• October 2026
    M T W T F S S
    « Sep    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

NABI IBRAHIM SEBAGAI USWAH HASANAH

NABI IBRAHIM SEBAGAI USWAH HASANAH

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) tetap terus berlangsung. Kita semua tentu bisa bersyukur karena Allah masih memberikan karunia yang berupa kesehatan di tengah berbagai macam pekerjaan yang kita lakukan. Meskipun kita berbeda usia dan pekerjaan, akan tetapi tetap bisa bersama di dalam acara tahsinan dan juga Ngaji Selasanan yang rutin dilakukan. Pada Hari Rabo, 11/02/2025, kita mengaji sambil membahas tentang keteladanan yang dilakukan oleh Nabiyullah Ibrahim AS.

Di dalam Surat Al Mumtahanah, ayat 6 dinyatakan: “sungguh pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) terdapat suri tauladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) hari kemudian, dan barang siapa berpaling, maka sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Kaya, Maha Terpuji”. Seperti biasa, setelah Al Hafidz Alief Rifqi membacakan terjemahnya, maka saya yang memberikan ulasan. Saya menyampaikan tiga hal, yaitu:

Pertama, teladan dalam ketauhidan.  Di  antara Nabi Allah yang secara langsung disebut sebagai uswah hasanah adalah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Muhammad SAW. Hal ini memberikan indikasi bahwa yang dibawakan oleh keduanya adalah ajaran yang sama, yaitu ajaran untuk mengesakan Allah dan ajaran syariat yang sama, yaitu syariat Islam sebagaimana yang telah dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS dan kemudian direkonstruksi ulang oleh Nabi Muhammad SAW.

Ajaran Nabi Ibrahim AS dalam dimensi ketuhanan atau teologis tidak ada bedanya.  Ada kesamaan antara  Nabi Muhammad SAW dengan Nabi Ibrahim AS, yaitu ajaran untuk mengesakan Allah SWT. Tidak ada Tuhan selain Allah, la ilaha illallah.  Apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW adalah ketauhidan yang sama dengan apa yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim AS. Bahkan semua Nabi dan Rasul yang menjadi utusan Allah mengajarkan ajaran ketauhidan yang sama. Semenjak Nabi Adam AS sampai Nabi Muhammad SAW mengajarkan kalimat Tauhid. Hal ini tentu sangat wajar, sebab semua Nabi mendapatkan wahyu yang sama tentang system ketuhanan dari Allah SWT.

Semua Nabi dan Rasul adalah Bapak Monotheisme. Hanya saja secara ilmiah yang dinyatakan sebagai Bapak Monotheisme adalah Nabi Ibrahim AS yang mengajarkan tentang monotheisme sebab agama-agama yang turun sesudahnya, seperti agama Yahudi juga mengajarkan monotheisme, agama Nasrani juga mengajarkan monotheisme dan demikian pula agama Islam juga mengajarkan monotheisme. Agama-agama ini dikenal sebagai agama Semitis, artinya agama-agama yang bersumber dari tradisi ketauhidan dalam masyarakat Semit.

Sesungguhnya, agama Yahudi dan Nasrani juga agama monotheisme. Hanya saja karena penafsiran atas teks-teks yang variative, sehingga terdapat perbedaan dalam menafsirkan monotheisme dimaksud. Ada yang kemudian menyebutnya dengan trinitas dalam agama Nasrani dan ada juga Trimurti di dalam agama Hindu, dan sebagainya. Ini persoalan persoalan penafsiran, akan tetapi secara substansial tetaplah dianggap sebagai agama yang monotheistic.

Keteladanan dalam ketauhidan tersebut digambarkan mengenai Nabi Ibrahim AS yang kukuh mempertahankan ketauhidannya di kala dipaksa oleh Raja Namrud untuk mengakui atas ketuhanannya. Meskipun diancam untuk dibakar hidup-hidup, akan tetapi Ibrahim AS tetap pada keyakinannya untuk menyatakan bahwa Tiada Tuhan Selain Allah. Kukuh, tegar dan tidak goyah imannya meskipun diancam dan dibakar hidup-hidup. Selama tujuh hari Nabi Ibrahim di dalam kobaran api, tetapi api tidak mau menjilat tubuhnya. Hukum api yang membakar apa saja yang ada di hadapannya, menjadi terbalik. Api tidak membakar. Surat Alanbiya, ayat 69: Qulna Ya Naru Kuni bardan wa salaman ala Ibrahim.  Wahai api jadilah dingin dan keselamatan atas Ibrahim. Atas kun fayakun Allah, maka api menjadi dingin dan tidak membakarnya. Hal seperti ini dapat dijumpai di dalam cerita Ramayana dalam tradisi Hindu, Dewi Shinta yang tidak terbakar di dalam mempertahankan keyakinannya bahwa dirinya suci tidak tersentuh Raja Rahwana dan tidak bersalah.

