Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

BERDOA PADA BULAN RAJAB DAN SYA’BAN UNTUK KEBERKAHAN

BERDOA PADA BULAN RAJAB DAN SYA’BAN UNTUK KEBERKAHAN

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Jika saya pulang ke Tuban, maka seakan menjadi kewajiban saya untuk memberikan asupan beragama pada jamaah shalat shubuh di Mushalla Raudhatul Jannah  di depan rumah saya. Jamaah shalat Subuh tersebut adalah kawan-kawan saya di masa kecil. Usianya nyaris sama. terpaut dua tahun lebih muda dan ada yang terpaut dua tahun lebih tua dari saya. Jika saya pulang terasa mengenang kembali masa-masa bersama-sama dalam kelompok bermain di masa lalu. Acara tersebut terselenggara, 15/02/2026.

Saya memberikan asupan jiwa tentang betapa senangnya karena kita akan bertemu kembali dengan Bulan Puasa atau Bulan Ramadlan, bulan yang dinantikan oleh umat Islam karena keistimewaannya. Allah SWT memang menjadikan Bulan Ramadlan sebagai bulan Istimewa, yang Allah akan melipatgandakan amal kebaikan yang dilakukan oleh umat Islam. Amalan kebaikan bisa diganjar oleh Allah dengan kelipatan bertubi-tubi, ada yang 10 kali, 100 kali dan sebagainya. Semua amal kebaikan akan dilipatgandakan pahalanya. Berdzikir, shalat, sedekah dan amal kebaikan lainnya akan diberikn pahala berlipat-lipat.

Doa yang kita lantunkan kepada Allah SWT berbunyi: “Allahumma bariklana fi Rajab wa Sya’ban wa ballighna Ramadlan”. Artinya: “Ya Allah berkahi kami pada bulan Rajab, bulan Sya’ban dan pertemukan kami dengan bulan Ramadlan”. Sebuah doa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW untuk kita amalkan. Dan insyaallah doa ini sudah kita amalkan. Dan yang membuat kita bersyukur karena insyaallah kita akan dipertemukan dengan bulan Ramadlan. Kita tentu tidak tahu takdir kita, sebab takdir adalah kewenangan Allah, yang kita tidak bisa mengetahuinya. Akan tetapi indikatornya adalah kita semua masih sehat menjelang puasa, yang tinggal menghitung hari. Insyaallah puasa itu tanggal 18 Februari 2026 atau hari Rabo yang akan datang. Kita hari ini masih bisa shalat subuh berjamaah dan kita masih segar bugar sesuai dengan usia kita masing-masing.

Allah masih memberi peluang kepada kita semua untuk bisa bertemu dengan bulan Ramadlan. Artinya kita masih diperkenankan untuk menjalankan ibadah puasa dan ibadah-ibadah lain yang diutamakan pada bulan puasa. Inilah kenikmatan yang luar biasa yang diberikan oleh Allah kepada hambanya yang patuh kepada-Nya. Meskipun kita tidak sampai memasuki Islam secara benar-benar kaffah, akan tetapi hal-hal yang prinsip di dalam Islam sudah kita lakukan, khususnya shalat dan dzikir yang mampu kita lakukan.

Di dalam literatur Islam dinyatakan bahwa berkah adalah bertambahnya kebaikan. Jadi artinya di kala kita berdoa agar diberkahi Allah pada bulan Rajab dan Sya’ban, maka kita berharap agar Allah memberikan tambahan kebaikan kepada kita. Kebaikan dalam hablum minallah dan hablum minan nas. Kebaikan dalam beribadah kepada Allah dalam banyak hal, dan semakin bisa melakukan kebaikan untuk manusia. Kebaikan kepada manusia itu memiliki dua sisi, yaitu baik kepada manusia sekaligus juga mendapatkan kebaikan dari Allah SWT. Semua ibadah kita yang bercorak kemanusiaan dipastikan di dalamnya terdapat kebaikan kepada Allah.  Jadi seperti pedang bermata dua. Satu sisi ketajamannya untuk Allah dan satu sisi ketajamannya untuk manusia. Dengan melakukan kebaikan kepada sesama manusia maka akan mempertajam rasa kehadiran Allah di dalam diri kita dan akan mempertajam rasa kemanusiaan yang berupa kasih sayang kepada sesama hamba Allah.

