Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

MENGGEMBIRAKAN JASMANI DAN ROHANI

MENGGEMBIRAKAN JASMANI DAN ROHANI

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Sudah sewajarnya jika kita bersyukur ke hadirat Allah, karena banyaknya nikmat yang diberikan kepada kita. Tidak terhitung. Nikmat fisik maupun batin. Nikmat fisik terkait masih dapat kita semua merasakan kenikmatan makanan, minuman, jajanan dan buah-buahan. Sedangkan nikmat batin adalah masih diberinya kesempatan kita semua untuk merasakan indahnya beragama Islam sebagaimana yang kita rasakan hari-hari ini.

Ungkapan ini yang saya sampaikan dalam acara tasyakuran walimatul hamli, anak saya Shiefta Dyah Elyusi,  yang bermukim di Bekasi Jawa Barat bersama suaminya Nasrur Rohman dan anak-anaknya, Sahief, Kiva dan Fathan. Acara ini diselenggarakan di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya, Jumat, 30/01/2026 pagi yang diikuti oleh anggota Komunitas Ngaji Bahagia (KNB), dan beberapa peserta para hafidz Alqur’an.

Sebagaimana biasanya, setelah shalat shubuh berjamaah, maka dilakukan acara ngaji Surat Al Kahfi, lalu acara walimatul Hamli, dengan membaca Surat Ar Rahman sampai tuntas, dan beberapa ayat pilihan dari Surat Maryam dan Surat Yusuf. Acara dipimpin oleh Ustadz Alief dan Ustadz Syahwal. Dalam pengantar acara, saya sampaikan tiga hal secara singkat, yaitu:

Pertama, saya merasakan bahwa nikmat Allah kepada saya dan keluarga itu sangat luar biasa. Di antara nikmat itu adalah banyaknya cucu yang hadir di dalam kehidupan saya. Dari tiga anak saya, perempuan semua, Kiki, Eva dan Evi, saya mendapatkan cucu sembilan orang dan akan hadir yang ke sepuluh. Dari yang sembilan orang itu, tiga di antaranya lelaki dan enam perempuan. Jika saya tidak bersyukur, maka nikmat mana lagi yang saya dustakan. Fa biayyi alai rabbikuma tukadzdziban. 

Kita  itu pasti merasa tidak enak kalau tidak bersyukur kepada Allah.  Jika  tidak bersyukur ke hadirat Allah itu rasanya keterlaluan. Bayangkan betapa banyak nikmat Allah yang sudah kita terima lalu kita tidak tergerak untuk mensyukurinya. Orang yang tidak mensyukuri nikmat itu tarmasuk orang kafir. Bukan mengingkari keberadaan Tuhan, akan tetapi mengingkari kenikmatan Tuhan. Dan kita tentu tidak menginginkan kedua-duanya. Bersyukur adalah kelanjutan atas keimanan kita kepada Allah. Jika kita beriman kepada Allah, maka kita harus bersyukur. Mendapatkan iman saja sudah harus bersyukur, sebab banyak orang yang tidak mendapatkan hidayah iman tersebut.

Kita semua ini sudah menjadi orang yang on the track. Sekurang-kurangnya sudah beriman secara full kepada Allah dan mencintai Muhammad SAW secara full juga. Di antaranya adalah selalu melakukan shalat dan membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Dengan shalat dan shalawat, insyaallah kita akan mendapatkan balasan kebaikan kelak di hari akhir. Setiap hari sudah kita lakukan, hanya perlu konsistensi dengan  sedikit lebih berkualitas dan semakin banyak.

Kedua, kita harus membahagiakan fisik dan roh atau jasmani dan rohani. Menggembirakan jasmaniyah dan ruhaniyah. Banyak orang yang beranggapan bahwa manusia hanya terdiri dari jasmani dan ruhani atau badan dan roh. Padahal ada satu lagi yaitu nafs atau nafsu atau jiwa. Roh itu pancaran Tuhan sebab ditiupkan oleh Allah dalam kandungan  seorang Ibu pada usia 4 bulan 10 hari. Dan semenjak itu, gumpalan darah itu memiliki daya untuk bergerak dan bernafas di dalam kandungan ibu. Janin tersebut sudah hidup. Bahkan jika sudah berusia tujuh  bulan maka seorang ibu merasakan janin itu menendang-nendang. Artinya sudah mengalami kehidupan.

