• October 2026
    M T W T F S S
    « Sep    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

SUATU SORE DI UNIVERSITI TEKNOLOGI MALAYSIA

SUATU SORE DI UNIVERSITI TEKNOLOGI MALAYSIA
Senin, 26 Agustus 2013 saya berangkat ke Malaysia dengan pesawat Air Asia. Biasanya kalau saya ke luar negeri pasti dengan rombongan, tetapi kali ini saya berangkat sendiri. Tidak enak juga pergi sendirian. Lebih enak kalau ada kawannya, sehingga bisa bercakap-cakap untuk mendiskusikan sesuatu. Tetapi alhamdullilah bahwa saya sampai di UTM Johor dengan selamat.
Terminal Udara Senai Johor Bahru termasuk terminal udara yang baru saja beroperasi. Kira-kira dua tahun yang lalu. Akan tetapi sekarang sudah ramai dengan penumpang dari dan ke Indonesia. Bandar udara ini kira-kira sama dengan terminal udara di Semarang atau Surakarta. Meskipun demikian, bangunannya lebih minimalis moderen. Bangunannya mirip dengan lapangan udara di Makasar, hanya lebih kecil. Ada tiga ruang untuk turun dari bandara ini, yaitu for foraigner, untuk penduduk asli Malaysia dan untuk second home. Saya tentu memilih yang kedatangan bagi para pendatang bukan penduduk Malaysia. Saya dijemput oleh Prof. Mifedwil Jandra, dosen UIN Jogjakarta yang sudah setahun mengajar di Fakulti Tamaddun Islam UTM. Beliau adalah sahabat saya sewaktu bersama-sama menjadi muridnya Prof. Dr. Parsudi Suparlan, antropolog terkenal Universitas Indonesia, untuk belajar mengenai etnografi dalam program Program Pelatihan Penelitian Agama (PLPA) pada tahun 1990.
Jarak antara bandar udara dengan UTM tentu tidak jauh. Jalanan yang serba tol tentu juga menyebabkan perjalanan menjadi lebih cepat. Saya harus akui bahwa kualitas jalan di Malaysia memang lebih baik dibanding kualitas jalan di Jakarta. Jalan yang serba tol tentu membuat perjalanan lebih nyaman. Jalan menuju ke UTM juga jalan tol. Makanya laju kendaraan juga sangat cepat, kira-kira 120 km perjam. Dengan kendaraan Proton yang menjadi kendaraan wajib bagi pejabat di Malaysia, termasuk di universitas, maka kami menuju ke Schoolar In, hotel yang dimiliki oleh university.
Sebagaimana jalanan di Malaysia, maka di kiri dan kanan jalan tumbuh dengan subur pohon-pohon sawit dan juga pepohonan lainnya yang menghijau. Maklum bahwa di wilayah Johor ternyata masih sering hujan. Selama seminggu saya di sini, maka ada dua kali hujan dengan sangat deras. Makanya pepohonan juga masih sangat menghijau dan kelihatan sangat subur.
Kampus UTM yang sangat luas itu kelihatan bersih dan dikelilingi oleh pohon-pohon yang beraneka ragam. Saya tidak tahu nama-nama pohon itu. Tetapi saya sungguh menikmati sebuah kampus dengan lingkungan yang indah dan asri menghijau. Agak susah saya menemukan kampus seperti ini di Indonesia. Posisi tanahnya yang berbukit-bukit dengan bangunan yang didesain mengikuti posisi tanahnya menambah keasrian dan keindahan kampus ini.
Kampus yang semula didesain untuk pengembangan teknologi ini dirancang untuk menjadi perguruan tinggi berbasis kebudayaan Melayu. Makanya, struktur bangunannya juga dibuat untuk menggambarkan budaya Melayu yang berbasis agama. Masjid ditempatkan di tengah bangunan kampus, kemudian dilingkari oleh jalan yang diberi nama Lingkar Ilmu, dengan pintu masuk masjid yaitu pintu Iman, Islam dan sebagainya. Di sebelahnya adalah Fakulti Matematika, Fisika dan Kimia serta rektorat. Hal ini menggambarkan bahwa yang ingin dibangun oleh university ini adalah integrasi ilmu, ilmu yang berbasis pada masjid dengan keimanan dan ketakwaan.
