Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

MENGAWALI SIANG DAN MALAM DENGAN NAMA ALLAH

MENGAWALI SIANG DAN MALAM DENGAN NAMA ALLAH

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Jika saya di rumah Tuban, di Dusun Semampir, Desa Sembungrejo, Kecamatan Merakurak, Tuban, lalu tidak memberikan sedikit ceramah agama, rasanya ada yang kurang. Tetapi karena waktunya bersamaan dengan nuansa duka, wafatnya Emak Hj. Turmiatun, maka dalam sepekan hanya sempat dua kali saja ceramah agama, yaitu terhadap Ibu-Ibu Jamiyah Tahlilan dan Yasinan serta ceramah bad’a shubuh berjamaah di Mushalla Raudlatul Jannah di dusun tersebut. Jumat, 14/11/2025.

Seperti biasanya, maka jamaah shalat Shubuh berjamaah diikuti oleh kawan-kawan saya di kala kecil. Waktu sekolah dasar di SDN Semampir, Sembungrejo,  Merakurak,  Tuban. Selama saya di Tuban, maka kami shalat berjamaah di Mushalla di depan rumah. Saya yang selalu didapuk menjadi imam, terutama untuk shalat magrib, isya’ dan shubuh. Senang juga rasanya bisa bersama mereka sebagaimana di waktu kecil. Ternyata usianya sekarang sudah di atas 65-tahunan semua.

Ada tiga hal yang saya sampaikan di dalam ceramah saya, yaitu: pertama, betapa senangnya kita semua itu karena setiap hari memulai siang hari dengan shalat jamaah dan berdoa kepada Allah SWT melalui shalat jamaah shubuh,  kemudian bekerja di tempatnya masing-masing, dan di malam hari juga dimulai dengan shalat jamaah maghrib untuk memulai kegiatan malam hari, yaitu istirahat setelah seharian bekerja. Inilah yang saya sebut sebagai kebahagiaan hakiki. Sebuah kebahagiaan yang dihasilkan dari menjalani ibadah kepada Allah di waktu pagi dan malam hari. Tidak semua orang bisa seperti kita ini. Orang yang dapat menyeimbangkan antara beribadah dan bekerja. Saya kira hanya sedikit orang yang bisa melakukannya. Orang yang melaksanakan ibadah shalat bisa banyak, akan tetapi yang shalat jamaah di Mushalla atau masjid sangat terbatas.

Oleh karena itu, marilah kita bersyukur kepada Allah, karena kita menjadi orang yang terpilih. Orang yang terpilih untuk menjadi umat Islam yang sadar akan posisi kita sebagai hamba Allah. Bukankah kita diciptakan Allah untuk beribadah kepada-Nya. Dan kita sudah melakukannya. Kita diciptakan oleh Allah illa liya’budun. Beribadah adalah ekspressi kepatuhan kita kepada Allah SWT.

Kedua,  kita juga bersyukur menjadi orang yang selalu berdzikir kepada Allah. Jika selesai shalat, maka selalu kita baca ayat kursi, kita baca kalimat yang mengagungkan Asma Allah, memuja dan memuji Allah dan menyucikan Asma Allah dan diakhiri dengan membaca kalimat tauhid, kalimat untuk mengesakan Allah SWT. Jadi pantaslah kalau kita disebut sebagai orang Islam yang tuntas. Shalat magrib, isya’ dan shubuh menjadi tempat bagi kita untuk berperilaku baik atau terpuji kepada Allah.

Perilaku terpuji kepada Allah itu sudah dilakukan bertahun-tahun, artinya bukan tindakan temporer atau kadang-kadang. Ada konsistensi di dalam perilaku beribadah tersebut. Allah di dalam Alqur’an meminta kepada kita untuk beriman kepada-Nya dan beristiqamah. Beriman kepada Allah secara terus menerus dan beribadah kepada Allah secara terus menerus. Dan insyaallah kita juga sudah beramal tentang kebaikan, sesuai dengan kadar kekuatan kita untuk beramal kepada manusia lainnya.

Allah menyenangi atas amal ibadah yang konsisten atau terus menerus. Bukan ibadah yang sekali banyak tetapi tidak istiqamah. Konsistensi itu menandai atas ketetapan iman kita kepada Allah. Semakin konsisten ibadah kita semakin besar iman kita kepada Allah SWT. Dan di dalam penilaian saya, kita semua ini sudah memenuhi konsistensi di dalam beribadah, sebab nyaris setiap hari kita shalat berjamaah dan berdzikir kepada Allah SWT. Jangan bertanya sedikit atau banyaknya tetapi konsistensinya.

