Ada suatu peringatan yang penting disampaikan oleh Dr. Daniel Sparringa untuk direnungkan terkait dengan betapa pentingnya scenario planning bagi penyelenggaraan negara, perusahaan atau institusi lainnya. Scenario planning bukan sebuah rekayasa tentang masa depan, bukan prediksi atau ramalan akan tetapi adalah deskripsi untuk menggambakan apa yang akan terjadi.
Banyak negara yang sudah memiliki scenario planning, misalnya adalah Singapura. Apa saja discenarioplanningkan. Makanya, Singapura memiliki skenario planning tentang Indonesia, Audtralia, Malaysia dan lainnya. Semua unit pemerintahan memiliki skenario planning. Oleh karena itu, ada suatu divisi khusus yang bertugas untuk merumuskan scenaio planning dan bertanggungjawab langsung kepada perdana menteri Singapura. Bagi suatu instansi yang menbinginkan lembaganya tersebut memiliki peran penting bagi masyaakat maka dipastikan membutuhkan scenario planning.
Ada ssbuah contoh yang ekstrim, yaitu ketika terjadi pengeboman terhadap World Trade Center pada 11 Oktober 2002. Pada waktu itu sudah dirancang sebuah skenario tentang adanya kemungkinan serangan kaum teroris ke Ametika. Digambarkan bahwa yang menyerang Amerika tersebut adalah kaum teroris yang bisa mengemudikan pesawat dan merampas pesawat penumpang dan kemudian membunuh pilot pesawat tersebur. Sayangnya bahwa scenario planning teroris tersebut tidak diindahkan sebab masih kuat keyakinan bahwa kaum teroris pasti tidak bisa mengemudikan pesawat, pastilah mereka akan menyewa pesawat dan bukan mengemudikannya sendiri. Padahal waktu itu sudah diketahui bahwa ada sekelompok orang keturunan Arab yang mengambil kursus mengemudi pesawat, tetapi hanya mengambil cara mengemudikan pesawat saat akan landing. Beberapa peringatan ini tidak membuat pengambil kebijakan untuk mengawasi semua daerah strategisnya. Jadi, scenario planning menjadi sangat penting untuk menggambarkan apa yang akan terjadi dengan berbagai fenomena yang sedang terjadi.
Scenario planning bisa menjadi instrumen yang sangat baik dalam rangka untuk merumuskan program aksi yang relevan dengan apa yang sesungguhnya diperlukan. Katakanlah bahwa scenario planning Indonesia tahun 2025, maka tentunya akan bisa digambarkan tentang bagaimana Indonesia untuk tahun tersebut. Pada awal reformasi, sesungguhnya sudah dibuat scenario planning tentang mau seperti apa Indonesia tersebut, akan tetapi hingga sekarang belum diterapkan secara memadai. Ada kendala-kendala politik dan ekonomi atau lainnya yang menjadi variabel intervening di dalam pelaksanaannya.
Suatu contoh, tentang keputusan presiden untuk mengangkat menteri, maka juga ada pertimbangan tentang kewilayahan, sebab harus juga dipahami bahwa ada faktor representasi untuk menggambarkan kebinekaan. Berdasarkan kenyataan betapa Indonesia yang banyak ragamnya, maka strategi kepemimpinan yang diambil adalah alon-alon waton kelakon atau lambat tetapi pasti. Bagi masyarakat elit, maka pilihan ini tidak cocok, sebab dianggap lamban. Akan tetapi mengingat bahwa masyarakat Indonesia adalah masih di dalam kondisi yang belum bisa diajak lari dengan cepat, sehingga konsep Jawa tersebut relevan. Demikian pula tentang konsep Jawa gremet-gremet angger slamet juga relevan bagi pembangunan masyarakat yang masih di dalam kondisi seperti ini. Slogan semakin cepat semakin baik memang ada masanya. Jadi tidak salah jika yang seperti ini juga memperoleh suatu kesempatan untuk menjadi tema di dalam pemerintahan suatu negara. Akan tetapi di tengah nuansa sosial politik dan budaya yang seperti ini, maka memang harus ada pilihan dan pilihan itu adalah yang dilakukan oleh Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono.
