Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

PARA PENGHAFAL AL QURAN

PARA PENGHAFAL AL QURAN
Beberapa waktu yang lalu, saya menghadiri acara meeting yang penting untuk membahas tentang masa depan para penghafal AL Quran. Tema pertemuan ini adalah Post Program Kerjasama Kementerian Agama dengan United Islamic Cultural Center of Indonesia atau disingkat UICCI. Sebuah organisasi sosial Islam yang didirikan pada tahun 2005 oleh para sukarelawan muslim Indonesia dan Turki yang berpusat di Istambul Turki. Sebagai sebuah lembaga pendidikan dan kebudayaan Turki, maka salah satu programnya adalah dalam rangka mengembangkan pendidikan untuk kajian dan hafalan AL Quran.
Di Indonesia, program yang dikembangkan adalah dalam bentuk pesantren yang dikenal dengan nama Pesantren As Sulaimaniyah dengan pusatnya di Jakarta dan cabangnya yang tersebar di beberapa Propinsi di Indonesia. Perkembangan pesantren ini sangat pesat mengingat bahwa dalam jangka waktu yang relatif singkat bisa berkembang dengan cepat. Pesantren ini memang didesain dengan sangat modern. Pendidikan di Turki memang lebih maju dibanding lembaga pendidikan di tempat lain.
Sebelumnya, Kementerian Agama juga menyelenggarakan pelepasan santri Indonesia yang nyantri di As Sulaimaniyah sebanyak 40 orang. Mereka akan melanjutkan studinya di Turki dalam dua tahun. Mereka adalah lulusan SMP atau Madrasah Tsanawiyah yang kemudian belajar di As Sulaimaniyah selama setahun. Dalam setahun itu mereka menghafalkan Al Quran dan sebagai kelanjutannya mereka dikirim ke Turki untuk mendalami kajian AL Quran.
Yang saya kagumi dari para pelajar ini adalah kemampuannya untuk menghafal AL Quran dalam waktu yang sangat pendek. Ada yang mampu menghafal AL Quran dalam waktu lima setengah bulan dan paling lama sebelas bulan. Suatu prestasi yang sangat baik, bahwa mereka mampu menghafal AL Quran 30 juz dalam waktu yang singkat, kurang dari setahun.
Pertemuan yang dihadiri oleh direktur Pesantren As Sulaimaniyah, Farhat dan Direktur Wilayah Asia Tenggara dan Australia, Hakan Ozdemir, Dr. Jayadi serta para alumni pesantren As Sulaimaniyah yang sudah kembali ke Indonesia. Mereka sudah menyelesaikan pendidikan di Turki dan sekarang kembali ke Indonesia. Oleh karena itu, harus ada langkah untuk memberikan program kelanjutan bagi mereka ini.
Di dalam sambutan saya, saya tekankan pentingnya para penghafal AL Quran. Mereka adalah orang yang memiliki keunggulan dalam bidang keagamaan sebab mereka adalah penghafal AL Quran. Betapa hebatnya mereka yang telah menghafal AL Quran ini. Mereka adalah orang yang terpilih untuk menjaga kemurnian AL Quran lewat hafalan AL Quran. Oleh karena itu sebagai Direktur Jenderal Pendidikan Islam sangat mengapresiasi terhadap mereka yang menjadi penjaga AL Quran tersebut.
Sebagai pemuda, mereka adalah orang yang sangat beruntung sebab mereka bisa mendalami AL Quran di Turki yang menjadi pusat pengembangan Islam di masa lalu dan hingga kini. Di kala anak muda lain menekuni keduniawian, maka mereka menekuni dunia keagamaan. Kala anak muda lain hura-hura, maka mereka dengan tekun menghafal AL Quran. Makanya tidak ada kata lain kecuali mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga kepada anak-anak muda yang luar biasa ini.
Agar mereka tetap konsisten untuk mengembangkan hafalan AL Quran, maka ada tiga hal yang bisa dilakukan pasca program. Yaitu: pertama, mereka akan dikembalikan ke pesantren yang mengirimnya. Dengan mengembalikan mereka ke pesantren yang mengirimkannya, maka mereka akan dapat mengembangkan metode pembelajaran hafalan AL Quran melalui sistem yang dikembangkan di pesantren As Sulaimaniyah. Mereka akan bisa mengadaptasi terhadap metode pembelajaran AL Quran dengan sistem yang sangat baik ini.
