ada kenikmatannya, maka akan terus menerus dilakukan. Sama halnya dengan melaksanakan dzikir atau wirid, jika dirasakan dengan wirid tersebut ada kenikmatan, misalnya hati menjadi tenang, maka perbuatan dzikir tersebut akan terus dilakukan. Bukankah kita menjadi senang karena melakukan suatu perbuatan yang dapat   menimbulkan kesenangan.

3) Bersahabat dengan dengan orang yang baik. Di dalam tradisi Jawa terdapat pernyataan: wong kang soleh kumpulono, artinya orang yang baik itu harus dijadikan teman akrab di dalam kehidupan. Jika kita kumpul dengan orang yang baik, maka kita potensial menjadi baik, dan jika kita berkumpul dengan orang jahat maka juga potensial menjadi jahat.

Oleh karena itu, sudah saatnya kita  menjadi bagian dari komunitas orang-orang yang berperilaku baik, sehingga kebaikan akan menjadi teman kita. Dan kita dipastikan akan bisa melakukannya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

TRILOGI JALAN KE SURGA: SEMBAH, TAQWA DAN PATUH PADA ALLAH

TRILOGI JALAN KE SURGA: SEMBAH, TAQWA DAN PATUH PADA ALLAH

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Tulisan ini bukanlah tafsir atas ayat Alqur’an,  akan tetapi sebagai upaya untuk memahami kandungan ayat Alqur’an dalam konteks sosiologis. Saya tentu tidak berani menafsirkan ayat-ayat Alqur’an, sebab disiplin keilmuan saya bukanlah berada di dalam ilmu Tafsir yang mempersyaratkan penguasaan ilmu alat atau Bahasa Arab dan segala hal yang terkait dengan metode dan konten memahami ayat-ayat Alqur’an.

Pembahasan ini, saya sampaikan dalam acara Tahsinan Alqur’an pada Surat Nuh, yang menggambarkan tentang pentingnya ibadah sebagai sarana pengabdian, bertaqwa dan mematuhi apa yang diajarkan oleh Allah melalui Nabi Muhammad SAW. Acara tahsinan tersebut dilaksanakan pada Hari Senin, ba’da Shubuh, tanggal 06/05/2024. Sebagaimana biasanya, maka Ustadz Alif Rifqi membacakan terjemahannya, dan kemudian saya memberikan sedikit ulasan dalam konteks sosiologisnya.

Ada tiga kata kunci di  dalam Surat Nuh, khususnya pada ayat 3, yaitu: “ani’ budullaha wat taquhu wa ati’un”. Artinya” “(yaitu) sembahlah Allah, bertaqwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku”.  Jadi tiga hal ini merupakan satu kesatuan system yang saya sebut sebagai trilogy jalan bagi para pencari surga. Dengan melakukan ketiganya, maka Allah akan mengampuni sebagian dosa-dosanya dan memberikan kepastian akan dijaganya sampai seseorang kemudian harus meninggalkan dunia fana untuk memasuki alam lainnya.

Jika digambarkan di dalam suatu lingkaran, maka di tengah-tengahnya adalah iman kepada Allah dan seluruh keimanan di dalam Islam, lalu di luar inti tersebut terdapat konsep ibadah, taqwa dan patuh kepada Allah SWT. Iman menentukan seseorang untuk melakukan ibadah, bertaqwa dan patuh kepada Allah. Ketiga aspek ibadah, taqwa dan patuh merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Tidak cukup dengan ibadah tetapi juga harus bertaqwa kepada Allah dan mematuhi ajaran yang disampaikan Allah kepada umat manusia.

Iman juga selalu berpasangan dengan amal saleh. Tidak akan terdapat amal saleh yang diakui di dalam Islam kecuali didasari oleh iman kepada Allah. Tetapi juga keimanan kepada Allah tidak boleh berhenti disitu. Sama halnya dengan ibadah, taqwa dan patuh juga merupakan impak dari iman yang diyakini oleh manusia.

Pertama, Tuhan Allah sebagai pusat sesembahan. Tuhan Allah adalah rabb atau sesembahan seluruh alam. Tidak hanya manusia yang menyembah Allah tetapi juga tumbuh-tumbuhan, binatang dan jagad raya. Semua menyebut nama Allah SWT sebagai ilahnya dan juga rabbnya. Semua alam tunduk pada hukum Allah SWT tanpa paksaan. Matahari beredar pada poros edarnya, bumi berputar sesuai garis edarnya, bintang dan seluruh tata surya berrotasi sesuai dengan hukum yang diciptakan Allah. Melalui kepatuhannya tersebut, maka alam menjadi teratur dan fungsional bagi semuanya.

