• October 2026
    M T W T F S S
    « Sep    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

TRADISI RIYAYAN (3)

TRADISI RIYAYAN (3)
Riyayan memang sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Indonesia tidak peduli apa strata sosialnya. Sebagai tradisi sosial, maka keberadaan tradisi ini menjadi semakin kuat meskipun telah terjadi perubahan sosial yang sangat kentara. Tradisi seperti ini tampaknya tidak akan berubah meskipun perubahan demi perubahan sosial terjadi atasnya.
Salah satu tradisi yang tidak berubah itu adalah tradisi mudik sebagai subsistem kebudayaan masyarakat Indonesia. Bukankah sekarang ini dengan hadirnya teknologi informasi maka sesungguhnya bisa mereduksi terhadap keberadaan tradisi mudik ini. Akan tetapi anehnya bahwa tradisi mudik tetap menjadi pilihan di tengah kepadatan jalan raya dan juga begitu crowdednya kendaraan darat di jalan raya.
Setiap tahun bukannya berkurang jumlah pemudik tersebut, akan tetapi terus bertambah. Kemacetan jalanan bukan berkurang tetapi juga semakin bertambah. Bisa dibayangkan kemacetan jalan yang mengular sepanjang 23 km dan bahkan pada saat puncaknya bisa mencapai 50 km. Perjalanan yang biasanya bisa ditempuh dalam waktu 6 jam untuk Cirebon Jakarta, maka di saat puncak mudik maka bisa ditempuh dalam waktu 15 jam. Anak saya harus menginap di dalam mobil karena jalanan macet dan tidak lagi bisa bergerak kendaraannya. Tetapi anehnya tahun depan kala hari raya tiba, maka mereka akan mudik lagi dengan kendaraan darat juga. Aneh tapi nyata.
Suatu kenyataan bahwa ada orang yang setiap tahun mudik dengan kendaraan darat. Dari tahun ke tahun mereka memiliki pengalaman yang nyaris sama. Bahkan mereka juga memiliki prediksi tentang bagaimana kemacetan terjadi dan bagaimana cara atau strategi menghadapi kemacetan tersebut. Tancap gas jika suasana jalanan longgar dan bahkan makan saja sopirnya harus disuapi. Jangan berhenti dalam suasana kendaraan tidak padat.
Ada alasan mengapa harus mudik. Pertama, Hari raya adalah momentum untuk berkumpul dengan keluarga. Pada hari raya inilah semua saudara dan kerabat berkumpul meskipun mereka berada di tempat yang berbeda. Bahkan biasanya juga ada pertemuan keluarga yang dikemas dalam bentuk temu kerabat yang dimulai dari kakek atau nenek atau buyut dan seluruh keluarga yang terkait dengan kakek atau nenek atau buyut tersebut. Dalam struktur ke atas, maka susunannya adalah ego, bapak, kakek, buyut, canggah sesuai dengan terma-tema di dalam budaya keluarga Jawa.
Maka di sisi lain juga muncul istilah bani atau keturunan tertentu. Istilah Bani adalah istilah Arab yang sudah diindonesiakan. Lalu dikenal istilah di dalam keluarga saya adalah Bani Ismail yang diambil dari kakek saya sebagai pusat dari turunan keluarga saya secara keseluruhan. Meskipun istilah Bani adalah istilah Arab, akan tetapi sudah diadaptasi sebagai peristilahan di dalam tradisi jawa. Biasanya, istilah Bani dikaitkan dengan tradisi santri yang memang di dalam banyak hal mengadaptasi istilah dari bahasa Arab.
Kedua, Alasan lain adalah ziarah makam. Ada sebuah kebiasaan masyarakat Indonesia yang saya kira juga tidak menjadi tradisi di timur tengah adalah tradisi nyekar atau ziarah makam keluarga. Bahkan ketika orang tua sudah meninggal, maka yang dijadikan sebagai pedoman di dalam tradisi mudik adalah berkunjung ke makam leluhur. Saya juga melakukannya sebab rasanya menjadi tidak etis ketika di dalam suasana riyayan lalu tidak melakukan upacara nyekar ini. Bahkan di tahun ini, maka upacara nyekar itu dipadukan dengan perbaikan terhadap makam keluarga. Di sini lalu ada kegiatan tahlilan, yasinan dan doa untuk mengiringi prosesi penggantian maesan atau tanda makam keluarga tersebut. Ternyata ada setitik kebahagiaan juga kala bisa melakukan perbaikan terhadap makam keluarga.