Kedua, keteladanan dalam ritual keagamaan. Tentang shalat bisa saja berbeda caranya akan tetapi hakikatnya tentu sama, yaitu bentuk komunikasi antara manusia dengan Tuhannya. Yaitu sebuah upacara untuk mengagungkan dan mensucikan Namanya, menyembah dan membaktikan diri kepada-Nya. Hakikat shalat dalam agama-agama memiliki kesamaan. Tetapi sebuah tradisi yang kemudian diamanahkan untuk dilakukan terhadap umat Islam yang berkemampuan maliyah atau iqtishadiyah dan kemampuan fi’liyah atau fisikiyah adalah ibadah haji yang cikal bakalnya disyariatkan kepada Nabi Ibrahim AS dan dilanjutkan oleh Nabi Ismail AS dan Nabi-Nabi yang datang sesudahnya.

Nabi Muhammad SAW kemudian menapaktilasi atas syariat haji dimaksud dengan mengembalikannya kepada bentuk awal ibadah haji. Ibadah haji dengan mengelilingi ka’bah tujuh kali tetap dilakukan semenjak Nabi Ibrahim sampai datangnya Nabi Muhammad SAW. Bani Quraisy sebagai leluhur Nabi Muhammad SAW tetap menjalankannya akan tetapi dengan penafsiran bermacam-macam. Ada yang sudah diubah sesuai dengan tafsir para ulamanya dan ada yang tetap sebagaimana semula. Di kala Nabi Muhammad SAW datang dengan syariat Haji, maka diluruskan berbagai penyimpangan dimaksud. Heterodoksi dalam ibadah haji kemudian diortodoksikan. Dimurnikan sesuai dengan amanah yang diberikan Allah SWT di dalam syariatnya.

Ketiga, membangun kesatuan ibadah. Ka’bah sesungguhnya sudah didirikan oleh Nabi Adam AS. Dan kemudian tetap terjaga sampai datangnya Nabi Ibrahim AS. Bersama Nabi Ismail putranya, maka Ka’bah direnovasi dan kemudian ditata ulang oleh Nabi Muhammad SAW. Ka’bah itulah yang akhirnya dijadikan sebagai pusat kesatuan ritual di dalam Islam. Bukanlah umat Islam menyembah Ka’bah. Tetapi Ka’bah adalah hakikat kesatuan ritual di dalam agama Islam. Ka’bah merupakan pusat energi di dalam peribadahan.

Ka’baitullah merupakan tempat yang dijadikan oleh Allah SWT sebagai arah di dalam melakukan ritual khususnya shalat. Ka’bah menjadi tempat yang disucikan oleh Allah SWT karena di ka’bah itulah manusia menyatukan energi kebersamaan dan menjadi pusat peribadahan. Jika orang melakukan ibadah haji dengan mengelilingi ka’bah sebanyak tujuh kali dan juga melakukan perjalanan dari Shafa ke Marwah sebanyak tujuh kali, hakikatnya adalah melakukan ritual yang disyariatkan oleh Nabi Muhammad SAW. Di dalam agama selalu ada keyakinan, dan kita meyakini bahwa dipastikan ada hakikat kebenaran di dalam setiap perintah Nabi Muhammad SAW.

Wallahu a’lam bi al shawab.

HINDARKAN DIRI DARI SETAN INTERNAL, EKSTERNAL DAN GABUNGAN

HINDARKAN DIRI DARI SETAN INTERNAL, EKSTERNAL DAN GABUNGAN

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Sudah berulang kali saya sampaikan bahwa di dalam acara ngaji bareng pada Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) itu salah satu bumbu penyedapnya adalah tertawa sebanyak 17 kali minimum. Meskipun pesertanya tidak banyak tetapi konsisten untuk terlibat di dalamnya. Ngaji Selasanan, 22/01/2025, sebagaimana biasa, dilakukan ba’da shubuh di Masjid Al Ihsan, Perumahan Lotus Regency, Ketintang Surabaya.