Nafsu atau jiwa itu adalah kehendak yang mendorong manusia untuk melakukan atau tidak melakukan atau menunda atau mempercepat. Ia bisa disebut sebagai hati atau qalbun. Segumpal campuran daging, darah dan saraf yang disebut qalbun. Jika qalbun itu baik,  maka akan baik keseluruhan fisik dan jika rusak maka rusaklah seluruh jasadnya. Yang dimaksud adalah perilaku manusia. “Faidza shaluhat shaluhal jasadu kulluhu, waidza  fasadat fasadal jasadu kulluhu”. Jadi perilaku manusia ditentukan oleh jiwa atau nafsu yang terkandung di dalam diri manusia. Tentu ada kaitan antara otak, hati dan jasad manusia. Hati memerintah otak dan otak memerintahkan seluruh badan kita. Jadi hati adalah kata kunci.

Roh bagi saya netral. Tergantung pada  hati atau jiwa. Jika hatinya dekat kepada roh akan menjadikan jiwa yang tenang atau jiwa yang muthmainnah, dan jika jiwa itu dekat dengan fisik maka akan menjadi jiwa yang bersifat kebinatangan atau nafsu hayawaniyah. Untuk itu kita harus belajar untuk mendekatkan jiwa kita kepada roh dan menjauhi yang bersifat kebinatangan. Jiwa harus dilatih agar dapat mendorong ke arah kebaikan dan bukan sebaliknya.

Ketiga, tugas kita sekarang adalah menggembirakan fisik dan roh atau jasmani dan rohani. melalui keterlibatan jiwa. Fisik harus dibahagiakan dan roh juga harus dibahagiakan. Cara untuk menggembirakan fisik atau jasad adalah dengan memberikan asupan fisik, misalnya makanan, minuman, buah-buahan, sayur-sayuran yang bergizi, baik dan halal. Bergizi artinya makanan itu memenuhi ketercukupan nutrisi, misalnya karbohidrat dan protein yang seimbang. Keseimbangan itu sangat penting agar makanan tidak menjadi beban bagi fisik.

Makanan yang lezat tentu baik, tetapi harus dipertimbangkan halal dan thayibnya atau halal dan manfaatnya. Agar kita sehat,  maka komposisi makanan menjadi penting. Ketercukupan gizi dan keseimbangannya menjadi syarat agar tubuh menjadi sehat. Hati yang sehat terletak pada jasad yang sehat. Begitulah maqalahnya. Ada kebutuhan biologis atau kebutuhan fisik.

Semua kebutuhan yang baik bagi fisik atau biologis itu harus dipenuhi untuk kepentingan kebahagiannya.

Lalu, roh juga memerlukan kebahagiaan atau kegembiraan. Yang perlu bahagia bukan hanya fisik atau jasmani. Tetapi juga roh kita. Untuk membahagiakannya adalah dengan shalat untuk menyatukan hakikat roh yang ada Ka’baitullah bersama Bapak Roh, Nabi Muhammad SAW. Sekurang-kurangnya lima kali sehari kita harus bersama hakikat roh yang berada di Masjidil Haram. Roh di dalam tubuh kita dipertemukan dengan hakikat roh di Makkah al Mukarramah atau tepatnya di rumah Allah, Baitullah.

Cara lainnya adalah dengan membaca shalawat kepada Bapak Roh, Nabi Muhammad SAW. Shalawat adalah instrument untuk bertemu pada Nabi Muhammad SAW. Allah sangat menganjurkan umatnya untuk membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Bahkan Allah dan seluruh Malaikat bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Maka manusia sebagai hamba Allah dan umat Muhammad SAW pastilah akan membaca shalawat dimaksud.

Instrument lain adalah membaca Alqur’an. Jangan bertanya sedikit atau banyak. Tetapi yang penting membaca Alqur’an. Sebaiknya setiap hari. Alqur’an adalah kitab suci yang menjadi pedoman bagi umat Islam untuk mengamalkannya. Dengan membaca Qur’an dipastikan akan memperoleh pahala sebagaimana dijanjikan oleh Allah SWT.

Kita bersyukur bahwa ketiganya sudah kita lakukan dalam kapasitas yang bisa dilakukan. Kita sudah melakukan shalat, sudah membaca shalawat dan juga membaca Alqur’an. Nyaris di setiap hari kita membaca Alqur’an melalui acara-acara di masjid ini. Mari kita optimis bahwa amalan ini diterima Allah SWT.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

TASYAKURAN DALAM TRADISI JAWA

TASYAKURAN DALAM TRADISI JAWA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Salah satu yang masih mengikat di dalam relasi antar tetangga di perkotaan adalah silaturahmi. Dan salah satu fasilitasnya adalah masjid yang menjadi tempat bersama untuk mengekspresikan keyakinan keagamaan. Masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah tetapi juga untuk kegiatan social lainnya. Masjid menjadi tempat untuk memenuhi kebutuhan keagamaan dan social sekaligus. Di antara kebutuhan social adalah untuk saling menyapa dan bergembira bersama. Ekspresi relasi social terjadi di rung tempat ibadah.