Ketiga, Alasan lain adalah rekreasi. Jangan dikira bahwa kemacetan itu dianggap sebagai beban kehidupan. Semua yang melakukan mudik sudah tahu persis tentang kemacetan jalan itu. Makanya segala sesuatunya juga sudah diantisipasi. Misalnya membawa makanan kecil, kasur busa, bantal dan juga persiapan kemacetan lainnya. Oleh karena itu bukanlah pemandangan yang aneh jika di tengah kemacetan itu lalu banyak mobil yang berhenti di pinggir jalan lalu mereka tertidur dengan pulas sambil menanti jam keberangkatan lanjutan. Jadi meskipun banyak kesulitan tetap saja mudik dilakukan sebab ada juga unsur rekreasinya. Dengan demikian, mudik berkendaraan akan terus berlangsung di tengah kemacetan dan kesulitan pulang kampung.
Melalui rasionalitas seperti ini maka mudik akan tetap menjadi agenda rutin bagi banyak warga Indonesia, sebab memang memiliki rasionalitasya sendiri. Jadi kita tidak mungkin menghentikan tradisi mudik ini dan yang penting adalah tetap menjaga agar mudik tersebut tetap nyaman dan aman, sehingga mereka yang mudik juga merasa terlindungi.
Wallahualam biasshawab.

KE MAROKO

KE MAROKO
Selasa, 15 Juli 2013, tengah malam, kami beserta rombongan yang dipimpin langsung oleh Pak Menteri Agama, Dr. Suryadharma Ali melakukan kunjungan kerja ke Maroko. Kunjungan ini dilakukan di dalam kerangka menjajaki kerja sama antara Pemerintah Indonesia dengan Kerajaan Maroko, khususnya di bidang pendidikan.
Sebagaimana biasa, kalau mau kunjungan ke luar negeri saya mesti nervous duluan, sebab membayangkan jauhnya jarak yang ditempuh dan sulitnya saya tidur di kendaraan, baik pesawat maupun kendaraan lainnya. Saya mesti gelisah menghadapi perjalanan panjang menyusuri langit biru di tengah siang dan malam.
Sebagaimana kunjungan saya ke negeri Belanda tahun lalu, yang juga sama mengalami kegelisahan, maka sekarang juga sama. Perasaan seperti ini saya rasa manusiawi saja, sebab ada orang yang bahkan sangat nervous karena takut akan ketinggian. Saya jadi ingat pemain sepak bola legendaris dari Belanda, Bergkamp, yang karena ketakutan pada ketinggian, sehingga kalau pertandingan dilakukan di luar benua Eropa, pastilah dia absen. Dia harus melewatkan pertandingan bahkan sekelas pertandingan FIFA Cup atau World Cup.
Perjalanan ke Maroko ternyata memang jauh. Selama 17 jam beserta dengan transitnya di Dubai. Memang transitnya hanya kira-kira satu setengah jam. Dari Jakarta pukul 11.50 menit WIB dan sampai di Casablanca Maroko pada pukul 11.40 menit Waktu Maroko. Perbedaan waktu antara Jakarta dengan Maroko, kira-kira 7 jam. Saya sudah dua kali transit di bandara Dubai. Yang dulu pada waktu kunjungan ke Mesir, bahkan waktunya teramat panjang, empat jam. Oleh karena itu kami sempat untuk jalan-jalan di Mall di bandara yang mewah itu. Aneka barang ada di dalamnya. Dan yang selalu saya ingat adalah jam dinding di bandara yang bermerek Rolex, sebuah jam mewah, yang di Jakarta hanya dipakai oleh kalangan tertentu.
Sebuah perjalanan panjang, memang. Disebabkan karena tidak bisa memejamkan mata dengan sangat sempurna, maka perjalanan itu terasa sangat panjang dan melelahkan. Selonjoran, tidur-tiduran, membaca, menulis dan dengarkan musik, nonton televisi ternyata tidak sanggup menghilangkan kelelahan yang terus mendera. Terapi untunglah masih bisa memejamkan mata meskipun tidak lama.