Tema pengajian itu variative tergantung mood-nya. Tetapi secara umum, biasanya Ustadz Dr. Cholil Umam menyampaikan pandangan keagamaan, Ustadz Sahid Sumitro terkait dengan motivasi agama dan kehidupan, sementara saya memberikan pengantar ceramah tentang agama dan dimensi sosiologis kehidupan. Ceramah dilakukan secara interaktif dan selingan humor-humor segar apa saja, yang penting tertawa lepas. Bagi orang-orang yang serius menatap kehidupan rasanya harus beradaptasi diri.

Pada kali ini saya menyampaikan kaitan antara salah satu ayat di dalam Surat Al Hasyr dengan realitas kehidupan social. Ada tiga hal yang saya sampaikan. Pertama, ucapan syukur kepada Allah bahwa kita masih diberikan keimanan dan hidayah yang tiada terputus untuk menjalankan amal ibadah sesuai dengan ajaran Islam. Kita masih bisa mendawamkan membaca Alqur’an setiap pagi meskipun hanya satu surat, Al Waqi’ah dan sekali sepekan membaca Alqur’an Surat Al Kahfi, dan dilanjutkan dengan tahsinan. Meskipun juga hanya beberapa ayat tetapi saya yakin bahwa Allah meridhai atas kegiatan yang kita lakukan. Di dalam sebuah hadits dinyatakan hahwa Allah sangat menyukai orang di dalam sebuah majlis yang membaca Alqur’an dan membicarakan tentang ajaran Islam. Haditsnya Panjang, tetapi dapat kita baca di dalam Mushaf Alqur’an cetakan Al AlfaShyam tahun 2020.

Kedua,  ayat di dalam Surat Al Hasyr tersebut berbunyi: wa ma atakumur rasulu fakhudzuhu wa ma nahakum ‘anhu fantahu”, “dan apa-apa yang diperintahkan rasul kepadamu maka ikutilah atau jalankanlah dan apa-apa yang dilarang Rasul untukmu maka hindarilah”. Ayat ini menegaskan bahwa ada ajaran Islam yang harus dilakukan dan ada ajaran Islam yang dilarang melakukannya. Tetapi ayat ini bercorak perintah khusus atau al amar al khas. Ayat ini dikaitkan dengan peristiwa dalam perebutan harta fa’ia atau yang di dalam bahasa gampangnya disebut harta fi’. Yaitu harta rampasan di sebuah peperangan yang dimenangkan. Dalam sejarah Islam disebutkan bahwa dalam Perang Uhud, maka terdapat banyak harta rampasan, dan pasukan Islam kemudian sibuk memunguti harta rampasan, sehingga melupakan pertahanan. Di dalam sejarah disebutkan bahwa nyaris umat Islam kalah, sebab para musuh berhasil menaiki bukit dan menyerang dengan panah-panah. Untunglah terdapat kesadaran untuk membalikkan situasi dengan penguasaan atas Bukit Uhud sehingga umat Islam memenangkan pertempuran dimaksud.

Selain itu juga terdapat perintah umum atau al amar al am. Misalnya amar ma’ruf nahi mungkar adalah amar dan larangan umum. Bisa digunakan untuk perintah apa saja dalam menjalankan ajaran Islam dan juga larangan apa saja di dalam ajaran Islam. Misalnya perintah shalat adalah perintah umum untuk semua umat Islam dengan cara sesuai dengan ajaran Islam. “Shallu kama raaitumuni ushall”i atau “shalatkan kamu sekalian sebagaimana shalatku”, begitulah kata Nabi Muhammad SAW. Para sahabat bisa melihat langsung shalatnya Nabi Muhammad SAW, para tabiin bisa mendengarkan cerita langsung dari sahabat Nabi dan para tabiit tabiit tabiin dapat mendengarkan cerita para tabiin dari sahabat Nabi, dan kita sekarang melakukan shalat sesuai dengan yang dilakukan Nabi tetapi melalui interpretasi para ulama yang memiliki  kapasitas untuk menafsirkan teks Suci, baik Alqur’an maupun Alhadits.

Ketiga,  peristiwa harta fi’  memberikan symbol kehidupan bahwa manusia memang memiliki syahwat atau nafsu yang sering diidentifikasi sebagai syahwat kepada harta, kekuasaan dan wanita. Di dalam tradisi Jawa disebut harta, tahta, wanita. Manusia memenuhi nafsu untuk memiliki  harta atau kekayaan. Manusia memiliki nafsu untuk memiliki kekuasaan  politik, dan manusia memiliki nafsu atas lawan jenis. Ini semua bisa dibahasakan dengan syahwat yang berbasis atas nafsu syetan. Ada orang yang bisa memanej yang satu atau dua lainnya dan tidak mampu memanej satunya lagi. Masing-masing orang bisa berbeda-beda.