Ketiga, bagi orang beriman dan beramal shaleh, maka dijanjikan Allah akan diganjar dengan surga. Dan orang yang ingkar akan kebenaran Allah akan diganjar dengan neraka. Pastilah kita memilih yang akan diganjar dengan surga. Dinyatakan di dalam Alqur’an: “wahai orang yang beriman dan beramal shaleh, maka bagi mereka diberikan ganjaran kebaikan yang tidak terhingga”. Adakah orang yang tidak ingin diberikan oleh Allah dengan ganjaran yang sebesar itu. Bagi orang yang beriman dipastikan akan dengan senang hati untuk  melakukan amal ibadah yang akan diberikan ganjaran besar tersebut.

Mushalla ini akan menjadi saksi bagi kita semua tentang amalan kebaikan yang kita lakukan. Setiap langkah kita ke masjid atau mushalla akan menjadi saksi atas perilaku ibadah kita. Tubuh kita, jejak kaki kita, jejak tangan kita, jejak sujud kita semua akan menjadi saksi atas amal ibadah kita kepada Allah. Maka sudah sepantasnya jika kita bersyukur dijadikan sebagai umat Islam yang beriman dan bertaqwa kepada Allah.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

MAKNA PENTING BAGI PELAKU YASINAN

MAKNA PENTING  BAGI PELAKU  YASINAN

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Meskipun masih dalam nuansa duka karena ditinggal wafat oleh Emak Saya, Hj. Turmiatun, Senin, 10/11/2025, akan tetapi tidak berarti bahwa semuanya harus berhenti, dan hanya meratapi atas wafatnya orang yang sangat dicintai. Memang, saya sangat berduka, dan dalam situasi tertentu masih keluar air bening dari mata, akan tetapi kehidupan mesti harus tetap berlangsung.

Pada Kamis malam atau malam Jum’at, 13/11/2025, saya dapat membersamai para anggota Jam’iyah Tahlil Dusun Semampir, Desa  Sembungrejo, Kecamatan Merakurak,  Tuban. Di saat itulah saya memberikan ceramah agama terkait dengan rasa syukur karena mereka semua merupakan orang yang terpilih untuk mampu beribadah kepada Allah SWT. Para anggota Jam’iyah tahlil merupakan sekelompok orang yang setiap malam Jum’at membaca tahlil dan Surat Yasin. Masyaallah betapa bahagianya.

Ada beberapa hal yang saya sampaikan dalam acara tahlilan di Mushalla Raudlatul Jannah di Dusun Semampir, Sembungrejo, Merakurak,  Tuban, yaitu: pertama, kita semua tentu patut bersyukur bahwa kita semua ini orang yang melanggengkan membaca tahlil dan yasin setiap pekan. Tidak banyak orang yang seperti kita semua ini. Bahkan jika dikalkulasi dari tujuh milyard manusia di dunia, dan  katakanlah yang beragama Islam  sebanyak 1,5 milyar, maka kita termasuk dari angka 1,5 milyar yang aktif melakukan ibadah kepada Allah, yaitu selalu membaca tahlil dan yasin sepekan sekali.

Coba jika dikalkulasi, berapa banyak orang yang bisa melakukannya. Tidak banyak. Di dusun ini ratusan perempuan, tua dan muda. Tetapi yang setiap malam Jum’at membaca yasin dan tahlil hanya ibu-ibu dan mbak-mbak yang datang di Mushalla ini. Hal ini yang membuat kita itu yakin bahwa Allah SWT pasti mendengar apa saja yang kita lakukan atau kita lantunkan. Jika membaca surat Yasin dan tahlil pasti akan mendapatkan pahala karena membaca Surat Yasin dan yang membaca kalimat tauhid, atau tahlil juga mendapatkan pahala. Jika kita membacanya untuk keluarga atau handai taulan,  maka yakinlah bahwa Allah SWT akan menyampaikannya kepada yang bersangkutan, jika sebelum membacanya didahului dengan membaca Shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, maka dipastikan shalawat tersebut akan sampai kepada Nabi Muhammad SAW dan sampai kepada Allah SWT dan limpahan pahalanya akan didapatkan pada diri kita dan juga orang yang dibacakannya.   Untuk ini pantaslah bahwa kita ini masuk orang yang insyaallah akan masuk surga-Nya Allah SWT.

