• October 2026
    M T W T F S S
    « Sep    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

ISTIQAMAH (8)

ISTIQAMAH (8)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Istiqamah merupakan istilah yang sudah sangat kita kenal. Istiqamah biasanya dikaitkan dengan ibadah kepada Allah SWT. Istiqamah merupakan suatu konsep yang mengacu kepada keberlanjutan dan kepatuhan tiada henti kepada Allah tanpa jeda dengan menjalankan secara rutin untuk beribadah kepada-Nya. Orang yang dinyatakan sebagai istiqamah adalah orang yang beribadah kepada Allah tanpa jeda, terus menerus, continue. konsisten dan rutin.

Istiqamah sesungguhnya memiliki makna yang lebih luas. Dapat diartikan sebagai keteguhan di dalam keyakinan atau mengesakan Allah tanpa batas, membela keyakinannya tanpa batas, dan mematuhi akan perintahnya tanpa batas. Tidak ada dinding sekat yang bisa mengurangi keyakinannya tersebut. Semua diberikannya kepada Allah SWT. Selain itu juga istiqamah di dalam menjalankan ajaran Allah melalui Nabi Muhammad SAW. Tidak berkurang sedikitpun untuk beribadah di mana saja dan kapan saja. Juga terus menerus atau rutin berbuat baik, sebagai manifestasi keyakinannya kepada Allah SWT. Diyakini bahwa Allah Maha Baik dan akan memberikan balasan atas amal kebaikannya.

Ada banyak contoh, misalnya keteguhan iman Masyitah pada zaman Fir’aun. Dia diancam dan dimasukkan ke dalam bak berisi air mendidih dan tidak goyang sedikitpun keimanannya. Atau Aisyah istri Fir’aun yang memiliki keteguhan hati tidak mau menuruti perintah Fir’aun bahkan di kala akan disetubuhinya. Allah menyelamatkan Aisyah dengan mengirim Jin yang dapat menyerupai Aisyah sehingga Aisyah selamat dari hubungan seks yang tidak akan dilakukannya di dalam menjaga imannya. Sahabat Bilal yang disiksa oleh orang-orang Quraisy agar murtad dan tidak dilakukannya. Bilal akhirnya menjadi muadzin Rasulullah yang luar biasa. Subhanallah.

Allah SWT di dalam Surat Hud: 112,  menyatakan: “Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar sebagaimana diperintahkan kepadamu”. Di dalam Surat lain, Al Ahqaf: 13-14, dinyatakan: “sesungguhnya orang-orang yang mengatakan Rabb kami ialah Allah, kemudian mereka tetap istiqamah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula)  berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya, sebagai balasan atas apa yang mereka lakukan”.

Dua ayat ini memberikan kabar gembira kepada umat Islam, bahwa pahala tertinggi bagi orang yang istiqamah adalah dapat memperoleh surganya Allah. Mereka akan kekal di dalam surga tersebut dengan berbagai fasilitas yang menyenangkan. Catatannya bahwa manusia tersebut harus melakukan kebaikan secara terus menerus, continue dan rutin. Rutinitas atas amalan kebaikan yang akan menjadikannya terpelihara dari perbuatan jelek yang menyesatkan.

Di dalam hadits Nabi Muhammad SAW, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Amir, ada yang menyatakan dari Abu Amrah Sufyan bin Abdullah, dia berkata: “Saya bertanya Wahai Rasulullah:   katakanlah kepadaku suatu ucapan dalam ajaran Islam yang saya tidak dapat menanyakannya tentangnya selain Engkau, Beliau menjawab: katakanlah saya beriman kepada Allah kemudian berlaku istiqamahlah”. Hadits  diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Pada hadits lain, sesuai dengan Riwayat Abu Hurairah, Dikatakan: berkata Rasulullah: “dekatkan dan tepatilah oleh kalian. Dan ketahuilah, tidak ada seorangpun di antara kalian yang selamat karena amal perbuatannya. Para sahabat bertanya: tidak juga Engkau Wahai Rasulullah? Beliau menjawab: tidak juga saya, melainkan jika Allah meliputiku dengan Rahmat dan karunianya”.

Istiqamah secara istilah adalah sikap teguh pendirian, konsisten dan selalu dalam menjalankan kepatuhan atau ketaatan kepada Allah SWT dalam keyakinan atau ketauhidan atau akidah, peribadahan atau penyembahan dan ritual kepada Allah serta berakhlak sesuai dengan nilai-nilai di dalam Islam. Dengan demikian istiqamah merupakan perilaku yang secara konsisten dilakukan oleh seorang hamba baik dari sisi teologis, ritual dan akhlak. Selain itu juga berupaya untuk dapat menjauhi larangan-larangan Allah SWT secara konsisten.