Disebabkan oleh rindangnya pepohonan di dalam kampus ini, maka kampus UTM juga menjadi tempat singgah dan menetap burung-burung liar. Jika sore hari maka ada banyak burung yang beterbangan di sekitar hotel kampus. Ada burung Jalak hitam, burung emprit, burung gereja, burung derkuku, burung dara, burung kepodang yang warnanya kuning dan sebagainya. Saya tidak bisa mengenali semua nama burung ini kecuali yang dahulu pernah saya kenal ketika saya masih remaja dan tinggal di pedesaan. Tempat tinggal saya dahulu adalah sebuah desa di wilayah Kabupaten Tuban. Nama burung itu tentu dipengaruhi oleh pengetahuan saya mengenai nama-nama burung tersebut.
Saya menjadi terkenang dengan pengalaman saya ketika masih tinggal di desa dan sewaktu kecil saya. Di desa dulu juga sama, ada banyak burung dengan aneka namanya. Tetapi akhir-akhir ini burung-burung tersebut sudah tidak ada lagi. Akibat banyak orang yang menggunakan senapan angin untuk menembak burung, maka burung tersebut banyak yang tidak bisa lagi berkembangbiak. Sungguh merupakan peristiwa kelam di mana manusia merusak sendiri lingkungannya. Di Malaysia masyarakat dilarang menembak burung. Jika ketahuan, maka akan dihukum dengan hukuman yang berat. Oleh karena itu maka masyarakat tidak mengusik kehidupan burung dan bahkan menjaganya.
Saya kira memang pendidikan lingkungan saja tidak cukup. Dan kiranya juga harus ada law empowerment agar keseimbangan lingkungan akan terjaga. Saya rasa tidak ada salahnya kita belajar dari negara lain tentang pengelolaan lingkungan dan juga mengembangkan kesadaran agar masyarakat menjaga lingkungan.
Wallahualam bisshawab.

 

RISET APLIKATIF UNTUK PTAIN

RISET APLIKATIF UNTUK PTAIN
Dalam acara perhelatan PIONIR atau Pekan Ilmiah, Olah raga, Seni dan Riset yang dilaksanakan pada tanggal 19 sampai 24 Agustus 2013 di Banten, maka ada momen yang menarik yaitu pertemuan antara Menteri Agama RI, Dr. Suryadharma Ali, MSi dengan para rektor PTAIN SE Indonesia. Pertemuan tersebut membahas masalah riset yang seharusnya dilakukan oleh PTAIN.
Hadir di dalam pertemuan ini adalah Dirjen Pendidikan Islam, Prof. Dr. Nur Syam, Direktur Pendidikan Tinggi Islam, Prof. Dr. Dede Rosyada, Rektor IAIN Sultan Maulana Hasanuddin, Banten, Prof. Dr. Syibli Syarjaya, dan juga ketua Forum PTAIN, Prof. Dr. Farid Wajdi. Selain para rektor yang datang juga para ketua STAIN dan wakil rektor dan wakil ketua III STAIN.
Di dalam pertemuan ini dibahas secara mendalam tentang riset macam apa yang seharusnya menjadi konsern PTAIN. Menteri agama memulainya dengan suatu ungkapan yang sangat menarik, yaitu tentang pentingnya mengembangkan riset aplikatif selain tetap mengembangkan riset akademis. Mengapa harus mengembangkan riset aplikatif, maka menteri agama menyatakan bahwa ada banyak pernyataan yang mendiskreditkan tentang institusi kementerian agama. Ada banyak penelitian yang terkadang secara sengaja dikembangkan untuk membuat public opinion tentang Kementerian Agama.
Di antara yang menonjol adalah tentang pembentukan opini tentang isu meningkatnya intoleransi penganut agama di Indonesia. Misalnya ada penelitian dengan pertanyaan apakah Anda setuju kalau di wilayah Anda didirikan gereja? Ya maka jawabannya kebanyakan adalah tidak setuju. Lalu disimpulkan bahwa di Indonesia terjadi semakin meningkatnya intoleransi penganut agama. Pertanyaan semacam ini jika ditanyakan kepada umat Islam di mana saja jawabannya mestilah begitu. Sama halnya ketika pertanyaan itu berbunyi apakah Anda setuju jika didirikan masjid di daerah yang mayoritas beragama lain. Pastilah jawabannya akan tidak setuju. Jika pertanyaan ini dijadikan rujukan tentang meningkatnya intoleransi beragama tentu tidak cocok.