Bandara Casablanca ternyata luas juga. Sayangnya bahwa saya tidak bisa melihat keindahan di dalamnya. Kami beserta rombongan dijemput oleh Duta besar Indonesia, KH. Tosari Wijaya, seorang kyai dari Takeran, Magetan, Jawa Timur yang sudah lama menjadi Wakil Pemerintah Indonesia di Kerajaan Maroko. Oleh beliau dan stafnya, kami diajak langsung ke ruang VIP di bandara. Ternyata menjemput juga Ketua Majelis Ulama Kerajaan Maroko. Di ruang ini agak lama, karena ada ucapan selamat datang dari Yang Mulia Ketua Majelis Ulama dan juga sambutan terima kasih dari Pak Menteri Agama RI.
Dinyatakan oleh Pak Suryadharna Ali bahwa masyarakat Indonesia dan masyarakat kerajaan Maroko sudah saling mengenal dalam waktu yang sangat lama. Semenjak kemerdekaan kedua negara, maka antar Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Maroko sudah menjalin hubungan kemesraan yang sangat baik. Bahkan juga banyak ulama dari Maroko yang menjadi penyebar Islam di masa awal Islamisasi di Nusantara. Sebagai sesama masyarakat Islam, maka hubungan antar masyarakat Indonesia dengan masyarakat Maroko sudah berjalan dalam waktu yang sangat lama. Selain itu juga banyak anak-anak Indonesia yang belajar di negeri Maroko, khususnya belajar Islam. Hal ini menandakan bahwa hubungan antara Indonesia dengan Maroko sudah selayaknya saudara yang saling menghargai dan menghormati. Pak menteri juga menyampaikan bahwa keinginan untuk berkunjung ke Maroko sudah sangat lama. Akan terapi karena kesibukan di dalam negeri maka kunjungan tersebut baru bisa dilaksanakan hari ini dan dengan waktu yang sangat terbatas pula.
Disebabkan Pak Menteri Agama harus menghadiri acara tahunan pengajian dan pertemuan di istana yang dihadiri oleh Raja Muhammad VI, maka rombongan Pak menteri Agama harus segera ke hotel, sementara kami dengan rombongan harus menunggu barang yang dibagasikan. Tentu saja tidak mengalami kesulitan di dalam urusan-urusan seperti ini. Semua sudah disiapkan oleh staf KBRI di Maroko. Termasuk juga angkutan kendaraan ke Rabat, ibukota Kerajaan Maroko.
Antara Casablanca dengan Rabat sepanjang satu setengah jam perjalanan. Dengan kendaraan yang melaju cepat rata-rata 120 Km perjam, sampailah kami di hotel ‘L Amphritit yang bergaya Arab dan Perancis. Gaya Arabnya dapat dilihat dengan kubah-kubah model timur tengah dan gaya Perancis terlihat dari model bangunan yang berarsitektur Perancis. Hotel bintang lima di Rabat, saya kira.
Sepanjang jalan, saya bisa melihat lahan-lahan pertanian yang mengering. Karena musim kemarau, maka banyak pohon yang meranggas. Mengering meskipun tidak mati. Andaikan kunjungan ini di musim hujan, tentu akan terlihat betapa suburnya daerah sepanjang Casablanca Rabat ini. Menurut penuturan staf KBRI, bahwa daerah ini adalah penghasil buah-buahan. Selain itu juga gandum. Padi tidak ditanam di sini. Buah-buahan, seperti jeruk, semangka, wortel, tomat, melon dan sayur-sayuran tersebut menjadi bahan ekspor ke Eropa.
Di kiri dan kanan jalan, dapat dilihat pepohonan yang masih menghijau sementara rerumputan mengering. Kalau musim hujan tentu lahan di sekitar jalan raya atau jalan tol ini menjadi hamparan yang menghijau dengan warna-warni pepohonan dan bunga-bunganya. Maroko memang tidak seperti negeri Eropa dengan cita rasa keindahan yang luar biasa. Akan tetapi satu hal yang penting adalah bahwa Maroko adalah sebuah negeri Islam dengan masyarakatnya yang agamis dan tempat peribadatan yang luar biasa banyak.
Wallahualam a’lam bia alsahawab.

