Saya harus menyatakan bahwa Iwan Fals memang memiliki kharisma yang besar di dalam bermusik. Maka pantaslah jika penggemarnya yang tergabung di dalam Paguyuban Oi menjadi yang terbesar dan paling konsis di tahun-tahun terakhir. Ada lagi paguyuban fans music yang juga konsis yaitu Paguyuban Slankers, akan tetapi militansi dan komitmennya masih jauh di bawah penggemar setia Iwan Fals. Hal ini tentu disebabkan oleh jangkauan music Iwan Fals yang lebih universal dibandingkan dengan music apapun di negeri ini. Dan menurut saya, pantaslah Iwan Fals memperoleh penghormatan seperti itu. (more..)
Iwan Fals di dalam kolaborasinya dengan Ki Ageng Ganjur ternyata tidak hanya menyanyi dan menari, akan tetapi juga menyajikan sesuatu yang berbeda, yaitu berdakwah untuk mengajak masyarakat melestarikan lingkungan. Dia tidak hanya sekedar menyanyikan lagunya yang bertema “Menanam” akan tetapi juga secara sengaja melakukan penghijauan di dalam acara Tour of Pesantrennya. (more..)
IAIN Sunan Ampel sungguh memperoleh manfaat yang luar bisa dari acara tour “Perjalanan Spiritual Iwan Fals” ke Jawa Timur. Dari sebanyak 26 pesantren yang dikunjungi untuk pementasan adalah IAIN Sunan Ampel. Dalam lawatan musikalnya, Iwan fals berkolaborasi dengan Dr. Sastro yang membidani Group Musik Kanjeng Kyai Ganjur. Sebuah kolaborasi yang unik sebab di dalam kelompok music ini terdapat paduan antara unsure Jawa, Arab dan music modern. (more..)
Di dalam perbincangan tentang integrasi ilmu, maka Menteri Pendidikan Nasional, Mohammad Nuh, menyatakan bahwa yang lebih dahulu harus disatukan adalah visi kelembagaannya. Artinya, bahwa semua lembaga yang memiliki misi pendidikan haruslah menyatukan visinya, sehingga kemudian turunannya, seperti integrasi ilmu pengetahuan juga akan dapat dicapai. Tanpa integrasi kelembagaan sangat sulit untuk melakukan integrasi keilmuan. (more..)
Ketika saya mendengar berita di televisi bahwa banyak terjadi penjarahan terhadap harta warga desa di sekitar Gunung Merapi pasca semburan Wedus gembel, maka saya sungguh termenung. Apa yang sebenarnya sedang berkecamuk di dalam dada orang-orang yang melakukannya. Orang-orang di desanya Mbah Maridjan yang mengungsi, kemudian pulang kembali ke rumahnya masing-masing untuk melihat dan mengecek harta benda yang ditinggalkannya, ternyata didapati banyak harta mereka yang dijarah. Sungguh suatu keadaan yang tidak masuk akal, bahwa kaum menjarah itu melakukannya terhadap orang-orang yang sedang bernasib tidak baik. (more..)