Perguruan tinggi mestinya memiliki kewajiban untuk melakukan konfirmasi tentang hal ini. Jadi perlu ada confirmatory research. Melalui penelitian ini maka seharusnya dijawab secara akademis apakah penelitian ini benar atau kurang tepat. Dengan begitu maka PTAIN akan memiliki jawaban akademis tentang hasil penelitian tentang meningkatnya atau tidak meningkatnya intoleransi umat beragama tersebut. Para rektor dan juga Badan Litbang harus menjawab secara akademis dan ilmiah tentang upaya untuk mendiskreditkan umat beragama di Indonesia tersebut.
Kalau di Indonesia terjadi intoleransi maka pelaksanaan MTQ di Ambon tentu tidak sukses sebagaimana yang kita ketahui. Bisa dibayangkan bagaimana kontingen Banten yang harus menginap di Kantor Keuskupan di Ambon. Di situ diselenggarakan shalat jamaah dan juga acara perlombaan tilawatil Qur’an. Juga dapat diketahuin bagaimana juga sambutan masyarakat Kristiani terhadap pelaksanaan MTQ. Kiranya kerukunan umat beragama di Indonesia sungguh tergambar di dalam peristiwa MTQ tersebut.
Juga misalnya tuduhan tentang pelanggaran HAM. Ada pernyataan bahwa negara harus memberikan perlindungan dan memberikan kebebasan kepada umat yang mau membuat agama apa saja. Makanya, beberapa tahun yang lalu juga ada usaha dari sejumlah LSM untuk menghapus UU No 1 tahun 1965. Baginya mereka bahwa UU ini diskriminatif terhadap agama-agama lain. Mereka membuat opini bahwa umat Islam melanggar hak asasi manusia sebab tidak menoleransi terhadap berdirinya agama-agama baru. Kita harus beranggapan bahwa ketika ada kelompok yang menyatakan di dalam syahadatnya “asyhadu an la ilaha illallah wa asyhadu Anna pangeran anu Rasulullah” tentu harus ditolak sebab di sini ada penodaan terhadap agama. Sama halnya ketika ada umat mengaku sebagai umat Islam tetapi mengakui bahwa Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi setelah Nabi Muhammad SAW. Maka yang demikian ini tentu harus dikaji dan diteliti untuk menghasilkan rujukan akademis bahwa penodaan agama bukan untuk ditoleransi akan tetapi harus ditolak oleh umat Islam. Di sini PTAIN memiliki peran strategis untuk menghasilkan penelitian andal sebagai konfirmasi terhadap hal-hal yang bertentangan dengan ajaran Islam.
Tidak kalah menariknya juga tentang survei yang diselenggarakan oleh lembaga survei di Indonesia. Dewasa ini ada banyak lembaga survei yang berdiri untuk kepentingan politik. Lembaga survei ini secara sengaja digunakan oleh para politisi untuk meningkatkan popularitas. Makanya penelitian ini juga dapat dianggap sebagai penelitian pesanan dan untuk kepentingan yang memesan. Di dalam hal ini maka PTAIN sesungguhnya bisa menjadi lembaga penelitian yang berperan untuk menyangga kejujuran dan kebenaran sebuah fakta. Kita tidak berharap bahwa perguruan tinggi menjadi lembaga penelitian pesanan ini. Perguruan tinggi harus menjaga netralitas penelitian agar hasil penelitiannya menjadi lebih akurat dan tepercaya.
Di dalam konteks ini, maka kita semua berharap agar PTAIN dapat memberikan sumbangan kepada dunia akademis dan juga dunia nyata yang kita hadapi sehari-hari. Dengan demikian PTAIN akan dapat memiliki peran yang lebih besar bagi peningkatan kualitas masyarakat Indonesia.
Wallahualam biasshawab.

KARYA AKADEMIS DOSEN

KARYA AKADEMIS DOSEN
Sesungguhnya kita berharap banyak dari para dosen terutama dalam kaitannya dengan karya akademis. Sebab ditangani dosenlah sebenarnya karya akademis tersebut akan lahir, tumbuh dan berkembang.