Saya mengkonsepsikannya dengan ungkapan setan internal yaitu  nafsu atau syahwat yang berasal dari dalam diri manusia, ada setan eksternal atau nafsu atau syahwat yang berangkat dari factor eksternal dan bahkan ada yang bersumber dari keduanya atau setan gabungan. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Nabi Muhammad SAW bahwa kita berperang melawan nafsu atau syahwat tersebut. Ada kalanya menang dan adakalanya kalah. Tetapi sebagaimana Sabda Nabi Muhammad SAW setelah Perang Badar, bahwa umat Islam selesai melakukan jihad kecil menuju jihad besar dan jihad besar tersebut adalah jihad melawan hawa nafsu.

Jika kita analisis, perang itu jihad melawan musuh yang berupa manusia. Siapa musuhnya jelas, dibunuh atau membunuh. Kalah atau menang. Dan semua peperangan menggunakan dalil ini. Sedangkan hawa nafsu yang berasal dari dalam diri sungguh sangat sulit diperangi karena terkait dengan keinginan yang terkadang maha dahsyat untuk memperoleh dan menguasainya. Bisikannya sangat halus, tetapi akibatnya dahsyat. Misalnya keinginan pada kekuasaan politik terkadang seseorang bisa menghalalkan segala cara. Orang bisa berpikir sebagaimana Machiavelli, bahwa tujuan menghalalkan segala cara. Kemudian yang lebih dahsyat adalah ketika dua nafsu atau syahwat menjadi satu kesatuan. Tentu pengaruhnya sangat besar di dalam kehidupan.

Itulah sebabnya Islam mengajarkan untuk berdoa: Allahumma arinal haqqa haqqa warzuqna tiba’ah wa arinal bathila bathila warzuqna ijtinabah”. Ya Allah tunjukkan kepada kami yang benar adalah benar dan tunjukkan kepada kami jalan mengikutinya dan tunjukkan kepada kami yang salah itu salah dan tunjukkan kami jalan menghindarinya”.

Wallahu a’lam bi al shawab.

TRAGEDI  LOS ANGELES: KAUM TEOLOGIAN, SEKULARIS  DAN HUMANIS

TRAGEDI  LOS ANGELES: KAUM TEOLOGIAN, SEKULARIS  DAN HUMANIS

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Berita tentang kebakaran super hebat yang menimpa Los Angeles di Amerika Serikat sungguh menarik untuk dicermati. Ada yang bisa dikategorikan hoaks dan ada yang diperkirakan benar dan ada yang memang benar-benar apa adanya. Saya tentu tidak menilai secara lebih mendalam tentang macam-macam berita tersebut, akan tetapi saya kira juga pantas kalau saya juga terlibat dalam jagat meramaikan tentang media social tentang kebakaran di Amerika Serikat yang menyedot pemberitaan dan respon yang luar biasa dimaksud.

Ide tulisan ini sesungguhnya muncul dari jamaah yang tergabung dalam Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) yang menyelenggarakan pengajian pada Hari Selasa yang lalu. Tepatnya pada tanggal 14 Januari 2024. Sebagaimana biasa bahwa ngaji ini bercorak interaktif, yaitu tidak hanya melulu dari penceramah tetapi juga terdapat pembahasan dari audience. Setelah Ustadz Sahid Sumitro, trainer Pengembangan SDM, lalu saya memberikan ulasan sekenanya, maka Pak Mulyanta menanyakan tentang kebakaran di Los Angeles yang memantik banyak respon dari netizen, baik yang bercorak memberikan gambaran tentang balasan Tuhan, atau yang tidak menganggap bahwa kebakaran tersebut bukan punishment dari Allah SWT.

Di dalam penjelasan saya, kemudian saya sampaikan ada tiga kelompok masyarakat atau netizen yang memberikan respon atas peristiwa dimaksud. Kebakaran ini memang peristiwa yang luar biasa baik dalam cakupan peristiwanya, tingkat keparahannya dan daya kerusakan yang diakibatkannya. Bisa dibayangkan bahwa kerugian yang ditimbulkan oleh kebakaran ini mencapai angka Rp2400 trilyun. Lebih besar dari APBN Pemerintah Indonesia, yang hanya Rp2.300 trilyun. Belum lagi hilangnya nyawa yang makin bertambah, dan yang terparah adalah rusaknya insfrastruktur sejarah Los Angeles sebagai kota peradaban  dan maju di Amerika. Banyak orang kaya, artis, pesohor dan tokoh-tokoh dunia yang berada dan hidup di kota yang bersejarah dimaksud.