Dengan demikian melalui scenario planning yang tepat maka akan diperoleh program yang bisa diprediksi berhasil untuk tujuan mencapai akselerasi pembangunan berkeadilan.
Wallahu a’lam bi al shawab.
Di dalam melihat pengaruh lingkungan strategik bagi bangsa Indonesia, maka yang perlu diperhitungkan adalah melihat terhadap aspek eksternal dan internal terkait dengan peluang, ancaman, kelemahan dan kekuatan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Inilah ungkapan Dr. Dwi Sucipto, MM, Direktur PT Semen Gresik Tbk dalam acara ceramah di Diklatpim Tingkat I di LAN.
Indonesia sesungguhnya memiliki peluang yang sangat bagus di dalan percakapan internasional. Dari sisi peluang, maka pengakuan tentang keberhasilan Indonesia di dalam pembangunan tentu membanggakan. Artinya, di tengah gejala pesimisme di banyak kalangan, ternyata Indonesia memiliki peluang yang cukup besar di dalam hal perkembangan ekonomi. Indonesia menjadi anggota G20, pertumbuhan ekonomi juga lebih baik dibandingkan Amerika Serikat sekalipun.
Kemudian dari sisi ancaman, maka krisis di Yunani dan krisis US akan mempengaruhi terhadap stabilitas pembangunan di Indonesia. Demikian pula liberalisasi ekonomi India dan Cina. Sekarang dampak perkembangan industrialisasi di Cina, maka Indonesia juga kebanjiran produk Cina. Melalui ketiadaan konsep proteksi, maka produk apapun akan datang ke suatu wilayah tanpa bisa dihentikan oleh siapapun. Sedangkan sebagai hambatannya adalah terorisme, bencana alam, hambatan jarak, daya saing infrastruktur, ketidakmerataan pembangunan. Tetapi sebenarnya ada sejumlah kekuatan yang dimiliki oleh Indonesia, misalnya SDM/SDA, daya tarik alam dan budaya, makro ekonomi dan competitiveness rank. Ada banyak potensi yang bisa dikembangkan terkait dengan sinergi ini.
Kita seringkali pesimis padahal sesungguhnya kepercayaan internasional terhadap Indonesia meningkat, ditandai dengan pengakuan World Economic Forum tentang daya saing Indonesia tahun 2010-2011, yang berada di peringkat 44 yang sebelumnya di peringkat 54. Majalah The Economic edisi Desember 2010 menyatakan Indonesia sebagai new emerging economy. Dan sebagainya.
Sebagai Orang Indonesia –dengan O besar– maka saya merasa bangga dengan ungkapan yang bersumber dari pengakuan jurnal internasional, sebab ada peluang Indonesia yang sungguh berbeda dengan berbagai analisis di media, khususnya media elektronik dari para pakar Indonesia sendiri.
Ungkapan tentang capaian atau prestasi Indonesia di dalam jajaran dunia internasional, sesungguhnya bisa menjadi penawar di tengah kegalauan sebagai bangsa karena begitu gencarnya pemberitaan tentang korupsi, nepotisme, kolusi, kekerasan dengan segala faktor penyebabnya. Jadi memang diperlukan balancing pemberitaan tekait dengan posisi negara kita di tengah percaturan dunia global.
Ancaman bagi pencapain Indonesia di pwringkat lebih baik di masa depan tentu saja akan terus ada, misalnya tentang terorisme. Oleh karena itu, menggalakkan gerakan anti terorisme melalui tindakan preventif tentu sangat penting. Gerakan kultural anti terorisme harus berdampingan dengan gerakan struktural anti terorisme. Jadi kita jangan mengandalkan pada operasi Densus 88 Anti Teror untuk urusan terorisme.