Perkembangan Ilmu pengetahuan sangat tergantung kepada aktivitas para dosen di dalam meneliti dan menulis. Artinya, semakin banyak penelitian yang dilakukan dan kemudian tulisan tersebut dipublikasikan, maka akan semakin besar peluang perkembangan ilmu pengetahuan.
Dunia perguruan tinggi adalah dunia akademis dan dunia akademis itu bermakna dan terkait dengan dosen atau kaum akademisinya. Oleh karena itu jika kaum akademisinya banyak menulis berbasis pada penelitian ilmiah, maka dunia akademis tersebut akan menjadi eksis dan kemudian berkembang. Di dalam hal ini peran dosen menjadi sangat penting.
Dunia akademis tanpa hiruk pikuk hasil penelitian kiranya seperti rumah tanpa penghuni. Dia akan menjadi sepi dan tidak bermakna. Maka agar dunia akademis menjadi ramai dan bermakna. Maka para dosen harus melakukan penelitian dan menulis. Perguruan tinggi yang kaum akademisinya memiliki kesibukan penelitian dan menuliskannya melalui jurnal atau laporan penelitian yang baik, maka dunia kampus itu akan menjadi terkenal. Dunia akademis diidentikkan dengan nama guru besar yang memiliki kemampuan akademis unggul dan reputasi yang sangat tinggi.
Berpikir, meneliti dan menulis adalah tiga serangkai yang tidak bisa dipisahkan. Ketiganya merupakan pilar bagi kaum akademisi untuk mengembangkan lembaga pendidikannya. Jika sebuah perguruan tinggi tidak memiliki tradisi berbasis pada tiga hal itu, maka hakikatnya perguruan tinggi itu telah mati.
Jika sebuah perguruan tinggi tidak ingin disebut sebagai perguruan tinggi yang mati, maka harus ada yang menghidupkannya. Dan yang menghidupkan itu adalah karya akademis para dosen. Dengan terus berpikir, meneliti dan menulis maka perkembangan perguruan tinggi tersebut secara akademis akan menonjol. Jadi, peran para akademisi memang sangat urgen di dalam pengembangan dunia kampus.
Saya akan mengambil contoh perguruan tinggi di Singapura. Negeri ini tidak memiliki banyak kampus sebagaimana negeri lainnya. Hal ini tentu saja terkait dengan luas wilayah dan jumlah penduduk yang sedikit. Namun demikian melalui dua kampusnya yang hebat banyak karya akademis dosen yang dihasilkannya. Dua kampus itu adalah National Uniiversity os Singapore (NUS) dan Nanyang Technological University (NTU). Melalui dua universitasnya ini, maka dunia akademis di negara Singapura menjadi sangat menonjol.
Di antara yang unggul dari perguruan tinggi ini adalah publikasi ilmiahnya. Bahkan dua perguruan tinggi ini bisa mengalahkan beberapa negara tetangganya yang jumlah perguruan tingginya jauh lebih banyak. Artinya bahwa tidak ada korelasi antara banyaknya jumlah perguruan tinggi dengan publikasi ilmiah yang dihasilkan. Mengambil contoh perguruan tinggi di Singapura, maka jawaban sederhananya menyatakan memang tidak ada korelasi.
Cobalah kita lihat gambaran berikut berdasarkan atas jumlah artikel yang dipublikasikan dan masuk dalam daftar The Institute for Sientific information (ISI), maka diperoleh catatan: Jepang menempati ranking pertama dengan 1.702.775 buah, India dengan 452.205, Singapura dengan 81.255 artikel, Thailand dengan 37.376 artikel, Malaysia dengan 24.626 buah, Bangladesh dengan 9.336 buah artikel, Indonesia dengan 9.019 artikel dan Vietnam dengan 1.072 buah artikel.
Data ini memberikan gambaran kepada kita bahwa aktivitas menulis para dosen di Singapura tentu luar biasa. Dibandingkan dengan jumlah perguruan tinggi di Indonesia sebanyak hampir 3000 buah, maka tentunya bisa dipahami jika aktivitas menulis para dosennya jauh lebih rendah dibandingkan dengan para dosen di Singapura.
Mungkin saja problemnya adalah para dosen di Indonesia tidak menulis untuk kepentingan jurnal internasional atau jurnal yang diakui oleh ISI. Oleh karena itu jumlah artikel yang ada di jurnal yang ditulis para dosen meskipun banyak tidak dianggap sebagai karya akademis yang standart.