Pada bulan Rajab dan Sya’ban Allah akan mendatangkan keberkahan kepada umat Islam yang suka beribadah kepadanya. Keberkahan itu didapatkan dari Allah sehingga hidup menjadi tenang, damai, bahagia dan penuh manfaat. Manfaat bagi diri sendiri, keluarga dan umat manusia lainnya. Ketenanagan hidup dalam rumah tangga dan dalam kehidupan bermasyarakat. Misalnya ditandai dengan keberhasilan anak-anak di dalam menjalani kehidupannya. Pendidikannya dan pekerjaannya, serta uang yang didapatkannya bermanfaat bagi keluarganya. Bahkan dapat menginfakkan atau mensedekahkan sebagian kecil hartanya untuk kepentingan kemanusiaan. Keberkahan harta bukan terletak pada banyaknya akan tetapi kemanfaatannya. Ada harta banyak tetapi tidak bermanfaat untuk diri, keluarga dan masyarakat yang tentu tidak bisa dinyatakan sebagai harta yang berkah. Harta yang cukup tetapi bermanfaat jauh lebih baik dibandingkan dengan harta banyak tetapi tidak bermanfaat.

Ada banyak orang yang keliru dalam memandang harta. Sering diungkapkannya bahwa harta yang banyak adalah kenikmatan. Pernyataan ini tidak salah tetapi jika kenikmatan itu tidak membawa kemanfaatan untuk diri, keluarga dan masyarakat,  maka tentu bukan kenikmatan. Sebuah kenikmatan yang sementara itu bukanlah kenikmatan yang abadi. Hari ini dan sebulan ke depan nikmat, akan tetapi pada tahun berikutnya justru menemui kesengsaraan. Harta yang banyak dapat memenuhi keinginan jasad, akan tetapi kenikmatan jasad belum tentu menjadi kenikmatan jiwa dan rohani. Islam mengajarkan bahwa kenikmatan itu mencakup kenikmatan biologis, kenikmatan jiwa dan kenikmatan rohani. Inilah hakikat kenikmatan tersebut.

Nikmat hidup itu terletak pada badan yang sehat, dan dengan kenikmatan tersebut maka  seseorang dapat melakukan ibadah kepada Allah dengan sempurna dan juga dapat berlaku baik untuk manusia. Inilah makna doa keberkahan yang kita lantukan. Khususnya keberkahan pada bulan Rajab dan Sya’ban.

Doa yang kita lantunkan pada bulan Rajab dan Sya’ban merupakan doa agar kita dapat melaksanakan puasa ramadlan yang dapat menenangkan jiwa, membawa kedamaian di dalam hidup dan dapat membawa keselamatan diri dan keluarga kita.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

 

SULTHAN DALAM MAKNA MELINTASI JAGAD RAYA

SULTHAN DALAM MAKNA MELINTASI JAGAD RAYA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Alqur’an merupakan kitab suci yang harus diyakini kebenarannya. Tidak boleh sedikitpun umat Islam meragukannya. Mempercayai kitab suci termasuk salah satu dari rukun iman yang berjumlah enam hal.mempercayai Allah, malaikat, kitab suci, rasul, takdir dan hari akhir. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Hadits Nabi tentang Iman, Islam dan ihsan. Rukun iman tersebut harus diyakini dengan seganap hati dan pikiran tanpa keraguan sedikitpun.

Acara tahsinan Jamaah Ngaji Bahagia atau Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) sampailah pada Surat Ar Rahman, pada ayat 33, yang artinya adalah: “Wahai golongan Jin dan manusia jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka tembuslah. Kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan (dari Allah)”. Ayat ini menegaskan bahwa manusia akan dapat menguasai atau menembus dan melintasi alam raya tetapi dengan kekuatan dari Allah SWT.

Coba kita perhatikan beberapa kosa kata di dalam ayat ini, yaitu “jika kamu mampu”, “menembus langit dan bumi”, diperintahkan oleh Allah “tembuslah atau lintasi” dan ada kekuatan Allah yang menyertai upaya dimaksud. “inistatha’tum”, “min aqatharis samawati wal ard”, “fanfudzu”, “illa bisulthan”. Yang arti harfiyahnya adalah “jika berkemampuan” atau pengandaian berkemampuan, menembus atau melintasi langit dan bumi, perintah untuk menembusnya atau melintasinya dan semua bisa terjadi karena kekuatan Allah SWT.

