Melalui kerjasana antara IDB dengan IAIN Sunan Ampel, maka saya dan tiga kelompok dosen IAIN Sunan Ampel dapat mengikuti acara workshop di Murdock University, Sydney University and Canberra University. Saya tidak berkesempatan untuk mengunjungi Murdock University sebab waktunya bersamaan dengan acara Diklatpim Tingkat I di Jakarta. Akhirnya, saya berkesempatan untuk mengunjungi Sydney University dalam rangka kerjasama dengan perguruan tinggi tersebut.
Sydney University adalah perguruan tinggi tertua di Australia. Didirikan pada pertengahan abad ke 19 dan merupakan perguruan tinggi ternama di Australia. Itulah sebabnya gedung-gedungnya sangat tua. Ada di antaranya yang bertahun 1885 dan mungkin juga ada yang lebih tua. Bentuk bangunannya mirip gereja-gereja di abad pertengahan dan Western building. Ruang rektorat dan administrasinya kelihatan seperti bangunan gereja yang sangat tua. Memang ada upaya untuk melestarikan cultural heritage di antara mereka. Bangunan tua tersebut sangat terjaga sehingga semuanya nampak antik dan indah. Bangunan tua tersebut berpadu dengan bangunan modern yang minimalis. Jadinya menunjukkan ada ketersambungan historis antara masa lalu dengan sekarang.
Saya sempat berjalan-jalan di seputar kampus dengan Megan Donnelley, Innovation & Enterprises Outreach Coordinator, Prof. Muhammadiyah Amin, Prof. Saiful Anam dan Rofik untuk melihat secara lebih dekat terhadap kampus ini. Ternyata bahwa kampus ini memang sudah menjadi entreprenuer University. Ada banyak kafe, dan usaha lainnya. Semua dikelola dengan profesional dan menjadi bagian dari unit usaha kampus. Bahkan juga ada spesial kafe untuk internatioal student. Selain itu juga ada dormitory untuk mahasiswa yang ingin berada di situ. Dormitory ini diperuntukkan bagi siapa saja yang ingin bertempat tinggal di situ.
Jika kita datang ke sini, maka kita akan mengagumi betapa keindahan, kebersihan dan kerapian bangunannya. Semuanya tertata atau by design. Ada ruang hijau, ada danau buatan yang memungkinkan burung bisa bercengkerama di situ, ada tempat-tempat untuk beristirahat dan fasililitas lain yang memungkinkan para mahasiswa nyaman berada di sana.
Sebagaimana kampus-kampus besar lainnya di Australia, maka dapat dipastikan bahwa setiap fakultas atau School seperti The University of Sydney Business School juga memiliki ruang theatre. Ruang ini bisa menampung mahasiswa dalam jumlah besar. Ruang ini juga dilengkapi dengan fasilitas ICT yang memadai. Peserta Innovation enterprises university dari IAIN SA ini secara sengaja ditempatkan di berbagai ruang di sini. Sekali waktu kuliah di ruang theatre, sekali waktu kuliah di ruang pembelajaran dan sekali waktu di ruang seminar dengan kapasitas 30 orang. Hal ini tentu untuk memberikan bekal pengalaman kuliah di berbagai ruang yang bervariasi.
Pelayanan yang diberikan juga sangat profesional. Untuk menangani peserta pelatihan ini, cukup dua orang saja. Dr. Richard dan Megan. Richard adalah panitia dan sekaligus juga narasumber utama, sedangkan Megan adalah yang melayani penjemputan sampai order makanan. Untuk snack, maka kita dilayani di kafe yang cukup memadai dan tersedia banyak jenis makanan. Tentu minus makanan Indonesia.
Saya harus mengapresiasi terhadap profesionalitas tim panitia yang dikomandani oleh Richard Seymour ini sebab memang bekerja dengan sangat rapi dan disiplin. Sebagaimana tradisi orang Barat tentang kesadaran akan waktu, maka jika waktu sudah harus dimulai presentasi, maka dimintanya para peserta pelatihan untuk meninggalkan kafe atau aktivitas lainnya. Waktu memang sangat diperhatikan.
