Pertandingan bulutangkis antara Indonesia melawan Malaysia selalu menyisakan ketegangan. Bukan hanya pertandingan olahraga, akan tetapi juga melibatkan perasaan sebagai bangsa. Memang setiap pertandingan olahraga antar negara selalu melibatkan rasa nasionalisme.
Perasaan nasionalisme itu begitu kentara. Coba simaklah pertandingan bulutangkis atau sepakbola, yang melibatkan pemain Indonesia melawan negara lain, maka dapat dipastikan akan menghadirkan perasaan nasionalisme tersebut. Ada simbol-simbol nasionalisme yang mengedepan di setiap pertandingan itu
Saya tentu bersyukur mengikuti pertandingan final bulutangkis yang sangat menentukan antara pemain Indonesia melawan Indonesia. Saat itu posisinya sama kuat. Simon Santoso menang, sementara pasangan ganda, Bona dan Ahsan kalah. Ketika Tomy Sugiarto bertanding, maka teriakan-teriakan atau yel-yel yang berbunyi “Indonesia, Indonesia” selalu menggema. Sungguh indah mendengarkan semua penonton bersemangat mendukung pemain kesayangannya kala bertanding. Tomy memenangkan pertandingan. Demikian pula pasangan ganda Kido dan Hendrawan juga memenangkan pertandingan melawan pemain Malaysia. Melalui kemenangan tunggal dan ganda ini, maka skuad Indonesia menjadi kampiun bulutangkis se Asia Tenggara.
Yang sungguh menarik bagi saya adalah tindakan dukungan masyarakat Indonesia terhadap pertandingan itu. Bendera Merah Putih, syal dan kaos yang berpadu dalam melodi dukungan terhadap tim bulutangkis Indonesia tentu merupakan gambaran tentang nasionalisme keindonesiaan dan persatuan dan kesatuan bangsa.
Di dalam olahraga, Indonesia ternyata masih ada. Melihat kenyataan ini, maka gambaran Indonesia yang dikoyak-koyak oleh berbagai keruwetan baik dalam aspek ekonomi dan politik bisa diredusir sedemikian rupa. Melalui olahraga, maka gambaran Indonesia sebagaimana ditayangkan oleh beberapa stasiun televisi seakan tidak nyata adanya.
Berdasarkan gambaran tentang Indonesia di televisi, maka Indonesia seakan-akan mau runtuh. Selalu digambarkan tentang kegagalan Indonesia di dalam berbagai aspek kehidupan. Persoalan korupsi, terorisme, kekerasan dan sebagainya yang menghiasi media kita. Rasanya Indonesia adalah contoh negara dengan seribu masalah. Tiada berita yang lebih menarik pemberitaan di media televisi kecuali berita tentang kekerasan di negeri ini.
Syukurlah bahwa masih ada medium untuk menyatukan masyarakat Indonesia, yaitu melalui olahraga. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Icuk Sugiarto, komentator pertandingan bulutangkis dan mantan pemain nasional, bahwa melalui olahraga ternyata semangat nasionalisme tersebut tumbuh dan berkembang. Melalui olahraga, maka tidak ada sekat agama, suku bangsa dan budaya. Mereka menyatu mendukung tim Indonesia dengan gegap gempita. Indonesia menjadi satu karena olahraga.
Saya mengamini ungkapan Icuk Sugiarto ini. Kita merasa menjadi satu dan menyatu karena olahraga. Melalui olahraga, maka semua mendukung Indonesia. Jadi, olah raga ternyata bisa menjadi instrumen untuk mempersatukan masyarakat Indonesia. Coba kita pikirkan bahwa melalui even olahraga, maka semua komponen bangsa berada di situ. Pemain bola kita dari multi suku bangsa. Demikian pula pemain bulutangkis, atletik dan sebagainya. Mereka semua berusaha secara maksimal untuk menjadi the winner. Semua berbuat untuk Indonesia. Ada Papua, ada Sumatera, ada Jawa, ada Sunda, ada Flores dan sebagainya yang berjuang untuk menegakkan panji-panji Sang Saka Merah Putih.
Melalui even olahraga, maka lagu Indonesia dan Sang Saka Merah Putih berkibar dengan gagahnya.
Saya rasa dunia politik perlu banyak belajar dari even olahraga ini, dalam rangka untuk menyatakan bahwa kepentingan nasional jauh lebih penting dari pada kepentingan politik atau golongan tertentu.
Wallahu a’lam bi al shawab.