Mestinya dengan angka kasar setiap PT di Indonesia memiliki jurnal terakreditasi, maka akan terdapat sebanyak 3000 jurnal. Jika setiap jurnal terdapat sebanyak 10 tulisan, maka akan ada sebanyak 30.000 karya akademis. Jika jurnal tersebut terbit dua kali dalam setahun berarti akan ada sebanyak 60.000 karya akademis. Hanya sayangnya bahwa belum semua PT memiliki jurnal akademis terakreditasi, sehingga situasinya menjadi berbeda.
Makanya ke depan mesti harus ada upaya untuk mempercepat langkah di dalam mendorong para dosen untuk menulis di jurnal yang terakreditasi internasional. Dengan cara ini maka karya akademis para dosen tersebut akan dapat diakui sebagai karya akademis outstanding, dan dengan begitu maka jumlah karya akademis yang dihasilkan oleh para dosen akan menjadi kentara dan meningkat secara signifikan.
Jika untuk menjadi profesor diwajibkan menulis di jurnal internasional atau jurnal yang terakreditasi internasional, maka sesungguhnya di sinilah letak pentingnya. Kita ingin ke depan PT kita menjadi terkenal karena karya akademis para dosennya dan bukan karena tindakan anarkis yang ditonjolkannya.
Wallahualam biasshawab.

 

MEMPERINGATI 17 AGUSTUS

MEMPERINGATI 17 AGUSTUS
Ada banyak ragam cara masyarakat dalam memperingati tujuh belasan. Keanekaragaman cara memperingati hari ulang tahun kemerdekaan tersebut menggambarkan betapa masyarakat sesungguhnya sangat menghargai kemerdekaan bangsa itu. Mereka tidak hanya memasang bendera Sang Saka Merah Putih setiang penuh, namun mereka juga merayakannya dengan berbagai macam cara. Jadi masyarakat memang memiliki logikanya sendiri di dalam memperingati ulang tahun kemerdekaan.
Gambaran kegembiraan dan kebahagiaan begitu terpancar dari rona wajah masyarakat yang menyelenggarakan peringatan tujuh belasan tersebut. Ada upacara tabur bunga di makam pahlawan. Bahkan juga renungan kemerdekaan yang dilaksanakan di istana negara, di tempat yang khusus atau tempat monumental yang penting. Jika para pejabat dan pegawai negeri memperingati tujuh belasan dengan upacara bendera maka masyarakat memperingati tujuh belasan dengan kesenian, olah raga, atau tarian dan sebagainya.
Baik di desa maupun di kota diselenggarakan peringatan kemerdekaan. Pesta rakyat tersebut sangat menarik sebab diikuti oleh diikuti oleh semua lapisan masyarakat. Mereka berdamai-ramai menyaksikan berbagai lomba yang diselenggarakan untuk peringatan 17 Agustusan tersebut.
Ada dua jenis kegiatan yang terkait dengan peringatan kemerdekaan. Pertama adalah kegiatan yang bercorak musikal. Di banyak tempat diselenggarakan acara gelar musik dengan berbagai variannya. Misalnya, adalah musik karaoke. Acara ini diselenggarakan di tempat khusus, misalnya kantor kelurahan atau kantor desa dan lapangan-lapangan desa. Bisa saja diselenggarakan untuk lomba atau memang khusus untuk pertunjukan. Kemudian, pertunjukan musik tradisional yang dikemas dengan peralatan gitar atau peralatan musik tradisional lainnya, seperti angklung, gamelan, rebana dan sebagainya. Acara semacam ini biasanya diikuti oleh kebanyakan remaja atau orang dewasa.
Kedua, olah raga yang dipadukan dengan kegiatan rekreasional. Misalnya sepakbola yang dimainkan oleh lelaki tetapi memakai pakaian perempuan. Acara ini biasanya diikuti dengan musik dangdut yang diputar melalui tape recorder. Acara ini juga menyedot perhatian masyarakat baik lelaki atau perempuan, tua atau muda. Sungguh hal ini merupakan acara atraktif dan membuat pengunjung menjadi tertawa. Yang juga termasuk di dalam kategori ini adalah lomba lari karung. Acara ini memang diikuti oleh anak-anak sekolah dasar atau sekolah menengah pertama. Acara ini menjadi menarik sebab banyak di antara mereka yang jatuh bangun. Jika pesertanya banyak, maka bisa terjadi babak pertama, kedua dan bahkan babak final. Meskipun acara ini diikuti oleh anak-anak namun pengunjungnya juga banyak dari orang dewasa.