Kedua,  ada lagi yang menurut saya sangat penting adalah menjalankan shalat. Setelah syahadat itu shalat. Baru yang lain, puasa, zakat dan haji, sesuai dengan rukun Islam. Makanya menjalankan shalat itu sangat penting. Ibu-ibu upayakan untuk melakukan shalat, lima waktu. Bagaimana kalau pas shalat dhuhur masih di ladang atau di sawah dalam keadaan badan yang kotor, atau sedang bepergian yang tidak mungkin melaksanakan shalat. Perlu diketahui  bahwa untuk menjalankan shalat itu harus suci. Kalau badan kena tanah dan bukan kena kotoran, atau baju kena tanah dan bukan kena kotoran, maka selama tidak kena sesuatu yang Najis, maka shalat dapat dilakukan. Ibu-ibu sedang menanam padi di sawah, pasti badannya kotor dan pakaiannya kotor, tetapi bukan karena kotoran, maka cukup wudlu, pakai mukena dan shalat. Jika masih memungkinkan maka pulang. Mandi dulu lalu shalat. Upayakan supaya shalat. Yang bepergian tunggu sampai tempatnya atau sampai rumah lalu shalat. Islam itu mudah. Jika tidak dapat melakukan shalat pada waktunya, maka bisa menjama’nya. Magrib dengan isya’ atau dhuhur dengan ashar. Waktunya bisa di depan atau di belakang. Jama’ taqdim atau ta’khir. Tidak sulit. Yang penting shalat. Kuncinya suwargo itu kalimat la ilaha illallah, isinya surga adalah orang yang melakukan shalat. Dinyatakan shalat itu tiangnya agama. Jadi kalau kita ingin mendirikan agama maka dirikanlah shalat. Kalau kita ingin mendirikan rumah maka bikin tiangnya atau temboknya dulu. Rumah itu akan menjadi rumah yang kokoh.

Ketiga,  saya berpesan kepada diri saya, supaya saya tidak lupa, dan juga berpesan kepada anggota jam’iyah tahlil agar meneruskan tradisi yang baik ini. Tradisi setiap malam Jum’at membaca tahlil dan yasin. Sebuah kebahagiaan yang mungkin tidak kita dapatkan langsung, akan tetapi kebahagiaan yang insyaallah akan kita dapatkan di akherat. Allah SWT menyatakan “man amala shalihan fa linafsihi”, “siapa yang beramal kebaikan maka untuk dirinya sendiri”. Makanya jika ibu membaca tahlil atau yasin, maka pahalanya untuk ibu sendiri dan kemudian pahala itu bisa dikirimkan kepada orang yang dituju dengan bacaan yasin dan tahlil.  Subhanallah.

Islam itu menjadi kuat karena jamaahnya kuat. Kala ibu terus terlibat di dalam jam’iyah tahlil dan yasin, maka ibu sedang memperkuat Islam, agama Allah SWT. Jika ibu terus terlibat di dalam kegiatan jam’iyah tahlil dengan aktivitas keagamaan rutin seperti ini, maka kekuatan Islam tidak akan tergoyahkan.

Yang penting jangan keliru niat. Niatnya tahlilan dan yasinan dan bukan niatnya arisan. Jika niatnya yasinan dan tahlilan, maka pasti dapat pahala dan arisan hanya menjadi bagian saja, bukan yang utama. Tetapi jika niatnya arisan, maka kita tidak dapat pahala membaca yasin dan tahlil. Jangan keliru niat.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

MENCINTAI LINGKUNGAN: BERAGAMA UNTUK MASA DEPAN

MENCINTAI LINGKUNGAN: BERAGAMA UNTUK MASA DEPAN

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Saya telah menjelaskan dua Panca Cinta dari lima Panca Cinta yang sekarang sedang menjadi bahan pembicaraan khususnya di kalangan dunia Pendidikan Tinggi Islam dan Pendidikan Tinggi Agama Kristen, Katolik, Hindu dan Buddha termasuk juga agama Konghucu. Kemudian juga menjadi pembicaraan di institusi Pendidikan Dasar dan Menengah, mulai Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah dan Madrasan Aliyah.