Bagaimana caranya kita membangun istiqamah, yaitu:

Pertama,  menjaga imannya kepada Allah SWT. Tidak pernah ragu akan keyakinannya tersebut. Tidak mempertanyakan tentang kekuasaan Allah sebagai pencipta dan pemelihara. Kita diperbolehkan untuk merenungkan dan memikirkan ciptaan Allah tetapi tidak boleh menanyakan tentang dzat Allah. Maka ungkapan yang benar adalah saya beriman kepada Allah dan akan konsisten dengannya. Kita harus meyakini bahwa Allah SWT mengetahui yang lahir dan batin, meskipun itu di dalam kejauhan batin kita.

Kedua, menjaga ibadah kepada Allah melalui sunnah Rasulullah SWT. Apa yang dilakukan oleh Rasulullah adalah apa yang kita lakukan. Ada sesuatu yang konsisten tidak berubah dan ada yang bisa berubah tetapi tidak bertentangan dengan ajaran Nabi Muhammad SAW. Ada substansi ajaran Rasul dan ada yang assesori yang sesungguhnya tidak bertentangan dengan ajaran Rasul. Misalnya substansi haji adalah muqim di Arafah,  tetapi cara untuk sampai di situ ditentukan oleh factor kezamanannya. Jangan menambah shalat wajib, jangan menambah syahadat, jangan menambah hari di dalam ibadah ramadlan, harus sebulan. Adapun cara untuk memahami kapan hilal sudah eksis atau belum adalah kawasan tafsir para ulama.

Ketiga, menjaga akhlak agar selalu berada di dalam kaidah-kaidah di dalam Islam. Misalnya dalam relasi social, maka gunakan qaulan layyinan atau tutur kata yang lembut, gunakan qaulan kariman atau pernyataan yang menyenangkan, dan sebagainya. Jangan menyakiti orang lain, karena suatu ketika kita akan disakiti. Di dalam konsepsi Jawa disebut ngunduh wohing pakarti atau memanen atas apa yang dilakukan.

Keempat, menjaga hablum minallah atau hubungan yang mesra dengan Allah SWT. Tuhan itu kekasih yang tidak ada bandingannya. Maka manusia harus berlaku sebagai seorang kekasih yang patuh dan setia atas apa yang dimintanya dan memenuhi semua tuntutannya. Kemudian menjaga relasi atau hablum minan nas. Hubungan manusia yang dikehendaki oleh Islam adalah hubungan yang selaras, serasi dan seimbang. Di dalam konsepsi Jawa dinyatakan “aja sapa sira sapa ingsung” atau menganggap diri paling hebat, paling bermanfaat, paling benar dan sebagainya. Dan tidak kalah penting juga menjaga alam atau hablum minal alam atau berbuat baik kepada sesama ciptaan Allah, jangan hanya memanfaatkan alam tetapi juga memberikan kehidupan yang layak bagi alam.

Kelima, menjaga marwah dan martabat sebagai orang beragama. Orang beragama akan dilihat oleh orang lain atas apa yang menjadi performance-nya. Apa yang dilakukan dan apa yang disuguhkan dalam relasi social. Jangan sampai ada tindakan kita yang merugikan orang lain. Harus diupayakan agar tindakan kita menggembirakan orang lain. Sudahkah kita seperti ini.

Wallahu a’lam bi al shawab.

YAKIN DAN TAWAKKAL (7)

YAKIN DAN TAWAKKAL (7)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim. Di dalam Islam keyakinan akan adanya Allah sebagai Pencipta dan Pemelihara alam secara keseluruhan, Tuhan sebagai Ilah dan Rabb, merupakan pangkal dari kepemelukan atas agama. Tanpa adanya keyakinan akan ketuhanan, maka dipastikan tidak ada yang disebut sebagai agama. Manusia harus menyaksikan dengan seluruh pikiran dan hatinya bahwa Allah itu eksis di dalam kehidupan alam seluruhnya. Selain itu agama juga berkaitan dengan keyakinan tentang kerasulan Muhammad SAW. Syahadat adalah pokok utama dalam Islam.

Menurut Syekh Imam An Nawawi di dalam Kitab Riyadhus Shalihin, maka iman ada kaitannya dengan tawakkal. Bahkan dinyatakan bahwa Iman adalah pangkal ketaqwaan. Takwa adalah buah dari iman. Yakin dan tawakkal adalah dua kata yang saling terkait. Iman hadir untuk menjadi basis bagi ketawakalan dan tawakkal hadir untuk semakin memperkuat iman. Tidak ada tawakal tanpa iman. Bahkan iman itulah yang menggerakkan seluruh amal ibadah manusia kepada Allah SWT.

