Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

DOGMA DI DALAM AGAMA

DOGMA DI DALAM AGAMA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) mendapatkan asupan tentang keimanan dalam konteks pemahaman Islam yang ditafsirkan dengan penjelasan-penjelasan yang lebih rasional. Saya memberikan ceramah pada jam’iyah Ngaji Bahagia di Masjid Al Ihsan, Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya, 23/12/2025. Sebagaimana biasa maka ngaji ini diselenggarakan pada ba’da Shubuh yang diikuti oleh para jamaah shalat shubuh.

Islam mengajarkan bahwa ada doktrin agama yang harus dipercayai. Di dalam Alqur’an Surat Al Baqarah dinyatakan:  “Alif Lam Mim. Dzalikal kitabu la raiba fihi hudal lil muttaqin. Alladzina yu’minuna bil ghaibi wa yuqimunash shalata wa mimma razaqnahum yunfiqun”.

Yang artinya: “Alif Lam Mim. Kitab (Alqur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. (Yaitu) mereka yang beriman kepada Allah, melaksanakan shalat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka”.

Ayat ini memberikan gambaran tentang adanya “Kitab” yang di dalamnya tidak terdapat sedikitpun untuk meragukannya. Tidak boleh manusia meragukan isi Kitab tersebut. Di dalam kitab tersebut terdapat petunjuk bagi orang yang meyakini kebenarannya. Di dalamnya terdapat doktrin tentang Keesaan Tuhan  yang berisi kegaiban atau sesuatu yang misterius, sebab tidak mungkin akan dapat dilihat dengan mata dan didengarkan apa yang dinyatakannya, dan tidak bisa merasakan kehadiran fisiknya.

Allah adalah Dzat yang bersifat transenden atau berada di luar diri manusia. Tuhan itu yang menciptakan, menguasai dan memiliki seluruh alam atau tata surya. Bahkan juga pencipta dan pemilik alam dunia dan alam akherat. Orang yang meyakini akan eksistensi Tuhan, maka harus meyakini kegaiban-kegaiban di dalam kehidupan. Ada kosmos dalam wujud mikro kosmos dan makro kosmos. Jagad kecil dan jagad besar. Jagad kecil adalah manusia dan jagad besar adalah tata surya di dalam kehidupan.

Jangan digambarkan bahwa di dalam jagad kecil itu tidak terdapat kompleksitas penciptaannya. Manusia merupakan ciptaan Tuhan yang paling unik. Dinyatakan sebagai sebaik-baik ciptaan. Manusia dibekali dengan kemampuan akal yang luar biasa. Dengan kelebihan akal atau rasio tersebut manusia juga dapat menciptakan sesuatu yang baru yang belum terdapat pada zaman sebelumnya. Manusia memiliki jutaan saraf dengan fungsi sistemik di dalamnya. Saraf otak yang dianggap sebagai pusat berpikir terdapat jaringan saraf sistemik yang saling terhubung. Jika ada informasi yang masuk di dalam otak manusia, maka otak tersebut memiliki saraf yang terhubung dengan gudang inderawi, lalu dipilah mana yang penting dan mana yang tidak. Jika penting maka disimpan di dalam file memory untuk di taruh di gudang penyimpanan. Dan jika informasi tersebut tidak bermanfaat, maka ditaruh di file sampah dan kemudian akan dibuang. Gudang inderawi merupakan gudang yang sangat besar, sehingga bisa menyimpan jutaan informasi yang masuk ke dalamnya dan bisa dipanggil jika diperlukan.

Demikian pula kompleksitas jagad besar atau tatasurya ini. Begitu rumit tetapi teratur. Gususan Bintang di sekitar planet-planet, setiap planet memiliki bulan dengan garis edar yang teratur, sehingga di dalam tata surya tersebut terjadi keteraturan yang luar biasa. Penciptaan alam yang sedemikiran teratur, maka menghasilkan kesimpulan sains bahwa tata surya yang sedemikian rumit tetapi teratur dipastikan tidak terjadi dengan sendirinya. Apakah tata surya terbentuk dari dentuman besar atau big bang atau lainnya, tetapi yang jelas bahwa alam dipastikan ada yang menciptakannya. Dan pencipta atau creator tersebut adalah Tuhan Yang Maha Kuasa, Tuhan Yang Maha Esa.