Kali ini, Selasa, 28/10/2025,  di dalam Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) di masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya,  saya menyampaikan tema tentang “Cinta Lingkungan”.  Ada tiga hal yang saya sampaikan, yaitu:

Pertama,    bahwa kelestarian lingkungan itu sangat tergantung kepada kehadiran manusia. Artinya, bahwa manusia memiliki peran yang sangat penting di dalam melestarikan lingkungan. Jika manusia memiliki kesadaran bahwa alam lingkungan itu tidak hanya milik kita sekarang ini, akan tetapi milik generasi yang akan datang, maka dipastikan bahwa manusia akan menjaga kelestarian lingkungan.

Alam ini bukan warisan kita kepada generasi yang akan datang akan tetapi pinjaman para generasi yang akan datang kepada kita. Sebagai pinjaman maka kita harus mengembalikannya dalam keadaan utuh dan tidak berkurang sedikitpun. Makna lain kita tidak boleh merusak alam lingkungan sebab yang akan menderita bukan kita sekarang akan tetapi generasi penerus kehidupan manusia.

Jika sekarang saja dengan deforestasi atau penggudulan hutan untuk kepentingan manusia, misalnya untuk perumahan, tempat rekreasi, villa, hotel dan kepentingan lainnya, maka akan terjadi banjir. Banjir Jakarta yang menenggelamkan wilayah Bekasi dan sekitarnya, tentu ada kaitannya dengan perusakan hutan di Kawasan Bogor atas, yang digunakan untuk pemenuhan hasrat serakah kehidupan manusia. Orang-orang kaya memilih wilayah Bogor karena udaranya yang segar lalu mereka membuat berbagai infrastruktur kehidupan yang tidak disadarinya akan menyebabkan banjir yang menenggelamkan wilayah di bawahnya, khususnya Jakarta, yang memang termasuk wilayah rendah.

Allah sesungguhnya sudah mengingatkan di banyak surat di dalam Alqur’an. Salah satu ayat di dalam Al Qur’an menyatakan di dalam Surat Ar Rum, 41: “Dhaharal fasadu fil barri wal bahri bima kasabat aidin nas”, yang artinya:  “telah terjadi kerusakan di dataran dan lautan karena perbuatan manusia”. Ayat ini memberikan peringatan kepada manusia bahwa janganlah kamu semua merusak alam, sebab kerusakan alam akan berakibat terhadap dirimu sendiri.

Dewasa ini manusia semakin serakah. Mereka melakukan segalanya untuk pemenuhan hasrat kehidupannya. Mereka rusak hutan untuk bisnis. Pengelolaan hutan hakikatnya adalah untuk memenuhi hasrat ekonominya yang tak tertahankan. Moral hazard dan etika permissiveness yang dijadikan sebagai pedoman. Perusakan itu tidak hanya pada hutan yang seharusnya bisa direforestasi. Tebang satu tanam satu. Tebang 10 tanam sepuluh. Jika ratusan hektar hutan ditebang, maka juga seharusnya terdapat ratusan hektar yang dihijaukan. Tetapi mereka para konglomerat hanya menebang dan tidak melakukan penghutanan kembali. Yang menyedihkan adalah pada perusakan tambang sebagai sumber daya alam yang tidak bisa diperbaharui. Bahkan mereka lakukan korupsi gila-gilaan atas hal ini. Kasus Harvey Moeis, yang merusak tambang dan korupsi ratusan trilyun adalah contoh perusakan alam dan hutan secara sistemik atas nama pembangunan.

Kedua,  alam makro kosmos dan mikro kosmos, tata surya atau jagad raya dan seluruh alam ini diciptakan Allah tidak dengan sia-sia. Semua mengandung arti dan makna. Semua fungsional bagi manusia. Kita diminta oleh Allah untuk mempelajari alam dan seluruh isinya. Berpikirlah tentang ciptaan Allah. “tafakkaru fi khalqillah”. Alam adalah tempat belajar bagi kita semua.

Alam itu berisi tentang segala sesuatu yang terkait dengan sebab dan akibat. Jika kita merusak alam, maka alam akan membawa bencana kepada kita. Ada hukum sebab akibat. “kullu sa’iin Sababa”,  Alqur’an, Surat Al Kahfi, 84. Segala yang terjadi itu ada sebabnya. Hukum sebab akan diikuti dengan hukum akibat. Coba kita pikirkan ciptaan Tuhan yang berupa nyamuk. Kecil tetapi bisa menyebabkan sakit atau bahkan kematian.