Kedua, mereka dapat dikirim oleh UICCI untuk menjadi agen pengembangan kajian AL Quran di negara-negara lain. Banyak negara yang membutuhkan mereka. Misalnya adalah Korea Selatan, Jepang, Australia dan beberapa negara barat lainnya. Mereka akan dapat menjadi imam masjid di negara-negara tersebut. Dengan keahliannya sebagai pembaca dan penghafal Alquran tentu bukan hal yang sulit kalau mereka dikirimkan ke negara yang membutuhkannya.
Perkembangan Islam yang begitu pesat di negara-negara barat dan juga negara lain tentu membutuhkan pembaca AL Quran yang andal. Melalui pengiriman mereka ke negara tersebut tentu akan memiliki keuntungan yang sangat besar. Di satu sisi adalah untuk memanfaatkan para penghafal Alquran dan sekaligus juga untuk kepentingan dakwah Islam. Mereka akan dapat menjadi agen Islam yang rahmatan lil alamin, Islam yang memberikan kesejukan bagi semua umat manusia.
Ketiga, mereka juga bisa dikirim ke daerah-daerah yang membutuhkan para dai. Bukankah di Indonesia juga masih banyak yang membutuhkan mereka. Misalnya di daerah perbatasan atau daerah yang dikenal sebagai tiga T, tertinggal, terluar dan terbelakang. Mereka akan dapat dijadikan sebagai guru mengaji dan juga imam shalat di mushallah atau masjid di daerah tersebut.
Hanya saja yang perlu didiskusikan adalah bagaimana mereka ini memperoleh peluang untuk pengembangan program dimaksud. Makanya dukungan Pemerintah, khususnya Kementrian Agama menjadi sangat penting dan mendasar. Mereka adalah agen Islam yang luar biasa, oleh karena itu harus ada program yang dirancang untuk memanfaatkan mereka dalam pengembangan Islam di Indonesia dan juga negara lain.
Wallahualam bisshawab.

INDONESIA CHANNEL 2013 (2)

INDONESIA CHANNEL 2013 (2)
Untuk menulis lagi tentang Indonesia Arts and Cultural Scholarship and Indonesia Channel 2013 ternyata membutuhkan waktu yang lama. Kesibukan dan kesempatan untuk menuliskannya dalam cerita singkat tentang program ini ternyata memerlukan waktu yang cukup lama. Makanya jika kemudian ada tulisan ini dengan tambahan angka satu dan kemudian lama tidak muncul yang kedua tentu bisa menimbulkan tanda tanya.
Tema yang diusung oleh perhelatan ini adalah “Bersatu Dalam Cinta Indonesia”. Saya kira tema ini sangat bagus sebab memberikan kesempatan untuk melakukan perenungan tentang Indonesia kita dan budaya kita. Sebagai seorang yang pernah belajar budaya Jawa dalam konteks antropologi maka acara dengan tajuk seperti ini tentu bukan hal yang baru. Saya memang bisa menikmati berbagai macam peristiwa budaya atau kesenian dalam ragam apapun. Ketika saya si Bali, saya bisa menikmati Tarian Bali dengan kekhasannya. Demikian pula ketika di Banten, Sumatera Selatan, Sumatera Barat dan sebagainya.
Acara yang dihelat tanggal 7 Juni sampai 15 September 2013 yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri ini memang sungguh tepat. Acara pemberian beasiswa bagi mahasiswa asing untuk belajar kesenian Indonesia rasanya menjadi bagian yang sangat mendasar. Melalui beasiswa kepada mahasiswa asing ini maka kekayaan budaya Indonesia akan dijadikan sebagai bagian dari proses untuk mengenalkan Indonesia di mata dunia.