Dari pelaksanaan Diklatpim Tingkat I Angkatan XXII tentunya ada beberapa catatan terutama yang menyangkut pertanyaan bagaimana peran pemerintah di dalam pengentasan kemiskinan terutama dalam kaitannya dengan keterlibatan UMK. Dengan mengusung tema Sinergi Pemerintah-Masyarakat-Dunia Usaha dalam mewujudkan pembangunan Berkeadilan, maka banyak kesempatan untuk mendiskusikan tentang tema tersebut.
Sebagaimana dipahami bahwa pembangunan bukan hanya dilaksanakan oleh pemerintah, akan tetapi juga harus melibatkan peran serta masyarakat dan dunia usaha. Melalui keterlibatan komponen penting pembangunan ini, maka akan didapatkan hasil yang lebih memadai. Andaikan konsep ini bisa dilaksanakan semenjak dahulu, maka produk pembangunan tentu akan lebih kelihatan.
Namun demikian, yang memiliki peran lebih besar adalah pemerintah. Hal ini tentu saja disebabkan oleh peran pemerintah yang sangat strategis di dalam percepatan hasil pembangunan. Sesungguhnya pemerintah memiliki peran signifikan di dalam pengembangan sinergi dengan masyarakat dan dunia usaha. Pemerintah adalah inisiator pengembangan sinergi ini. Pemerintah memiliki aparat birokrasi dan dukungan kekuasaan untuk melakukan perubahan.
Melalui kekuatan aparat birokrasi yang tangguh dengan didukung oleh kemampuan yang memadai, maka akan didapatkan pembangunan yang lebih baik. Sayangnya bahwa kemampuan birokrasi kita belum mendukung terhadap gagasan besar untuk melakukan sinergi tersebut. Profesionalitas birokrasi kita masih sangat rendah. Masih berkisar pada kisaran angka 30 persen saja yang memiliki kemampuan memadai. Selebihnya masih memprihatinkan.
Menilik kenyataan ini, maka sesungguhnya yang perlu memperoleh kapasitas tambahan untuk dididik dan dilatih secara memadai adalah aparat birokrasi. Mereka harus dilatih agar memiliki kemampuan yang bersearah dengan entrepreneurship bureaucracy. Hanya sayangnya bahwa perubahan mindset ke arah ini juga bukan persoalan sederhana. Mentalitas birokrasi kita masih bercorak easygoing. Birokrasi asal jalan.
Berdasarkan rumusan kesimpulan di dalam diskusi Kertas Kerja Angkatan, di Diklatpim Tingkat I Angkatan XXII, maka disimpulkan bahwa menciptakan pemerintahan yang efektif melalui pengembangan sinergi antara pemerintah, masyarakat dan dunia usaha dapat mewujudkan pembangunan berkeadilan. Pengembangan pemerintah yang efektif akan dapat terjadi, jika aparatnya memiliki kapabilitas yang memadai dan didukung oleh kapabilitas kepemimpinan yang generatif.
Kepemimpinan adalah reinforcing kapabilitas birokrasi. Semakin kuat kapabilitas kepemimpinan, maka akan semakin kuat kualitas birokrasinya.
Kepemimpinan, birokrasi dan pembangunan tentu merupakan satu kesatuan variabel yang saling mengkait. Birokrasi tidak akan menjadi baik, jika tidak dibarengi dengan kepemimpinan yang kuat. Makanya kehadiran kepemimpinan yang kuat merupakan pendorong bagi munculnya birokrasi yang kuat.
Dengan demikian, birokrasi entreprenership juga akan muncul, jika kepemimpinannya memiliki indra entreprenership yang memadai. Hanya melalui kepemimpinan yang kuat dengan visi entreprenership saja, maka birokrasi kewirausahaan akan terwujud.
Oleh karena itu, himbauan dari UMK agar pemerintah semakin memperhatikan kaum UMK di dalam kiprahnya untuk mengentaskan kemiskinan rasanya tidak akan tercapai, jika tidak didukung secara maksimal oleh pemerintah.
Permohonan dari UMK agar anggaran, akses pasar, pengembangan SDM dan peningkatan kualitas produk akan bisa tercapai, jika dukungan kepemimpinan, birokrasi dan masyarakat berselaras untuk mencapainya.
Wallahu a’lam bi al shawab.
Waktu itu seperti dilipat dengan cepat. Sepuluh minggu kami berada di Diklatpim I Angkatan XXII. Terhitung mulai 13 September 2011 sampai 15 Nopember 2011. Selama itu kami bersama kawan-kawan menimba ilmu kepemimpinan dalam kerangka pendidikan dan pelatihan. Semula waktu berjalan lambat, akan tetapi semakin lama terasa waktu berjalan dengan cepat. Akhirnya perpisahan pun datang menjelang.