Manusia  berpikir bagaimana menemukan cara untuk menghindari nyamuk maka secara ekonomi kemudian dibuatlah pabrik-pabrik pengusir nyamuk atau pembunuh nyamuk biar nyamuk tidak semakin banyak populasinya dan mengancam kehidupan manusia. Ada sekian banyak merk di toko atau di mall tentang penyemprot nyamuk. Bahkan juga antibiotic untuk menihilkan virus yang disebabkan oleh nyamuk. Ahli obat atau apoteker lalu menemukan obat dan kemudian diproduksi oleh para pengusaha, dan kita yang menjadi penggunanya. Ada kerja sama dan kolaborasi yang menguntungkan manusia.

Allah berfirman di dalam Surat Ali Imran, 191, “… wa yatakkaruuna  fi khalqis samawati wal ardl. Rabbana  ma khalaqta hadza batila, subhanaka wa qina adzaban nar”, yang artinya “ … dan mereka memikirkan penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Maha Suci Engkau. Lindungi kami dari adzab neraka”. Sungguh bagi orang yang berpikir tentang langit dan bumi, maka tidak ada lain kecuali akan menyatakan bahwa tidak ada sesuatu atas ciptaan Allah itu yang sia-sia. Semua ada manfaatnya.

Ketiga, marilah kita hayati dengan segenap perasaan dan kesadaran, bahwa betapa Allah  sudah menyediakan alam dan lingkungan untuk kehidupan kita semua. Alam diciptakan oleh Tuhan bukan untuk berdiri sendiri, akan tetapi untuk manusia. Ada hubungan timbal balik atau saling berkebutuhan. Disebut sebagai hubungan yang symbiosis mutualisme. Alam membutuhkan manusia untuk pelestariannya dan manusia membutuhkan alam untuk kehidupannya.

Dengan mencintai alam yang berada di dalam konteks ekoteologi, atau penghargaan bahwa alam itu diciptakan tidak sia-sia, alam itu sesama ciptaan Allah, bahwa manusia dan alam itu sesama ciptaan Allah, maka keduanya tidak akan saling mengekspolitasi. Hakikat ekoteologi adalah manusia dan alam adalah subyek. Manusia subyek dan alam juga subyek. Di dalam relasinya di antara keduanya bukan hubungan subyek-obyek,  akan tetapi hubungan subyek-subyek.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

UANGPUN PUNYA SPIRITUALITAS

UANGPUN PUNYA SPIRITUALITAS

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Selasa, 7/10/2025, jamaah pengajian Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency mendapatkan asupan ilmu yang luar biasa dari Pak Sahid Sumitro, trainer Pengembangan SDM di berbagai instansi pemerintah maupun swasta. Sebuah tema yang menarik yaitu; “Cinta Uang”. Ceramah ini mengupas tentang bagaimana caranya kita mencintai uang sebagai piranti untuk tukar menukar barang atau jasa. Kajian ini termasuk bagian dari “The Psychology of Money”. Saya ingin membahasnya dalam tiga hal, yaitu:

Pertama, uang memang hanyalah benda, sebagaimana benda lainnya. Tidak lebih sebagaimana kertas yang bisa dilipat, bisa digulung, bisa sobek dan bahkan bisa dibakar. Uang hanyalah kertas, Cuma bedanya bahwa uang memiliki nilai sebagaimana tertera di dalam uang kertas tersebut atau uang logam lainnya.

Pandangan orang atau kaum positivistic, bahwa uang adalah kertas yang bernilai sesuai denga nominal ternyata tidak sepenuhnya benar. Ada sebuah pengalaman yang disampaikan oleh Pak Sahid tentang uang dimaksud. Orang Jepang memiliki budaya yang sangat tinggi dalam menghargai uang. Uang tidak hanya dianggap kertas yang bergambar dan bernilai sesuai dengan tulisan di dalamnya, akan tetapi mangandung makna yang luar biasa. Dinyatakan oleh orang Jepang, bahwa di dalam uang terdapat gambar Perdana Menteri maka uang itu berarti memiliki status yang tidak sama dengan kertas-kertas lainnya. Foto Perdana Menteri itu harus dihormati. Perdana Menteri adalah pimpinan negara, maka harus dihormati sebagaimana layaknya kita menghormati para pimpinan negara. Bayangkan seandainya di dalam dompet kita ada foto orang tua atau kakek kita dan sebagainya, maka foto itu tidak akan dilipat, tetapi ditempatkan pada tempat yang layak. Melipat foro orang tua adalah sebuah kesalahan.