Kali ini, saya akan mengungkapkan relasi social tetanggaan untuk melakukan tasyakuran bersama di rumah salah seorang anggota Komunitas Ngaji Bahagia (KNB), Pak Suhardi. Beliau adalah jamaah aktif KNB yang selalu hadir dalam acara pengajian Selasanan maupun tahsinan dan ikatan persaudaraan atau silaturahmi yang terbangun secara kultural. Pak Hardi sedang memiliki hajad untuk menikahkan putra dan acara malam itu, 27/01/2026, adalah ungkapan rasa syukur karena telah berhasil menemukan jodoh bagi anaknya. Angga Saputra dan B. Fitriani. Tidak ada kebahagiaan yang melebihi kebahagiaan untuk menjodohkan anak dalam rangka membangun rumah tangga baru. Ekspresi rasa syukur tersebut adalah dengan mengundang anggota KNB, keluarga dan tetangga untuk bersyukur bersama-sama.

Saya mendapatkan tugas untuk memberikan taushiyah atau sekedar ucapan terima kasih atas nama keluarga. Maka, saya sampaikan tiga hal, yaitu:

Pertama, ungkapan rasa Syukur di dalam Islam. Saya mencoba untuk mengedepankan rasa syukur dalam ajaran Islam itu dalam dua hal, yaitu: Syukur dengan sedekah atau tasyakkur bis shadaqah makanan atau saya sebut sebagai tasyakkur bit tha’am atau tasyakuran dengan makanan. Islam sangat mendorong umatnya untuk saling bertolong menolong dengan sedekah makanan. Ath’imuth tha’am. Jadi,  manakah  amalan yang afdhal atau utama, Nabi Muhammad SAW menyatakan: “afsyus salam, atau menyebarkan salam,  shilul arham atau membangun silatur rahim dan kemudian ath’imut tha’am atau memberi makanan”. Jadi memberikan makanan kepada orang lain, apalagi kaum miskin, dan keluarga atau tetangga dekat adalah kebaikan dalam kehidupan bermasyarakat. Jadi bersyukur dengan memberikan makanan adalah sunnah Rasulullah SAW. Hanya caranya yang mungkin bisa berbeda. Ada yang diberikan ke rumah satu persatu, ada yang diberikan sambil silaturahmi pada yang empunya hajad dan ada juga yang menggunakan uang atau barang. Mana saja yang dipilih, tetapi intinya adalah sedekah. Bahkan seseorang bisa bersedekah dengan senyuman atau menyenangkan hati orang.

Bisa juga dalam bentuk memberikan peluang untuk beribadah, seperti membaca shalawat. Ada sejumlah orang yang didatangkan ke rumah untuk bersama-sama membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Jika dilakukan bersama-sama, maka yang menarik adalah di saat membaca shalawat sambil berdiri atau mahalul qiyam, kala berdoa “rabbi faghfirli dzunubi ya Allah, bibarkatil Hadi Muhammad Ya Allah”.  “Wahai Tuhanku, ampunilah dosaku Ya Allah, dengan berkah petunjuk Nabi Muhammad  Ya Allah”. Di antara ampunan itu diperoleh melalui berkahnya Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Tradisi di perkotaan seperti ini tentu merupakan kelanjutan dari tradisi pedesaan di masa lalu. Maklum bahwa orang-orang yang sekarang menghuni wilayah perkotaan pada dasarnya adalah orang desa yang kemudian menetap di kota dan beranak pinak di wilayah perkotaan. Mereka ini masih menjadikan budaya masa lalu untuk dijadikan sebagai pedoman di dalam kehidupannya. Mereka tidak tercerabut dari akar budaya yang sudah mandarah daging. Jika ada yang tidak melakukannya tentu terpengaruh oleh mereka yang belajar dari budaya dari tempat lain.

Kedua, tradisi di dalam budaya Jawa itu memang sangat variative termasuk tasyakuran yang dilakukan di malam hari ini. Menjelang pernikahan, maka orang Jawa menyelenggarakan upacara selamatan atau tasyakuran. Di masa lalu disebut sebagai selamatan supaya acara yang diselenggarakan berada keadaan selamat, lancar dan sukses. Selamat bagi calon mempelainya, selamat juga bagi keluarganya dan memperoleh berkah dari Allah SWT. Harapan orang Jawa yang tertinggi di dalam kehidupan adalah keselamatan. Lalu karena pengaruh Islam menjadi tasyakuran. Jika keselamatan adalah tujuan finalnya, maka tasyakuran itu instrumennya. Sesungguhnya ungkapan keselamatan itu lebih mendasar dibandingkan dengan kata tasyakuran. Selamat adalah tujuan akhirnya dan tasyakuran adalah tujuan antaranya.