Sebagai kampus besar, maka Sydney University tentu memiliki perpustakaan yang sangat baik. Sebagaimana kampus lainnya, maka perpustakaannya ditata secara khusus, misalnya ada ruang theaternya, ada ruang diskusinya, ruang istirahat dan ruang baca yang semuanya sudah fully ICT. Mahasiswa bisa mengakses langsung terhadap internet dan juga browsing informasi apa saja. Selain koleksinya yang lengkap juga fasilitasnya yang sangat memadai.
Sungguh andaikan saya masih muda, maka saya ingin rasakan bagaimana kuliah di perguruan tinggi ini. Sayangnya ketika saya muda betapa sulitnya orang bisa belajar di luar negeri. Selain tentu karena faktor biaya juga karena faktor bahasa. Tetapi saya tentu bersyukur bahwa di usia setelah saya menjadi guru besar, saya sempat mengikuti sessi perkuliahan di The University of Sydney Business School meskipun hanya beberapa hari.
Wallahu a’lam bi al shawab.
Salah satu ceramah yang didapatkan di dalam acara training of entrerenuership di University of Sydney adalah tentang membangun jaringan kerja sama antara universitas dengan small medium enterprises (SMEs). Membangun jaringan dengan dunia perusahaan baik kecil maupun yang medium dirasakan penting mengingat bahwa dunia sekarang memang dibangun di atas jaringan kolaborasi.
Sebaiknya, memang perguruan tinggi harus berkolaborasi dengan Small Medium Enterprises (SMEs). Hal ini mengingat bahwa perguruan tinggi sebagai pusat penelitian tentu akan memiliki kontribusi yang besar di dalam pengembangan SMEs. Sedangkan di sisi lain dunia usaha juga membutuhkan hasil-hasil kajian yang memungkinkan dunia usaha tersebut maju secara signifikan.
Sebagaimana yang pernah saya ikuti di dalam Diklatpim Tingkat I di Jakarta beberapa saat yang lalu, bahwa era sekarang adalah era kolaborasi atau sinergi antara pemerintah, dunia usaha dan masyarakat. Keterlibatan tiga komponen ini sangat penting mengingat bahwa melalui kerja sama atau kolaborasi, maka akan didapatkan hasil atau perubahan yang lebih memadai. Di dalam kasus pengentasan kemiskinan, maka akan didapatkan hasil yang maksimal jika terdapat kolaborasi di antara tiga komponen tersebut.
Perguruan tinggi memang perlu untuk melakukan kolaborasi tidak hanya untuk kepentingan akademik akan tetapi juga untuk kepentingan praksis, misalnya untuk pengembangan usaha. Di dalam kenyataannya bahwa ternyata kolaborasi antara perguruan tinggi dengan SMEs menghasilkan produk yang sangat maksimal. Berdasarkan penelitian, bahwa banyak dunia usaha yang memanfaatkan kepenasehatan perguruan tinggi di dalam memberikan solusi terhadap problem yang dihadapi olehnya. Sutau contoh tentang riset pasar, maka betapa pentingnya riset pasar tersebut. Misalnya untuk menemukan kecenderungan pasar tentang usaha yang dikembangkan. Melalui analisis pasar, maka akan dipahami tentang arah yang harus ditempuh oleh dunia usaha.
Melalui riset kolaboratif ini, maka ada dua keuntungan yang diambil oleh dua institusi ini. Bagi perguruan tinggi akan menghasilkan temuan akademik praksis, pengalaman menemukan konsep atau teori atau temuan praksis yang menarik dan juga menghasilkan dana yang memadai. Bisa dibayangkan bahwa satu penelitian terkait dengan dunia usaha bisa mencapai 50.000 dollar Australia. Sedangkan bagi dunia usaha akan dapat memanfaatkan hasil kajiannya untuk pengembangan dunia usaha. Jadi ada simbiosis mutualisme.