Melalui keragaman budaya Nusantara tersebut maka Indonesia yang terdiri dari aneka ragam suku bangsa, bahasa dan agama akan dikenal oleh mereka ini. Bisa dibayangkan bahwa negara Indonesia yang dihuni oleh 240 juta jiwa manusia dengan keragaman yang sangat tinggi namun demikian memiliki toleransi dan mutual understanding yang luar biasa. Mereka yang memperoleh beasiswa ini akan dapat menyaksikan sendiri bagaimana masyarakat Indonesia dan budaya Indonesia tersebut merupakan keindahan dan kekayaan yang tidak terperikan. Masyarakat Indonesia dan budayanya adalah sesuatu yang tidak bisa digambarkan dengan kata dan tulisan.
Mereka yang berasal dari Australia, Austria, Azerbaijan, Bulgaria, China, Croatia, Denmark, Fiji, France, Germany, Greece, Hungaria, India, Indonesia, Italy, Japan,
Kazakhstan, Kiribati, Lao PDR, Morocco, Myanmar, Nauru, The Netherland, Norway, Papua New Guinea, The Philipines, Polandia, Rusia, Samoa, Serbia, Singapore, South Korea, Spain, Suriname, Thailand, Tongga, Turkey, The United Kingdom, The United State of America,dan The Vietnam. Mereka ini belajar kesenian Indonesia dalam lima lokasi budaya, yaitu Surabaya, Bali, Yogyakarta, Banten dan Makasar. Mereka tidak hanya belajar tari Nusantara, akan tetapi juga belajar tentang budaya Indonesia dan masyarakat Indonesia.
Sebagaimana yang saya ceritakan terdahulu bahwa mereka ini adalah orang luar negeri yang dengan tekun belajar tentang budaya Indonesia. Untuk mengukurnya tentu sederhana saja, yaitu bagaimana mereka menari dan menyanyi tentang tari dan menyanyi lagu-lagu Indonesia. Melalui gerak tari dan nyanyian tersebut tentu akan menggambarkan bagaimana mereka ini secara sungguh-sungguh belajar tentang budaya Indonesia.
Memang harus diakui bahwa budaya Indonesia memiliki kekayaan yang luar biasa. Bayangkan saja bahwa dengan 17.000 pulau lebih, dengan 500 bahasa lebih dan juga dengan suku bangsa 500 lebih, maka tentu ada banyak adat istiadat, kesenian dan budaya Indonesia. Namun demikian, meskipun jumlah budaya daerah yang beraneka ragam ini, akan tetapi mereka dapat disatukan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Makanya tema tentang Bersatu Dalam Cinta Indonesia adalah menggambarkan tentang bagaimana seharusnya bangsa dan masyarakat Indonesia dan bahkan masyarakat dunia melihat Indonesia.
Peserta Indonesia Channel ini begitu bagusnya menari dan menyanyikan lagu-lagu daerah. Mereka menyanyikan lagu yang pernah dipopulerkan oleh Mus Mulyadi, Rek Ayo Rek khas Suroboyoan. Mereka juga menyanyikan lagu dan memainkan musik Angklung, mereka juga menyanyikan lagu Manuk Dadali dan juga membacakan Sumpah Palapa Gajah Mada.
Saya sungguh mengapresiasi program yang sangat baik ini. Saya kira program semacam ini sangat penting untuk diadaptasi oleh kementerian lainnya, seperti Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Agama, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan sebagainya. Sungguh merupakan kebanggaan bahwa orang dari negara lain mempelajari budaya Indonesia dengan sungguh-sungguh.
Makanya, jika orang luar negeri lain saja belajar dengan sungguh-sungguh tentang budaya Indonesia, maka tentu tidak salah jika kita bangsa Indonesia juga menjadikan budaya Indonesia sebagai bagian dari struktur kurikulum pendidikan di Indonesia, sehingga anak didik kita, anak-anak Indonesia ke depan akan tetap mencintai Indonesia dengan kelebihan dan kekurangannya. Bersatu Dalam Cinta Indonesia.
Wallahualam bisshawab.