Karena acara ini adalah mengawali acara yang sesungguhnya yaitu acara pernikahan dan kemudian dilanjutkan dengan walimatul arusy, maka saya sampaikan hal yang terkait dengan persiapan mental untuk menjalani pernikahan. Saya mengutip syair lagunya Nayla, yang berbunyi: “kasihi aku karena Allah, sayangi aku karena Allah, cintai aku karena Allah, miliki aku karena Allah”. Betapa indahnya lagu ini.

Orang menikah harus karena Allah. Bukan karena hartanya, kekayaannya, pekerjaannya, keluarganya, dan jabatannya dan sebagainya tetapi harus karena Allah SWT. Jika kita mencintai bukan karena Allah, maka semuanya bisa hilang. Karena factor usia, maka kecantikan, kegantengan dan kekuatan akan hilang. Harta, jabatan, kekuasaan dan kepemilikan akan hilang. Tetapi cinta karena Allah akan terus berlangsung sepanjang hidup.

Ketiga, kita hadir untuk memberikan ucapan selamat kepada keluarga Pak Hardi. Kita semua berdoa semoga keluarga yang akan dibangun akan menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah wa Rahmah. Jadi bukan mawaddah sendiri, rahmah sendiri dan sakinah sendiri, akan tetapi semuanya. Satu kesatuan. Yang diharapkan akan menjadi keluarga yang tenang, penuh cinta dan kasih sayang sampai tua. Sampai akhir hayat. Bismillah.

Petuah seperti ini tidak hanya bagi yang muda yang akan menikah, akan tetapi juga bagi yang sudah lama menikah. Kita semua berharap baik yang muda maupun yang tua mendapatkan berkah atas peristiwa yang kita lakukan malam ini.

Wallahu a’lam bi al shawab.

DERAJAD ORANG BERIMAN DAN BELAJAR

DERAJAD ORANG BERIMAN DAN BELAJAR

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Saya beruntung bisa bergaul dengan Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) yang selalu bertemu nyaris setiap hari dalam acara tahsinan Alqur’an maupun Ngaji Bahagia. Acara tahsinan diselenggarakan setiap hari kecuali Sabtu dan Ahad, sementara hari Selasa untuk Ngaji Bahagia. Di antara keistimewaan Komunitas Ngaji Bahagia adalah kegiatan yang selalu diselingi dengan tertawa renyah dan bersifat dialogis. Penceramah hanyalah pengantar materi saja, sedangkan pembahasan dapat dilakukan bersama-sama.

Selasa, 27/01/2026 dilakukan Ngaji Bahagia yang diikuti oleh jamaah Masjid Lotus dan Raudhoh, yang secara tetap mereka hadir dalam acara Ngaji Bahagia. Materinya tidak diurutkan secara sistematis, tetapi sangat kondisional dan tergantung pada apa yang menarik untuk dibicarakan. Ketepatan hari Selasa membahas tentang derajad bagi orang yang beriman kepada Allah dan selalu mencari ilmu. Di dalam pembahasan ini, saya bicarakan tiga hal, yaitu:

Pertama, derajad orang beriman. Allah di dalam Alqur’an menjelaskan bahwa Allah akan meninggikan derajad orang yang beriman. “Yarfa’il lahul ladzina amanu minkum wal ladzina utul ‘ilma darajad.” Yang arti secara harfiyahnya bahwa: “Allah mengangkat derajat orang yang beriman dari kamu semua dan orang yang mencari ilmu pengetahuan”. Jadi ada dua golongan orang yang akan ditinggikan atau diangkat derajadnya oleh Allah, yaitu orang yang beriman dan orang yang mencari ilmu. Artinya, bahwa bagi orang yang mencari ilmu dan beriman kepada Allah maka akan diganjar dengan ketinggian derajadnya di sisi Allah SWT.

Tetapi kata kuncinya adalah beriman kepada Allah. Ada orang yang terus menerus belajar akan tetapi tidak mendapatkan derajad yang tinggi di sisi Allah sebab orang tersebut tidak beriman kepada Allah. Yang bersangkutan tidak menyatakan “la Ilaha Illallah Muhammadur Rasulullah”. Di dalam keyakinannya tidak mengesakan Allah dan tidak bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Jika seseorang ingin mendapatkan pengakuan derajad di sisi Allah,  maka harus beriman terlebih dahulu.