Pertama, respon kaum theologian yang menyatakan bahwa kebakaran hebat di Los Angeles merupakan azab Tuhan kepada Presiden terpilih Donald Trump yang akan menjadikan Gaza sebagai neraka. Selama ini dukungan Amerika atas Israel memang luar biasa. Tidak hanya kebijakan double standart atau double speaks, akan tetapi juga bantuan militer yang nilainya sangat luar biasa. Amerika selama ini memperlakukan Israel dengan kebijakan yang memihaknya. Nyaris tidak ada kesalahan dalam semua Tindakan Israel atas pendudukan Jalur Gaza, sementara tidak ada benarnya sedikitpun atas Tindakan Palestina untuk mempertahankan wilayahnya. Yang dilakukan Israel dalam kerangka untuk memburu dan menihilkan terorisme. Bangsa Palestina sama dengan kaum teroris. Yang dilakukan oleh Israel adalah Tindakan de-terorisme. Inilah yang disebut sebagai state terrorism.

Kebakaran di Los Angeles adalah kutukan Tuhan atas kesombongan seorang Donald Trump yang akan menghancurkan bangsa Palestina. Sebuah genosida yang direncanakan. Di dalam media social dapat diketahui tentang unggahan yang menggambarkan pandangan tersebut. Ada yang memang realistis dan ada yang hoaks. Keduanya bercampurbaur dalam tayangan media. Tayangan di media social tersebut menggambarkan kegeraman atas prilaku Amerika yang arogan. Di dalam pidato dinyatakan akan membangun peacefull jihad, akan tetapi di tangannya menggenggam bom yang siap diledakkan. Di tengah media social yang deras seperti sekarang, maka masyarakat tidak lagi dapat diperbodoh oleh ucapan-ucapan yang retorikanya  seakan-akan melakukan kebaikan, padahal sesungguhnya hal tersebut hanyalah ungkapan belaka.

Kedua, respon kaum sekularis bahwa tragedy Los Angeles tidak ada hubungannya dengan agama atau teologi. Peristiwa ini merupakan peristiwa alam yang memang terjadi dan tidak ada campur tangan agama. Hanya sebuah peristiwa alam yang terjadi sebagaimana peristiwa-peristiwa alam yang terjadi di tempat lainnya. Jika kemudian tragedy ini menjadi semakin membesar dan meluas, maka penjelasannya adalah karena factor alam yang memang seperti itu. Dipastikan ada penyebab alam dan akibat yang ditimbulkannya. Berdasarkan hukum alam, bahwa di mana terjadi kebakaran, maka akan menimbulkan angin kencang dan itu akan menjadi penyebab mengapa terjdi perluasan wilayah yang terbakar. Pernyataan Trump itu berdiri sendiri dan peristiwa kebakan juga berdiri sendiri-sendiri. Di sini tidak terdapat keterkaitan antara peristiwa alam tersebut dengan kutukan atas nama Tuhan.

Sebagaimana pandangan kaum sekularis dalam melihat relasi antara agama dan realitas social, maka mereka berpandangan bahwa agama memiliki otoritasnya sendiri dan realitas social juga memiliki realitasnya sendiri. Masing-masing berdiri sendiri-sendiri  dan tidak saling berhubungan. Manusia dewasa ini hidup dalam dunia realitas social dan bukan hidup di era metafisika apalagi teologia. Bagi kaum kesularis bahwa setiap peristiwa aalam akan dapat dijelaskan dengan hukum alam. Jadi tidak bisa djelaskan dengan pandangan metafisi atau dibalik peristiwa apalagi pandangan teologis yang menyandarkan semuanya pada Tuhan.

Ketiga,  respon kaum humanis yang secara prinsip memadang bahwa musibah tentu tetap sebagai musibah dan yang sesungguhnya menderita adalah manusia yang terkena musibah dimaksud. Makanya, merekalah yang sesungguhnya perlu untuk diperhatikan di dalam musibah ini. Tidak perduli apakah yang terkena musibah tersebut orang yang beragama dengan varian agamanya, atau bahkan orang atheis, akan tetapi dipastikan bahwa musibh merupakan penderitaan yang tidak terkira. Kepada merekalah manusia harus memberikan simpatinya dengan harapan ketabahan akan tetap menjadi bagian dari kehidupannya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

 

DAKWAH YANG MENCERAHKAN (BAGIAN KETIGA)

DAKWAH YANG MENCERAHKAN (BAGIAN KETIGA)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Kita sungguh beruntung dapat menjadi bagian dari umat Islam. Masih banyak orang yang tidak bisa menjadi bagian dari umat Islam itu. Meskipun cerita tentang kebenaran Islam itu sudah didengar dan dipahami, akan tetapi ternyata tidak semuanya mendapatkan hidayah. Ada kalanya didapati orang yang memperoleh hidayah tanpa berusaha dengan keras untuk mendapatkannya dan ada yang berusaha dengan keras sehingga mendapatkan cahaya hidayah dari Allah SWT.