 

 

WISUDA SARJANA DI PRINCESS OF NARADHIWAS UNIVERSITY

WISUDA SARJANA DI PRINCESS OF NARADHIWAS UNIVERSITY
Motto Princess of Naradhiwas University adalah For a Better Future and a Better Community. Motto ini saya kira sangat baik terkait dengan keberadaan perguruan tinggi ditengah masyarakat yang sedang berkembang. Yang sesungguhnya diinginkan oleh siapapun di negeri sedang berkembang adalah kehidupan yang lebih baik dan juga masyarakat yang baik. Secara konseptual juga bisa dinyatakan bahwa pada masyarakat yang baik akan terdapat kehidupan yang baik. Good society Good life.
Universitas ini tergolong baru, sebab didirikan pada 08 Pebruari 2005. Semula adalah Naradhiwas Technical College. Perguruan tinggi ini tampaknya berkembang dengan sangat cepat. Dukungan dari Pemerintah kerajaan tentu sangat besar terhadap pengembangannya. Sebagai perguruan tinggi kerajaan tentu saja memiliki dukungan yang memadai dari raja. Makanya juga tidak mengherankan jika di dalam setiap wisuda sarjana juga mesti dihadiri oleh pewaris kerajaan. Di dalam wisuda sarjana, tanggal 23 September 2013, maka yang hadir memberikan penganugerahan sarjana adalah Puteri Kerajaan, Maha Chakri Sirindhorn
Princess of Naradhiwas University menyelenggarakan program strata 1, strata 2 dan strata 3. Melalui visinya untuk menjadi pemuka ilmu pengetahuan dan teknologi, maka telah dilakukan penguatan kurikulum akademik, melalui pengembangan bangunan, sumber daya manajemen dan sebagainya. Oleh karena itu, bisa kita lihat bagaimana perguruan tinggi ini terus mengembangkan ruang belajar, laboratorium dan pengembangan pusat-pusat studi yang ke depan diharapkan menjadi kekuatan riil dari lembaga pendidikan ini.
Pengembangan kelembagaannya juga sangat cepat. Dari yang semula hanya sebuah College dan ketika berubah menjadi universitas, maka program studinya kemudian menjadi cukup banyak. Yaitu: fakultas Science dan teknologi, fakultas engineering, fakultas Nursing, Institusi Islam dan Kajian Arab, fakultas Arts, fakultas Agriculture, fakultas Manajement of Scienece, Naradhiwas Technological College, College of Takbal Polytechnic, Naradhiwas Collegye of Agriculture and Technology dan Project of Faculty of Medicine Foundation. Mereka telah bekerja sesuai dengan bidangnya masing-masing.
Sebagaimana yang dinyatakan oleh President of Princess of Naradhiwas University, Prof. Dr. Congrak Palasai, menyatakan bahwa yang diinginkan adalah menjadikan Princess of Naradhiwas University sebagai lembaga pendidikan vocaaional yang bagus, tentang sains dan teknologi, sains kesehatan dan sains sosial yang kuat berbasis pada penelitian, seni dan budaya. Di dalam kerangka ini, maka diperlukan dosen yang bagus, tim administrasi yang baik dan juga peneliti yang hebat. Dan dipandu dengan proses pembelajaran yang melibatkan mahasiswa dan dosen secara maksimum, maka tentu akan dihasilkan alumni pendidikan tinggi yang outstanding.
Saya datang di PNU adalah dalam rangka pemberian Gelar Doktor Honoris Causa kepada Menteri Agama RI, Dr. Suryadharma Ali. Itulah sebabnya kami mengikuti dengan seksama acara demi acara di perguruan tinggi ini. Acara yang sangat sakral ini begitu kentara sebab yang hadir adalah Yang Mulia Puteri Raja Thailand. Disebabkan oleh kehadirannya itu, maka acara juga berlangsung sangat hikmat dan sangat syahdu.
Keamanan begitu memperoleh perhatian yang luar biasa. Makanya, perhelatan ini benar-benar sangat aman. Semua sudut tempat acara disisir dengan alat-alat canggih untuk melacak gangguan keamanan. Tatanan panggungnya juga sangat indah. Dipadukan dengan bunga-bunga warna-warni yang sangat terkenal dan juga tatanan dekorasi yang sangat indah, maka jadilah acara perhelatan wisuda itu sangat menarik.