Di dunia ini banyak sekali orang yang terus menerus mencari ilmu, akan tetapi tidak mendapatkan derajad tinggi di sisi Allah karena misalnya mereka adalah orang atheis, atau orang yang tidak percaya kepada Allah. Iman di dalam konteks ayat ini adalah iman kepada Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Yang selain ini, maka bisa disebut sebagai orang yang tidak mendapatkan pengakuan memiliki derajad tinggi di sisi Allah SWT.

Tentu tidak sekedar percaya. Misalnya dengan menyatakan: “saya beriman kepada Allah, dan saya juga bersaksi Muhammad Rasulullah”, akan tetapi tidak melanjutkan keyakinannya tersebut dengan menjalankan perintah Allah SWT. Di dalam Alqur’an dinyatakan: “amantu billahi tsumastaqim”. Makna dari tsumas taqim itu tidak hanya terus menerus atau secara continue meyakini keberadaan Allah,  tetapi juga menjalankan ajaran-ajaran agama Islam sebagaimana diwahyukan oleh Allah melalui Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW.

Kita bisa menyaksikan secara empiris, betapa banyaknya orang yang mengaku sebagai umat Islam,  akan tetapi tidak konsisten menjalankan ajaran agamanya. Mereka memang pernah bersyahadat tentang “keesaan Allah dan kenabian Muhammad SAW”, akan tetapi ternyata tidak konsisten di dalam menjalankan ajaran agamanya. Yang seperti ini sesuai dengan bunyi dan makna teks di atas tentu tidak termasuk yang  memperoleh derajad tinggi dimaksud.

kedua, Selain itu juga orang yang mencari ilmu pengetahuan. Jangan dipersepsikan bahwa mencari ilmu itu harus dalam bentuk persekolahan secara formal, misalnya menempuh pendidikan di perguruan tinggi atau sederajad. Akan tetapi mencari ilmu itu adalah belajar di mana saja dan dalam bentuk apa saja. Long life education. Pendidikan sepanjang masa, baik pendidikan formal, non formal atau informal. Orang yang sudah dewasa seperti kita tentu yang dimaksud belajar adalah belajar dalam konteks informal. Misalnya mengikuti pembelajaran melalui pengajian, majelis ta’lim, belajar melalui kelompok belajar Alqur’an, bahkan juga acara tahsinan. Semua itu disebut sebagai mencari ilmu.

Apalagi tahsinan yang kita lakukan adalah pembelajaran informal yang sangat penting. Tidak hanya memperbaiki bacaan tentang ayat-ayat Alqur’an, akan tetapi juga memahami arti kata perkata dan kemudian penjelasan umum tentang ayat dimaksud. Yang kita pelajari bukanlah pembelajaran Alqur’an yang sangat ketat, dari perspektif ilmu tafsir, akan tetapi membaca teks ayat dengan situasi social yang kita hadapi. Sungguh dapat menjadi pencerahan atas ajaran agama dalam relevansinya dengan realitas social yang utuh.

Islam menyatakan belajar ilmu itu dari ayunan hingga liang lahat. Dari kandungan sampai di kuburan. Di kandungan kita diperdengarkan lantunan ayat Alqur’an, ketika lahir diperdengarkan adzan dan iqamah, dan ketika dikuburkan di pemakaman juga dibacakan talqin tentang pertanyaan-pertanyaan oleh Malaikat. Meskipun diperdebatkan tentang kesahihannya, akan tetapi tetap ada makna positifnya, jika tidak untuk yang wafat tentu bagi yang masih hidup yang mengantarkan jenazah.

Ketiga, kita semua ini bersyukur karena insyaallah bisa merengkuh keduanya. Kita terus beriman kepada Allah dan menjalankan amalan-amalan kebaikan yang diperintahkannya dan kemudian juga terus mencari ilmu dengan belajar agama. Dengan dua kenyataan ini maka pastaslah jika kit akita semua optimis, bahwa kita adalah orang yang mendapatkan derajat tinggi di dalam pandangan Allah SWT.

