• August 2026
    M T W T F S S
    « Jul    
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930
    31  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

DAKWAH DI TENGAH RADIKALISME

Ada tiga peristiwa menarik di bulan Oktober 2010 yang patut dicermati, yaitu: pertama, pelaksanaan workshop yang diikuti oleh pesantren di Jawa Timur yang diselenggarakan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dalam rangka membahas tentang pentingnya mempertahankan pilar-pilar kebangsaan bagi seluruh elemen bangsa Indonesia. Acara ini digelar di Surabaya, dua minggu yang lalu. Pilar kebangsaan yang terdiri dari Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Keberagaman, memang harus dipertahankan di tengah berbagai gerakan yang terjadi akhir-akhir ini.

Kedua, acara yang digelar oleh PBNU –Lembaga Dakwah NU—bekerja sama dengan UIN Maliki Malang, yang bertemakan deradikalisasi agama yang dilaksanakan tanggal 30 Oktober sampai 01 Nopember 2010. Acara ini diikuti oleh kaum akademisi dan juga para aktivis NU yang memang selama ini terlibat di dalam kegiatan dakwah Islam. Acara ini juga menarik sebab menjadi ajang untuk membahas tentang gerakan radikal yang terus berkembang di Indonesia.

Ketiga, acara yang digelar oleh Pimpinan Pusat Asosiasi Profesi Dakwah Indonesia (APDI) di Surabaya dan dihadiri oleh pimpinan Fakultas Dakwah UIN, IAIN dan STAIN se Indonesia dan juga para aktivis dakwah juga membahas tentang Peran dakwah Islam dalam konteks radikalisme. Seminar internasional dan Rapat Kerja Nasional  (rakernas) ini memang menjadi ajang untuk membahas secara mendalam tentang apa yang seharusnya dilakukan oleh para da’i di tengah semakin semaraknya gerakan radikalisme agama di Indonesia.

Narasumber yang hadir di dalam kegiatan ini antara lain adalah Kristen F. Bauer, Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Jawa Timur, Mendiknas, Mohammad Nuh, Brigjen Ahmad Yani Basuki, staf ahli Presiden SBY dan juga Direktur Penerangan Agama Islam, Ahmad Jauhari dan lain-lain. Selain temanya yang menarik, variasi peserta yang datang dari seluruh Indonesia juga menjadi kekuatan seminar internasional dan rakernas APDI ini. Bahkan juga terdapat beberapa peserta dari Simply Islam, Singapura, yang memang secara khusus datang di acara ini.

Dr. Ahmad Yani Basuki –alumni Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel—Brigjen yang menjadi staf ahli Presiden SBY, mengungkapkan hal-hal baru yang selama ini tidak disadari orang tentang relasi antara Indonesia dengan negara-negara barat. Sebagai akibat pengeboman terhadap WTC di Amerika Serikat, 11 September 2001, maka sontak dunia barat menganggap bahwa Islam itu sama dengan kekerasan. Kemudian ditindaklanjuti dengan pengeboman di Bali, 12 Oktober  2002, maka dunia juga semakin kuat beranggapan bahwa dunia Islam itu dunia kekerasan.

Akibat yang jauh lebih terasa adalah penarikan dan pembatalan terhadap berbagai kerjasama perdagangan dan investasi di Indonesia. Ada semacam ketakutan untuk melakukan investasi di Indonesia yang disebabkan oleh kekerasan demi kekerasan agama tersebut. Bagi dunia usaha, kekerasan agama tersebut menjadi semacam hantu di siang bolong yang menakutkan.

Kekerasan agama yang disebabkan oleh terorisme bahkan juga secara umum berpengaruh terhadap cara pandang dan gerakan anti Islam atau Islamphobia di    seluruh dunia. Negara-negara yang dahulunya ramah terhadap Islam menjadi memerangi Islam. Di masa lalu, ketika ada orang Islam yang merasa tidak nyaman di negeri Islam –banyak  ilmuwan yang eksodus karena pemikirannya—kemudian menetap di negara-negara barat. Mereka ini kemudian menetap di Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Perancis, Jerman, Belanda dan sebagainya. Mereka dilindungi di negeri ini, karena HAM dan demokrasi.

Akan tetapi karena kekerasan dan terorisme yang terjadi, maka kemudian negara-negara barat tersebut  menjadi anti terhadap Islam dan umat Islam. Sehingga mereka lalu membatasi terhadap gerakan orang Islam di negaranya. Orang Islam diisolasi, dibatasi dan dipinggirkan sebagai akibat tindakan kekerasan atas nama agama yang dilakukan oleh Islam radikal terhadap warga negaranya. Jika dicermati, apa sesungguhnya kesalahan orang-orang yang di Bom di Bali, J.W. Mariott, Ritz Carlton dan sebagainya. Mereka adalah orang yang tidak tahu menahu persoalan politik dan agama.