Selama ini ada kesan bahwa riset yang dilakukan oleh perguruan tinggi itu rumit, berisi konsep-konsep abstrak dan tidak aplikabel. Makanya dunia kampus lalu menjadi jauh dengan dunia usaha yang praksis, aplikabel dan simpel. Dunia usaha hanya berpikir bagaimana melakukannya, strategi apa yang diperlukan dan taktik apa yang harus dipilih. Selama ini motivasi melakukan riset di perguruan tinggi adalah untuk peningkatan karir dan publikasi. Sedangkan di dunia usaha, maka yang dipentingkan adalah untuk problem solving dan peningkatan keuntungan. Makanya melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dengan SMEs adalah untuk mempertemukan dua sisi berbeda ini menjadi satu dan masing-masing memiliki keuntungan. Jika perguruan tinggi berpikir strategik maka dunia usaha berpikir taktik.
Menurut Richard Seymour bahwa ada perbedaan antara strategi dan taktik. Strategi adalah yang mengantarai antara dunia metodologi yang lebih konseptual dengan taktis yang sangat operasional. Taktik memuat hal-hal yang sangat operasional, misalnya tentang siapa yang akan melakukan, kapan, dan bagaimana melakukannya. Di sini tidak lagi diperbincangkan tentang apa alasan memilihnya, sebab yang penting adalah bagaimana melakukannya. Sedangkan strategi lebih merupakan kumpulan alasan mengapa hal tersebut dilakukan. Masih ada dimensi konseptual yang mendasari perumusan strategi dimaksud.
Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dengan dunia usaha, maka akan bertemu dua kepentingan yang berbeda akan tetapi bisa menyatu. Saya membayangkan bahwa suatu ketika IAIN SA akan bisa berkolaborasi dengan dunia usaha, sehingga percepatan pengembangan dua belah pihak juga akan bisa diraih.
Hal ini berarti ada pekerjaan rumah yang mesti dipikirkan yaitu bagaimana IAIN SA dapat melakukan kolaborasi dengan dunia usaha di masa yang akan datang.
Wallahu a’lam bi al shawab.
Saya merasakan betapa banyaknya nikmat Tuhan kepada saya. Saya di SMS oleh Ahmad Muzakki agar menghubungi Nadirsyah Hosen salah satu staf pengajar di Universitas Wollongong tentang rencana untuk berkunjung ke University of Wollongong. Memang ada pembicaraan tentang rencana kunjungan ke Australia ketika Nadirsyah Hosen datang ke IAIN SA dalam acara seminar intenasional yang juga dihadiri oleh Julia Howell dari Werstern Sydney University dan Muhammad Ali dari University of Los Angeles di Riverside beberapa saat yang lalu.
Karena Nadirsyah akan ke Hongkong besuk pagi, maka saya harus datang ke Wollongong segera. Akhirnya saya bisa juga datang ke Wollongong University pada saat yang tepat. Kami bisa diterima oleh Pembatu Dekan Bidang Pembelajaran, Ass. Prof. Judith Marychurch di ruang khusus. Kami mendiskusikan rencana untuk bekerja sama tentang kurikulum review terutama dalam mata kuliah ilmu hukum. Diharapkan bahwa kurikulum ilmu hukum di IAIN SA akan bisa direcomended oleh UOW pada Fakultas Hukum. Rangking Fakultas Hukum UOW sangat tinggi. Makanya, yang bisa masuk ke fakultas ini juga mereka yang pilihan.
UOW memang sangat prestisius. Lahannya yang luas dan menghijau dan tertata sangat baik adalan kesan yang muncul ketika menjejakkan kaki di universitas ini. Gedung yang monumental adalah Mckinnon Building yang dijadikan sebagai gedung Fakultas Hukum. McKinnon adalah vice chancelornyang bisa melambungkan UOW sehingga namanya diabadikan sebagai nama gedung di sini.
Bersama Nadirsyah, saya diajak keliling ruang di Fakultas Hukum dan juga ruang sekelilingnya. Ada ruang theater yang megah untuk menampung kira-kira 300 orang. Di ruang ini biasanya dilaksanakan kuliah umum oleh profesor yang kesohor dan kemudian dilanjutkan dengan team teaching para dosen lainnya dengan masing-masing 30 orang mahasiswa. Selain itu juga terdapat ruang theater yang lebih kecil untuk kapasitas 100 mahasiswa. Semua fakultas memiliki ruang seperti ini.