Di dalam Alqur’an banyak dijelaskan tentang iman dan tawakal. Di dalam Surat Al Furqan: 58, dinyatakan: “Dan bertawakallah kepada Allah yang hidup (kekal) yang tidak mati”. Kemudian di surat lain, Ibrahim: 11, dinyatakan: “Dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang mukmin bertawakal”. Lalu di dalam Surat Ali Imran: 159, dinyatakan: “…kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya”. Serta ayat lain, Surat At Thalaq: 3, dijelaskan: “dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah akan mencukupkan (keperluannya)”.

Ayat-ayat  Alqur’an tersebut memberikan gambaran nyata tentang betapa manusia harus tawakal atau berserah diri kepada Allah. Tidak  ada yang patut untuk menjadi tempat berserah diri kecuali Allah SWT. Orang yang beriman adalah orang yang dipastikan akan mempercayai apa yang ditakdirkan Tuhan, apa yang sebaiknya dilakukan oleh Tuhan kepada dirinya. Ada barang sesuatu yang menurut kita baik, terkadang tidak baik menurut Allah SWT. Dan kita baru tahu jika sesuatu telah terjadi. Bisa saja kita menyesal karena terlambat naik pesawat, tetapi kita baru tahu kalau terjadi sesuatu dengan pesawat tersebut. Tuhan lebih tahu mana yang terbaik untuk kita. Begitulah adanya.

Di antara banyak hadits yang dituliskan oleh Syekh Imam An Nawawi, saya akan membahas dua hadits saja yang mendasar dalam kaitannya dengan keyakinan dan ketawakalan kepada Allah SWT. Di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam At Tirmidzi, sebagaimana diceritakan oleh Umar, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “andaikan kalian bertawakal  kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya dia akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana dia memberikan rezeki kepada burung. Keluar pada pagi hari dengan perut kosong dan kembali sore hari dengan perut kenyang”.

Hadits lain juga menjelaskan sebagaimana sabda Rasulullah SAW sebagaimana diriwayatkan oleh Ummul Mu’minin Ummu Salamah sebagaimana diriwayatkan oleh Imam At Tirmidzi dan Imam Abu Dawud, dinyatakan: “Nabi SAW apabila keluar dari rumahnya, Beliau berdoa dengan menyebut nama Allah, saya bertawakal kepada Allah. Ya Allah sesungguhnya saya memohon perlindungan kepada-Mu jangan sampai aku menyesatkan atau yang disesatkan, tergelincir atau digelincirkan, menganiaya atau dianiaya, berbuat bodoh atau diperlakukan bodoh”.

Dari ayat-ayat Alqur’an dan hadits- hadits ini, ada beberapa pelajaran yang dapat dipahami, yaitu:

Pertama, manusia harus selalu memohon pertolongan kepada Allah SWT. Allah adalah  penolong terbaik untuk  kehidupan manusia. Diceritakan di dalam hadits lain, bahwa Rasulullah sedang beristirahat di bawah pohon dengan pedang ditaruh di dahannya. Lalu datanglah seorang Badui yang menjadi musuhnya. Maka orang itu dengan pedang terhunus menyatakan  siapa yang akan menolongmu, maka Rasulullah SWT menyatakan Allah SWT yang akan menolongnya sampai tiga kali Rasul menyatakannya. Maka orang itu ternyata tidak berbuat apa-apa.

Kedua, kepasrahan  tiada taranya. Kepasrahan total. Full tawakkal. Jika manusia pasrah kepada Allah pasti akan ada pertolongan. Allah tidak akan membiarkan hambanya berada di dalam kesulitan yang tidak mampu diatasinya. Allah menyatakan: “hasbunallahu wa ni’mal wakil ni’mal maula wa ni’man nashir”. Di dalam ayat lain dinyatakan: “huwa maulana wa ‘alallahi fal yatawakkalil mu’minun”. Ini merupakan doa kepasrahan kepada Allah SWT. Doa yang layak untuk dibacakan oleh umat Islam.

Ketiga, tawakal tidak berarti diam. Tetapi tawakal itu dinamis. Penuh usaha. Sebagaimana burung pagi perutnya kosong lalu berkelana mencari rezekinya Allah SWT yang bertebaran di alam dan dengan usaha tersebut maka sore hari burung itu penuh perutnya. Perhatikan bagaimana burung merawat anaknya. Burung itu terbang jauh untuk menemukan makanan yang cocok untuk anaknya, dan jika sudah didapatkannya maka burung itu kembali ke sarangnya untuk memberi makan anaknya. Demikianlah seterusnya.