Kata sulthan dinyatakan sebagai kekuatan atau bisa juga bermakna kekuasaan. Itulah sebabnya di Nusantara dikenal istilah Sultan atau penguasa atau pemimpin. Sultan Trenggana, Sultah Hadiwijaya, Sultan Agung Hanyakrakusuma, dan sebagainya. Tidak hanya di Jawa tetapi juga dikenal di Sulawesi, seperti Sultan Hasanuddin, di Aceh seperti Sultan Malikus Saleh, dan sebagainya.

Saya mencoba untuk memahami kata “sulthan” dalam tiga kategori, yaitu: pertama,  sulthan dalam konteks ilmu pengetahuan. Kekuatan atau kekuasaan itu ada kaitannya dengan ilmu pengetahuan yang dapat dikuasai oleh manusia. Di dalam dunia ilmu pengetahuan dalam kaitannya dengan menembus atau melintasi alam raya adalah di kala manusia bisa menjejakkan kakinya di bulan.

Pesawat Antariksa Apollo 11 yang diproduksi oleh Amerika Serikat dapat mencapai bulan dalam rangka penyelidikan atas bulan sebagai salah satelit alam  di luar bumi yang bisa dikaji. Pesawat Antariksa Apollo diterbangkan ke bulan pada  16-24 Juli 1968. Setelah itu lalu berulang kali Amerika dan Uni Soviet menerbangkan Pesawat Antariksa ke planet yang dekat dengan bumi, misalnya Mars. Manusia dengan kemampuan ilmu pengetahuan yang dikuasainya dapat mencapai planet lain yang di masa sebelumnya dirasakan tidak mampu dilakukannya.

Sebenarnya banyak sarjana Muslim yang mengkaji mengenai astronomi, seperti bulan dan planet-planet lain berdasarkan pemikiran empiris rasional atau bisa juga menggunakan pemikiran intuitif. Misalnya Al Biruni yang mengkaji tentang keliling bumi, atau Al Battani yang mengkaji tentang katalog Bintang dan lain-lain. Peredaran matahari atau bulan mengelilingi bumi dan planet-planet lain sudah dikaji secara ilmiah oleh para ahli. Namun secara empiric baru dilakukan eksperimennya melalui temuan pesawat Antariksa yang dapat menembus di luar orbit bumi.

Kedua, sulthan dalam arti menembus atau melintasi alam raya dengan ilmu spiritual atau kekuatan ilmu yang dikaruniai oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Tentu saja ada manusia yang memiliki kekuatan atau kekuasaan untuk memahami alam raya dengan mata batinnya. Dengan kekuatan indra keenam, manusia dapat menembus waktu atau tempat dengan mata ilmu batiniyahnya. Di dalam Islam disebut sebagai ilmu laduni atau ilmu yang didapat dari Allah secara langsung tanpa melalui pembelajaran secara konvensional . Yaitu ilmu yang didapatkan dari karunia Allah kepada hambanya yang memenuhi persyaratan untuk memperolehnya. Ada riyadhah yang dilakukannya agar bisa sampai kepada tahapan ini. Dengan kekuatan batinnya, ada seseorang yang bisa menabak masa depan dengan ketepatan yang akurat. Orang bisa membaca masa lalu dengan akurasi yang memadai. Ada orang yang bisa berjalan di atas air, atau mampu menembus api yang panas atau mampu melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang awam. Bisa disebut sebagai ilmu kasyaf atau ilmu hikmah atau ilmu karamah. Jika Nabi disebut sebagai mu’jizat dan jika kekasih Allah, misalnya para waliyullah disebut sebagai karamah atau keutamaan atau kemulyaan.

Ketiga, orang yang mampu menembus alam lain. Ada alam kasunyatan atau alam dunia dan alam gaib. Alam kasunyatan dihuni oleh manusia dan benda-benda lain yang bersifat fisikal, dan ada alam gaib yang dihuni oleh makhluk Allah yang gaib misalnya jin atau makhluk gaib lainnya. Allah bisa memberikan ilmu kepada hambanya yang berusaha dengan segenap upayanya untuk bisa masuk ke dalam alam gaib. Bisa berkomunikasi dan bahkan bisa hidup dalam dua alam sekaligus. Orang awam seperti kita tentu saja tidak mampu untuk memasuki alam lain, karena kita tidak memiliki kemampuan untuk memahaminya.