Kehadiran Tuhan di dalam penciptaan tatasurya tetaplah menjadi misterius. Eksistensi Tuhan tidak dapat dihadirkan bersamaan dengan ciptaannya. Di inilah makna “Kitab” yang berisi dogma yang harus diyakini kebenarannya. Tidak ada penolakan. Tidak ada kata tidak percaya kepada-Nya. Semua manusia harus patuh dan tunduk kepada-Nya. Tuhan menghadirkan diri-Nya melalui atau berwashilah dengan  para nabi dan rasul-Nya. Nabi Muhammad SAW adalah washilah terbesar di dalam kehidupan manusia. Nabi Muhammad adalah representasi kehadiran Tuhan di dunia ini. Nabi Muhammad SAW yang mengabarkan hukum Tuhan kepada manusia. Hukum ketuhanan, hukum kemanusiaan dan hukum kealaman, semuanya dijelaskan oleh Nabi Muhammad SAW. Manusia bisa menalarnya sebab hukum-hukum tersebut dapat dipikirkan. Hanya saja yang sesuai dan  relevan dengan kemampuan manusia untuk menalarnya. Allah meminta kepada manusia untuk memikirkan ayat-ayat kauniyah atau tanda-tanda alam yang akhirnya dapat meyakini akan keberadaan Allah SWT. Manusia tidak memiliki kemampuan berpikir tentang eksistensi Tuhan, maka Tuhan melarang manusia untuk memikirkannya. Jika manusia memikirkan tentang keberadaan Tuhan, maka bisa jatuh kepada atheism atau pandangan yang menyatakan bahwa Tuhan tidak ada. Sebuah pengingkaran atau kekafiran yang dihasilkan dari memikirkan tentang keberadaan Tuhan. Kaum teolog akhirnya terbelah menjadi dua, ada yang tetap percaya kepada Allah dan ada yang mengingkarinya.

Keyakinan tentang adanya Tuhan di dalam berbagai kajian dinyatakan terjadi pada 10.000 tahun sebelum Masehi. Yaitu di kala Adam AS diangkat sebagai khalifah Allah di bumi. Nabi Adam AS adalah manusia pertama yang mendapatkan otoritas kenabian. Nabi Adam AS menjadi pemimpin spiritual bagi keluarganya. Nabi Adam diyakini sebagai kakek moyang manusia yang sempurna seperti sekarang. Hanya tinggi badan, kekuatan fisik dan usianya yang berbeda dengan manusia sekarang. Tinggi Nabi Adam diperhitungkan 60 hasta atau kira-kira 30 meter. Demikian pula umat Nabi Hud. Bisa dinyatakan sebagai makhluk raksasa. Setelah itu lalu tinggi badan manusia semakin mengecil dan seperti sekaranglah keadaannya.

Semua Nabi dan Rasul mengajarkan tentang dogma keagamaan, khususnya Tuhan dan alam gaib lainnya. Semenjak Nabi Adam diajarkan tentang ketauhidan yaitu keyakinan akan keesaan Allah SWT. Lama kelamaan terjadilah penyimpangan akidah. Sampailah kemudian datang Nabi Ibrahim AS untuk mengembalikan keyakinan akan keesaan Allah. Berhala yang bertebaran di Kerajaan Babilonia yang dikuasai oleh Namrudz (2275- 1943 SM) kemudian dihancurkan. Nabi Ibrahim dikenal sebagai Bapak Monotheisme. Melalui Nabi Ibrahim kemudian lahirlah agama-agama besar, yaitu Agama Yahudi, Nasrani dan Islam. Agama Nasrani kemudian terpecah menjadi dua yaitu Agama Katolik dan Kristen Protestan.

Hingga hari ini tidak ada yang mampu memecahkan kemesteriusan Tuhan. Sejauh yang bisa dihasilkan adalah mengamati ciptaannya, melalui kajian sains, dan hasilnya bahwa ada Kreator Agung yang menciptakan dan memelihara alam. Dalil keteraturan alam itulah yang menjadi bukti bahwa Tuhan itu eksis di dalam kehidupan alam secara keseluruhan.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

ANTARA DOSA SPIRITUAL DAN DOSA SOSIAL

ANTARA DOSA SPIRITUAL DAN DOSA SOSIAL

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Saya terasa lama tidak mengikuti acara Ngaji Bahagia, yang bisa diselenggarakan pada hari Selasa ba’da Shubuh berjamaah. Kalau tidak salah selama tiga kali. Dan selama itu pula yang menjadi penceramah adalah Ustadz Dr. Cholil Uman, MPdI. Untunglah Pak Cholil, begitu saya memanggilnya,  seorang da’i yang ringan tangan, sehingga jika saya tidak bisa hadir, maka Pak Cholil yang menggantikannya. Bukan badal atau pengganti akan tetapi penceramah aslinya. Begitulah Pak Cholil, seseorang yang Ikhlas di dalam melakukan sesuatu, apalagi ceramah agama.