Keempat, tawakal itu berusaha dan berdoa. Allah dipastikan akan memberikan rezeki kepada makhluknya, tanpa ada kata tidak. Semuanya dipastikan ada rezekinya. Ada cadangan makanannya. Dikisahkan ada seorang yang tidak bisa bergerak ke mana-mana karena tangan dan kakinya tiada. Maka Allah itu memberi makanan melalui makhluk lain yang diberikan kepadanya. Ada instrument yang digunakan oleh Allah untuk hambanya. Bagi yang berkecukupan fisiknya, maka harus menggunakan tangan dan kakinya, otak dan hatinya, untuk menemukan makanan yang menjadi rezekinya. Allah SWT tidak menurunkan emas dan perak ke bumi tetapi perak dan emas itu harus diupayakan keberadaannya.

Kelima, Rasulullah yang utusan Allah dan ma’shum atau nirdosa saja selalu berdoa kepada Allah agar dirinya tidak menyesatkan, tidak mendurhakai dan tidak membodohi atau menggelincirkan manusia ke dalam kesesatan. Rasulullah memohon kepada Allah SWT agar bisa melakukan perbuatan yang terbaik untuk umatnya. Bagaimana dengan kita?

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

 

TAQWA (6)

TAQWA (6)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim. Kita semua sudah sangat mengenal tentang kata taqwa. Kata ini menjadi kata yang utama di dalam khutbah yang setiap Jum’at kita dengarkan. Sungguh kata taqwa merupakan kata kunci di dalam kehidupan beragama dan kehidupan pada umumnya. Takwa merupakan kunci untuk beribadah kepada Allah SWT. Tanpa takwa beribadah itu tidak ada artinya. Mengucapkan kata taqwa menjadi salah satu syarat sahnya khutbah Jum’at.

Kata taqwa itulah yang dibahas oleh Syekh Imam An Nawawi di dalam Kitabnya Riyadhus Shalihin. Kata taqwa tersebut dapat menjadi pembeda bagi manusia untuk memahami  mana yang haq dan mana yang bathil. Mana yang benar dan mana yang salah. Allah selalu memberikan kepada manusia untuk melakukan introspeksi atas kesalahan yang dilakukannya. Allah selalu memberikan peluang agar manusia selalu berada di jalannya, jalan Islam.

Ayat Alqur’an dalam Surat Ali Imron: 3, menyatakan: “Wahai orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benarnya taqwa”. Atau di dalam Surat At Taghabun: 6; dinyatakan: “Maka bertaqwalah kepada Allah menurut kesanggupanmu”. Atau ayat lain dalam Surat At Thalaq: 2-3, dinyatakan: “barang siapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rejeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya”.

Ayat Alqur’an, sebagaimana terjemahannya di atas memberikan gambaran bahwa manusia diharapkan bahkan diwajibkan untuk bertaqwa kepada Allah, di mana Allah akan memberikan sesuatu yang terbaik baginya. Yang terbaik tersebut bisa berupa petunjuk ke arah kebaikan, maupun rejeki yang sesuai dengan takarannya bahkan yang tidak disangkanya.

Di dalam hadits Nabi Muhammad SAW, dinyatakan sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud bahwa sesungguhnya Nabi  SAW berkata: “Ya Allah, sesungguhnya saya memohon kepada-Mu akan petunjuk, ketaqwaan, menahan diri dari apa-apa yang tidak diperkenankan, serta perasaan cukup”. Di dalam hadits lain dinyatakan sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Umamah Shadai bin Ajlan Al Bahili bahwa “saya mendengar Rasulullah berkhutbah pada Haji Wada’, Beliau bersabda: “Bertaqwalah kamu sekalian kepada Allah, kerjakanlah shalat lima kali sehari, puasalah pada Bulan Ramadlan, tunaikanlah zakat harta bendamu, dan taatilah pemimpin-pemimpin kalian, maka kamu semua akan masuk surga Tuhanmu”.

Dari ayat Alqur’an dan hadits Nabi ini, dapat dipahami bahwa bertaqwa merupakan bagian tidak terpisahkan dari ajaran Islam. Bertaqwa adalah instrument di dalam beragama. Makna taqwa adalah menjaga, melindungi, atau mengekang diri dari murka Allah. Itulah yang sering diterjemahkan oleh para khatib sebagai arti taqwa adalah takut kepada Allah. Cuma saja berbeda ketakutan manusia kepada hewan buas, yang kita harus melarikan diri, akan tetapi ketaqwaan kepada Allah justru untuk mendekatinya atau semakin taqarrub kepada Allah SWT.