Korupsi yang masih tinggi juga menjadi ancaman pencapaian bagi kemajuan bangsa. Di dalam hal ini, maka melakulan gerakan anti korupsi yang juga merupakan langkah strategis untuk membersihkan Indonesia dari beroperasinya kaum koruptor. Sama dengan menghadapi terorisme, maka diperlukan gerakan struktural melalui lembaga penegakan hukum, akan tetapi juga bisa melalui lembaga kultural yang sesungguhnya bisa menjadi motor bagi gerakan anti korupsi.
Globalisasi dengan segala anak cucunya tentu tidak bisa dihindari akan tetapi harus disikapi dengan cerdas dengan memperhitungkan semua aspek yang ada atau kekuatan yang kita miliki. Kita berkeyakinan bahwa melalui filsafat bangsa dan kesepakatan nasional yang sudah diancangkan oleh para pendiri bangsa, maka kita akan dapat menjemput masa depan di tengah penetrasi lingkungan strategis yang akan terus ada dan bepengaruh langsung atau tidak langsung bagi bangsa ini.
Wallahu a’lam bi al shawab.
Marketing banyak disalahartikan terutama dalam kaitannya dengan dunia produk. Sekarang bukan eranya lagi untuk menawarkan barang dengan cara tradisional, akan tetapi harus menggunakan cara marketing yang jujur. Inilah kata pembuka Hermawan Kertajaya di dalam kesempatan memberikan ceramah pada peserta Diklatpim tingkat I di Lembaga Administrasi Negara.
Kenapa harus memarketingkan bangsa? Ada the power of technology yang pengaruhnya luar biasa bagi dunia ini. Marketing terdiri dari posisi brand berbeda, positioning being strategy, differention core tactic dan brand value indicator. Try to be different dan bukan try to be the best atau try to be excellence. Pilihlah differensiasi untuk memperoleh keunikan.
Marketing bukan brandingnya, iklannya dan strateginya akan tetapi seluruhnya.
Try to be different adalah konsep yang sangat penting di dalam memasarkan produk. Kenapa Tukul terus berlangsung pengaruhnya di dunia komedi dan infotainment dan kenapa Inul Darastita habis pengaruhnya. Salah satu jawabannya adalah sebab gaya Tukul tidak bisa ditiru oleh orang lain, sedangkan gaya Inul mudah ditiru orang lain. Guyonan Tukul dan statemen Tukul tidak mudah ditiru, sedangkan goyangan ngebor Inul bisa ditiru oleh banyak penyanyi lain. Jadi ketika penyanyi lain bisa goyang ngebor bahkan lebih dahsyat, maka Inul akan hilang dari peredaran.
Ke depan akan terjadi banyak perubahan. Jika di masa lalu hanya ada sembilan prinsip marketing, maka yang akan datang bisa menjadi 12 prinsip marketing. Misalnya, dari segmentation ke communication, dari targetting ke confirmation, dari positioning ke clarification, dari differention ke codification, dari marketing mix ke new wave marketing mix, dari product ke co creation, dari price ke currency, dari place ke communal activation, dari promotion ke conversation, dari selling ke commercialization, dari branding ke caracter, dario service yang bercorak vertikal ke care yang berorak horizontal dan dari process ke collaboration. Tetapi baik sembilan prinsip atau 12 prinsip maka yang penting adalah prinsip kejujuran.
Sekarang ini sedang terjadi gelombang teknologi informasi yang luar biasa. Oleh karena itu tidak ada kekuatan lain yang mampu untuk menghambat keberlangsungannya. Negara-negara Timur Tengah yang sedang dilanda oleh prahara politik luar biasa sesungguhnya juga dipicu oleh gelombang teknologi yang tidak bisa dibendung. Dan berdasarkan kajian, bahwa yang mempengaruhi terhadap perubahan adalah kawula muda, kaum perempuan dan natizen (youth, women and natizen, YWN).
Differentiation itu begitu penting. Makanya, Mark Plus, pernah memberikan penghargaan kepada beberapa pemimpin pemerintahan yang dianggpnya memiliki differensiasi yang sangat menonjol.