Hari Senin, 15/12/2025, saya dapat mengikuti acara tahsinan yang diselenggarakan di dalam jamaah atau Komunitas Ngaji Bahagia (KNB), yang ketepatan melakukan tahsinan pada ayat-ayat terakhir Surat An Najm. Ayat yang menjelaskan tentang balasan atas tindakan seseorang di dunia.  Allah akan membalas tindakan yang baik dengan balasan surga dan orang melakukan tindakan kesalahan maka akan diganjar dengan neraka. Dan sebagaimana biasanya, maka saya menyampaikan sedikit uraian tentang perbuatan yang akan mendapatkan balasan di akherat, yaitu dosa yang dilakukan oleh manusia.

Pertama, dosa kepada Tuhan. Dosa adalah perbuatan yang yang dilakukan oleh manusia karena menyalahi hukum-hukum Tuhan. Di antara dosa tersebut adalah mengambil sesuatu yang bukan haknya. Misalnya mencuri, merampok, menodong, menjambret, dan yang lebih besar adalah melakukan korupsi. Termasuk juga menebang pohon, melakukan deforestasi, pembalakan liar dan perusakan hutan terstruktur melalui kebijakan.

Kita melihat tindakan koruptif sedemikian massif dan besar. Dilakukan dengan cara-cara yang sistematis dan berjamaah. Korupsi dalam jumlah besar yang melibatkan berbagai actor dari dalam pemerintahan, bisa dari legislatif, eksekutif, dan juga yudikatif. Banyak anggota DPR/DPRD yang terlibat korupsi, banyak bupati dan pejabat pemerintahan yang terlibat korupsi, banyak hakim dan jaksa yang melakukan korupsi. Banyak juga pengusaha yang terlibat korupsi. Mereka tidak melakukannya secara individual akan tetapi secara berjamaah. Dilakukannya bahkan berlindung di atas regulasi yang memang diberikan celah untuk melakukan tindakan koruptif.

Sungguh korupsi disebut sebagai kejahatan extra ordinary. Daya rusaknya sangat luar biasa. Bisa dibayangkan jika yang dikorupsi adalah pembangunan infrastruktur, seperti jalan, jembatan dan kebutuhan fisik lainnya, maka akan menyebabkan kualitas infrastruktur tersebut akan berkurang kualitasnya. Infrastruktur yang seharusnya tahan kekuatannya selama 100 tahun akan bisa hanya 50 tahun bahkan kurang. Kualitas bangunan yang sesungguhnya memiliki standar yang kuat, akan tetapi dikurangi standarnya sehingga tidak kuat.

Jika korupsi itu menyangkut hajad hidup orang banyak misalnya alokasi anggaran bantuan untuk rakyat miskin, maka sungguh kesalahannya bertubi-tubi. Bantuan pendidikan, bantuan kesehatan, bantuan social dan bantuan untuk rekonstruksi pemukiman, maka yang dirugikan juga sangatlah banyak. Masyarakat yang seharusnya menerima manfaat bantuan tersebut menjadi  tidak merasakannya. Sungguh korupsi sudah mewarnai kehidupan para penyelenggara negara, pihak  pengusaha dan juga para elit masyarakat. Korupsi sudah menjadi penyakit social yang menembus jantung kehidupan masyarakat Indonesia.

Korupsi pengelolaan Batubara, dengan tingkat kerusakan lingkungan yang sangat besar sungguh telah merusak ecosystem lingkungan luar biasa. Banjir di beberapa wilayah di Padang, Sumatera Utara dan Aceh yang membuat meninggalnya warga negara sebanyak 1003 orang dan melukai dan merusak infrastruktur perumahan dan fasilitas umum merupakan contoh betapa daya rusak penyimpangan perilaku manusia atas kehidupan social.

Kedua, Dari perilaku manusia seperti ini yang memproduk wacana dosa social. Yaitu dosa yang mengakibatkan masalah di hadapan masyarakat. Mereka yang melakukannya dianggap memiliki dosa yang tidak hanya bermakna ketuhanan atau dosa spiritual, akan tetapi juga dosa social. Dosa social itu dosa di dalam pandangan masyarakat karena melakukan perbuatan yang melanggar norma social. Dosa yang dihasilkan dari ketidakjujuran, penyalahgunaan wewenang, penyalahgunaan kebijakan dan sebagainya. Dosa ini berakibat atas pandangan minir atas seseorang yang melakukannya.