Wisuda ini dihadiri oleh pejabat penting di Proponsi Narathiwat. Pejabat sipil dan militer serta para tokoh agama juga hadir di tempat ini. Demikian pula para pejabat kampus, para profesor, staf dan juga seluruh mahasiswa yang diwisuda. Di dalam wisuda ini ada empat orang doktor yang dikukuhkan dan mahasiswa dari semua program studi di PNU.
Bentangan karpet merah juga menghiasi lantai menuju tempat upacara. Karpet ini tidak boleh diinjak oleh orang lain. Makanya, jika ada seseorang yang akan melintasi karpet harus menginjakkan kakinya di atas bentangan kardus. Bisa saja maksudnya agar karpet merah tersebut tidak kotor. Keistimewaan Puteri Raja ini juga sangat kelihatan. Misalnya ketika sang Ratu datang maka semua hadirin berdiri dan memberikan hormat yang luar biasa. Lalu lagu kebangsaan Thailand pun menggema dengan syahdunya. Semuanya menghormati dan menghayati lagu kebangsaan ini.
Untuk melayani Ratu dalam pemberian piagam wisuda, maka ada sejumlah perempuan muda Thailand yang membantunya. Ketika sang ratu duduk, maka para gadis ini lalu menghormat kemudian berjalan dengan jongkok dan menghormat lagi ketika sudah dekat dengan sang Ratu. Mereka lalu duduk dengan rapi di sebelah kanan Sang ratu. Upacaranya sendiri sebenarnya dikemas dengan simpel. Di podium utama hanya ada satu tempat duduk yang digunakan oleh Sang Ratu. Tidak sebagaimana wisuda di Indonesia, yang seluruh pejabat dan guru besar berada di podium utama. Di sini hanya ada Sang Ratu seorang diri.
Setelah Presiden University berpidato singkat, maka dilanjutkan dengan wisuda sarjana. Pembacaan nama wisuda dibacakan oleh dekan fakultas masing-masing. Yang dipanggil lebih dulu adalah para doktor. Mengawali upacara wisuda adalah Dr. Hc. Suryadharma Ali dan kemudian disusul oleh tiga doktor lainnya. Para wisudawan yang dipanggil lalu berjalan menuju panggung utama. Ketika kakinya menginjak podium maka wisudawan memberi hormat dengan membungkukkan badan, demikian pula ketika sudah berada di depan Sang Ratu. Mereka menerima piagam yang diserahkan dengan tangan kanan Sang Ratu dan wisudawan menerima dengan satu tangan kanan pula. Setelah menghormat lalu berjalan mundur ke belakang, lalu menghormat lagi dan baru berjalan ke luar podium. Demikianlah bentuk penghormatan terhadap para ratu atau Putera dan Puteri raja. Sebuah bentuk penghormatan yang sangat khas milik kerajaan.
Setelah acara penganugerahan sarjana selesai, maka Sang Puteri pun memberi sambutan. Singkat saja sambutannya. Karena disampaikan di dalam bahasa Thailand, maka kami tidak memahami isi pidato tersebut. Namun keheningan dan kesyahduan upacara ini tentu dapat dirasakan di dalam tahap demi tahap ketika upacara ini berlangsung.
Upacara pun berakhir ketika Sang Ratu meninggalkan tepat upacara dan diikuti oleh para pimpinan universitas dan para doktor yang baru saja diwisuda. Setelah upacara wisuda selesai, maka para wisudawan dan para undangan lalu mengabadikan diri di dalam berbagai gaya di dalam foto bersama. Saya dan undangan dari Indonesia pun mengikuti sesi upacara foto bareng ini.
Satu hal yang menurut saya menarik untuk diamati adalah bagaimana para intelektual, akademisi dan para pejabat menghargai para pemimpinnya. Mereka patuh dan taat terhadap pimpinannya dan bukan ya mencela atau memaki-maki sebagaimana di negara lain. Kiranya memang semua dapat belajar dari bagaimana bangsa Thailand khususnya memperlakukan terhadap orang yang dihormatinya
Wallahualam bisshawab.