Sebagai ketua kelas di Diklatpim Tingkat I, maka saya diminta untuk memberikan sambutan atas nama kelas di dalam acara penutupan.
Angkatan ini memang memiliki kekhususan, sebab meskipun dalam waktu yang terbatas, akhirnya kelas ini bisa menghasilkan buku dari hasil rekaman proses selama Diklatpim berlangsung, yaitu sebuah buku yang diberi judul “Falsafah Bangsa dalam Dinamika Pembangunan Nasional dan Kebijakan Pemerintahan”. Buku ini adalah kumpulan tulisan dari Blog dan renungan atau jurnal harian peserta. Sungguh menjadi kebahagiaan ketika bisa berbeda dengan angkatan lainnya dalam produk pendidikan. Salah satu pembelajaran dari Bagawan Marketing Indonesia, Hermawan Kartajaya, adalah to be different. Dan perbedaan itu salah satunya adalah hadirnya buku tersebut.
Sebagai peserta yang mendapat amanah untuk menyampaikan pidato dalam acara penutupan, maka saya sampaikan beberapa hal, pertama, adalah ucapan terima kasih kepada para pejabat di LAN, khususnya Prof. Dr. Ismail Said, Deputy Spimnas yang telah berkenan memberikan kesempatan kepada semua peserta untuk mengikuti acara ini. Lebih dari itu, ucapan terima kasih juga disampaikan kepada nara sumber dan widyaiswara yang sudah memberikan arahan dan pemaparan tentang materi pembelajaran.
Semua dari mereka bukan sekedar narasumber atau widyaiswara akan tetapi juga guru. Saya menjadi teringat kepada ucapan Sayyidina Ali Karramahullahu wajhah di dalam kitabnya “Ta’limul Mutaallim” bahwa beliau akan mengabdikan dirinya, jiwa dan raganya, kepada orang yang mengajarnya suatu ilmu meskipun hanya satu huruf”. Hal ini menandakan bahwa tidak ada lagi yang disebut sebagai mantan guru atau mantan pendidik, sebab mereka adalah orang yang telah memberikan bekal ilmu pengetahuan kepada yang lainnya. Jadi, tidak ada kata menyepelekan guru atau tidak menghormat guru.
Kedua, bahwa peserta Diklatpim ini adalah representasi Indonesia. Ada variabilitas agama, suku, bahasa dan budaya, akan tetapi mereka bisa menyatu dalam satu kesatuan. Andaikan masyarakat Indonesia bisa melakukan hal yang sama, maka dipastikan bahwa Indonesia akan aman dan damai. Meskipun mereka berbeda akan tetapi bisa menjadi satu. Unity in diversity. Mereka adalah orang dengan latar belakang kehidupan yang berbeda, akan tetapi mereka bisa menyatu dalam damai. Bisa duduk bersama, bisa diskusi bersama, bisa makan dan minum bersama bahkan juga bisa menyanyi bersama. Semuanya menggambarkan bahwa kita adalah satu kesatuan. Di dalam forum, maka kita berbicara tentang kita dan bukan berbicara tentang aku. Kekitaan dan bukan keakuan. Salah satu problem keindonesiaan kita sekarang adalah pada keinginan untuk berkata dan bertindak aku dan bukan kita.
Sebagai pejabat yang akan menyandang jabatan eselon I atau sudah menjabat eselon I, maka kami yakin bahwa di dada kami ada darah merah putih, darah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jika dada ini dibelah, maka akan keluar pernyataan, bahwa kami adalah penegak Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ini adalah komitmen kita semua, bahwa ketika kita ditakdirkan untuk menjadi pejabat eselon I, maka tidak ada yang melebihi keinginan untuk tetap menjaga empat pilar kebangsaan, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI dan kebinekaan.
Komitmen ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keinginan kita bersama untuk membangun bangsa ini sesuai dengan cita-cita bangsa, sebagaimana tercantum di dalam Pembukaan UUD 1945.
Oleh karena itu hasil terbesar dari Diklatpim ini adalah ketika sebagai pejabat negara kemudian berkomitmen untuk meneguhkan kesatuan dan persatuan bangsa sebagai modal dasar untuk membangun bangsa yang berkeadilan.
Selamat atas semua capaian di dalam Diklapim ini, semoga semuanya bermanfaat bagi peningkatan pelayanan birokrasi sebagai instrumen untuk membangun bangsa.
Wallahu a’lam bi al shawab.