Lalu bagaimana cara untuk bertaqwa kepada Allah, yaitu: pertama, menjalankan perintah Allah dengan segala kemampuan yang kita miliki. Hendaknya perintah Allah sebagaimana hadits di atas ialah bersaksi bahwa hanya Allah yang patut disembah, Tuhan seluruh alam. Kemudian menjalankan shalat, mengeluarkan zakat, puasa pada bulan Ramadlan dan taatilah para pemimpin. Tentu saja adalah pemimpin yang jujur, amanah, menjadi teladan  dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Pemimpin yang tidak menganggap masyarakat hanya sebagai obyek tetapi sesama subyek yang memiliki pikiran dan perasaan.

Kedua, menjaga amal perbuatannya di dalam kebaikan. Apa yang dilakukannya dapat menyenangkan hati dan perasaan orang lain. Berkata yang sopan dan bertutur sapa yang membuat orang merasa damai. Menjaga lesan, tindakan dan perilaku yang selalu berada di dalam koridor nilai-nilai Islam yang luhur.

Ketiga, menjaga husnudh dhan kepada Allah. Selalu berbaik sangka kepada Allah. Tidak pernah terlintas di dalam dirinya untuk berburuk sangka kepada Allah. Jika suatu ketika berdoa kepada Allah dan belum dikabulkan maka tidak menjustifikasi bahwa Allah tidak sayang kepadanya. Setiap segala sesuatu yang terjadi berbasis kepada kasih sayang Allah SWT.

Keempat, menjauhi atas tindakan yang bisa dimurkai oleh Allah SWT. Ada banyak perbuatan yang bisa dinyatakan sebagai maksiat, dan sebaiknya bahkan seharusnya sebagai umat Islam dapat menghindarinya. Jika perbuatan itu akan terjadi marilah dibaca “audzu billahi minasy syaithanir rajim”. Atau jika sudah terjadi, maka sesegerakan untuk membacakan istighfar atau shalawat kepada Nabi Muhammad SAW dengan harapan memperoleh syafaatnya. Saya kira manusia di dunia selain para Nabi yang ma’shum dipastikan melakukan perbuatan yang salah. Bahkan Nabi Adam harus turun ke bumi untuk menjadi khalifah karena melakukan kesalahan. Tetapi membaca “Rabbana dhalamna anfusana wa inlam taghfirlana watarhamna lanakunanna minal khasirin”.  Yang artinya: “Wahai Tuhan kami, alangkah dhalimnya jiwa kami, dan jika tidak engkau ampuni dan  Engkau Rahmati hidup kami, maka kami akan termasuk orang yang merugi”. Allah memberikan ampunan karena kesungguhan doa yang dilantunkannya.

Kelima, menjaga keluarga agar selalu di jalan Allah. Termasuk di antara yang dapat menjaga ketaqwaan adalah dengan menjaga keluarga kita agar selalu berada di dalam Islam. Islam mengajarkan agar keluarga kita terus beriman dan beribadah kepada Allah. Di dalam Islam diajarkan sebagaimana perintah Allah: “jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. Melalui penjagaan kepada keluarga, maka kita akan hidup dengan tenang dan penuh dengan kegembiraan.

Wallahu a’lam bial shawab.

MURAQABAH (5)

MURAQABAH (5)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Muraqabah bisa diterjemahkan dengan pengawasan atau pengontrolan yang dilakukan Allah SWT atas hambanya. Muraqabah dalam pemahaman kaum tasawuf bahwa  manusia yang merasa selalu di dalam pengawasan Allah SWT di mana dan kapan saja. Muraqabah dapat dikaitkan dengan konsep ihsan, yaitu suatu prinsip di dalam ajaran Islam bahwa manusia beribadah kepada Allah seakan-akan Allah di hadapan kita dan jika kita tidak dapat melihatnya, maka yakinlah bahwa Allah melihat kita.

Ihsan adalah ajaran Islam yang sejajar dengan iman, dan Islam. Di dalam satu episode turunnya wahyu melalui Malaikat Jibril, maka suatu waktu datanglah Jibril dengan berubah bentuk seperti orang Arab yang tampan, dan mengajarkan kepada Nabi Muhammad tentang ma huwal iman, ma huwal Islam dan ma huwal ihsan. Muraqabah ada kaitannya dengan Ihsan sebuah proses terus menerus bahwa manusia selalu berada di dalam pengawasan Tuhan.  Dimana  saja kita memalingkan wajah maka di situ terdapat kekuasaan Allah. Wajah Allah dapat dimaknai sebagai kekuasaan.