Kita selalu berdoa kepada Allah semoga kita akan dapat menjalankan amanat kehidupan ini dengan beriman kepada Allah dan menyaksikan Muhammad sebagai rasulullah dan terus diberikan kekuatan untuk menjalankan amanat kehidupan dengan kekuatan penuh untuk beribadah. Ada banyak orang yang kemudian bisa berpindah keyakinan atau konversi, karena hidayah Allah dicabut dari dirinya. Insyaallah dengan doa yang konsisten kita akan tetap berada di dalam jalan yang benar. On the right place.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

PELAJARAN DARI SURAT AL QAMAR

PELAJARAN DARI SURAT AL QAMAR

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Senin, 19/01/2026, jamaah Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) mengakhiri tahsinan Surat Al Qamar, yang sudah beberapa lama dipelajari bersama Ustadz Alief Rifqi, yang selama ini membersamai jamaah Komunitas Ngaji Bahagia untuk melakukan pembenahan dalam mengaji Al Qur’an. Jamaah tahsinan ini memang tidak banyak pesertanya, orang-orang khusus, yang memiliki keinginan sedemikian kuat untuk membenahi bacaan Qur’an-nya.

Sebagaimana biasa, kita membaca empat ayat dan diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia, ayat demi ayat. Dan setelah itu saya diminta untuk memberikan penjelasan tentang arti secara keseluruhan dari konteks ayat tersebut. Alhamdulillah selama saya tidak pergi keluar kota, maka saya sempatkan untuk hadir bersama jamaah Komunitas Ngaji Alqur’an tersebut.

Pagi tersebut saya menjelaskan tentang makna dan pesan penting di dalam Surat Alqamar. Ada empat hal yang saya jelaskan kepada jamaah Ngaji Bahagia, yaitu: pertama,  ayat ini memberikan pelajaran kepada Masyarakat,  pada umat manusia,  agar belajar dari masa lalu, di mana Allah memberikan adzab atas umat yang tidak mempercayai apa yang disampaikan oleh para Nabi dan Rasul. Mereka adalah orang kafir dan musyrik sekaligus,  sebab mereka tidak percaya dengan ajakan para Nabi dan Rasul untuk membenarkan dan melakukan apa yang diinginkan oleh Allah melalui para Nabi dan Rasul, dan mereka kaum musyrik sebab menyekutukan Tuhan dengan benda-benda yang berupa patung-patung yang dibuatnya sendiri dan kemudian disembahnya. Umat Nabi Nuh diadzab dengan banjir bandang yang menerjang seluruh permukaan bumi. Umat Nabi Hud dengan angin topan yang membuat mereka hancur berkeping-keping. Umat Nabi luth yang terkena adzab suara gemuruh yang membuat mereka mati, suara keras yang mengguntur. Suara itu merupakan suara yang sangat memekakkan telinga dan dapat merusak atas kulit dan membakar daging dan tulang-tulang manusia. Dan Fir’aun dan keluarga Fir’aun yang juga mati di telah Samudra di kala mengejar Nabi Musa.

Kedua, Pelajaran tentang pahala dan siksa. Di dalam ayat-ayat pada Surat Alqamar diceritakan tentang balasan bagi orang yang berbuat baik dan siksa bagi orang yang melanggarnya. Mereka yang mempercayai adanya Allah sebagai Dzat yang menciptakan alam semesta dan memeliharanya, dan kemudian melakukan amalan kebaikan sebagaimana pesan agama yang dibawa oleh Para Rasul, maka mereka akan dibalas dengan surganya Allah yang penuh dengan keindahan. Ada air mengalir di bawahnya, ada berbagai kelezatan yang tidak dijumpai di dunia dan segala kebaikan dan kenikmatan yang dirasakannya. Sementara itu, orang yang mengingkarinya maka akan dibalas dengan neraka yang sangat panas, sehingga hancur tulang belulangnya dan kemudian dihidupkan lagi dan terus disiksa seperti itu. Semua menggambarkan akan reward dan punishment bagi manusia berdasarkan atas prilakunya di dunia.

Ketiga, Alqur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW memberikan kemudahan bagi manusia untuk mempercayai kebenarannya dan menjadi pedoman dalam prilakunya. Alqur’an berisi tandzir atau peringatan dan tabsyir atau kegembiraan. Keduanya sudah dijelaskan secara mendalam dan sangat tegas. Maka seharusnya manusia mempercayainya. Hanya sayangnya semenjak semula memang ada orang yang percaya dan ada yang tidak percaya. Ada yang bertipe seperti Abu Jahal dan Abu Lahab yang selalu menentang akan kebenaran Nabi Muhammad SAW dan ada yang bertipe seperti Sayyidina Abu Bakar, Siti Khadijah, Sayyidina Ali yang selalu mempercayai akan kebenaran seruan Nabi Muhammad SAW. Semula ada sebanyak 40 orang yang kemudian disebut sebagai assabiqunal awwalun. Para pemula yang mempercayai kebenaran ajaran Nabi Muhammad SAW.