PROBLEMA JABATAN GURU BESAR

PROBLEMA JABATAN GURU BESAR
Dalam beberapa tahun terakhir memang dirasakan betapa sulit dosen PTAIN menjadi profesor. Ada semacam kesulitan yang besar untuk menjadi profesor ini. Makanya kemudian muncul semacam dugaan bahwa memang ada kecenderungan untuk mempersulit gelar akademik tertinggi ini. Persoalannya adalah benarkah begitu sulit menjadi profesor di negeri ini? Bukankah sekarang begitu banyak dibutuhkan gelar ini untuk menunjang peringkat akreditasi perguruan tinggi?
Saya sesungguhnya berpendapat bahwa kesulitan untuk memperoleh jabatan profesor bukanlah merupakan upaya yang dilakukan untuk menghambat laju pertumbuhan jumlah guru besar, akan tetapi untuk memberikan kesempatan bagi peningkatan kualitas para calon guru besar tersebut. Memang untuk menjadi profesor haruslah didasari oleh pertimbangan akademis yang sangat memadai dari para calon profesor.
Di masa lalu, jabatan guru besar atau profesor dapat diberikan kepada mereka yang memiliki syarat administratif dan akademis. Akan tetapi bobot administratifnya lebih besar. Maksud saya, bahwa untuk menjadi profesor tidak diharuskan untuk memiliki gelar akademis tertinggi atau karya tulis yang outstanding, akan tetapi dewasa ini sehubungan dengan perkembangan dunia akademis yang cepat, maka untuk menjadi profesor maka diharuskan untuk memiliki kekuatan akademis yang menonjol. Jadilah seorang profesor itu tidak hanya memiliki persyaratan administratif saja akan tetapi juga kekuatan akademis yang memadai. Jadi menurut saya bukankah upaya mempersulit memperoleh gelar tersebut, akan tetapi merupakan bentuk upaya untuk menegakkan basis keilmuan seorang profesor.
Memang jumlah yang lolos untuk diteruskan usulannya kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan sangat sedikit. Dari sebanyak 50 orang lebih yang mengajukan jabatan profesor, maka hanya ada enam saja yang lulus. Dari enam calon guru besar tersebut ternyata juga belum ideal sebagaimana yang dikehendaki oleh tim penilai naskah akademis profesor. Suatu jumlah yang sedikit dikaitkan dengan usulan p ara pimpinan PTAI Se Indonesia.
Di dalam perbincangan para penilai naskah akademis calon profesor, ternyata memang ada beberapa hal yang menjadi catatan: pertama, kualitas karya akademis dosen. Kebanyakan karya tulis dosen adalah merupakan tulisan yang sudah digunakan untuk kenaikan jabatan. Maksud saya adalah karya disertasi yang sudah dinilai sebagai bagian karya ilmiah dan kemudian dibukukan lagi sebagai karya akademis mandiri untuk memperoleh penilaian lagi. Tentu saja hal ini tidak bisa ditolerir. Naskah akademis dari disertasi tentu saja sangat memadai sebagai karya akademis sebab sudah pernah memperoleh penilaian yang akurat. Hanya saja tidak bisa dipakai lagi untuk kepentingan kenaikan jabatan.
Kedua, karya akademis yang tidak relevan dengan keahlian di dalam program pendidikan. Yang saya maksudkan adalah karya akademis yang berbeda dengan mata kuliah yang diampu. Ada banyak karya akademis di jurnal bahkan jurnal internasional akan tetapi tema tulisan dengan mata kuliah yang diampu tidak relevan. Sebagaimana yang menjadi persyaratan untuk jabatan profesor adalah relevansi antara karya akademik, mata kuliah yang diampu dan juga bidang keahlian yang dimiliki. Karya akademik di jurnal adalah representasi dari keahlian akademik bagi para dosen. Makanya, jika tulisan di jurnal atau karya akademik dosen tersebut bervariasi tema dan bidang kajiannya maka dapat menimbulkan pertanyaan tentang keahlian dosen yang bersangkutan.