PUASA DI NEGERI MAGHRIBI

PUASA DI NEGERI MAGHRIBI
Maroko memang dikenal sebagai negeri maghribi. Atau artinya adalah negeri yang terletak di wilayah paling barat di antara negeri Islam lainnya. Jika Al Quran menyebutkan wilayah barat, atau wilayah maghribi, maka yang ditunjuk adalah wilayah negeri Maroko ini.
Dibandingkan dengan jarak wilayah Indonesia dan wilayah Maroko, maka jarak waktunya adalah tujuh jam. Dengan jeda waktu tujuh jam tersebut, maka sangat memungkinkan orang yang bepergian ke wilayah ini maka akan terkena jetlag. Saya kira hampir seluruh anggota rombongan mengalami hal yang sama. Saya juga merasakan hal yang sama dengan lainnya. Apalagi saya yang punya potensi sulit tidur, Maka dapat dipastikan bahwa persoalan jetlag adalah persoalan yang tidak sederhana. Inilah salah satu kerumitan saya di dalam bepergian ke luar negeri yang memiliki jeda waktu yang sangat memadai.
Kepergian saya sebagai bagian dari rombongan Pak Menteri Agama terjadi pada bulan puasa. Biasanya, pada bulan puasa saya menghindari bepergian jauh. Persoalannya tentu adalah kesulitan saya untuk beradaptasi dengan berbagai daerah yang baru, apalagi dengan wilayah yang sangat jauh seperti ini. Dihitung dari jarak waktu, maka Maroko itu segaris dengan waktu di London. Jadi kalau di Maroko jam 06.00 pagi, pada waktu saya menulis ini, maka di London juga memiliki waktu yang hampir sama dengan di sini.
Pak Suryadharma Ali memang memiliki jadwal yang sangat padat di dalam kunjungannya ke berbagai negeri di luar negeri. Sebagaimana bulan yang lalu ketika beliau kunjangan ke Thailand, maka di Maroko juga dengan jadwal yang sangat padat. Ada MoU dengan kementerian Wakaf dan Urusan agama Islam di Maroko, serta kunjungan ke tempat lain.
Sebagaimana yang juga sering saya nyatakan, bahwa problem lain yang selalu saya hadapi di luar negeri adalah persoalan makan. Lidah saya tidak mudah adaptasi dengan berbagai makanan. Dalam nada gurau sering saya nyatakan bahwa pikiran boleh mengglobal, akan tetapi lidah tetap saja lokal. Di bulan puasa seperti ini, maka dua kesulitan itu menjadi problem yang serius bagi saya.
Kepergian saya ke Maroko itu ibaratnya mengejar matahari terbenam. Dengan jarak waktu selama tujuh jam, maka akibatnya puasa menjadi sangat panjang. Di dalam perjalanan, maka sahur di atas wilayah Pakistan dan harus berbuka di Rabat Maroko. Jika diperhitungkan maka puasa di hari pertama kedatangan saya ke Maroko adalah sepanjang 20 jam. Semua memang telah berniat untuk tidak membatalkan puasa. Maka jadilah puasa di Maroko pada hari pertama itu sepanjang 20 jam dan merupakan pengalaman yang mengesankan. Islam memang membolehkan untuk berbuka di dalam suasana perjalanan atau sakit, akan tetapi ada sesuatu yang menggelitik agar terus menjaga puasa sampai tuntas.
Pada bulan Juli, waktu siang di Maroko jauh lebih panjang. Matahari terbenam pada jam 19.45. Sedangkan waktu subuh pada pukul 03.45. Makanya kalau dihitung bentangan waktu puasa adalah sepanjang 16 jam. Jauh lebih lama sepanjang empat jam dibandingkan dengan puasa di negara Indonesia. Tentu saja waktu empat jam bukanlah waktu yang pendek. Artinya, bagi masyarakat Indonesia sudah bisa menikmati saat berbuka puasa, maka umat Islam di Maroko masih harus berjuang menahan lapar dan dahaga dalam waktu empat jam lagi.
Berpuasa sepanjang waktu ini tentu merupakan pengalaman yang sangat penting. Dengan berpuasa jauh lebih lama di negeri orang, dengan makanan yang kurang cocok dengan lidah, dengan aktivitas yang tinggi dan kurang istirahat atau tidur, maka bisa menjadikan kita semakin bersyukur menjadi bagian dari umat Islam yang bermukim di Indonesia.