Allah itu maha kasih dan sayang, maha Rahman dan Rahim, sehingga Allah akan dapat memberikan kemampuan yang luar biasa kepada hambanya yang memang bisa melakukannya. Bagi kita yang penting, percaya saja bahwa ada kekuatan yang bisa diberikan Allah kepada hambanya. Tetapi yang sangat penting adalah meyakini atas rukun iman.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

 

 

NABI ADAM SEBAGAI MANUSIA PERTAMA

NABI ADAM SEBAGAI MANUSIA PERTAMA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Pengajian pagi di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya sungguh menjadi pengajian yang menarik minat anggotanya. Meskipun jumlah anggotanya tidak banyak, akan tetapi termasuk jamaah yang rajin. Nyaris setiap pengajian hadir kecuali ada uzur yang memang tidak bisa dihindarinya. Meskipun yang menjadi anggota ada yang masih menjabat di pemerintahan atau yang mantan pejabat dalam birokrasi dan orang penting lainnya, status social yang berbeda, akan tetapi keakraban dan kebersamaan tidak perlu dipertanyakan lagi. Kompak.

Pada acara tahsinan, saya menyampaikan bahwa manusia sesungguhnya merupakan satu kesatuan bersaudara. Semua manusia berasal dari keturunan Nabi Adam AS dan Sayyidati Hawwa, sebagai pasangan suami istri pada penciptaan pertama. Konon untuk menikahkannya, maka maharnya adalah kalimat tauhid “la ilaha illallah, Muhammadur Rasulullah”. Mungkin kita bisa bertanya: “bagaimanakah kalimat tersebut menjadi mahar dalam perkawinan Nabi Adam dan Hawwa yang diciptakan Allah terlebih dahulu? Maka jawabannya, bahwa Nur Muhammad itu sudah diciptakan Allah terlebih dahulu sebelum Allah menciptakan alam seisinya.

Sebagai Tuhan yang Maha Mencipta dan Maha Memelihara, tentu saja Tuhan memiliki kekuasaan untuk melakukan sesuatu sesuai dengan design besar atas penciptaan alam semesta dan manusia. Penciptaan Muhammad dalam bentuk fisik dan roh memang datang belakangan, akan tetapi hakikat Muhammad sebagai Cahaya Tuhan sudah diciptakan terlebih dahulu. Di dalam kitab klasik, yang dikaji di dunia tarekat, misalnya Dakhoikul Akbar, dinyatakan bahwa Nur Muhammad diciptakan terlebih dahulu, sebelum Allah menciptakan alam dan seluruh tata surya.

Sebagai akibat konflik keluarga, maka yang tersisa hidup adalah keturunan Qabil. Habil wafat terbunuh sebelum memiliki keturunan, maka kemudian dilahirkan Syits yang kemudian menggantikan Nabi Adam AS. Dari Nabi Syits kemudian melahirkan nabi-nabi dalam jumlahnya yang banyak, yang berfungsi untuk merawat umat manusia agar berada di dalam kebaikan. Keturunan Qabil tentu masih ada sisa-sisanya dan kemudian menjadi kelompok yang selalu memusuhi ajaran Nabi-Nabi. Bisa jadi kaum Nabi Nuh juga ada sebagian yang merupakan keturunan Qabil, dan ada sebagian yang kerurunan Nabi Syits. Demikian  umat Nabi Hud, umat Nabi Ilyas, umat Nabi Shaleh hingga Nabi Muhammad SAW.

Ada beberapa temuan science yang menginformasikan bahwa sudah terdapat makhluk di Bumi yang usianya bahkan ratusan tahun sebelum masehi. Artinya jauh sebelum Nabi Ibrahim. Sayangnya saya tidak bisa menyebutkan apakah makhluk tersebut sudah berupa manusia, meskipun tidak sama dengan umat manusia yang sekarang, akan tetapi  temuan-temuan artefaks tersebut mengindikasikan bahwa mereka bukan manusia yang diciptakan sempurna seperti kita, akan  tetapi  berpeluang ada yang serupa dengan manusia.