Sebagai akibat dari kekerasan agama tersebut, maka orang-orang garis keras yang anti terhadap Islam lalu memperoleh momentum yang sangat baik. Geertz Wilders di Belanda menjadi sangat terkenal karena gerakan anti Islamnya dan memperoleh dukungan yang kuat dari masyarakat yang anti Islam atau islamphobia. Banyak orang di barat yang karena antiislamnya kemudian menjadi senator di negaranya. Mereka menjual kekerasan agama sebagai komoditi untuk memasuki parlemen dan pemerintahan.

Oleh karena itu, salah satu efek terorisme dan radikalisme Islam bagi dunia barat adalah memunculkan Islamphobia yang sangat tinggi. Jika kemudian terjadi gerakan antiislam di barat, sesungguhnya hal tersebut adalah efek dan bukan penyebab. Orang barat menjadi benci terhadap Islam bkan tanpa alasan, yaitu tindakan kekerasan yang dilakukan oleh islam radikal terhadap warga negaranya. Orang sering keliru memahami tentang hal ini, sehingga semuanya dianggapnya sebagai efek, padahal banyak tindakan antiislam yang sebenarnya dipicu oleh perlakuan kekerasan agama.

Oleh karena itu, yang sungguh diperlukan adalah keterpaduan antara hard power dan soft power untuk mengatasi radikalisme agama ini. Hard power yang direpresentasikan oleh pemerintah hakikatnya adalah untuk mengatasi secara instan atau mengatasi secara cepat terhadap gerakan radikalisme. Akan tetapi yang jauh lebih penting adalah peran soft power atau masyarakat –termasuk APDI—untuk melaksanakan pembinaan dan pembangunan masyarakat yang mengedepankan Islam rahmatan lil alamin.

Jadi, harus ada sinergi antara pemerintah dan masyarakat di dalam mengatasi persoalan radikalisme yang terjadi di Indonesia.

Wallahu a’lam bi al shawab.

INTEGRASI KELEMBAGAAN DALAM PENDIDIKAN

Di dalam suatu kesempatan memberikan presentasi pada acara Seminar Internasional dan Rapat Kerja Nasional Asosiasi Profesi Dakwah Indonesia (APDI) di Hotel Oval Surabaya, 31 Oktober 2010, Mendiknas, Prof. Dr. Mohammad Nuh, DEA  mengungkapkan sesuatu yang sangat menarik, bahwa dalam rangka integrasi ilmu pengetahuan atau yang biasa disebut sebagai islamisasi ilmu pengetahuan, maka yang diperlukan terlebih dahulu adalah integrasi kelembagaan. Sebab melalui integrasi kelembagaan, maka turunannya akan bisa untuk diintegrasikan. (more..)

MEMBANGUN DAKWAH ISLAM RAHMATAN LIL ALAMIN

Kita tentu sudah tidak perlu berdebat tentang pengertain dakwah, apakah bil qalam, bil lisan atau bil hal. Karena ketiganya tentu memiliki posisi dan kepentingan yang berbeda-beda. Mungkin juga tidak lagi mana yang lebih efektif antara satu dengan lainnya. Biarkan kajian-kajian konseptual yang akan membendah tentang hal ini. Kepentingan kita yang paling mendasar adalah bagaimana dakwah itu bisa menjadi instrumen bagi peningkatan religiositas di masyarakat kita. (more..)

SUMPAH PEMUDA DI ERA MODERN

Tanpa terasa bahwa sudah 82 tahun sumpah pemuda berlalu. Peristiwa yang sangat heroic ini terjadi pada tanggal 28 Oktober 1928 yang diikuti oleh semua elemen bangsa Indonesia terutama kaum mudanya.  Mereka berikrar bahwa hanya ada satu nusa, bangsa, dan bahasa, yaitu Indonesia. (more..)

BENCANA YANG TERUS MENDERA

Akhir-akhir ini banyak bencana yang mendera bangsa Indonesia. Belum hilang dari ingatan kita tentang banjir bandang di Wasior Papua yang  meluluhlantakkan seluruh bangunan pemukiman di sana, maka kemudian disusul dengan Tsunami di Kepulauan Mentawai yang juga merenggut banyak nyawa manusia. Sepuluh desa musnah dan sebanyak 460 orang hilang.  Dan  yang barusan terjadi adalah meletusnya Gunung Merapi di wilayah Yogyakarta yang juga merenggut banyak nyawa manusia. Bahkan ikon Gunung Merapi Mbah Marijan yang fenomenal juga ikut tewas.