Tetapi Masyarakat Indonesia  memiliki daya toleransi yang luar biasa. Sebuah toleransi yang saya kira tidak pada tempatnya. Memaafkan atas kesalahan social bukan kesalahan individu tentu merupakan tindakan yang tidak relevan untuk menegakkan keadilan dan kejujuran. Memaafkan secara individu memang diajarkan oleh Islam. Agama Islam sangat menjunjung tinggi atas dosa individu, misalnya dosa yang dilakukan dalam kepentingan privat, akan tetapi memberikan kelonggaran atas dosa social tentu merupakan tindakan yang kurang bijak.

Saya terkadang berpikir, mengapa masyarakat di wilayah Scandinavia itu sangat jujur dan terpercaya padahal mereka orang yang tidak percaya kepada Tuhan atau atheis. Maka jawabannya bahwa mereka takut atas dosa social. Mereka tidak berurusan dengan apakah yan dilakukannya itu dosa individual kepada Tuhan, akan tetapi mereka sungguh takut akan dosa social dimaksud. Dengan takut atas kesalahan yang dilakukan kepada masyarakat, maka mereka menjadi jujur, amanah dan tidak melakukan penyimpangan yang berdampak negative atas masyarakat. Dengan kata lain, dosa di hadapan Tuhan itu tidak nyata tetapi dosa di hadapan masyarakat itu nyata.

Mungkin saja hal ini merupakan penafsiran yang salah, akan tetapi Masyarakat Indonesia yang dikenal sangat religious, akan tetapi melakukan banyak penyimpangan merupakan aib yang sangat besar. Seharusnya antara keimanan, kejujuran dan keterpercayaan merupakan suatu hal yang asimetris, bukan simetris. Masyarakat Indonesia melihat keyakinan kepada Tuhan dan melakukan tindakan menyimpang itu dua sisi yang berbeda tempatnya. Yakin kepada Tuhan benar, tetapi melakukan penyimpangan social adalah masalah lain. Keduanya bisa saja tidak bertemu.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

 

AMPUNAN ALLAH YANG MAHA LUAS

AMPUNAN ALLAH YANG MAHA LUAS

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Akhir-akhir ini, saya sering tidak hadir dalam acara tahsinan yang diselenggarakan oleh Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) pada Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya. Kesibukan saya agak meningkat di tengah upaya untuk merumuskan Direktorat Jenderal Pesantren dan juga acara lain tentang persiapan untuk merumuskan tentang Indonesia menjadi  pusat peradaban baru dunia. Selain kegiatan di beberapa Perguruan Tinggi Islam (PTKI) di Jawa Timur.

Tetapi pada Rabo, 03/12/2025, saya menyempatkan diri untuk hadir dalam acara tahsinan Alqur’an yang dilakukan di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya. Acara tahsinan tersebut sampai Surat An Najm. Sebagaimana biasa, maka acara tahsinan ini diikuti oleh jamaah Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency dan Majid Roudhoh Perumahan Sakura Ketintang Surabaya. Pesertanya adalah orang yang sudah berusia senior, 50 tahunan ke atas. Seperti biasanya, acara ini juga dikemas dengan kegiatan bercanda yang semarak

Ada satu potongan ayat yang menjadi perhatian saya, yaitu ayat di dalam Surat An Najm ayat 32, yang berbunyi: “Inna rabbaka wasi’ul maghfirah”  yang arti leterleknya adalah “sesungguhnya Allah itu maha luas ampuna-Nya”.  Ayat ini menarik minat saya untuk memberikan sedikit komentar setelah dibacakan artinya di dalam Bahasa Indonesia oleh Ustadz Syahwal, al hafidz. Maka kemudian saya jelaskan tiga hal yang penting, yaitu:

Pertama, manusia memang diciptakan oleh Allah sebagai tempatnya kesalahan dan kekhilafan. Allah telah menciptakan Malaikat yang tanpa kesalahan dan kekhilafan dan makhluk ciptaan Allah yang selalu beribadah sesuai dengan syariat. Tentu tidak ada kesalahan dan kekhilafan. Malaikat tidak dibekali dengan nafsu, misalnya nafsu makan dan minum serta nafsu syahwat. Allah juga menciptakan Syetan yang dinyatakan sebagai makhluk terkutuk. Tetapi Allah menciptakan manusia dan jin yang diberinya nafsu. Keduanya berada di tempat atau alam yang berbeda, tetapi syariatnya sama. Semua disyariatkan sebagai syariat yang diturunkan Allah kepada para nabi-nabi-Nya.