Ada penggambaran menarik yang disampaikan oleh Pak Winarno tentang kepemimpinan, yaitu yang dinyatakan “Jadilah seperti Jenderal Soedirman”. Hal ini beliau sampaikan dalam kesempatan kegiatan Pra Seminar KKA yang dilaksanakan di LAN, 10/11/2011. Ungkapan ini begitu mendalam maknanya dan menghunjam di dalam hati nurani, sebab disampaikan pada saat yang begitu tepat.
Ungkapan ini menyiratkan tentang bagaimana seseorang harus memimpin di saat yang penting dan mendasar dan pilihan perilaku macam apa yang harus diambil di saat yang menentukan. Sebagaimana diketahui bahwa di saat genting maka pemimpin harus hadir. Di dalam filsafat Jawa digambarkan seorang pemimpin harus melakukan tindakan betada di tempat di saat genting. Jangan pernah terjadi “tinggal glanggang colong playu” artinya meninggalkan medan perang dan melarikan diri. Hal ini adalah tindakan yang dianggap menyalahi prinsip di dalam kepemimpinan. Apalagi kalau tindakan tersebut tanpa didasari oleh alasan yang rasional dan kebutuhan atau kepentingan lainnya.
Representasi kepemimpinan yang dilakukan oleh Jenderal Soedirman adalah kepemimpinan yang terlibat atau kepemimpinan partisipatif. Artinya seorang pemimpin selalu mengikuti terhadap apa yang dilakukan oleh anak buahnya. Kepemimpinan berciri khas seperti ini akan bisa dilakukan pada saat yang genting dan mendesak.
Pada saat Perang Gerilya melawan penjajah Belanda, maka Sang Jenderal ini terus mengikuti pasukannya. Padahal beliau sedang dalam kondisi Sakit Paru-paru dan keadaannya parah. Beliau disarankan agar istirahat saja, akan tetapi beliau menolak. Sambil ditandu beliau mengikuti perjuangan bala tentaranya di medan kurusetra, beliau ikuti pasukannya di palagan atau medan pertempuran. Beliau tidak lepakan pasukannya berdiri sendiri, berperang sendiri dan berperang tanpa arahan pimpinannya.
Teladan Jenderal Soedirman dapat menjadi kaca benggala bagaimana tindakan pemimpin dalam suasana yang genting dan harus membuat keputusan yang tepat bagi para kawulanya atau para pengikutnya. Di saat genting, maka seorang pemimpin haruslah menjadi Sabda Pandita Ratu. Tidak hanya pandita yang hanya berbicara, akan tetapi juga ratu yang memutuskan tindakan-tindakan dan melakukannya.
Kepemimpinan adalah tindakan untuk memutuskan. Artinya tindakan untuk memilih mana yang dianggap urgent dan importance. Ada hal yang important tetapi kirang urgent, akan tetapi juga ada yang importance dan urgent. Di dalam hal ini maka seorang pemimpin harus mengambil keputusan mana yang urgent dan importance. Jika salah memilih tindakan, maka akan menghasilkan kegagalan atau sekurang-kurangnya hasil yang tidak sesuai dengan keinginan bersama.
Di dalam khasanah pewayangan, maka Sri Kresna tidak hanya penasehat Pandawa dalam perang Baratayuda, akan tetapi sekaligus juga kusirnya Arjuna dalam melawan Karna atau Basukarna, yang juga saudara tirinya sendiri. Basukarna adalah kakak Pandawa yang lahir dari telinga Dewi Kunti. Dia dilahirkan dari telinga Dewi Kunti akibat membaca doa pada saat sedang mandi. Sesungguhnya dia dilarang membaca doa ini ketika sedang mandi. Karena membaca doa dalam keadaan seperti itu, maka akibatnya dia hamil. Karena masih perawan, maka oleh para dewa anaknya dilahirkan lewat telinga. Itulah sebabnya anak tersebut dinamakan Karna atau telinga. Di dalam peperangan ini Karna memang berhasil dikalahkan oleh Arjuna, akan tetapi yang penting bahwa kusir kereta perang Arjuna adalah Batara Krisna yang diyakini sebagai titisan Dewa Wishnu.
Di dalam gambaran ini, maka dapat diketahui bahwa seorang pemimpin tidak hanya duduk saja di singgasananya, akan tetapi juga terlobat di dalam proses dan dinamika perjuangan masyarakatnya. Di dalam kasus Krishna, dia adalah seorang raja, penasehat perang dan sekaligus titisan Dewa Wishnu, akan tetapi mampu menjadi kusir kereta perang. Jadi sekaligus memiliki kemampuan teknis peperangan. Dia tidak hanya menjadi penyusun strategi perang, akan tetapi juga mampu melakukannya secara memadai.