Ada juga tulisan yang menyatakan bahwa Nabi Adam bukan manusia pertama, yaitu tulisan Agus Musthofa dari Malang. Dengan pendekatan dekonstruksi atau mencoba berpikir dan berpendapat lain, dinyatakannya, bahwa Adam bukan manusia manusia pertama, tetapi rasul dan pemimpin manusia pertama. Berpendapat tentu boleh saja, tetapi jika merujuk kepada semua teks suci agama-agama Semitis, Yahudi, Nasrani dan Islam, maka baik teks Taurat, teks Injil dan teks Alqur’an menyatakan bahwa Adam AS adalah manusia pertama yang diciptakan Allah melalui tanah dan dengan kekuasaan-Nya jadilah manusia yang kemudian dinamai Adam. Dari situ kemudian diciptakan Hawwa yang menjadi pasangannya.

Adam merupakan manusia pertama yang kemudian menghasilkan orang-orang yang tidak patuh atas kebenaran wahyu yang dibawa oleh Nabi-Nabi berikutnya dan juga menghasilkan keturunan yang selalu patuh kepada wahyu yang disampaikan oleh Rasul dan Nabiyullah.

Di antara keturunan yang menjadi pewaris kenabian adalah Nabi Syits, Nabi Nuh, Nabi Hud dan seterusnya sampai kepada Nabi Muhammad SAW.

Persebaran manusia ke seluruh dunia dimulai dari Nabi Nuh AS. Setelah banjir besar yang merupakan peristiwa sejarah, bukan fiksi, maka ada tiga putranya yang kemudian menjadi sumber sejarah kemanusiaan. Yaitu Syam yang kemudian melahirkan keturunan di Timur Tengah dan ke timur,  Yafeth yang melahirkan keturunan di Eropa dan Ham  yang melahirkan keturunan di Afrika. Di dalam kajian etnis, maka dikenal ada tiga ras manusia, yaitu Negroid, Kaukasoid dan Mongoloid.

Rasullah pernah menyatakan bahwa Sam menurunkan bangsa Arab, Ham menurunkan bangsa Habsyah, dan Yafeth menurunkan bangsa Rum. Secara akliyah, maka bisa dinyatakan bahwa Yafeth menurunkan etnis Kaukasoid yang membenrang dari daratan Eropa ke barat dan Timur, Ham menurunkan etnis Negroid yang membentang di seluruh Afrika dan Sam menurunkan Etnis Kaukasoid yang  membentang dari Arab sampai china.

Tentu dalam waktu yang panjang kemudian terjadi perkawinan silang, antara etnis Kaukasoid dan Mongoloid dan antara keduanya dengan ras Negroid. Itulah yang menyebabkan terjadinya berbagai perubahan secara fisikal di antara manusia di dalam etnis-etnis tersebut. Perubahan secara fisikal juga misalnya terjadi pada manusia di Amerika Selatan yang kulitnya cenderung kemerah-merahan. Atau bangsa China, Jepang dan Korea yang cenderung matanya sipit. Bangsa Indonesia juga merupakan campuran dari berbagai macam etnis, sehingga berdasarkan haplogroup ternyata memiliki campuran antara etnis China, Arab, Asia Selatan lainnya.

Memang secara genealogi keturunan, berdasarkan teks suci agama-agama, bahwa kakek-nenek  moyang manusia di dunia adalah Nabi Adam AS. Nabi Adam bukanlah tokoh fiktif yang sengaja diciptakan oleh para agamawan, akan tetapi merupakan kenyataan historis, sebab bukan hanya interteks yang membenarkannya akan tetapi juga crossteks. Semua agama Semitis membenarkannya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

RELASI SOSIAL DEKAT TETAPI JAUH DI ERA MEDSOS

RELASI SOSIAL DEKAT TETAPI JAUH DI ERA MEDSOS

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Ada salah satu efek positif dari media social adalah menciptakan hubungan social yang menjadi dekat bahkan sangat dekat. Kita bisa melakukan komunikasi social kapan saja, dan di mana saja. Selama ada sinyal di handphone, maka kita dapat melakukan relasi social dengan enak dam nyaman. Media social dapat mendekatkan jarak antara sesama manusia karena tidak terhalang oleh jarak dan tempat. Dunia mampu dilipat dalam jarak dan tempat yang sedemikian factual

Pada waktu terdapat Pandemi Covid-19, maka salah satu yang menghubungkan relasi social adalah media social. Di kala terdapat kebijakan social distancing dan physical distancing, maka yang menjadi penghubung efektif adalah media social. Kita dapat bertanya kesehatan keluarga kita yang jauh, tidak hanya bermukim di Indonesia akan tetapi juga yang di luar negeri, karena media social dimaksud. Beruntunglah berkat kecanggihan teknologi imformasi, maka kita tetap bisa saling menyapa antara satu dengan lainnya.