Bagi orang Jepang, budaya menghormat kepada pimpinan negara, orang tua atau leluhuradalah mutlak baginya. Oleh karena itu orang jepang akan menempatkan uang  dalam makna yang tinggi. Rasanya ini berbeda dengan orang Indonesia, yang kelihatannya kurang menghargai terhadap uang. Uang itu ditaruh di dompet dengan ditekuk atau dilipat sesuai dengan dompetnya. Ini tidak berlaku bagi orang Jepang. Pak Sahid menegaskan: “Makanya, semenjak saya bertemu Orang Jepang tersebut, saya tidak pernah melipat uang. Uang saya taruh di dompet memanjang supaya uang tidak terlipat”.

Uang itu memiliki energi yang bisa positif ata negative. Jika kita menempatkannya secara baik, maka uang itu akan merasakah “senang”, dan jika uang itu ditempatkan dengan cara yang tidak baik, maka uang akan merasa “tidak senang”. Karena uang itu energi, maka dia akan bisa menarik lainnya. Atau dia bisa juga mengeluarkan lainnya. Uang akan menarik atau menolak kehadiran uang lainnya. Energi ini begitu kuat dan sangat tergantung kepada perilaku kita terhadap uang.

Ada lima larangan untuk perlakuan kita terhadap uang, yaitu: jangan dilipat, jangan disobek, jangan dikucek-kucek, jangan dirusak, dan jangan diinjak-injak. Jika kita melakukannya, berarti kita bersyukur dan mencintai atas uang yang kita miliki. Uang memiliki energi, dan jika hal itu dilakukan, maka akan keluar energi negative dari uang, sehingga uang itu tidak akan menguntungkan atau tidak bermanfaat.

Kedua, para leluhur kita sesungguhnya sudah memiliki ujaran yang bagus. Uang itu mencari kawannya. Artinya bahwa uang yang berada di seseorang dengan banyak, maka uang lainnya akan masuk ke orang tersebut Bersama uang-uang lainnya. Sebuah ujaran yang memberikan Gambaran bahwa uang berkecenderunga. Berkumpul dengan kawannya. Padahal terkadang kita sinis melihat orang mencium uang. Dianggapnya sebagai perilaku materialistis. Padahal mencium uang itu adalah bagian dari rasa Syukur kita atas kenikmatan Allah kepada diri kita melalui washilah uang. Mencium uang sebagai tanda Syukur tentu sangat baik dan itulah bentuk penghargaan kita atas uang dan nilai yang ada di dalamnya.

Mencium uang dianggap sebagai Tindakan yang tidak terpuji bahkan dicibir sebagai tanda orang yang metarialistis. Padahal itulah ekspresi kebergamaan yang sangat dianjurkan oleh Islam. Mencium sebagai tanda Syukur adalah ekspresi orang beragama, sebagaimana kita mencium yang kita cintai di dalam kehidupan. di kala kita melewati makam Rasulullah, maka kita melambaikan tangan atau membungkuk sebagai tanda cinta kita kepada Rasulullah. Ketika kita thawaf, maka di rukun Yamani kita melambaikan tangan sambil berdoa. Tidak lain adalah symbol kecintaan kita kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW.

Ketiga, saya memberikan garis bawah atas ceramah Pak Sahid yang sangat menarik. Hari kamis, 2/10/25, saya menjadi narasumber dalam acara ekoteologi untuk Pendidikan pesantren, dan di dalam forum yang diikuti oleh para kyai dan pimpinan pondok pesan tren se Indonesia itu saya sampaikan bahwa agar tidak terjadi kerusakan lingkungan, sebagai akibat prilaku permissiveness, maka diperlukan Upaya memahami konsep “spiritualitas alam”. Alam itu tidak semata-mata fisik akan tetapi ada spiritualitasnya. Alam dan manusia sebagai sesama ciptaan Allah tidak hanya terdiri dari fisik semata, akan tetapi ada jiwa dan rohnya. Artinya, bahwa alam dan manusia sama-sama bertasbih kepada Allah SWT.  Di dalam Alqur’an surat Jumu’ah, ayat 1,  dinyatakan: “yusabbihu lillahi ma fis samai wal ardh”. Artinya: “senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang ada dilangit dan apa yang ada di bumi”.