Saya kira menjadi umat Islam di Indonesia adalah rahmat Allah yang luar biasa. Bisa dibayangkan bahwa puasa sepanjang 16 jam, dengan sengatan udara yang panas dan hawa yang dingin kala malam hari, maka menjadi orang Indonesia adalah kenikmatan yang sangat besar. Ni’matul udzma, kata para ustaz.
Oleh karena itu jika menjadi orang Indonesia kemudian tidak bersyukur kepada Allah atas kenikmatan yang diberikan itu, maka rasanya akan menjadi sangat kufur. Bandingkan dengan waktu subuh jam 03.45 di maroko, yang rasanya orang indonesia masih sedang enakan istirahat, maka orang Maroko sudah harus menunaikan shalat subuh. Subuh di Indonesia menandai waktu pagi dan kemudian memulai aktivitas, dan maghrib menandai waktu masuknya malam waktu kita harus istirahat. Perbedaan waktu seperti ini, tentu bisa menjadi kaca benggala betapa waktu menjadi variabel penting di dalam aktivitas kehidupan.
Jadi, memang sudah selayaknya, orang Indonesia bersyukur atas karunia Allah yang berupa waktu yang sangat cocok dan menyenangkan tersebut.
Wallahualam bi alshawab

ZIARAH KE MAKAM RAJA MUHAMMAD

ZIARAH KE MAKAM RAJA MUHAMMAD
Kunjungan pertama yang dilakukan oleh Pak Menteri Agama dengan seluruh rombongan adalah berziarah ke makam raja Muhammad V, yang merupakan bapak raja Muhammad VI, sekarang ini. Jarak antara tempat hotel saya menginap dengan makam raja Muhamamad ini adalah 45 menit dengan kendaraan darat. Karena seluruh ruas jalan di Maroko adalah jalan bebas hambatan, maka perjalanan menjadi cepat. Andaikan di Jakarta bisa berjam-jam, apalagi di waktu jam sibuk.
Makam raja ini didirikan di bekas masjid megah dan terbesar di wilayah Afrika di masa lalu. Masjid tersebut hancur karena bencana gempa bumi di wilayah Spanyol atau disebut sebagai gempa Lisabon. Seluruh bangunan atapnya runtuh dan hanya tinggal tiang dan dindingnya saja, serta bangunan menara yang masih tegak berdiri. Gempa Lisabon ini benar-benar menjadi momentum yang terus menjadi ingatkan warga Maroko karena dampaknya yang luar biasa bagi masyarakat Maroko dan juga bangunan bersejarahnya.
Luas masjid tersebut kira-kira seluas lapangan bola dan kini hanya tinggal puing-puingnya saja, hanya tinggal tiang-tiang yang memang sengaja dibiarkan untuk menandai bahwa di tempat ini dahulu pernah dibuat masjid besar dan megah yang merupakan karya arsitektur warga Muslim Maroko. Pilar-pilarnya yang besar menandakan bahwa masjid tersebut sesungguhnya memiliki kekuatan bangunan yang sangat baik. Tetapi gempa Lisabon telah menenggelamkan semuanya.
Atas prakarsa raja Muhammad V, maka di bekas masjid tersebut yang arah timur dibuatlah sebagai persemayaman raja Muhammad, yang juga bapaknya. Makam ini terdiri dari tiga undagan. Ada pintu gerbang atas dan ada pintu gerbang bawah. Makam raja ada di lantai bawah tanah. Ada dua makam yang disemayamkan di tempat itu. Makam bercat putih dengan dengan tujuh tingkatan. Makam ini tidak sama dengan pola makam di Jawa, di mana pada setiap makam pasti ada tetenger atau maesan. Di makam ini tidak ada hal itu semua. Makam ini lebih mirip bangunan rumah dengan tembok permanen. Agak sulit melukiskannya di dalam ringkasan kata. Ada tiga makam di ruang yang besar ini, yang dilatari dengan karpet merah dengan hiasan yang warna warni.
Di dalam makam tersebut juga ada seorang yang terus mengaji Al Quran. Dia terus mengumandangkan bacaan Al Quran meskipun di tempat itu ada para petinggi negara melakukan ziarah. Tidak sebagaimana berziarah di tanah Jawa yang rumit, maka ziarah di makam raja ini cukup dengan membaca surat Al Fatihah yang dipimpin oleh ulama kerajaan. Ulama kerajaan ini pula yang menceritakan hal ihwal makam dan sejarah pembangunan makam suci ini.