Dakwah yang efektif adalah dakwah dengan menggunakan ilmu pengetahuan. Yaitu dakwah yang dilakukan dengan memberikan gambaran tentang relasi antara agama dan sains. Selama ini terdapat pandangan bahwa antara sains dan agama merupakan dua entitas yang tidak bisa bertemu. Keduanya tidak bisa didialogkan apalagi diintegrasikan. Keduanya memiliki otoritasnya masing-masing. Agama dengan otoritas keagamaan dan ilmu dengan otoritas keilmuannya.

Namun demikian, akhir-akhir ini terdapat sejumlah kajian yang menghasilkan  kebenaran ajaran Islam. Jika selama ini, ada banyak yang dinyatakan sebagai mu’jizat Nabi-Nabi, maka kemudian bisa dibuktikan secara sains. Semua membuka cakrawala tentang kebenaran Islam yang tidak terbantahkan. Benarkah kiranya, suatu konsep di dalam ajaran Islam bahwa agama adalah akal dan jika tidak masuk akal bukanlah agama.

Tentu saja ada dimensi agama yang bisa dikaji dengan akal,  akan tetapi juga ada ajaran agama yang tidak dapat dinalar oleh kemampuan akal manusia. Yang seperti itu rasanya sampai kapanpun akan tetap menjadi misteri di dalam agama-agama. Ada hal-hal yang gaib yang akan tetap menjadi kegaiban sampai kapanpun tetapi juga terdapat hal-hal yang tidak masuk akal di masa lalu dan kemudian menjadi masuk akal di masa sekarang.

Tentang eksistensi Tuhan sebagai rabb dan mulk  atas tata surya dan alam seluruhnya, tidak bisa dihadirkan keberadaannya secara akal. Namun demikian dengan petunjuk tentang “keteraturan” alam di dalam tata surya ini,  akhirnya menyibak suatu hipotesis bahwa “tidak” mungkin keteraturan pada alam semesta itu terjadi dengan sendirinya, tanpa ada desain agung yang berpikir dan mewujudkannya. Yang mewujudkannya itulah yang kemudian dikenal sebagai pencipta alam dan pemeliharan alam yang sangat super, yang dikenal sebagai Super Reality atau Supreme Being.

Namun demikian ada dunia keyakinan yang semula dianggap di luar nalar, akan tetapi berdasarkan kemajuan ilmu pengetahuan akhirnya tersibak pembenarannya. Kehadiran para saintis yang melakukan kajian atas keyakinan di dalam ajaran Islam, akhirnya membuka mata para saintis tentang kebenaran ajaran Islam, khususnya teks Suci Al qur’an. Dari tangan para saintis itulah kemudian banyak menarik minat orang-orang yang selama ini meragukan kebenaran agama dan akhirnya meyakini kebenarannya.

Dakwah Islam tentang teks Suci Alqur’an akhirnya menemui masa kesahihannya. Dakwah Islam melalui pembenaran teks suci dapat menjadi substansi secara ilmiah, bahwa Alqur’an memang kitab Suci yang diturunkan oleh Allah melalui Nabi Muhammad SAW. Kehadiran Nabi Muhammad SAW yang ummi, diartikan sebagai seseorang yang buta huruf, juga merupakan desain Allah untuk menjawab atas tuduhan kaum kafir bahwa Muhammad SAW membaca teks-teks agama sebelumnya. Dengan posisi Nabi Muhammad SAW yang ummi, maka memberikan kepastian bahwa Nabi Muhammad tidak membaca kitab-kitab suci sebelumnya.

Kebenaran kematian Fir’aun di Laut Merah, Kebenaran tentang kereta perang dan tulang belulang di dasar laut atas tentara Mesir yang mengejar Nabi Musa, temuan-temuan atas teks-teks dan artefaks di Gua di tempat tidurnya Ashabul Kahfi, tentang bulan terbelah di zaman Nabi, tentang proses penciptaan bumi, tata surya, manusia dan sebagainya, akhirnya membuka mata tentang kebenaran Alqur’an sebagai kitab Suci yang diwahyukan oleh Kreator Agung kepada Nabi Muhammad SAW. Pembenaran atas teks-teks tersebut akhirnya menjadi pengungkit masuk Islamnya para ahli sains di dalam Islam. Sungguh menarik tindakan para saintis untuk menemukan kebenaran Islam.