Hal ini memberikan Gambaran bahwa semua makhluk Allah sesungguhnya bertasbih atau menyucikan Allah SWT. Tentu saja kita tidak tahu bagaimana alam itu bertasbih, tetapi mari kita Yakini bahwa semua ciptaan Allah itu menyucikan Allah SWT.

Nabi Sulaiman AS yang bisa memahami bahasa makhluk Allah. Hanya Beliau yang memahami bagaimana alam itu bertasbih. Tetapi juga tidak menutup kemungkinan ada manusia yang karena izin Allah diberikan kekuasaan untuk memahaminya. Seperti halnya ada orang yang bisa memasuki alam kegaiban dari Makhluk Allah selain manusia.

Dengan meyakini bahwa alam itu memiliki dunia spiritual, maka aka dapat menjadi sarana untuk saling menghargai antara manusia dan alam. Dan ini bukan hal yang tidak bisa dilakukan.

Wallahu a’lam bi al shawab.

MENCINTAI ILMU: BERAGAMA UNTUK MASA DEPAN

MENCINTAI ILMU: BERAGAMA UNTUK MASA DEPAN

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Salah satu yang  membahagiakan di dalam kehidupan ini adalah di saat kita  bisa tertawa bersama-sama. Tertawa lepas lagi.  Hal itu terjadi karena pertemuan dengan sesama jamaah ngaji bahagia. Sebuah komunitas yang berkeinginan menjadikan tersenyum dan tertawa sebagai Solusi kebahagiaan. Jadi,  ya ngaji, ya tertawa, ya bahagia. Trilogy yang menjadi visi Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) Masjid Al Ihsan.

Kali ini tema yang saya angkat adalah mengenai “cinta terhadap ilmu pengetahuan”. Sebuah tema yang menarik di tengah keinginan untuk belajar ilmu pengetahuan secara lebih luas. Sebuah tema yang saya angkat sesuai dengan Panca Cinta, sebagaimana yang digagas oleh Prof. Dr. Nasaruddin Umar, Menag, di dalam konteks Beragama Berbasis Cinta (BBC). Ngaji ini diselenggarakan pada tanggal 30/09/2025 di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya. Ada tiga hal yang saya sampaikan, yaitu:

Pertama, Islam itu hadir untuk mencerdaskan kehidupan manusia. Bisa dibayangkan bahwa ayat pertama yang turun di Goa Hira yang disampaikan kepada Nabi Muhammad adalah iqra atau bacalah. Secara lebih lanjut, bunyi ayat pertama yang disampaikan oleh Malaikat Jibril kepada Muhammad adalah: “iqra’. Bismi rabbikal ladzi khalaq. Khalaqal insana min ‘alaq, iqra’ warabbukal akramul  ladzi ‘allama bil Qalam. Allamal insana ma lam ya’lam”. Muhammad di dalam uzlahnya itu diminta oleh Malaikat Jibril untuk membaca,  akan tetapi Muhammad tidak mampu membacanya. Ma ana bi qari’in, saya tidak bisa membacanya. Yang diminta membaca adalah bismi rabbika, bacalah nama Tuhanmu. Jadi jangan dibayangkan Muhammad  diberi selembar kertas oleh Malaikat Jibril,  lalu Muhammad harus membacanya. Yang diminta untuk membaca adalah Nama Tuhanmu, Nama Allah yang menjadi ilah dan rab atas semua hambanya. Itulah sebabnya Muhammad menyatakan tidak mampu membacanya. Di dalam ayat ini Malaikat Jibril mengajarkan tentang Nama Allah yang Maha Agung yang menjadi sesembahan seluruh alam dan juga  Tuhan yang Maha Esa yang menguasai dan memiliki seluruh alam. Untuk menyebut itulah yang Muhammad belum bisa melakukannya.