Allah telah menata bahwa air menjalankan fungsinya untuk menumbuhkan tanaman dan menghidupkannya. Jadi hujan adalah uap air dari lautan dan daratan yang naik ke atas menjadi awan, lalu awan yang berkumpul menjadi hujan turun ke bumi dan begitulah seterusnya hukum alam, yang semuanya patuh atas desain Allah atas alam. Semuanya fungsional bagi kehidupan yang sistemik untuk jagad raya.

Jin dan manusia diciptakan oleh Allah untuk beribadah atau menyembah Allah. Di kala manusia lalai, maka Allah menurunkan utusannya. Allah memberikan petunjuk melalui Nabi atau Rasulnya. Itulah sebabnya setiap kaum diberi oleh Allah utusannya untuk menjadi pengingat bagi kaumnya. Rasul kebanyakan memang diturunkan di bumi Timur tengah, tetapi Nabi-Nabi Allah yang berjumlah 126.000 orang bisa diturunkan di mana saja. Bahkan juga diturunkan ke masyarakat Nusantara. Di Italia, di India dan Afrika Allah juga menurunkan Nabi-Nabinya. Mereka semuanya berfungsi untuk menjadi pemberi nasehat agar manusia kembali kepada Allah SWT. Kembali mempercayainya dan kembali untuk menyembahnya.

Kedua, manusia harus bertaqwa kepada Allah.  Manusia  diminta untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Taqwa itu tidak dimaknai sebagai takut tetapi selalu berada di dalam pengawasan Allah. Jadi orang yang bertaqwa selalu mendapatkan pengawasan dari Allah yang Maha Kuasa. Kita meyakini bahwa apa yang kita lakukan selalu berada di dalam pantauan Allah. Jika kita melakukan kekhilafan, maka segeralah berbuat baik, karena perbuatan baik itu akan dapat menghapus kekhilafan. Berbuat baik tersebut misalnya memohon ampunan kepada Allah, berdzikir kepada Allah dan juga berbuat baik kepada sesama manusia bahkan kepada alam di sekeliling kita. Ada Sabda Nabi yang menyatakan agar kita bertaqwa kepada Allah di mana saja, dan jika kita berbuat salah atau khilaf agar kita sesegera mungkin untuk berbuat baik, karena perbuatan baik tersebut dapat menghapus dosa-dosa kita. Semoga Allah selalu membimbing kita untuk melakukan yang terbaik di dalam koridor keberagamaan.

Ketiga,  patuh kepada Allah dan Rasulnya. Patuh kepada keduanya tentu berbeda level. Ada level hakikat substansial dan ada level hakikat instrumental. Patuh kepada Allah itu kemutlakan yang tidak boleh dipertanyakan, dan kepatuhan kepada Nabi Muhammad merupakan washilah untuk kepatuhan tersebut. Artinya orang yang patuh kepada Allah dipastikan juga patuh kepada ajaran Islam yang disampaikan oleh Nabi Muhammad. Karena kita adalah makhluk, maka untuk menyampaikan kalam Tuhan yang tak terhingga juga harus menggunakan perantara manusia, dan manusia tersebut adalah telah diwahyukan kalam Tuhan dimaksud. Jadi kala kita berwashilah kepada Nabi Muhammad SAW artinya bahwa kita menyadari jika posisi kita sebagai manusia yang menjadikan manusia sempurna, insan kamil, yaitu Nabi Muhammad sebagai perantara kita kepada Allah SWT. Ada satu doa yang kita baca setiap selesai adzan dikumandangkan: “Ati Sayyidana Muhammadanil washilata wal fadhilah”, yang artinya kurang lebih adalah: “datangkanlah junjungan kami Nabi Muhammad sebagai washilah dan keutamaan”.

Jadi janganlah menyatakan bahwa patuh kepada Nabi Muhammad itu kesesatan, sebab Allah memang menurunkan ayat-ayatnya baik qauliyah maupun kauniyah itu melalui Nabi Muhammad. Patuh kepada Nabi Muhammad hakikatnya adalah patuh kepada Allah SWT. Nabi Muhammad adalah hakikat kepatuhan secara instrumental atau kepatuhan melalui ajaran Allah yang diwahyukannya. Dan hakikat atau substansi kepatuhan tersebut tentu adalah milik Allah SWT.

Wallahu a’lam bi al shawab.