Di dalam Alqur’an Surat Al Hadid: 4, dinyatakan: “Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada”. Atau di dalam Surat Ali Imron: 5, juga dinyatakan: “sesungguhnya bagi Allah tidak ada satupun yang bersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit”. Di salam surat Asy Syu’ara: 218-219 dinyatakan: “Yang melihat kamu Ketika kamu berdiri (untuk sembahyang) dan (melihat pula) perubahan Gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud”.

Di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Umar bin Khatthab sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim, dinyatakan: “Wahai Muhammad, beritahukanlah padaku tentang Islam, Rasulullah SAW lalu menjawab: Islam adalah hendaknya engkau bersaksi bahwa tiada illah (yang berhak disembah) selain Allah dan bahwa Muhammad itu utusan Allah, hendaklah engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadlan dan melakukan haji ke Baitullah jika engkau mampu melakukannya”. Ia berkata: “engkau benar”. Kami semua keheranan, karena ia bertanya dan juga membenarkannya. Ia berkata lagi: “kemudian beritahukanlah kepada kami tentang iman”. Rasulullah SAW menjawab: “hendaklah kamu beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, dan hari akhir serta engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk”. Ia bekata: “engkau benar”. Kemudian ia berkata: “kemudian beritahukanlah kepadaku tentang ihsan”, Rasulullah menjawab: “hendaklah engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihatnya, tetapi jika engkau tidak dapat melihatnya, ketahuilah sesungguhnya dia pasti melihatmu.” Ia lalu berkata: “kemudian beritahukanlah kepadaku tentang hari kiamat”. Rasulullah menjawab: “tidaklah orang yang bertanya  lebih mengetahui dari orang yang ditanya”. Lalu ia berkata: “kalau begitu beritahukanlah kepadaku  tentang tanda-tandanya”. Rasulullah menjawab: “apabila hamba sahaya telah melahirkan anak tuannya, dan apabila engkau melihat orang-orang yang tidak beralas kaki, telanjang, miskin-miskin dan sebagai penggembala kambing saling berlomba meninggikan bangunan”.

Hadits ini yang dijadikan dasar oleh jumhur ulama tentang rukun Islam dan rukun iman, serta bagaimana seseorang harus beribadah kepada Allah SWT. Lima rukun Islam dan enam rukun iman adalah kesepakatan Sebagian besar ulama dan disepakati bersama sebagai pilar Islam yang harus dipahamai dan dilakukan. Kaum Syi’ah memiliki rukun iman yang berbeda penyebutannya, yaitu Tauhid, Nubuwwah (Kenabian), Imamah (Kepemimpinan Ilahi), Al ‘Adl (Keadilan Tuhan)   dan Al Ma’ad (Harii Kiamat). Kita tentu tidak perlu berdebat mana yang benar. Biarkanlah masing-masing meyakini keimanan dan keislamannya. Bagi kita beriman dan berislam sebagaimana kesepakatan jumhur ulama.

Ihsan, yang kita diminta oleh Rasulullah untuk beribadah terfokus kepada Allah artinya kita dapat  menghadirkan hati kita kepada tempatnya ibadah, yaitu maqam ibrahim atau berada di Ka’baitullah atau di masjidil Haram. Tubuh kita bergerak sesuai dengan rukun dan syarat shalat, dan hati kita berada di dalam rumah Allah, maqam Ibrahim atau  masjidil haram. Ini persoalan yang berat, yaitu melakukan shalat dengan totalitas ibadah.

Muraqabah ada kaitannya dengan konsep ihsan. Di dalam literatur Islam dijelaskan bahwa ada beberapa cara untuk melakukan muraqabah atau merasa di dalam pengawasan Allah sehingga kita akan mendekat kepada-Nya, yaitu: pertama, dengan instrument mencintai Allah dan rasulnya melebihi cinta kepada lainnya. Cinta kepada Allah diajarkan oleh seorang sufi Perempuan, Rabiah al Adawiyah. Rabiah menyerahkan seluruh hidupnya untuk mencintai Allah dan mengabaikan cintanya kepada dunia.

Kedua, dengan cara memperoleh Ridha Allah SWT. Pasrah, tawakkal dan ridha atas apapun yang diberikan oleh Tuhan kepada kita semua. Jika Allah sudah ridha atas apa yang dilakukan manusia, maka Allah akan menurunkan rahman dan rahimnya kepada manusia tersebut. Di antara tokoh tasawuf yang mengajarkan tentang pentingnya ridha kepada Allah adalah Hasan al Bashri.