Tidak hanya itu, para mahasiswa yang berbeda tempat juga mampu mengikuti perkuliahan dengan baik. Ada banyak mahasiswa yang menyelesaikan pendidikannya dan hanya beberapa kali datang ke kampusnya. Masih untung. Bahkan mungkin juga ada yang tidak sama sekali pernah tahu tempat kuliahnya. Perkuliahan dapat dilakukan dengan system dalam jaringan (daring) sehingga dapat mencapai kelulusan dengan sempurna. Tidak terhitung berapa jumlah mahasiswa yang dapat menyelesaikan pendidikannya dengan model pembelajaran jarak jauh karena keterbatasan program pendidikan tatap muka.

Yang saya ceritakan di atas ini adalah dampak positif dari media social. Dengan WhatsApp, Zoom, Google Meet, dan Google Class Room, dan sebagainya, maka perkuliahan atau seminar bisa dilakukan. Akan tetapi ada juga yang menurut saya bagian dari negativitas penggunaan media social, yaitu fenomena orang berada di dalam kedekatan di dalam jarak social, akan tetapi jauh fokusnya. Mereka di dalam relasi social yang berdekatan tetapi masing-masing memiliki focus berbeda dalam relasi sosialnya.

Hari Sabtu, 31/01/2026, saya pergi ke Lampung. Tentu dengan transit terlebih dahulu di Bandara Juanda. Dan seperti biasa, saya menyempatkan minum kopi, biasanya Capuchino tanpa gula, dalam waktu kira-kira satu jam. Lama juga. Sambil menunggu keberangkatan, maka saya sempatkan untuk menulis artikel. Yang saya tulis adalah artikel yang berjudul “Pendidikan Tinggi Islam Masa Depan: Pengaruh Humanoid Pada Pendidikan Islam” telah dimuat di nursyamcentre.com pada tanggal 02/02/2026.

Saya akan menceritakan tentang apa yang saya temui di lapangan terkait dengan penggunaan media social. Ada sepasang suami-isteri. Tampak dari luar seperti pejabat. Dari tampilan dan sosoknya menggambarkan bahwa mereka adalah orang berada atau kelompok happiness. Mereka minum berdua dan makan-makanan ringan. Mereka berhadapan dalam satu meja. Akan tetapi mereka sibuk dengan membaca dan membalas pesan WA. Bisa dari temannya atau relasinya. Keduanya sedemikian asyik sehingga nyaris tidak ada perkataan apapun dari keduanya.

Saya duduk di sebelahnya dengan menulis artikel di atas. Sesekali saya perhatikan. Tentu dengan mencuri-curi pandang. Nyaris satu jam dan mereka tetapi berada di dalam posisi memegang HP dan berjawab-jinawab dalam media social. Sampai suatu saat, suaminya akan ke toilet, dan kemudian pamit kepada isterinya “Ma saya ke toilet”. Dan tidak ada satu katapun dari isterinya, sebab masih asyik dengan HPnya. Jadi focus perhatian isterinya hanyalah ke HP dan bukan hal-hal di sekitarnya. Sungguh sebuah “ironi” dalam relasi social yang terjadi.

Saya lalu berpikir, sedemikan jauhnya relasi social suami-isteri padahal mereka berdua dalam suatu moment yang sama, di tempat yang sama, dan berada di dalam hubungan yang mestinya sangat dekat, suami dan isteri. Tetapi inilah fakta empirisnya, bahwa dewasa ini di tengah semakin powerfull-nya media social ternyata memiliki dampak yang nyata yaitu adanya kerenggangan atau adanya distansi social dalam relasi kehidupan rumah tangga.