Melalui bagan positioning, differentiaton dan brand, maka diketahui bahwa Gubernur Gorontalo dinobatkan sebagai gubernur yang memiliki differentiasi yang menonjol dibanding lainnya. Jagung yang bagi pimpinan daerah lain dianggapnya biasa saja ternyata bisa menjadi komoditas yang luar biasa. Makanya, jagung kemudian menjadi branding bagi Provinsi Gorontalo. Positioningnya adalah Provinsi Jagung, agro bisnis jagung sebagai differentiasinya dan akhirnya menjadi brandingnya.
Kemudian yang juga menarik adalah Kabupaten Lamongan. Bupati Lamongan ternyata memiliki differentiasi yang luar biasa. Dengan positioning kabupaten dengan pemerintahan entrepreneurship untuk mendukung TTI, maka diperoleh differentiationnya adalah pelajaran Bahasa Mandarin di sekolah dan pesantren. Bisa dibayangkan bagaimana bahasa Mandain dijadikan sebagai kurikulum wajib bagi semua lembaga pendidikan. Bahasa Arab adalah bahasa komunikaai dengan Tuhan, Bahasa Inggris adalah bahasa komunikasi dunia, akan tetapi orang Inggris di sini sedikit. Maka pilihannya adalah bahasa Mandarin. Bisa digunakan bahasa Mandarin itu sebagai bahasa komunikasi karena orangnya ada banyak di Indonesia.
Kemudian, Kabupaten Sawahlunto yang memiliki positioning sebagai kota pariwisata budaya pertambangan dengan differentiationnya adalah lokasi historis kuno daerah pertambangan batu bara dan lahan alami, sehingga menghasilkan branding Sawahlunto sebagai kota wisata tambang.
Dengan demikian, untuk membangun kehebatan bukan karena ekselen atau karena hebat, akan tetapi karena kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang berbeda dan mampu bertahan lama karena keunikannya.
Wallahu a’lam bi al shawab.
Membaca tulisan Hermawan Kertajaya tentang “Komodo is the Real Wow” di Majalah Garuda (Oktober 2011) terasa sangat menarik. Hal ini disebabkan beberapa hari terakhir saya menulis tentang kebudayaan dan dunia transisinya di era sekarang. Beliau bercerita tentang bagaimana Taman Nasional Komodo di Nusa Tenggara Timur sesungguhnya bisa menjadi aset yang luar biasa eksotik di Indonesia.
Nusa Tenggara tentu dikenal sebagai wilayah gersang dibandingkan dengan wilayah lain di Indonesia. Sebagai daerah gersang ternyata NTT menyimpan kekuatan wisata yang luar biasa, yaitu lewat Komodo. Diceritakannya bahwa di dalam kerjasama antara Indonesia dengan Kebun Binatang di Australia, Tarongga Zoo, dipamerkannya Taman Nasional Komodo di NTT tersebut. Dinyatakannya bahwa Taman Nasional Komodo sebenarnya bisa dijual ke orang Australia sebagai salah satu obyek beyond Bali. Di dalam acara ini juga dilakukan memamerkan Komodo kepada orang Australia.
Yang dilakukan oleh Hermawan Kertajaya adalah bentuk kepedulian orang Indonesia akan pentingnya promosi tempat pariwisata Indonesia kepada orang lain, khususnya mereka yang memiliki potensi untuk datang ke Indonesia sebagai wisatawan. Seharusnya orang Indonesia yang di luar negeri atau secara khusus berkunjung ke luar negeri dalam kapasitas sebagai duta budaya atau duta kesenian dan bahkan duta perdagangan, maka seharusnya yang bersangkutan dapat menjadi public relation untuk mengembangkan kunjungan wisata ke Indonesia. Jadi kita semua adalah duta kunjungan wisata bagi masyarakat internasional untuk mengenalkan wisata Indonesia di luar negeri.