Membaca adalah pintu untuk memahami, menyadari dan menghayati atas ayat-ayat Tuhan, baik ayat qauliyah maupun ayat kauniyah. Membaca teks Alqur’an dan Hadits dan membaca alam secara keseluruhan. Membaca itu yang disentuh mata atau iqra’ bil aini, lalu membaca dengan pikiran atau iqra’ bir ra’yi dan membaca dengan batin atau hati atau iqra’ bi qalbi. Kedua, Ada tingkatan di dalam konteks iqra’. Yang dilakukan oleh kita setiap hari adalah iqra’ bil aini yaitu dengan membaca Alqur’an dan terjemahannya. Membaca dan memahami sedikit artinya. Ini yang disebut dengan membaca dengan panca indra. Sedangkan bagi para ahli ilmu pengetahuan, maka membacanya dengan pikiran atau membaca melalui penelitian atas alam semesta. Lalu yang ahli batin atau spiritual maka membacanya dengan hati dan  perasaan atau bil qalbi.

Melalui bacaan atas alam, maka ada saintis yang kemudian menjadi muslim. Melalui pendekatan rasional, maka kebenaran agama di dalam teks-teksnya dapat dikaji dengan perangkat riset ilmiah. Yang sangat terkenal adalah Maurice Buchaile yang melakukan kajian atas mummi Fir’aun yang di dalam Alqur’an dinyatakan tenggelam di laut, dan terbukti secara empiris bahwa di mulut Fir’aun memang terdapat zat garam yang sangat berlebih dibandingkan dengan manusia pada umumnya. Maka, Buchaile pun masuk Islam. Islam mengajarkan addinu huwal aqlu. La dina liman la aqla lahu. “Agama adalah akal, dan tidak beragama bagi  yang tidak berakal”. Orang  yang  tidak memanfaatkan akalnya dinyatakan sekan-akan tidak beragama.

Membaca dengan batin atau iqra bil qalbi. Membaca dengan hati adalah membaca dengan cara yang mendalam atau membaca dalam dimensi esoteris. Level ini memasuki dunia tasawuf atau membaca dengan ihsan. Kita menyembah Allah dan Allah itu berada di depan kita, seakan-akan kita bermuwajahah atau bertemu dengan Allah. Tentu saja kita menyadari bahwa yang bisa melakukannya hanyalah Nabi Muhammad SAW, sedangkan Nabi lain, misalnya Nabi Musa hanya bisa bercakap-cakap tetapi tidak mampu untuk bertemu dalam satu pertemuan khusus. Tentang Nabi Muhammad SAW itu bertemu dengan badan, jiwa dan rohnya atau rohnya saja, masih menjadi perdebatan di  kalangan ahli ilmu kalam. Untuk yang seperti ini, maka dalilnya wallahu a’lam bi al shawab. Tetapi bagi orang-orang khusus, tentu ada yang memiliki pengalaman terbukanya hijab atau penghalang antara hamba dan rabnya. Ada cerita-cerita yang dapat diyakini bahwa ada orang-orang yang diberi ototitas untuk bisa “merasakan” kehadiran Allah di dalam ibadah-ibadahnya.

Ketiga, mencari ilmu adalah kewajiban. “Thalabul ‘ilmi faridhatun ‘ala kulli Muslimin wa muslimatin”, yang artinya: “mencari ilmu merupakan kewajiban atas kaum Muslimin dan kaum muslimat”. Mencari ilmu itu hukumnya wajib secara perseorangan utamanya mencari ilmu agama. Sedangkan untuk mencari ilmu umum itu tergantung kepentingan, bisa dinyatakan sebagai wajib kifayah atau kewajiban atas sebagian saja.

Mencari ilmu bisa dalam bentuk pendidikan formal seperti sekolah, baik di SD, SMP, SMA atau MI, MTs, MA dan sampai PTU dan PTKI. Tetapi juga bisa belajar secara nonformal, misalnya kursus atau lainnya, dan bisa juga secara informal. Yang kita lakukan setiap hari mulai Senin sampai Jum’at, dengan tahsinan dan ceramah agama adalah pendidikan informal. Kita belajar di sini dan kita memahami ilmu agama di sini.

Sungguh suatu kebahagiaan, bahwa di saat usia kita semakin  merambat senior, dan kita semakin menyadari tentang pentingnya belajar. Kita sudah mengamalkan iqra, sebagaimana diprintahkan membaca kepada Nabi Muhammad SAW. Kita semua berharap bahwa dengan mencintai ilmu pengetahuan, maka akan menambah amalan ibadah kita, terutama membaca shalawat, sehingga kita akan menjadi sahabatnya Nabi Muhammad SAW.

Wallahu a’lam bi al shawab.