Makam raja Muhammad V ini memang dibangun untuk menandai kehebatan masjid yang pernah ada. Makam ini dibangun tahun 1990an dengan pembangunannya selama delapan tahun dan didukung oleh 600 arsitek Maroko. Keindahan makam ini terletak pada ornamen dindingnya yang serba ukiran. Semua dilakukan berdasar atas ukiran tangan atau hand made. Hands Craft ini merupakan bagian dari seluruh jenis ukiran di semua wilayah di Maroko. Jadi semua jenis ukiran di Maroko tertanam di dinding makam ini.
Siapapun yang datang ke makam ini pastilah akan mengagumi keindahan ukiran kayu yang serba halus. Bisa dibayangkan bahwa untuk penyelesaian bangunan ini dibutuhkan waktu delapan tahun. Hal ini terkait dengan penempelan ukiran yang rumit pada setiap dinding makam. Atap, dinding dan pilar-pilarnya semua terdiri dari hand Craft yang sangat indah. Saya jadi teringat dengan kota Jepara yang merupakan pusat ukiran kayu di Jawa.
Jika makam di Jawa, biasanya dirumuskan dengan sangat sederhana, seperti rumah dan Cungkup yang sederhana, maka makam raja Muhammad ini benar- benar menggambarkan keindahan dan kewibawaan sekaligus. Memang makam ini didesain khusus untuk menggambarkan kewibawaan kerajaan Maroko yang tercermin dari makam pendirinya yang sangat mulya.
Raja Muhammad V yang merancang dan membangun makam ini adalah raja besar yang memerdekakan Maroko dari penjajahan Perancis. Yang mulia ini pernah dibuang ke Madagaskar dan juga ditempatkan di tempat lain. Akan tetapi seirama dengan tuntutan merdeka dari negara-negara Islam lainnya, maka Perancis juga akhirnya menyepakati kemerdekaan Maroko pada tahun 1950-an.
Presiden Soekarno sangat dekat hubungannya dengan raja Muhammad V. Bahkan menjadi salah satu negara yang sangat mendukung terhadap kemerdekaan Maroko. Hubungan bilateral yang sangat lama ini menjadi salah satu sebab mengapa kalau berkunjung ke Maroko maka tanpa dikenai visa sebagaimana berkunjung ke negara lainnya.
Di dalam foto kunjungan Presiden Soekarno yang dipampang di dinding kedutaan besar RI di Maroko, maka memberikan gambaran betapa kedekatan antara Presiden pertama RI itu dengan Raja Muhammmad V. Di dalam acara peninjauan pasukan oleh mereka berdua, terdapat gambaran bahwa kedua negara memang memiliki hubungan kedekatan yang sangat kentara.
Oleh karena itu jika kemudian terdapat kemudahan dalam kunjungan ke Maroko, misalnya dengan peniadaan visa bagi kedua bangsa tentu merupakan suatu kewajaran sebab relasi antara bangsa Indonesia dengan bangsa Maroko telah terjalin dalam kurun waktu yang sangat lama.
Wallahualam al’lam bi al shawab.

 

RELASI INDONESIA DAN MAROKO

RELASI INDONESIA DAN MAROKO
Sebagai dua bangsa yang memiliki ikatan relogiositas yang telah terjalin lama, maka kedekatan hubungan antara Indonesia dengan Maroko masih sangat kentara hingga sekarang. Antara Maroko dan Indonesia telah terjalin relasi yang berbasis pada ikatan keagamaan yang sangat kental.
Kita tentu tahu bagaimana para ulama Maroko semenjak awal proses Islamisasi telah menjalin hubungan yang sangat dekat. Ibnu Batutah seorang sejarawan yang sangat terkenal di dunia Islam dan bahkan di dunia, telah menjadi saksi bagaimana wilayah ini pernah menjadi daerah tujuan perjalanan ilmuwan tersebut. Dalam perjalanannya mengarungi dunia, Ibnu Batutah pernah singgah di kerajaan Perlak yang merupakan kerajaan Islam awal di Nusantara. Perjalanan Ibnu Batutah ke Nusantara itulah yang kiranya menjadi saksi sejarah bahwa Nusantara pernah menjadi tempat singgah ulama dan ilmuwan sejarah tersebut. Tentu tidak akan menjadi tempat singgah Ibnu Batutah jika kerajaan Perlak tidak dikenal dalam peta perjalanannya.