Ketiga, dengan jalan khauf,   yaitu takut atas adzabnya Allah, sehingga semua  amal perbuatannya hanya ditujukan untuk memperoleh balasan yang baik dari Allah SWT. Yang diharapkan adalah untuk mencapai maqam khauf atau kepada Allah SWT. Allah sudah memberikan peringatan agar manusia selalu menjalankan kebaikan dan menghindari kejelekan atau kejahatan. Tokoh yang mengajarkan tentang tasawuf khauf adalah Syekh Ibnu Athaillah Assakandari.

Keempat, dengan cara raja’ atau harapan akan rahmat Allah SWT. Di dalam kehidupan dipenuhi dengan upaya untuk memuja dan memuji Allah SWT dan bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW agar kelak mendapatkan syafaatnya. Rahman dan Rahim Allah dan syafaat Nabi Muhammad SAW. Konsep ini diperkenalkan  oleh Syekh Ibnu Athaillah Assakandari.

Kelima, dengan cara mengembangkan ilmu pengetahuan, yaitu berupaya untuk memperoleh kebaikan Allah dengan cara berbakti kepada dunia ilmu pengetahuan, yang dapat menerangi hati manusia. Ilmu adalah cahaya yang dapat memberikan kebaikan kepada manusia. Ada banyak ilmuwan yang menggunakan pendekatan ilmu untuk mencintai dan meyakini keberadaan Allah SWT, seperti Ibnu Sina, Al Biruni, Al Jabiri, Al Khawarizmi dan sebagainya.

kita tentu bersyukur dapat menjadi bagian dari umat Islam yang sekurang-kurangnya sudah meyakini akan kebenaran Iman, kesahihan Islam dan juga telah berupaya untuk masuk ke ihsan. mari kiya yakini bahwa yang kita lakukan ini berada di dalam jalur yang benar sesuai dengan penduan ajaran Islam yang tidak diragukan kebenarannya.

wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

 

 

 

KEJUJURAN (4)

KEJUJURAN (4)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim. Pada bagian empat, Syekh Imam An Nawawi menjelaskan tentang kejujuran berdasarkan atas kajian yang mendalam atas teks Alqur’an dan Hadits-Hadits Nabi Muhammad SAW. Sebuah kajian yang sangat mendasar dalam rangka untuk memahami bahwa kejujuran merupakan ajaran Islam yang sangat mendasar sebab terkait dengan relasi antar manusia, alam dan juga Tuhan yang Maha Esa.

Kejujuran merupakan ajaran inti di dalam Islam. Tanpa kejujuran, maka tatanan duniawi akan rusak. Tanpa kejujuran, maka tatanan masyarakat akan rusak, dan tanpa kejujuran maka tata kelola di dalam Masyarakat akan mengarah kepada kebinasaan, pemerintahan dan negara akan menjadi berantakan. Dari kejujuran akan mendapatkan pengakuan, dari kejujuran akan memperoleh kepercayaan dan dari kejujuran akan menghasilkan keberuntungan.

Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai al Amin atau orang yang terpercaya karena kejujuran yang dimilikinya. Di kala Nabi Muhammad SAW dipercaya oleh Sayyidah Khadijah untuk berdagang ke negeri-negeri yang jauh, Negeri Syam, maka modalnya adalah kejujuran. Dari kejujuran menghasilkan keterpercayaan. Dengan kejujuran itulah akhirnya akan menimbulkan keyakinan public bahwa Muhammad adalah seorang yang jujur dan bisa menjadi modal dasar sebagai utusan Allah atau Nabi. Modal social kejujuran itulah yang meyakinkan Khadijah yang kemudian isteri tercintanya di dalam mengarungi medan dakwah yang dibebankan oleh Allah kepadanya.

Salah seorang Sahabat Nabi Muhammad SAW yang memperoleh sebutan ash-shiddiq adalah Sayyidina Abu Bakar. Abu Bakar adalah orang yang sangat mempercayai Nabi Muhammad SAW. Apa yang dinyatakan oleh Nabi Muhammad SAW,  maka Abu Bakarlah orang pertama yang mempercayainya. Tidak ada keraguan sedikitpun atas apapun yang datang dari Nabi Muhammad SAW. Di kala banyak orang yang menertawakan perjalanan Isra’ dan Mi’raj, maka Abu Bakar yang mempercayainya. Itulah sebabnya, di kala Nabi akan berhijrah dari Mekkah ke Yatsrib, maka Abu Bakarlah yang menemaninya, sementara Sayyidina Ali menggantikan Nabi Muhammad di temoat tidurnya. Jika Abu Bakar mendapatkan julukan Ash-shiddiq, orang yang jujur, maka Sayyidina Ali mendapatkan julukan karramahullahu wajhah, orang yang wajahnya sangat mulia.