Selama ini Mbah Marijan dianggap sebagai pawangnya Gunung Merapi. Beliau memperoleh julukan Mas Panewu Surakso Hargo karena fungsinya dalam menjaga Gunung Merapi.  Masyarakat akan patuh terhadap apa yang dinyatakannya. Jika Mbah Marijan menyatakan harus mengungsi, maka penduduk di sekitarnya akan mengungsi. Beliau yang selama ini menjadi pembaca tanda-tanda alam yang sangat lihai. Jadi ketika akan datang wedus gembel (awan panas) yang disertai dengan lahar panas menerjang daerah sekitar Gunung Merapi, maka Mbah Marijanlah yang mengetahui terlebih dahulu.

Akan tetapi takdir Tuhan memang tidak bisa ditolak oleh siapapun dan orang mestilah tunduk terhadap takdir Tuhan tersebut. Selama ini memang Mbah Marijanlah yang selalu menjadi pembaca pertanda alam itu. Artinya, bahwa melalui kemampuannya membaca pertanda alam, maka beliau yang memerintahkan masyarakat lainnya untuk melakukan sesuatu.

Namun demikian takdir Tuhan sungguh di luar kemampuan manusia. Mbah Marijanpun terkena awan panas dan meninggal. Tetapi satu hal yang sangat mengagumkan dan bahkan mungkin sangat sedikit orang yang meninggal dalam posisi seperti beliau adalah Beliau meninggal dalam keadaan shalat dan suasana sujud kepada Allah. Jasad Mbah Marijan ditemukan oleh Tim SAR dan PMI tertimbun abu Merapi dan dalam keadaan sujud.

Sungguh di minggu ini ada dua peristiwa yang membuat hati saya termenung. Ada dua orang hebat yang sama-sama meninggal dalam keadaan sujud kepada Allah. Yaitu Prof. Dr. KH. Syaikhul hadi Permono, SH,MA yang meninggal dalam keadaan sujud di Jakarta dalam tugas BAN PT dan yang lainnya adalah Mbah Marijan yang juga meninggal dalam keadaan sujud. Subhanallah, telah kembali hamba-Mu yang luar biasa itu. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.

Bencana tentu bisa dikaitkan dengan konsepsi teologis, yaitu takdir Tuhan. Tidak ada di dunia ini yang tidak memiliki takdirnya sendiri-sendiri. Bencana alam seperti gunung meletus adalah bagian dari takdir Tuhan yang tidak bisa dirasionalkan. Artinya, bahwa melalui kemampuan manusia dengan ilmu pengetahuan kemudian bisa menghentikan gunung meletus. Dia merupakan peristiwa alam yang tidak bisa ditolak oleh kemampuan manusia.

Jika Allah memang menghendaki, maka gunung meletus akan terjadi sesuai dengan sunnatullah. Artinya bahwa ada proses yang memang harus terjadi. Pertanda tentang akan meletusnya Merapi memang bisa diramalkan. Akan tetapi kapan datangnya yang pasti ternyata tidak bisa diduga secara akurat.

Manusia memang memiliki kemampuan untuk membaca tanda-tanda alam. Bahkan dengan kemampuan ilmu pengetahuan bahkan mungkin secara lebih akurat juga bisa membaca tanda-tanda alam. Akan tetapi manusia tetap saja tidak tahu kapan sesungguhnya takdir Tuhan untuk umur, misalnya akan tiba. Sejauh yang bisa diduga hanyalah tanda-tandanya saja.

Negeri ini sedang dilanda duka di tengah semakin banyaknya orang beribadah pergi haji. Tiga bencana nasional: banjir Wasior, Tsunami Mentawai dan meletusnya Merapi adalah bersamaan waktunya dengan pemberangkatan ibadah haji.

Kita lalu bisa merenungkan dengan pertanyaan: apa relevansi kepergian orang ke tanah Suci untuk pergi haji dengan bencana bertubi-tubi di negeri ini. Adakah ini merupakan peringatan Tuhan, Allah swt,  agar bangsa ini juga memperhatikan terhadap penderitaan sesama bangsanya.

Kita akan sulit menjawab pertanyaan teologis ini, akan tetapi memang perlu direnungkan bahwa di sekitar kita memang masih banyak orang yang perlu disantuni dan dibantu karena memang mereka adalah orang yang dhuafa. Mereka adalah orang yang belum beruntung di negeri sendiri. Belum lagi yang kemudian terkena bencana seperti yang terjadi akhir-akhir ini.

Jadi, memang ada pertanyaan yang perlu dijawab dengan hati dan perasaan dan bukan semata-mata dengan rasio yang diberikan Allah kepada kita.

Wallahu a’lam bi al shawab.