Kehidupan memang mengalami perubahan seirama dengan perubahan social yang terjadi. Salah satunya adalah munculnya kerenggangan dan ketegangan social dalam relasi suami isteri. Hubungan suami isteri sebenarnya sangat dekat, akan tetapi masuknya media social di dalam relasi social suami-isteri dapat meningkatkan resiko ketegangan social dan kerenggangan social. Berdasarkan penelitian, banyak pengaruh media social atas perkawinan, misalnya yang menyebabkan gangguan dalam rumah tangga. Seseorang bisa cekcok dengan pasangannya karena media social, terutama WhatsApp. Mereka berada di dalam satu rumah bahkan satu tempat tidur akan tetapi masing-masing membuka HP-nya dengan focus yang berbeda. Isteri melihat tayangan makanan, sementara  suami nonton bola. Masing-masing sibuk dengan tiktok atau youtube-nya masing-masing.

Di dalam teori uses and gratification, dinyatakan bahwa terdapat dampak teknologi informasi pada hubungan interpersonal. Berdasarkan teori “penggunaan dan kepuasan” tersebut relasi social interpersonal dapat dipengaruhi oleh bagaimana penggunaan media social dan bagaimana kepuasan yang didapatkannya.

Kita lalu bisa bertanya kepada diri kita masing-masing, apakah kita termasuk yang seperti ini. Kita berdekatan dengan orang yang paling dekat dengan kita, istri atau suami, akan tetapi ternyata kita berada di dalam ruang kehidupan yang jauh dan berbeda focus. Mari kita introspeksi.

Wallahu ‘alm bi al shawab.

PERILAKU PERMISSIVE

PERILAKU PERMISSIVE

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Kehidupan di era sekarang adalah kehidupan yang serba boleh. Apapun bisa dilakukan yang penting tidak mengganggu orang lain. Ini merupakan contoh di mana seseorang menempatkan dunia privasi di atas dunia kehidupan social. Artinya, bahwa jika selama secara privat tidak mengganggu orang,  maka selama itu boleh dilakukan. Pandangan ini merupakan bentuk kehidupan yang memisahkan antara yang privat dengan yang public sedemikian mencolok, sehingga seakan-akan manusia itu hidup di alam sendirian.

Kehidupan yang mengedepankan kepentingan privat ketimbang kehidupan social adalah kehidupan binatang. Dalam  arti hubungannya dengan binatang lain. Sebab hewan sesungguhnya juga memiliki solidaritas yang kuat di antara sesama jenisnya. Misalnya hewan dubug atau heyna yang hidup berkelompok dengan sesamanya dan saling menolong terhadap sesamanya. Demikian pula yang lain.

Saya mencoba mengenalnya bahwa manusia yang hanya mementingkan dirinya sesungguhnya memiliki sifat kebinatangan atau sifat hayawaniyah yang jauh lebih besar ketimbang nafsu sosialiyahnya atau nafsu ijtimaiyahnya. Di era kapitalisme seperti ini, maka sifat manusia kembali kepada sifat hakikinya yang berupa sifat nafsi-nafsi atau sendiri-sendiri. Sesungguhnya sifat seperti ini sudah ada semenjak manusia diciptakan Tuhan untuk tahap awal. Kita masih ingat cerita tentang Qabil dan Habil yang menghiasi sejarah agama-agama Semitis di dunia. Yahudi, Nasrani dan Islam.

Saya ingin memberi contoh tentang perilaku seseorang yang saya lihat secara empiric sensual atau dengan pengamatan mata. Saya naik pesawat terbang dari Surabaya ke Jakarta, dan terus dari Jakarta ke Lampung, 30/01/2026. Terdapat seorang penumpang yang pakaiannya sangat minim. Perempuan dengan celana pendek. Pendek sekali. Baju yang atas juga kurang sekali. Perempuan ini berada di samping saya, sehingga saya tahu bagaimana dia naik pesawat dan duduk di kursi. Kedua kakinya naik ke kursi. Masih untung karena memakai syal untuk menutupi kedua kakinya. Orang Jawa menyebut: “ora ilok,  atau tidak pantas atau tidak etis.