Oleh karena itu, Allah lalu menurunkan ampunan. Allah itu Maha Pengampun yang Agung, ghafurun ‘adhim atau ghafurur Rahim. Maha Pengampun yang Agung dan Maha Pengampun yang penuh kasih sayang. Bahkan Allah juga menurunkan afwun atau pemberian maaf yang yang sangat mulya. Afuwun karim. Allah memberikan peluang manusia untuk bertobat dengan sebenar-benarnya agar memperoleh ampunan dan kemaafan Allah SWT. Ampunan itu pemberian ampunan tetapi masih tercatat kesalahannya, sedangkan afwun itu pemberian ampunan dan catatannya ikut dihapus. Subhanallah.

Manusia bisa diberikan ampunan dalam tingkat kesalahan yang besar maupun kecil. Yang terbesar tentu adalah kesalahan karena menyekutukan Tuhan. Musyrik. Hal ini merupakan kesalahan terbesar di dalam kehidupan manusia. Menyekutukan Allah dengan makhluknya. Orang menyembah pohon, patung, dan sesuatu yang tidak memiliki kepantasan untuk disembah. Orang yang sesungguhnya sudah mendengar tentang ajaran agama tetapi masih melakukan kesalahan seperti ini tentu tetap memiliki peluang diampuni Allah jika bertaubat dengan kesungguhan. Taubatan nasuha. Gradasi lainnya adalah orang yang melakukan perbuatan dosa besar yaitu melanggar larangan Allah, maka orang seperti ini bisa diampuni oleh Allah dengan ampunan yang penuh kerahmatan, jika sudah bertobat. Atau orang yang tidak melakukan perintah Allah juga termasuk dalam gradasi ini. Yang bersangkutan akan diampuni Allah jika melakukan pertobatan.

Kedua, agama itu mengandung dua unsur penting, yaitu pemberian kabar kegembiraan dan kabar kesusahan. Yang termasuk kabar kegembiraan atau tabsyir adalah informasi melalui Kitab Suci yang menerangkan tentang balasan atau ganjaran Allah atas perilaku baik yang dilakukannya di dunia. Orang yang berbuat baik di dalam relasi dengan Allah dan manusia serta alam akan diganjar dengan surga yang sangat mengesankan cerita kenikmatannya. Sedangkan orang yang melawan kebaikan kepada Tuhan, manusia dan alam tentu akan diganjar dengan neraka dengan segenap kesedihan dan kesusahannya.

Mungkin ada yang bertanya, apakah benar bahwa agama memberikan sumbangan atas keteraturan dunia, maka jawabannya tentu iya benar. Agama berisi tentang pedoman di dalam melakukan kegiatan kehidupan. Agama berisi hukum-hukum dalam kaitannya dengan penyembahan kepada Allah dan juga di dalam kaitannya dengan relasi social dan relasi dengan alam. Agama menyajikan bagaimana seharusnya melakukan relasi social berbasis atas kerahmatan untuk semua.

Hanya sayangnya bahwa ajaran agama yang agung itu terkadang dijadikan sebagai instrument untuk melakukan tindakan kekerasan atas nama agama. Banyak penafsiran atas ajaran  yang bertolak belakang dengan makna essesial agama, yang sesungguhnya mengajarkan kasih sayang dan cinta kemanusiaan. Mereduksi kasih sayang dan cinta itu bisa dipengaruhi karena factor kekuasaan dalam banyak aspek seperti factor politik, budaya, social dan ekonomi. Manusia terkadang mengedepankan kepentingannya dan kelompoknya dengan cara mengeksploitasi atas lainnya.

Ketiga, kita tentu patut bersyukur di masa-masa senior ini, kala usia semakin merambat senior, dan kita dapat semakin kuat beribadah kepada Allah dengan shalat berjamaah, dzikir, dan mengaji Alqur’an. Mungkin belum maksimal akan tetapi sedikit modal sebagai sarana untuk memperoleh ampunannya. Modal ini  telah kita miliki. Oleh karena itu berbahagialah kita semua yang sudah berada di ranah ini. Yakinlah bahwa ampunan Allah itu maha luas dan  maha agung. Dan kita meyakini bahwa Allah akan mengampuni kita semua.