Ulama yang sangat terkenal berasal dari Maroko dan kemudian menjadi salah seorang dari sembilan wali di jawa adalah Maulana Maghribi yang menjadi penyebar Islam di wilayah Gresik Jawa Timur. Syekh Maulana Malik Ibrahim atau Syekh Magribi adalah generasi pertama yang menyebarkan Islam di Nusantara. Makamnya di Gresik tentu menjadi pertanda bahwa ulama Maroko pernah menjadi guru spiritual di Nusantara. Ulama-ulama di Jawa generasi kedua tentu merupakan murid Syekh Maulana Magribi.
Dengan demikian, secara spiritual sesungguhnya Maroko dan tentu juga ulama timur tengah lainnya merupakan guru spiritual masyarakat Indonesia yang tentu tidak diragukan. Dalam urusan spiritualitas, rasanya masyarakat Indonesia memiliki hutang budi pada masyarakat Maroko.
Relasi antara masyarakat Maroko dan masyarakat Indonesia tidak hanya terbatas pada aspek religiositas saja, akan tetapi juga dalam aspek sosial politik. Hal itu tentu terkait dengan dukungan politik masyarakat Indonesia yang direpresentasikan oleh Presiden Soekarno pada saat kemerdekaan Maroko. Kala kerajaan Maroko mengajukan kemerdekaan kepada Pemerintah Perancis, maka Pemerintah Indonesia adalah negara pertama yang menjadi pendukungnya. Itulah sebabnya masyarakat Indonesia memiliki andil yang signifikan di dalam pengajuan kedaulatan Pemerintah Maroko.
Itulah sebabnya di dalam kunjungan kenegaraan Presiden Soekarno ke Maroko pada tahun 1960 maka memperoleh sambutan yang luar biasa. Bahkan Presiden Soekarno diberikan kesempatan untuk memasang namanya sendiri sebagai nama jalan di kota Rabat. Rue Soekarno sebagaimana yang saya lihat adalah nama jalan yang sangat dikenal di kota Rabat, sebab berada di jantung kota Rabat.
Selain itu juga ada nama jalan Jakarta dan Bandung. Nama jalan Jakarta diberikan sebagai pertanda persahabatan dua negara ini, sebagaimana persahabatan negara Maroko dengan negara lain. Di kompleks ini maka dikenal ada nama-nama ibukota negara yang dijadikan sebagai nama jalan, misalnya Paris, Moskow, Lisabon dan sebagainya. Juga didapati nama jalan Bandoeng. Diabadaikannya nama Bandung adalah sebagai penghargaan atas terselenggaranya konferensi Asia Afrika yang digelar di Bandung, yang melahirkan konsensus negara-negara non-Blok yang diprakarsai oleh Pemerintah Indonesia. Negara yang tergabung di dalam gerakan non blok adalah negara yang tidak ikut blok barat yang diprakarsai oleh Amerika Serikat dan blok timur yang dipimpin oleh Uni Soviet. Gerakan non blok benar- benar menjadi penyeimbang bagi ketegangan antara timur dan barat di era pertarungan Amerika Serikat dan Uni Soviet di era perang dingin.
Pencantuman nama negara atau kota sebagai nama jalan tentu bukan hanya pemberian semata, akan tetapi sesungguhnya memiliki makna yang signifikan. Pemberian nama itu bukan sekedar basa basi, akan tetapi sebenarnya merupakan gaya diplomatik yang smart. Itulah sebabnya pencantuman nama negara, nama kota dan bahkan nama pahlawan adalah sarana untuk berdiplomasi mengenai kedekatan dua negara. Itulah sebabnya di Jakarta juga didapati nama Casablanca sebagai nama jalan, nama Mall dan bahkan nama kondominium.
Melalui pencantuman nama pahlawan atau kota dan tempat bersejarah pada suatu negara tentu memberikan makna yang sangat mendalam dalam relasi antar negara. Dan Indonesia dan Maroko telah membuktikannya.
Wallahu a’lam bi alshawab,