Selain itu juga lama tahun terbitan. Ada banyak karya akademik dosen calon profesor yang dilihat dari waktu terbitnya sudah kedaluwarsa. Ada batasan maksimal tiga tahun. Makanya jika karya akademik dosen tersebut sudah melebihi tiga tahun maka karya tersebut tidak lagi berlaku. Jadi memang banyak rambu-rambu tentang karya akademis dosen ini. Dalam kasus penilaian karya akademik dosen untuk guru besar, sebenarnya ada banyak tulisan di jurnal internasional akan tetapi terkendala oleh waktu yang mengikat tersebut.
Ketiga, kualitas karya ilmiah. Sebagai dosen yang sudah mengajar dalam rentang waktu lama dan juga sudah pernah menulis disertasi, maka seharusnya karya akademisnya juga outstanding. Artinya bukan karya akademis yang tidak menunjukkan kualifikasi akademis tinggi. Kenyataannya masih ada karya akademis dosen, apakah itu dalam bentuk buku atau hasil penelitian, yang belum menggambarkan kualifikasi unggul tentang tulisan tersebut. Makanya, banyak karya akademis dosen yang dinilai belum memenuhi kualifikasi terbaik. Padahal sebagaimana diketahui bahwa tim untuk penilai karya akademis calon profesor tersebut adalah orang yang memiliki idealisme yang tinggi, sehingga ukuran yang digunakan juga harus sesuai dengan ukuran akademik excellence tersebut.
Tim penilai karya ilmiah tersebut terdiri dari para ahli, baik di bidang agama maupun bidang lainnya. Tidak hanya tim dari Kementerian Agama akan tetapi juga dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Oleh karena itu, maka penilaian juga dilakukan dengan sangat hati-hati dan seksama. Ada pikiran jangan sampai naskah yang sudah dinilai oleh tim Kementerian Agama tersebut ditolak oleh tim karya ilmiah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Oleh karena itu maka penilaian dilakukan dengan cara yang sangat mendasar.
Jika demikian halnya, maka sebaliknya para calon profesor juga menilai secara internal, dengan sebuah pertanyaan, apakah karya ilmiah saya ini sudah sesuai atau memenuhi kriteria akademis yang standart atau belum. Dengan melakukan self evaluation tersebut, maka dosen akan dapat memahami tentang layak atau tidaknya karya tersebut diajukan sebagai syarat untuk menjadi profesor.
Wallahualam bisshawab.

 

BIROKRASI DAN MEJA

BIROKRASI DAN MEJA
Birokrasi sebenarnya adalah instrumen pemerintah untuk melayani masyarakat. Birokrasi merupakan tangan pemerintah agar program pemerintah dapat dilaksanakan dan berdaya guna bagi pencapaian kesejahteraan masyarakat. Melalui birokrasi maka wajah pemerintah yang sebenarnya dapat dilihat. Jadi, baik buruknya pemerintah sebenarnya dapat dilihat dari bagaimana pelayanan birokrasi tersebut tersajikan.
Di dalam Rapat Kerja Nasional (rakernas) Kementerian Agama Republik Indonesia, 27 September 2013, Menteri Agama RI, Dr. Suryadharma Ali menyatakan bahwa ada hubungan antara birokrasi dengan meja. Tentu saja gambaran ini mengarah kepada persoalan kultural yang dihadapi oleh birokrasi kita, yaitu tentang ironi birokrasi yang dikaitkan dengan kata meja itu.
Pertama, birokrasi bawah meja. Ada sejumlah pernyataan yang mengaitkan birokrasi kita dengan meja yang disebut sebagai bawah meja. Kata bawah meja menggambarkan bahwa di dalam birokrasi kita ada sesuatu yang dilakukan dalam relasi hubungan masyarakat yang berciri khas beda dengan prosedur dan standar pelayanan. Bawah meja atau kolong meja adalah suatu istilah yang biasanya digunakan untuk menggambarkan ketidakberesan di dalam menyelesaikan masalah. Maka ketika ditunjuk atau diungkapkan agar diselesaikan di bawah meraja atau kolong meja berarti penyelesaian suatu masalah dengan cara yang tidak wajar atau di luar standar operasional.