Wallahu a’lam bi al shawab.

MA’ALLAH, ‘INDALLAH DAN MURAQABAH

MA’ALLAH, ‘INDALLAH DAN MURAQABAH

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Acara tahsinan di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency, bukan hanya untuk melakukan pembenahan atas bacaan Qur’an saja tetapi yang juga penting adalah mengenai penerjemahan dan pembahasan tentang ayat-ayat yang terkait dengan banyak hal, sesuai dengan yang akan dibaca. Seperti biasanya, Alief al Hafidz atau Syahwal Al Hafidz membacakan terjemahannya dan saya yang kebagian untuk memberikan penjelasan tambahan terkait dengan apa yang dibacanya. 19-20/11/2025.

Kali ini, kita sudah sampai pada Surat An Najm,  biasanya empat ayat yang ditasinkan dan kemudian dibahas. Kali ini kita membahas tentang bagaimana posisi manusia di dalam relasinya dengan Allah SWT. Maka dikenal ada ungkapan ma’allah, ‘indallah dan muraqabah. Ketiganya saya bahas dalam dua hari, karena keterbatasan waktu. Ada tiga penjelasan saya, yaitu:

Pertama, kata ma’allah itu sesungguhnya apa yang dimaksudkannya. Apakah bersama menyatu atau berada di dalam kerahmatan Allah. Sebagai orang awam dalam memahami agama, maka saya kira dapat menyatakan bahwa ma’allah itu adalah orang yang berada di dalam kerahmatan Allah SWT. Hal ini didasari oleh kenyataan bahwa manusia tentu sangat berbeda dengan Allah, baik Sifat Allah, Af’al Allah dan Dzat Allah tentu sangat berbeda dengan manusia. Laisa kamislihi syaiun. Sungguh Allah itu berbeda dengan segala sesuatu yang diciptakannya. Setinggi apapun derajad manusia, kecuali Kanjeng Nabi Muhammad SAW, maka tidak akan mungkin berada di dalam kebersamaan dengan Allah. Hanya Nabi Muhammad SAW yang bisa memasuki alam ketuhanan. Nabi Muhammad SAW bisa berbicara langsung dengan Allah, sebab Nabi Muhammad SAW memiliki gelombang atau energi yang dimiliki oleh Allah. Nabi Muhammad SAW diberikan kekuatan untuk masuk dalam energi kekuasaan Allah SWT, bisa bertemu dan berbicara dengan Allah SWT. Bahkan Nabi-Nabi lainnya tidak memiliki kemampuan menyatukan energinya dengan Allah SWT. Nabi Musa AS yang minta Allah SWT untuk bertemu dan kala cahaya Allah hadir, maka Gunung Thursina tidak mampu untuk menanggungnya sehingga meletus, maka pingsanlah Nabi Musa. Nabi Musa tidak memperoleh kekuatan dari Allah SWT. Satu-satunya makhluk Tuhan di bumi yang bisa ma’allah adalah Nabi Muhammad SAW.

Kedua, Kemudian indallah atau dalam Bahasa Indonesia disebut sebagai di samping Allah SWT. Orang tidak bisa berada di samping Allah SWT tanpa ada yang menjadi washilah untuk bisa berdampingan dengan Allah. Satu-satunya manusia yang diberi kekuatan untuk berada di samping Allah SWT adalah Nabi Muhammad SAW. Untuk berada di samping Allah SWT, maka persyaratannya harus ada orang yang telah berada di samping Allah SWT. Tanpa kehadiran orang tersebut, maka dipastikan orang tidak akan bisa berada di samping Allah SWT. Jika ma’allah itu berada di dalam kerahmatan Allah SWT, maka indallah itu berada di samping kerahmatan Allah SWT. Dan sekali lagi yang bisa berada di samping Allah SWT hanyalah Nabi Muhammad SAW. Nabi-lain tentu saja bisa, dan manusia yang bisa berada di sisi Allah sesuai dengan Nabi yang diturunkan-Nya,  yaitu  orang yang bersama dengan Nabi yang bersangkutan. Jadi, umat Muhammad SAW bisa berada di samping Allah karena telah bersama dengan Nabi Muhammad SAW. Lalu, apa yang menjadi persyaratan utama umat Muhammad SAW untuk bisa bersama Nabi Muhammad SAW dan kemudian berada di samping Allah SWT adalah karena bacaan shalawat yang selalu menjadi bacaannya.  Bacaan shalawat dapat menjadi washilah kita untuk bersama Rasulullah. Jika menjadi ma’allah itu bagi seseorang tidaklah mungkin dan yang mungkin adalah ma’arasulullah. Bahkan untuk berada di samping Allah SAW juga tidak mungkin, maka yang mungkin adalah inda Rasulullah. Jadi untuk di samping Allah atau mungkin bersama Allah, maka syaratnya adalah ma’a Rasulullah dan inda Rasulullah dan untuk keduanya maka persyaratannya adalah membaca shalawat kepada Rasulullah. Maka, orang yang banyak membaca shalawat tentu besar peluangnya untuk ma’a Rasulullah dan berada di dalam inda Rasulullah.