Di antara permainan yang juga dikategorikan dalam hal ini adalah lomba pukul bantal, yang terkadang diselenggarakan di atas sungai atau bahkan laut. Mereka saling memukul di atas palang kayu yang dijadikan sebagai alas duduk. Yang kalah pastilah mereka yang jatuh ke sungai atau laut. Acara ini juga menarik sebab ada banyak perilaku lucu dari peserta untuk memenangkan perlombaan ini. Mereka saling baku pukul dan yang tahan dengan pukulan dan dapat mempertahankan dirinya tetap duduk di atas palang kayu, maka dialah yang memenangkan pertandingan. Di dalam lomba ini juga ada babak pertama sampai babak final.
Perlombaan lainnya adalah panjat Pinang. Lomba ini banyak diperlombakan di kota maupun desa. Di darat atau di laut. Pohon Pinang dilumuri dengan oli, sehingga menjadi sangat licin. Di atas pohon Pinang yang ditancapkan di tanah tersebut, maka di atasnya diberi berbagai macam hadiah. Jumlah hadiah tergantung pada banyaknya donatur yang memberikan sumbangan. Acara panjat Pinang ini termasuk sesi yang menarik. Biasanya diikuti oleh anak-anak muda. Panjat jatuh lalu panjat lagi dan jatuh lagi menjadi bahan hiburan yang menyenangkan. Mereka bisa beramai-ramai untuk memanjat Pinang tersebut. Yang menarik adalah ketika sudah mendekati puncak kemudian mereka berjatuhan bersama. Mereka ini memanjat dengan saling menopang satu dengan lainnya. Maka ketika penopang di bawah jatuh maka berjatuhanlah seluruhnya. Inilah momentum yang menarik.
Yang ketiga adalah pertandingan olah raga. Di dalam hal ini maka memang dilakukan berbagai pertandingan olah raga, seperti bulu tangkis, tenis meja, bola voli atau futsal. Sebagai pertandingan olah raga, maka acara ini memang dikemas sebagaimana layaknya pertandingan olah raga pada umumnya.
Semua acara yang digelar masyarakat ini sesungguhnya adalah cara masyarakat untuk merespons peringatan kemerdekaan yang diselenggarakan setiap tahun. Berbagai upacara ini sesungguhnya juga merupakan cara masyarakat untuk mengekspresikan peringatan kemerdekaan yang menjadi bagian penting di dalam kehidupannya. Dengan demikian, memperingati kemerdekaan adalah bagian dari sikap dan perilaku masyarakat dalam memandang kemerdekaan sebagai bagian dari sebuah bangsa. Sekali merdeka tetap merdeka.
Wallahualam biasshawab.

MEMPERINGATI KEMERDEKAAN

MEMPERINGATI KEMERDEKAAN
Sabtu, 17 Agustus 2013 adalah saat peringatan hari kemerdekaan Indonesia. Hari ini adalah peringatan kemerdekaan yang ke 68. Saya kira semua masyarakat Indonesia, terutama yang memahami tentang kemerdekaan pastilah merasakan betapa pentingnya hari kemerdekaan itu.
Tadi pagi semua pegawai negeri, anak-anak sekolah, tentara, polisi, politisi, dan komponen masyarakat lainnya juga memperingati ulang tahun kemerdekaan RI dengan upacara ritual tahunan dan sementara lainnya juga melakukan upacara yang terkait dengan kemerdekaan tersebut.
Hari ini saya mengikuti upacara di kantor Kementerian Agama Republik Indonesia di kantor lapangan Banteng dan dipimpin langsung oleh Menteri agama, Dr. Suryadharma Ali. Upacara ini tentu saja dihadiri oleh seluruh PNS kementerian agama, yang terdiri dari para pejabat eselon satu, dua, tiga, empat dan staf. Juga hadir tentu saja Wakil Menteri Agama, dan ibu-ibu Dharma wanita.