Terus terang saya kagum kepada negeri tetangga kita, Thailand, di dalam upaya promosi wisatanya. Obyek alam Thailand tentu tidak sekaya Indonesia. Akan tetapi promosi tentang tempat wisatanya ternyata luar biasa. Ketika kita datang di Bangkok, maka travel agent sudah memainkan perannya. Di bandara Bangkok, maka hotel reservation sudah lengkap menyediakan paket-paket wisata selama di Bangkok. Mereka adalah public relation yang andal di dalam menawarkan paket-paket wisata kepada orang yang datang kepadanya. Tidak hanya menawarkan hotel akan tetapi juga sekaligus taksi dan paket tour selama di Thailand.
Biro perjalanan juga penetratif sekali untuk menawarkan paket-paket kunjungan wisata. Rupanya juga ada kerjasama dengan berbagai pusat kerajinan emas, berlian, kayu dan perak yang tersebar di Bangkok. Diajaknya kaum wisatawan untuk berkunjung dan juga membeli barang produk Thailand. Para sopir taksi juga bisa bicara sepatah dua patah kata di dalam bahasa Inggris, sehingga bisa sedikit berkomunikasi dengan para pelancong.
Di dalam pandangan saya bahwa ada mekanisme yang sangat koordinatif antar elemen, pemerintah, dunia usaha dan masyarakat untuk mendukung terhadap gerakan tourisme ini. Kerjasama antar institusi inilah yang menjadi kekuatan bagi industri pariwisata di Thailand. Jadi tampaknya memang sudah ada kesadaran tentang bagaimana mengembangkan pariwisata tersebut.
Di antara problem yang sangat mendasar tentang pengembangan wisata di Indonesia adalah tentang kenyataan belum adanya kesadaran bersama tentang bagaimana mengembangkan dunia pariwisata. Cobalah kita lihat bagaimana pengembangan wisata di Indonesia. Jika ingin melihat tentang dinamika pariwisata di Surabaya, maka sekali waktu tengoklah tentang informasi pariwisata tersebut. Apakah hotel-hotel di Surabaya sudah bekerjasama dengan biro-biro perjalanan atau juga tempat-tempat wisata untuk mendukung Visit Indonesia Year. Kerjasama mungkin sudah ada, hanya yang kurang adalah semangat untuk menjemput bola agar kaum wisatawan datang ke kota ini.
Saya sepenuhnya yakin bahwa ada banyak tempat yang bisa dijual dari kota ini, hanya sayangnya roh pengembangan itu yang tidak sekuat di Thailand, misalnya.
Wallahu a’lam bi al shawab.
Saya sampaikan bahwa budaya nasional sesungguhnya adalah puncak-puncak budaya daerah yang sangat menonjol yang dikonstruksi dan diakui sebagai budaya nasional. Makanya ada varian budaya nasional. Hal ini tentu saja disebabkan oleh multikulturalitas masyarakat Indonesia. Jika kita menggunakan konsepsi bahwa tidak ada masyarakat atau komunitas atau suku yang vakum budaya, maka dapat dipastikan bahwa tidak ada masyarakat yang juga vakum budaya.
Berdasarkan atas konsepsi ini, maka berarti bahwa setiap suku atau masyarakat dipastikan memiliki budaya yang menonjol. Katakanlah bahwa masyarakat Suku di daerah Papua, maka juga harus diakui memiliki budaya yang khas mereka dan bisa dianggap sebagai menonjol dan eksotik bagi masyarakat mereka sendiri. Jika menggunakan kerangka konseptual antropologi struktural maka sesungguhnya tidak ada budaya suatu suku atau bangsa yang rendah atau tinggi, sebab setiap budaya adalah hasil kreasi tertinggi dari bangsa itu.
Itulah sebabnya ketika orang barat menganggap bahwa hanya budayanya saja yang tinggi dan lainnya rendah, maka sebenarnya adalah pandangan yang naif dan narsistis. Padahal setiap suku atau masyarakat memiliki budayanya sendiri yang khas dan tinggi. Bagi suku Dani di Papua, maka pakaian semi telanjangnya bukanlah penanda kerendahan budayanya, akan tetapi adalah pattern of behavior dari pedoman budayanya yang memang seperti itu. Kesemitelanjangan bukanlah sebuah ukuran bagi suku bangsa dengan budayanya sendiri untuk menyatakan bahwa budaya suku bangsa tersebut ketinggalan atau rendah. Akan tetapi semata-mata harus dipandang bahwa itulah kebudayaannya yang khas mereka. Budaya selalu sesuatu yang share dan bercorak massif. Jadi ada tindakan yang dilakukan secara bersama karena pengetahuan budayanya yang sama.