Ketiga, muraqabah atau mendekati Allah SWT atau juga disebut taqarrub ilallah adalah upaya yang dilakukan oleh manusia untuk mendekati Allah SWT. Di dalam Bahasa Jawa disebut ndepe-ndepe atau ndempel-ndempel. Sebuah posisi yang sangat dekat dengan Allah SWT. Apakah manusia bisa bertaqarrub kepada Allah, maka jawabannya bisa dengan catatan harus berwashilah kepada orang yang sudah berada dalam kerahmatan Allah atau ma’allah dan sudah berada di sisi Allah atau disisi kerahmatan Allah SWT. Orang tersebut adalah Nabi Muhammad SAW. Sekali lagi harus menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai perantara manusia. Jadi yang menjadi washilahnya adalah membaca shalawat kepada Nabi dan mengikuti apa yang diajarkan oleh  Nabi Muhammad SAW. “Ya ayyuhal ladzina amanu wa ‘amilush shalihati falahum ajrun ghairu mamnun”  yang artinya “wahai orang yang beriman dan beramal shaleh, maka akan diganjar oleh Allah dengan kerahmatan dan kerahiman yang luar biasa atau yang tidak terkirakan”.

Konsep muraqabah digunakan oleh para ahli tasawuf, yang memiliki upaya lebih serius dalam mendekati Allah SWT. Mereka melakukan banyak ibadah baik yang wajib,  yang sunnah dan juga melakukan kebaikan bagi orang lain. Ahli tasawuf seperti Imam Ghazali adalah contoh bagaimana upaya yang dilakukannya untuk mendekat kepada Allah lewat dzikir dan amal perbuatannya. Imam Asy Syadzili adalah orang yang melakukan pendekatan kepada Allah dengan harta benda dan ibadah-ibadah yang dilakukannya.

Kita yang amal ibadahnya masih terbatas, tentu harus tetap optimis bahwa kerahmatan dan kerahiman Allah SWT juga akan diberikan kepada kita. Yang penting tetap ada istiqamah di dalam ibadah yang kita lakukan dan juga perbuatan baik untuk manusia dan alam semesta.

Wallahu a’lam bi al shawab.

MENCINTAI DIRI DAN KEMANUSIAAN

MENCINTAI DIRI DAN KEMANUSIAAN

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Akhirnya saya bisa kembali untuk memberikan asupan pengetahuan agama setelah sepekan lebih harus berada di Tuban karena harus menyelenggarakan acara untuk tahlilan dan yasinan bagi Emak yang wafat, Senin, 10/11/2025. Saya harus ke Surabaya karena ada acara di UNISMA Malang. Hari Selasa pagi, 18/11/2025, saya memberikan pengajian pada Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya. Ada tiga hal yang saya sampaikan, yaitu:

Pertama, cinta diri dan kemanusiaan merupakan bagian dari Panca Cinta sebagaimana tercantum di dalam pemikiran Menag, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA. Tiga di antaranya sudah saya tuliskan di website ini. Dan kali ini saya menjelaskan tentang cinta diri dan kemanusiaan. Pertanyannya mengapa kita harus mencintai diri dan kemanusiaan. Ada dua alasan bahwa manusia diciptakan sebagai sebaik-baik ciptaan. Artinya manusia merupakan makhluk Tuhan yang paling lengkap dalam struktur kecerdasan.

Binatang hanya memiliki insting tetapi manusia memiliki sekurang-kurangnya empat kecerdasan ialah kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan sosial dan kecerdasan spiritual. Dengan empat kecerdasan ini, manusia dapat memilah dan memilih yang bermanfaat bagi dirinya dan juga masyarakat di sekitarnya. Di dalam diri manusia terdapat roh, jiwa dan raga. Maka ketiganya harus dirawat dengan kasih sayang.