Keempat, Gambaran tentang orang yang percaya dan melakukan amal kebaikan dan orang yang tidak percaya dan tidak melakukan kebaikan hingga hari ini masih bisa dilihat. Ada orang yang menjalani tipe kehidupan sebagaimana  Abu Jahal dan Abu Lahab dan ada orang yang bertipe seperti Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Ali. Gambaran di dalam Alqur’an memberikan penjelasan bahwa manusia selalu terbagi ke dalam dua golongan besar, yang di dalam Alqur’an disebut sebagai asyhabul yamin dan asyhabul syimal. Mereka yang tergolong asyhabul yamin adalah orang yang kelak akan bahagia, dan orang yang tergolong ke dalam asyhabul syimal kelak akan celaka.

Kita semua beruntung, meskipun tidak mampu untuk melakukan amalan Islam secara kaffah sebagaimana para sahabat, tabiin dan tabiit tabiin yang disebut salafus shaleh, akan tetapi kita sudah melakukan ajaran Islam dengan benar. Kita meyakini akan kebenaran keberadaan Allah dan menjalankan apa yang diperintahkan oleh Allah SWT melalui Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Kita sudah menjadi umat Islam yang “amantu billahi tsummas taqim”, atau menjadi orang Islam yang percaya kepada Allah dan menjalani kehidupan dengan kepercayaan tersebut dan mengamalkan ajaran Iman dan Islam dalam kapasitas yang bisa dilakukan.

Mari kita semua optimis atau husnudh dhan, bahwa kita adalah hamba Allah yang kelak akan mendapatkan rahman dan rahimnya Allah SWT. Insyaallah kita akan selamat fid dini, wad dunya wal akhirah.

Wallahu a’lam bi al shawab.

MENJEMPUT TAKDIR

MENJEMPUT TAKDIR

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Di dalam acara tahsinan, 14/01/2026, sampailah para peserta tahsinan pada Surat Alqamar, ayat 49, yang berbunyi: “inna kulla syaiin khalaqnahu biqadarin”, yang artinya: “sungguh, kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran”. Dan sebagaimana biasanya, setelah dibacakan artinya oleh Ustadz Alief, maka saya diminta untuk memberikan tambahan penjelasan. Saya  jelaskan beberapa hal, yaitu:

Saya tentu saja tertarik untuk membahas tentang takdir sebagaimana  rukun iman yang sudah kita yakini kebenarannya. Tanpa meyakini tentang takdir atau ketentuan Tuhan, maka iman kita tidak ada artinya. Iman itu sistemik, sehingga tidak boleh hanya percaya satu saja dan mengabaikan lainnya. Sebagaimana Malaikat Jibril mengajarkan tentang Iman, Islam dan Ihsan, maka ketiganya harus diimani dan dilaksanakan sebagai umat Islam yang sempurna.

Takdir dapat diterjemahkan secara leterlek sebagai ketentuan atau kepastian Tuhan. Artinya ada segala sesuatu di alam tata surya kita yang memiliki kepastian atau ketentuan. Peredaran bumi mengitari matahari, atau bulan mengitari bumi dan segala perjalanan  bintang gemintang di langit atau tata surya, maka semuanya ada takdirnya atau kepastiannya. Semua beredar sesuai dengan garis edarnya.

Di dalam ayat lain dinyatakan bahwa “segala sesuatu yang terjadi ada catatannya. “kullay yushibana illa ma kataballahu lana”. Yang artinya: “setiap kali ada kejadian musibah kepada  kita tidak ada lain kecuali dipastikan ada catatannya”. Catatan tersebut yang dimaksud sebagai kepastian atau ketentuan yang disebut sebagai takdir Tuhan. Manusia sudah ditentukan bahagia atau sengsaranya, sudah ditakdirkan usianya atau kelahiran atau kematiannya, sudah ditakdirkan jodohnya dan sudah pula ditentukan rezekinya.

Lalu bagaimana pandangan para ahli tentang takdir itu? Marilah sejenak kita bahas dengan ringkas tentang pandangan kaum Jabariyah atau kaum determinisme atau serba takdir bahwa takdir sudah ditentukan dan manusia tinggal melakukannya. Manusia itu seperti wayang yang tidak mampu melakukan apapun kecuali dalang yang memainkannya. Begitulah manusia itu. Baik dan buruk atau kaya dan miskin itu sudah ada cadangannya. Jadi kalau ada orang kaya tentu karena memang ditakdirkan kaya dan kalau ada orang miskin tentu sudah ada cadangannya. Manusia tidak mampu menolak takdirnya. Jika takdirnya kaya maka ada saja jalan untuk kaya dan jika ditakdirkan miskin maka ada saja jalan untuk menjadi miskin. Semuanya sudah ada kepastiannya.