Dengan demikian, nasehat “jadilah seperti Panglima Soedirman” mengandung makna yang sangat mendalam, yaitu hendaknya kita sebagai pemimpin harus menyertai para bawahan ketika bawahan sedang bekerja atau mengerjakan tugasnya. Melalui cara ini, maka mereka akan merasa berada di dalam kebersamaan dengan pimpinannya.
Wallahu a’lam bi al shawab.
Terlepas dari kontroversi tentang Komodo sebagai tujuh keajaiban dunia, akan tetapi yang jelas bahwa untuk sementara Komodo sudah menjadi bagian dari Tujuh Keajaiban Dunia. Memang sampai hari ini masih ada yang meragukan tentang penyelenggara kontes keajaiban dunia tersebut. Penyelenggara kontes, New 7 Wonders, yang bermarkas di Zurich Swiss tersebut untuk sementara sudah menentukan pemenang tujuh keajaiban dunia bersama Amazon Brazil, Hallong Bay Vietnam, Iguazu Falls Argentina Brazil, Jeju Island Korsel, Table Mountain Afsel, dan Puerto Princess Underground River Filipina.
Begitu bersemangatnya, maka Panitia Nasional Pemenangan Kontes Tujuh Keajaiban Dunia, Yusuf Kalla menyatakan bahwa “terima kasih kepada semua yang mengkritik, semua yang memandang enteng bangsanya. Karena kritik memberikan emosi yang luar biasa, masyarakat mendukungnya”.
Kemenangan Komodo diumumkan lewat YouTube yang dianggap sebagai jejaring informasi yang paling terkenal. Meskipun hanya diumumkan lewat jejaring informasi tersebut, akan tetapi tidak mengurangi semangat para pengusung pemenangan Komodo sebagai bagian dari tujuh keajaiban dunia.
Komodo sebagai makhluk langka di dunia memang pantas memperoleh pengakuan tersebut. Penghargaan atas kelangkaan Komodo sebagai ciptaan Tuhan yang natural, tentu juga membuktikan bahwa secara natural ada yang bisa dibanggakan dari alam Indonesia. Melalui kemenangan Komodo ini sekaligus, langsung ataupun tidak langsung, juga akan membanggakan bagi masyarakat Indonesia.
Selama ini yang dikagumi oleh wisatawan luar negeri adalah Bali, sehingga tujuan wisatawan asing pertama adalah Bali dan kemudian Yogyakarta karena Borobudur, Prambanan dan lainnya. Jika kemudian Komodo bisa menjadi bagian dari tujuh keajaiban dunia, maka berarti ada potensi wisatawan baru yang bisa menjadi ikon pariwisata. Dengan terpilihnya Komodo meskipun masih sementara dan akan diumumkan secara resmi pada bulan Januari, maka khazanah dunia wisata Indonesia juga akan memperoleh tambahan ikon baru.
Dengan menggenggam posisi tujun keajaiban dunia, maka Taman Nasional Komodo (TNK) akan menjadi terkenal di dunia. Langsung maupun tidak langsung, maka juga akan menjadi bagian dari promosi wisata di dunia internasional. Yang dibutuhkan dalam kerangka mengembangkan pariwisata untuk dunia internasional adalah publikasi yang kontinyu dan sistematis. Jika membandingkan dengan Malaysia dan Thailand yang begitu gencar memberitakan tentang tempat wisatanya, maka Indonesia tergolong masih kalah.
Malaysia sangat gencar menyiarkan berita Indonesia dari sisi keamanan, demonstrasi, dan lainnya, sehingga bisa menjadi referensi intenasional tentang kenyamanan hidup di Indonesia. Semua pemberitaan di Indonesia tentu bisa menjadi referensi bagi orang yang akan berkunjung ke Indonesia. Padahal nyaris tidak ada berita tentang Malaysia atau Thailand di televisi Indonesia. Sebaliknya media Indonesia justru mengekspos besar-besaran tentang keamanan Indonesia. Itulah sebabnya maka kondusivitas keamanan tentu menjadi prasyarat untuk mengembangkan wisata di Indonesia.
Kita memang harus belajar banyak tentang pengelolaan tourisme. Jika kita ingin menjadikan TNK sebagai pusat wisata, maka harus dibangun infrstruktur yang mendukung terhadap pengembangan wisata dimaksud. Demikian pula mengembangkan tempat wisata lainnya. Harus ada dukungan wisata lain yang dapat menjadi daya tarik kaum wisatawan. Harus ada pendukung yang membuat orang lain mampu bercerita tentang keindahan TNK dan tempat rekreasi lainnya. Kita pasti bisa.
Wallahu a’lam bi al shawab.