Bagi kaum etikawan atau orang yang memandang etika sebagai basis keberadaan seseorang di ruang public tentu sangat terganggu. Maklum biasanya kaum etikawan atau agamawan itu selalu menjadikan norma-norma agama atau etika sebagai tolok ukurnya. Makanya, di kala kaum agamawan atau etikawan tersebut mengetahui hal ini, maka langsung di dalam hati akan menyatakan: “ini kemaksiatan tubuh”.

Kata maksiat tentu sebuah ungkapan yang memiliki konsekuensi hukum agama. Bahwa yang dilakukan adalah dosa, sebab seharusnya tubuh perempuan harus tertutup. Yang boleh diperlihatkan adalah wajah dan tangan atau jari-jarinya. Bahkan kaum Salafi Wahabi menyatakan semua tubuh perempuan adalah aurat, maka wajahpun harus dihias dengan niqab atau cadar. Semua tubuhnya tertutup secara menyeluruh. Orang Jawa menyatakan berukut. Inilah ajaran agama yang diyakini kebenarannya dan harus dilakukan di dalam kehidupan. Makanya jika kita berada di Arab Saudi, kita akan melihat betapa banyaknya perempuan yang memakai niqab dimaksud.

Bagi kaum agamawan, maka membuka aurat perempuan juga mengganggu orang lain. Akan menyebabkan terjadinya kemaksiatan mata atau ma’shiyatul ‘ain. Bagaimana tidak akhirnya juga ada orang yang secara terpaksa atau tidak terpaksa untuk menatapnya. Saya menjadi ingat tayangan di Youtube yang menyatakan: “dilihat maksiat tidak dilihat barang bagus”. Ini adalah gambaran yang terjadi jika di sekitar kita terdapat perilaku kemaksiatan.

Perilaku permissive banyak dilakukan pada masyarakat Barat. Saya pernah ke Kanada,  Belanda, Perancis dan Amerika. Tentu melihat lelaki dan perempuan muda yang  berciuman di jalan raya itu  bukan hal yang aneh. Biasa saja. Mereka berpikir bahwa mereka berdua tidak mengganggu orang lain. Ini urusan privat. Suka sama suka. Tidak ada yang dirugikan. Inilah wujud nyata dari yang saya sebut sebagai perilaku privat. Di dalam bahasa Orang Betawi dinyatakan: “ini urusan gue, bukan urusan elu”.

Di dalam pandangan kaum materialis, bahwa tubuh manusia itu adalah materi. Sebuah susunan materi yang terdiri dari daging, darah, saraf dan tidak ada di dalamnya urusan roh, jiwa dan sebagainya. Pokoknya materi. Karena materi,  maka kematian sesungguhnya adalah di kala bagian-bagian tubuh tersebut rusak, misalnya jantung, paru-paru, ginjal dan lain-lain. Jika kekuatan paru-paru tinggal 30 persen maka pertanda kehidupan akan berakhir. Mati.

Sebagai benda  juga akan mengikuti hukum materi. Tidak ada yang lebih dari itu. Secara alami benda  tidak perlu tertutup. Makanya di Barat terdapat kaum nudis. Back to nature. Menjadi bugil adalah kembali ke alam. Ada mall yang seluruh penjaga dan pengunjungnya harus menanggalkan pakaiannya. Sedangkan berpakaian adalah nurture atau budaya.

Berpakaian adalah hasil konstruksi manusia tentang tradisi berpakaian. Ada nilai-nilai di dalam berpakaian.  Orang Jawa Perempuan dulu berpakaian dengan kemben atau atasannya atau di atas dada terbuka dan tanpa jilbab. Di Jawa, jilbab disebut sebagai kerudung. Yaitu kain yang dililitkan di kepala dengan pakaian atasan dan jarit atau bawahan yang tertutup. Ini adalah tradisi berpakaian hasil dari pemikiran local dan tradisi dalam berpakaian.

Tubuh sebagai benda dapat diperlakukan sesuai dengan kehendak yang punya. Mau ini atau mau itu sangat tergantung kepada yang empunya tubuh. Beyonce Knowls, American Singer, song writer and actress,  pernah menyatakan dalam bahasa saya: “saya tidak perduli apa yang dikatakan orang terhadap penggunaan alat kelamin saya”. Jadi, kemaluan hanyalah alat kelamin yang bisa diperlakukan apa saja tergantung pada yang memilikinya.

Wallahu a’lam bi al shawab.