Lalu, ada yang berpendapat sebaliknya yang menyatakan bahwa takdir itu kepastian yang tidak mengikat. Yang ada kepastiannya itu usia manusia, atau menjadi lelaki atau Perempuan itu takdir atau kepastian. Akan tetapi terkait dengan hal lain, maka manusialah yang menentukan takdirnya sendiri. Inilah yang disebut sebagai kaum qadariyah atau serba usaha. Manusia memang diberi kekuatan akal. Takdir bukanlah kemutlakan. Takdir itu sesuatu yang tergantung pada peran manusia. Kala hidup di dunia, maka manusia harus mengikuti hukum dunia, misalnya untuk makan yang bersangkutan harus berusaha untuk mencari makan. Tidak boleh menyatakan manusia pasti mendapatkan makan dan manusia tidak tahu caranya untuk mendapatkan makan. Untuk mendapatkan surga maka manusia harus melakukan kebaikan dan yang tidak melakukan kebaikan dipastikan akan dapat masuk beraka. Meskipun tidak diajarkan oleh Nabi atau Rasul, manusia bisa memilih dan memilah mana perbuatan yang baik dan mana perbuatan yang jelek. Masyarakat memiliki hukumnya sendiri tentang kebaikan dan keburukan. Pandangan kaum qadariyah tersebut melebih-lebihkan takdir dibandingkan dengan kepastian atau takdirnya. Manusia dapat menentukan takdirnya sendiri. Tuhan tidak terlibat di dalam persoalan takdir.

Kemudian terdapat kaum ahli sunnah wal jamaah dalam aspek tauhid, yaitu kaum yang menyeimbangkan antara takdir dan ikhtiar. Keduanya merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Takdir memang sudah dibuat akan tetapi ada peran manusia di dalam menjalankan takdir tersebut. Tidak serta merta.  Dikenal ada takdir yang bersifat mubram atau kepastian yang tidak akan berubah selamanya, dan ada takdir yang bersifat muallaq atau melalui usaha yang diberikan  kepada manusia. Bahkan orang yang sebenarnya ditakdirkan untuk masuk neraka, akan tetapi karena yang bersangkutan berupaya untuk melakukan kebaikan di dalam kehidupan di dunia, maka Allah memberikan peluang untuk masuk surga. Orang yang ditakdirkan untuk bodoh, bisa berubah menjadi pintar karena Upaya yang dilakukannya. Ibnu Hajar Al Askolani, adalah seorang murid yang tidak cemerlang otaknya atau pembelajar lambat, akan tetapi karena upayanya untuk bekerja keras dalam belajar, maka akhirnya menjadi pembelajar yang unggul. Namanya Ibnu Hajar atau Anak Batu itu merupakan sebutan karena lambatnya di dalam menyerap pembelajaran. Akan tetapi seperti batu, meskipun keras akan tetapi dengan tetesan air terus menerus, akhirnya batu itu bisa lobang. Ada orang ingin membelah batu dan sudah memukulnya 100 kali ternyata batu itu tidak terbelah, lalu datang orang lain yang hanya memukul dengan 10 kali pukulan kemudian batu terbelah. Secara kepastian atau takdirnya bahwa batu itu memang akan terbelah dalam 110 kali pukulan.

Menyeimbangkan antara ikhtiar, doa dan tawakkal atau usaha, doa dan pasrah adalah bagian dari cara berpikir teologis tentang takdir. Ada orang yang sakit lalu dibiarkan saja, tentu  lama-kelamaan akan mati, akan tetapi ada orang yang sakit kemudian diupayakan untuk berobat, lalu didoakan dan pasrah kepada Allah, maka yang bersangkutan atau orang yang sakit tersebut akan memiliki dua peluang mati atau sehat. Jika mati maka itulah takdirnya dan jika sehat itu adalah takdirnya. Jadi harus ada usaha dulu, dan baru menyatakan itulah takdirnya. Bukan menyatakan kalau takdirnya masih hidup tentu akan hidup atau  obati saja pasti akan sehat.

Makanya, ungkapan “menjemput takdir” adalah ungkapan yang khas yang menyeimbangkan antara ketentuan Tuhan dan usaha manusia. Takdir sudah ditentukan, akan tetapi manusia diberikan kekuatan atau potensi untuk berusaha. Jika ingin pintar maka harus belajar, jika ingin kaya maka harus berusaha untuk menjadi kaya, dan jika ingin sehat maka harus berusaha untuk sehat.

Wallahu a’lam bi al shawab.