Saya sempat juga mengunjungi perpustakaannya yang sangat baik. Masing-masing fakultas memiliki satu lantai sebagai perpustakaan fakultas. Ada ruang besar untuk membaca dan mengakses internet, dan juga terdapat ruang khusus untuk mahasiswa post graduate. Yang sangat menarik adalah ruang diskusi khusus untuk lima atau enam orang yang akan mendalami suatu tema tertentu. Dan juga ruang istirahat bagi yang lelah membaca atau browsing informasi lainnya. Satu hal lagi bahwa tidak boleh menggunakan HP atau berbicara di ruang perpustakaan. Jadi tidak boleh ada gangguan ketika yang lain sedang membaca. Tradisi akademik yang dijunjung tinggi oleh sivitas akademika.
Saya juga mengunjungi Bisnis Uni dan ruang yang digunakan untuk bisnis. Di ruang bisnis ini, maka saya melihat buku dan barang-barang yang bermerk UOW dijajakan. Cukup besar ruangannya. Di sampingnya terdapat ruang untuk salon, ticketing, dan ruang bisnis lainnya. Lembaga pendidikan ini memberikan layanan sesuai dengan yang dibutuhkan oleh usernya.
Kampus yang berdiri sekitar 50 tahun yang lalu itu sekarang sudah menjadi kampus yang berkualitas dan besar. Namun demikian, satu hal yang bisa dicatat bahwa yang dipentingkan oleh perguruan tinggi ini adalah pelayanan kepada mahasiswanya. Ruang dekan dan pembantu dekannya hanya cukup untuk satu orang. Jangan dibayangkan ada ruang tamunya. Hanya ada satu meja dan kursi, dengan tumpukan buku yang berserakan serta kertas-kertas kerja yang bertumpukan.
Saya tidak membayangkan bahwa ruang pembantu dekan di sana itu sangat bagus. Bahkan hanya sama dengan ruang guru besar lainnya. Ruang Nadirsyah Hosen ternyata juga sangat sederhana. Ada efektivitas ruangan yang sangat kentara.
Jadi yang lebih penting bukan pada kemewahan ruang pimpinannya, akan tetapi pada pemenuhan infrastruktur pendidikannya. Makanya, ICT dan seluruh jaringannya serta pemenuhan kebutuhan dasar sivitas akademikanya menjadi lebih diutamakan.
Wallahu a’lam bi al shawab.
Hari Selasa yang lalu, 12/12/2011, saya melakukan perjalanan panjang dari Sydney ke Wollongong. Pagi saya mengikuti acara presentasi yang sangat menarik dari Geoff Gallops, profesor Administrasi Publik dan mantan Walikota Sydney dua periode dan waktu siangnya, saya, Prof. Muhammadiyah Amin dan Prof. Saiful Anam melakukan perjalanan panjang ke University of Wollongong. Karena mengejar pertemuan dengan pejabat di Wollongong, maka saya bertiga harus naik taksi dari Sydney ke Wollongong.
Ada yang aneh bagi saya tentang sikap sopir taksi yang saya tumpangi. Mereka ingin meyakinkan saya bahwa perjalanan ke Wollongong sangat jauh dengan ongkos yang mahal. Maka kami tanyakan berapa ongkosnya, sehingga memaksa sopir itu untuk bertanya ke staf di stasiun taksinya. Ternyata memang mahal, 190 dollar Aussie. Karena kita mengejar waktu, maka kami sepakat untuk melakukan perjalanan dengan taksi tersebut. “Okey, go”. Kata kami bersepakat. Mungkin saja orang Australia jarang yang naik taksi sepanjang Sydney ke Wollongong. Bisa dimaklumi sebab transportasi di Australia memang sangat nyaman. Hampir seluruh media transportasi memang disediakan dengan sangat memadai. Cityrail yang kami tumpangi dari Wollongong ke Sydney juga sangat nyaman. Terasa di pesawat terbang yang tanpa goncangan.