Penyelesaian di bawah meja berarti juga penyelesaian pekerjaan atau apapun di luar cara yang lazim dan diluarkebiasaan. Bahkan yang lebih ironis lagi adalah penyelesaian persoalan melalui pemberian uang, janji pemberian uang atau cara yang disebut sebagai sogokan atau pemberian uang atau barang yang tidak diizinkan. Atau bahkan juga suap banyak diantaranya yang dikaitkan dengan tindakan bawah meja. Suap atau korupsi sebenarnya dapat dilacak melalui perumpamaan bawah meja atau kolong meja ini. Birokrasi bawah meja selalu memberikan kemudahan bagi siapa yang bisa melakukan negosiasi untuk melakukan pembayaran. Siapa yang ingin cepat selesai urusannya, maka dialah yang akan memperoleh pelayanan cepat dari meja birokrasi. Makanya, di sini tidak ada transparansi terkait dengan biaya pengurusan kebutuhan hidup jika tidak melakukannya dengan cara seperti ini. Jangan pernah berharap agar dapat memperoleh pelayanan prima atau pelayanan yang cepat jika tidak melakukannya dengan cara seperti itu.
Kedua, birokrasi banyak meja. Perumpamaan ini menarik untuk menggambarkan tentang bagaimana pelayanan birokrasi terhadap masyarakat itu harus berada di dalam suatu birokrasi yang rumit. Untuk menyelesaikan masalah administrasi sebagai warga negara, misalnya, dapat diselesaikan dalam waktu berbulan-bulan, antreannya tentu saja menjadi panjang dan melelahkan. Untuk suatu urusan maka harus melalui banyak meja untuk menyelesiaknnya. Sebuah surat harus diproses secara urut dan dari meja ke meja. Untuk memangkas meja-meja agar lebih cepat penyelesaian pekerjaannya, maka kita harus mengeluarkan sejumlah dana. Setiap meja kiranya juga ada harganya. Banyaknya meja dalam urusan birokrasi tentu juga terkait dengan lamanya penyelesaian pekerjaan. Dan sebagaimana diketahui bahwa banyaknya meja tentu juga terkait dengan banyaknya pegawai yang harus menghandel pekerjaan yang sesungguhnya bisa dikerjakan secara efektif dan efisien oleh beberapa orang saja.
Ketiga, birokrasi meja pingpong. Gambaran tentang birokrasi meja pingpong adalah suatu birokrasi yang di dalam pelayanan terhadap kepentingan masyarakat sering dilakukan dengan mengarahkan penyelesaian pekerjaan kepada yang lain. Di dalam hal ini maka tidak ada kejelasan kepada siapa dan bagaimana penyelesaian pekerjaan tersebut. Seringkali orang yang datang kada aparat pemerintah lalu diarahkan ke tempat lain, lalu diarahkan ke tempat lainnya pula, sehingga seseorang yang mengurus penyelesaian urusannya merasa dipingpong kesana kemari. Orang yang mengurus urusannya tidak memperoleh penyelesaian secepatnya, akan tetapi hanya berputar-putar dari satu meja ke meja lainnya.
Seharusnya setiap lembaga pemerintah memiliki Standart Operasion Prosedure (SOP) yang jelas sehingga setiap orang yang datang ke lembaga Pemerintah tersebut akan dapat memperoleh pelayanan yang prima. Yang bersangkutan akan merasakan kenikmatan dan kemudahan di dalam menyelesaikan urusan birokratisnya. Seringkali diungkapkan bahwa birokrat adalah pelayan masyarakat, artinya bahwa para states aparatus adalah mereka yang akan melayani masyarakat di dalam urusan sebagai warga negara. Makanya, yang diharuskan bagi para aparat pemerintah adalah melayani masyarakat ini.
Namun demikian, seringkali yang terjadi adalah sebaliknya. Oleh karena itu, tentu ada harapan yang sangat kuat agar di dalam menjalankan roda pemerintahan melalui birokrasi dalam berbagai levelnya adalah menjalankan tugas pokok dan fungsinya berbasis ada standart pelayanan minimal dan standart prosedur operasional yang telah dibakukan.
Jika banyak aparat Pemerintah yang menjalankan fungsinya seperti ini, maka masyarakat akan merasakan bahwa mereka telah memeroleh pelayanan yang memadai.
Wallahualam bisshawab.