Dakwah bisa menjadi pencerah atas orang-orang akademis yang selalu berpikir tentang kebenaran akal, kebenaran rasional dam kebenaran etis, akan tetapi dengan penemuan para ahli ini, akhirnya membuka cakrawala bahwa Islam itu memang luar biasa. Islam tidak hanya berisi ajaran doktriner teologis,  akan tetapi juga ajaran rasional empiris. Dengan kenyataan tersebut, maka akan menjadi bukti bahwa kebenaran Islam sungguh tidak dapat dibantah dan diingkari.

Dakwah tentu memperoleh lahan baru yang mencerdaskan manusia. Melalui serangkaian kajian para ahli sains tentang kebenaran Islam dengan firman Allah SWT,  maka mendakwahkan Islam di kalangan masyarakat akademis maupun masyarakat umum akan memperoleh momentum penting.

Kebenaran ayat Alqur’an secara ilmiah  benar-benar dapat dijadikan konten yang mencerahkan bagi masyarakat. Melalui kajian yang membenarkan atas firman Allah SWT tersebut, maka benar-benar terdapat manfaat untuk mendakwahkan Islam secara rasional. Dan ini yang sesungguhnya dapat dijadikan untuk menjawab atas keraguan orang atas rasionalitas Islam.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

DAKWAH YANG MENCERAHKAN (BAGIAN KEDUA)

DAKWAH YANG MENCERAHKAN (BAGIAN KEDUA)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Sebagaimana telah umum diketahui bahwa melalui dakwah Islam yang dilakukan oleh para da’i, di Jawa dikenal dengan sebutan Walisanga, maka Islam berhasil menjadi agama mayoritas, dan tidak hanya di Jawa tetapi juga di seluruh Nusantara. Islam disebarkan dengan cara-cara yang berbasis hikmah atau kebijaksanaan yaitu dengan nasehat yang baik dan berdebat dengan penuh pemahaman dan kearifan. Semua ini menggambarkan bahwa dakwah tidak dilaksanakan dengan kekerasan tetapi dengan kelemahlembutan dan kasih sayang.

Dakwah menjadi awal dalam proses islamisasi. Tanpa adanya dakwah maka tidak akan didapati masyarakat Islam sebagaimana yang dapat dilihat sekarang. Perkembangan Islam yang sangat cepat di dunia tentu karena dakwah yang dilakukan oleh para da’i yang bekerja keras untuk mengabarkan tentang kebaikan Islam. Islam yang pada kelahirannya berada di wilayah gurun pasir, Saudi Arabia, akhirnya bisa memasuki seluruh benua. Benua Eropa, Amerika, Afrika dan Australia. Islam berkembang pesat di benua Eropa dan Amerika yang selama ini menjadi wilayah agama-agama lainnya. Kekosongan spiritualitas yang terjadi di Eropa dan Amerika akhirnya dapat diisi oleh spiritualitas Islam.

Islam yang semula asing, tetapi lambat tetapi pasti akhirnya bisa menjadi agama yang dipeluk oleh umat manusia di dunia barat. Orang Eropa yang sebelumnya menjadi penganut agama lain, akhirnya dengan dakwah yang dilakukan oleh para da’i yang dengan tulus ikhlas akhirnya terjadi proses Islamisasi dalam damai. Islam tidak disiarkan dengan kekerasan tetapi dengan perdamaian. Peacefull jihad. Jihad dengan perdamaian. Dakwah dengan cara kekerasan justru akan menjauhkan Islam dari umat manusia.

Dakwah Islam pernah diganggu oleh tindakan kaum teroris yang melakukan tindakan kekerasan dan mematikan, yaitu pengeboman beberapa wilayah di dunia. Pasca pengeboman World Trade Centre (WTC), maka imaje Islam menjadi sangat hancur, sebab yang melakukan tindakan pengeboman tersebut adalah oknum yang beragama Islam. Mereka melakukan tindakan teroris yang justru merusak nilai-nilai kebaikan universal di dalam Islam. Imaje Islam sepertinya hancur luluh karena tindakan kekerasan dimaksud.