Ternyata dengan taksi kita membutuhkan waktu sepanjang satu setengah jam. Dan hebatnya, bahwa waktu tempuh dan harga yang diceritakan sebelumnya nyaris sama. Ada trust yang kami dapati dari sopir taksi itu. Andaikan dia mau berbohong, tentu kami semua juga tidak tahu, sebab kami sama sekali tidak pernah jalan-jalan di sini. Semua jalan yang kami lalui dengan taksi adalah jalan bebas hambatan. Akhirnya kami bisa sampai di University of Wollongong tepat waktu. Kami bertemu dengan Ass. Professor Nadirsyah Hossein di Faculty of Law dan juga Wakil Dekan Faculty of Law, Ass. Professor Judith Marychurch. Kami bertemu untuk membicarakan rencana kerjasama antara IAIN SA dengan Faculty of Law The University of Wollongong.
Ada yang menarik bagi saya, sama halnya dengan di Melbourne, adalah persahabatan manusia dengan alam. Burung-burung dengan berbagai macamnya bisa terbang bebas dan hinggap di mana saja. Mereka mencari sisa-sisa makanan yang dibuang oleh manusia. Mereka bisa hidup bersahabat dengan manusia. Ada burung jalak hitam yang di Indonesia nyaris punah, burung merpati, dan burung lainnya pada berebut makanan di sekitar kita. Ada rasa senang melihat hewan-hewan ini berterbangan di sekitar kita. Ini yang saya kira bisa dikaitkan dengan konsep “hablum minal ‘alam”. Jadi mereka tidak diganggu melainkan dilindungi. Di sekitar wilayah kampus Wollongong ada sebuah jalan yang dijadikan sebagai tempat untuk angsa atau bebek melintas. Maka pengguna kendaraan roda empat harus berhenti ketika bebek tersebut menyeberang. Jadi ada hak hidup bebek yang dihormati oleh manusia.
Dari Wollongong ke Sydney saya memang sengaja naik Cityrail. Sebuah alat transportasi darat yang sangat nyaman. Bagaimana Australia bisa memberikan layanan publik transportasi yang demikian nikmat, maka jawabannya adalah dari pajak yang dihimpun dari masyarakat dan kemudian dikembalikan dalam bentuk layanan yang luar biasa. Jangan bayangkan dengan layanan transportasi di Indonesia. Memang tidak selevel. Saya kira Indonesia pun bisa, selama pajak tidak dikorupsi, pajak bisa dibayar dengan jujur dan ada trust untuk hal itu semua. Kita pasti bisa. Hanya memang harus dicari dari mana memulainya.
Saya memang dipesan oleh Nadirsyah agar duduk di sebelah kanan, sebab pemandangannya bagus. Ternyata memang benar bahwa pemandangan di sepanjang jalan ke Sydney memang sangat indah. Wilayah perbukitan dengan laut sebagai pembatasnya. Sepanjang perjalanan kita bisa melihat bagaimana hutan perbukitan sepanjang jalur kereta ini dimanej. Pohon-pohon menghijau, besar dan kecil semuanya tertata dan utuh. Tidak ada yang ditebang. Bahkan pohon yang mengering pun dibiarkan daunnya jatuh dan batangnya meranggas. Tidak dipotong. Saya teringat dengan ajaran salah seorang pelestari lingkungan di Jawa Barat yang menyatakan bahwa biarkan pohon yang mengering kemudian mati, sebab pohon itu akan menjadi pupuk alami bagi tanah.
Jika saya melihat pemandangan ini, saya merasa trenyuh, kenapa kita menjadi perusak lingkungan, kenapa kita tidak bersahabat dengan lingkungan, kenapa kita tidak membiarkan alam berkembang dengan kapasitasnya, dan seribu pertanyaan lainnya. Era reformasi yang dianggap sebagai momentum kebangkitan Indonesia, justru dinodai dengan penggundulan hutan di mana-mana. Sebuah tindakan balas dendam yang tidak pada tempatnya.
Apakah masyarakat tidak tahu akan dampaknya atau pemerintah yang mengabaikan semua ini terjadi. Saya rasa keduanya sama benarnya. Kita semua tentu bisa belajar tentang bagaimana negara, seperti Australia ini memenej wilayahnya, baik laut, hutan dan daratan. Semua serba teratur dan pemerintah memang memberikan regulasi yang ditaati oleh warganya.