Ada banyak ayat Alqur’an dan hadits Nabi yang dijadikan sebagai basis di dalam membahas bab kejujuran. Akan tetapi hanya akan saya ambil dua  saja yang sangat mendasar untuk membahas mengenai kejujuran. Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim dari Riwayat Ibnu Mas’ud. Rasulullah menyatakan: “sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebaikan dan kebaikan itu membawa ke surga. Sesungguhnya seseorang itu akan selalu bertindak jujur sehingga ia ditulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan sesungguhnya berdusta itu membawa kepada kejahatan dan sesungguhnya kejahatan itu membawa ke neraka. Sesungguhnya seseorang akan selalu berdusta sehingga ditulislah di sisi Allah sebagai seorang pendusta.”

Demikian pula sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Tirmidzi sebagaimana diriyatkan oleh Abu Muhammad al Hasan bin Ali bin Abi Thalib, bahwa Rasululah menyatakan: “tinggalkan apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya jujur itu menimbulkan ketenangan dan dusta itu menimbulkan kebimbangan”.

Mari kita coba pahami atas dua hadits yang ditulis oleh Imam An Nawawi ini. Kejujuran adalah persoalan hati. Artinya, bahwa kejujuran atau kebohongan itu terkait dengan hati. Qalbun merupakan unsur kehidupan yang sangat penting di dalam kehidupan manusia. Tidak perlu diperdebatkan apakah hati itu di jantung atau di hati. Tetapi yang jelas bahwa manusia memiliki hati. Di dalam dunia tasawuf dikenal ada hati nurani dan hati sanubari. Hati Nurani adalah tempat bersemayamnya berbagai dorongan kebaikan, ada dimensi ketuhanan dan kemanusiaan, sedangkan pada hati sanubari adalah dimensi atau peluang terjadinya dorongan kejelekan.

Ada yang membagi hati dalam tiga jenis, yaitu qalbun salim atau hati yang penuh dengan kebaikan. Di dalamnya terdapat dorongan untuk selalu melakukan perbuatan yang diridlai oleh Allah SWT. Di dalamnya terdapat keinginan kuat untuk menghasilkan perbuatan yang berbasis pada nafsul mutmainnah. Kemudian terdapat hati yang sakit atau qalbun maridh ialah hati yang dipenuhi dengan kecenderungan berbuat jelek yang tidak sesuai dengan ajaran agama Islam yang baik. bersemayam di dalamnya nafsu lawwamah. Dan lainnya adalah hati yang mati atau qalbun mayyitun yaitu hati yang sudah tidak lagi bisa mendengar, melihat dan merasakan kebaikan. Hati yang dipenuhi dengan kejelekan dan kejahatan. Tidak bisa lagi membedakan mana yang baik dan mana yang jelek. Basisnya adalah nafsu amarah.

Secara psikhologis, kebaikan akan membawa kepada ketenangan batin, sedangkan kejahatan akan membawa kepada kesusahan atau ketidaktenangan batin. Orang yang melakukan tindakan tidak jujur atau berbohong dipastikan akan menyebabkan yang bersangkutan akan selalu di dalam bayang-bayang ketakutan atau kesusahan, akan tetapi orang yang melakukan kejujuran dipastikan akan mendapatkan ketenangan batin atau kebahagiaan.

Kita hidup di era di mana kejujuran adalah barang langka. Ada banyak perilaku menyimpang misalnya tindakan korupsi. Orang yang melakukannya dipastikan akan merasakan betapa hidupnya berada di dalam bayang-bayang ketakutan. Hatinya akan merasakan betapa tersiksa dan terus menerus merasakan tekanan-tekanan yang tidak dapat dihindarinya. Baik di dalam kesendirian atau bersama-sama yang lainnya, maka akan merasakan bahwa jiwanya tidak tenang, penuh dengan teriakan-teriakan yang membuatnya berada di dalam kesusahan.

Itulah sebabnya Allah mengajarkan kepada kita doa yang sangat Istimewa, yaitu: “Allahumma arinal haqqa haqqa war zuqnat tiba’ah wa arinal bathila bathila war zuqnaj tinabah”. Yang artinya: “Ya Allah tunjukkan kepada kami yang benar itu benar dan berikan peluang kami untuk mengikutinya, dan tunjukkan kepada kami yang salah itu salah dan berikan peluang kepada kami untuk menjauhinya”.

Wallahu a’lam bi al shawab.