Namun akhirnya, orang Barat justru dapat menilai mana orang Islam yang benar dan mana orang Islam yang salah. Mana pemeluk Islam yang bersearah dengan perdamaian dan keselamatan dan mana pemeluk Islam yang bersearah dengan kekerasan dan kehancuran. Justru dengan memahami Islam yang mengembangkan jihad dalam perdamaian itulah maka mereka menjadi bersimpati terhadap ajaran  Islam dan kemudian memantapkan imannya di dalam Islam. Jika kemudian Islam menjadi pilihan keyakinan di Inggris, misalnya tentu disebabkan oleh kesadaran mereka tentang ajaran Islam yang mengedepankan perdamaian.

Islam memang sedang menapaki perkembangannya di negara-negara barat, dengan perkembangan yang sungguh menakjubkan. Tetapi di bagian lain, Islam masih berada di dalam nuansa saling berebut otoritas penafsiran keagamaan. Islam di negara-negara yang mayoritasnya umat Islam dengan pemahaman beragama yang kebanyakan adalah Islam ahlu sunnah wal jamaah, maka sesungguhnya sedang terjadi kontestasi. Dua kelompok ini saling berebut wacana di dalam dakwah khususnya di media social. Antara yang satu dengan lainnya saling mengklaim kebenaran. Yang satu menyatakan kebenaran mutlak atas tafsir keagamaannya, dan yang lainnya juga menyatakan klaim kebenaran atas tafsir agamanya. Yang satu menyerang dan yang lain bertahan. Konsekuensinya tentu menjadikan wacana Islam ramai dengan pernyataan yang saling merendahkan dan saling menyalahkan.

Islam sebagai agama tentu mengalami fase pemahaman yang berkembang. Para ulama yang menjadi penafsir atas ajaran agama juga mendasarkan tafsir agamanya sesuai yang diterima dan dinyatakan benar oleh ulama-ulama sebelumnya. Jika pada masa sahabat, maka jika ada masalah yang terkait dengan tafsir keagamaan, maka bisa ditanyakan kepada para sahabat Nabi Muhammad SAW, jika ada masalah yang terjadi pada masa tabiin, maka bisa ditanyakan kepada tabiin. Para tabiin adalah orang yang pernah hidup sezaman  dengan para sahabat, dan tabiit tabiin adalah orang yang pernah hidup sezaman dengan para tabiin.

Oleh karena itu jika terjadi perbedaan penafsiran tentang agama, maka mereka bisa bertanya kepadanya. Itulah sebabnya, di saat muncul masalah di dalam tafsir agama maka rujukannya jelas. Hal ini tentu berbeda dengan zaman sekarang. Jarak waktu dengan Nabi Muhammad SAW selama 1446 tahun. Jarak yang sangat lama, sehingga dipastikan akan terjadi varian-varian tafsir atas agama. Di tengah banyaknya tafsir agama tersebut kemudian terdapat da’i yang mendakwahkan bahwa hanya fatsir ulamanya saja yang benar dan yang lain semuanya salah. Di sini terjadi truth claimed yang berlebihan. Keyakinan bahwa hanya tafsir agamanya saja yang benar itu berarti memutlakan kebenaran tafsir.

Kaum salafi, misalnya menyatakan bahwa hanya tafsir ulamanya saja, seperti Syekh Nashiruddin Albani, Syekh Abdullah bin Baz, atau Syekh Utsaimin saja yang dinyatakan memiliki kemutlakan dalam penafsiran ajaran Islam. Mereka adalah ulama yang paling otoritatif dalam penafsiran ajaran agama. Selain yang dari tafsirannya adalah kesalahan. Misalnya, membaca lailaha ilallah ba’da shalat secara berjamaah adalah bidh’ah, membaca doa bersama setelah shalat adalah bidh’ah, dan membaca dzikir bersama setelah shalat juga bidh’ah. Itulah sebabnya orang yang melakukannya dianggapnya pasti akan masuk neraka. Baginya, yang berhak masuk surga adalah kelompoknya sesama kaum Wahabi.

Inilah sekelumit dakwah yang sementara ini sedang dinikmati oleh masyarakat Indonesia. jika di negara-negara lain sedang terjadi upaya untuk mengislamkan orang non-muslim, maka di sini para da’inya sibuk untuk menyalahkan amalan umat Islam. Pertarungan menjadi semakin menguat melalui pasukan cyber yang dimilikinya.

Untuk itu, diperlukan dakwah yang bisa mencerahkan umat Islam untuk memahami Islam secara arif dengan cara menurunkan ego claimed kebenaran yang dapat menyesakkan relasi social antar umat beragama.

Wallahu a’lam bi al shawab.