Masyarakat yang beradab saya kira adalah masyarakat yang menyeimbangkan antara hablum minallah, hablum minan nas dan hablum minal alam.
Wallahu a’lam bi al shawab.
Acara kemarin memang padat. Ada empat sessi presentasi yang dilaksanakan oleh tim Sydney University yaitu dua sessi di pagi hari dan dua sessi di sore hari. Acara itu diisi oleh Dr. Richard Seymour dan Peter Morris. Acara yang menarik tentu saja terkait dengan pengembangan wawasan entrepreneurship bagi para dosen IAIN Sunan Ampel.
Acara itu berlangsung dari jam 09.00 sampai jam 17.00 waktu Sydney. Setelah mengikuti session ceramah dan tanya jawab tersebut, maka saya sempatkan untuk jalan-jalan di kota Sydney yang terkenal dengan Gedung Operanya itu. Semula kami berempat, Prof. Dr. Muhammadiyah Amin, Abdullah Rafik, dan Cholil Umam jalan kaki untuk sampai di tempat pemberhentian bus untuk menuju ke Darling Bright dan terus ke Darling Harbour Terminal. Rofik yang memandu acara jalan-jalan memang belum pernah datang ke sini. Makanya untuk membeli tiket pun harus bertanya ke sana kemari. Maklumlah kawan-kawan yang pernah lama di Australia seperti Dr. Wahidah, Aun Falestine dan Room Fitriyanto harus berdiskusi untuk menyelesaikan bahan presentasi tentang action plan di bidang enterpreneurship university. Jadi mereka juga sibuk untuk berdiskusi dan bekerja.
Di kanan teluk ini, ada banyak gedung tinggi dan besar sebagai ciri khas kota modern. Kira-kira mirip Jakarta, yang gedungnya juga banyak yang mencakar langit. Di antara gedung tersebut misalnya gedung McQuairy, Gedung Rabo Bank, Gedung Allianz, dan beberapa lainnya yang saya tidak hafal seluruhnya. Selain itu juga terdapat wisata kuliner dengan menu masakan yang bervariasi. Saya kira masakan Asia Tenggara, seperti Restoran Thailand dan lainnya juga ada.
Tetapi akhirnya tiket pun bisa diperoleh dengan dipandu oleh petugas di terminal ini. Kami berempat kemudian naik ferry menuju ke Gedung Opera Sydney yang sangat terkenal. Akhirnya kami bisa menjejakkan kaki ke Gedung Opera tersebut. Sebagai pelayanan jasa transportasi, maka keberadaan ferry ini ternyata cukup membantu masyarakat dan pengguna jasa transportasi laut. Jika dikalkulasi, rasanya tidak mungkin jasa pelayanan transporatasi ini memiliki keuntungan. Hanya sedikit penumpang yang menggunakan jasa layanan laut ini. Tentu ada subsidi yang diberikan oleh pemerintah terhadap jasa layanan di Australia ini. Bahkan seluruh layanan jasa transportasi menjadi tanggungan pemerintah.
Ada empat jasa trasportasi publik di Sydney, yaitu tourist bus services, lalu trains, yang menghubungkan kota Sydney dengan daerah suburban. Kemudian Ferry dengan rute dari Circular Quay yang menghubungkan Tarongga Zoo, Manly, Darling Harbour, Watsons Bay, Rose Bay, Double Bay, the North Shore, Balmain Cockatoo Island, Parramatta dan Sydney Olympic Park. Lalu Monorail yang melewati jalur dalam kota. Kemudian juga light rail yang memghubungkan central stasiun ke Haymarket, Paddys Market, Darling Harbour dan sebagainya.
Kami berempat sudah menikmati naik bus, ferry, kereta dan trem di dalam kota. Dan yang paling penting adalah makan lagi di China Town. Maklumlah bahwa saya memang tidak bisa makan yang aneh-aneh bagi lidah saya. Sesunggunya saya juga ingin menikmati makanan khas Australia, hanya sayangnya bahwa saya tidak sanggup melakukannya. Pikiran memang boleh mendunia, tetapi lidah dan perut tetap saja orang Indonesia.
Wallahu a’lam bi al shawab.