Terhadap manusia kita juga harus berhubungan dengan kasih sayang. Jangan bedakan warna kulit, suku, etnis, agama atau apapun, sebab Allah memang menciptakan manusia dalam keanekaragaman.   Allah tentu bisa menciptakan manusia dalam satu ras atau satu suku dan agama, akan tetapi Allah justru menjadikan manusia dalam keanekaragamannya. Justru indahnya dunia ini karena adanya keanekaragaman tersebut. Allah menjelaskan bahwa dengan keanekaragaman tersebut maka di antara mereka akan terjadi saling mengenal, memahami dan menimbulkan kasih sayang di antaranya.

Kedua, Islam memiliki konsep yang sangat bagus terkait dengan cinta dan kasih sayang sesama manusia. Di dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa “barang siapa yang tidak menyayangi yang di bumi, maka tidak akan disayangi yang di langit”. “Irhamu man fil ard, yarhumukum ma fis sama”. Konsep ardl itu berarti bukan hanya manusia, akan tetapi seluruh penghuni bumi sebagai ciptaan Allah. Jadi di atas bumi dan di dalam laut terdapat ciptaan Allah yang harus dikasih sayangi. Binatang dan tetumbuhan harus dikasih sayangi. Jangan semena-mena prilaku kita terhadap binatang dan tumbuh-tumbuhan. Jangan menebang hutan sembarangan, nanti hutan akan marah. Akhirnya terjadi banjir, longsor dan sebagainya. Hutan yang gundul akan menyebabkan air tidak mampu meresap ke bawahnya, sehingga menjadi banjir. Karena pohoh-pohonan di atasnya ditebang sembarangan, maka tanah menjadi longsor. Ingat terjadinya banjir besar yang merendam perumahan di Bekasi karena hutan di Bogor ditebang untuk dijadikan vila-vila oleh orang kaya. Deforestasi di seluruh dunia itu luar biasa. Indonesia juga terjadi perusakan ekologi hutan yang disebabkan oleh para pengusaha. Pengambilan batubara di hutan yang dilakukan secara sengaja oleh oknum yang diberikan regulasi pemanfatan SDA, maka menyebabkan kerusakan lingkungan yang luar biasa. Atas nama pemanfaatan hutan untuk pembangunan ekonomi yang tidak didasari oleh pikiran yang terkait dengan kerusakan lingkungan, maka sungguh akan berakibat terhadap perubahan iklim. Moral hazard seperti ini yang kerap kali membuat kerusakan di bumi. Termasuk juga kerusakan di lautan karena ulah manusia untuk membuang sampah sembarangan.

Kasih sayang di langit. Kasih sayang di langit akan terjadi kalau manusia melakukan kasih sayang terhadap yang di bumi. Yang di langit adalah Allah, Malaikat dan Rasulullah. Jika kita menyayangi yang di bumi maka dipastikan Allah, Malaikat dan Rasulullah akan menyayangi kita. Selain itu juga ada hadits Nabi yang menyatakan: “man la yarham la yurham, artinya siapa yang tidak menyayangi tidak akan disayangi”. Jika ingin disayang istri, maka harus menyayangi istri dan sebaliknya. Jika kita ingin disayang oleh orang lain, maka berlakulah dengan kasih sayang. Jangan melakukan tindakan yang menyebabkan kemarahan dan kebencian. Siapa yang membenci akan dibenci. Ada lagi hadits Nabi “man lam yaskurin nas lam yaskurillah” artinya “siapa yang tidak berterima kasih kepada manusia maka tidak akan dikasih sayangi Allah”. Inilah bukti bahwa secara teologis, kasih sayang itu menjadi sangat sentral di dalam Islam.

Ketiga,  kita bersyukur bahwa sekurang-kurangnya kita semua ini sudah bisa memberikan kasih sayang kepada orang lain. Kita sudah saling bertegur sapa, saling bersalaman, dan bahkan saling berbagi kepada orang lain. Jangan tanya besarannya, tetapi yang penting kita sudah memiliki kesadaran dan kemudian melakukannya.

Kebersamaan kita selama ini, misalnya dalam pengajian dan dalam tahsinan di masjid ini akan dapat menjadi bukti adanya kasih sayang kepada kita semua. Kita bisa saling mengingatkan akan kebaikan, dan kita bisa saling berkasih sayang di dalamnya. Saya berkeyakinan bahwa Allah dan Malaikatnya serta Rasulnya akan mencatat hal ini sebagai kasih sayang di antara kita.

Wallahu a’lam bi al shawab.