Indonesia adalah negeri yang sangat banyak budayanya. Dengan jumlah suku yang mencapai 700 buah, maka bisa dibayangkan betapa kayanya budaya kita itu. Ada bahasa, kesenian, religi, dan perilaku hidup sehari-hari yang sangat banyak dan khas keindonesiaan yang bisa menjadi kekayaan Indonesia. Semuanya menggambarkan betapa Indonesia adalah negara besar yang seharusnya menjadi dignity factors untuk bisa dibanggakan oleh warga negaranya.
Sayangnya bahwa kebudayaan tersebut di dalam banyak hal disamakan dengan kesenian, sehingga ketika orang bicara tentang budaya Betawi, maka yang muncul adalah kesenian ondel-ondel atau musik lenong. Orang sering kali melihat kebudayaan dengan budaya fisik yang performance-nya bisa ditampilkan di dalam kesenian. Meminjam bahasanya Koentjaraningrat dianggap sebagai produk budaya. Ia adalah karya manusia tentang budayanya.
Keprihatinan Daoed Joesoef tentang pemisahan pendidikan dan kebudayaan dari kementerian pendidikan nasional adakah contoh betapa orang berpikir untuk mereduksi kebudayaan menjadi kesenian itu. Kebudayaan bukan hanya aspek fisik, produk budaya, akan tetapi adalah seluruh sistem kehidupan manusia yang berisi sistem pengetahuan, sistem nilai dan sistem tindakan yang memungkinkan manusia melakukan interaksi dengan sesamanya dan bahkan dengan Tuhan dan alam.
Makanya, kebudayaan memuat seluruh sisten kehidupan, yang dikonsepsikan sebagai seven cultural universals, yaitu sistem religi, sistem sosial, sistem teknologi, sistem bahasa, sistem ekonomi, sistem pengetahuan dan sistem kesenian. Setiap masyarakat memiliki sistem ini dan inilah yang disebut sebagai kebudayaan. Jika yang dilihat hanya kesenian saja, maka hal itu hanyalah satu aspek dari sistem kebudayaan.
Di Indonesia pemerintah melihat kesenian sebagai kebudayaan dengan dibuktikannya menjadikan kebudayaan sebagai bagian dari kementerian pariwisata. Tentu saja ada alasan mengapa dilakukan pemisahan antara pendidikan dan kebudayaan, akan tetapi penempatan kebudayaan bersandingan dengan pariwasata tentu kurang relevan. Menyandingkan kebudayaan dengan pendidikan, maka tentu jauh lebih fungsional, sebab pendidikan dan kebudayaan merupakan kesejajaran yang mutlak. Bukankah proses transformasi kebudayaan akan lebih tepat menggunakan pendidikan dan bukan melalui pariwisata.
Kesalahan inilah yang kemudian memicu terjadinya berbagai problem budaya bangsa yang lebih permisif, materialistik, konsumtif, kekerasan dan sebagainya. Di era transisi seperti ini, maka penguatan pendidikan berbasis kebudayaan bangsa tentu menjadi sangat penting. Jika kita tidak ingin terjerumus ke dalam kesalahan di dalam pewarisan budaya kepada generasi yang akan datang, maka tentu menjadi tugas kita sekarang untuk membenahinya.
Dengan demikian diharapkan adanya pemihakan pendidikan berbasis kebudayaan ini, sehingga ke depan akan bisa dilihat munculnya kepemimpinan bangsa yang memiliki national dignity di tengah arus globalisasi yang tidak akan pernah bisa ditahan oleh siapapun termasuk negara.
Wallahu a’lam bi al shawab.