Peringatan hari kemerdekaan merupakan salah satu agenda ritual tahunan yang akan terus berlangsung sampai kapanpun. Tahun, windu, abad boleh saja berganti akan tetapi tanggal 17 Agustus sebagai hari kemerdekaan Indonesia tentu tidak akan bisa digantikan atau dihilangkan dari bumi Indonesia. Pemimpin boleh silih berganti, perubahan sosial dan perubahan budaya juga boleh berganti, akan tetapi tanggal 17 Agustus tidak bisa dipisahkan sebagai hari kemerdekaan bangsa Indonesia. Itulah sebabnya bagi bangsa Indonesia tanggal 17 Agustus adalah hari keramat bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Kemerdekaan bagi bangsa indonesia bukanlah diperoleh dengan mudah. Tidak sebagaimana beberapa negara lain yang memperoleh kemerdekaan melalui pemberian Pemerintah penjajah, akan tetapi bagi kita bahwa kemerdekaan diperoleh dengan cara berdarah-darah. Indonesia menjadi merdeka berkat peperangan, diplomasi dan doa.
Semenjak Soekarno dan Mohammad Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, maka semenjak itu pula genderang perang dengan para penjajah sudah ditabuh dan dimulai. Mulai perlawanan terhadap Jepang, Belanda dan juga tentara sekutu. Semuanya bermaksud untuk merebut kembali Indonesia yang sudah merdeka itu untuk menjadi negara jajahannya. Perjuangan masyarakat terhadap para penjajah itulah yang menghasilkan hari pahlawan tanggal 10 November sebagai hari pahlawan nasional. Pertempuran di Surabaya yang sangat heroik itu menjadi penanda bagi keinginan kuat bangsa Indonesia untuk terus merdeka. Slogan yang menjadi andalannya adalah merdeka atau mati.
Kemerdekaan yang dicapai oleh masyarakat Indonesia benar-benar merupakan usaha yang tidak kenal menyerah. Meskipun dengan senjata seadanya, baik bambu runcing, rencong, pedang, dan senjata tajam lainnya yang bisa dijadikan sebagai peralatan bertempur, maka majulah masyarakat Indonesia untuk melawan penjajah. Semua masyarakat Indonesia dalam segala lapisannya terus berjuang untuk mempertahankan kemerdekaan.
Tentara, pelajar, petani, pedagang, buruh, santri, kyai dan segenap komponen masyarakat Indonesia semuanya berjuang untuk mempertahankan kemerdekaan tersebut. Kyai Hasyim Azhari adalah seorang ulama tradisional pemimpin pesantren yang dengan lantang menyatakan resolusi jihad. Dengan tegas beliau nyatakan bahwa wajib bagi masyarakat Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan itu. Dengan resolusi jihad ini maka masyarakat memiliki motivasi yang kuat bahwa mempertahankan kemerdekaan adalah kewajiban sosial atau wajib ijtimaiyah dan sekaligus juga kewajiban agama. Makanya, mereka yang gugur di dalam pertempuran melawan penjajah adalah orang yang mati syahid. Di dalam Islam bahwa orang yang mati syahid akan langsung masuk surga tanpa dihisab atau diperhitungkan amalannya ketika di dunia.
Berdasarkan catatan sejarah, maka dapat diketahui bagaimana para kyai, santri dan kaum agamawan terlibat di dalam proses mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Ada sekian banyak peperangan yang melibatkan para santri di dalam perjuangan kemerdekaan. Teriakan Allahu akbar berpadu dengan gemerincingnya senjata tajam dan letupan senjata api yang terus berkecamuk di dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan bangsa. Itulah sebabnya, kemerdekaan ini sungguh bukan hadiah dari siapapun akan tetapi merupakan hasil dari perjuangan segenap bangsa Indonesia.
Kemerdekaan bagi bangsa Indonesia adalah tonggak bagi pembangunan bangsa. Tanpa kemerdekaan yang diperjuangkan oleh generasi terdahulu maka kita tentu tidak akan menikmati indahnya pembangunan di Indonesia ini. Oleh karena itu sudah sepantasnya kalau generasi sekarang yang menjadi penerus perjuangan bangsa harus mengisi kemerdekaan dengan kerja keras dan penuh tanggung jawab. Makanya, kemajuan Indonesia sekarang tentu sangat tergantung kepada bagaimana masyarakat sekarang mengisi kemerdekaan ini. Sekali merdeka tetap merdeka.
Wallahualam biasshawab.